Selasa, 14 Oktober 2025

ISBAL

 ISBAL

Oleh : Masnun Tholab

 

DEFINISI ISBAL

Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Aroby rahimahullah dan selainnya adalah ; memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.

[Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321]

 

DALIL-DALIL TENTANG ISBAL

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أزَرَةُ الْمُسْلِم إِلَى نصفِ السَّاقِ وَلَاحَرَجَ أَوْ لَا جنَاح فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَراً لَمْ يَنْظُر اللّهُ إلَيْهِ".

“Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun dibawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12]

[lihat Al-Jami’s Saghir 1, hal. 292 ; Lihat Riyadus Salihin 2, hal. 4]

 

dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُر اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ

"Barangsiapa menjulurkan pakainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat." Abu Bakar berkata, "Sungguh salah satu sisi pakaianku selalu turun kecuali jika aku terus menjaganya." Rasulullah saw. bersabda, "Kamu tidak melakukan itu karena sombong," (HR Bukhari [3665, 5784] dan Muslim [2085]).

 

Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud  radhiallahu anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِي صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنْ اللَّهِ فِي حِلٍّ وَلَا حَرَامٍ

 “Barangsiapa yang menjulurkan sarung dalam shalatnya karena angkuh/sombong maka orang itu tidaklah menuju Allah dan juga tidak menjalankan kewajiban-Nya." (HR. Abu Dawud)

 

dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى مَنْ يَجر إِزَارَهُ بَطَرٍ

 "Allah tidak akan melihat kepada orang yang menjulurkan kain sarungnya karena kesombongan," (HR Bukhari [5788] dan Muslim [2087]).

 

PENDAPAT ULAMA TENTANG ISBAL

Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi rahimahullah :

قال بن عَبْد الْبَرِّ مَفْهُومُهُ أَنَّ الْجَارَّ لِغَيْرِ الْخُيَلَاءِ لَا يَلْحَقُهُ الْوَعِيدُ إِلَّا أَنَّهُ مَذْمُومٌ وَقَالَ النَّوَوِيُّ لَا يَجُوزُ الْإِسْبَالُ تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ إِنْ كَانَ لِلْخُيَلَاءِ فَإِنْ كَانَ لِغَيْرِهَا فَهُوَ مَكْرُوهٌ

“Ibnu Abd al-Barr berkata: orang yang membiarkan pakaiannya menjuntai di bawah mata kaki bukan karena kesombongan, maka ia tidak diancam, bahkan dicela. Al-Nawawi berkata: Tidak boleh membiarkan pakaiannya menjuntai di bawah mata kaki jika karena kesombongan, tetapi jika bukan karena kesombongan, maka ia makruh”. [Aunul Ma’bud 11/103]

Syekh Al-Qarafi menjelaskan:

   يَحْرُمُ عَلَى الرَّجُلِ أَنْ يُجَاوِزَ بِثَوْبَيْهِ الْكَعْبَيْنِ  

“Haram bagi laki-laki melebihkan kedua pakaiannya melewati kedua mata kaki” (Lihat: Al-Qarafi, Azzakhirah, juz 13, h. 265).


Ibnu Qudamah juga menulis:

   وَيُكْرَهُ إسْبَالُ الْقَمِيصِ وَالْإِزَارِ وَالسَّرَاوِيلِ   

“Dimakruhkan memanjangkan gamis (baju kurung), sarung, dan celana” (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 2, h. 298).


Syekh Ibnu Muflih menyebutkan:

   وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ ارْتَدَى بِرِدَاءٍ ثَمِينٍ قِيمَتُهُ أَرْبَعُمِائَةِ دِينَارٍ وَكَانَ يَجُرُّهُ عَلَى الْأَرْضِ، فَقِيلَ لَهُ أَوَلَسْنَا نُهِينَا عَنْ هَذَا ؟ فَقَالَ إنَّمَا ذَلِكَ لِذَوِي الْخُيَلَاءِ وَلَسْنَا مِنْهُمْ  

“Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah rahimahullah mengenakan jubah mahal berharga empat ratus dinar, dan beliau menjulurkannya di atas (mendekati) tanah. Dikatakan kepadanya: Bukankah kita dilarang melakukan hal itu? Beliau berkata: Larangan itu untuk orang sombong, dan kita bukan bagian dari mereka” (Al-Adab Al-Syariyyah, juz 3, h. 521).  

 Sedangkan Syekh Al-Munawi dari mazhab Syafi’i menuturkan:

(وَالْمُسَبِّلُ إِزَارَهُ) الَّذِي يُطَوِّلُ ثَوْبَهُ وَيُرْسِلَهُ (خُيَلَاءَ) أَيْ بِقَصْدِ الْخُيَلَاءِ بِخِلَافِهِ لَا بِقَصْدِهَا  

“Dan orang yang memanjangkan sarungnya, yaitu orang yang memanjangkan pakaiannya dan melepaskannya karena tujuan kesombongan. Berbeda (hukumnya) bagi orang yang memanjangkannya bukan karena tujuan sombong” Faidhul Qadir, juz 3, h. 436).  

 Senada dengan para ulama di atas, seorang ulama mazhab Hanbali bernama Ibnu Muflih menuliskan:

جَرُّ الْإِزَارِ إذَا لَمْ يُرِدْ الْخُيَلَاءَ فَلَا بَأْسَ بِهِ، وَهَذَا ظَاهِرُ كَلَامِ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ الْأَصْحَابِ  

“Memanjangkan sarung, jika bukan bertujuan sombong, hukumnya tidak apa-apa. Dan pendapat ini merupakan dzahir pendapat lebih dari satu ulama mazhab Hanbali” (Al-Adab Al-Syariyyah, juz 3, h. 521).

 

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata:

   وَقَالَ الطَّبَرِيُّ : إِنَّمَا وَرَدَ الْخَبَر بِلَفْظِ الْإِزَار لِأَنَّ أَكْثَر النَّاس فِي عَهْده كَانُوا يَلْبَسُونَ الْإِزَار وَالْأَرْدِيَة ، فَلَمَّا لَبِسَ النَّاس الْقَمِيص وَالدَّرَارِيع كَانَ حُكْمهَا حُكْم الْإِزَار فِي النَّهْي . قَالَ اِبْن بَطَّال : هَذَا قِيَاس صَحِيح لَوْ لَمْ يَأْتِ النَّصّ بِالثَّوْبِ ، فَإِنَّهُ يَشْمَل جَمِيع ذَلِكَ   

Ath-Thabari berkata: Hadis hanya menjelaskan berupa izar sebab kebanyakan Sahabat di masa Nabi memakai izar dan selendang. Ketika umat Islam memakai gamis dan baju perang maka hukumnya sama dengan izar dalam hal larangan isbal. Ibnu Bathal berkata: "Ini adalah Qiyas yang sahih, andaikan tidak ada nash (dalil Qur'an dan Sunnah) yang menyebutkan pakaian. Sebab pakaian itu mencakup keseluruhan (Fath Al-Bari 16/331). Wallahu a’lam.

 

 

 

 





Senin, 13 Oktober 2025

MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU?

 

MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU?

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

Dari Busrah binti Shofwan, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda,     

من مَسَّ ذكرهُ فلا يصلِّي حتى يَتَوَضَّأَ‏

”Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia tidak shalat sehingga ia berwudhu” (HR. Imam yang lima dan disyahkan oleh Tirmidzi. Al-Bukari berkata, “Ini adalah hadits yang paling sahih yang membicarakan masalah ini).

 

Dari Thalq bin Ali RA, ia berkata,

"قدمنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم وعنده رجل كأنه بدوي، فقال: يا رسول الله ما ترى في مس الرجل ذكره بعد أن يتوضأ؟ فقال: وَهَلْ هُوِ إلَّا بَضْعَةٌ مِنْكَ؟"

”Saya menghadap kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Disamping beliau ada seorang yang tampaknya orang Badui. Lalu badui itu bertanya, ’Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai seseorang yang menyentuh kemaluannya setelah ia berwudhu? Maka beliau menjawab : ’Itu tidak lain hanya kelebihan dagingmu juga’” (HR. Ahmad: 4/23, Abu Daud no. 182 dan 183, At-Tirmidzi no. 85, An-Nasa`i no. 165, dan Ibnu Majah no. 483)

 

Berdasarkan hadits-hadits di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut :

1.     Apakah menyentuh kemaluan membatalkan wudhu?

2.    Apakah menyentuh kemaluan dengan penghalang membatalkan wudhu?

3.    Apakah menyentuh kemaluan orang lain membatalkan wudhu?

4.    Apakah menyentuh kemaluan anak kecil membatalkan wudhu?

5.    Apakah menyentuh kemaluan tidak sengaja membatalkan wudhu?

6.    Apakah menyentuh kemaluan orang mati membatalkan wudhu?

7.    Apakah menyentuh kemaluan yang terpotong membatalkan wudhu?

8.   Apakah menyentuh kemaluan hewan membatalkan wudhu?

 

PENDAPAT/PENJELASAN ULAMA

Imam Ash-Shan’ani dlam kitab Subulussalam berkata :

وَبِهِ اسْتَدَلَّ مَنْ سَمِعْت مِنْ الصَّحَابَةِ، وَالتَّابِعِينَ، وَأَحْمَدُ، وَالشَّافِعِيُّ، عَلَى نَقْضِ مَسِّ الذَّكَرِ لِلْوُضُوءِ. ، وَالْمُرَادُ مَسُّهُ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ؛

Hadits ini ( hadits Busrah binti Shofwan ) dijadikan dalil oleh sekelompok sahabat dan tabi’in, Imam Ahmad, dan Imam Asy-Syafi’i bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Maksudnya adalah menyentuh tanpa penghalang,

لِأَنَّهُ أَخْرَجَ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ مِنْ حَدِيثِ " أَبِي هُرَيْرَةَ " «إذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إلَى فَرْجِهِ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ ولا سِتْرٌ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ» وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ؛ قَالَ ابْنُ السَّكَنِ: هُوَ أَجْوَدُ مَا رُوِيَ فِي هَذَا الْبَابِ

karena diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya dari hadits Abu Hurairah, ”Apabila salah seorang diantara kalian menyentuhkan tangannya kepada kemaluannya yang tidak terdapat penghalang dan penutup diantaranya, maka wajib baginya wudhu” Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Abdil Bar. Ibnu As-Sakan berkata, ”Hadits ini paling baik yang diriwayatkan dalam bab ini,” [Subulussalam 1/159-160].

 Imam Asy-Syaukani berkata :

وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ لَمْسَ الذَّكَرِ يَنْقُضُ الْوُضُوءَ. وَكَذَلِكَ مَسُّ فَرْجِ الْمَرْأَةِ. ‏.‏ وقد ذهب إلى ذلك عمر وابنه عبد اللَّه وأبو هريرة وابن عباس وعائشة وسعد ابن أبي وقاص وعطاء والزهري وابن المسيب ومجاهد وأبان بن عثمان وسليمان بن يسار والشافعي وأحمد وإسحاق ومالك في المشهور وغير هؤلاء‏.‏

Hadits di atas ( hadits Busrah binti Shofwan ) menunjukkan bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu, demikian juga menyentuh kemaluan wanita. Demikian menurut pendapat Umar dan putranya, Abdullah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Aisyah, Sa’ad bin Abi Waqash, Atha’, Az-Zuhri, Ibnu Al-Musayyab, Mujahid, Aban bin Utsman, Sulaiman bin Yasar, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishak, Malik dan lain-lainnya di dalam kitab Masyhur. [Nailul Authar 1/443)]

 

Beliau juga berkata :

وذهب علي عليه السلام وابن مسعود وعمار والحسن البصري وربيعة والعترة والثوري وأبو حنيفة وأصحابه وغيرهم إلى أنه غير ناقض‏.‏ واحتج الآخرون بحديث طلق بن علي عند أبي داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد والدارقطني مرفوعًا بلفظ …

Ali RA, Ibnu Mas’ud, Ammar, Al-Hasan Al-Bashri, Rubai’ah, Al-’Athrah, At-Tsauri, Abu Hanifah dan para pengikutnya berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu. Golongan yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu beralasan dengan hdits Thalq bin Ali menurut Abu Daud, A-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, secara marfu’ dengan lafadz (seperti di atas, pen.) [Nailul Authar 1/448)]

 

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :

فَيَنْتَقِضُ الْوُضُوءُ إِذَا مَسَّ بِبَطْنِ كَفِّهِ فَرْجَ آدَمِيٍّ، مِنْ نَفْسِهِ، أَوْ غَيْرِهِ، ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى، صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ، حَيٍّ أَوْ مَيِّتٍ، قُبُلًا كَانَ الْمَمْسُوسُ، أَوْ دُبُرًا.

Wudhu menjadi batal sebab seseorang menyentuh alat kelamin manusia dengan tangan bagian dalamnya, baik alat kelaminnya sendiri maupun milik orang lain, laki-laki maupun perempuan, masih anak-anak atau sudah dewasa, sudah mati atau masih hidup, dan yang disentuh bagian alat kelamin maupun anus.

وَفِي فَرْجِ الصَّغِيرِ، وَالْمَيِّتِ، وَجْهٌ ضَعِيفٌ، وَفِي الدُّبُرِ قَوْلٌ شَاذٌّ: أَنَّهُ لَا يَنْتَقِضُ. وَالْمُرَادُ بِالدُّبُرِ: مُلْتَقَى الْمَنْفَذِ،

Mengenai menyentuh vagina anak kecil dan orang yang meninggal terdapat Wajh yang dho’if. Sedang sentuhan di bagian anus juga terdapat Qaul yang aneh, yaitu tidak membatalkan wudhu. Maksud anus di sini adalah lubang keluarnya fases (tinja).

وَمَسُّ مَحَلِّ الْجَبِّ يَنْقُضُ قَطْعًا إِنْ بَقِيَ شَيْءٌ شَاخِصٌ، فَإِنْ لَمْ يَبْقَ شَيْءٌ، نَقَضَ أَيْضًا عَلَى الصَّحِيحِ،

Apabila seseorang menyentuh lobang anus karena sesuatu yang tertinggal, maka secara pasti wudhunya batal. Dan jika tidak ada sesuatu yang tertinggal, maka menurut Qaul yang shahih wudhunya juga batal.

وَمَسُّ الذَّكَرِ الْمَقْطُوعِ وَالْأَشَلِّ، وَالْمَسُّ بِالْيَدِ الشَّلَّاءِ، وَنَاسِيًا، نَاقِضٌ عَلَى الصَّحِيحِ.

Menyentuh dzakar yang terpotong dan impoten, atau menyentuh dengan tangan yang lumpuh atau melakukannya karena lupa juga membatalkan wudhu menurut Qaul yang shahih.

وَلَا يَنْقُضُ مَسُّ دُبُرِ الْبَهِيمَةِ قَطْعًا، وَلَا قُبُلِهَا، عَلَى الْجَدِيدِ الْمَشْهُورِ

Menyentuh anus binatang secara pasti tidak membatalkan wudhu, begitu pula menyentuh alat kelaminnya menurut pendapat Imam Asy-Syafi’i yang beru (Qaul Jadid) yang masyhur. [Raudhatuth Thalibin 1/215)].

Wallahu a’lam.

TUKANG RAMAL

 

TUKANG RAMAL

Oleh : Masnun Tholab

 

DALIL-DALIL

Firman Allah (QS. Al-Jin: 26-27)   :

    عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً 

 “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)   

 

Imam at-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan, ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah swt yang bisa mengetahui hal-hal gaib kecuali orang-orang yang Dia kehendaki seperti para nabi melalui wahyu atau orang-orang saleh melalui ilham. (At-Thabari, Jami’ul Bayan, [2013], juz XII, halaman 275).

Firman Allah (QS Al-A’raf 7 : 188) :

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya Aku mengetahui yang ghaib, tentulah Aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".

 

Firman Allah (QS. An-Naml 27 : 65) :

 قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan

 

Firman Allah  (QS. Al-Jin : 6) :

وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

 

Dari Aisyah RA, dia berkata :

سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكُهَّانِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهُمْ لَيْسُوا بِشَيْئٍ. فَقَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُمْ يُحَدِّثُوْنَ أَحْيَانًا بِالشَّيْئِ فَيَكُوْنُ حَقًّا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيُقَرْقِرُهَا فِيْ أُذُنِ وَلِيِّهِ كَقَرْقَرَةِ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُوْنَ فِيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ

Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah tentang dukun-dukun. Rasulullah berkata kepada mereka: “Mereka tidak (memiliki) kebenaran sedikitpun.” Mereka (para shahabat) berkata: “Terkadang para dukun itu menyampaikan sesuatu dan benar terjadi.” Rasulullah menjawab: “Kalimat yang mereka sampaikan itu datang dari Allah yang telah disambar (dicuri, red) oleh para jin, lalu para jin itu membisikkan ke telinga wali-walinya sebagaimana berkoteknya ayam dan mereka mencampurnya dengan seratus kedustaan.” (HR. Al-Bukhari no. 5429 dan Muslim no. 2228)

 

 

 

 

Diriwayatkan dari sebagian istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم,

عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْئٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim, no. 2230)

 

Dan dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ أَتَى كاهنا اوعرافافصد قه بما انزل على محمد النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa dating ke tukang tenung atau ke juru ramal, lalu ia mempercayai apa yang ia katakana, maka sungguh ia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم. (HR.Ahmad). [Nailul Author 6, hal. 2685]

 

PENDAPAT/PENJELASAN ULAMA

Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan,

والعراف هو الحازر، والمنجم، الذي يدعى علم الغيب، وهي من العرافة، وصاحبها عراف، وهو الذي يستدل على الأمور بأسباب، ومقدمات، يدعي معرفتها، وقد يعتضد بعض أهل هذا الفن في ذلك، بالزجر، والطرق، والنجوم، وأسباب معتادة في ذلك، وهذا الفن هو العيافة بالياء. وكلها ينطلق عليها اسم الكهانة

“‘al arraf adalah orang suka meramal, atau munjim (orang meramal dengan bintang), yaitu orang-orang yang mengklaim mengetahui ilmu gaib. istilah ini dari al ‘arrafah, pelakunya disebut ‘arraf. Yaitu orang yang mengetahui perkara-perkara, dengan pertanda-pertanda dan sebab-sebab yang ia jadikan alasan bahwa ia tahu perkara tersebut. Mereka menggunakan berbagai sarana, ada yang dengan zajr (telapak tangan), dengan tharq (melempar tongkat), dengan bintang, dan sebab-sebab lain yang ia yakini. bidang ilmu dalam masalah ini disebut ‘iyafah dengan huruf ya’, dan semuanya berporos dari perdukunan” (Al Alfazh Al Musthalahat Al Muta’alliqah bit Tauhid, 435)


Syekh Abdurrauf al-Munawi mengatakan,

وقال المظهر: المراد أن من فعل هذه المذكورات و اسْتَحَلَّها فقد كفر ومن لم يستحلها فهو كافر النعمة على ما مر غير مرة

Al-Mazhar berkata: Maksudnya ialah barangsiapa yang mengerjakan hal-hal tersebut di atas dan menghalalkannya maka ia telah kafir. Dan barangsiapa yang tidak menghalalkannya maka ia telah mengingkari nikmat tersebut, sebagaimana telah disebutkan lebih dari satu kali. [Faidhul Qadir, juz, VI, halaman 23). 

 

Syekh Abdurrahman bin Ziyad az-Zabidi mengatakan :

 وَذَكَرَ ابْنُ الْفَرْكَاحِ عَنِ الشَّافِعِى أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْمُنَجِّمُ يَقُوْلُ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ إِلاَّ الله وَلَكِنْ أَجْرَى اللهُ الْعَادَةَ بِأَنَّهُ يَقَعُ كَذَا عِنْدَ كَذَا وَالْمُؤَثِّرُ هُوَ اللهُ، فَهَذَا عِنْدِى لاَ بَأْسَ فِيْهِ. وَأَفْتَى الزَّمْلَكَانِى بِالتَّحْرِيْمِ مُطْلَقًا

Imam Ibnul Farkah menjelaskan dari Imam asy-Syafi’i, bahwa sesungguhnya jika seorang peramal berkata dan meyakini bahwa tiada yang bisa memberi bekas kecuali Allah, hanya saja Allah memberlakukan hal semacam itu sesuai dengan kebiasaan, misal sesuatu terjadi ketika seperti ini, dan lain-lain, sedangkan yang memberi bekas hanyalah Allah, maka hal semacam ini menurutku tidak  masalah. Dan Imam az-Zamlakani mengharamkan secara mutlak.” (Ghayatu Talkhishil Murad bi Hamisyi Bughyatil Mustarsyidin, [Beirut: Darul Fikr, tt], halaman 41).

Wallahu a’lam.

 

 

 

 

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...