HUKUM
BERJABATAN TANGAN SELESAI SHALAT
DALIL
Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu
‘anhu, dia
berkata, Rasulullahshallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ
مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Tidaklah
dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni
(dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.“ (HR. Abu Daud No. 5212, At Tirmidzi No. 2727,
Ibnu Majah No. 3703, SHAHIH)
HUKUM BERJABATAN TANGAN SETELAH
SHALAT
Imam An Nawawi
Asy Syafi’i Rahimahullah (w. 676H) berkata :
وَأَمَّا هَذِهِ الْمُصَافَحَةُ الْمُعْتَادَةُ
بَعْدَ صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو
مُحَمَّدِ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ رحمه الله أَنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الْمُبَاحَةِ
وَلَا تُوصَفُ بِكَرَاهَةٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ، وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ حَسَنٌ،
وَالْمُخْتَارُ أَنْ يُقَالَ: إنْ صَافَحَ مَنْ كَانَ مَعَهُ قَبْلَ الصَّلَاةِ
فَمُبَاحَةٌ كَمَا ذَكَرْنَا، وَإِنْ صَافَحَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ قَبْلَهَا
فَمُسْتَحَبَّةٌ؛ لِأَنَّ الْمُصَافَحَةَ عِنْدَ اللِّقَاءِ سُنَّةٌ
بِالْإِجْمَاعِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي ذَلِكَ
“Ada pun
bersalaman ini, yang dibiasakan setelah dua shalat; subuh dan ‘ashar, maka Asy
Syaikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdussalam Rahimahullah telah menyebutkan bahwa
itu termasuk bid’ah yang boleh yang tidak disifatkan sebagai perbuatan yang
dibenci dan tidak pula dianjurkan, dan ini merupakan perkataannya yang bagus.
Dan, pandangan yang dipilih bahwa dikatakan; seseorang yang bersalaman (setelah
shalat) dengan orang yang bersamanya sejak sebelum shalat maka itu boleh
sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan jika dia bersalaman dengan orang yang
sebelumnya belum bersamanya maka itu SUNNAH, karena bersalaman ketika berjumpa
adalah sunah menurut ijma’, sesuai hadits-hadits shahih tentang itu.” (Al
Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/325.)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hambali Rahimahullah
ditanya tentang bersalaman sesudah shalat, apakah dia sunah atau bukan? Beliau
menjawab:
الحمد للَّه، المصافحة عقيب الصلاة ليست مسنونة،
بل هي بدعة . والله أعلم
“Alhamdulillah, bersalaman sesudah shalat
tidak disunahkan, bahkan itu adalah BID’AH.” Wallahu A’lam (Majmu’ Fatawa,
23/339)
Imam Ibnu Al
Hajj Al Maliki Rahimahullah mengatakan:
هذه المصافحة من البدع التي ينبغي أن تمنع في
المساجد ، لأن موضع المصافحة في الشرع إنما هو عند لقاء المسلم لأخيه لا في أدبار
الصلوات الخمس ، فحيث وضعها الشرع توضع ، فينهى عن ذلك ويزجر فاعله ، لما أتى من
خلاف السنة
“Bersalaman ini
termasuk BID’AH-BID’AH yang mesti dilarang terjadi di masjid, karena tempat
bersalaman menurut syariat adalah hanyalah pada saat bertemunya seorang muslim
dengan saudaranya, bukan pada saat selesai shalat lima waktu, maka manakala
syariat telah meletakkannya maka hendaknya diletakkan semestinya, dan yang
demikian itu mesti dicegah dan pelakunya mesti ditegur secara keras, karena dia
telah mendatangkan sesuatu yang bertentangan dengan sunah.” (Al Mausu’ah Al
Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/363.)
Imam Ibnu ‘Abidin Al Hanafi Rahimahullah mengatakan:
لَكِنْ قَدْ يُقَالُ إنَّ الْمُوَاظَبَةَ
عَلَيْهَا بَعْدَ الصَّلَوَاتِ خَاصَّةً قَدْ يُؤَدِّي الْجَهَلَةِ إلَى
اعْتِقَادِ سُنِّيَّتِهَا فِي خُصُوصِ هَذِهِ الْمَوَاضِعِ وَأَنَّ لَهَا
خُصُوصِيَّةً زَائِدَةً عَلَى غَيْرِهَا مَعَ أَنَّ ظَاهِرَ كَلَامِهِمْ أَنَّهُ
لَمْ يَفْعَلْهَا أَحَدٌ مِنْ السَّلَفِ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ
“Tetapi telah
dikatakan, bahwa menekuni hal itu (bersalaman) setelah shalat secara khusus
telah membawa orang bodoh meyakininya sebagai perbuatan yang disunahkan secara
khusus pada waktu-waktu tersebut. Dan, sesungguhnya pengkhususan itu merupakan
penambahan atas selainnya yang saat bersamaan zahir ucapan mereka sendiri
menunjukkan bahwa perbuatan ini tidak dilakukan seorang pun dari kalangan salaf
yang mengkhususkan dilakukan pada waktu-waktu tersebut.” (Raddul Muhtar,
26/437. Mawqi’ Al Islam)
Syaikh ‘Athiyah
Shaqr (mantan Mufti Mesir) menjelaskan :
والوجه المختار أنها غير محرمة ، وقد تدخل تحت
ندب المصافحة عند اللقاء الذى يكفر الله به السيئات ، وأرجو ألا يحتد النزاع فى
مثل هذه الأمور
“Pendapat yang dipilih adalah bahwa hal itu TIDAK
HARAM, dan hal itu telah termasuk dalam anjuran bersalaman ketika bertemu yang
dengannya Allah Ta’ala akan menghapuskan kesalahannya, dan saya berharap
perkara seperti ini jangan terus menerus diributkan. … (Fatawa Dar Al Ifta’
Al Mishriyah, 8/477. Syamilah)
المصافحة عقب الصلاة بصفة دائمة لا نعلم لها
أصلاً ، بل هي بدعة وقد ثبت عن رسول صلى الله عليه وسلم أنه قال " من عمل
عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد " . وفي رواية " من أحدث في أمرنا هذا ما
ليس فيه فهو رد
“Bersalaman setelah shalat dengan keadaan yang
dilakukan terus menerus kami tidak ketahui dasar dari perbuatan itu, bahkan itu
adalah BID’AH. Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa
dia bersabda: Barang siapa yang beramal yang tidak kami perintahkan maka itu
tertolak.” Dalam riwayat lain: Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan agama
kami ini yang bukan berasal darinya maka itu tertolak.”
Lajnah Daimah (Fatawa
Islamiyah, 1/ 268. Lajnah Ad-Daimah )
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar