LARANGAN MENEMBOK KUBURAN
Oleh
: Masnun Tholab
DALIL-DALIL
- Dari Ja’far bin Muhammad dari
ayahnya,
أن
رسول اللَّه صلى اللَّه عليه
وآله
وسلم رَشَّ على قبرِ ابْنِهِ إبراهيمَ ووضَعَ عليه حَصْبَاءَ
Bahwasanya
Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyirami kuburan
anaknya, Ibrahim, dan meletakkan batu di atasnya,” (HR. Asy-Syafi’i)
- Dari Djabir
Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,
نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى
اللّهُ عليهِ وآلهِ وسلَّمَ
أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ, وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ, وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
”Rasulullah صلى
الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di
atasnya” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa’i dan Abu Dawud)
Diriwayatkan juga oleh
At-Tirmidzi dan disahihkannya, redaksinya,
نَهَى أن
تُجَصَّصَ الْقُبُوْرُ وأن يُكْتَبُ عليها وأن يُبْنَى عليها وأن تُوْطَأَ
”Beliau صلى
الله عليه وسلم melarang menembok kuburan, menuliskan tulisan padanya, membuatkan bangunan
padanya, dan menginjaknya,”
Dalam lafadz An-Nasa’i
:
نَهَى
أن يُبْنَى على القبرِ أو يُزَادَ عليه أو يُجَصَّصَ أو يُكْتَبُ عليه
”Beliau صلى
الله عليه وسلم melarang membuat bangunan pada kuburan atau menambahnya (meninggikan) atau
menemboknya atau menuliskan tulisan padanya”
PENJELASAN/PENDAPAT
ULAMA
Imam
Asy-Syaukani dalam kitab nailul Authar berkata :
قَوْلُهُ : ( أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ ). وَفِيهِ
تَحْرِيمُ تَجْصِيصِ الْقُبُورِ .
Ucapan perawi Rasulullah
صلى الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur ini menunjukkan
haramnya menembok kuburan.
قَوْلُهُ : ( وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ ) . فِيهِ
دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْقُعُودِ عَلَى الْقَبْرِ ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ
الْجُمْهُورُ .
Ucapan perawi Rasulullah
صلى الله عليه وسلم telah melarang duduk di atas kubur , merupakan
dalil diharamkannya duduk di atas kuburan. Dan ini merupakan pendapat jumhur
ulama.
قَوْلُهُ : ( وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ ) . فِيهِ
دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْبِنَاءِ عَلَى الْقَبْرِ . وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ
: رَأَيْت الْأَئِمَّةَ بِمَكَّةَ يَأْمُرُونَ بِهَدْمِ مَا يُبْنَى .
Ucapan perawi dan
membuat bangunan di atasnya ini menunjukkan haramnya membuat bangunan di
atas kuburan. Asy-Syafi’i berkata, ”Aku telah melihat para pemimpin di Mekkah
memerintahkan untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan”
[Bustanul Ahbar
Mukhtashar Nailul Authar 2, hal. 217-218].
Imam Ash-Shan’ani dalam
kitab Subulussalam berkata :
الحديث
دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي.
Hadits tersebut sebagai
dalil yang menunjukkan haramnya tiga perbuatan yang disebutkan dalam hadits
itu, karena keharaman itulah pada dasarnya yang terkandung dalam kalimat
larangan itu.
[subulussalam 1, hal.
870].
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih
Sunnah berkata :
Tirmidzi menyatakan
kesahihan hadits tersebut dengan berkata, ”Rasulullah صلى
الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur, membuat tulisan, membuat
bangunan di atas kubur, menambahnya, menginjaknya”
Maksud menembok adalah
melebur dengan adukan semen.
Jumhur mengartikan
larangan itu sebagai makruh, sedangkan ibnu Hazm memandangnya haram. Adapun
hikmah larangan itu adalah karena kubur itu hanya untuk sementara, bukan untuk
selama-lamanya. Dan menembok itu termasuk perhiasan dunia yang tidak ada
manfaatnya bagi mayat. Begitulah kata sebagian ulama. [Fiqih Sunnah 2. hal.
].
Imam Syafi’i berkata
dalam kitab Al-Umm :
وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ
يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ
مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ
مُجَصَّصَةً
Saya menyukai bahwa tidak dibangun kuburan dan tidak
dikapurkan. Karena yang demikian itu menyerupai hiasan dan kebanggaan. Dan
tidaklah kematian itu tempat salah satu dari keduanya (perhiasan dan
kebanggaan). Saya tidak melihat kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar itu
dikapurkan.” [Ringkasan Kitab Al Umm 1,
bab "Pekerjaan Setelah Penguburan", hal. 384]
Zainudin bin Abdul
Aziz Al-Malibari dalam kitab fathul Mu’in berkata :
وكُرِهَ بناءٌ له أي للقبرِ، أو عليه لصحةِ
النهيِ عنه بلا حاجةٍ، كخوفِ نَبْشِ، أو حَفْرِ سَبُعٍ أو هَدْمِ سَيْلٍ. ومَحَلُّ
كراهةِ البناءِ، إذا كان بِمِلْكهِ، فإن كان بناءُ نفسِ القبرِ بغير حاجةٍ مما مَرَّ،
أو نحو قُبَّةِ عليه بِمُسَبَّلَةِ، وهي ما اعْتادَ أهلُ البلدِ الدَّفْنَ فيها، عُرِفَ
أصْلُهَا ومُسَبِّلُهَا أم لا، أو مَوْقُوْفَةٍ، حَرُمَ، وهُدِمَ وجوبا، لانه يَتَأَبَّدُ
بعد اِنْمِحَاقِ الميت، ففيه تَضْيِيْقٌ على المسلمين بما لا غَرْضَ فيه
Makruh membangun
tembok dalam liang kubur atau di atasnya tanpa keperluan atau darurat,
umpamanya khwatir ada yang membongkar, atau (khawatir) digali binatang buas,
atau ambrol terbawa arus banjir. Karena yang demikian itu berdasarkan larangan
hadits shahih.
Hal ini makruh
dilakukan bilamana bangunan tersebut berada di tanah milik sendiri. Namun,
kalau bangunan oitu sendiri tidak dalam keadaan darurat seperti yang sudah
diungkapkan tadi (khawatir ada yang membongkar, digali binatang buas, atau
ambrol terbawa arus banjir); atau membangun sejenis kubah (misalnya pagar dan
sebagainya) di atas tanah kuburan tanah musabbalah, yaitu tanah yang biasa
disediakan untuk mengubur mayat oleh penduduk setempat, baik diketahui asal
mula penyediaannya maupun tidak, atau memang tanah wakaf, maka yang demikian
itu hukumnya haram dan wajib dirobohkan, sebab bangunan tersebut akan tetap
berdiri, sekalipun mayatnya sudah punah. Dengan demikian berarti mempersempit
kepentingan kaum muslim lainnya yang dalam hal ini menurut syara’ tidak perlu.
[Fathul Mu’in 1, hal. 498].
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar