Selasa, 04 Oktober 2022

SHALAT SUNAH SESUDAH IQAMAT

 

SHALAT SUNAH SESUDAH IQAMAT

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi صلى اللّه عليه وآله وسلم, beliau bersabda,

 

إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tak ada shalat selain shalat wajib. (HR. Muslim)

 

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata:

كُنْتُ أُصَلِّي وَأَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْإِقَامَةِ، فَجَذَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: أَتُصَلِّي الصُّبْحَ أَرْبَعًا؟

“Aku shalat sementara muadzin mulai mengumandangkan iqamat. Nabi صلى اللّه عليه وآله وسلم lalu menarikku dan mengatakan, “Apakah engkau mau shalat subuh empat rakaat?!” (HR. Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Hakim, beliau mengatakan, “Sahih sesuai dengan syarat Muslim.”)

 

Pertanyaan :

1.     Bolehkah memulai shalat sunnah setelah iqomah dikumandangkan?

2.    Jika seseorang sedang melakukan shalat sunnah, lantas iqomah dikumandangkan, apa yang harus dia lakukan? Melanjutkan shalat sunnah tersebut atau memutus shalatnya?

 

 

PENJELASAN/PENDAPAT ULAMA

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab berkata :

مَذْهَبُنَا أَنَّهُ إذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ كُرِهَ أَنْ يَشْتَغِلَ بنافلةٍ سواه تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ وَسُنَّةُ الصُّبْحِ وَغَيْرُهَا

Madzhab kami berpendapat, “Bila iqamat telah dikumandangkan, makruh melakukan shalat sunnah, baik tahiyatul masjid, sunnah subuh, maupun yang lain”.

 

وَقَالَ مَالِكٌ إنْ لَمْ يَخَفْ أَنْ يَفُوتَهُ الْإِمَامُ بِالرَّكْعَةِ فَلِيُصَلِّ خَارِجًا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ وَإِنْ خَافَ فَوْتَ الرَّكْعَةِ فَلْيَرْكَعْ مَعَ الْإِمَامِ

Malik berpendapat, “Bila tidak khawatir tertinggal satu rekaat dari imam, maka hendaknya shalat di luar sebelum memasuki masjid. Namun bila khawatir tertinggal satu rekaat, maka hendaknya shalat bersama imam (tidak perlu shalat sunnah shubuh)”

 

 وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَبُو حنيفة اركعها فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ مَا دُمْتَ تَتَيَقَّنُ أَنَّكَ تُدْرِكُ الرَّكْعَةَ الْأَخِيرَةَ فَإِنْ خَشِيتَ فَوْتَ الْأَخِيرَةِ فَادْخُلْ مَعَ الْإِمَامِ

Al-Auza’I, Sa’id bin Abdul Aziz, dan Abu Hanifah berpendapat, “Dua rekaat sunnah shubuh dikerjakan di pojok masjid selama orang yakin menjumpai rekaat terakhir. Namun bila dikhawatirkan tertinggal rekaat terakhir, maka yang bersangkutan harus shalat bersama imam (tidak perlu shalat sunnah shubuh)”.

 

دَلِيلُنَا حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ " إذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إلَّا الْمَكْتُوبَةَ

Dalil kami adalah hadits Abu Hurairah RA, dari Nabi صلى اللّه عليه وآله وسلم, beliau bersabda

إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tak ada shalat selain shalat wajib. [HR. Muslim No.1161]. [Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab 4/126].

 

 

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan dalam kitab Fathul Baari :

وَاسْتُدِلَّ بِعُمُومِ قَوْلِهِ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ لِمَنْ قَالَ يَقْطَعُ النَّافِلَةَ إِذَا أُقِيمَتِ الْفَرِيضَةُ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَامِدٍ وَغَيْرُهُ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَخَصَّ آخَرُونَ النَّهْيَ بِمَنْ يُنْشِئُ النَّافِلَةَ عَمَلًا بِعُمُومِ قَوْله تَعَالَى وَلَا تُبْطِلُوا أَعمالكُم ,وَقِيلَ يُفَرَّقُ بَيْنَ مَنْ يَخْشَى فَوْتَ الْفَرِيضَةِ فِي الْجَمَاعَةِ فَيَقْطَعُ وَإِلَّا فَلَا

Ini menunjukkan umumnya hadis Nabi ; “Maka tidak ada shalat (ketika iqomah berkumandang) kecuali shalat jamaah fardu”, maka ini jadi dasar ulama yang menyuruh membatalkan shalat sunah ketika iqomah berkumdang, mereka itu adalah; Abu Hamid dan selainnya dari kalangan mazhab Syafi’i.

Pendapat yang lain mengatakan tak boleh membatalkan shalat sunah, mereka menjadikan dalil argumen “keumuman” firman Allah dalam Q.S Muhammad ayat 33, Allah berfirman “Dan jangan kamu batalkan amal-amal kamu,”.

Dan juga ada yang berkata, membedakan antara orang yang takut luput shalat jamaah sebab mengerjakan shalat sunnah, maka idealnya memang dibatalkan, namun jika tidak khawatir hendaknya diteruskan saja shalat sunnahnya. [Fathul Bari, hal. II/151]

 

Al-Hafidz al-Iraqi menjelaskan hadis Abu Hurairah di atas,

إن قولَه : “فلا صلاة ” يَحْتملُ أن يُرادَ : فلا يُشرَعُ حينئذٍ في صلاةٍ عند إقامةِ الصلاةِ , ويحتملُ أن يرادَ: فلا يشتغِلُ بصلاةٍ وإن كان قد شرعَ فيها قبلَ الإقامةِ بل يقطعُها المصلِي لإدراكِ فضيلةِ التحريمِ؛ أو أنها تبطُلُ بنفسها وإن لم يقطعْهَا المصلِي

Sabda Nabi صلى اللّه عليه وآله وسلم, “tidak ada shalat kecuali shalat wajib” ada 3 kemungkinan,

[1] Kemungkinan pertama, ketika iqamah tidak disyariatkan shalat sunah

[2] atau kemungkinan maknanya, jangan melakukan shalat, meskipun shalat sunah sudah dimulai sebelum iqamah. Namun dia harus batalkan, agar bisa mendapatkan keutamaan takbiratul ihram.

[3] atau kemungkinan maknanya, ketika iqamah, shalat sunah batal dengan sendirinya, meskipun tidak dibatalkan oleh orang yang melakukannya. (Nailul Authar, as-Syaukani, 3/102).

 

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi/Al Lajnah Ad Daimah menjelaskan :

إذا أقيمت الصلاةُ المفروضةُ فاقْطعَ النافلةَ التي أنت فيها لتَدْرُكِ تكبيرةِ الإحرامِ مع الإمامِ لما ثبت من قولِ النبي صلى الله عليه وسلم: إذا أقيمتْ الصلاةُ فلا صلاةَ إلا المكتوبةِ

“Jika iqomah untuk sholat fardhu dikumandangkan maka putuskanlah sholat sunnahmu agar anda mendapatkan takbiratul ihram bersama imam, hal ini berdasarkan hadits sohih dari Rasulullah صلى اللّه عليه وآله وسلم bahwa beliau bersabada; Jika iqomah dikumandangkan maka tidak ada sholat selain sholat fardhu” (Fatawa al Lajnah ad Daimah 7/312)

 

Darul Ifta’ Al-Mishriyah menjelaskan tentang cara memutus shalat sebahai berikut;

وإذا أراد قطعَ الصلاةِ قطعَها بِمُجَرَّدِ النيةِ ولا يحتاجُ إلى تشهُّدٍ وسلامٍ؛ لأن ذلك يكونُ عند تمامِ الصلاةِ، وهذهِ الصلاةُ لم تتِمَّ، ونيةُ الخروجِ من الصلاةِ تقطعُ الصلاةَ.

Jika seseorang hendak memutus shalat, maka dia boleh memutusnya dengan niat, tanpa perlu tasyahud dan salam. Hal ini karena tasyahud dan salam hanya jika shalat sudah sempurna, dan ini merupakan shalat yang belum sempurna sehingga niat keluar dari shalat sudah cukup untuk memutus shalat.

 

Wallahu a’lam.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH

  YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH Oleh : Masnun Tholab   Hukum Zakat Fitrah Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahw...