HUKUM MEMBACA ALQUR’AN SECARA BERJAMA’AH
Oleh : Masnun Tholab
DALIL-DALIL
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ
بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا
نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ
وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Dan tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu
rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan
mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka
ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para
malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada disisiNya. (HR.
Muslim No. 2699)
Imam An-Nawawi menyebutkan hal ini dalam
karyanya, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an:
إعلم أن قرأة
الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة وأفعال السلف والخلف المتظاهرة.
Artinya, “Ketahulah, pembacaan Al-Qur’an
secara berjamaah dianjurkan berdasarkan dalil yang nyata dan tindakan ulama
salaf yang saling mendukung,” (Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi
Hamalatil Qur’an, halaman 87).
Dalam kitab yang sama, beliau berkata :
وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا أو
جزءا أو غير ذلك ثم يسكت ويقرأ الأخر من حيث انتهى الأول ثم يقرأ الآخر وهذا جائز
حسن وقد سئل مالك رحمه الله تعالى عنه فقال لا بأس به
Yaitu berkumpulnya jamaah, sebagian mereka membaca
sepuluh ayat atau satu juz atau selain itu, kemudian mereka berhenti, dan
dilanjutkan bacaannya oleh lainnya dengan melanjutkan ayat yang terakhir
dibaca. Ini boleh dan bagus. Imam Malik Rahimahullah ditanya hal ini, Beliau
menjawab: tidak apa-apa. (At Tibyan, Hlm. 103)
Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:
هذا دليل على فضل الإجتماع على تلاوة
القرآن في المساجد
Ini adalah dalil tentang keutamaan berkumpul dalam
rangka membaca Alquran di masjid-masjid. (Syarh Al Arbain Nawawiyah, Hlm. 93)
Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abad Al Badr hafizhahullah menambahkan:
(ما اجتمع
قوم في بيت من بيوت الله) بيوت الله هي المساجد، قيل: ويلحق بها دور العلم
والأماكن التي تخصص للعلم ونشر العلم. قوله: (ويتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم) يعني:
يقرءون كتاب الله، سواءٌ أكانت هذه القراءة بأن يقوم شخص ويقرأ ويفسر أو غيره يفسر، أم أنهم يجتمعون بحيث
يقرأ واحد منهم مقداراً من القرآن ويستمع الباقون، ويكون هناك شخص يصوب قراءته
ويبين ما عليه من ملاحظات، كل ذلك يدخل تحت التدارس
(Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah
Allah) yaitu masjid-masjid. Dikatakan: dikaitkan dengannya sebagai tempat ilmu
dan tempat-tempat khusus untuk mencari ilmu dan menyebarkannya. (mereka membaca
Kitabullah dan mengkajinya) yakni mereka membaca Kitabullah, keadaannya sama
saja apakah ada seorang yang membaca dan menafsirkan, atau orang lain yang
menafsirkan, atau mereka berkumpul dengan satu orang di antara mereka membaca
sejumlah ayat Alquran dan yang lain mendengarkan, lalu ada orang yang
mengoreksi bacaannya dan menjelaskan dengan berbagai keterangan. Semua ini
termasuk makna tadarus. (Syarh Sunan Abi Daud [175])
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:
وَكَانَ أَصْحَابُهُ إذَا اجْتَمَعُوا
أَمَرُوا وَاحِدًا مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ وَالْبَاقِي يَسْتَمِعُونَ . وَكَانَ
عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ لِأَبِي مُوسَى ذَكَرْنَا رَبَّنَا فَيَقْرَأُ
وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ وَقَدْ رُوِيَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ وَمِنْهُمْ وَاحِدٌ يَقْرَأُ فَجَلَسَ
مَعَهُمْ } وَقَدْ رُوِيَ فِي الْمَلَائِكَةِ السَّيَّارِينَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ
مَجَالِسَ الذِّكْرِ الْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ
.
Dahulu para sahabat nabi, jika mereka berkumpul
mereka memerintahkan salah seorang membaca Alquran, sedangkan yang lain
mendengarkan. Umar bin Al Khathab berkata kepada Abu Musa: “Ingatkanlah kami
kepada Tuhan kami.” Lalu Abu Musa membaca Alquran dan mereka (para sahabat)
mendengarkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar
rumah menuju Ahlush Shuffah (para sahabat yang tinggal di masjid nabawi, pen), ada
salah seorang mereka yang membaca Alquran dan dia berada bersama mereka.
Diriwayatkan pula bahwa para malaikat berkeliling mencari majelis-majelis
dzikir, hadits ini telah dikenal. (Majmu Al Fatawa, 23/133)
Imam An-Nawawi mengangkat pandangan
beberapa ulama yang mengingkari praktik pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah.
Mereka berasumsi, kata An-Nawawi, praktik ini bid’ah yang tidak ditemukan pada
kalangan salaf. Seorang sahabat pun tidak pernah melakukan ini, kata mereka.
Tetapi imam An-Nawawi menjawab sebagai berikut:
فهذا الإنكار
منهما مخالف لما عليه السلف والخلف ولما يقتضيه الدليل فهو متروك والاعتماد على ما
تقدم من استحبابها لكن للقراءة في حال الاجتماع شروط قدمناها ينبغي أن يعتنى بها
والله أعلم
“Pengingkaran keduanya bertentangan dengan
perilaku ulama salaf dan dengan tuntutan dalil. Pengingkaran itu ditinggalkan.
Dasar patokannya adalah anjuran sebagaimana keterangan sebelumnya. Tetapi
pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah memiliki syarat yang perlu diperhatikan
sebagai yang telah kami sebutkan,’” (An-Nawawi, 2020 M/1441 H: 89).
Orang yang membaca Al-Qur’an akan
disertai oleh pahala yang besar dari Allah. Sebagaimana hadist berikut:
وعَنِ ابْنِ عبَّاسٍ رضِي
اللَّه عنْهُما قَالَ : بيْنَما جِبْرِيلُ عليهِ السَّلام قاعِدٌ عِندَ النَّبِيِّ
صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ ، فَرَفَعَ رَأْسَه
فَقَالَ : هذا باب مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ اليَوْمَ ولَمْ يُفْتَح قَطُّ إِلاَّ
اليَوْمَ ، فَنَزَلَ مِنه مَلكٌ فقالَ : هذا مَلَكٌ نَزَلَ إِلى الأَرْضِ لم
يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ فَسَلَّمَ وقال : أَبشِرْ بِنورَينِ أُوتِيتَهُمَا
، لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبلَكَ : فَاتحةِ الكتاب ، وخَواتِيم سُورَةِ
البَقَرةِ ، لَن تَقرأَ بحرْفٍ منها إِلاَّ أُعْطِيتَه » رواه مسلم .
Terjemah: “Dari Ibnu
Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Pada suatu ketika Jibril sedang duduk di
sisi Nabi shalallahu alaihi salam, lalu mendengar suara -pintu terbuka- di
atasnya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini adalah pintu dari
langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah sama sekali dibuka, melainkan
pada hari ini.” Kemudian turunlah dari pintu tadi seorang malaikat, lalu Jibril
berkata: “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak pernah turun sama
sekali, melainkan pada hari ini.” Malaikat yang baru turun itu lalu memberi
salam dan berkata: “Bergembiralah -hai Muhammad- dengan dua cahaya yang
dikaruniakan kepada Tuan dan tidak pernah dikaruniakan kepada Nabi siapapun
sebelum Tuan, yaitu fatihatul kitab -yakni surat al-Fatihah- dan beberapa ayat
penghabisan dari surat al-Baqarah. Tidaklah Tuan membaca sehuruf dari keduanya
itu, melainkan Tuan akan diberi pahala besar.” (HR Muslim)