Sabtu, 19 Februari 2011

BERPINDAH TEMPAT UNTUK SHALAT SUNNAH

BERPINDAH TEMPAT UNTUK SHALAT SUNNAH
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Dari Al-Mughirah bin Sya’bah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,
لا يصلِّي الإمامُ في مُقَامِهِ الذي صلِّى فيه المكتوبةَ حتى يَتَنَحَّى عنهُ‏
”Hendaknya seorang imam tidak melakukan shalat (sunnah) di tempat ia melakukan shalat fardhu kecuali ia bergeser darinya” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Abu Dawud (854) dan Ibnu Majah (1417) dan ini adalah lafadz miliknya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ إِذَا صَلَّى أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ أَوْ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ ، يَعْنِي : السُّبْحَةَ
“Apakah kamu merasa lemah (keberatan) apabila kamu shalat untuk maju sedikit atau mundur, atau pindah ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri?, yakni dalam shalat." Maksudnya shalat nafilah setelah shalat fardlu. (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Kedua hadits ini menunjukkan disyariatkannya berpindah tempat dari tempat semula yang digunakannya untuk melaksanakan shalat fardhu.
[Nailul Authar 1, hal. 801].

Syaikhul Islam dalam Al-Fatawa al-Kubra (2/359) berkata, “Dan yang sunnah supaya memisahkan yang wajib dan yang sunnah dalam shalat Jum’at dan yang lainnya sebagaimana telah ditetapkan dalam al-Shahih (yakni Shahih al-Bukhari) bahwa beliau shallallaahu 'alaihi wasallam melarang menyambung shalat dengan shalat sehingga keduanya dipisahkan dengan berdiri atau berbicara. Janganlah melakukan seperti yang dikerjakan orang banyak, yakni menyambung salam dengan shalat sunnah dua rakaat. Sesungguhnya ini melanggar larangan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Di antara hikmah dalam masalah ini adalah membedakan antara amal fardlu dengan selainnya, sebagaimana dibedakan antara ibadah dengan yang bukan ibadah. Karenanya disunnahkan menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, makan pada hari raya Iedul fitri sebelum melaksanakan shalat, dan larangan menyambut Ramadlan dengan puasa sehari atau dua hari. Semua ini untuk memisahkan antara yang diperintahkan dan yang tidak diperintahkan dari masalah puasa, memisahkan antara yang bukan ibadah dengan yang ibadah, dan seperti inilah cara untuk membedakan antara shalat Jum’at yang Allah wajibkan dengan yang lainnya,” selesai.
www.voa-islam.com

Kesimpulan :
Dianjurkan untuk berpindah tempat untuk melaksanakan shalat sunnah dari tempat untuk melaksanakan shalat wajib, baik pada shalat jum’at maupun shalat wajib lainnya.

Wallahu a’lam

Sumber Rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
- www.voa-islam.com


*Slawi, Februari 2011

SHALAT DIANTARA DUA PILAR

SHALAT DIANTARA DUA PILAR
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata: Aku sholat bersama Anas bin Malik pada hari Jum’at lalu kami diusir dari tiang-tiang maka kami ada yang maju ada yang mundur, lalu Anas berkata:

كُنَّا نَتَّقِّي هذا على عَهْدِ رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم
"Dahulu kami dilarang melakukan hal ini pada zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam." (HR. Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’ie. Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 625)

Dari Mu'awiyah bin Qurrah dari ayahnya radhiallahu 'anhu berkata, "
كُنَّا نُنْهَى أن نَصُفَّ بَيْنَ السَّوَارِي على عَهْدِ رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم- ونُطْرَدُ عنها طَرْداً
"Dahulu kami dilarang untuk membuat shaf di antara tiang-tiang di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami diusir darinya dengan paksa." (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih al-Jami' no. 821)

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma:
أن النبي -صلى الله عليه وسلم- لما دخل الكعبة صلى بين الساريتين
"Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memasuki ka’bah shalat di antara dua tiang." (Muttafaqun ‘alaihi)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Kedua hadits ini menunjukkan makruhnya shalat diantara dua sudut. Alasan makruhnya adalah apa yang dikatakan oleh Abu Bakar bin Al Arabi, bahwa hal itu berarti terputusnya shaf, atau bahwa itu merupakan tempatnya sandal. Ibnu Sayyidinnas mengatakan, “Yang pertama lebih menyerupai, sedangkan yang kedua diada-adakan,” Ibnu Al-Arabi mengatakan, “Tidak ada perbedaan mengenai hal itu bila tempatnya sempit, namun bila tempatnya lapang maka hal itu makruh bila berjamaah, tapi bila sendirian maka tidak apa-apa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat di dalam Ka’bah diantara dua-duanya.
[Nailul Authar 1, hal. 796].

Berkata Imam Al-Qurtubi: “ diriwayatkan sebab makruhnya hal tersebut karena disitu tempat sholatnya para jin mukminin” Fathul Bari (1/578)
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: (tidak makruh bagi imam berdiri diantara tiang-tiang, dimakruhkan bagi para makmum, karena memutuskan shaf- shaf mereka, dan ini dibenci oleh Ibnu Mas’ud , An-Nakha’ie dan diriwayatkan dari Hudzaifah dan Ibnu Abbas, dan dibolehkan oleh Ibnu Sirin dan Malik dan pengikut ra’yu dan Ibnu Mundzir, karena tidak ada dalil yang melarangnya.
Dan kami memilih apa yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Qurrah dari ayahnya berkat: “ Dahulu kami dilarang untuk membentuk shaf diantara tiang-tiang dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami diusir darinya dengan paksa”. Hadits riwayat Ibnu Majah . karena itu dapat memutuskan shaf, jika shafnya kecil setara dengan antara dua tiang tidak makruh, karena tidak terputus dengannya) Al-Mughni (2/47)
Syeikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum sholat diantara tiang-tiang, maka beliau menjawab: (apabila diperlukan maka tidak mengapa, namun jika tidak diperlukan maka hukumnya makruh, karena para shahabat radhiallahu anhum dahulu mereka menhindari hal itu) Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin soal no (389)
Demikian juga beliau ditanya tentang hukum memutus shaf dengan tiang-tiang masjid jika penuh dengan jama’ah sholat? Maka beliau menjawab: (tidak ragu lagi bahwa yang paling afdhal untuk shaf-shaf adalah merapat tidak menjauh, inilah yang sunah).
Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk merapatkan shaf-shaf, dan menutup celah-celah shaf. Dan dahulu para shahabat radhiallahu anhum menghindari shaf-shaf diantara tiang-tiang karena dapat memutuskan dari sebagiannya. Akan tetapi apabila diperlukan seperti dalam pertanyaan diatas yaitu masjid penuh dengan jama’ah sholat, maka tidak mengapa dalam keadaan seperti ini untuk membentuk shaf diantara tiang-tiang, karena perkara yang baru memiliki hukum khusus, dan keadaan darurat dan keperluan juga memiliki hukum yang sesuai dengannya) Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin soal no (1063)

Kesimpulan :
Para ulama sepakat bahwa makruh shalat diantara dua pilar atau tiang, kecuali imam shalat jamaah.

Wallahu a’lam

Sumber Rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
- www.voa-islam.com


*Slawi, Februari 2011

Jumat, 18 Februari 2011

MUSAFIR MENGIMAMI ORANG MUKIM

MUSAFIR MENGIMAMI ORANG MUKIM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Para ulama sepakat bahwa orang yang mukim boleh bermakmum kepada musafir. Namun mereka berbeda pendapat tentang bolehkah musafir bermakmum kepada orang yang mukim.
Dari Imran bin Hushain, ia menuturkan,
‏‏ما سافر رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم سفرًا إلا صلى ركعتين حتى يرجعَ وأنه أقام بِمَكَّةَ زَمَانَ الْفَتْحِ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ ليلةً يصلي بالناسِ ركعتين ركعتين إلا المغرب ثم يقول‏:‏ يا أهلَ مَكَّةَ قُوْمُوْا فَصَلُّوا ركعتين أُخْرَيَيْنِ فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ
“Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak pernah melakukan perjalanan (safar) kecuali beliau melakukan shalat dua rekaat-dua rekaat (yakni diqashar) hingga kembali. Pernah suatu ketika beliau menginap di Makkah selama delapan belas malam pada saat penaklukkan Mekkah, selama itu beliau shalat mengimami orang-orang dua rekaat-dua rekaat kecuali Maghrib. Kemudian beliau bersabda, “Wahai penduduk Mekkah, berdirilah kalian dan shalat lagi dua rekaat, karena kami ini orang-orang musafir’” (HR. Ahmad).

Imam Asy-Syaukani berkata dalam kitab Nailul Authar :
والحديث يدل على جواز ائتمام المقيم بالمسافر وهو مجمع عليه كما في البحر‏.‏
واختلف في العكس . ويدل للجواز مطلقًا ما أخرجه أحمد ابن حنبل في مسنده عن ابن عباس‏:‏ ‏(‏أنه سئل ما بال المسافر يصلي ركعتين إذا انفرد وأربعًا إذا ائتم بمقيم تلك السنة‏)‏ وفي لفظ تلك سنة أبي القاسم صلى اللَّه عليه وسلم
Hadits ini menunjukkan bolehnya yang mukim bermakmum kepada musafir, dan itu sudah menjadi ijma’ (kesepakatan para ulama). Namun mereka berbeda pendapat mengenai sebaliknya, yakni musafir bermakmum kepada orang yang mukim. Dalil yang menunjukkan bolehnya hal tersebut adalah yang dikeluarkan oleh Ahmad bin Hambal di dalam kitab Musnadnya. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia ditanya, “Mengapa musafir shalat dua rekaat sendirian dan empat rekaat bila bermakmum kepada orang yang mukim?” Ia menjawab, “Itu sunnah”. Dalam lafadz lainnya : “Itu sunnah Abu Al-Qasim Shallallahu alaihi wassalam”
[Nailul Authar 1, hal. 733].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
وهكذا أحب للامام أن يصلى مسافرا أو مقيما ولا يوكل غيره ويأمر من وراءه من المقيمين أن يتموا إلا أن يكونوا قد فقهوا فيكتفى بفقههم إن شاء الله تعالى
Saya menyukai seorang yang layak menjadi imam agar mengerjakan shalat sebagai imam dan tidak mewakilkannya, baik dia sebagai musafir atau mukim. Ia memerintahkan orang yang mukim bermakmum di belakangnya untuk menyempurnakan shalat (yakni tidak meringkasnya), kecuali apabila mereka telah mengetahui ilmu fiqih, maka cukuplah hal itu bagi mereka, insya Allah.
وإذا اجتمع مسافرون ومقيمون فإن كان الوالي من أحد الفريقين صلى بهم مسافرا كان أو مقيما وإن كان مقيما فأقام غيره فصلى بهم فأحب إلي أن يأمر مقيما ولا يولى الإمامة إلا من ليس له أن يقصر فإن أمر مسافرا كرهت ذلك له إذا كان يصلى خلفه مقيم ويبنى المقيم على صلاة المسافر ولا إعادة عليه
Apabila para musafir dan orang-orang mukim berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah, jika wali adalah salah satu dari dua kelompok tersebut, maka ia harus shalat mengimami mereka. Apabila wali di pihak yang mukim, lalu yang lain membacakan iqamat, maka hendaknya ia shalat bersama mereka. Saya lebih menyukai agar ia memerintahkan yang mukim untuk memimpin shalat, dan hendaknya ia tidak menunjuk menjadi imam orang yang berhak meringkas (qahar) shalatnya. Namun apabila ia menunjuk musafir, maka saya memandangnya makruh jika diantara makmum terdapat orang-orang mukim. Apabila orang mukim bermakmum pada musafir, maka ia harus meneruskan shalat setelah musafir menyelesaikan shalatnya dan ia tidak perlu mengulanginya.
فإن لم يكن فيهم وال فأحب إلي أن يؤمهم المقيم لتكون صلاتهم كلها بإمام ويؤخر المسافرون عن الجماعة وإكمال عدد الصلاة فإن قدموا مسافرا فأمهم أجزأ عنهم وبنى المقيمون على صلاة المسافر إذا قصر وإن أتم أجزأتهم صلاتهم وإن أم المسافر المقيمين فأتم الصلاة أجزأته وأجزأت من خلفه من المقيمين والمسافرين صلاتهم
Apabila tidak ada wali diantara mereka, maka saya lebih menyukai orang mukim yang menjadi imam, agar semua menyelesaikan shalatnya bersama imam, lalu para musafir menyempurnakan bilangan rekaat shalatnya (yakni tidak meringkasnya). Apabila mereka mempersilahkan musafir menjadi imam, maka hal itu tidak mengapa, namun orang-orang yang mukim meneruskan shalat yang telah dikerjakan bersama musafir apabila musafir tersebut meringkas shalatnya. Jika imam musafir mengerjakan shalat tanpa meringkas, maka hal itu lebih memadai.
[Al-Umm 1, 236 ,Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 231].

Kesimpulan
1. Para ulama sepakat bahwa orang yang mukim boleh bermakmum kepada musafir. Namun mereka berbeda pendapat tentang bolehkah musafir bermakmum kepada orang yang mukim.
2. Jika musafir mengimami orang yang mukim, musafir boleh meringkas shalatnya, sedang mukim menyempurnakan shalatnya.

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005

*Slawi, Februari 2011

MAKMUM BERDIRI IMAM DUDUK

IMAM DUDUK MAKMUM BERDIRI
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang bolehkah orang yang shalat berdiri bermakmum kepada imam yang shalat sambil duduk. Sebagian berpendapat boleh dan sebagian berpendapat tidak boleh.
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
وهي صلاة القائم خلف القاعد، فإن حاصل القول فيها أن العلماء اتفقوا على أنه ليس للصحيح أن يصلي فرضا قاعدا إذا كان منفردا أو إماما لقوله تعالى {وقوموا لله قانتين} واختلفوا إذا كان المأموم صحيحا فصلى خلف إمام مريض يصلي قاعدا على ثلاثة أقوال:
أحدها أن المأموم يصلي خلفه قاعدا، وممن قال بهذا القول أحمد وإسحق،
والقول الثاني أنهم يصلون خلفه قياما. قال أبو عمر بن عبد البر: وعلى هذا جماعة فقهاء الأمصار الشافعي وأصحابه وأبو حنيفة وأصحابه وأهل الظاهر وأبو ثور وغيرهم، وزاد هؤلاء فقال يصلون وراءه قياما وإن كان لا يقوى على الركوع والسجود بل يؤمئ إيماء.
وروى ابن القاسم أنه لا تجوز إمامة القاعد وأنه إن صلوا خلفه قياما أو قعودا بطلت صلاتهم،
Secara global para ulama berpendapat bahwa semua orang sehat tidak boleh melaksanakan shalat fardhu sambil duduk, baik sendirian maupun sebagai imam jamaah. Pendirian ini berdasarkan firman Allah,
“Berdirilaah untuk Allah (dalam shalat) dengan patuh (khusyuk)” (QS. Al-Baqarah : 238)
Kalangan ulama berbeda pendirian mengenai makmum yang sehat di belakang imam yang shalat duduk lantaran sakit. Perbedaan ini terbagi menjadi 3 kelompok :
1. Makmum boleh shalat duduk di belakang imam yang shalat duduk karena sakit. Pendapat ini dipegangi oleh Ahmad dan Ishak.
2. Makmum shalat berdiri di belakang imam yang shalat duduk itu boleh. Ibnula Abdil Barr mengemukakan bahwa pendirian ini menjadi pedoman para fuqaha Anshor, diantaranya Syafi’I dan pengikutnya, Ahli Zhahir, Abu Tsaur, dan lain-lain.Mereka juga memberikan tambahan bahwa makmum yang shalat berdiri kendati imam shalat dengan duduk, bahkan tidak kuasa rukuk atau sujud, atau hanya bias melakukan dengan isyarat, itu boleh.
3. Imam tidak boleh shalat dengan duduk. Ini pendirian dari Ibnu Qasim. Makmum yang sehat di belakang imam yang shalat duduk, baik makmum itu shalat berdiri atau duduk, shalatnya batal (tidak sah)
وقد روي عن مالك أنهم يعيدون الصلاة في الوقت، وهذا إنما بني على الكراهة لا على المنع، والأول هو المشهور عنه. وسبب الاختلاف تعارض الآثار في ذلك ومعارضة العمل للآثار: أعني عمل أهل المدينة عند مالك، وذلك أن في ذلك حديثين متعارضين: أحدهما حديث أنس، وهو قوله عليه الصلاة والسلام "وإذا صلى قاعدا فصلوا قعودا" وحديث عائشة في معناه، وهو "أنه صلى صلى الله عليه وسلم وهو شاك جالسا وصلى وراءه قوم قياما فأشار إليهم أن اجلسوا فلما انصرف قال "إنما جعل الإمام ليؤتم به، فإذا ركع فاركعوا، وإذا رفع فارفعوا، وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا" والحديث الثاني حديث عائشة "أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج في مرضه الذي توفي منه، فأتى المسجد فوجد أبا بكر وهو قائم يصلي بالناس، فاستأخر أبو بكر فأشار إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أن كما أنت، فجلس رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى جنب أبي بكر، فكان أبو بكر يصلي بصلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكان الناس يصلون بصلاة أبي بكر"
Diriwayatkan dari Malik bahwa makmum hendaknya mengulangi shalat pada waktu yang bersangkutan. Karena shalat seperti itu bagi makmum makruh, bukan haram.
Dari ketiga pendirian itu, pendapat pertama adalah yang paling dikenal.
Penyebab timbulnya silang pendapat ini adalah karena ada bermacam-macam hadits mengenai hal tersebut, disamping ada pertentangan perbuatan dengan hadits. Perbuatan di sini adalah yang dilakukan penduduk Madinah. Ini hanya pendapat Malik. Dua hadits berlawanan itu adalah :
Pertama, hadits riwayat Anas, yaitu :
“Sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ‘Apabila imam shalat sambil duduk hendaklah (juga) shalat dengan duduk’”
Hadits yang hamper sama dari Aisyah r.a. :
“Bahwa beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat dalam keadaan sakit sambil duduk, dan di belakng beliau shalat pula (sebagai makmum) suatu kaum sambil berdiri. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam member isyarat kepada mereka agar duduk. Seusai shalat beliau mengatakan, ‘Bahwa dijadikan imam itu hanyalah untuk diikuti, sehingga apabila imam ruku’, maka ruku’lah kalian, adan apabila imam bangkit, maka bagkitlah kalian. Dan apabila imam shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian juga dengan duduk”’
Kedua, dari Aisyah r.a. :
Bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar rumah pada waktu beliau menderita yang mengantarkan pada wafatnya. Lalu beliau mendatangi masjid, dan beliau bertemu Abu Bakar sedang shalat sambil berdiri (sebagai imam) bersama khalayak. Kemudian Abu Bakar mundur, lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam member isyarat padanya agar seperti yang ada (tidak berubah). Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk di sebelah Abu Bakar, maka Abu Bakar mengikuti shalat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan khalayak mengikuti shalat Abu Bakar” (HR. Bukhari, Muslim)
فذهب الناس في هذين الحديثين مذهبين: مذهب النسخ، ومذهب الترجيح. فأما من ذهب مذهب النسخ فإنهم قالوا: إن ظاهر حديث عائشة وهو "أن النبي عليه الصلاة والسلام كان يؤم الناس، وأن أبا بكر كان مسمعا" لأنه لا يجوز أن يكون إمامان في صلاة واحدة، وإن الناس كانوا قياما، وإن النبي عليه الصلاة والسلام كان جالسا، فوجب أن يكون هذا من فعله عليه الصلاة والسلام، إذ كان آخر ما فعله ناسخا لقوله وفعله المتقدم. وأما من ذهب مذهب الترجيح فإنهم رجحوا حديث أنس بأن قالوا إن هذا الحديث قد اضطربت الرواية عن عائشة فيه فيمن كان الإمام، هل رسول الله صلى الله عليه وسلم أو أبو بكر؟. وأما مالك فليس له مستند من السماع، لأن كلا الحديثين اتفقا على جواز إمامة القاعد، وإنما اختلفا في قيام المأموم أو قعوده، حتى إنه لقد قال أبو محمد بن حزم إنه ليس في حديث عائشة أن الناس صلوا لا قياما ولا قعودا، وليس يجب أن يترك المنصوص عليه لشيء لم ينص عليه.
Menanggapi dua hadits di atas, kalangan fuqaha terbagi menjadi dua kelompok, pengguna metode tarjih dan pengguna metode nasakh.
Fuqaha pengguna metode nasakh berpendapat bahwa hadits Aisyah secara lahiriah dapat dipahami bahwa yang menjadi imam shalat yaitu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sedang Abu Bakar adalah makmum. Sebab, tidak boleh ada dua orang imam dalam satu shalat. Disamping itu, khalayak (makmum) berdiri, sedang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan duduk. Ini menunjukkan adanya perbuatan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Artinya perbuatan Nabi tersebut menasakh pernyataan dan perbuatan yang lalu.
Sedang fuqaha yang menggunakan metode tarjih lebih menekankan kuatnya hadits Anas. Mereka berpendirian bahwa di dalam hadits itu ada semacam periwayatan yang rancu dari Aisyah mengenai siapa sebenarnya yang berkedudukan sebagai imam, Rasulullah ataukah Abu Bakar.
Dalam hal ini Malik tidak mempunyai dasar riwayat, karena dua hadits di atas membolehkan imam sambil duduk, sedang yang disengketakan adalah mengenai berdiri atau duduknya makmum. Karena hal tersebut, Ibnu Hasan mengemukakan bahwa hadits Aisyah tidak ada penjelasan, apakah jamaah itu shalat sambil berdiri atau duduk.
قال أبو عمر: وقد ذكر أبو المصعب في مختصره عن مالك أنه قال: لا يؤم الناس أحد قاعدا، فإن أمهم قاعدا فسدت صلاتهم وصلاته لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال "لا يؤمن أحد بعدي قاعدا" قال أبو عمر وهذا حديث لا يصح عند أهل العلم بالحديث، لأنه يرويه جابر الجعفي مرسلا، وليس بحجة فيما أسند فكيف فيما أرسل؟ وقد روى ابن القاسم عن مالك أنه كان يحتج بما رواه ربيعة بن أبي عبد الرحمن "أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج وهو مريض، فكان أبو بكر هو الإمام، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بصلاة أبي بكر وقال: ما مات نبي حتى يؤمه رجل من أمته" وهذا ليس فيه حجة إلا أن يتوهم أنه ائتم بأبي بكر لأنه لا تجوز صلاة الإمام القاعد، وهذا ظن لا يجب أن يترك له النص مع ضعف هذا الحديث
Ibnu Abdil Barr menyatakan bahwa Abu Mush’ab menyebutkan di dalam Al-Mukhtashar dari Malik bahwa seseorang tidak boleh menjadi imam sambil duduk, maka shalatnya tidak sah baik untuk imam atau makmum, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam,
“Sungguh janganlah seseorang menjadi imam sambil duduk sepeninggalku”.
Hadits di atas menurut penilaian Ibnul Abdil Barr dan kalangan ahli hadits, tidak sahih. Alasannya, diantara perawinya terdapat seorang bernama Jabir Al-Ju’fi dengan sanad mursal. Padahal ia tidak boleh dipegangi jika meriwayatkan hadits murnad, lebih-lebih jika mursal.
Ibnu Qasim meriwayatkan dari Malik bahwa dirinya berpedoman pada hadits riwayat Rabi’ah bin Abu Abdurrahman,
“Bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pergi ke (masjid), padahal ia sedang sakit. Pada waktu itu Abu Bakar bertindak sebagai imam, dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam salat (mengikuti) shalat Abu Bakar. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Seorang Nabi tidak (akan) meninggal sampai ia menjadi makmum (pengikut) seorang umatnya’”
Hadits itu tidak boleh dipakai terkecuali apabila ada perkiraan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjadi makmum Abu Bakar. Sebab, imam shalat duduk tidak diperkenankan. Ini hanya prakiraan yang tidak mungkin dijadikan alas an untuk meninggalkan nash, lebih-lebih haditsnya dho’if.
[Bidayatul Mujtahid 1,109, 340-344].

Dari Aisyah, bahwasanya ia menuturkan :
‏‏صلىَّ رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم في بيتهِ وهو شَاكٍ فصلِّى جَالِسًا وصلِّى وراءهُ قَوْمٌ قِيَامًا فأشارَ إليهم أن اجلسوا فلمَّا انْصَرَفَ قال‏:‏ إنَّمَا جُعِلَ الإمامُ لِيُؤْتَمَّ بهِ فإذا ركع ركعوا وإذا رفع فارْفَعُوْا وإذا صلى جالسًا فصلوا جُلُوْسًا
“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat di rumahnya, beliau merasa kesulitan, lalu beliau shalat sambil duduk, sementara di belakang beliau orang-orang shalat sambil berdiri, lalu beliau member isyarat kepada mereka agar duduk. Setelah selesai, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya dijadikannya imam untuk diikuti. Maka apabila ia ruku’ ruku’lah kalian, apabila ia bangkit maka bangkitlah kalian, dan bila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk. (Muttafaq ‘Alaih).

Dari Anas, bahwasanya ia menuturkan :
سَقَطَ النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم عن فَرَسٍ فَجُحِشَ شِقُّهُ الْأَيْمَنُ فدخلنا عليه نَعُوْدُهُ فَحَضَرَتْ الصلاةُ فصلَّى بِنَا قَاعِدًا فصلَّينا وراءهُ قُعُوْدًا فلما قضى الصلاةَ قال‏:‏ إنَّمَا جُعِلَ الإمامُ لِيُؤْتَمَّ بهِ فإذا كبر فكبِّرُوْا وإذا سجد فاسجدوا وإذا رفع فارفعوا وإذا قال سمع اللَّهُ لمن حمده فقولوا ربنا ولك الحمدُ وإذا صلَّى قاعدًا فصلُّوا قعودًا أجْمَعُوْنَ‏
“Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah terjatuh dari kuda sehingga pinggang kanannya terkilir. Kemudian kami dating menjenguknya lalu waktu shalatpun tiba, maka beliaupun shalat mengimami kami sambil duduk, dan kami shalat di belakang beliau sambil duduk. Setelah selesai shalat beliau bersabda, ‘Sesungguhnya dijadikannya imam untuk diikuti. Maka apabila ia bertakbir bertakbirlah kalian, apabila ia sujud maka sujudlah kalian, apabila ia bangkit maka bangkitlah kalian, apabila ia mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah ‘rabbana wa lakal hamdu’, dan bila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk” (Muttafaq ‘Alaih).

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Hadits-hadits tersebut dijadikan dalil oleh mereka yang berpandangan bahwa makmum harus mengikuti cara imam dalam shalatnya, yaitu bila imam mengerjakannya sambil duduk maka iapun mengerjakannya sambil duduk, walaupun saat itu makmum sedang tidak ada udzur untuk melakukannya dengan duduk. Golongan yang berbeda pendapat dengan mereka menjawab hadits di atas dengan berbagai jawaban, diantaranya : Bahwa hukumnya itu sudah dihapus, karena ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sakit (yang akhirnya wafat) shalat mengimami orang-orang sambil duduk sedangkan mereka berdiri. Namun Ahmad mengingkari penghapusan hokum ini, lalu menggabungkan antara kedua hadits tersebut dengan dua kesimpulan : Pertama, bila imam yang biasanya (yakni imam rawatib) mengawali shalatnya sambil duduk karena sakit yang memungkinkan sembuhnya, maka para makmum pun shalat di belakangnya sambil duduk. Kedua, Bila imam yang biasanya mengawali shalatnya sambil berdiri, maka para makmum yang shalat di belakangnya pun harus shalat sambil berdiri, baik dalam melanjutkan shalatnya itu imam melakukannya sambil berdiri maupun sambil duduk. Penggabungan kedua hadits ini telah menguatkan, bahwa tidak ada penghapusan hukum (sebagaimana yang diungkapkan oleh sebagian orang).
[Nailul Authar 1, hal. 769].

Kesimpulan
Perbedaan pendapat para ulama tentang shalat jamaah dengan imam yang shalat sambil duduk adalah sebagai berkut :
1. Pendapat pertama, Kalau imam shalat sambil duduk, makmum harus shalat sambil duduk.
2. Pendapat kedua, Kalau imam shalat sambil duduk, makmum boleh shalat dengan berdiri.
3. Pendapat ketiga, Imam tidak boleh shalat sambil duduk.
Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.


*Slawi, Februari 2011

MAKMUM BERDIRI DI BELAKANG SHAF

MAKMUM BERDIRI DI BELAKANG SHAF
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
أجمع العلماء على أن الصف الأول مرغب فيه، وكذلك تراص الصفوف وتسويتها لثبوت الأمر بذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، واختلفوا إذا صلى إنسان خلف الصف وحده، فالجمهور على أن صلاته تجزئ. وقال أحمد وأبو ثور وجماعة صلاته فاسدة.
Masalah mengutamakan shaf terdepan, merapatkan, menertibkan shaf-shaf berikutnya sudah menjadi ketetapan ulama. Ini sesuai dengan perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Namun, kalangan fuqaha berbeda pendapat tentang seseorang yang berdiri di belakang shaf sendirian. Jumhur fuqaha berpendapat shalatnya cukup. Sedang menurut Ahmad, Abu Tsaur, dan sekelompok fuqaha shalatnya itu batal.
وسبب اختلافهم اختلافهم في تصحيح حديث وابصة ومخالفة العمل له، وحديث وابصة هو أنه قال عليه الصلاة والسلام "لا صلاة لقائم خلف الصف" وكان الشافعي يرى أن هذا يعارضه قيام العجوز وحدها خلف الصف في حديث أنس. وكان أحمد يقول: ليس في ذلك حجة، لأن سنة النساء هي القيام خلف الرجال. وكان أحمد كما قلنا يصحح حديث وابصة. وقال غيره: هو مضطرب الإسناد لا تقوم به حجة.
Persilangan pendapat ini disebabkan adanya beragam pendapat mengenai hadits riwayat Wabishah, sahih atau tidak? Disamping adanya perbedaan antara perbuatan (fi’il) dengan hadits tersebut. Hadits yang dimaksud adalah :
“Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, ‘Tidak sah shalatnya bagi orang yang berdiri di belakang shaf’” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).
Menurut Syafi’i hadits ini bertentangan dengan hadits Anas yang menerangkan, seorang wanita tua berdiri sendirian di belakang shaf.
Sedang menurut Ahmad, hadits di atas tidak bisa dihadikan alas an. Sebab, bagi wanita justru disunatkan berdiri di belakang shaf laki-laki. Ahmad menganggap sahih hadits Wabishah tersebut. Sedang fuqaha lain berpendapat bahwa hadits di atas sanadnya mudtharib al-isnad, yang tidak bisa dipakai sebagai dalil.
واحتج الجمهور بحديث أبي بكرة أنه ركع دون الصف فلم يأمره رسول الله صلى الله عليه وسلم بالإعادة وقال له "زادك الله حرصا ولا تعد" ولو حمل هذا على الندب لم يكن تعارض: أعني بين حديث وابصة وحديث أبي بكرة
Jumhur fuqaha menengahi alasan, berdasarkan hadits Abu Bakrah berikut ini :
”Abu Bakrah berrakaat (shalat) di belakang shaf, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak memerintahkannya untuk mengulangi. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda padanya, ‘Mudah-mudahan Allah memberi tambahan kebaikan, dan jangan kamu ulangi (berdiri) sendiri di belakng shaf’” (HR. Bukhari dan Abu Dawud).
Apabila hadits di atas ditafsirkan sebagai sunnat, berarti tidak akan ada pertentangan antara hadits Wabishah dan hadits Abu Bakrah.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 334].

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
ـ وقد اختلف السلف ـ في صلاة المأموم خلف الصف وحده فقالت طائفة‏:‏ لا يجوز ولا يصح‏.‏ وممن قال فرأوا على الرجل الإعادة دون المرأة
وتمسك القائلون بالصحة بحديث أبي بكرة قالوا‏:‏ لأنه أتى ببعض الصلاة خلف الصف ولم يأمره النبي صلى اللَّه عليه وسلم بالإعادة فيحمل الأمر بالإعادة على جهة الندب مبالغة في المحافظة على الأولى‏.‏
Para salaf berbeda pendapat mengenai makmum yang shalat sendirian di belakang imam. Segolongan mereka menyatakan tidak boleh dan tidak sah. Yang lainnya mengatakan, bahwa bagi laki-laki harus mengulangi shalatnya sedangkan bagi wanita tidak perlu mengulang.
Mereka yang mengatakan sah berdalih dengan hadits Abu Bakrah. Mereka mengatakan, “Karena ia melakukan shalat di belakang shaf namun Nabi Shallallahu alaihi wassalam tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya”. Maka diperkirakan bahwa perintah untuk mengulangi itu hanya bersifat anjuran untuk mendapatkan yang lebih utama.
[Nailul Authar 1, hal. 787].

Kesimpulan
Para Ulama berbeda pendapat tentang hokum makmum yang shalat sendirian di belakang shaf, Jumhur ulama berpendapat shalatnya sah, sebagian ulama berpendapat shalatnya tidak sah.

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.

*Slawi, Februari 2011

MELURUSKAN SHAF DAN KEUTAMAAN SHAF PERTAMA

MELURUSKAN SHAF DAN KEUTAMAAN SHAF PERTAMA
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Seorang imam disunahkan untuk memerintahkan para makmum agar meratakan shaf serta menutupi semua celah yang kosong sebelum memulai shalat.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم يُقْبَلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَبْلَ أن يُّكَبِّرَ فيقول‏:‏ تَرَاصَّوْا وَاعْتَدِلُوْا
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menghadap ke arah kami sebelum bertakbir dan bersabda: ’Rapatkan barisanmu dan ratakan’” (Muttafaq ‘alih)
Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ”.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Luruskanlah barisan kalian. Sesungguhnya kelurusan barisan shalat termasuk bagian dari kesempurnaan shalat (HR. Bukhari 2/174, Muslim 433)
Diriwayatkan juga dari Nu’man bin Basyir, ia berkata,
كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم يُسَوِّيْ صُفُوْفَنَا كَأَنَّمَا يُسَوِّيْ بها القِدَاحَ حتى رأى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عنه ثم خرج يَوْمًا فَقَامَ حتى كادَ أن يُّكَبِّرَ فرأى رجلًا بَادِيًا صَدْرُهُ من الصفِّ فقال‏:‏ عِبَادَ اللَّهِ لَتُسَوُّنَّ صفوفكم أو لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بين وُجُوْهِكُمْ‏
”Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam meratakan shaf kami sebagimana meratakan anak-anak panah hingga beliau merasa bahwa kami telah memenuhi perintahnya itu dan benar-benar melaksanakannya. Pada suatu hari tiba-tiba beliau menghadapkan mukanya ke arah kami dan melihat ada seorang yang menonjolkan dadanya ke bagian depan, maka beliaupun bersabda, ’Hendaklah kamu meratakan shafmu, atau kalau tidak, Allah akan menjadikan kalian dalam keadaan perselisihan dan persengketaan’” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan disahihkan oleh Tirmidzi)
Ahmad dan Thabrani meriwayatkan pula dengan sanad yang tidak ada cacat, Abu Umamah berkata, Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ وَحَاذُوْا بين مَنَاكِبِكُمْ وَلِيْنُوْا في أيْدِي إخوانِكم وَسُدُّوا الْخَلَلَ فَإِنَّ الشيطانَ يَدْخُلُ فيما بينكم بِمَنْزِلَةِ الْحَذَفَ يعني أَوْلَادَ الضَّأْنِ الصِّغَارَ
”Ratakanlah shafmu, rapatkan bahu-bahumu, lunakkan tangan jika berdampingan dengan saudara-saudaramu, dan tutplah celah-celah shaf itu, karena sesungguhnya setan itu memasuki celah-celah itu tak ubahnya anak kambing kecil”

Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi dari Anas bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,
أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقّدَّمَ ثم الذي يَلَّيْهِ فإن كان مِنْ نُقْصٍ فَلْيَكُنْ في الصَّفِّ الْمُؤَخَّرَ
“Sempurnakanlah terlebih dahulu shaf yang pertama, kemudian shaf yang kedua dan seterusnya! Kalaupun ada barisan yang kosong, hendaklah ia hanya terjadi pada bagian belakang”

Bazzar yang meriwayatkan dengan sanad hasan dari Ibnu Umar, ia berkata,
”Tiada satu langkahpun yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju sela-sela shaf kosong kemudian dipenuhinya shaf itu”

Nasa’i, Hakim, Ibnu Huzaimah meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
”Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menjalin hubungan dengannya dan baragsiapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskan jalinan hubungan dengannya”

Jamaah, selain Bukhari dan Tiemidzi juga meriwayatkan dari Jabir bin Sumirah, ia berkata,
خَرَجَ عَلَيْناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم. فَقاَلَ “مَالِي أَرَاكُمْ رَافِعِي أَيْدِيْكُمْ كَأَنَّهَا أَذْناَبُ خَيْلٍ شُمُسٍ؟ اُسْكُنُوْا فِي الصَّلاَةِ” قَالَ ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْناَ فَرَآناَ حِلَقاً. فَقاَلَ “مَا لِي أَرَاكُمْ عِزِيْنَ؟” قاَلَ ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْناَ فَقَالَ “أَلاَ تَصُفُّوْنَ كَماَ تَصُفُّ الْمَلاَئِكَةُ عِنْدِ رَبِّهاَ؟” فَقُلْناَ: ياَ رَسُوْلَ اللهِ! وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهاَ؟ قَالَ “يَتِمُّوْنَ الصُّفُوْفَ اْلأُوَلَ. وَيَتَرَاصُّوْنِ فِي الصَّفِّ”.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam datang kepada kami, lalu beliau bersabda: “Mengapa kalian aku lihat mengangkat tangan bagai ekor kuda yang bertingkah? Tenanglah kalian di dalam shalat. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam datang pula kepada kami. Beliau melihat kami berbaris tidak teratur. Lalu beliau bersabda: “Mengapa kalian aku lihat terpisah-pisah?” Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam datang pula kepada kami, lalu beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak berbaris seperti malaikat berbaris disisi Tuhannya?” Kami bertanya: “Ya Rasululla! Bagaimana malaikat itu berbaris disisi Tuhannya?” Nabi menjawab: “Mereka memenuhi barisan yang di muka dan bersusun (rapi) dalam barisan.” (HR. Muslim 430)
[Fiqih Sunnah 1, hal 360-362].

Imam Asy-Syaukani berkata tentang hadits Abu Umamah :
أي إذا جاء المصلي ووضع يده على منكب المصلي فليكن له بمنكبه وكذا إذا أمره من يسوي الصفوف بالإشارة بيده أن يستوي في الصف أو وضع يده على منكبه فليستو‏.‏ وكذا إذا أراد أن يدخل في الصف فليوسع له
Sabda beliau (lunakkan tangan jika berdampingan dengan saudara-saudaramu) yakni, bila ada orang lain menempelkan tangannya di bahunya, maka hendaklah ia melemaskan bahunya sehingga lebih mudah untuk diluruskan barisannya. Begitu juga bila diperintahkan untuk meluruskan shaf dengan isyarat tangannya agar meluruskan shaf atau meletakkan tangannya pada bahunya agar meluruskan. Dan begitu juga bila ia hendak masuk ke dalam shaf, maka hendaklah melapangkan tempat untuknya jika masih memungkinkan.
[Nailul Authar 1, hal. 733].

Dari Abu Mas'ud r.a., katanya:
كَانَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا في الصلاةِ ويقول اِسْتَوُوْا وَلَا تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ لِيَلِيَنِيْ مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْلَامِ وَالنَّهَى ثُمَّ الذينَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الذينَ يَلُوْنَهُمْ
"Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah mengusap bahu-bahu kita dalam shalat lalu bersabda: "Ratakanlah olehmu semua - saf-saf itu - dan jangan berselisih - seperti ada yang lebih maju atau lebih mundur, sebab hati-hatimu pun akan berselisih pula. Hendaknya mendampingi saya orang-orang yang dewasa dan yang berakal cukup di antara engkau semua itu, kemudian orang-orang yang mendekati mereka - yakni yang tarafnya ada di bawah-nya, kemudian orang-orang yang mendekati mereka - yakni yang tarafnya di bawah mereka lagi." (Riwayat Muslim 432)
[Riyadus Shalihin 2, hal. , hadits 1083].
Mustafa Dib al-Bugha dalam kitab Syarah Riyadhus Shalihin berkata :
Hadits di atas mengandung pengertian :
1. Anjuran kepada imam untuk menyuruh orang-orang yang hendak shalat untuk meluruskan barisannya, bila perlu imam sendiri yang mengatur mereka bila jamaah shalat itu tidak melakukan hal itu.
2. Dianjurkan oeang yang berada di shaf pertama di belakang imam adalah orang yang paling mengerti dan paham tentang ilmu agama, lalu orang-orang awam, kemudian anak-anak, dan yang terakhir adalah para wanita.
[Syarah Riyadhus Shalihin 2, hal. 685].

Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصفِّ الْأَوَّلِ ثم لم يجدوا إلا أن يَسْتَهِمُوْا عليه لَاَسْتَهِمُوْا
"Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besarnya pahala azan dan menempati saf pertama, kemudian tidak dapat memperolehi jalan untuk itu melainkan dengan mengadakan undian, nescayalah mereka itu akan mengadakan undian." (Muttafaq 'alaih)

Mustafa Dib al-Bugha berkata :
Penjelasan tentang keutamaan shaf pertama dalam shalat, karena shaf itu paling dekat dengan imam, dimana orang yang shalat dapat mendengarkan ucapan imam dan dapat menyaksikan gerakan imam, sehingga ia mengikuti petunjuk imam dan mendapatkan rahmat sebelum orang lain mendapatkannya.
[Syarah Riyadhus Shalihin 2, hal. 682].

Kesimpulan
1. Sebelum memulai shalat berjamaah imam dianjurkan untuk mengatur shaf makmumnya agar lurus dan rapat.
2. Shaf yang paling utama dalam shalat berjamaah adalah shaf yang terdepan.

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Ebook.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Ebook.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
- Mustafa Dib al-Bugha, Syarah Riyadhus Shalihin, Gema Insani, Jakarta, 2010.

*Slawi, Februari 2011

Selasa, 15 Februari 2011

TEMPAT IMAM LEBIH TINGGI

TEMPAT IMAM LEBIH TINGGI
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Para Ulama berbeda pendapat tentang Bolehkan menempati tempat imam lebih tinggi dari pada makmum. Ada yang berpendapat boleh, ada yang berpendapat tidak boleh. Ada pula yang berbeda pendapat boleh kalau ada alasan untuk memberi pelaharan kepada makmum.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
يكره أن يقف الإمام أعلى من المأموم, فعَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ اْلأَنْصَارِي قَالَ نَهَى رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم أَنْ يَقُوْمَ اْلإِمَامُ فَوْقَ شَيْءٍ وَالنَّاسُ خَلْفَهُ يَعْنِي أَسْفَلَ مِنْهُ
وعَنْ هَمَّامٍ أَنَّ حُذَيْفَةَ أَمَّ النَّاسَ بِالْمَدَائِنِ عَلَى دُكَّانٍ فَأَخَذَ أَبُو مَسْعُودٍ بِقَمِيصِهِ فَجَبَذَهُ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُنْهَوْنَ عَنْ ذَلِكَ قَالَ بَلَى قَدْ ذَكَرْتُ حِينَ مَدَدْتَنِي. روه أبو داود واشافعى والبيهقى وصححه الحاكم وابن خزيمة وابن حبان.
فإن كان للإمام غرض من ارتفاعه على المأموم فإنه لا كراهة حينئذ فعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَلَسَ عَلَى اْلمِنْبَرِ فِى أَوَّلِ يَوْمٍ وُضِعَ فَكَبَّرَ وَهُوَ عَلَيْهِ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ نَزَلَ اْلقَهْقَرِى فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ مَعَهُ, ثُمَّ عَادَ ثُمَّ فَرَغَ, فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا فعلت هَذَا لِتَأْتَمُّوا بى وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي. رواه أحمد والبخارى ومسلم.
وأما ارتفاع المأموم على الإمام فجائز. لما رواه سعيد بن منصور واشافعى والبيهقى وذكره البخارى تعليقا عن أبى هريرة أنه صلى على ظهر المسجد بصلاة الإمام. وعَنْ أنس ‏(‏أنه كان يجمع في دار أبي نافع عن يمين المسجد في غرفة قدر قامة منها لها باب مشرف على المسجد بالبصرة فكان أنس يجمع فيه ويأتم بالإمام, وسكت عليه الصحابة. رواه سعيد بن منصور فى سننه.
Seorang imam dimakruhkan berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari,
“Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam melarang seorang imam itu berdiri di atas sesuatu, sedangkan makmum berada di bawahnya atau lebih rendah darinya” (HR. Daruquthni, tetapi tidak disebutkan oleh Al-Hafidz dalam kitab At-Talkhis).
Diriwayatkan dari Hammam bin Harits,
”Sesungguhnya Hudzaifah mengimami orang-orang di Madain di atas dukan (tempat yang tinggi) Lalu Abu Mas’ud memegang gamisnya dan menariknya, ketika selesai salat ia berkata: Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya mereka (para sahabat) melarang dari hal itu. Dia menjawab: tentu saja saya tahu, sungguh saya ingat ketika kamu menarikku”. (HR Abu Daud, Syafi’i, Baihaqi, dan disahkan oleh Hakim, Imam Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)
Akan tetapi kalau meninggikan tempat itu memiliki sesuatu maksud, tidaklah dimakruhkan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad As-Saa’idi,
”Aku pernah melihat Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam duduk di atas mimbar pada siang hari lalu takbir di atasnya kemudian ruku’ kemudian turun (dari mimbar) dengan mundur lalu sujud dan orang-orang sujud mengikuti beliau, lalu mengulanginya sampai selesai, ketika selesai salat beliau bersabda: Wahai orang-orang! Sesungguhnya saya melakukan ini agar kamu dapat mengikutiku dan mempelajari salatku. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Adapun tingginya tempat makmum melebihi imam, maka hal itu dibolehkan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Syafi’i, Baihaqi, dan disebutkan pula oleh Bukhari sebagai keterangan dari Abu Hurairah bahwa ia pernah mengerjakan shalat di sebelah atas masjid dengan mengikuti seorang imam.
Diriwayatkan pula dari Anas bahwa ia pernah mengerjakan shalat dalam sebuah kamar di rumah milik Abu Nafi’ yang terletak di sebelah kanan masjid. Tempatnya agak tinggi, dan kamar itu mempunyai sebuah pintu yang menghadap ke masjid. Dari tempat itulah, ia mengikuti shalat imam. Hal ini didiamkan saja oleh para sahabat. (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunannya).
[Fiqih Sunnah 1, hal. 171/354].

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Kesimpulandari dalil-dalil tadi, adalah dilarangnya imam berada di tempat yang lebih tinggi dari pada makmum, baik itu di masjid ataupun lainnya, yang sejajar dengan tingginya masjid, di bawahnya atau di atasnya.
Adapun shalatnya Nabi di atas mimbar, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah untuk mengajarkan sebagaimana yang dinyatakan oleh sabda beliau, ”dan mempelajari shalatku”, dapat dipahami dari ini, bahwa imam boleh berdiri di tempat yang lebih tinggi daripada makmum bila bermaksud mengajari mereka.
[Nailul Authar 1, hal. 745].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
وأختار للامام الذي يعلم من خلفه أن يصلى على الشيء المرتفع ليراه من وراءه فيقتدون بركوعه وسجوده
وإن كان الإمام قد علم الناس مرة أحببت أن يصلى مستويا مع المأمومين
ولو كان أرفع منهم أو أخفض لم تفسد صلاته
ولا بأس أن يصلى المأموم من فوق المسجد بصلاة الإمام في المسجد إذا كان يسمع صوته أو يرى بعض من خلفه
Saya memilih agar imam mengajari para makmum mengenai cara mengerjakan shalat di tempat yang agak tinggi, agar ia dapat dilihat oleh makmum yang ada di belakangnya, kemudian mereka mengikuti ruku’ dan sujudnya.
Apabila imam telah mengajarkan manusia, maka saya menyukai jika ia mengerjakan shalat pada tempat yang rata bersama para makmum. Namun apabila tempat imam lebih tinggi atau lebih rendah dari makmum, maka hal itu tidak membatalkan shalat imam dan makmum.
Tidak mengapa makmum mengerjakan shalat di atas masjid (lantai satu dan seterusnya) dan imam shalat di dalam masjid, apabila ia dapat mendengar suaranya atau melihat sebagian orang yang ada di belakang imam.
[Al-Umm 1, 251; Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 243].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
وأما موضع الإمام فإن قوما أجازوا أن يكون أرفع من موضع المأمومين، وقوم منعوا ذلك، وقوم استحبوا من ذلك اليسير، وهو مذهب مالك
Tempat imam, menurut sebagian fuqaha berada di tempat yang lebih tinggi dari pada tempat makmum. Tetapi sebagian fuqaha melarang. Sedang Malik menganjurkan agar tempat imam lebih tinggi sedikit dibanding makmum.
[Bidayatul Mujtahid 1, 105/330].

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan :
1. Makruh imam menempati tempat yang lebih tinggi dari pada makmum jika tidak ada keperluan.
2. Jika imam mau mengajarkan makmum tentang shalat, dibolehkan imam menempari tempat yang tinggi dari pada makmum.
3. Tempat makmum boleh lebih tinggi dari imam.
Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Ebook.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Ebook.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.

*Slawi, Februari 2011

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...