Minggu, 03 Juli 2016

JUMLAH BASUHAN DALAM WUDHU

JUMLAH BASUHAN DALAM WUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده  اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Renungan
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab berkata : Imam Syafi’I berkata :
إذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا قَوْلِي
"Apabila kalian mendapatkan di kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadikanlah sunnah Rasulullah sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkanlah apa yang aku katakan." (An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ 1/63; lihat Al-Harawi di kitab Dzammu Al-Kalam 3/47/1,)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang diwajibkan dalam membasuh anggota wudhu adalah cukup sekali basuhan. Namun mereka berpendapat yang lebih utama adalah membasuh anggota wudhu masing-masing tiga kali.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم مَرَّةً مَرَّةً . رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلا مُسْلِمًا ‏‏
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu sekali-sekali” (HR. Jamaah kecuali Muslim)

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديثُ يدلُّ على أن الواجبَ من الوضوءِ مرةً ولِهذا اقْتَصَرَ عليه النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم ولو كان الواجبُ مرتين أو ثلاثًا لَمَا اقْتَصَرَ على مرةٍ
Hadits ini menunjukkan wajibnya wudhu adalah sekali membasuh atau mengusap, dan oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencukupkan sekali saja, dan kalau dua kali dan tiga kali itu wajib, maka tentu Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mencukupkan dengan sekali saja.
[Nailul Authar 1/140  (1/379)]

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ .
Dari Abdullah bin Zaid, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dua kali-dua kali” (HR. Ahmad, Bukhari, tetapi dalam bab ini Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir)

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديث يدل على أن التوضوءَ مرتين يَجُوْزُ ويُجْزَئُ ولا خِلافَ في ذلك‏.‏
Hadits ini menunjukkan bahwa membasuh dua kali ketika wudhu dibolehkan dan mencukupi, pernyataan itu tidak diperselisihkan.
[Nailul Authar 1/141  (1/379)]

وَعَنْ عُثْمَانَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم تَوَضَّأَ ثَلاثًا ثَلاثًا .
Dari Utsman, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu tiga kali-tiga kali” (HR. Ahmad dan Muslim)

Imam Asy-Syaukani berkata :
الحديث أخرجه بِهذا اللفظِ الترمذيُّ وقال‏:‏ هو أحسنُ شيءٍو في الباب
وذَكَرَ حديثَ عثمانَ الذي شَرَحْنَاهُ في أول باب الوضوء وقد قَدَّمْنَا أن التَثْلِيْثَ سنةٌ بالإجْماع‏.‏
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Tirmidzi, dia berkata, hadits ini yang terbaik di dalam bab ini.
Sedangkan hadits Utsman yang telah diterangkan pada permulaan bab ini menyebutkan bahwa membasuh tiga kali dalam berwudhu adalah sunnah secara ijma’
[Nailul Authar 1/141  (1/380)]

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : « جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم يَسْأَلُهُ عَنْ الْوُضُوءِ فَأَرَاهُ ثَلاثًا ثَلاثًا ، وَقَالَ : « هَذَا الْوُضُوءُ ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ »
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari datuknya, ia berkata, “Datanglah seorang Baduwi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakan masalah wudhu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukannya tiga kali-tiga kali dan bersabda : ‘Itulah bilangan wudhu, maka barangsiapa menambah dari itu, maka ia telah berbuat kejelekan, pelanggaran dan zalim’” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Imam Asy-Syaukani berkata :
وفي الحديث دليلٌ على أن مُجَاوَزَةَ الثلاثَ الغسلَاتِ من الِاعْتِدَاءِ في الطهورِ‏.‏ وقد أخرج أبو داود وابن ماجهٍ من حديث عبد اللَّه بن مغفل أنه قال‏:‏ ‏(‏سمعت رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول‏:‏ إنه سَيَكُوْنُ في هذه الأمةِ قومٌ يَعْتَدُوْنَ في الطهور والدعاء وأن فَاعِلَهُ مُسِيءٌ وظالِمٌ‏)‏ أي أساءَ بترك الأَوْلَى وتَعَدَّى حَدَّ السنة‏ِ.‏ وظلم أي وضع الشيءَ في غير مَوْضِعِهِ
Hadits ini menunjukkan bahwa melebihi membasuh tiga kali termasuk pelanggaran dan sesat. Abu Daud, Ibnu Majah dari hadits Abdullah bin Mughaffal, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bahwasanya di dalam ummatku ada kaum yang melanggar di dalam bersuci dan berdo’a, dan pelakunya dalah oknum dan menyesatkan”, yakni sebagai oknum karena meninggalkan yang lebih baik, melanggar sunnah dan menyesatkannya, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.
[Nailul Authar 1/141  (1/381)]

Imam Syafi’i berkata :
أخبرنا مالك عن عمرِو بن يحيى الْمازني عن أبيه عن عبد الله بن زيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ فغسل وجههُ ثلاثا ويديهِ مرتين مرتين ومسح رأسَهُ بيدَيْهِ فأقبل بِهما وأدْبَرَ بَدَأَ بِمَقْدَمِ رأسِهِ ثم ذهب بِهما إلى قَفَاهُ ثم ردهما إلى الْمكانِ الذي بدأ منه ثم غسل رِجْلَيْهِ
قال ولا أُحِبُّ للمُتَوَضِّيءِ أن يَزِيْدَ على ثلاث وإنْ زاد لم أكرهَهُ إن شاء الله تعالى
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dengan membasuh mukanya sebanyak tiga kali, kedua tangannya sebanyak dua kali-dua kali, serta mengusap kepalanya dengan kedua tangnnya. Lalu beliau menggeser kedua tangan itu ke depan dan ke belakang. Beliau memulai dari bagian depan kepalanya, kemudian menjalankan kedua tangannya ke tengkuknya (belakang kepala). Kemudian dikembalikan lagi ke tempat semula, lalu beliau membasuh kedua kakinya.
Saya tidak menyukai seseorang berwudhu lebih dari tiga kali usapan, walaupun saya tidak memandangnya sebagai perkara yang makruh, insya Allah.
[Al-Umm 1/38  (1/45-46)].

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
قلتُ تُكْرَهُ الزِّيَادَةُ على ثلاث وقيل تَحْرُمُ وقيل هي خِلَافُ الأَوْلَى والصحيحُ الأولُ وإنما تَجِبُ الغَسْلَةُ مرةً إذا اسْتَوَعَبَتِ العُضْوُ ,والله أعلم
Saya katakan, “Makruh hukumnya apabila lebih dari tiga kali. Ada yang mengatakan haram. Ada juga yang mengatakan, ini bertentangan dengan yang utama. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. Karena yang wajib dalam membasuh adalah sekali apabila itu telah merata ke seluruh anggota wudhu. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/46 (1/215)].

Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu Fatawa berkata :
ما ذكرهُ من الوسوسة في الطهارة مثل غُسْلِ العُضْوِ أكثرَ من ثلاث مراتٍ، والِامْتِنَاعِ من الصلاة على حَصْرُ المسجدِ، ونحو ذلك، هو أيضاً بدعةٌ وضلالةٌ باتفاق المسلمين، ليس ذلك مستحباً ولا طاعةً ولا قُرْبَةً
Apa yang diuraikan, yaitu was-was dalam bersuci seperti membasuh anggota tubuh lebih dari tiga kali basuhan dan tidak mau shalat di atas tikar masjid, dan sebagainya, hal itu juga bid’ah dan kesesatan menurut kesepakatan kaum muslimin, ia bukan sunnah, bukan ketaatan dan bukan pula ibadah. (Majmu Fatawa, Maktabah Syamilah)

Kesimpulan :
  1. Mayorutas ulama berpendapat bahwa ketika berwudhu disunnahkan mengulangi membasuh anggota wudhu tiga kali.
  2. Para ulama berselisih pendapat tentang mengusap kepala. Ada yang disunnahkan tiga kali, ada yang cukup sekali.
  3. Mayoritas ulama berpendapat bahwa mengulangi membasuh anggota wudhu lebih tiga kali hukumnya makruh.
Wallahu a’lam.


Sabtu, 02 Juli 2016

MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU?

MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU?
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum menyentuh kemaluan bagi orang yang telah berwudhu, apakah membatalkan wudhu atau tidak.

Imam Asy-Syaukani mengutip hadits-hadits berikut dan menjelaskannya dalam kitab Nailul Authar :

عَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانِ‏:‏ ‏(‏أن النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ من مَسَّ ذكرهُ فلا يصلِّي حتى يَتَوَضَّأَ‏)‏‏.‏
رواه الخمسة وصححه الترمذي وقال البخاري‏:‏ هو أصح شيء في هذا الباب وفي رواية لأحمد والنسائي عن بسرة ‏(‏أنها سمعتُ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول وَيَتَوَضَّأُ من مس الذَّكَرَ‏.‏ وهذا يَشْمَلُ ذكر نَفْسِهِ وذكر غيرِهِ‏.‏
Dari Busrah binti Shofwan, bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
”Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia tidak shalat sehingga ia berwudhu” (HR. Imam yang lima dan disyahkan oleh Tirmidzi. Al-Bukari berkata, “Ini adalah hadits yang paling sahih yang membicarakan masalah ini).
Dalam satu riwayat bagi Imam Ahmad dan An-Nasa’i dari Basrah bahwa Basrah mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Hendaklah berwudhu siapa yang menyentuh kemaluannya”. Ini meliputi kemaluannya sendiri dan kemaluan orang lain.

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديث يدل على أن لمس الذكر ينقض الوضوء‏.‏ وقد ذهب إلى ذلك عمر وابنه عبد اللَّه وأبو هريرة وابن عباس وعائشة وسعد ابن أبي وقاص وعطاء والزهري وابن المسيب ومجاهد وأبان بن عثمان وسليمان بن يسار والشافعي وأحمد وإسحاق ومالك في المشهور وغير هؤلاء‏.‏
Hadits di atas menunjukkan bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Demikian menurut pendapat Umar dan putranya, Abdyllah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Aisyah, Sa’ad bin Abi Waqash, Atha’, Az-Zuhri, Ibnu Al-Musayyab, Mujahid, Aban bin Utsman, Sulaiman bin Yasar, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishak, Malik dan lain-lainnya di dalam kitab Masyhur.
وذهب علي عليه السلام وابن مسعود وعمار والحسن البصري وربيعة والعترة والثوري وأبو حنيفة وأصحابه وغيرهم إلى أنه غير ناقض‏.‏
واحتج الآخرون بحديث طلق بن علي عند أبي داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد والدارقطني مرفوعًا بلفظ‏:‏ ‏(‏الرجل يمس ذكره أعليه وضوء فقال صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ إنما هو بضعة منك‏)‏ وصححه عمر بن القلاس وقال‏:‏ هو عندنا أثبت من حديث بسرة‏.‏
Adapun Ali RA, Ibnu Mas’ud, Ammar, Al-Hasan Al-Bashri, Rubai’ah, Al-’Athrah, At-Tsauri, Abu Hanifah dan para pengikutnya berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu.
Golongan yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu beralasan dengan hdits Thalq bin Ali menurut Abu Daud, A-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, secara marfu’ dengan lafadz ”Jika seorang laki-laki menyentuh kemaluannya apakah ia harus berwudhu?, maka Nabi menjawab, ’Sesungguhnya kemaluan itu bagian dari tubuhmu’”
Hadits tersebut disyahkan oleh Umar bin Ali Al-Qalas, dan dia mengatakan, bagi kami hadits ini lebih tetap daripada hadits Busrah.
[Nailul Authar 1/  (1/443)]

وعن أُمِّ حَبِيْبَةَ قالتْ‏:‏ ‏(‏سمعتُ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول‏:‏ من مس فَرْجَهُ فليتوضأْ‏)‏‏.‏
ولفظ من يشمل الذكر والأنثى‏.‏ ولفظ الفرج يشمل القبل والدبر من الرجل والمرأة وبه يرد مذهب من خصص ذلك بالرجال وهو مالك
Dari Ummu Habibah, ia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
”Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia berwudhu” (HR. Ibnu Majah, dan Al-Atsram).

Imam Asy-Syaukani berkata :
Perkataan ’man’ (barangsiapa) itu mencakup laki-laki dan perempuan. Dan perkataan ’farj’ (kemaluan) itu menckup kemaluan dan dubur baik laki-laki maupun perempuan. Pendapat ini membantah pendapat orang yang mengkhususkannya bagi laki-laki sebagaimana pendapat Malik.
[Nailul Authar 1/166  (1/446)]
وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه‏:‏ ‏(‏أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ من أَفْضَى بِيَدِهِ إلى ذَكَرِهِ ليس دُوْنَهُ سِتْرٌ فقد وجب عليه الوضوءُ
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Barangsiapa menyentuh tangannya ke kemaluannya tanpa alas, maka ia wajib berwudhu” (HR. Ahmad).

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديث يدل على وجوب الوضوء وهو يرد مذهب من قال بالندب وقد تقدم‏.‏
ويدل على اشتراط عدم الحائل بين اليد والذكر
Hadits di atas menunjukkan wajibnya wudhu, dan membantah pendapat orang yang mengatakan sunnahnya wudhu karena menyentuh kemaluan. Juga menunjukkan bahwa menyentuh kemaluan itu membatalkan wudhu dengan tidak beralas antara tangan dan kemaluan.
[Nailul Authar 1/166  (1/447)]

وعن عَمْرِو بن شعيبٍ عن أبيه عن جَدِّهِ‏:‏ ‏(‏عنِ النبيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ أَيُّمَا رَجُلٍ مَسَّ فَرْجَهُ فليتوضأْ وأيُّمَا امْرَأَةٍ مَسَّتْ فَرْجَهَا فلتتوضأْ
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari datuknya, dari Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam, ia bersabda,”Setiap laki-laki yang menyentuh kemaluannya, maka ia harus berwudhu, dan setiap perempuan yang menyentuh kemaluannya, maka ia harus berwudhu” (HR. Ahmad).

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديث صريح في عدم الفرق بين الرجل والمرأة وقد عرفت أن الفرج يعم القبل والدبر لأنه العورة كما في القاموس
Hadits di atas menegaskan tidak adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan telah anda ketahui bahwa farj itu mencakup kemaluan dan dubur, karena semuanya aurat sebagaimana disebutkan dalam qamus.
[Nailul Authar 1/166  (1/448)]

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid  berkata :
اختلف العلماء فيه على ثلاثة مذاهب، فمنهم من رأى الوضوء فيه كيفما مسه، وهو مذهب الشافعي وأصحابه وأحمد وداود، ومنهم من لم ير فيه وضوءا أصلا وهو أبو حنيفة وأصحابه، ولكلا الفريقين سلف من الصحابة والتابعين.
Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat, yang dapat dibagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama menyetakan bahwa menyentuh kemaluan dengan cara apapun, itu membatalkan wudhu. Pendapat ini dipegang oleh Syafi’i dan pengikutnya, Ahmad dan Daeud.
Kelompok kedua berpendapat bahwa menyentuh kemaluan itu tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini dipegangi oleh Abu Hanifah dan pengikutnya.
Dua kelompok di atas sama-sama memiliki legitimasi pendapat di kalangan sahabat dan Tabi’in.

وقوم فرقوا بين أن يمسه بحال أو لا يمسه بتلك الحال، وهؤلاء افترقوا فيه فرقا: فمنهم من فرق فيه بين أن يلتذ أو لا يلتذ. ومنهم من فرق بين أن يمسه بباطن الكف أو لا يمسه، فأوجبوا الوضوء مع اللذة ولم يوجبوه مع عدمها، وكذلك أوجبه قوم مع المس بباطن الكف ولم يوجبوه مع المس بظاهرها،
وهذان الاعتباران مرويان عن أصحاب مالك، وكان اعتبار باطن الكف راجع إلى اعتبار سبب اللذة.
وفرق قوم في ذلك بين العمد والنسيان، فأوجبوا الوضوء منه مع العمد ولم يوجبوه مع النسيان، وهو مروي عن مالك، وهو قول داود وأصحابه. ورأى قوم أن الوضوء من مسه سنة لا واجب،
Kelompok ketiga membedakan cara menyentuh kemaluan itu yang terbagi atas beberapa pendapat.
  1. Pendapat yang membedakan antara sentuhan yang terasa enak dan tidak. Jika terasa nikmat membatalkan wudhu, dan jika sebaliknya tidak membatalkan.
  2. Pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan telapak tangan dan sentuhan dengan lainnya. Jika menyentuh dengan telapak tangan membatalkan wudhu, dan jika tidak dengan telapak tangan tidak membatalkan.
Dua pendapat di atas diriwayatkan dari Malik dan murid-muridnya. Mungkin –menurut kelompok ini- telapak tanga dianggap membawa kenikmatan khusus.

  1. Pendapat yang membedakan antara sengaja dan lupa. Jika menyentuh kemaluan dengan sengaja dengan telapak tangan, maka itu membatalkan wudhu. Tetapi jika menyentuhnya karena lupa, maka tidak membatalkan. Pendapat ini diriwayatkan dari Malik yang didukung oleh Dawud dan para pengikutnya. Sebagian lagi ada ulama yang menyatakan bahwa keharusan wudhu karena menyentuh kemaluan itu hanya sunat, bukan wajib.

وسبب اختلافهم في ذلك أن فيه حديثين متعارضين: أحدهما الحديث الوارد من طريق بسرة أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول "إذا مَسَّ أحَدُكُمْ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ" وهو أشهر الأحاديث الواردة في إيجاب الوضوء من مس الذكر،
وصححه يحيى بن معين وأحمد بن حنبل، وضعفه أهل الكوفة؛ وقد روي أيضا معناه من طريق أم حبيبة، وكان أحمد بن حنبل يصححه،
Sebab perbedaan pendapat dalam masalah menyentuh kemaluan ini berpangkal pada dua hadits yang saling bertentangan.
Hadits Busrah yang menyatakan, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
إذا مَسَّ أحَدُكُمْ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
”Jika seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia berwudhu” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Malik).
Hadits ini adalah hadits yang paling masyhhur diantara beberapa hadits yang menegaskan batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan.
Hadits ini dishohihkan oleh Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Dan dinilai dho’if oleh ulama Kufah. Hadits yang sama maksudnya sama juga diriwayatkan dari sanad  Ummu Habibah. Ahmad bin Hanbal menilai sahih terhadap hadits terakhir ini.

والحديث الثاني المعارض له حديث طلق بن علي قال "قدمنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم وعنده رجل كأنه بدوي، فقال: يا رسول الله ما ترى في مس الرجل ذكره بعد أن يتوضأ؟ فقال: وَهَلْ هُوِ إلَّا بَضْعَةٌ مِنْكَ؟" خرجه أيضا أبو داود والترمذي، وصححه كثير من أهل العلم الكوفيون وغيرهم؛
Hadits yang bertentangan dengan hadits yang pertama adalah hadits riwayat Tholq bin Ali -radhiyallahu anhu-, yang berkata,
”Saya menghadap kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Disamping beliau ada seorang yang tampaknya orang Badui. Lalu badui itu bertanya, ’Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai seseorang yang menyentuh kemaluannya setelah ia berwudhu? Maka beliau menjawab
وَهَلْ هُوِ إلَّا بَضْعَةٌ مِنْكَ؟
 ’Itu tidak lain hanya kelebihan dagingmu juga’” (HR. Ahmad: 4/23, Abu Daud no. 182 dan 183, At-Tirmidzi no. 85, An-Nasa`i no. 165, dan Ibnu Majah no. 483)
Hadits ini dinilai shahih oleh ulama Kufah dan ulama lain.

كل واحد من الفريقين في ترجيح الحديث الذي رجحه كثيرة يطول ذكرها، وهي موجودة في كتبهم، ولكن نكتة اختلافهم هو ما أشرنا إليه
Argumentasi yang dikemukakan oleh masing-masing pihak dalam menilai kuat tidaknya suatu hadits sangatlah panjang. Hal itu mereka tulis dalam kitab-kitab karangan mereka. Tapi inti dari perbedaan tersebut tidak lebih dari yang telah saya kemukakan.
[Bidayatul Mujtahid 1/9  (1/15)].

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
فينتقض الوضوء إذا مس ببطن كفه فرج آدمي من نفسه أو غيره ذكر أو أنثى صغير أو كبير حي أو ميت قبلا كان الممسوس أو دبرا  وفي فرج الصغير والميت وجه ضعيف وفي الدبر قول شاذ أنه لا ينتقض  والمراد بالدبر ملتقى المنفذ
ومس محل الجب ينقض قطعا إن بقي شىء شاخص فإن لم يبق شىء نقض أيضا على الصحيح
ومس الذكر المقطوع والأشل والمس باليد الشلاء وناسيا ناقض على الصحيح
ولا ينقض مس دبر البهيمة قطعا ولا قبلها على الجديد المشهور
Wudhu menjadi batal sebab seseorang menyentuh alat kelamin manusia dengan tangan bagian dalamnya, baik alat kelaminnya sendiri maupun milik orang lain, laki-laki maupun perempuan, masih anak-anak atau sudah dewasa, sudah mati atau masih hidup, dan yang disentuh bagian alat kelamin maupun anus. Mengenai menyentuh vagina anak kecil dan orang yang meninggal terdapat Wajh yang dho’if. Sedang sentuhan di bagian anus juga terdapat Qaul yang aneh, yaitu tidak membatalkan wudhu. Maksud anus di sini adalah lubang keluarnya fases (tinja).
Apabila seseorang menyentuh lobang anus karena sesuatu yang tertinggal, maka secara pasti wudhunya batal. Dan jika tidak ada sesuatu yang tertinggal, maka menurut Qaul yang shahih wudhunya juga batal.
Menyentuh dzakar yang terpotong dan impoten, atau menyentuh dengan tangan yang lumpuh atau melakukannya karena lupa juga membatalkan wudhu menurut Qaul yang shahih.
Menyentuh anus binatang secara pasti tidak membatalkan wudhu, begitu pula menyentuh alat kelaminnya menurut pendapat Imam Asy-Syafi’i yang lama (Qaul Qadim) yang masyhur.
[Raudhatuth Thalibin 1/46 (1/215)].

Kesimpulan :
Mayorutas ulama berpendapat bahwa menyentuh kemaluan dan dubur tanpa alas, baik laki-laki maupun perempuan, membatalkan wudhu.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.



*Slawi, Maret 2011

Sabtu, 25 Juni 2016

LAILATUL QADAR

LAILATUL QADAR, MALAM KEMULIAAN

Oleh : Masnun Tholab

www.masnuntholab.blogspot.com

 

Pendahuluan

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya adalah karena pada bulan itu terdapat malam yang sangat agung yaitu malam Lailatul Qadar. Malam lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Quran, dimana pada pada malam tersebut Allah melimpahkan berkahNya.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, “ (QS. Ad Dukhaan: 3-5)
Allah ta’ala juga berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  -وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  -لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  -تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  -سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) keselamatan hingga terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5)
Alangkah agungnya (kedudukan) malam tersebut dibandingkan malam yang lain, alangkah mulia kebaikannya, dan alangkah melimpahnya keberkahan di malam tersebut.
Mengingat begitu besar keagungan dan keberkahan malam Lailatul Qadar itu, maka amat beruntunglah orang-orang yang mendapatkannya.

 

 

Pengertian Dan Keutamaan Lailatul Qadar

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةُ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang paling utama sepanjang tahun, berdasarkan firman Allah ta’ala,

"Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
(QS. Al-Qadr [97] : 1-3)
Berdasarkan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa beribadah di malam lailatul Qadar lebih baik dan lebih besar pahalanya dari pada beribadah selama seribu bulan (83 tahun) pada bulan-bulan lainnya.

 

Kapankah Lailatul Qadar itu?

Ada beberapa pendapat dari para ulama dalam menentukan malam ini. Hal itu disebabkan karena banyaknya hadits tentang malam datangnya Lailatul Qadar itu.

1.     Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang sah dari Ibnu Umar Rhadiallaahu ‘anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam,

 

كَانَ مُتَحَرَّبَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

“Barangsiapa mencarinya, hendaklah dicari pada malam ke dua puluh tujuh” (HR. Ahmad).

 

2.    Dari Muawiyah bin Abu Sufyan Rhadiallahu ‘anhuma,

عَنْ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : “Mengenai lailatul qadar, yaitu malam dua puluh tujuh”. (HR. Abu Daud).

 

3.    Dari Sa’id Al-Khudri, ia berkata,

إَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ. ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ. فِي قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ على سُدَّتِهَا حَصِيْرٌ. قال: فَأَخَذَ الْحَصِيْرَ بِيَدِهِ فَنَحَّاهَا فِي نَاحِيَةِ الْقُبَّةِ. ثُمَّ أَطْلَعَ رَأْسَهُ فَكَلَّمَ النَّاسَ. فَدَنَوْا مِنْهُ. فقال:

"إني اعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ. أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ. اعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ. ثم أُتِيْتُ. فَقِيْلَ لِي: إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ. فمن أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ" فاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ. قال: "وإِنِّي أُرِيْتُهَا لَيْلَةَ وِتْرٍ، وأني أَسْجُدُ صَبِيْحَتِهَا في طِيْنٍ وَمَاءٍ" فَأَصْبَحَ مِنْ لَيْلَةِ إِحْدَى وَعِشْرِيْنَ، وقد قام إلى الصُّبْحِ. فَمَطَرَتِ السَّمَاءُ. فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ. فَأَبْصَرْتُ الطِّيْنَ والْمَاءَ. فَخَرَجَ حِيْنَ فَرَغَ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، وَجَبِيْنُهُ وَرَوْثَةُ أَنْفِهِ فِيْهِمَا الطِّيْنُ والْمَاءُ. وإذا هي ليلةُ إِحْدَى وَعِشْرِيْنَ من الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ.

Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari pertama dari Ramadhan, kemudian beri’tikaf pada 10 hari pertengahan di Qutbah Turki (kemah kecil), sementara di pintunya terdapat tikar, lalu beliau mengambil tikar itu dengan tangannya, lantas memindahkannya ke sudut Qutbah tadi, kemudian beliau mengulurkan kepalanya sembari berbicara kepada manusia, merekapun mendekatinya. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya aku telah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari malam itu (Lailatul Qadar). Kemudian aku beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahannya, lalu aku di datangi oleh malaikat Jibril, lalu dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya ia ada pada sepuluh hari terakhir’. Karena itu siapa saja diantara kalian yang ingin beri’tikaf, maka beri’tikaflah”. Lalu orang-orangpun beri’tikaf bersama beliau. Beliau juga mengatakan, “Dan sungguh aku telah bermimpi (bahwa itu) pada malam ganjil, yang mana aku bersujud pada pagi harinya dalam keadaan berlumuran dengan tanah dan basah dengan air, ”Dan ternyata, pada malam ke dua puluh satu, di pagi harinya ketika aku melaksanakan shalat subuh, langit mengguyurkan hujan, masjidpun bocor sehingga aku melihat tanah dan air. Beliau keluar setelah shalat subuh, sementara kedua alis dan ujung hidungnya ada tanah dan air. Itu adalah malam kedua puluh satu dari sepuluh hari terakhir,” (Muttafaq ‘alaih).

 

4.    Dari Abdullah bin Unais, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

رَأَيْتُ ليلةَ القدرِ ثم أُنْسِيْتُهَا. وَأَرَانِي صَبِيْحَتَهَا أَسْجُدُ في ماءٍ وطِّيْنٍ" قال: فَمُطِرْنَا ليلةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِيْنَ فَصَلِّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَانْصَرَفَ وَإِنْ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطِّيْنِ على جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ. قال: وكان عبدُاللهِ بْنُ أُنَيْسٍ يقول: ثَلَاثٍ وَعِشْرِيْنَ.

 

“Aku telah melihat Lailatul Qadar tapi kemudian aku lupa. Aku bermimpi sujud pada pagi harinya dengan air dan tanah”. Kemudian kami diguyur hujan pada malam ke dua puluh tiga, lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengimami kami salta, lalu berbalik, ternyata ada bekas air dan tanah pada dahi dan hidung beliau,”. Abdullah bin Unais mengatakan, ‘Dua puluh tiga’. (HR. Ahmad dan Muslim).

 

5.    Dari Aisyah Rhadiallahu ‘anha, bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ في الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَاَنَ

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”. (HR. Muslim).

 

6.    Dari Ibnu Abbas Rhadiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

 

اَلْتَمِسُوْهَا في الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَاَنَ ، لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، في تَاسِعَةٍ تَبْقَى، في سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

 “Carilah itu pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, Lailatul Qadar (Sangat mungkin) pada malam kesembilan terakhir, malam ketujuh terakhir, malam ke lima terakhir” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Abu Daud).

[Nailul Authar 2, hal. 429-433}.

 

Dan hadits-hadits lainnya.

 

Pendapat Para Ulama

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab subulussalam berkata :

Dari berbagai pendapat, nampaknya yang kuat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada tujuh hari terakhir. Ibnu Hajar menyebutkan di dalam kitab Fath Al-Bari, setelah menyebutkan pendapat-pendapat dia atas, “Dan pendapat yang paling kuat dari semuanya, bahwa Lailatul Qadar terjadi pada hari-hari ganjil dari sepuluh hari terakhir, dan ia berpindah-pindah sebagaimana yang bisa dipahami dari hadits bab ini, dan menurut Asy-Syafi’iyah bilangan witir (ganjil) yang paling tepat yaitu 21, 23 sebagaimana disebutkan dalam hadits Said dan hadits Abdullah bin Unais, Sedangkan menurut jumhur ulama yang paling mungkin ialah pada tanggal 27.

[Subulussalam 2, hal. 274].

 

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan:  Kebanyakan mereka berpendapat bahwa jatuhnya adalah pada malam ke dua puluh tujuh.

[Fiqih Sunnah 2, hal. 83]

 

Imam Asy-Syaukani berkata : Asy-Syafi’i berkata, “Menurutku riwayat yang paling kuat tentang Lailatul Qadar adalah malam ke dua puluh satu”

[Nailul Authar 2, hal. 435}.

 

Zainudin Al-Malibari dalam kitab fathul Mu’in berkata : Menurut Imam Syafi’i malam ganjil yang paling dapat diharapkan ialah malam ke dua puluh satu dan ke dua puluh tiga, Imam Nawawi dan lainnya telah memilih bahwa (lailatul Qadar) berpindah-pindah.

 

Menurut hasil penelitian Imam Ghazali adalah sebagai berikut :

1.     Kalau puasa dimulai hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 Ramadhan.

2.    Kalau puasa dimulai hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 21 Ramadhan.

3.    Kalau puasa dimulai hari Selasa atau Jum’at, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 27 Ramadhan.

4.    Kalau puasa dimulai hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 25 Ramadhan.

5.    Kalau puasa dimulai hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 23 Ramadhan.

[Fathul Mu’in 1, hal. 658].

 

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Dari Ubadah bin Shomit, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ، كَأَنَّ فِيْهَا قَمْرًا سَاطِعًا، سَاكِنَةً سَجِيَّةً، لَا بَرَدَ فِيْهَا وَلَا حَرَّ، ولا يَحِلُّ لِكَوْكَبَ يُرْمَى بِهِ فِيْهَا حَتَّى تُصْبِحُ. وأن أَمَارَتَهَا أن الشَّمْسَ صَبِيْحَتَهَا تُخْرِجُ مُسْتَوِيَةً، لَيْسَ لَهَا شَعَاعٌ مِثْلُ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانَ أن يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ"

Tanda malam Lailatul Qadar suasana malam bersih bening terang seakan-akan  ada bulan, tidak terasa dingin atau panas, dan tidak ada bintang yang dilemparkan kepada setan, hingga fajar, dan matahar terbit tiada bercahaya panas dan tajam, seakan-akan bagaikan bulan purnama.

[Tafsir Ibnu Katsir 8, hal. 407].


Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi." (HR Muslim 762).

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan." (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231).

 

Imam Ash-Shan’ani berkata :

Dikatakan, bahwa tanda-tanda Lailatul Qadar bagi yang mengetahuinya, ia melihat segala sesuatu bersujud. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut akan melihat cahaya-cahaya yang terang ingá ke tempat-tempat yang gelap. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut akan mendengar salam atau sapaan para malaikat. Ada juga yang mengatakan bahwa tandanya ialah terkabulnya doa bagi orang yang mendapatinya. Ath-Thabari berkata, ”Semua itu tidak bersifat pasti, karena terkadang seseorang itu (mendapat Lailatul Qadar), namun ia tidak melihat dan tidak pula mendengar apapun.

[Subulussalam 2, hal. 274].


Beribadah pada Malam Lailatul Qadar
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قاَمَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa shalat di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lampau” (HR. Jamaah, kecuali Ibnu Majah)
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anha bahwa dia bertanya:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اَللَّهِ : أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اَلْقَدْرِ, مَا أَقُولُ فِيهَا? قَالَ: " قُولِي: اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut? Beliau bersabda: "bacalah (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah

aku)." Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Hakim.
[Bulughul Maram ,hal. ; Al-Adzkar, hal. 314].

Penutup
Allah Subhanahu wata’ala dengan kemurahannya telah menganugerahkan malam yang begitu agung, yaitu malam Lailatil Qadar kepada kita. Dia memberi kesempatan kepada kita untuk melipatgandakan nilai ibadah kita dengan beribadah di malam itu. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkannya.



Sumber Rujukan :
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006.
-Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Puataka Imam Syafi’i, 2003.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syifa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Nawawi, Al-Adzkar, Darul Ihya’ Indonesia, 2008.




*Slawi, Ramadhan 1431 H.

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...