Minggu, 21 Februari 2010

TALKIN (Setelah Mayat Dimakamkan)

TALKIN
(Setelah Mayat Dimakamkan)
Oleh : Masnun Tholab

Mayoritas ulama bersepakat dianjurkannya mentalkin seseorang menjelang ajalnya (sebelum meninggal). Namun mereka tidak bersepakat atau berselisih pendapat mengenai mentalkin mayat setelah dimakamkan. Sebagian berpendapat sunnah, sebagian lainnya berpendapat makruh.
Berikut adalah dalil-dalil dan pendapat para ulama mengenai talkin pada mayat setelah dimakamkan.
عَنْ عُثْمَانَ قال‏:‏ ‏(‏كان النَّبِيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم إذا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عليه فقال‏:‏ اِسْتَغْفِرُوا لِأخِيْكم وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيْتَ فإنهُ الْآنَ يُسْئَلُ‏)‏‏.‏ رواه أبو داود‏.‏
Dari Utsman Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila selesai pemakaman mayit, beliau berdiri di atasnya dan bersabda: "Mintalah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan ketetapan hati untuknya sebab ia sekarang sedang di tanya." Riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Hakim.
وعن راشِدِ بْنِ سَعْدٍ وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ وَحَكِيْمِ بْنِ عُمَيْرٍ قالوا‏:‏ ‏(‏إذا سُوَِيَ على الْمَيِّتِ قَبْرُهُ وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ كانوا يَسْتَحِبُّوْنَ أن يُّقَالَ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ قَبْرِهِ يا فلانُ قُلْ لا إله إلا اللَّه أشهد أن لا إله إلا اللَّه ثلاثَ مَرَّاتٍ ,يا فلانُ قل رَبِّيَ اللَّهُ ودِيْنِيَ الْإسلامُ وَنَبِيِّ محمدٌ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ثم يَنْصَرِفُ‏)‏‏.‏ رواه سعيد في سننه‏.‏
Dari Rasyid bin Sa’d, Dlomrah Ibnu Habib dan Hakim bin Humair, mereka mengatakan “Bila tanah di atas kuburan telah rata dan orang-orang telah kembali, hendaknya diucapkan di atas kuburannya: Hai Fulan, katakanlah laa ilaaha illallah tiga kali; hai Fulan, katakanlah Allah Tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku. Kemudian mereka pulang” (Riwayat Said Ibnu Manshur dalam kitab Sunannya)
[lihat Bulughul Maram, hadits no. 583]
Asy-Syaukani berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏إذا فرغ من دفن الميت‏)‏ الخ فيه مشروعية الاستغفار للميت عند الفراغ من دفنه وسؤال التثبيت له لأنه يسئل
Sabda beliau (bila selesai pemakaman mayit ) menunjukkan disyariatkannya memohonkan ampunan untuk si mayat ketika selesai menguburkannya dan memohonkan keteguhan baginya, karena saat itu si mayat sedang ditanyai.
[Nailul Author 2, hal. 222]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
وقال في المنار: إن حديث التلقين هذا حديث لا يشك أهل المعرفة بالحديث في وضعه
Berkata pengarang Al-Manar (Ibnul Qayyim), “Sesungguhnya hadits talkin ini, hadits yang tidak diragukan oleh orang yang mengerti ilmu hadits tentang kepalsuannya”
[Subulussalam 1, hal. 877].


Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
استحب بعض اهل الم والشافعى أن يلقن الميت بعد دفن لما روه سَعِيْدِ بن منصور عن راشِدِ بْنِ سَعْدٍ وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ وَحَكِيْمِ بْنِ عُمَيْرٍ
Dianggap sunnah oleh Syafi’i dan ulama sunnah lainnya untuk menalkinkan mayat, yakni yang telah mukallaf, bukan anak kecil, setelah ia dikuburkan, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Said bin Manshur dari Rasyid bin Saad dan Dhamrah dan Hakim bin Umair. Mereka bertiga adalah tabi’in.
Sayyid Sabiq juga berkata :
وذهبت المالكية فى المشهورعنهم, وبعض الحنابلية, إلى أن ألتلقين مكروه. وقال الأثرم :قات لأحمد : هذا الذى يصنعونه, إذا دفن الميت, يقف الرجل وقول : يا فلابن فلانة . . . قال : ما رأيت إحدا يفعله إلا اهل الشام حين مات أبو المغيرة
Menurut keterangan yang masyhur mengenai pendapat golongan Maliki, begitu juga pendapat sebagian golongan Hambali, bahwa talqin itu hukumnya makruh.
Atsram berkata, “Aku tanyakan kepada Ahmad, ‘Inilah yang mereka perbuat. Bila mayat telah dikuburkan, seorang laki-laki berdiri dan mengatakan, ‘Wahai fulan anak si fulan…” Ujarnya, ‘Tidak seorangpun aku lihat melakukannya kecuali penduduk Syiria, yaitu ketika meninggalnya Abu Mughirah’.
[Fiqih Sunnah 2, hal. 183].

Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad berkata :
Diriwayatkan pula bahwa beliau menaburkan tanah ke kuburan, tepatnya ke bagian kepala mayit, sebanyak tiga kali. Jika penguburan sudah selesai, maka beliau berdiri di atas kuburan bersama para sahabat, memohonkan keteguhan bagi mayit dan memerintahkan agar mereka juga memohonkan hal sama. Beliau tidak duduk untuk membacakan sesuatu di dekat kuburan dan tidak pula mentalkinkan sesuatu seperti yang dikerjakan manusia pada zaman sekarang.
[Zaadul Ma’ad 1, hal. 64].

Zainudin bin Abdurrahman Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
و (تلقين بالغ، ولو شهيدا) كما اقتضاه إطلاقهم - خلافا للزركشي (بعد) تمام (دفن)
Sunat menalkini mayat yang telah balig –sekalipun mati syahid-, sesudah selesai menguburnya sebagaimana tujuan perkataan ulama yang memutlakkan. Berbeda dengan pendapat Imam Zarkasyi (dalam hal menalkini mayat syahid).
فيقعد رجل قبالة وجهه ويقول: يا عبد الله ابن أمة الله: اذكر العهد الذي خرجت عليه من
الدنيا: شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا رسول الله، وأن الجنة حق، وأن النار حق، وأن البعث حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور،
وأنك رضيت بالله ربا، وبالاسلام دينا، وبمحمد (ص) نبيا، وبالقرآن إماما، وبالكعبة قبلة، وبالمؤمنين إخوانا. ربي الله، لا إله إلا هو، عليه توكلت، وهو رب العرش العظيم.
Caranya
Seorang laki-laki (diantara pengantar jenazah) duduk di hadapan (yang sejajar dengan) wajah mayat, lalu berucap, “Wahai hamba Allah bin Amat Allah” (misal : Wahai Zaid bin Fatimah)! Ingatlah kamu akan janji yang telah kamu bawa keluar dari dunia yaitu, kesaksian bahwa tidak ada tuhan (yang wajib disembah) melainkan Allah (Yang Esa), tiada sekutu bagiNya dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah; sesungguuhnya surga itu haq (pasti) adanya; sesungguhnya neraka itu hak; sesungguhnya hidup itu hak; sesungguhnya hidup sesudah mati itu hak; sesungguhnya kiamat itu akan terjadi tidak diragukan lagi; sesungguhnya Allah akan membangkitkan kembali semua mayat dalam alam kubur; sesungguhnya engkau rela bahwa Allah adalah Tuhanmu, Islam agamamu, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam nabimu, Quran pemimpin hidupmu, kiblat tempat menghadapmu, dan semua kaum mukmin saudaramu. Tuhan Allah, tiada tuhan melainkan Dia, kepada-Nya lah aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘arasyi yang agung”

Kesimpulan :
Hukum mentalkin mayat setelah dikuburkan adalah sebagai berikut :
1. Mentalkin mayat setelah dikuburkan hukumnya sunnah. Ini merupakan pendapat Imam Syafi’i, Zainuddin al-Malibari.
2. Mentalkin mayat setelah dikuburkan hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad.
3. Mentalkin mayat setelah dikuburkan tidak disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak perlu dikerjakan. Ini merupakan pendapat Ibnul Qayyim.
Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
- Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi (E-book)
- Abu Daud, Sunan Abu Daud (E-book)
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syufa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar