Kamis, 04 Juni 2026

HUKUM MEMBACA ALQUR’AN SECARA BERJAMA’AH

HUKUM MEMBACA ALQUR’AN SECARA BERJAMA’AH

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada disisiNya. (HR. Muslim No. 2699)

Imam An-Nawawi menyebutkan hal ini dalam karyanya, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an:

إعلم أن قرأة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة وأفعال السلف والخلف المتظاهرة.

Artinya, “Ketahulah, pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dianjurkan berdasarkan dalil yang nyata dan tindakan ulama salaf yang saling mendukung,” (Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, halaman 87).

 

Dalam kitab yang sama, beliau berkata :

وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا أو جزءا أو غير ذلك ثم يسكت ويقرأ الأخر من حيث انتهى الأول ثم يقرأ الآخر وهذا جائز حسن وقد سئل مالك رحمه الله تعالى عنه فقال لا بأس به

Yaitu berkumpulnya jamaah, sebagian mereka membaca sepuluh ayat atau satu juz atau selain itu, kemudian mereka berhenti, dan dilanjutkan bacaannya oleh lainnya dengan melanjutkan ayat yang terakhir dibaca. Ini boleh dan bagus. Imam Malik Rahimahullah ditanya hal ini, Beliau menjawab: tidak apa-apa. (At Tibyan, Hlm. 103)

 

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

هذا دليل على فضل الإجتماع على تلاوة القرآن في المساجد

Ini adalah dalil tentang keutamaan berkumpul dalam rangka membaca Alquran di masjid-masjid. (Syarh Al Arbain Nawawiyah, Hlm. 93)

 

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abad Al Badr hafizhahullah menambahkan:

(ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله) بيوت الله هي المساجد، قيل: ويلحق بها دور العلم والأماكن التي تخصص للعلم ونشر العلم. قوله: (ويتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم) يعني: يقرءون كتاب الله، سواءٌ أكانت هذه القراءة بأن يقوم شخص ويقرأ ويفسر أو غيره يفسر، أم أنهم يجتمعون بحيث يقرأ واحد منهم مقداراً من القرآن ويستمع الباقون، ويكون هناك شخص يصوب قراءته ويبين ما عليه من ملاحظات، كل ذلك يدخل تحت التدارس

 

 

(Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah) yaitu masjid-masjid. Dikatakan: dikaitkan dengannya sebagai tempat ilmu dan tempat-tempat khusus untuk mencari ilmu dan menyebarkannya. (mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya) yakni mereka membaca Kitabullah, keadaannya sama saja apakah ada seorang yang membaca dan menafsirkan, atau orang lain yang menafsirkan, atau mereka berkumpul dengan satu orang di antara mereka membaca sejumlah ayat Alquran dan yang lain mendengarkan, lalu ada orang yang mengoreksi bacaannya dan menjelaskan dengan berbagai keterangan. Semua ini termasuk makna tadarus. (Syarh Sunan Abi Daud [175])

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

وَكَانَ أَصْحَابُهُ إذَا اجْتَمَعُوا أَمَرُوا وَاحِدًا مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ وَالْبَاقِي يَسْتَمِعُونَ . وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ لِأَبِي مُوسَى ذَكَرْنَا رَبَّنَا فَيَقْرَأُ وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ وَقَدْ رُوِيَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ وَمِنْهُمْ وَاحِدٌ يَقْرَأُ فَجَلَسَ مَعَهُمْ } وَقَدْ رُوِيَ فِي الْمَلَائِكَةِ السَّيَّارِينَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ الْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ .

Dahulu para sahabat nabi, jika mereka berkumpul mereka memerintahkan salah seorang membaca Alquran, sedangkan yang lain mendengarkan. Umar bin Al Khathab berkata kepada Abu Musa: “Ingatkanlah kami kepada Tuhan kami.” Lalu Abu Musa membaca Alquran dan mereka (para sahabat) mendengarkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar rumah menuju Ahlush Shuffah (para sahabat yang tinggal di masjid nabawi, pen), ada salah seorang mereka yang membaca Alquran dan dia berada bersama mereka. Diriwayatkan pula bahwa para malaikat berkeliling mencari majelis-majelis dzikir, hadits ini telah dikenal. (Majmu Al Fatawa, 23/133)

 

Imam An-Nawawi mengangkat pandangan beberapa ulama yang mengingkari praktik pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah. Mereka berasumsi, kata An-Nawawi, praktik ini bid’ah yang tidak ditemukan pada kalangan salaf. Seorang sahabat pun tidak pernah melakukan ini, kata mereka. Tetapi imam An-Nawawi menjawab sebagai berikut:

فهذا الإنكار منهما مخالف لما عليه السلف والخلف ولما يقتضيه الدليل فهو متروك والاعتماد على ما تقدم من استحبابها لكن للقراءة في حال الاجتماع شروط قدمناها ينبغي أن يعتنى بها والله أعلم

 “Pengingkaran keduanya bertentangan dengan perilaku ulama salaf dan dengan tuntutan dalil. Pengingkaran itu ditinggalkan. Dasar patokannya adalah anjuran sebagaimana keterangan sebelumnya. Tetapi pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah memiliki syarat yang perlu diperhatikan sebagai yang telah kami sebutkan,’” (An-Nawawi, 2020 M/1441 H: 89).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Orang yang membaca Al-Qur’an akan disertai oleh pahala yang  besar dari Allah. Sebagaimana hadist berikut:

وعَنِ ابْنِ عبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَالَ : بيْنَما جِبْرِيلُ عليهِ السَّلام قاعِدٌ عِندَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ ، فَرَفَعَ رَأْسَه فَقَالَ : هذا باب مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ اليَوْمَ ولَمْ يُفْتَح قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ ، فَنَزَلَ مِنه مَلكٌ فقالَ : هذا مَلَكٌ نَزَلَ إِلى الأَرْضِ لم يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ فَسَلَّمَ وقال : أَبشِرْ بِنورَينِ أُوتِيتَهُمَا ، لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبلَكَ : فَاتحةِ الكتاب ، وخَواتِيم سُورَةِ البَقَرةِ ، لَن تَقرأَ بحرْفٍ منها إِلاَّ أُعْطِيتَه » رواه مسلم .

Terjemah: “Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Pada suatu ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi shalallahu alaihi salam, lalu mendengar suara -pintu terbuka- di atasnya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini adalah pintu dari langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah sama sekali dibuka, melainkan pada hari ini.” Kemudian turunlah dari pintu tadi seorang malaikat, lalu Jibril berkata: “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak pernah turun sama sekali, melainkan pada hari ini.” Malaikat yang baru turun itu lalu memberi salam dan berkata: “Bergembiralah -hai Muhammad- dengan dua cahaya yang dikaruniakan kepada Tuan dan tidak pernah dikaruniakan kepada Nabi siapapun sebelum Tuan, yaitu fatihatul kitab -yakni surat al-Fatihah- dan beberapa ayat penghabisan dari surat al-Baqarah. Tidaklah Tuan membaca sehuruf dari keduanya itu, melainkan Tuan akan diberi pahala besar.” (HR Muslim)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HUKUM MEMBACA ALQUR’AN SECARA BERJAMA’AH

HUKUM MEMBACA ALQUR’AN SECARA BERJAMA’AH Oleh : Masnun Tholab   DALIL-DALIL Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersa...