Selasa, 18 Mei 2010

BACAAN SALAM DALAM SHALAT

BACAAN SALAM DALAM SHALAT
Oleh : Masnun Tholab
masnuntholab.blogspot.com

Hadits-hadits dan Pendapat ‘Ulama Tentang Bacaan Salam
Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, ia berkata : Kami pernah shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu seseorang diantara kami dengan tangan kanan dan kirinya mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’. Seraya mengisyaratkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Maka beliau bersabda :
ما بالكم تومئون بأيديكم كأنها أذناب خيل شمس أو لا يكفي أو إنما يكفي أحدكم أن يضع يده على فخذه ثم يسلم عن يمينه وعن شماله السلام عليكم ورحمة الله السلام عليكم ورحمة الله
“Ada apa dengan kalian sehingga mengisyaratkan dengan tangan seakan-akan hal itu adalah ekor kuda matahari. Apakah tidak cukup atau cukup, bagi salah seorang diantara kalian meletakkan tangannya di atas paha kemudian mengucapkan “Assalamu ‘alaikum warahmatullah, Assalamu ‘alaikum warahmatullah” (HR. Abu Daud no. 985)

Imam Syafi’i berkata :
وبهذه الأحاديث كلها نأخذ فنأمر كل مصل أن يسلم تسليمتين إماما كان أو مأموما أو منفردا ونأمر المصلي خلف الإمام إذا لم يسلم الإمام تسليمتين أن يسلم هو تسليمتين ويقول في كل واحدة منهما السلام عليكم ورحمة الله
Semua hadits di atas menjadi pegangan, maka kami menyuruh setiap orang yang mengerjakan shalat agar memberi salam sebanyak dua kali, baik ia sebagai imam auat shalat sendirian.
Kami memerintahkan kepada makmum apabila imam tidak memberi salam sebanyak dua kali, maka ia harus memberi salam dua kali dengan ucapan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah, Assalamu ‘alaikum warahmatullah”

Imam Syafi’i berkata :
من تسليمه أن يقول السلام عليكم فإن نقص من هذا حرفا عاد فسلم وإن لم يفعل حتى قام عاد فسجد للسهو ثم سلم
Pengucapan salam sekurang-kurangnya dengan mengucapkan Assalaamu ‘alaikum. Apabila ia mengurangi satu huruf saja, maka ia harus mengulanginya. Apabila ia tidak memberi salam sampai ia pergi, maka ia harus kembali dan melakukan sujud sahwi, kemudian memberi salam lagi.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 186-187].

Zainudin Al-Malibari (‘Ulama Madzhab Syafi’i dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
(و) ثالث عشرها: تسليمة أولى، (وأقلها: السلام عليكم) للاتباع، ويكره عليكم السلام
(و) يسن أن يقرن كلا من التسليمتين (برحمة الله) أي معها، دون: وبركاته، على المنقول في غير الجنازة. لكن اختير ندبها لثبوتها من عدة طرق.
Rukun shalat yang ketiga belas ialah membaca salam yang pertama, paling sedikit assalaamu’alaikum, sebab ‘ittiba kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Disunatkan melengkapi kedua salam dengan lafadz Warakhmatullah tidak dengan lafadz Wabarakaatuh, sesuai dengan nash yang disalin dar salat selain salat jenazah.
Akan tetapi dipilih sunnat memakai lafadz wabarakaatuh, sebab nash-nya dari berbagai jalan.
[Fathul Mu’in 1, hal. 223-224].

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram mengutip hadits dari Wail bin Hajar Rhadiallahu ‘anhuma, dia berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ : " اَلسَّلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ " وَعَنْ شِمَالِهِ : " اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Saya shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membaca salam ke kanan dengan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh”, demikian pula ke kiri, “Assalaamu’alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh” (HR. Abu Daud dengan riwayat yang sahih)
[Bulughul Maraam hadits no. 39, hal. 139; lihat Fiqih Sunnah 1, hal. 198 ]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
وحديث التسليمتين رواه خمسة عشر من الصحابة بأحاديث مختلفة، ففيها صحيح، وحسن، وضعيف، ومتروك، وكلها بدون زيادة: "وبركاته" إلا في رواية وائل هذه، ورواية عن ابن مسعود. وعند ابن ماجه، وعند ابن حبان، ومع صحة إسناد حديث وائل، كما قال المصنف هنا: يتعين قبول زيادته؛ إذ هي زيادة عدل، وعدم ذكرها في رواية غيره ليست رواية لعدمها
Hadits tentang mengucap dua kali salam ini telah diriwayatkan oleh lima belas sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits yang berbeda-beda, ada yang sahih, ada yang hasan, ada yang dha’if dan ada yang matruk, dan semuanya tanpa tambahan Wabarakaatuh kecuali dalam riwayat Wa’il ini, serta dalam riwayat Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dan jika riwayat Wa’il ini shahih, maka tambahan Wabarakaatuh harus diterima karena ia tambahan yang benar. Sedangkan ketiadaannya dalam riwayat-riwayat yang lain tidak menunjukkan bahwa tambahan ini tidak ada.
[Subulussalam 1, hal. 522].

Imam Ghazali (‘Ulama madzhab Syafi’i) dalam kitab ihya ‘Ulumiddin berkata :
Bacaan salam dalam shalat adalah Assalaamu’alaikum warakhmatullaah.
[Ihya ‘Ulumiddin 1, hal. 514].

Kesimpulan
1. Menurut mayoritas ulama, bacaan salam dalam shalat boleh dengan lafadz Assalamu’alaikum, Assalamu’alaikum warahmatullaah, atau Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
2. Bacaan salam menurut Imam Syafi’i dan Imam Ghazali adalah . Assalamu’alaikum warahmatullaah,
Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang, 1990.

*Slawi, 6 Mei 2010.

2 komentar:

  1. Kepada siapakah ditujukan ucapan Salam itu ? Jazakalloh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Imam As-Sirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab berkata :
      Salam pertama diniatkan untuk keluar dari shalat, mengucapkan salam untuk imam, jamaah yang ada di sebelah kanan, dan untuk para malaikat pencatat amal. Sedangkan salam kedua diniatkran untuk jama’ah yang ada di sebelah kiri dan untuk para malaikat pencatat amal.
      Bagi makmum, salam pertama, diniatkan untuk keluar dari shalat dan salam untuk imam, para malaikat pencatat amal serta makmum yang ada di sebelah kanan, depan dan belakangnya. Sedangkan salam kedua diniatkan untuk para malaikat pencatat amal, makmum yang ada di sebelah kiri.
      Bagi orang yang shalat sendirian salam pertama, diniatkan untuk keluar dari shalat dan untuk para malaikat pencatat amal. Sedangkan salam kedua untuk para malaikat pencatat amal.
      [Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab 3/944] Wallahu a’lam.

      Hapus