Jumat, 08 Mei 2026

ISLAM IS THE RIGHT RELIGION

ISLAM IS THE RIGHT RELIGION

Tafsir Ibnu Katsir

 

Allah said :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ

Indeed, the religion with Allah is Islam (Ali 'Imran [3]: 19)

إخبار منه تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين حتى ختموا بمحمد  الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد ، فمن لقي الله بعد بعثة محمد  بدين على غير شريعته فليس بمتقبل، كما قال تعالى: ﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ﴾ وقال في هذه الآية مخبرا بانحصار الدين المتقبل عنده في الإسلام ﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلامُ﴾.

As news from Allah Subhanahu wata’la, which states that no religion is accepted from 
anyone in His sight other than Islam, namely following the messengers sent by Allah
Subhanahu wata’la in every era, until ending with the Prophet Muhammad SAW, who
brought a religion that closed off all other paths except the path he had taken.
Therefore, whoever faces Allah - after the Prophet Muhammad SAW. sent—by
bringing a religion that is not the Shari'a, then it is not accepted by Allah. As
mentioned in other scriptures, namely
 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Whoever seeks a religion other than Islam, it will never be accepted of him, and in the 
Hereafter he will be among the losers.
Ali ‘Imrân/3:85]
In this verse, Allah states that the religion accepted by Allah is limited to Islam, 
namely: Indeed, the religion (that is accepted) by Allah is only Islam.
(Ali Imran: 19)

 

Allah said :

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ 

So why do they look for other religions besides the religion of Allah, when everything 
in the heavens and on earth surrenders to Him, (whether) willingly or unwillingly and
only to Him will they be returned?
[Ali ‘Imrân/3:83]
 

يقول تعالى منكرا على من أراد دينا سوى دين الله الذي أنزل به كتبه، وأرسل به رسله، وهو عبادة الله وحده لا شريك له، الذي ﴿لَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ﴾ أي استسلم له من فيهما طوعا وكرها، كما قال تعالى: ﴿وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ طَوْعاً وَكَرْهاً﴾

God Almighty says, rebuking those who desire a religion other than the religion of God, 
with which He revealed His books, And He sent His messengers with it. It is the
worship of God alone, without any partners. To Him submits whoever is in the heavens
and the earth. That is, both of them surrendered to him willingly or unwillingly. As God
Almighty said: “And to God prostrates whoever is in the heavens and the earth,
willingly or unwillingly.”
(Ar-Ra'd: 15)
 

وقال تعالى: ﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلى ما خَلَقَ اللهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّؤُا ظِلالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمائِلِ سُجَّداً لِلّهِ وَهُمْ داخِرُونَ* وَلِلّهِ يَسْجُدُ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ* يَخافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ ما يُؤْمَرُونَ﴾ 

"Have they not considered what things Allah has created? Their shadows incline to the right and to the left, prostrating to Allah, while they are humble"

"And to Allah prostrates whatever is in the heavens and whatever is on the earth of creatures, and the angels [as well], and they are not arrogant"
"They fear their Lord above them, and they do what they are commanded"

(An-Nahl: 48-50)

 

فالمؤمن مستسلم بقلبه وقالبه لله، والكافر مستسلم لله كرها، فإنه تحت التسخير والقهر والسلطان العظيم الذي لا يخالف ولا يمانع

The believer submits to God wholeheartedly, while the disbeliever submits to God unwillingly. He is under the control, subjugation, and supreme authority of the Almighty, who neither opposes nor resists.

 


Jumat, 01 Mei 2026

TAWASSUL DENGAN AMAL SHALEH

 

TAWASSUL DENGAN AMAL SHALEH

Oleh : Masnun Tholab

 

Pengertian Tawassul

Majduddin Abu Sa’adat al-Mubarak Muhammad al-Jazry (Ibnul Atsir) berkata :

al-Wasilah secara bahasa (etimologi) berarti segala hal yang dapat menggapai sesuatu atau dapat mendekatkan kepada sesuatu. [an-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts wal Atsar (V/185)]


Firman Alloh Subhanahu wata’ala (QS. Al-Ma’idah:35).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh. Dan carilah perantara untuk sampai kepadaNya. Berjihadlah kamu di jalan-Nya mudah-mudahan kamu dapat keuntungan.” (QS. Al-Ma’idah:35).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan :

قال سفيان الثوري، عَنْ طَلْحَةَ عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍأي القربة، وكذا قال مجاهد وَأَبُو وَائِلٍ وَالْحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَثِيرٍ وَالسُّدِّيُّ وابن زيد وغير واحدوَقَالَ قَتَادَةُأَيْ تَقَرَّبُوا إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَا يُرْضِيهِ

Sufyan Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Thalhah, dari Atha’, dari Ibnu Abbas,  bahwa yang dimaksud dengan al-washilah di dini adalah qurbah atau mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Demikian juga yang dikatakan oleh  Mujahid, Abu Wa’il, Hasan, Qatadah, Abdullah bin Katsir, As-Suddi, Ibnu Zaid, dan lain-lain.Qatadah berkata : makna yang dimaksud, “Dekatkanlah diri kalian kepadaNya dengan ta’at kepadaNya, dan hal-hal yang diridhoiNya”

 Bertawassul Dengan Amal Shaleh

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.” Salah seorang dari mereka berkata,

اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ

 “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut.

Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar  mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.

 

وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا

lantas orang yang lain pun berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias: berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.

وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ »

lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)

 

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata : Kisah di atas menunjukkan bahwa kita dapat bertawassul kepada Allah dalam berdo’a dengan perantaraan amal shaleh kita yang kita lakukan. Dan hal tersebut sudah menjadi kesepakatan ulama.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Melakukan ketaatan memudahkan terkabulnya do’a. Oleh karenanya pada kisah diatas, batu besar yang menutupi mereka menjadi terbuka karena sebab amalan yang mereka sebut. Di mana mereka melakukan amalan tersebut ikhlas karena Allah Ta’ala. Mereka berdo’a pada Allah dengan menyebut amalan sholeh tersebut sehingga doa mereka pun terkabul.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 275-276)

Wallahu a’lam.

Selasa, 14 April 2026

HUKUM BERJABATAN TANGAN SELESAI SHALAT

 

HUKUM BERJABATAN TANGAN SELESAI SHALAT

 

DALIL

Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah. (HR. Abu Daud No. 5212, At Tirmidzi No. 2727, Ibnu Majah No. 3703, SHAHIH)


HUKUM BERJABATAN TANGAN SETELAH SHALAT

Imam An Nawawi Asy Syafi’i Rahimahullah (w. 676H) berkata :

وَأَمَّا هَذِهِ الْمُصَافَحَةُ الْمُعْتَادَةُ بَعْدَ صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ رحمه الله أَنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الْمُبَاحَةِ وَلَا تُوصَفُ بِكَرَاهَةٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ، وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ حَسَنٌ، وَالْمُخْتَارُ أَنْ يُقَالَ: إنْ صَافَحَ مَنْ كَانَ مَعَهُ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَمُبَاحَةٌ كَمَا ذَكَرْنَا، وَإِنْ صَافَحَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ قَبْلَهَا فَمُسْتَحَبَّةٌ؛ لِأَنَّ الْمُصَافَحَةَ عِنْدَ اللِّقَاءِ سُنَّةٌ بِالْإِجْمَاعِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي ذَلِكَ

“Ada pun bersalaman ini, yang dibiasakan setelah dua shalat; subuh dan ‘ashar, maka Asy Syaikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdussalam Rahimahullah telah menyebutkan bahwa itu termasuk bid’ah yang boleh yang tidak disifatkan sebagai perbuatan yang dibenci dan tidak pula dianjurkan, dan ini merupakan perkataannya yang bagus. Dan, pandangan yang dipilih bahwa dikatakan; seseorang yang bersalaman (setelah shalat) dengan orang yang bersamanya sejak sebelum shalat maka itu boleh sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan jika dia bersalaman dengan orang yang sebelumnya belum bersamanya maka itu SUNNAH, karena bersalaman ketika berjumpa adalah sunah menurut ijma’, sesuai hadits-hadits shahih tentang itu.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/325.)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hambali Rahimahullah ditanya tentang bersalaman sesudah shalat, apakah dia sunah atau bukan? Beliau menjawab:

الحمد للَّه، المصافحة عقيب الصلاة ليست مسنونة، بل هي بدعة . والله أعلم

 “Alhamdulillah, bersalaman sesudah shalat tidak disunahkan, bahkan itu adalah BID’AH.” Wallahu A’lam (Majmu’ Fatawa, 23/339)

 

Imam Ibnu Al Hajj Al Maliki Rahimahullah mengatakan:

هذه المصافحة من البدع التي ينبغي أن تمنع في المساجد ، لأن موضع المصافحة في الشرع إنما هو عند لقاء المسلم لأخيه لا في أدبار الصلوات الخمس ، فحيث وضعها الشرع توضع ، فينهى عن ذلك ويزجر فاعله ، لما أتى من خلاف السنة

“Bersalaman ini termasuk BID’AH-BID’AH yang mesti dilarang terjadi di masjid, karena tempat bersalaman menurut syariat adalah hanyalah pada saat bertemunya seorang muslim dengan saudaranya, bukan pada saat selesai shalat lima waktu, maka manakala syariat telah meletakkannya maka hendaknya diletakkan semestinya, dan yang demikian itu mesti dicegah dan pelakunya mesti ditegur secara keras, karena dia telah mendatangkan sesuatu yang bertentangan dengan sunah.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/363.) 

 

Imam Ibnu ‘Abidin Al Hanafi Rahimahullah mengatakan:

لَكِنْ قَدْ يُقَالُ إنَّ الْمُوَاظَبَةَ عَلَيْهَا بَعْدَ الصَّلَوَاتِ خَاصَّةً قَدْ يُؤَدِّي الْجَهَلَةِ إلَى اعْتِقَادِ سُنِّيَّتِهَا فِي خُصُوصِ هَذِهِ الْمَوَاضِعِ وَأَنَّ لَهَا خُصُوصِيَّةً زَائِدَةً عَلَى غَيْرِهَا مَعَ أَنَّ ظَاهِرَ كَلَامِهِمْ أَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهَا أَحَدٌ مِنْ السَّلَفِ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ

“Tetapi telah dikatakan, bahwa menekuni hal itu (bersalaman) setelah shalat secara khusus telah membawa orang bodoh meyakininya sebagai perbuatan yang disunahkan secara khusus pada waktu-waktu tersebut. Dan, sesungguhnya pengkhususan itu merupakan penambahan atas selainnya yang saat bersamaan zahir ucapan mereka sendiri menunjukkan bahwa perbuatan ini tidak dilakukan seorang pun dari kalangan salaf yang mengkhususkan dilakukan pada waktu-waktu tersebut.” (Raddul Muhtar, 26/437. Mawqi’ Al Islam)

 

Syaikh ‘Athiyah Shaqr (mantan Mufti Mesir) menjelaskan :

والوجه المختار أنها غير محرمة ، وقد تدخل تحت ندب المصافحة عند اللقاء الذى يكفر الله به السيئات ، وأرجو ألا يحتد النزاع فى مثل هذه الأمور

 “Pendapat yang dipilih adalah bahwa hal itu TIDAK HARAM, dan hal itu telah termasuk dalam anjuran bersalaman ketika bertemu yang dengannya Allah Ta’ala akan menghapuskan kesalahannya, dan saya berharap perkara seperti ini jangan terus menerus diributkan. … (Fatawa Dar Al Ifta’ Al Mishriyah, 8/477. Syamilah)

 

 Para Ulama di Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia berfatwa :

المصافحة عقب الصلاة بصفة دائمة لا نعلم لها أصلاً ، بل هي بدعة وقد ثبت عن رسول صلى الله عليه وسلم أنه قال " من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد " . وفي رواية " من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد

 “Bersalaman setelah shalat dengan keadaan yang dilakukan terus menerus kami tidak ketahui dasar dari perbuatan itu, bahkan itu adalah BID’AH. Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dia bersabda: Barang siapa yang beramal yang tidak kami perintahkan maka itu tertolak.” Dalam riwayat lain: Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami ini yang bukan berasal darinya maka itu tertolak.”

Lajnah Daimah (Fatawa Islamiyah, 1/ 268. Lajnah Ad-Daimah )

 

Wallahu a’lam.



Senin, 09 Februari 2026

SHALAT JAMAK KETIKA BEPERGIAN

SHALAT JAMAK KETIKA BEPERGIAN

Oleh : Masnun Tholab

 

 

DALIL-DALIL

Anas Radliyallaahu 'anhu berkata:

كانَ رسُولُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم إذا ارْتَحَل قَبْلَ أَنْ تَزيغَ الشّمسُ أَخّرَ الظُّهرَ إلى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُما، فإنْ زَاغَتْ الشّمْسُ قَبْلَ أنْ يَرْتَحِلَ صلى الظهْرَ ثُمَّ رَكبَ" مُتّفَقٌ عَلَيه،

Biasanya Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم bila berangkat dalam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan sholat Dhuhur hingga waktu Ashar. Kemudian beliau turun dan menjamak kedua sholat itu. Bila matahari telah tergelincir sebelum beliau pergi, beliau sholat Dhuhur dahulu kemudian naik kendaraan. Muttafaq Alaihi. (Shahih Muslim No.1143)

 

Dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata, "Maukah aku ceritakan tentang tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sewaktu sedang dalam perjalanan?" Kami menjawab, "Baik". Ia berkata,

عن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان في السفر إذا زاغت الشمس في منزله جمع بين الظهر والعصر قبل أن يركب فإذا لم تزغ له في منزله سارَ حتى إذا حانت العصرُ نزل فجمع بين الظهر والعصر وإذا حانت له المغربُ في منزله جمع بينها وبين العشاء وإذا لم تحن في منزله ركِب حتى إذا كانت العشاءُ نزل فجمع بينهما

"Jika Nabi صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم masih berada dalam rumahnya dan matahari telah tergelincir, beliau menjamak shalat zhuhur dengan ashar sebelum berangkat. Akan tetapi, jika matahari belum tergelincir, beliau berjalan hingga apabila waktu ashar sudah tiba waktunya, beliaupun berhenti dan menjamak shalat zhuhur dengan shalat ashar. Begitu juga jika beliau masih berada di rumahnya dan matahari sudah terbenam, beliau menjamak shalat maghrib dengan shalat isya. Akan tetapi jika waktu maghrib belum tiba, beliau terus berangkat dan apabila waktu shalat isya telah tiba, beliaupun berhenti untuk menjamak shalat maghrib dengan shalat isya itu" (HR.Ahmad dan Syafi'i)

 

Dari Mu’adz bin Jabal,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِي الْمَغْرِبِ مِثْلُ ذَلِكَ إِنْ غَابَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

bahwa Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم ketika berada di perang Tabuk, saat matahari tergelincir (sudah tiba waktu zuhur) sebelum Beliau berangkat, maka Beliau menggabung antara shalat zuhur dengan ashar. Tetapi ketika berangkat sebelum matahari tergelincir, maka Beliau menunda shalat zuhur sehingga Beliau singgah untuk shalat ashar (bersama zuhur). Shalat maghrib juga Beliau lakukan seperti itu; yaitu jika matahari tenggelam sebelum Beliau berangkat, maka Beliau menggabung antara shalat maghrib dengan isya (di waktu isya), tetapi jika Beliau berangkat sebelum matahari tenggelam, maka Beliau menunda shalat maghrib sehingga singgah untuk shalat isya, lalu Beliau menggabung antara keduanya (maghrib dengan isya di waktu isya). (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, lihat Shahih Abi Dawud 1067).

 

 

 

Dalam riwayat lain dikatakan :

عن معاذ قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام تبوك وكان يجمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء

 “Dari sahabat Mu’adz, ia berkata, kami keluar bersama Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم saat perang Tabuk, Nabi mengumpulkan di antara shalat Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).


PENDAPAT/PENJELASAN ULAMA

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab berkata :

وَمَذْهَبُنَا جَوَازُ الْجَمْعِ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتِ أَيَّتِهِمَا شَاءَ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتِ أَيَّتِهِمَا شَاءَ وَلَا يَجُوزُ جَمْعُ الصُّبْحِ إلَى غَيْرِهَا وَلَا الْمَغْرِبِ إلَى الْعَصْرِ بِالْإِجْمَاعِ وَلَا يَجُوزُ الْجَمْعُ فِي سَفَرِ مَعْصِيَةٍ  وَيَجُوزُ الْجَمْعُ فِي السَّفَرِ الَّذِي تُقْصَرُ فِيهِ الصَّلَاةُ 

Madzhab kami adalah diperbolehkan menjama’ salat zuhur dan ashar pada waktu yang diinginkan, dan antara salat magrib dan isya pada waktu yang diinginkan. 

Tidak boleh menggabungkan salat subuh dengan waktu lain, dan tidak boleh menjama’ salat magrib dengan salat ashar, menurut kesepakatan ulama. Dan tidak boleh menjama’ shalat dalam perjalanan maksiat. Menjama’ boleh dilakukan dalam perjalanan yang membolehkan untuk mengqashar shalat. [Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab berkata , 4/630]

 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَالْقَصْرُ سَبَبُهُ السَّفَرُ خَاصَّةً لَا يَجُوزُ فِي غَيْرِ السَّفَرِ وَأَمَّا الْجَمْعُ فَسَبَبُهُ الْحَاجَةُ وَالْعُذْرُ فَإِذَا احْتَاجَ إلَيْهِ جَمَعَ فِي السَّفَرِ الْقَصِيرِ وَالطَّوِيلِ وَكَذَلِكَ الْجَمْعُ لِلْمَطَرِ وَنَحْوِهِ وَلِلْمَرَضِ وَنَحْوِهِ وَلِغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْأَسْبَابِ فَإِنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ رَفْعُ الْحَرَجِ عَنْ الْأُمَّةِ

Qashar shalat hanya disebabkan karena seseorang itu bersafar. Tidak boleh seseorang mengqashar shalat pada selain safarAdapun sebab menjamak shalat adalah karena adanya hajat (kebutuhan) dan adanya uzur (halangan). Jika seseorang butuh untuk menjamak shalat, maka ia boleh menjamaknya pada safar yang singkat atau safar yang waktunya lama. Begitu pula seseorang boleh menjamak shalat karena alasan hujan dan kesulitan semacam itu, karena sakit, dan sebab lainnya. Karena ingat sekali lagi, sebab menjamak shalat adalah untuk menghilangkan kesulitan pada kaum muslimin. (Majmu’ah Al-Fatawa, 22:292)


Sayyid Sabiq berkata :

وقال ابن قدامة في المغني بعد ذكر هذا الحديثَقال ابن عبد البر: هذا حديثٌ صحيحٌ ثابتُ الاسنادِ.

وفي هذا الحديثِ أوضحُ الدلائلِ وأقوى الحُججِ في الردِّ على من قال لا يجمع بين الصلاتين إلا  إذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ ، لانه كان يجمع وهو نازلُ غيرُ سائرٍ ماكِثْ في خبائهِ يخرج فيصلي الصلاتين جمعا ثم ينصرفُ إلى خبائه.

Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berkata, “Ibnu Abdil Barr berkata : Hadits ini shahih dan kuat sanadnya. Dalam hadits ini terdapat suatu keterangan yang tegas dan alasan yang kuat untuk menolak pendapat bahwa menjamak dua shalat itu tidak boleh kecuali betul-betul dalam perjalanan. Karena beliau biasa menjama’ dalam keadaan sedang berhenti dan tidak berjalan, berdiam di kemahnya, keluar dan menjama’ dua shalat, kemudian kembali lagi ke kemahnya. [Fiqih Sunnah, 1/439]. Wallahu a’lam.

 

 

Menjamak Shalat Dengan Satu Adzan dan Dua Iqamat.

Dari Usamah, dia berkata,

‏‏أن النبيَّ صلى اللَّه عليه وسلم لَمَّا جَاءَ الْمُزْدَلِفَةَ نَزَلَ فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أُقِيْمَتِ الصلاةُ فصلَّى المغربَ ثم أَنَاخَ كُلُّ إِنْسَانٍ بَعِيْرَهُ في مَنْزِلِهِ ثم أُقِيْمَتِ العشاءُ فصلَّاهَا ولم يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شيئًا‏‏

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dating di Mudzalifah ia berhenti lalu wudhu kemudian menyempurnakan wudhunya, lalu diiqomatilah shalat kemudian shalat maghrib, lalu masing-masing orang menderumkan ontanya di tempatnya, kemudian diiqomati lalu shalat isya', dan ia tidak shalat apapun diantara keduanya. (HR.Ahmad, Bukhari, Muslim)

 

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, 

يشترط الموالاةُ بأن لا يطولُ بينهما فصلٌ؛ لأنه المأثورُ، ولهذا تَركَتْ الرواتبِ بينهما. فإن طال الفصلُ بينهما ولو بعذرٍ كجنونِ: وجب تأخيرُ الثانيةِ إلى وقتها؛ لزوالِ رابطَةِ الجمعِ

Disyaratkan muwalah (menyambung) ketika jamak, dengan tidak memberikan jeda panjang diantara kedua shalat yang dijamak. Karena inilah sesuai riwayat. Karena itu, ditiadakan shalat rawatib diantara shalat yang dijamak. Jika jedanya panjang, meskipun ada udzur, seperti jeda gila, maka untuk shalat kedua harus ditunda sampai waktunya. Karena ikatan jamak sudah tidak berlaku. (Tuhfah al-Muhtaj, 9/44)  

 

Dalam Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah mengatakan

وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا تُشْتَرَطُ الْمُوَالَاةُ بِحَالٍ لَا فِي وَقْتِ الْأُولَى وَلَا فِي وَقْتِ الثَّانِيَةِ؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ لِذَلِكَ حَدٌّ فِي الشَّرْعِ وَلِأَنَّ مُرَاعَاةَ ذَلِكَ يُسْقِطُ مَقْصُودَ الرُّخْصَةِ 

Yang benar, sama sekali tidak disyaratkan muwalah. Baik jamak taqdim maupun jamak takkhir. Karena tidak ada batasan syariat dalam masalah ini. Karena jika harus disyaratkan muwalah, akan menghilangkan status rukhshah dalam jamak shalat. (Majmu’ al-Fatawa, 24/54)

 

Ibnu Qudamah (al-Mughni, 2/124) mengatakan,

وإن أتم الصلاتين في وقت الأولى ثم زال العذر بعد فراغه منهما قبل دخول وقت الثانية أجزأته ولم تلزمه الثانية في وقتها لأن الصلاة وقعت صحيحة مجزية عن ما في ذمته وبرئت ذمته منها

Ketika orang menjamak 2 shalat di waktu awal (jamak taqdim), kemudian udzur yang membolehkan jamak telah hilang seusai mengerjakan kedua shalat dan sebelum masuk waktu shalat berikutnya, maka shalatnya sah, dan tidak ada kewajiban untuk mengulang shalat kedua pada waktunya. Karena shalat itu dikerjakan secara sah, dan menggugurkan tanggungannya.

 

Menjama’ Shalat Jum’at Dengan Shalat Ashar

Albujairomi dalam kitab Hasyiaah Al-Bujairimia  menjelaskan :

وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ ) سَفَرَ قَصْرٍ ( أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ ) صَلَاتَيْ ( الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ ) تَقْدِيمًا وَتَأْخِيرًا ( وَ ) أَنْ يَجْمَعَ ( بَيْنَ ) صَلَاتَيْ ( الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ ) تَقْدِيمًا وَتَأْخِيرًا . وَالْجُمُعَةُ كَالظُّهْرِ فِي جَمْعِ التَّقْدِيمِ.

Dibolehkan bagi musafir  menggabungkan salat Zuhur dan Ashar pada waktu mana saja yang dikehendakinya, baik jama’ takdim maupun jama’ ta’khir.

Dibolehkan pula  menggabungkan salat maghrib dan shalat isya pada waktu mana saja yang dikehendakinya, baik jama’ takdim maupun jama’ ta’khir. Shalat jum’at seperti shalat dhuhur dalam hal jama’ takdim, [Hasyiaah Al-Bujairimia  5/242].

Wallahu a’lam.


ISLAM IS THE RIGHT RELIGION

ISLAM IS THE RIGHT RELIGION Tafsir Ibnu Katsir   Allah ﷻ said : إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ Indeed, the religion wi...