Jumat, 06 Februari 2026

TAUHID ULUHIYYAH

 

TAUHID ULUHIYYAH

 

Tauhid Uluhiyyah dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

 

Sungguh, Allah tidak akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada syirkun akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat An-Nisaa/4: 48, 116][2]

 

Al-ilaah artinya al-ma’luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah/2: 163]

 

Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata: “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, maupun Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Dia (Allah) tidak boleh disekutu-kan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.[3]

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijak-sana.” [Ali ‘Imran/3: 18]

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, ‘Uzza dan Manat yang disebut sebagai tuhan oleh kaum Musyrikin:

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya…” [An-Najm/53: 23]

 

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

 

“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Hajj/22: 62]

 

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissallam, yang berkata kepada kedua temannya di penjara:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…” [Yusuf/12: 39-40]

 

Tauhid Uluhiyyah merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ , dari Rasul yang pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Baca Juga  Hukum Shalat Di Belakang Ahlul Bid’ah

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu…’” [An-Nahl/16: 36]

 

Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian akan Aku.’” [Al-Anbiyaa/21: 25]

 

Semua Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ memulai dakwah mereka kepada kaumnya dengan tauhid Uluhiyyah, agar kaum mereka beribadah dengan benar hanya kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala saja.

 

Seluruh Rasul berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja.[4]

 

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” [Al-Mukminuun/23: 32]

 

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti:[5]

 

Bukti pertama: Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, serta tidak dapat menghidupkan dan mematikan.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) suatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Furqaan/25: 3]

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at…” [Saba/34: 22-23]

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri adalah buatan manusia. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf/7: 191-192]

 

Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah (sesembahan) dan tempat meminta pertolongan.

 

Bukti kedua: Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, Yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi dari adzab-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan) sebagaimana mereka mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah.

 

 

 

Selasa, 27 Januari 2026

PENILAIAN KINERJA GURU DAN KARYAWAN MADRASAH PPAD

 

PENILAIAN KINERJA GURU DAN KARYAWAN MADRASAH

PONDOK PESANTREN MUHAMMDIYAH AHMAD DAHLAN

BALAPULANG, TEGAL

 

  1. Penilaian kinerja dilakukan setiap bulan.
  2. Prosentase kehadiran Guru dan Karyawan  dalam dalam melaksanakan tugas diatas 90 persen mendapat bonus sebesar Rp. 100.000 pada bulan berikutnya.
  1. Prosentase kehadiran Guru dan Karyawan  dalam dalam melaksanakan tugas dibawah 90 persen dipotog gajinya Rp. 100.000  pada bulan berikutnya.
  1. Prosentase kehadiran Guru dan Karyawan  dalam dalam melaksanakan tugas dibawah 80 persen dianggap mengundurkan diri.
  1. Tidak hadir dalam setiap kegiatan tanpa ijin mendapat nilai 0 (nol)
  1. Tidak hadir dalam setiap kegiatan dengan ijin tertulis lewat surat mendapat nilai 1 (satu)
  1. Tidak hadir dalam setiap kegiatan dengan ijin tertulis lewat WA mendapat nilai 1/2 (setengah)
  1. Ijin tertulis lewat surat ditujukan  kepada Wakil Direktur Bidang Aakademik dan diberitahukan kepada Kapala Madrasah.
  2. Ijin tertulis lewat surat dari Wadir Akademik ditujukan kepada Direktur.
  3. Ijin tertulis lewat WA dari Wadir Kepengasuhan dan Wadir Akademik ditujukan kepala Madrasah.
  1. Hadir untuk melaksanakan tugas tepat waktu mendapat nilai 1 (satu).
  1. Hadir untuk melaksanakan tugas terlambat 10 menit  mendapat nilai 1/2 (setengah).
  2. Hadir untuk Kegiatan menyambut santri  tepat waktu mendapat nilai 1 (satu).
  3. Hadir untuk Kegiatan menyambut santri  terlambat 10 menit mendapat nilai 1/2
  4. Ketentuan ini berlaku sejak ditetapkan.
  5. Shalat berjamaah di shaf terdepan bagi Guru/Karyawan laki-laki mendapat nilai 1 (satu)
  1. Shalat berjamaah di selain shaf terdepan bagi Guru/Karyawan laki-laki mendapat nilai 1/2 (setengah).
  1. Shalat berjamaah di masjid sebelum adzan berkumandang  bagi Guru/Karyawan Perempuan mendapat nilai 1 (satu).
  1. Shalat berjamaah di masjid setelah adzan berkumandang  bagi Guru/Karyawan Perempuan mendapat nilai 1/2 (setengah)
  1. Ketentuan ini berlaku sejak ditetapkan.

 

 

                                                                                             Balapulang, 18 Desember 2025

Mengetahui

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah                                  Direktur Pondok Pesantren Ahmad

Kabupaten Tegal                                                                            Dahlan Balapulang                           

                                                                                                          

 

 

 

H. Fathin Hammam, S.Sos, M.Pd                                                 Masnun Tholab

NBM. 802 632                                                                                 NBM : 1225277

                                                                                             

 

PENILAIAN KINERJA PENGASUH PPAD

 

PENILAIAN KINERJA PENGASUH

PONDOK PESANTREN MUHAMMDIYAH AHMAD DAHLAN

BALAPULANG, TEGAL

 

  1. Penilaian kinerja dilakukan setiap bulan.
  2. Prosentase kehadiran pengasuh dalam kegiatan pendampingan santri diatas 90 persen mendapat bonus sebesar Rp. 100.000 pada bulan berikutnya.
  1. Prosentase kehadiran pengasuh dalam kegiatan pendampingan santri dibawah 90 persen dipotog gajinya Rp. 100.000  pada bulan berikutnya.
  1. Prosentase kehadiran dalam kegiatan  pendampingan santri dibawah 80 persen dianggap mengundurkan diri.
  1. Tidak hadir dalam setiap kegiatan tanpa ijin mendapat nilai 0 (nol)
  1. Tidak hadir dalam setiap kegiatan pendampingan santri dengan ijin tertulis lewat surat mendapat nilai 1 (satu)
  1. Tidak hadir dalam setiap kegiatan pendampingan santri dengan ijin tertulis lewat WA mendapat nilai 1/2 (setengah)
  1. Ijin tertulis lewat surat dari pemgasuh ditujukan  kepada Wakil Direktur Bidang Kepengasuhan dan diberitahukan kepada kepala kepengasuhan.
  2. Ijin tertulis lewat surat dari Wadir Kepengasuhan dan Wadir Akademik ditujukan kepada Direktur.
  3. Ijin tertulis lewat WA dari Wadir Kepengasuhan dan Wadir Akademik ditujukan kepala kepengasuhan..
  1. Ijin tertulis lewat WA dari pengasuh dikirimkan kepada kepala kepengasuhan.
  1. Shalat berjamaah di shaf terdepan bagi musyrif mendapat nilai 1 (satu)
  1. Shalat berjamaah di selain shaf terdepan bagi musyrif mendapat nilai 1/2 (setengah).
  1. Shalat berjamaah di masjid sebelum adzan berkumandang  bagi musyrifah mendapat nilai 1 (satu).
  1. Shalat berjamaah di masjid setelah adzan berkumandang  bagi musyrifah mendapat nilai 1/2 (setengah)
  1. Hadir untuk pendampingan kegiatan santri tepat waktu mendapat nilai 1 (satu).
  1. Hadir untuk pendampingan kegiatan santri terlambat 10 menit  mendapat nilai 1/2 (setengah).
  2. Ketentuan ini berlaku sejak ditetapkan.

 

 

                                                                                             Balapulang, 18 Desember 2025

Mengetahui

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah                                  Direktur Pondok Pesantren Ahmad

Kabupaten Tegal                                                                            Dahlan Balapulang                           

                                                                                                          

 

 

 

H. Fathin Hammam, S.Sos, M.Pd                                                 Masnun Tholab

NBM. 802 632                                                                                 NBM : 1225277

                                                                                             

 

Rabu, 19 November 2025

KOTORAN HEWAN YANG HALAL DIMAKAN, SUCI?

 KOTORAN HEWAN YANG HALAL DIMAKAN, SUCI?

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم  يُصَلِّى قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ

Sebelum masjid dibangun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di kandang kambing. (HR. Bukhari 234 dan Muslim 1202).

 

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu,

قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ ، فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم  بِلِقَاحٍ ، وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا ، فَانْطَلَقُوا

Datang beberapa orang dari suku Ukl dan Urainah. Mereka pun sakit karena tidak kuat dengan cuaca Madinah. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk datang ke peternakan onta, dan agar mereka minum air kencingnya dicampur susunya. Mereka pun berangkat dan melakukan saran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 233, Muslim 4447 dan yang lainnya).

 

Umar bin Khattab ketika peristiwa perang Tabuk

خَرَجْنَا إِلَى تَبُوكَ فِى قَيْظٍ شَدِيدٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلاً أَصَابَنَا فِيهِ عَطَشٌ حَتَّى ظَنَنَا أَنَّ رِقَابَنَا سَتَنْقَطِعُ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْحَرُ بَعِيرَهُ فَيَعْصُرُ فَرْثَهُ فَيَشْرَبُهُ فَيَجْعَلُ مَا بَقِىَ عَلَى كَبِدِهِ

Kami berangkat menuju tabuk dalam keadaan sangat serba kekurangan. Kemudian kami singgah di suatu tempat, dan kami sangat kehausan. Hingga kami menyangka leher kami akan putus. Hingga ada orang yang menyembelih ontanya, lalu dia memeras kotorannya dan meminumnya, sementara sisa perasannya ditaruh di atas perutnya. (HR. Ibnu Hibban 1383, Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 20131, al-Bazzar dalam Musnadnya 215 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

 

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

خَرَجَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم لِحَاجَتِهِ فَقَالَ  الْتَمِسْ لِى ثَلاَثَةَ أَحْجَارٍ. قَالَ فَأَتَيْتُهُ بِحَجَرَيْنِ وَرَوْثَةٍ فَأَخَذَ الْحَجَرَيْنِ وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ وَقَالَ  إِنَّهَا رِكْسٌ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi untuk buang hajat. Beliau pun menyuruhku,  “Carikan 3 batu untukku.” Aku pun membawakan dua batu dan satu kotoran kering. Beliau mengambil dua batu dan membuang kotoran kering itu, sambil bersabda, “Ini Najis.” (HR. Ahmad 3757, Turmudzi 17, ad-Daruquthni, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan. Lalu Beliau bersabda,”Sungguh keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah.” Kemudian Beliau mengambil pelepah basah. Beliau belah menjadi dua, lalu Beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya,”Wahai, Rasulullah. Mengapa Rasul melakukan ini?” Beliau menjawab,”Semoga mereka diringankan siksaannya, selama keduanya belum kering.” (HR. Bukhari, Muslim)

 

 

PENJELASAN/PENDAPAT ULAMA

Dijelaskan dalam kitab Al-Fiqhiyah Al-Mausu’ah Al-Mishriyah :

أما أبوالها، فقد قال أبو حنيفة وأبو يوسف: أنها نجسة، وقال محمد: أنها طاهرة، حتى لو وقع فى الماء القليل لَا يُفْسِدُه ويتوضأ منه ما لم يغلِب عليه ,ويقول الشافعية: كل مائعٍ خرج من أحد السبيلين نجسٌ سواء كان ذلك من حيوان مأكولِ اللحم أم لا .ويرى المالكية: أن بولَ ما يباحُ أكله طاهرٌ إذا لم يُعتد التغذى بنجسٍ، والإبلُ مباحة ُالأكلِ فبولُها طاهر ,وعند الحنابلة: بول الإبل وما يؤكل لحمُه طاهر إلا إذا كانت تأكلُ النجاسة فبولها نجس، فإن منعت من أكلها ثلاثة أيام لا تأكل فيها إلا طاهرا صار بولها طاهرا 

Adapun air kencingnya (Unta), Abu Hanifah dan Abu Yusuf berpendapat bahwa air kencingnya najis. Sedangkan Muhammad berpendapat bahwa air kencingnya suci, yakni jika air kencingnya jatuh ke dalam sedikit air, maka air itu tidak akan rusak. boleh berwudhu dengan air tesrbut, asalkan air kencingnya tidak sampai membanjiri air.

Mazhab Syafi'i menyatakan: Setiap cairan yang keluar dari salah satu dari dua lubang adalah najis, baik itu dari hewan yang halal dimakan maupun yang tidak.

Maliki berpendapat bahwa air kencing binatang yang halal dimakan adalah suci, jika binatang tersebut tidak terbiasa memakan yang najis, dan unta halal dimakan, maka air kencingnya suci.

Menurut Hanbali, air kencing unta dan daging hewan yang halal dimakan adalah suci, kecuali jika unta tersebut memakan najis, yang berarti air kencingnya najis. Jika unta tersebut dilarang memakan hewan tersebut selama tiga hari dan hanya diberi makanan yang suci, maka air kencingnya menjadi suci. [Al-Fiqhiyah Al-Mausu’ah Al-Mishriyah, 1/36]

 

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid menjelaskan :

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى نَجَاسَةِ بَوْلِ ابْنِ آدَمَ وَرَجِيعِهِ إِلَّا بَوْلَ الصَّبِيِّ الرَّضِيعِ، وَاخْتَلَفُوا فِيمَا سِوَاهُ مِنَ الْحَيَوَانِ، فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ إِلَى أَنَّهَا كُلَّهَا نَجِسَةٌ.

وَذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى طَهَارَتِهَا بِإِطْلَاقٍ أَعْنِي فَضْلَتَيْ سَائِرِ الْحَيَوَانِ، الْبَوْلَ وَالرَّجِيعَ وَقَالَ قَوْمٌ: أَبْوَالُهَا وَأَرْوَاثُهَا تَابِعَةٌ لِلُحُومِهَا، فَمَا كَانَ مِنْهَا لُحُومُهَا مُحَرَّمَةً فَأَبْوَالُهَا وَأَرْوَاثُهَا نَجِسَةٌ مُحَرَّمَةٌ، وَمَا كَانَ مِنْهَا لُحُومُهَا مَأْكُولَةً فَأَبْوَالُهَا وَأَرْوَاثُهَا طَاهِرَةٌ، مَا عَدَا الَّتِي تَأْكُلُ النَّجَاسَةَ، وَمَا كَانَ مِنْهَا مَكْرُوهًا فَأَبْوَالُهَا، وَأَرْوَاثُهَا مَكْرُوهَةٌ، وَبِهَذَا قَالَ مَالِكٌ كَمَا قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ بِذَلِكَ فِي الْأَسْآرِ.

Para ulama sepakat bahwa urine dan kotoran manusia adalah najis, kecuali urine bayi yang sedang menyusui. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai urine hewan lainnya. Al-Syafi'i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa semuanya najis.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ia suci dalam segala keadaan, artinya kotoran semua hewan, baik urin maupun kotorannya. Sebagian yang lain berpendapat: urin dan kotorannya dianggap sebagai bagian dari dagingnya. Hewan yang dagingnya haram, air seni dan kotorannya najis dan haram. Hewan yang dagingnya halal, air seni dan kotorannya suci, kecuali hewan yang memakan najis.

Dan hewan yang dagingnya makruh, maka air kencing dan kotorannya pun makruh. Demikianlah yang dikatakan Malik, sebagaimana Abu Hanifah mengatakan hal yang sama tentang sisa makanan. [Bidayatul Mujtahid, 1/87]

 

Jumat, 07 November 2025

NAJISNYA AIR LIUR ANJING

 

NAJISNYA AIR LIUR ANJING

Oleh : Masnun Tholab

www.masnuntholab.blogspot.com

Air Liur Anjing

Dari Abu Hurairah RA ia berkata,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَفِي لَفْظٍ لَهُ " فَلْيُرِقْهُ "، وَلِلتِّرْمِذِيِّ " أُخْرَاهُنَّ، أَوْ أُولَاهُنَّ

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sucinya bejana salah seorang dari kalian yang dijilat anjing, hendaknya ia mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah. (HR. Muslim)

Dan pada lafazh lain: “Hendaklah ia menumpahkannya [HR. Muslim 279]

Dan bagi At Tirmidzi: “Yang terakhir, atau yang pertama dengan tanah.” [shahih al Jami 8116]

 

وَلأَحْمَدَ وَمُسْلِمٍ: طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاهُنَّ بِالتُّرَابِ 

Dan bagi Ahmad dan Muslim (dikatakan): “Sucinya wadah salah seorang di antara kamu, apabila dijilat anjing, hendaklah dicuci tujuh kali, pertama kalinya (dicampur) dengan tanah. 

 

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :

الْحَدِيثَانِ يَدُلانِ عَلَى أَنَّهُ يُغْسَلُ الإِنَاءُ الَّذِي وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ سَبْعَ مَرَّاتٍ. إِلِى أَنْ قَالَ: وَقَدْ وَقَعَ الْخِلافُ هَلْ يَكُونُ التَّتْرِيبُ فِي الْغَسَلاتِ السَّبْعِ أَوْ خَارِجًا عَنْهَا. وَظَاهِرُ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ أَنَّهُ خَارِجٌ عَنْهَا وَهُوَ أَرْجَحُ مِنْ غَيْرِهِ. انْتَهَى.

Dua hadist (di atas) menunjukkan, bahwa bejana yang dijilat anjing, dicuci tujuh kali. Selanjutnya ia berkata: Dan telah terjadi khilaf, apakah dicampurnya dengan tanah itu di dalam (jumlah) tujuh kali, atau di luarnya. Dan menurut dlahirnya Abdullah bin Mughaffal, bahwa debu itu di luar tujuh kali, dan itulah yang lebih kuat dari lainnya. Selesai.

قَالَ فِي فَتْحِ الْبَارِي: وَرِوَايَةُ أُولاهُنَّ أَرْجَحُ مِنْ حَيْثُ الأَكْثَرِيَّةِ وَالأَحْفَظِيَّةِ، وَمِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى أَيْضًا؛ لأَنَّ تَتْرِيبَ الْأخِرَةِ يَقْتَضِي الاحْتِيَاجَ إلَى غَسْلَةٍ آخِرَةٍ لِتَنْظِيفِهِ، وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى أَنَّ الأُولَى أَوْلَى.

Ibnu Hajar berkata di dalam Kitab Fat-hul Bari : Riwayat yang menggunakan kata uulaahunna (pertama kalinya dicampur dengan tanah), adalah lebih kuat sebab lebih banyak dan lebih mahfudz, dan juga dari segi maknanya. Karena pencampuran dengan tanah, pada kali yang terakhir menyebabkan perlunya mencucinya lagi untuk membersihkannya, dan Syafi’i telah menentukan, bahwa mencuci yang pertama dengan dicampur tanah itu adalah lebih utama.

[Bustanul Ahbar 1/24]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :

دَلَّ الْحَدِيثُ عَلَى أَحْكَامٍ:

أَوَّلُهَا : نَجَاسَةُ فَمِ الْكَلْبِ مِنْ حَيْثُ الْأَمْرِ بِالْغَسْلِ لِمَا وُلِغَ فِيهِ، وَالْإِرَاقَةِ لِلْمَاءِ، وَقَوْلُهُ: [طَهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ] فَإِنَّهُ لَا غَسْلَ إلَّا مِنْ حَدَثٍ أَوْ نَجَسٍ، وَلَيْسَ هُنَا حَدَثٌ؛ فَتَعَيَّنَ النَّجَسُ.
وَالْإِرَاقَةُ: إضَاعَةُ مَالٍ، فَلَوْ كَانَ الْمَاءُ طَاهِرًا لَمَا أَمَرَ بِإِضَاعَتِهِ، إذْ قَدْ نَهَى عَنْ إضَاعَةِ الْمَالِ،

Hadits di atas menunjukkan beberapa hukum:

Pertama: najisnya mulut anjing. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan untuk mencuci sesuatu (bejana) yang dijilat anjing, dan menumpahkan air yang ada di dalamnya. sabda beliau “sucinya bejana salah seorang dari kalian”. maka tidak diperintahkan dicuci, kecuali dari hadats atau najis, dan di sini tidak ada hadats, berarti najis. Menumpahkannya berarti membuang-buang harta, maka seandainya air tersebut suci niscaya beliau tidak akan menyuruh menyia-nyiakannya karena membuang-buang harta terlarang.

وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي نَجَاسَةِ فَمِهِ، وَأُلْحِقَ بِهِ سَائِرُ بَدَنِهِ قِيَاسًا عَلَيْهِ، وَذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ إذَا ثَبَتَ نَجَاسَةُ لُعَابِهِ، وَلُعَابُهُ جُزْءٌ مِنْ فَمِهِ، إذْ هُوَ عِرْقُ فَمِهِ، فَفَمُهُ نَجِسٌ،  إذْ الْعِرْقُ جُزْءٌ مُتَحَلِّبٌ مِنْ الْبَدَنِ، فَكَذَلِكَ بَقِيَّةُ بَدَنِهِ،

Secara zhahir, hadits itu menunjukkan bahwa mulut anjing itu najis dan badannya dihukumi sama dengan mengqiyaskannya. Karena jika telah jelas bahwa ludahnya najis, ludahnya adalah bagian dari mulutnya, dan ludah adalah peluh mulutnya serta peluh adalah bagian yang keluar dari badan, maka demikian pula semua badannya.

الْحُكْمُ الثَّانِي: أَنَّهُ دَلَّ الْحَدِيثُ عَلَى وُجُوبِ سَبْعِ غَسَلَاتٍ لِلْإِنَاءِ، وَهُوَ وَاضِحٌ، وَمَنْ قَالَ: لَا تَجِبُ السَّبْعُ، بَلْ وُلُوغُ الْكَلْبِ كَغَيْرِهِ مِنْ النَّجَاسَاتِ وَالتَّسْبِيعُ نَدْبٌ، اسْتَدَلَّ عَلَى ذَلِكَ بِأَنَّ رَاوِيَ الْحَدِيثِ وَهُوَ أَبُو هُرَيْرَةَ  قَالَ: يُغْسَلُ مِنْ وُلُوغِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ،

Kedua: bahwa hadits tersebut menunjukkan kewajiban mencuci tujuh kali pada bejana, dan hal itu sudah jelas. Yang mengatakan tidak wajib tujuh kali, tetapi jilatan anjing sama dengan najis-najis lainnya, dan tujuh kali hanyalah Sunnah, hal itu berdasarkan dalil bahwa perawi hadits yaitu Abu Hurairah RA berkata, “jilatan anjing dicuci tiga kali,

وَأُجِيبَ عَنْ هَذَا، بِأَنَّ الْعَمَلَ بِمَا رَوَاهُ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَا بِمَا رَآهُ وَأَفْتَى بِهِ، وَبِأَنَّهُ مُعَارَضٌ بِمَا رُوِيَ عَنْهُ، وَأَيْضًا: أَنَّهُ أَفْتَى بِالْغَسْلِ، وَهِيَ أَرْجَحُ سَنَدًا، وَتَرَجَّحَ أَيْضًا بِأَنَّهَا تُوَافِقُ الرِّوَايَةَ الْمَرْفُوعَةَ،

Pendapat ini dapat dijawab, bahwa yang diamalkan adalah yang diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bukan menurut pendapatnya dan yang ia fatwakan. Juga karena bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan darinya, bahwa ia memfatwakan dengan mencuci tujuh kali, dan ini lebih kuat sanadnya, dan juga menjadi lebih kuat karena sesuai dengan riwayat marfu.

.الْحُكْمُ الثَّالِثُ: وُجُوبُ التَّتْرِيبِ لِلْإِنَاءِ لِثُبُوتِهِ فِي الْحَدِيثِ، ثُمَّ الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى تَعَيُّنِ التُّرَابِ، وَأَنَّهُ فِي الْغَسْلَةِ الْأُولَى؛ وَمَنْ أَوْجَبَهُ قَالَ: لَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَخْلِطَ الْمَاءَ بِالتُّرَابِ حَتَّى يَتَكَدَّرَ، أَوْ يَطْرَحَ الْمَاءَ عَلَى التُّرَابِ، أَوْ يَطْرَحَ التُّرَابَ عَلَى الْمَاءِ، وَبَعْضُ مَنْ قَالَ بِإِيجَابِ التَّسْبِيعِ، قَالَ: لَا تَجِبُ غَسْلَةُ التُّرَابِ لِعَدَمِ ثُبُوتِهَا عِنْدَهُ. وَرَدَّ: بِأَنَّهَا قَدْ ثَبَتَتْ فِي الرِّوَايَةِ الصَّحِيحَةِ بِلَا رَيْبٍ، وَالزِّيَادَةُ مِنْ الثِّقَةِ مَقْبُولَةٌ،

Ketiga: wajib mencuci bejana dengan debu sebagaimana telah ditegaskan dalam hadits. Kemudian hadits tersebut menunjukkan ditentukannya tanah, dan digunakan pada cucian yang pertama. ulama yang mewajibkannya berkata, “Tidak ada perbedaan antara mencampur air dengan tanah hingga keruh, atau air disiramkan atas tanah, atau tanah dimasukkan ke dalam air.” Bagi mereka yang berpendapat wajibnya mencuci tujuh kali berkata, “Tidak wajib mencuci dengan tanah, lantaran hal itu tidak kuat menurutnya.” Dapat dijawab, bahwa telah ditegaskan dalam riwayat yang shahih tanpa keraguan dan tambahan dari perawi tsiqah dapat diterima. [Subulussalam 1/49].

 

Imam Nawawi dalam kitab Rhaudhatuth Thalibin berkata :

وَلَوْ وَلَغَ فِي مَاءٍ لَمْ يَنْقُصْ بِوُلُوغِهِ عَنْ قُلَّتَيْنِ، فَهُوَ بَاقٍ عَلَى طَهُورِيَّتِهِ، وَلَا يَجِبُ غَسْلُ الْإِنَاءِ. وَلَوْ وَلَغَ فِي شَيْءٍ نَجَّسَهُ، فَأَصَابَ ذَلِكَ الشَّيْءُ آخَرَ، وَجَبَ غَسْلُهُ سَبْعًا. وَلَوْ وَلَغَ فِي طَعَامٍ جَامِدٍ، أَلْقَى مَا أَصَابَهُ وَمَا حَوْلَهُ، وَبَقِيَ الْبَاقِي عَلَى طَهَارَتِهِ،

Jika anjing menjilat air yang dengan jilatannya tidak menguranginya dari dua qullah, maka air ini tetap suci menyucikan dan tidak wajib membasuh wadahnya. Jika anjing menjilati sesuatu lalu sesuatu itu mengenai sesuatu yang lain, maka yang lain ini juga wajib dibasuh tujuh kali. Jika anjing menjilat makanan padat, maka bekas jilatan dan sekitarnya dibuang sementara yang lain masih tetap suci. [Rhaudhatuth Thalibin 1/165]. Wallahu a’lam.

 

 

Hukum Air Liur Babi

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :

Ais sisa minuman anjing dan babi adalah najis yang harus dijauhi. Mengenai hukum najis sisa minum anjing ialah berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari – Muslim dari Abu Hurairah. (Hadits di atas) [Fiqih Sunnah 1/19].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :

فَقُلْنَا فِي الْكَلْبِ بِمَا أَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَكَانَ الْخِنْزِيرُ إنْ لَمْ يَكُنْ فِي شَرٍّ مِنْ حَالِهِ لَمْ يَكُنْ فِي خَيْرٍ مِنْهَا فَقُلْنَا بِهِ قِيَاسًا عَلَيْهِ

Kami katakan bahwa hukum anjing adalah najis, berdasar kepada sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Sedangkan babi tidak lebih buruk keadaannya daripada anjing, dan tidak pula lebih baik,  maka kami mengatakan hukumnya sama, karena dianalogikan (diqiaskan) dengan anjing. [Al-Umm 1/16]

 

Wallahu a’lam.

TAUHID ULUHIYYAH

  TAUHID ULUHIYYAH   Tauhid Uluhiyyah dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui sega...