Kamis, 06 Agustus 2026

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

  1. Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya,

أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم رَشَّ على قبرِ ابْنِهِ إبراهيمَ ووضَعَ عليه حَصْبَاءَ

Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyirami kuburan anaknya, Ibrahim, dan meletakkan batu di atasnya,” (HR. Asy-Syafi’i)

 

  1. Dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,

نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللّهُ عليهِ وآلهِ وسلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ, وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ, وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

”Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa’i dan Abu Dawud)

 

Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dan disahihkannya, redaksinya,

نَهَى أن تُجَصَّصَ الْقُبُوْرُ وأن يُكْتَبُ عليها وأن يُبْنَى عليها وأن تُوْطَأَ

”Beliau صلى الله عليه وسلم melarang menembok kuburan, menuliskan tulisan padanya, membuatkan bangunan padanya, dan menginjaknya,”

Dalam lafadz An-Nasa’i :

نَهَى أن يُبْنَى على القبرِ أو يُزَادَ عليه أو يُجَصَّصَ أو يُكْتَبُ عليه

”Beliau صلى الله عليه وسلم melarang membuat bangunan pada kuburan atau menambahnya (meninggikan) atau menemboknya atau menuliskan tulisan padanya”

 

PENJELASAN/PENDAPAT ULAMA

Imam Asy-Syaukani dalam kitab nailul Authar berkata :

قَوْلُهُ : ( أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ ). وَفِيهِ تَحْرِيمُ تَجْصِيصِ الْقُبُورِ .

Ucapan perawi Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur ini menunjukkan haramnya menembok kuburan.

 

قَوْلُهُ : ( وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ ) . فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْقُعُودِ عَلَى الْقَبْرِ ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ .

Ucapan perawi Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang duduk di atas kubur , merupakan dalil diharamkannya duduk di atas kuburan. Dan ini merupakan pendapat jumhur ulama.

 

قَوْلُهُ : ( وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ ) . فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ الْبِنَاءِ عَلَى الْقَبْرِ . وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ : رَأَيْت الْأَئِمَّةَ بِمَكَّةَ يَأْمُرُونَ بِهَدْمِ مَا يُبْنَى .

Ucapan perawi dan membuat bangunan di atasnya ini menunjukkan haramnya membuat bangunan di atas kuburan. Asy-Syafi’i berkata, ”Aku telah melihat para pemimpin di Mekkah memerintahkan untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan”

[Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar 2, hal. 217-218].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :

الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي.

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya tiga perbuatan yang disebutkan dalam hadits itu, karena keharaman itulah pada dasarnya yang terkandung dalam kalimat larangan itu.

[subulussalam 1, hal. 870].

 

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :

Tirmidzi menyatakan kesahihan hadits tersebut dengan berkata, ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melarang menembok kubur, membuat tulisan, membuat bangunan di atas kubur, menambahnya, menginjaknya”

Maksud menembok adalah melebur dengan adukan semen.

Jumhur mengartikan larangan itu sebagai makruh, sedangkan ibnu Hazm memandangnya haram. Adapun hikmah larangan itu adalah karena kubur itu hanya untuk sementara, bukan untuk selama-lamanya. Dan menembok itu termasuk perhiasan dunia yang tidak ada manfaatnya bagi mayat. Begitulah kata sebagian ulama. [Fiqih Sunnah 2. hal. ].

 

Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً

Saya menyukai bahwa tidak dibangun kuburan dan tidak dikapurkan. Karena yang demikian itu menyerupai hiasan dan kebanggaan. Dan tidaklah kematian itu tempat salah satu dari keduanya (perhiasan dan kebanggaan). Saya tidak melihat kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar itu dikapurkan.” [Ringkasan Kitab Al Umm 1, bab "Pekerjaan Setelah Penguburan", hal. 384]

 

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab fathul Mu’in berkata :

وكُرِهَ بناءٌ له أي للقبرِ، أو عليه لصحةِ النهيِ عنه بلا حاجةٍ، كخوفِ نَبْشِ، أو حَفْرِ سَبُعٍ أو هَدْمِ سَيْلٍ. ومَحَلُّ كراهةِ البناءِ، إذا كان بِمِلْكهِ، فإن كان بناءُ نفسِ القبرِ بغير حاجةٍ مما مَرَّ، أو نحو قُبَّةِ عليه بِمُسَبَّلَةِ، وهي ما اعْتادَ أهلُ البلدِ الدَّفْنَ فيها، عُرِفَ أصْلُهَا ومُسَبِّلُهَا أم لا، أو مَوْقُوْفَةٍ، حَرُمَ، وهُدِمَ وجوبا، لانه يَتَأَبَّدُ بعد اِنْمِحَاقِ الميت، ففيه تَضْيِيْقٌ على المسلمين بما لا غَرْضَ فيه

Makruh membangun tembok dalam liang kubur atau di atasnya tanpa keperluan atau darurat, umpamanya khwatir ada yang membongkar, atau (khawatir) digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir. Karena yang demikian itu berdasarkan larangan hadits shahih.

Hal ini makruh dilakukan bilamana bangunan tersebut berada di tanah milik sendiri. Namun, kalau bangunan oitu sendiri tidak dalam keadaan darurat seperti yang sudah diungkapkan tadi (khawatir ada yang membongkar, digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir); atau membangun sejenis kubah (misalnya pagar dan sebagainya) di atas tanah kuburan tanah musabbalah, yaitu tanah yang biasa disediakan untuk mengubur mayat oleh penduduk setempat, baik diketahui asal mula penyediaannya maupun tidak, atau memang tanah wakaf, maka yang demikian itu hukumnya haram dan wajib dirobohkan, sebab bangunan tersebut akan tetap berdiri, sekalipun mayatnya sudah punah. Dengan demikian berarti mempersempit kepentingan kaum muslim lainnya yang dalam hal ini menurut syara’ tidak perlu. [Fathul Mu’in 1, hal. 498].

Wallahu a’lam.


Kamis, 04 Juni 2026

HUKUM MEMBACA ALQUR’AN SECARA BERJAMA’AH

HUKUM MEMBACA ALQUR’AN SECARA BERJAMA’AH

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada disisiNya. (HR. Muslim No. 2699)

Imam An-Nawawi menyebutkan hal ini dalam karyanya, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an:

إعلم أن قرأة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة وأفعال السلف والخلف المتظاهرة.

Artinya, “Ketahulah, pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dianjurkan berdasarkan dalil yang nyata dan tindakan ulama salaf yang saling mendukung,” (Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, halaman 87).

 

Dalam kitab yang sama, beliau berkata :

وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا أو جزءا أو غير ذلك ثم يسكت ويقرأ الأخر من حيث انتهى الأول ثم يقرأ الآخر وهذا جائز حسن وقد سئل مالك رحمه الله تعالى عنه فقال لا بأس به

Yaitu berkumpulnya jamaah, sebagian mereka membaca sepuluh ayat atau satu juz atau selain itu, kemudian mereka berhenti, dan dilanjutkan bacaannya oleh lainnya dengan melanjutkan ayat yang terakhir dibaca. Ini boleh dan bagus. Imam Malik Rahimahullah ditanya hal ini, Beliau menjawab: tidak apa-apa. (At Tibyan, Hlm. 103)

 

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

هذا دليل على فضل الإجتماع على تلاوة القرآن في المساجد

Ini adalah dalil tentang keutamaan berkumpul dalam rangka membaca Alquran di masjid-masjid. (Syarh Al Arbain Nawawiyah, Hlm. 93)

 

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abad Al Badr hafizhahullah menambahkan:

(ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله) بيوت الله هي المساجد، قيل: ويلحق بها دور العلم والأماكن التي تخصص للعلم ونشر العلم. قوله: (ويتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم) يعني: يقرءون كتاب الله، سواءٌ أكانت هذه القراءة بأن يقوم شخص ويقرأ ويفسر أو غيره يفسر، أم أنهم يجتمعون بحيث يقرأ واحد منهم مقداراً من القرآن ويستمع الباقون، ويكون هناك شخص يصوب قراءته ويبين ما عليه من ملاحظات، كل ذلك يدخل تحت التدارس

 

 

(Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah) yaitu masjid-masjid. Dikatakan: dikaitkan dengannya sebagai tempat ilmu dan tempat-tempat khusus untuk mencari ilmu dan menyebarkannya. (mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya) yakni mereka membaca Kitabullah, keadaannya sama saja apakah ada seorang yang membaca dan menafsirkan, atau orang lain yang menafsirkan, atau mereka berkumpul dengan satu orang di antara mereka membaca sejumlah ayat Alquran dan yang lain mendengarkan, lalu ada orang yang mengoreksi bacaannya dan menjelaskan dengan berbagai keterangan. Semua ini termasuk makna tadarus. (Syarh Sunan Abi Daud [175])

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

وَكَانَ أَصْحَابُهُ إذَا اجْتَمَعُوا أَمَرُوا وَاحِدًا مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ وَالْبَاقِي يَسْتَمِعُونَ . وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ لِأَبِي مُوسَى ذَكَرْنَا رَبَّنَا فَيَقْرَأُ وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ وَقَدْ رُوِيَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ وَمِنْهُمْ وَاحِدٌ يَقْرَأُ فَجَلَسَ مَعَهُمْ } وَقَدْ رُوِيَ فِي الْمَلَائِكَةِ السَّيَّارِينَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ الْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ .

Dahulu para sahabat nabi, jika mereka berkumpul mereka memerintahkan salah seorang membaca Alquran, sedangkan yang lain mendengarkan. Umar bin Al Khathab berkata kepada Abu Musa: “Ingatkanlah kami kepada Tuhan kami.” Lalu Abu Musa membaca Alquran dan mereka (para sahabat) mendengarkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar rumah menuju Ahlush Shuffah (para sahabat yang tinggal di masjid nabawi, pen), ada salah seorang mereka yang membaca Alquran dan dia berada bersama mereka. Diriwayatkan pula bahwa para malaikat berkeliling mencari majelis-majelis dzikir, hadits ini telah dikenal. (Majmu Al Fatawa, 23/133)

 

Imam An-Nawawi mengangkat pandangan beberapa ulama yang mengingkari praktik pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah. Mereka berasumsi, kata An-Nawawi, praktik ini bid’ah yang tidak ditemukan pada kalangan salaf. Seorang sahabat pun tidak pernah melakukan ini, kata mereka. Tetapi imam An-Nawawi menjawab sebagai berikut:

فهذا الإنكار منهما مخالف لما عليه السلف والخلف ولما يقتضيه الدليل فهو متروك والاعتماد على ما تقدم من استحبابها لكن للقراءة في حال الاجتماع شروط قدمناها ينبغي أن يعتنى بها والله أعلم

 “Pengingkaran keduanya bertentangan dengan perilaku ulama salaf dan dengan tuntutan dalil. Pengingkaran itu ditinggalkan. Dasar patokannya adalah anjuran sebagaimana keterangan sebelumnya. Tetapi pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah memiliki syarat yang perlu diperhatikan sebagai yang telah kami sebutkan,’” (An-Nawawi, 2020 M/1441 H: 89).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Orang yang membaca Al-Qur’an akan disertai oleh pahala yang  besar dari Allah. Sebagaimana hadist berikut:

وعَنِ ابْنِ عبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَالَ : بيْنَما جِبْرِيلُ عليهِ السَّلام قاعِدٌ عِندَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ ، فَرَفَعَ رَأْسَه فَقَالَ : هذا باب مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ اليَوْمَ ولَمْ يُفْتَح قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ ، فَنَزَلَ مِنه مَلكٌ فقالَ : هذا مَلَكٌ نَزَلَ إِلى الأَرْضِ لم يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ فَسَلَّمَ وقال : أَبشِرْ بِنورَينِ أُوتِيتَهُمَا ، لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبلَكَ : فَاتحةِ الكتاب ، وخَواتِيم سُورَةِ البَقَرةِ ، لَن تَقرأَ بحرْفٍ منها إِلاَّ أُعْطِيتَه » رواه مسلم .

Terjemah: “Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Pada suatu ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi shalallahu alaihi salam, lalu mendengar suara -pintu terbuka- di atasnya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini adalah pintu dari langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah sama sekali dibuka, melainkan pada hari ini.” Kemudian turunlah dari pintu tadi seorang malaikat, lalu Jibril berkata: “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak pernah turun sama sekali, melainkan pada hari ini.” Malaikat yang baru turun itu lalu memberi salam dan berkata: “Bergembiralah -hai Muhammad- dengan dua cahaya yang dikaruniakan kepada Tuan dan tidak pernah dikaruniakan kepada Nabi siapapun sebelum Tuan, yaitu fatihatul kitab -yakni surat al-Fatihah- dan beberapa ayat penghabisan dari surat al-Baqarah. Tidaklah Tuan membaca sehuruf dari keduanya itu, melainkan Tuan akan diberi pahala besar.” (HR Muslim)

 

Senin, 01 Juni 2026

ISLAM ADALAH AGAMA YANG BENAR

ISLAM ADALAH AGAMA YANG BENAR

Tafsir Ibnu Katsir

 

Allah berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam . (Ali 'Imran [3]: 19)
Ibnu Katsir berkata :

إخبار منه تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين حتى ختموا بمحمد  الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد ، فمن لقي الله بعد بعثة محمد  بدين على غير شريعته فليس بمتقبل، كما قال تعالى: ﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ﴾ وقال في هذه الآية مخبرا بانحصار الدين المتقبل عنده في الإسلام ﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلامُ﴾.

Sebagai berita dari Allah Swt. yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para rasul yang diutus oleh Allah Swt. di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad Saw. yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali hanya jalan yang telah ditem-puhnya. Karena itu, barang siapa yang menghadap kepada Allah —sesudah Nabi Muhammad Saw. diutus— dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. (Ali Imran: 85), hingga akhir ayat.
Dalam ayat ini Allah memberitakan terbatasnya agama yang diterima oleh Allah hanya pada agama Islam, yaitu: Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 19)

Allah berfirman :

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. [Ali ‘Imrân/3:83]
Ibnu Katsir berkata :

يقول تعالى منكرا على من أراد دينا سوى دين الله الذي أنزل به كتبه، وأرسل به رسله، وهو عبادة الله وحده لا شريك له، الذي ﴿لَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ﴾ أي استسلم له من فيهما طوعا وكرها، 

Allah Swt. mengingkari melalui firman-Nya terhadap orang yang menghendaki sebuah agama selain agama Allah yang diturunkan melalui kitab-kitab-Nya dengan perantara para rasul yang diutus-Nya. Agama Allah itu adalah yang memerintahkan hanya menyembah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; semua makhluk yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, baik dengan suka maupun terpaksa.

 

Apakah Semua Agama Sama?

Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هادُوا وَالنَّصارى وَالصّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ 

Sesungguhnya orang-orang yang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi-in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS.Al-Baqarah : 62)

Ibnu Katsir berkata :
فكان إيمان اليهود أنه من تمسك بالتوراة وسنة موسى  حتى جاء عيسى فلما جاء كان من تمسك بالتوراة وأخذ بسنة موسى فلم يدعها ولم يتبع عيسى كان هالكا، 

Iman orang-orang Yahudi itu ialah barang siapa yang berpegang kepada kitab Taurat dan sunnah Nabi Musa a.s., maka imannya diterima hingga Nabi Isa a.s. datang. Apabila Nabi Isa telah datang, sedangkan orang yang tadinya berpegang kepada kitab Taurat dan sunnah Nabi Musa a.s. tidak meninggalkannya dan tidak mau mengikut kepada syariat Nabi Isa, maka ia termasuk orang yang binasa.

وإيمان النصارى أن من تمسك بالإنجيل منهم وشرائع عيسى كان مؤمنا مقبولا منه حتى جاء محمد ، فمن لم يتبع محمدا  منهم ويدع ما كان عليه من سنة عيسى والإنجيل كان هالكا.

Iman orang-orang Nasrani ialah barang siapa yang berpegang kepada kitab Injil dari kalangan mereka dan syariat-syariat Nabi Isa, maka dia termasuk orang yang mukmin lagi diterima imannya hingga Nabi Muhammad Saw. datang. Barang siapa dari kalangan mereka yang tidak mau mengikut kepada Nabi Muhammad Saw. dan tidak mau meninggalkan sunnah Nabi Isa serta ajaran Injilnya sesudah Nabi Muhammad Saw. datang, maka dia termasuk orang yang binasa.

عن ابن عباس ﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هادُوا وَالنَّصارى وَالصّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾ 

dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi-in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian..., hingga akhir ayat, (Al-Baqarah: 62). Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa sesudah itu diturunkan oleh Allah firman berikut:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85)
 فإن هذا الذي قاله ابن عباس إخبار عن أنه لا يقبل من أحد طريقة ولا عملا إلا ما كان موافقا لشريعة محمد  بعد أن بعثه بما بعثه به،

Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas ini merupakan suatu pemberitahuan bahwa tidak akan diterima dari seseorang suatu cara dan tidak pula suatu amal pun, kecuali apa yang bersesuaian dengan syariat Nabi Muhammad Saw. sesudah beliau diutus membawa risalah yang diembannya.  Wallahu a’lam.

 

 

 


Jumat, 22 Mei 2026

THE CONDITIONS OF ACCEPTED RIGHTEOUSNESS

 

 

THE CONDITIONS OF ACCEPTED RIGHTEOUSNESS

Tafsir Ibnu Katsir

 

Allah Almighty said :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Say, "Indeed, I am only a man like you, to whom it has been revealed that your God is only one God. So whoever hopes for the meeting with his God - let him do righteous work and he should not associate anyone in the worship of his God"

 

Ibnu Katsir said :

﴿فَمَنْ كانَ يَرْجُوا لِقاءَ رَبِّهِ﴾ أي ثوابه وجزاءه الصالح ﴿فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صالِحاً﴾ أي ما كان موافقا لشرع الله ﴿وَلا يُشْرِكْ بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَداً﴾ وهو الذي يراد به وجه الله وحده لا شريك له، وهذان ركنا العمل المتقبل، لا بد أن يكون خالصا لله صوابا على شريعة رسول الله 

So whoever hopes for the meeting with his God, meaning His reward and good recompense.

let him do righteous work, that is, deeds that are in accordance with God's law.

And he should not associate anyone in the worship of his God. This refers to worship that is solely for the sake of God, without any partners.

These are the two pillars of acceptable work: it must be done purely for God and in accordance with the law of God's Messenger.

 

Jumat, 08 Mei 2026

ISLAM IS THE RIGHT RELIGION

ISLAM IS THE RIGHT RELIGION

Tafsir Ibnu Katsir

 

Allah said :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ

Indeed, the religion with Allah is Islam (Ali 'Imran [3]: 19)

إخبار منه تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين حتى ختموا بمحمد  الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد ، فمن لقي الله بعد بعثة محمد  بدين على غير شريعته فليس بمتقبل، كما قال تعالى: ﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ﴾ وقال في هذه الآية مخبرا بانحصار الدين المتقبل عنده في الإسلام ﴿إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلامُ﴾.

As news from Allah Subhanahu wata’la, which states that no religion is accepted from 
anyone in His sight other than Islam, namely following the messengers sent by Allah
Subhanahu wata’la in every era, until ending with the Prophet Muhammad SAW, who
brought a religion that closed off all other paths except the path he had taken.
Therefore, whoever faces Allah - after the Prophet Muhammad SAW. sent—by
bringing a religion that is not the Shari'a, then it is not accepted by Allah. As
mentioned in other scriptures, namely
 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Whoever seeks a religion other than Islam, it will never be accepted of him, and in the 
Hereafter he will be among the losers.
Ali ‘Imrân/3:85]
In this verse, Allah states that the religion accepted by Allah is limited to Islam, 
namely: Indeed, the religion (that is accepted) by Allah is only Islam.
(Ali Imran: 19)

 

Allah said :

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ 

So why do they look for other religions besides the religion of Allah, when everything 
in the heavens and on earth surrenders to Him, (whether) willingly or unwillingly and
only to Him will they be returned?
[Ali ‘Imrân/3:83]
 

يقول تعالى منكرا على من أراد دينا سوى دين الله الذي أنزل به كتبه، وأرسل به رسله، وهو عبادة الله وحده لا شريك له، الذي ﴿لَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ﴾ أي استسلم له من فيهما طوعا وكرها، كما قال تعالى: ﴿وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ طَوْعاً وَكَرْهاً﴾

God Almighty says, rebuking those who desire a religion other than the religion of God, 
with which He revealed His books, And He sent His messengers with it. It is the
worship of God alone, without any partners. To Him submits whoever is in the heavens
and the earth. That is, both of them surrendered to him willingly or unwillingly. As God
Almighty said: “And to God prostrates whoever is in the heavens and the earth,
willingly or unwillingly.”
(Ar-Ra'd: 15)
 

وقال تعالى: ﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلى ما خَلَقَ اللهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّؤُا ظِلالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمائِلِ سُجَّداً لِلّهِ وَهُمْ داخِرُونَ* وَلِلّهِ يَسْجُدُ ما فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ* يَخافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ ما يُؤْمَرُونَ﴾ 

"Have they not considered what things Allah has created? Their shadows incline to the right and to the left, prostrating to Allah, while they are humble"

"And to Allah prostrates whatever is in the heavens and whatever is on the earth of creatures, and the angels [as well], and they are not arrogant"
"They fear their Lord above them, and they do what they are commanded"

(An-Nahl: 48-50)

 

فالمؤمن مستسلم بقلبه وقالبه لله، والكافر مستسلم لله كرها، فإنه تحت التسخير والقهر والسلطان العظيم الذي لا يخالف ولا يمانع

The believer submits to God wholeheartedly, while the disbeliever submits to God unwillingly. He is under the control, subjugation, and supreme authority of the Almighty, who neither opposes nor resists.

 


LARANGAN MENEMBOK KUBURAN

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN Oleh : Masnun Tholab   DALIL-DALIL Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, أن رسول اللَّه صلى الل...