TAUHID
ULUHIYYAH
Tauhid Uluhiyyah
dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti mentauhidkan Allah Subhanahu wa
Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka dapat
mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila hal itu disyari’atkan
oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta),
dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan), istighatsah
(minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan), dan
segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan
tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya
harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah
tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
Sungguh, Allah tidak
akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Apabila ibadah tersebut
dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada syirkun akbar
(syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat An-Nisaa/4: 48, 116][2]
Al-ilaah artinya
al-ma’luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta
pengagungan.
Allah Azza wa Jalla
berfirman:
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
“Dan Rabb-mu adalah
Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan
Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah/2: 163]
Syaikh al-‘Allamah
‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata:
“Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan
perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama,
maupun Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang
sebanding, tidak ada yang setara, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang
mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian,
maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Dia (Allah) tidak boleh
disekutu-kan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.[3]
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا
هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan
bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan demikian). Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar
selain-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Mahabijak-sana.” [Ali ‘Imran/3: 18]
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman mengenai Lata, ‘Uzza dan Manat yang disebut sebagai tuhan oleh
kaum Musyrikin:
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ
وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“Itu tidak lain
hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak
menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya…” [An-Najm/53: 23]
Setiap sesuatu yang
disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil, dalilnya adalah firman
Allah Azza wa Jalla:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا
يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ
الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang
demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan
sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil,
dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Hajj/22:
62]
Allah Azza wa Jalla
juga berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissallam, yang berkata kepada kedua
temannya di penjara:
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ
أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً
سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“Hai kedua temanku
dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah
Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali
hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah
tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…” [Yusuf/12: 39-40]
Tauhid Uluhiyyah
merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ , dari Rasul yang pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ
اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Baca Juga Hukum
Shalat Di Belakang Ahlul Bid’ah
“Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah
kepada Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu…’” [An-Nahl/16: 36]
Dan firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا
نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kami
mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:
‘Bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain
Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian akan Aku.’” [Al-Anbiyaa/21: 25]
Semua Rasul عَلَيْهِمُ
الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ memulai dakwah mereka kepada
kaumnya dengan tauhid Uluhiyyah, agar kaum mereka beribadah dengan benar hanya
kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala saja.
Seluruh Rasul berkata
kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja.[4]
Sebagaimana firman
Allah Ta’ala:
فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا
اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Lalu Kami utus kepada
mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah
Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya.
Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” [Al-Mukminuun/23: 32]
Orang-orang musyrik
tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada
tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pengambilan
tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti:[5]
Bukti pertama:
Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyyah sedikit
pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik
kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, serta tidak dapat menghidupkan dan
mematikan.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا
وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا
يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا
“Mereka mengambil
tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak
menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk
(menolak) suatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil)
sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan
tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Furqaan/25: 3]
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ
لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا
لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلَا تَنْفَعُ
الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
“Katakanlah: ‘Serulah
mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki
(kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak
mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali
tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah
berguna syafa’at di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya
memperoleh syafa’at…” [Saba/34: 22-23]
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ
وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ
“Apakah mereka
mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan
sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri adalah buatan manusia. Dan
berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada
penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak
dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf/7: 191-192]
Apabila keadaan tuhan-tuhan
itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadikan
mereka sebagai ilah (sesembahan) dan tempat meminta pertolongan.
Bukti kedua:
Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
satu-satunya Rabb, Pencipta, Yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu.
Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada
yang dapat melindungi dari adzab-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah
(penghambaan) sebagaimana mereka mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah.