Sabtu, 12 Februari 2011

SHALAT BERJAMAAH DENGAN SATU ORANG MAKMUM

SHALAT BERJAMAAH DENGAN SATU ORANG MAKMUM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Shalat berjamaah dapat dilakukan jika ada seorang makmum dan seorang imam meskipun salah seorang diantaranya itu anak kecil atau wanita.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:
‏بِتٌّ عند خَالَتِيْ ميمونةَ فقام النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم يصلِّي من الليلِ فقمتُ أُصَلِّيْ معه فقمت عن يسارهِ فأخذَ بِرَأْسِيْ وَأَقَامَنِيْ عن يَّمِيْنِهِ
Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. (HR. Bukhari 726, Muslim 763).
[Fiqih Sunnah 1, hal 342; lihat Bulughul Maram, hadits no. 441].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam menjelaskan hadits dari Ibnu Abbas di atas :
دل على صحة صلاة المتنفل بالمتنفل، وعلى أن موقف الواحد مع الإمام عن يمينه، بدليل الإدارة، إذ لو كان اليسار موقفاً له لما أداره في الصلاة. وإلى هذا ذهب الجماهير
Hadits ini menunjukkan sahnya orang yang shalat sunnah di belakang orang yang shalat sunnah, dan tempat berdiri makmum yang hanya satu berada di samping kanan imam. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menarik Ibnu Abbas ke sebelah kanannya. Jika posisinya yang benar di sebelah kiri imam, tentu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak menariknya dari sebelah kiri ke sebelah kanannya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
[Subulussalam 1, hal. 650].

Selanjutnya Sayyid Sabiq berkata :
Apabila makmum itu sendirian, ia disunahkan berdiri di sebelah kanan imam, sedangkan kalau ia terdiri atas dua orang atau lebih, disunahkan berdiri di belakangnya.
Hal ini berdasarkan hadits Jabir,
قام رَسُولُ اَللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ليصلِّي فَجِئْتُ فقمتُ على يسارهِ فأخذَ بيدى فأدارني حتى أَقَامَنِيْ عن يَّمِيْنِهِ ثم جاء جابر بن صخر فقام عن يسارهِ رَسُولُ اَللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم فأخذ بأيدينا جميعا فذفعنا حتى أَقَامَنَا خلفهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri disebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia menempatkan aku sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya”. [Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud]
Jika seorang wanita shalat jamaah, hendaklah ia berdiri sendirian di belakang kaum lelaki dan tudak boleh sebaris dengan mereka. Akan tetapi jika wanita tersebut tetap melakukannya, shalatnya tetap sah. Demikian pendapat jumhur ulama.
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata:
صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ, وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat, lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya sedang Ummu Salamah berdiri di belakang kami. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.
[Fiqih Sunnah 1, hal 357].

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ اِسْتَيْقَظَ من الليلِ وَأَيْقَظَ أهلهُ فَصَلَّيَا ركعتينِ جميعًا كُتِبَا من الذَّاكِرِيْنَ اللَّهَ كثيرًا والذَّاكِرَاتِ‏
Barangsiapa bangun di malam hari lalu membangunkan istrinya, kemudian mereka berdua shalat berjamaah, maka mereka berdua dicatat termasuk orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah” (HR. Abu Daud).

Imam Asy-Syaukani berkata :
Hadits ini mempunyai banyak faedah, diantaranya sebagaimana yang dicantumkan oleh penulis judulnya, bahwa jamaah itu bisa terlaksana oleh dua orang walaupun salah satunya anak kecil. Bagi orang yang menganggap tidak sahnya berjamaah hanya dengan seorang anak kecil, sama ssekali tidak ada dalilnya; Sahnya shalat sunnah yang dilaksanakan secara berjamaah; Posisi makmum yang sendirian di sebelah kanan imam; Bolehnya bermakmum kepada orang yang sebelumnya tidak berniat menjadi imam. Al-Bukhaeipun mencantumkan hadits itu dengan judul ini.
Sabda beliau (Barangsiapa bangun di malam hari lalu membangunkan istrinya…) menunjukkan disyariatkannya suami membangunkan istrinya untuk shalat malam. Hadits ini juga sebagai dalil sahnya berjamaah yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Demikian menurut pendapat para ahli fiqih. Adapun orang yang menganggap tidak sah, maka tidak ada dalil padanya.
[Nailul Authar 1, hal. 733].

Ibnu Risyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
وسنة الواحد عند الجمهور أن يقف عن يمين الإمام لحديث ابن عباس حين بات عند ميمونة. وقال قوم: بل عن يساره، ولا خلاف في أن المرأة الواحدة تصلي خلف الإمام، وأنها إن كانت مع الرجل صلى الرجل إلى جانب الإمام والمرأة خلفه
Untuk makmum yang hanya seorang disunatkan di sebelah kanan agak ke belakang. Ini menurut jumhur fuqaha. Alasannya adalah hadits Ibnu Abbas, tatkala ia menginap di rumah Maimunah. Tetapi menurut sebagian fuqaha disunatkan berdiri di sebelah kiri agak ke belakang.
Tentang wanita yang menjadi makmum sendirian, ia berdiri di belakang imam laki-laki. Masalah ini sudah tidak diperdebatkan lagi. Apabila seseorang wanita berjamaah dengan seorang laki-laki, maka makmum laki-laki-laki tadi berdiri di sebelah kanan imam dan seorang wanita berdiri di belakang makmum laki-laki.
[Bidayatul Mujtahid 1, ha. 334].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
وإذا أم رجل رجلا واحدا أقام الإمام المأموم عن يمينه
وإذا أم خنثى مشكلا أو امرأة قام كل واحد منهما خلفه لا بحذائه
وإذا أم رجل رجلا فوقف المأموم عن يسار الإمام أو خلفه كرهت ذلك لهما ولا إعادة على واحد منهما وأجزأت صلاته
Apabila seorang laki-laki mengimami seorang laki-laki, maka imam itu hendaknya memerintahkan makmum berdiri pada sisi kanannya.
Apabila seorang laki-laki mengimami seorang banci atau seorang wanita, maka masing-masing dari keduanya berdiri di belakang imam dan tidak sejajar dengan imam.
Aoabila seorang laki-laki mengimami seorang laki-laki, lalu makmum itu berdiri di sebelah kiri imam atau di belakangnya, maka saya memandangnya makruh. Namun apabila ia melakukannya, maka ia tidak harus mengulangi dan shalatnya telah memadai.
[Al-Umm 1, 248, Rongkasan Kitab Al-Umm 1, hal.241]

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani berkata dalam kitab Fathul Mu’in :
(وندب وقوف ذكر) ولو صبيا لم يحضر غيره، (عن يمين الامام) وإلا سن له تحويله - للاتباع - (متأخر) عنه (قليلا)، بأن تتأخر أصابعه عن عقب إمامه. وخرج بالذكر الانثى، فتقف خلفه، مع مزيد تأخر
Makmum laki-laki disunatkan berdiri di sebelah kanan imam, walaupun makmum itu anak-anak, kalaupun tidak terdapat makmum orang dewasa. Kalau tidak demikian disunatkan kepada imam (meskipun sedang salat) mengalihkan makmum kea rah kanannya, karena ittiba’ kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dank e belakang sedikit dengan cara jari kaki makmum mundur sedikit dari tumit imamnya. Kecuali bagi wanita, ia mesti berdiri di belakang imam dengan sedikit mundur (walaupun sendirian).
(فإن جاء) ذكر (آخر، أحرم عن يساره)، ويتأخر قليلا، (ثم) بعد إحرامه (تأخرا) عنه ندبا، في قيام أو ركوع، حتى يصيرا صفا وراءه
Apabila datang laki-laki yang lainnya, bertakbiratul ihramlah ia di sebelah kiri imam dan mundur sedikit, kemudian setelah takbiratul ihram itu kedua-duanya sunat mundur ke belakang, di kala imam berdiri atau rukuk, sehingga membentuk barisan di belakang imam. Sebagaimana hadits dari Jabir.
(و) وقوف (رجلين) جاءا معا (أو رجال) قصدوا الاقتداء بمصل (خلفه) صفا
Kebalikan dari cara itu ialah : Jika makmum yang di sebelah kanan imam itu mundur sebelum makmum yang kedua takbiratul ihram, atau kedua-duanya tidak mundur, atau mundur bukan di kala imam berdiri atau rukuk, hukumnya makruh dan dapat menghilangkan pahala berjamaah. Kecuali kalau imam yang maju, maka hukumnya diperbolehkan.
[Fathul Mu’in 1, hal. 382-384].

Kesimpulan :
1. Shalat jama’ah dianggap sah meskipun hanya terdiri dari satu orang imam dan satu orang makmum, meskipun makmumnya seorang anak kecil atau seorang wanita.
2. Mayoritas ulama berpendapat posisi makmum seorang laki-laki adalah di sebelah kanan imam, sebagian ulama berpendapat lurus dengan imam, sebagian lagi berpendapat agak ke belakang.
3. Mayoritas ulama berpendapat posisi makmum wanita adalah di belakang imam.

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Ebook.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Ebook.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006


*Slawi, Februari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar