Minggu, 27 Maret 2011

TIDUR MEMBATALKAN WUDHU

TIDUR MEMBATALKAN WUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum tidur bagi orang yang telah berwudhu, apakah membatalkan wudhu atau tidak.

Ibnu Rusyd dalam kitab bidayatul Mujtahid mengatakan :
وأصل اختلافهم في هذه المسألة اختلاف الآثار الواردة في ذلك، وذلك أن ههنا أحاديث يوجب ظاهرها أنه ليس في النوم وضوء أصلا،
كحديث ابن عباس "أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل إلى مَيْمُوْنَةَ فَنَامَ عِنْدَهَا حتى سمعنا غَطِيْطَهُ ثم صلى ولم يتوضأْ"
وقوله عليه الصلاة والسلام "إذا نَعِسَ أحدُكم في الصلاةِ فَلْيَرْقُدْ حتى يذهبَ عنهُ النومَ، فإنه لَعَلَّهُ يذهبُ أن يستغفرَ رَبَّهُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ"
وما روي أيضا "أن أصحابَ النبيِّ صلى الله عليه وسلم كانوا ينامون في المسجد حتى تَخْفَقَ رُؤُوْسُهُمْ ثم يصلون ولا يَتَوَضَّئُوْنَ"
وكلها آثار ثابتة وههنا أيضا أحاديث يوجب ظاهرها أن النوم حدث،
وأبينها في ذلك حديث صفوان بن عسال وذلك أنه قال "كُنَّا في سفر مع النبيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَمَرَنَا أن لا نَنْزِعَ خِفَافَنَا مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ ونومٍ ولا نَنْزِعُهَا إلا من جنابةٍ"
فسوى بين البول والغائط والنوم، صححه الترمذي.
ومنها حديث أبي هريرة المتقدم، وهو قوله عليه الصلاة والسلام "إذا اسْتَيْقَظَ أحدُكم من نومهِ فَلْيَغْسِلْ يدهُ قبلَ أن يُدْخِلَهَا في وضوئهِ"
فإن ظاهره أن النوم يوجب الوضوء قليله وكثيره،
فلما تعارضت ظواهر هذه الآثار ذهب العلماء فيها مذهبين: مذهب الترجيح، ومذهب الجمع؛
فمن ذهب مذهب الترجيح إما أسقط وجوب الوضوء من النوم أصلا على ظاهر الأحاديث التي تسقطه وإما أوجبه من قليله أو كثيره على ظاهر الأحاديث التي توجبه أيضا، أعني على حسب ما ترجح عنده من الأحاديث الموجبة، أو من الأحاديث المسقطة؛
ومن ذهب مذهب الجمع حمل الأحاديث الموجبة للوضوء منه على الكثير والمسقطة للوضوء على القليل،
وهو كما قلنا مذهب الجمهور، والجمع أولى من الترجيح ما أمكن الجمع عند أكثر الأصوليين.
وأما الشافعي فإنما حملها على أن استثنى من هيئات النائم الجلوس فقط لأنه قد صح ذلك عن الصحابة، أعني أنهم كانوا ينامون جلوسا ولا يتوضئون ويصلون.
وإنما أوجبه أبو حنيفة في النوم والاضطجاع فقط لأن ذلك ورد في حديث مرفوع، وهو أنه عليه الصلاة والسلام قال
"إنما الوضوءُ على من نَامَ مُضْطَجِعًا"
والرواية بذلك ثابتة عن عمر.
وأما مالك فلما كان النوم عنده إنما ينقض الوضوء من حيث كان غالبا سبب للحدث راعى فيه ثلاثة أشياء: الاستثقال أو الطول أو الهيئة، فلم يشترط في الهيئة التي يكون منها خروج الحدث غالبا لا الطول ولا الاستثقال، واشترط ذلك في الهيئات التي لا يكون خروج الحدث منها غالبا
Perbedaan pendapat tersebut berpangkal pada perbedaan hadits dan atsasr yang mereka jadikan alas an dan pegangan. Sebab, ada beberapa hadits yang secara zhahir mengatakan, tidur itu sama sekali tidak membatalkan wudhu. Diantara hadits-hadits tersebut adalah :
Hadits Ibnu Abbas,
أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل إلى مَيْمُوْنَةَ فَنَامَ عِنْدَهَا حتى سمعنا غَطِيْطَهُ ثم صلى ولم يتوضأْ
“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Maemunah, lalu beliau tidur di rumah itu, sehingga kami mendengar suara dengkur beliau. Kemudian beliau bangun, lalu shalat tanpa berwudhu (terlebih dahulu). (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
إذا نَعِسَ أحدُكم في الصلاةِ فَلْيَرْقُدْ حتى يذهبَ عنهُ النومَ، فإنه لَعَلَّهُ يذهبُ أن يستغفرَ رَبَّهُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ
”Jika salah satu diantara kamu mengantuk dalam shalat, hendaklah ia tidur sehingga rasa kantuk itu hilang, sebab bisa jadi ia hendak bermaksud mohon ampun kepada Tuhan, malah memaki dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Abu Dawud).

Dan riwayat :
“Bahwa para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di masjid, sehingga kepala mereka bergerak-gerak, kemudian mereka melaksanakan shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Hadits-hadits di atas itu nyata terjadi dan diakui sahih. Tetapi, ada hadits lain yang lahirnya menjelaskan bahwa tidur membatalkan wudhu (hadas). Di sini dapat saya jelaskan diantaranya :

Hadits dari Shafwam bin ‘Assal, ia berkata,
كُنَّا في سفر مع النبيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَمَرَنَا أن لا نَنْزِعَ خِفَافَنَا مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ ونومٍ ولا نَنْزِعُهَا إلا من جنابةٍ
“Kami pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, maka beliau memerintah agar kami tidak melepas sepatu kami lantaran berak, kencing, dan tidur, kecuali jika kami janabat. (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).
Dalam hadits ini terdapat persamaan hukum antara berak, kencing dan tidur.

Hadits dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إذا اسْتَيْقَظَ أحدُكم من نومهِ فَلْيَغْسِلْ يدهُ قبلَ أن يُدْخِلَهَا في وضوئهِ
“Jika salah seorang diantara kamu bangun tidur, hendaklah ia mencuci tangannya ke dalam bejana air wudhu” (HR. Bukhari dan Tirmidzi)
Atas dasar beberapa hadits di atas, dalam masalah tidur dan wudhu, para ulama terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok tarjih dan kelompok metode perpaduan atau komprehensif.
Kelompok pertama (kelompok tarjih) ada yang menyatakan bahwa tidur sama sekali tidak membatalkan wudhu. Ini berdasarkan hadis yang lahirnya dapat dipahami bahwa tidur tidak membatalkan wudhu. Ada juga yang berpendapat bahwa tidur nyenyak atau tidur sebentar membatalkan wudhu berdasarkan hadits yang membatalkannya juga. Jadi, hadits yang kyat tidak tampak jelas, apakah hadits yang membatalkan atau yang tidak membatalkan wudhu.
Sedang kelompok kedua (kelompok perpaduan) merinci dengan menyatakan bahwa tidur nyenyak itu membatalkan wudhu, sedangkan tidur sebentar tidak membatalkan wudhu.
Metode prpaduan menurut ulama ushul lebih utama dibandingkan dengan metode tarjih selama perpaduan tersebut dapat dilakukan.
Syafi’i menyatakan bahwa cara tidur yang tidak membatalkan wudhu itu hanya tidur sambil duduk berdasarkan hadits dan atsar dalam poin 3.
Abu Hanifah menyatakan bahwa tidur yang membatalkan wudhu aníllala ‘tidur miring’ berdasarkan hadits marfu’ yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إنما الوضوءُ على من نَامَ مُضْطَجِعًا
“Wudhu hanya wajib dilaksanakan oleh orang yang tidur miring” (HR. Abu Dawud).
Hadits ini nyata dan sahih dari riwayat Umar.
Menurut Malik, tidur yang membatalkan wudhu hádala tidur yang biasanya mendatangkan hadats. Sehingga, dalam hal ini, ia memperhatikan tiga segi, yaitu kenyenyakan, lama, dan cara tidur. Dengan demikian, ia tidak menyaratkan dengan tiga segi di atas. Yang prinsip baginya, jika hadas biasanya dapat terjadi ketika tidur, berarti ia memtalakna wudhu. Hal itu ia kemukakan, karena biasanya cara tidur itu tidak menentukan terjadinya hadats.
[Bidayatul Mujtahid 1/27 (1/65)]

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mengutip dan menjelaskan hadits-hadits berikut :
عن صفوان بن عسال قال‏:‏ ‏(‏كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يأمرنا إذا كنا سفرًا أن لا ننزع خفافنا ثلاثة أيام ولياليهن إلا من جنابة لكن من غائط وبول ونوم
Dari Shafwam bin ‘Assal, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami apabila kami dalam bepergian, yaitu hendaknya kami tidak melepaskan kasut-kasut kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami janabat. Tetapi (hendaknya tidak perlu melepaskan) karena buang air besar, kencing dan tidur” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i).

Asy-Syaukani berkata :
وقد اختلف الناس في ذلك على مذاهب ثمانية ذكرها النووي في شرح مسلم‏:‏
‏[‏الأول‏]‏ أن النوم لا ينقض الوضوء على أي حال كان قال‏:‏ وهو محكي عن أبي موسى الأشعري وسعيد بن المسيب وأبي مجلز وحميد الأعرج والشيعة يعني الإمامية وزاد في البحر عمرو بن دينار واستدلوا بحديث أنس الآتي‏.‏
‏[‏المذهب الثاني‏]‏ أن النوم ينقض الوضوء بكل حال قليله وكثيره
[‏المذهب الثالث‏]‏ أن كثير النوم ينقض بكل حال وقليله لا ينقض بكل حال
[‏المذهب الرابع‏]‏ إذا نام على هيئة من هيئات المصلي كالراكع والساجد والقائم والقاعد لا ينتقض وضوءه سواء كان في الصلاة أو لم يكن وإن نام مضطجعًا أو مستلقيًا على قفاه انتقض
[‏المذهب الخامس‏]‏ أنه لا ينقض إلا نوم الراكع والساجد
[‏المذهب السادس‏]‏ أنه لا ينقض إلا نوم الساجد
[‏المذهب السابع‏]‏ أنه لا ينقض النوم في الصلاة بكل حال وينقض خارج الصلاة
[‏المذهب الثامن‏]‏ أنه إذا نام جالسًا ممكنًا مقعدته من الأرض لم ينقض سواء قل أو كثر وسواء كان في الصلاة أو خارجها
Di dalam Syarh Muslim, An-Nawawi menyebutkan bahwa tidur itu diperselisihkan dan terpecah menjadi delapan madzhab :
Pertama, tidur itu tidak membatalkan wudhu dalam keadaan dan bentuk apapun.
Kedua, tidur itu membatalkan wudhu dalam keadaan dan bentuk apapun, sedikit atau banyak.
Ketiga, tidur banyak membatalkan wudhu dalam bentuk apapun, dan tidur sedikit tidak membatalkannya.
Keempat, jika tidur seperti gerakan dari gerakan-gerakan shalat seperti ruku’, sujud, berdiri, dan duduk, maka itu semua tidak membatalkan wudhu baik dalam keadaan shalat atau tidak. Jika tidur terlentang atau berbaring di atas kuduknya maka membatalkan wudhu.
Kelima, tidur itu tidak membatalkan wudhu kecuali tidurnya orang ruku’ dan sujud.
Keenam, tidur itu tidak membatalkan wudhu, kecuali tidurnya orang sujud.
Ketujuh, tidur di dalam shalat itu tidak membatalkan wudhu dalam bentuk dan gerakan apapun, dan membatalkannya jika diluar shalat.
Kedelapan, jika seseorang tidur menetap pada tempat duduknya di atas tanah maka tidak membatalkan wudhu baik tidur sedikit atau banyak, dan baik di dalam shalat atau diluar shalat.

وعن علي رضي اللَّه عنه قال‏:‏ ‏قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ اَلْعَيْنُ وِكَاءُ السُّهِ فمن نَاَم فليتوضأُ‏
وعن معاوية قال‏:‏ ‏‏قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم العين وكاء السه فإذا نامت العينان استطلق الوكاء‏‏
رواه أحمد والدارقطني‏.‏ السه اسم لحلقة الدبر‏.‏ وسئل أحمد عن حديث علي ومعاوية في ذلك فقال‏:‏ حديث علي أثبت وأقوى
Dan dari Ali RA, ia berkata, ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ’Mata itu tutupnya dubur, maka barangsiapa telah tidur, hendaklah wudhu’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Dan Muawiyah RA, ia berkata, ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ’Mata itu tutupnya dubur, maka apabila dua mata telah tidur, maka terbukalah tutup itu’” (HR. Ahmad dan Ad-Daruquthni. Ahmad ditanya tentang hadits Ali dan Mu’awiyah, lalu ia menjawab bahwa hadits Ali lebih tetap dan lebih kuat.).

Asy-Syaukani berkata :
منه والحديثان يدلان على أن النوم مظنة للنقض لا أنه بنفسه ناقض‏.‏ وقد تقدم الكلام على ذلك في الذي قبله
Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa tidur diduga menjadi penyebab yang membatalkan wudhu, meskipun tidur itu sendiri tidak membatalkan wudhu. Hal itu telah kita bicarakan sebelumnya.

وعن ابن عباس قال‏:‏ ‏بِتُّ عند خَالَتِيْ ميمونةَ فقام رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم فقمتُ إلى جَنْبِهِ الْأَيْسَرِ فأخذ بِيَدِي فَجَعَلَنِي من شِقِّهِ الْأَيْمَنِ فجعلتُ إذا أَغْفَيْتُ يَأْخُذُ بِشَحْمَةِ أُذُنِي قال‏:‏ فصلَّى إِحْدَى عَشَرَةَ رَكْعَةً
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‏Saya pernah bermalam di di rumah bibiku, Maimunah radliyallahu anha lalu Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri (shalat), maka akupun berdiri di sebelah kirinya maka beliau memegang tangnku, kemudian memindahkannya di sebelah kanannya, maka apabila aku mengantuk ia memegang daun telingaku” Ibnu Abbas berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sebelas rekaat’” (HR. Bukhari 726, Muslim 763).

Asy-Syaukani berkata :
وفي الحديث دلالة على أن النوم اليسير حال الصلاة غير ناقض وقد تقدم الكلام على ذلك‏
Hadits di atas menunjukkan bahwa tidur sedikit pada waktu shalat tidak membatalkan wudhu. Pembicaraan itupun telah dibicarakan sebelumnya.

وعن أنس قال‏:‏ ‏كان أصحابُ رسولِ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يَنْتَظِرُوْنَ العشاءَ الآخِرَةَ حتى تَخْفِقَ رُؤُوْسُهُمْ ثم يصلون ولا يتوضئونَ
Dan dari Anas, ia berkata, “Bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bila menunggu isya’ yang akhir, sehingga kepala mereka menunduk, kemudian mereka melaksanakan shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Asy-Syaukani berkata :
والحديث يدل على أن يسير النوم لا ينقض الوضوء إن ثبت التقرير لهم على ذلك من النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم وقد تقدم الكلام في الخلاف في ذلك‏.‏
Hadits di atas menunjukkan bahwa tidur sedikit tidak membatalkan wudhu, jika taqrir (ketetapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bagi mereka itu tetap. Adapun masalah khilaf tentang hal itu telah dibicarakan sebelumnya.

وعن يَزِيْدَ بن عبد الرحمن عن قتادة عن أبي العاليةِِ عن ابن عباسٍ‏:‏ ‏‏أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ ليس على من نام ساجِدًا وضوءٌ حتى يَضْطَجِعُ فإنه إذا اضْطَجَعَ اسْتَرَخَتْ مفاصِلُهُ
Dan dari Yazid bin Abdurrahman dari Qatadah dan Abil Aliyah dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Tidak ada wudhu bagi orang yang tidur dengan sujud, sampai ia tidur miring, karena apabila ia tidur miring lemaslah sendi-sendinya” (HR. Ahmad).

Asy-Syaukani berkata :
والحديث يدل على أن النوم لا يكون ناقضًا إلا في حالة الاضطجاع وقد سلف أنه الراجح‏.‏
Hadits di atas menunjukkan bahwa tidur itu tidak membatalkan wudhu, kecuali dalam keadaan berbaring. Hal tersebut telah dibicarakan sebelumnya.
[Nailul Authar 1/157-161 (1/425-434)]

Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 26]

Imam Nawawi dalam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
وفي قول لا ينقض النوم على هيئة من هيئآت الصلاة وإن لم يكن في صلاة وفي قول لا ينقض في الصلاة كيف كان وفي قول لا ينقض النوم قائما وفي قول ينقض وإن كان ممكنا مقعده وهذه أقوال شاذة قلت لا فرق عندنا بين قليل النوم وكثيره ولو نام محتبيا فثلاثة أوجه أصحها لا ينتقض
قال الشافعي والأصحاب يستحب الوضوء من النوم ممكنا للخروج من الخلاف والله أعلم
Menurut satu pendapat dari Imam Syafi’i, tidur dalam satu posisi dari berbagai posisi shalat tidak membatalkan wudhu meskipun si empunya tidak shalat. Menurut satu pendapat dari Imam Syafi’i yang lain, tidur dalam shalat tidak membatalkan wudhu walau bagaimanapun adanya. Menurut satu pendapat dari Imam Syafi’i yang lain, tiduedengan berdiri tidak membatalkan wudhu. Dan menurut satu Qaul, wudhu seseorang menjadi batal meskipun tempat duduknya tetap pada posisinya. Dan ini adalah pendapat-pendapat Imam Syafi’i yang aneh.
Saya katakana, “Menurut kami tidak ada bedanya antara tidur lama dengan sbentar. Seandainya seseorang tidur dalam keadaan duduk dengan dua pantatnya sementara dua betis dalam keadaan berdiri dan dua paha ditempelkan dengan perut, maka disini terdapat tiga pendapat pengikut madzhab Syafi’i. Menurut pendapat yang paling ashah bahwa tidur seperti itu ridak membatalkan wudhu.
Imam Syafi’i dan para pengikut madzhab Syafi’I mengatakan, “Hukum orang melakukan wudhu dari tidur yang keadaan pantatnya standar adalah sunnah demi keluar dari perbedaan pendapat. Wallahu a’lam”
[Raudhatuth Thalibin 1/58 (1/240)].


Kesimpulan :
Dari berbagai pendapat ulama diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Tidur banyak membatalkan wudhu dalam bentuk apapun, dan tidur sedikit tidak membatalkannya.
2. Tidur seperti gerakan dari gerakan-gerakan shalat seperti ruku’, sujud, berdiri, dan duduk, maka itu semua tidak membatalkan wudhu baik dalam keadaan shalat atau tidak.
3. Tidur di dalam shalat itu tidak membatalkan wudhu dalam bentuk dan gerakan apapun.
4. Jika seseorang tidur menetap pada tempat duduknya di atas tanah maka tidak membatalkan wudhu baik tidur sedikit atau banyak, dan baik di dalam shalat atau diluar shalat.
Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.

*Slawi, Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH

  YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH Oleh : Masnun Tholab   Hukum Zakat Fitrah Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahw...