Sabtu, 28 Juli 2018

ETIKA BUANG HAJAT (2)

ETIKA BUANG HAJAT (2)
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ada beberapa adab atau etika yang perlu diperhatikan bagi orang yang mau buang hajat.

Dari Abi Hurairah dari Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam , ia berkata:
إذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ لِحَاجَتِهِ فَلا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلا يَسْتَدْبِرْهَا
Apabila salah seorang di antara kamu duduk untuk hajatnya, maka janganlah menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya. ” (HR Ahmad dan Muslim, Hadits No. 128 )
.
Dan di dalam riwayat Imam yang lima kecuali Tirmidzi, ia bersabda:
«إنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلا يَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ وَلا يَسْتَدْبِرْهَا وَلا يَسْتَطِبْ بِيَمِينِهِ» . وَكَانَ يَأْمُرُ بِثَلاثَةِ أَحْجَارٍ وَيَنْهَى عَنْ الرَّوْثَةِ. وَالرِّمَّةِ وَلَيْسَ لأَحْمَدَ فِيهِ الأَمْرُ بِالأَحْجَارِ.
Sebenarnya aku terhadap kamu adalah berkedudukan sebagai ayah, yang mengajar kamu, maka apabila salah seorang di antara kamu buang air besar, maka janganlah menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya, dan janganlah membersihkan setelah buang air besar dengan tangan kanannya. Dan adalah ia (Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam ) memerintahkan hal tersebut dengan tiga buah batu, dan melarang dengan kotoran hewan dan tulang”. Dan bagi riwayat Ahmad tidak ada di dalamnya perintah dengan (tiga buah) batu. (Hadits No. 129 )

Dan dari Abi Ayub al Anshari, dari Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam  , ia bersabda:
«إذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا» . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ: فَقَدِمْنَا الشَّامَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْكَعْبَة فَنَنْحَرِفُ عَنْهَا وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى.
Apabila kamu buang air, maka janganlah menghadap kiblatdan janganlah membelakanginya, tetapi menghadaplah ke arah Timur atau ke arah Barat*)”. Abu Ayub berkata: Kami tiba di Syam, kemudian kami dapatkan tempat-tempat buang air telah dibangun mengarah ke Ka’bah, lalu kami rubahnya, dan kami beristighfar. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim, Hadits No. 130 ) .

Asy-Syaukani rahimahullah berkata:
وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارِهَا بِالْبَوْلِ وَالْغَائِطِ، وَفِيهِ دَلالَة عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ الاسْتِنْجَاءُ بِثَلاثَةِ أَحْجَارٍ. وَفِيهِ النَّهْيُ عَنْ الاسْتِطَابَةِ بِالْيَمِينِ. وَفِيهِ دَلالَة عَلَى كَرَاهَة الاسْتِجْمَار بِالرَّوْثَةِ، وَكَذَلِكَ الرِّمَّة وَهِيَ الْعَظْمُ؛ لأَنَّهَا مِنْ طَعَامِ الْجِنّ. انْتَهَى مُلَخَّصًا
Hadits ini menunjukkan:
  1. Larangan menghadap kiblat dan membelakanginya ketika buang air besar dan kecil
  2. Wajib istinja’ (Membersihkan setelah buang air besar) dengan tiga buah batu
  3. Larangan Istinja’ dengan tangan kanan, dan
  4. Tidak boleh Istinja’ dengan kotoran binatang dan tulang, karena dia itu adalah makanan jin.
Selesai.
  1. Boleh Menghadap Dan Membelakangi Kiblat Antara Bangunan-Bangunan
Dan dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: 
نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ فَرَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَسْتَقْبِلُهَا.
Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam  melarang menghadap Kiblat ketika kencing, tetapi aku melihat dia sebelum wafat kurang setahun ia menghadap Kiblat. (HR Imam yang lima kecuali Nasa’i, Hadits No. 132 )

Dan dari Aisyah, ia berkata:
ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَ أَنْ يَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِفُرُوجِهِمْ فَقَالَ: «أَوْ قَدْ فَعَلُوهَا؟ حَوِّلُوا مَقْعَدَتِي قِبَلَ الْقِبْلَةِ»
Diberitahukan kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam  bahwa orang-orang tidak menyukai menghadapkan kemaluan-kemaluan mereka ke Kiblat, maka Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam  bertanya: “Adakah mereka telah mengerjakannya? Rubahlah tempat dudukku ke arah Kiblat”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah, Hadits No. 133 )
.
Dan dari Marwan al Ashfar, ia berkata:
رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ يَبُولُ إلَيْهَا فَقُلْتُ: أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: بَلَى،إنَّمَا نُهِيَ عَنْ هَذَا فِي الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلا بَأْسَ
Aku melihat Ibnu Umar menderumkan kendaraannya dengan menghadap Kiblat lalu dia kencing dengan menghadap Kiblat. Lalu aku bertanya: Wahai Abi Abdirrahman, tidaklah yang demikian itu telah dilarang? Maka ia menjawab: Tetapi yang dilarang ia hanya di tanah lapang, apabila antara kamu dan Kiblat ada sesuatu (penghalang) , yang menutupimu, maka tidak mengapa. (HR Abu Dawud, Hadits No. 134 )

Asy-Syaukani rahimahullah berkata:
الْحَدِيثُ يَدُلّ عَلَى جَوَازِ اسْتِدْبَارِ الْقِبْلَةِ حَالَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ. وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ مِنْ طَرِيق عِيسَى الْحَنَّاطِ قَالَ: قُلْت لِلشَّعْبِيِّ: إنِّي لأَعْجَبُ لاخْتِلافِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عُمَرَ قَالَ نَافِعٌ عَنْ ابْن عُمَرَ: (دَخَلْتُ إلَى بَيْتِ حَفْصَةَ فَحَانَتْ مِنِّي الْتِفَاتَةٌ، فَرَأَيْتُ كَنِيفَ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ) . وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: (إذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلا يَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلا يَسْتَدْبِرْهَاقَالَ الشَّعْبِيُّ: صَدَقَا جَمِيعًا
Hadis ini menunjukkan boleh membelakangi Kiblat ketika buang air. Dan Al Baihaqi meriwayatkan dari jalan Isa al Khayyath, ia berkata: Aku berkata kepada As Sya’abi, sesungguhnya aku heran atas perbedaan Abi Hurairah dan Ibnu UmarNafi’ berkata dari Ibnu Umar; Aku masuk ke rumah Hafshah, lalu ada kesempatan menoleh, tiba-tiba aku mengetahui bahwa jamban Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam  menghadap Kiblat.
Dan Abu Hurairah berkata: Apabila salah seorang di antara kamu buang air, maka janganlah menghadap Kiblat dan janganlah membelakanginya. As Sya’abi berkata: Semuanya benar.

أَمَّا قَوْل أَبِي هُرَيْرَة فَهُوَ فِي الصَّحْرَاء، فَإِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا وَمَلائِكَةً وَجِنًّا يُصَلُّونَ، فَلا يَسْتَقْبِلْهُمْ أَحَدٌ بِبَوْلٍ وَلا غَائِطٍ وَلا يَسْتَدْبِرْهُمْ، وَأَمَّا كُنُفُكُمْ هَذِهِ فَإِنَّمَا هِيَ بُيُوتٌ لا قِبْلَةَ فِيهَا وَقَالَ البخاري: (باب لا تستقبل القبلة بغائط ولا بول إلا عند البناء جدار أو نحوه)
Adapun perkataan Abu Hurairah itu yang dimaksud adalah di tanah lapang, karena sesungguhnya Alloh SWT. mempunyai hamba-hamba, yaitu malaikat dan jin-jin yang sedang shalat, oleh karena itu janganlah seseorang menghadap mereka diwaktu buang air kecil atau besar, dan jangan membelakangi. Adapun jamban-jambanmu adalah bentuk rumah yang didirikan tanpa Kiblat didalamnyaImam Bukhari berkata dalam Bab: “Tidak boleh menghadap Kiblat ketika buang air besar atau kecil kecuali dekat bangunan, dinding dsb. ”

قَالَ الحَافظُ: وهذا قول الجمهور، وهو أَعْدل الأقوال لإعْماله جميع الأدلة
Dan Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Dan ini adalah pendapat Jumhur, dan itu adalah pendapat yang lebih utama dengan mengkompromikan semua dalil.

  1. Mencari Tanah Yang Lembut Dan Yang Dilarang Untuk Ditempati Buang Air
Dari Abu Musa, ia berkata: 
مَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إلَى دَمَثٍ إلَى جَنْبِ حَائِطٍ فَبَالَ، وَقَالَ: «إذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْتَدْ لِبَوْلِهِ»
Rosululloh Shallallaahu ’alaihi wasallam  menuju ke suatu tempat yang rendah ke sebelah dinding, lalu buang air kecil dan bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu buang air kecil, maka carilah tanah yang lembut, karena (untuk menjaga) buang air kecilnya. “. (HR Ahmad dan Abu Dawud., Hadits No. 135  )
Asy-Syaukani rahimahullah berkata:
وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ قَضَاء الْحَاجَة أَنْ يَعْمِدَ إلَى مَكَان لَيِّنٍ؛ لِيَأْمَنَ مِنْ رَشَاشِ الْبَوْلِ وَنَحْوه. وَقَوْلُهُ: (نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْجُحْرِ) يَدُلّ عَلَى كَرَاهَةِ الْبَوْلِ فِي الْحُفَرِ الَّتِي تَسْكُنهَا الْهَوَامُّ وَالسِّبَاعُ
Hadis ini menunjukkan, bahwa sesungguhnya seyogyanya bagi orang yang hendak buang air, agar menuju tempat yang lunak untuk menjaga, dari percikan buang air kecil tersebut. Dan perkataan “Ia melarang buang air kecil di lubang” itu, menunjukkan, dilarangnya buang air kecil di dalam lubang yang didiami serangga dan binatang-binatang buas.

Dan dari Qatadah dari Abdillah bin Sarjas, ia berkata: 
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَنْ يُبَالَ فِي الْجُحْرِ قَالُوا. لِقَتَادَةَ: مَا يُكْرَهُ مِنْ الْبَوْلِ فِي الْجُحْرِ؟ قَالَ: يُقَالُ: إنَّهَا مَسَاكِنُ الْجِنِّ
Rosululloh Shallallaahu ’alaihi wasallam  melarang buang air kecil di lubang binatang. Mereka bertanya kepada Qatadah: Mengapa dilarang buang air kecil di dalam lubang? la menjawab: “Karena dikatakan, lubang-lubang itu adalah tempat jin“. (HR Ahmad, Nasa’i, dan Abu Dawu’d, Hadits No. 136 )
  
Dan dari Abi Hurairah ra. , bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam  bersabda:
«اتَّقُوا اللاعِنَيْنِ» . قَالُوا: وَمَا اللاعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟! قَالَ: «الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ»
 “Takutlah kamu akan dua pelaknat! ” Mereka bertanya: Apa dua laknat itu ya Rasululloh? la menjawab: “ (Yaitu) orang yang buang kotoran di jalan manusia atau di tempat berteduh mereka”. (HR Ahmad , Muslim dan Nasa’i, Hadits No. 137 )

Asy-Syaukani rahimahullah berkata:
قَالَ الْخَطَّابِيُّ: الْمُرَاد بِاللاعِنَيْنِ الأَمْرَانِ الْجَالِبَانِ لِلَّعْنِ، وَذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَهُمَا لُعِنَ وَشُتِمَ. وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيم التَّخَلِّي فِي طُرُق النَّاس وَظِلِّهِمْ لِمَا فِيهِ مِنْ أَذِيَّةِ الْمُسْلِمِينَ بِتَنْجِيسِ مَنْ يَمُرّ بِهِ وَنَتِنِهِ وَاسْتِقْذَارِهِ.
Al Khatthabi berkata: Yang dimaksud dua pelaknat, yaitu dua perkara yang menyebabkan datangnya laknat, karena sesungguhnya orang yang berbuat dua perkara itu dilaknat dan dicaci (orang).  Hadits ini menunjukkan haramnya buang kotoran di jalan-jalan manusia dan tempat pemberhentian mereka, karena berbuat yang demikian itu berarti mengganggu orang-orang Islam, yaitu menyebabkan najisnya orang yang lewat di situ dan menyebabkan tempat itu berbau busuk dan kotor.

Dari Muadz bin Jabal, Rosululloh Shallallaahu ’alaihi wasallam  bersabda:
«اتَّقُوا الْمَلاعِنَ الثَّلاثَ: الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ»
 “Takutlah kamu tiga perkara pelaknat (yaitu): buang kotoran di mata air, di tengah jalan, dan di tempat berteduh. ”( HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dia berkata: Hadits  Mursal. Hadits No. 138 ).

Asy-Syaukani rahimahullah berkata:
وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى الْمَنْع مِنْ قَضَاء الْحَاجَة فِي الْمَوَارِد وَالظِّلّ وَقَارِعَة الطَّرِيق لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ الأَذِيَّة لِلْمُسْلِمِينَ.
Hadits ini menunjukkan atas larangan buang air di mata air, tempat pernberhentian manusia, dan di tengah jalan, karena hal itu mengganggu orang-orang Islam.

Dan dari Abdillah bin Mughaffal, dari Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam  , ia bersabda:
«لا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي مُسْتَحَمِّهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ فِيهِ فَإِنَّ عَامَّةَ الْوِسْوَاسِ مِنْهُ»
Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu buang air kecil di tempat mandinya kemudian berwudlu’ di dalamnya, karena kebanyakan gangguan itu datangnya dari itu. “(HR Imam yang lima,  Hadits No. 139 )

Asy-Syaukani rahimahullah berkata:
وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ الْبَوْلِ فِي مَحَلِّ الاغْتِسَالِ لأَنَّهُ يَبْقَى أَثَرُهُ، فَإِذَا انْتَضَحَ إلَى الْمُغْتَسَلِ شَيْءٌ مِنْ الْمَاءِ بَعْد وُقُوعِهِ عَلَى مَحَلِّ الْبَوْلِ نَجَّسَهُ، فَلا يَزَالُ عِنْد مُبَاشَرَةِ الاغْتِسَالِ مُتَخَيَّلاً لِذَلِكَ فَيُفْضِي بِهِ إلَى الْوَسْوَسَةِ. وَقَدْ قِيلَ: إنَّهُ إذَا كَانَ لِلْبَوْلِ مَسْلَكٌ يَنْفُذُ فِيهِ فَلا كَرَاهَةَ.
Hadis ini menunjukkan atas larangan buang air kecil di tempat mandi, karena bekasnya itu tetap ada. Dan apabila air itu mengalir di tempat buang air kecil itu lalu terpercik ke badan orang yang mandi, maka ia selalu menghayalkan hal itu dan menimbulkan was-was. Dan dikatakan, apabila buang air kecil itu mempunyai tempat pembuangan, maka tidak dilarang. [Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar, 1/60-63]
  
Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim berkata :
وَأَمَّا النَّهْيُ عَنْ الِاسْتِقْبَالِ لِلْقِبْلَةِ بِالْبَوْلِ وَالْغَائِطِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِيهِ عَلَى مَذَاهِبَ
أَحَدُهَا مَذْهَبُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ يَحْرُمُ اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ فِي الصَّحْرَاءِ بِالْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَلَا يَحْرُمُ ذَلِكَ فِي الْبُنْيَانِ وَهَذَا مَرْوِيٌّ عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهما والشعبى واسحق بْنِ رَاهَوَيْهِ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي إِحْدَى الروايتين رحمهم الله
والمذهب الثانى أنه لايجوز ذَلِكَ لَا فِي الْبُنْيَانِ وَلَا فِي الصَّحْرَاءِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ الصَّحَابِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَمُجَاهِدٍ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَأَبِي ثَوْرٍ وَأَحْمَدَ فِي رِوَايَةٍ
وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ جَوَازُ ذَلِكَ فِي الْبُنْيَانِ وَالصَّحْرَاءِ جَمِيعًا وَهُوَ مَذْهَبُ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَرَبِيعَةَ شَيْخِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَدَاوُدَ الظَّاهِرِيِّ
وَالْمَذْهَبُ الرَّابِعُ لَا يَجُوزُ الِاسْتِقْبَالُ لَا فِي الصَّحْرَاءِ وَلَا فِي الْبُنْيَانِ وَيَجُوزُ الِاسْتِدْبَارُ فِيهِمَا وَهِيَ إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَحْمَدَ رَحِمَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى
Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim berkata :
  1. Madzhab Malik dan Syafi’i mengharamkan kencing dan berak sambil menghadap kiblat apabila berada di tanah lapang. Namun tidak haram kalau kedua aktifitas buang hajat itu dilakukan di dalam bangunan sekalipun sambil menghadap kiblat. Pendapat ini juga telah diriwayatkan dari Al ‘Abbas dan ‘Abdul Muththalib, ‘Abdullah bin ‘Umar RA, Asy-Sya’bi, Ishaq bin Rahawaih, dan Ahmad bin Hanbal menurut salah satu riwayat darinya.
  2. Tidak boleh kencing atau berak dengan menghadap ke arah kiblat, baik di tanah lapang maupun di dalam bangunan. Pendapat ini dianut oleh Abu Ayyub Al-Anshari RA, Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, Sufyan Ats-Tsauri, Abu Tsaur, dan Ahmad bin Hanbal menurut salah satu riwayat darinya.
  3. Boleh kencing maupun berak dengan menghadap ke arah kiblat, baik ketika di tanah lapang maupun di dalam bangunan. Pendapat ini dianut oleh ‘Urwah bin Az-Zubair, Rabi’ah yang menjadi Syaikh Malik, dan Dawud Azh-Zhahiri.
  4. Tidak boleh berak maupun kencing menghadap kiblat, baik ketika di tanah lapang maupun di dalam bangunan. Namun boleh membelakangi kiblat, baik di tanah lapang maupun di dalam bangunan. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Abu Hanifah dan Ahmad RA.
[Syarah Shahih Muslim 2/314].

Wallahu a’lam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH

  YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH Oleh : Masnun Tholab   Hukum Zakat Fitrah Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahw...