Kamis, 06 Agustus 2026

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

  1. Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya,

أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم رَشَّ على قبرِ ابْنِهِ إبراهيمَ ووضَعَ عليه حَصْبَاءَ

Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyirami kuburan anaknya, Ibrahim, dan meletakkan batu di atasnya,” (HR. Asy-Syafi’i)

 

  1. Dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,

نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللّهُ عليهِ وآلهِ وسلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ, وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ, وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

”Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa’i dan Abu Dawud)

 

Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dan disahihkannya, redaksinya,

نَهَى أن تُجَصَّصَ الْقُبُوْرُ وأن يُكْتَبُ عليها وأن يُبْنَى عليها وأن تُوْطَأَ

”Beliau صلى الله عليه وسلم melarang menembok kuburan, menuliskan tulisan padanya, membuatkan bangunan padanya, dan menginjaknya,”

Dalam lafadz An-Nasa’i :

نَهَى أن يُبْنَى على القبرِ أو يُزَادَ عليه أو يُجَصَّصَ أو يُكْتَبُ عليه

”Beliau صلى الله عليه وسلم melarang membuat bangunan pada kuburan atau menambahnya (meninggikan) atau menemboknya atau menuliskan tulisan padanya”

 

PENJELASAN/PENDAPAT ULAMA

Imam Asy-Syaukani dalam kitab nailul Authar berkata :

قَوْلُهُ : ( أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ ). وَفِيهِ تَحْرِيمُ تَجْصِيصِ الْقُبُورِ .

Ucapan perawi Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur ini menunjukkan haramnya menembok kuburan.

 

قَوْلُهُ : ( وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ ) . فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْقُعُودِ عَلَى الْقَبْرِ ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ .

Ucapan perawi Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang duduk di atas kubur , merupakan dalil diharamkannya duduk di atas kuburan. Dan ini merupakan pendapat jumhur ulama.

 

قَوْلُهُ : ( وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ ) . فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْبِنَاءِ عَلَى الْقَبْرِ . وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ : رَأَيْت الْأَئِمَّةَ بِمَكَّةَ يَأْمُرُونَ بِهَدْمِ مَا يُبْنَى .

Ucapan perawi dan membuat bangunan di atasnya ini menunjukkan haramnya membuat bangunan di atas kuburan. Asy-Syafi’i berkata, ”Aku telah melihat para pemimpin di Mekkah memerintahkan untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan”

[Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar 2, hal. 217-218].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :

الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي.

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya tiga perbuatan yang disebutkan dalam hadits itu, karena keharaman itulah pada dasarnya yang terkandung dalam kalimat larangan itu.

[subulussalam 1, hal. 870].

 

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :

Tirmidzi menyatakan kesahihan hadits tersebut dengan berkata, ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur, membuat tulisan, membuat bangunan di atas kubur, menambahnya, menginjaknya”

Maksud menembok adalah melebur dengan adukan semen.

Jumhur mengartikan larangan itu sebagai makruh, sedangkan ibnu Hazm memandangnya haram. Adapun hikmah larangan itu adalah karena kubur itu hanya untuk sementara, bukan untuk selama-lamanya. Dan menembok itu termasuk perhiasan dunia yang tidak ada manfaatnya bagi mayat. Begitulah kata sebagian ulama. [Fiqih Sunnah 2. hal. ].

 

Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً

Saya menyukai bahwa tidak dibangun kuburan dan tidak dikapurkan. Karena yang demikian itu menyerupai hiasan dan kebanggaan. Dan tidaklah kematian itu tempat salah satu dari keduanya (perhiasan dan kebanggaan). Saya tidak melihat kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar itu dikapurkan.” [Ringkasan Kitab Al Umm 1, bab "Pekerjaan Setelah Penguburan", hal. 384]

 

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab fathul Mu’in berkata :

وكُرِهَ بناءٌ له أي للقبرِ، أو عليه لصحةِ النهيِ عنه بلا حاجةٍ، كخوفِ نَبْشِ، أو حَفْرِ سَبُعٍ أو هَدْمِ سَيْلٍ. ومَحَلُّ كراهةِ البناءِ، إذا كان بِمِلْكهِ، فإن كان بناءُ نفسِ القبرِ بغير حاجةٍ مما مَرَّ، أو نحو قُبَّةِ عليه بِمُسَبَّلَةِ، وهي ما اعْتادَ أهلُ البلدِ الدَّفْنَ فيها، عُرِفَ أصْلُهَا ومُسَبِّلُهَا أم لا، أو مَوْقُوْفَةٍ، حَرُمَ، وهُدِمَ وجوبا، لانه يَتَأَبَّدُ بعد اِنْمِحَاقِ الميت، ففيه تَضْيِيْقٌ على المسلمين بما لا غَرْضَ فيه

Makruh membangun tembok dalam liang kubur atau di atasnya tanpa keperluan atau darurat, umpamanya khwatir ada yang membongkar, atau (khawatir) digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir. Karena yang demikian itu berdasarkan larangan hadits shahih.

Hal ini makruh dilakukan bilamana bangunan tersebut berada di tanah milik sendiri. Namun, kalau bangunan oitu sendiri tidak dalam keadaan darurat seperti yang sudah diungkapkan tadi (khawatir ada yang membongkar, digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir); atau membangun sejenis kubah (misalnya pagar dan sebagainya) di atas tanah kuburan tanah musabbalah, yaitu tanah yang biasa disediakan untuk mengubur mayat oleh penduduk setempat, baik diketahui asal mula penyediaannya maupun tidak, atau memang tanah wakaf, maka yang demikian itu hukumnya haram dan wajib dirobohkan, sebab bangunan tersebut akan tetap berdiri, sekalipun mayatnya sudah punah. Dengan demikian berarti mempersempit kepentingan kaum muslim lainnya yang dalam hal ini menurut syara’ tidak perlu. [Fathul Mu’in 1, hal. 498].

Wallahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN Oleh : Masnun Tholab   DALIL-DALIL Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, أن رسول اللَّه صلى الل...