Kamis, 22 Juli 2010

SHALAT WITIR

SHALAT WITIR
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com


Hukum Salat Witir
Menurut Sayyid Sabbiq Shalat witir termasuk shalat sunnah muakkad yang dianjurkan dan disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[Fiqih Sunnah 1, hal. 274].
Namun menurut Imam Hanafi shalat witir hukumnya wajib.
{Bidayatul Mujtahid 1, hal.192}

Dari Abi Ayub, ia berkata : Telah bersada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اَلْوِتْرُ حَقٌّ ، فَمَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَ مَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ ، وَ مَنْ اَحَبَّ اَنْ يُوْتِرَ بِوَا حِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ
Witir itu adalah haq, maka barangsiapa yang suka witir dengan lima rekaat maka kerjakanlah, dan barangsiapa yang suka witir dengan tiga rekaat maka kerjakanlah, barangsiapa yang suka witir dengan satu rekaat maka kerjakanlah. (HR.Imam yang lima, kecuali Tirmidzi)
[Nailul Author 2, hal. 677 ; Bidayatul Mujtahid 1, hal. 443].
Imam Shan’ani mengatakan bahwa hadits ini menjadi dalil wajibnya shalat witir. Sebagaimana disebutkan juga oleh Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad,
مَنْ لَمْ يُوْ تِرُ فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang tidak berwitir, maka ia bukan dari kami”. Yang berpendapat wajibnya shalat witir adalah Al-Hanafiyah.
[Subulus Salam 1, hal. 586].

Dari Ali r.a. ia berkata :
اَلْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ الْمَكْتُوْبَةِ وَلَكِنَّهُ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهَ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

Witir itu bukan satu keharusan seperti keadaan shalat fardlu, tetapi dia adalah sunnat yang dibiasakannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR.Ahmad, Nasai dan Tirmidzi).
[Bulughul Maram, hal. 161; Nailul Author 2, hal. 677].
Imam Ash-Shan’ani berkata bahwa hadits ini telah dijadikan hujjah oleh jumhur tentang tidak wajibnya shalat witir.
[Subulus Salam 1, hal. 589].

Waktu Shalat Witir
Dari Jabir r.a. bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اَللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ, وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اَللَّيْلِ, فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اَللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ, وَذَلِكَ أَفْضَلُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
"Barangsiapa yang tidak akan sanggup bangun pada akhir malam, sebaiknya ia berwitir pada permulaan malam. Akan tetapi, barangsiapa yang merasa sanggup bangun pada akhir malam, sebaiknya ia berwitir pada akhir malam itu. Sebab mengerjakan shalat pada akhir malam itu dihadiri dan disaksikan oleh malaikat. Oleh karena itu, ia lebih utama" (HR.Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 277; Bulughul Maram, hal 167].
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam
Berkata : Hadits ini menjadi dalil bahwa mengakhirkan witir itu lebih utama. Akan tetapi jika khawatir tidak bias bangun hendaklah shalat witir dilaksanakan sebelum tidur (didahulukan) supaya tidak kehilangan pelaksanaannya.
[Subulussalam 1, hal. 607; lihat Musnad Syafi’i 1, hal. 456].

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّ اللهَ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : اِجْعَلُوْا اَخِرَصَلاَ تِكُمْ بِااللَّيْلِ وِتْرًا
Dan dari Ibnu 'Umar, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Jadikan shalat witir sebagai akhir shalatmu waktu malam. (Muttafaq alaih)
Hadits di atas menjadi dalil bagi para ulama yang berpendapat bahwa tidak boleh shalat sunnah setelah shalat witir. Tetapi Ulama yang lain termasuk Imam An-Nawawi berpendapat bolehnya shalat sunnah setelah shalat witir. Dalilnya adalah hadits dari ‘Aisyah, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua reka’at setelah witir dengan duduk,”(HR.Muslim 738)
[Subulus Salam 1, hal. 603].

Dari Jabir r.a. pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar : "Bilakah engkau berwitir?", Abu Bakar menjawab, "Pada permulaan malam sesudah shalat isya". Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar,
"Bilakah engkau berwitir wahai Umar?" Umar menjawab, "Pada akhir malam". Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Engkau ini wahai Abu Bakar suka berhati-hati, sedangkan engkau wahai Umar telah menunjukkan keteguhanmu". (HR.Abu Dawud, Hakim)
[Fiqih Sunnah 1, hal.].

Dan dari Tolq bin Ali, dia berkata :
سَمِعْتُ رسول الله صَلَّ اللهَ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةِ
Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Tidak diperkenankan dua witir dalam satu malam". (HR.Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'I, disahihkan oleh Ibnu Hibban)
[Bulughul Maram, hal. 165 ; Fiqih Sunnah 1, hal. 277].

Jumlah rekaat shalat witir
Dari Abi Ayub, ia berkata : Telah bersada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ , مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ , وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ , وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ
Witir itu adalah haq, maka barangsiapa yang suka witir dengan lima rekaat maka kerjakanlah, dan barangsiapa yang suka witir dengan tiga rekaat maka kerjakanlah, barangsiapa yang suka witir dengan satu rekaat maka kerjakanlah. (HR.Imam yang lima, kecuali Tirmidzi)
[Bulughul Maram, hal. 160, hal. 677 ; Bidayatul Mujtahid 1, hal. 443].

Imam Syafi’i berkata dalam kitab Musnad Syafi’i : Malik telah menceritakan kepada kami, dari Nafi’ dan Abdullah Ibnu Dinar, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صلاة اَللَّيْلِ مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً ِوَاحِدَةً تُوْتِرُلَهُ مَاقَدْ صَلَّى
“Shalat malam hari adalah dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah ia shalat satu rakaat mewitirkan semua shalat yang telah dikerjakannya.”
[Musnad Syafi’i 1, hal. 445; Bulughul Maram, hal. 159].

Dari Aisyah, beliau berkata:
مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)
Dan dari Aisyah, ia berkata : Rasulullah witir tiga reka'at, tanpa memisahkan antara reka'at-reka'at tersebut. (HR.Ahmad)
[Nailul Author 2, hal. 682].

Malik telah menceritakan kepada kami, dari Nafi’ :
Bahwa Ibnu Umar melakukan shalat di antara satu rekaat dan dua rekaat dari witirnya hingga ia sempat mengatur sebagian keperluannya.
Syekh Muhammad Abid As-Sindi menjelaskan dalam kitab Musnad Syafi’i :
Bainar rak’ati war rak’ataini, menurut hemat kami yang benar adalah bainar rak’ataini war rak’ati. Makna yang dimaksud ialah, Ibnu Umar bila mempunyai suatu keperluan, terlebih dahulu ia melakukan salam di penghujung dua rekaatnya, setelah selesai dari keperluan yang mendesak itu, lalu melakukan witir dengan rekaat yang ketiga. Hal itu diperbolehkan menurut kalangan madzhab Syafi’i.
[Musnad Syafi’i 1, hal. 458]

Imam Ghazali berkata, boleh witir itu dipisah dan disambung dengan satu salam dan dua salam.
[Lihat Ihya Ulumiddin 1, hal. 640].

Dan dari Sa'ad bin Hisyam, sesungguhnya ia pernah berkata kepada 'Aisyah : Beritahukan kepadaku tentang witirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berkatalah 'Aisyah : Kami menydiakan untuknya siwaknya dan air wudlunya, lalu Allah membangunkan dia kapan saja Ia mau membangunkan dia di waktu malam, lalu ia bersiwak, berwudlu dan shalat sembilan reka'at, yang ia tidak duduk sama sekali kecuali di reka'at ke delapan; lalu dia berdzikir, bertahmid dan berdo'a; kemudian ia bangun dan tidak salam, lalu melanjutkan ke reka'at sembilan, terus duduk serta bertasyahud dan mengucapkan salam dengan suara yang keras sehingga kami dapat mendengarkannya. Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua reka'at lagi setelah salam tadi dalam keadaan duduk. Dengan demikian, seluruh jumlah reka'at shalat adalah sebelas rekaat. (HR.Ahmad, Nasa'I dan Ibnu Majah)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 279].

Bacaan dalam shalat witir
Ubay bin Ka'ab. berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهَ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُوْتِرُ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبُِّكَ الْاَعْلَى ، و قُلْ يَاَيُّهَاالْكَافِرُوْنَ و قُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ ،
وَلَا يُسَلِّمُ اِلَّا فِى اَخِرِهِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat witir dengan membaca "sabbihisma robbikal a'la" , Qul yaa ayyuhal kaafiruun, dan Qul huwallahu ahad. (HR.Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'i, Nasa'i menambah : "Beliau tidak salam kecuali pada reka'at terahir)
Dalam riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi terdapat gadits yang sama dari Aisyah Rhadiallaahu ‘anha. Di situ ada keterangan : Tiap-tiap surat untuk satu rekaat. Dalam rekaat terakhir membaca Qul huwallaahu ahad dan surat Al-Falaq dan An-Naas.
[Bulughul Maram , hal. 165 ; Nailul Author 2, hal. 690 ; Lihat Ihya Ulumiddin 1, hal. 639 ; Fiqih Sunnah 1, hal. 280].

Zainudin Al-Malibari berkata dalam kitab Fathul Mu’in :
Orang yang shalat tiga rekaat disunatkan membaca surat Al-A’la pada rekaat pertama, Al-Kafirun pada rekaat kedua, sedangkan pada rekaat ketiga membaca surat Al-Ikhlas dan Mu’awwidatain, sebab ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan Nasai dari Ibnu Majah).
[Fathul Mu’in 1, hal. 328].

Imam Syafi’I berkata bahwa yang dibaca pada shalat witir adalah : qul huwallahu ahad, qul ‘audzu birabbilfalaq dan qul ‘audzubirabbinnaas, dan dipisahkan antara dua rekaat dan satu rekaat dengan memberi salam.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 207].

Imam Syafi’i berkata : Shalat witir dikerjakan sendiri-sendiri (tidak berjamaah),
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 207; lihat Fathul Mu’in 1, Hl. 326].


Doa Qunut dalam Shalat Witir
Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai qunut dalam shalat witir dan terkadang tidak. Hal ini berdasarkan hadits:
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الْوِتْرِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membaca qunut dalam shalat witir.” (HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad shahih)
يَجْعَلُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ
“Beliau membaca qunut itu sebelum ruku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Sayyid Sabiq berpendapat Qunut boleh dibaca sebelum atau sesudah ruku’. Dasarnya adalah hadits dari Humaid :
“Aku bertanya kepada Anas tentang qunut, apakah ia sebelum ruku’ atau sesudahnya?” Iapun menjawab, “Kebiasaannya, kami membacanya sebelum ataupun sesudah ruku’” (HR. Ibnu Majah)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 281].

Imam Malik dan Imam Syafi’I berpendapat bahwa qunut witir dilaksanakan hanya pada pertengahan atau setengah akhir bulan Ramadhan.
Hal ini berdasarkan hadits :
Umar Ibnul Khatab radliyallahu `anhu mengumpulkan (manusia) kepada Ubai bin Ka`ab dan dia shalat bersama mereka pada malam ke 20. Dia tidak qunut kecuali pada pertengahan akhir bulan Ramadlan. (HR. Abu Dawud dalam Sunannya 2/65)

Di antara doa qunut witir adalah:
الَلَّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ، وَقِناَ شَرَّ ماَ قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَالَيْتَ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْك


(Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadha, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepadaMu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan tidak akan menjadi mulia orang yang Engkau musuhi. Engkau, wahai Tuhan kami adalah maha mulia serta maha tinggi. tiada tempat berlindung dari-Mu kecuali kepada diri-Mu)[HR. Ahmad]
Imam Nawawi mengatakan bahwa sanad hadits di atas sahih.
[Fiqih Sunnah 1, hal.281].

Sumber Rujukan :
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syifa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Syekh Muhammad Abid As-Sindi, Musnad Syafi’i, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 2006.
-Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang



*Slawi, Juli 2010

Selasa, 18 Mei 2010

ISBAL

ISBAL
Oleh : Masnun Tholab
masnuntholab.blogspot.com

DEFINISI ISBAL
Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Aroby rahimahullah dan selainnya adalah ; memanjangkan,
melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. [Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321]

DALIL-DALIL TENTANG ISBAL
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ
"Barangsiapa menjulurkan pakainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat." Abu Bakar berkata, "Sungguh salah satu sisi pakaianku selalu turun kecuali jika aku terus menjaganya." Rasulullah saw. bersabda, "Kamu tidak melakukan itu karena sombong," (HR Bukhari [3665, 5784] dan Muslim [2085]).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ِأزَرَةُ الْمُسْلِمُ إِلَى نَصَفِ السَّاقِ وَلَاحَرَجَ أَوْ لَا جَنَاحٍ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ، مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَراً لَمْ يَنْظُرُ اللّهُ إلَيْهِ".

“Artinya : Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun dibawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12]
-lihat Al-Jami’s Saghir 1, hal. 292
-Lihat Riyadus Salihin 2, hal. 4

Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud radhiallahu anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِي صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنْ اللَّهِ فِي حِلٍّ وَلَا حَرَامٍ

“Barangsiapa yang menjulurkan sarung dalam shalatnya karena angkuh/sombong maka orang itu tidaklah menuju Allah dan juga tidak menjalankan kewajiban-Nya." (HR. Abu Dawud)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى مَنْ يَجَرَّ إِزَارَهُ بَطَرٍ

"Allah tidak akan melihat kepada orang yang menjulurkan kain sarungnya karena kesombongan," (HR Bukhari [5788] dan Muslim [2087]).

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka," (HR Bukhari [5787]).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Allah tidak akan melihat kepada orang yang menjulurkan kain sarungnya karena kesombongan," (HR Bukhari [5788] dan Muslim [2087]).

PENDAPAT ULAMA TENTANG ISBAL
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalaam berkata :
Ibnu Abdil Bar berkata, “Orang yang menjulurkan kainnya tanpa dibarengi sikap sombong juga termasuk katagori melakukan perbuatan tercela. An-Nawawi berkata, “Hukumbya makruh, demikian yang dinyatakan oleh Asy-Syafi’I”
Sunnah telah menyebutkan bahwa posisi kain yang terbaik adalah stengah betis. Sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tir,idzi dan An-Nasa’I dari Ubaid bin Khalid, ia berkata, “Ketika aku sedang berjalan dengan mengenakan kain panjang yang terjulur, seorang berkata kepadaku, ‘angkat kainmu, karena hal itu sikap yang lebih takwa dan lebih bersih,’ Setelah aku menoleh kepadanya ternyata ia adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu aku berkata, ‘Ini adalah kain panjang’, Beliau bersabda, ‘Bukankah aku tauladan bagimu?’ Setelah itu aku melihat pakaian yang beliau kenakan, ternyata panjang kain beliau setengah betis,”
[Subulussalaam 3, hal. 787].

Imam Nawawi dalam kitab Riyadus Salihin berkata :
Abu Hurairah radiallahu anhu berkata : Ketika seseorang sedang sembahyang dengan kain yang di bawah mata kaki maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya : “Pergilah berwudlu” dan sesudah berwudlu Nabi berkata pula, “Pergilah berwudlu”. Maka seseorang bertanya : “Ya Rasulullah mengapakah kau suruh berwudlu, kemudian setelah ia berwudlu kau diamkan dia?” Jawab Nabi, “Dia telah sembahyang dengan kain di bawah mata kaki. Dan Allah tidak menerima sembahyang seorang yang berkain di bawah mata kaki” (Abu Dawud)
-Lihat Riyadus Salihin 2, hal. 7

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memanjangkan celananya hingga melebihi mata kaki. Beliau menjawab :’ Panjangnya qomis, celana dan seluruh pakaian hendaklah
tidak melebihi kedua mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu' Fatawa 22/14]

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : “Isbal pakaian apabila karena sombong maka hukumannya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak mengajak bicara dan tidak mensucikannya, serta baginya adzab yang pedih. Adapun apabila tidak karena sombong, maka hukumannya disiksa dengan neraka. [As’ilah Muhimmah hal, 29-30, Lihat pula Fatawa Syaikh Utsaimin 2/921, Isbal Lighoiril khuyala hal. 26]

Al Habib Husein Ibn Alwy Ibn Aqiel menyatakan bila seseorang menggunakan pakaian/celana/sarung yang panjangnya melebihi mata kaki bukan karena sombong tetapi lebih ditujukan pada keindahan, maka hal itu tidaklah haram, bahkan dia menjalankan kesunnahan yang lain. Dasarnya adalah hadits yang menyatakan:
Rasulullah bersabda, "Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”. Seseorang berkata, "Sesungguhnya ada seseorang yang menyukai bajunya bagus dan alas kakinya bagus.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah penyalahgunaan kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim) –pesantren.or.id.29.webmasternet.

Wallahu a’lam.
Segala Puji bagi Allah. Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sumber Rujukan :
Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
- Imam Nawawi, Riyadus Salihin, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Ash-Shan’ani, Subulussalaam, Darus Sunnah, Jakarta, 2008.
-Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa
–pesantren.or.id.29.webmasternet.

***Slawi, April 2009.

BACAAN SALAM DALAM SHALAT

BACAAN SALAM DALAM SHALAT
Oleh : Masnun Tholab
masnuntholab.blogspot.com

Hadits-hadits dan Pendapat ‘Ulama Tentang Bacaan Salam
Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, ia berkata : Kami pernah shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu seseorang diantara kami dengan tangan kanan dan kirinya mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’. Seraya mengisyaratkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Maka beliau bersabda :
ما بالكم تومئون بأيديكم كأنها أذناب خيل شمس أو لا يكفي أو إنما يكفي أحدكم أن يضع يده على فخذه ثم يسلم عن يمينه وعن شماله السلام عليكم ورحمة الله السلام عليكم ورحمة الله
“Ada apa dengan kalian sehingga mengisyaratkan dengan tangan seakan-akan hal itu adalah ekor kuda matahari. Apakah tidak cukup atau cukup, bagi salah seorang diantara kalian meletakkan tangannya di atas paha kemudian mengucapkan “Assalamu ‘alaikum warahmatullah, Assalamu ‘alaikum warahmatullah” (HR. Abu Daud no. 985)

Imam Syafi’i berkata :
وبهذه الأحاديث كلها نأخذ فنأمر كل مصل أن يسلم تسليمتين إماما كان أو مأموما أو منفردا ونأمر المصلي خلف الإمام إذا لم يسلم الإمام تسليمتين أن يسلم هو تسليمتين ويقول في كل واحدة منهما السلام عليكم ورحمة الله
Semua hadits di atas menjadi pegangan, maka kami menyuruh setiap orang yang mengerjakan shalat agar memberi salam sebanyak dua kali, baik ia sebagai imam auat shalat sendirian.
Kami memerintahkan kepada makmum apabila imam tidak memberi salam sebanyak dua kali, maka ia harus memberi salam dua kali dengan ucapan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah, Assalamu ‘alaikum warahmatullah”

Imam Syafi’i berkata :
من تسليمه أن يقول السلام عليكم فإن نقص من هذا حرفا عاد فسلم وإن لم يفعل حتى قام عاد فسجد للسهو ثم سلم
Pengucapan salam sekurang-kurangnya dengan mengucapkan Assalaamu ‘alaikum. Apabila ia mengurangi satu huruf saja, maka ia harus mengulanginya. Apabila ia tidak memberi salam sampai ia pergi, maka ia harus kembali dan melakukan sujud sahwi, kemudian memberi salam lagi.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 186-187].

Zainudin Al-Malibari (‘Ulama Madzhab Syafi’i dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
(و) ثالث عشرها: تسليمة أولى، (وأقلها: السلام عليكم) للاتباع، ويكره عليكم السلام
(و) يسن أن يقرن كلا من التسليمتين (برحمة الله) أي معها، دون: وبركاته، على المنقول في غير الجنازة. لكن اختير ندبها لثبوتها من عدة طرق.
Rukun shalat yang ketiga belas ialah membaca salam yang pertama, paling sedikit assalaamu’alaikum, sebab ‘ittiba kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Disunatkan melengkapi kedua salam dengan lafadz Warakhmatullah tidak dengan lafadz Wabarakaatuh, sesuai dengan nash yang disalin dar salat selain salat jenazah.
Akan tetapi dipilih sunnat memakai lafadz wabarakaatuh, sebab nash-nya dari berbagai jalan.
[Fathul Mu’in 1, hal. 223-224].

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram mengutip hadits dari Wail bin Hajar Rhadiallahu ‘anhuma, dia berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ : " اَلسَّلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ " وَعَنْ شِمَالِهِ : " اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Saya shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membaca salam ke kanan dengan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh”, demikian pula ke kiri, “Assalaamu’alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh” (HR. Abu Daud dengan riwayat yang sahih)
[Bulughul Maraam hadits no. 39, hal. 139; lihat Fiqih Sunnah 1, hal. 198 ]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
وحديث التسليمتين رواه خمسة عشر من الصحابة بأحاديث مختلفة، ففيها صحيح، وحسن، وضعيف، ومتروك، وكلها بدون زيادة: "وبركاته" إلا في رواية وائل هذه، ورواية عن ابن مسعود. وعند ابن ماجه، وعند ابن حبان، ومع صحة إسناد حديث وائل، كما قال المصنف هنا: يتعين قبول زيادته؛ إذ هي زيادة عدل، وعدم ذكرها في رواية غيره ليست رواية لعدمها
Hadits tentang mengucap dua kali salam ini telah diriwayatkan oleh lima belas sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits yang berbeda-beda, ada yang sahih, ada yang hasan, ada yang dha’if dan ada yang matruk, dan semuanya tanpa tambahan Wabarakaatuh kecuali dalam riwayat Wa’il ini, serta dalam riwayat Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dan jika riwayat Wa’il ini shahih, maka tambahan Wabarakaatuh harus diterima karena ia tambahan yang benar. Sedangkan ketiadaannya dalam riwayat-riwayat yang lain tidak menunjukkan bahwa tambahan ini tidak ada.
[Subulussalam 1, hal. 522].

Imam Ghazali (‘Ulama madzhab Syafi’i) dalam kitab ihya ‘Ulumiddin berkata :
Bacaan salam dalam shalat adalah Assalaamu’alaikum warakhmatullaah.
[Ihya ‘Ulumiddin 1, hal. 514].

Kesimpulan
1. Menurut mayoritas ulama, bacaan salam dalam shalat boleh dengan lafadz Assalamu’alaikum, Assalamu’alaikum warahmatullaah, atau Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
2. Bacaan salam menurut Imam Syafi’i dan Imam Ghazali adalah . Assalamu’alaikum warahmatullaah,
Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang, 1990.

*Slawi, 6 Mei 2010.

Rabu, 03 Maret 2010

SUAMI MEMANDIKAN ISTRINYA ATAU SEBALIKNYA

SUAMI MEMANDIKAN ISTRINYA ATAU SEBALIKNYA
Oleh : Masnun Tholab
Masnuntholab.blogspot.com


Hadits-hadits dan Pendapat Ulama Tentang Suami Memandikan Istrinya dan Istri Memandikan Suaminya.
‏
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ‏:‏ ‏(‏رَجَعَ إليَّ رسولِ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم مِنْ جَنَازَةِ بِالْبَقِيْعِ وَأنَا أجِدُ صَدَاعًا في رَأْسِي وَأقُوْلُ وَاَرَأْسَاهُ فقال‏:‏ بَلْ أنَا وَاَرَأْسَاهُ ما ضَرَّكِ لَوْ مُتَّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ‏)‏‏.‏ رواه أحمد وابن ماجه‏.
Dari Aisyah ia berkata, Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari menguburkan mayat di Baqi’ aku merasakan pusing di kepala. Aku berkata, “Aduh kepalaku” Beliau berkata, “Aku juga sakit kepala. Tidak ada yang dikhawatirkan padamu. Bila engkau meninggal sebelumku, aku akan memandikanmu, mengafanimu, kemudian menyalatkanmu dan menguburkanmu” (HR.Ibnu Majah dan Ahmad)
[lihat Bulughul Maram, hadits no. 19 bab Jenazah]
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa bagi suami boleh memandikan istrinya, ini adalah pendapat mayoritas ulama. Abu Hanifah berkata, “Suami tidak boleh memandikan istrinya, namun berbeda jika sebaliknya, karena telah terangkatnya hokum pernikahan dan tidak ada iddah bagi suami. Tapi hadits ini jelas membantah pendapat ini pada kedua pasangan suami istri.
Adapun perempuan selain istri, maka Abu Dawud dalam marasilnya dari hadits Abu Bakar bin Ayyasy dari Muhammad bin Abu Sahl, dari Makhul ia berkata, “Rasulullah Shallallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seorang perempuan meninggal di sekitar laki-laki sedangkan tidak ada perempuan selain dia bersama mereka, begitu pula jika seorang laki-laki meninggal di sekelompok perempuan dan tidak ada bersama mereka laki-laki selainnya, maka keduanya ditayamumkan kemudian dimakamkan, keduanya diposisikan orang yang tidak menemukan air’ (Al-Marasil 414).
[Subulussalam 1, hal. 837]

وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا اَلسَّلَامُ أَوْصَتْ أَنْ يُغَسِّلَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ
Dari Asma' binti Umais Radliyallaahu 'anhu bahwa Fatimah Rhadiallahu ‘anha berwasiat agar ia dimandikan oleh Ali Rhadiallahu ‘anhu (Riwayat Daruquthni)
وَعَنْ عَائِشَةَ أنَّهَا كَانَتْ تقول‏:‏ ‏(‏لَوِ اسْتَقَبَلَتْ مِنَ الْأَمْرِ مَا اسْتَدْبَرَتْ مَا غَسَّلَ رسولَ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم إِلَّا نِسَاؤُهُ‏)‏‏.‏
رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه‏.‏ وقد ذكرنا أن الصديق أوصى أسماء زوجته أن تغسله فغسلته‏.
Dari Aisyah ia berkata, “Seandainya peristiwa yang telah terjadi itu kejadiannya yang akan datang tentulah yang memandikan jasad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu hanyalah para istrinya” (HR.Abu Dau, Ibnu Majah dan Ahmad)
Telah dikemukakan bahwa Ash-Shiddiq berwasiat kepada Asma’ binti Unais, istrinya, agar memandikannya, maka iapun memandikannya.
Imam Asy-Syaukani berkata dalam kitab Nailul Author :
Sabda beliau (aku akan memandikanmu) ini menunjukkan bahwa bila seorang istri meninggal, maka dimandikan oleh suaminya. Dikiaskan dari ini, maka begitu pula sebaliknya, sebagaimana Asma memandikan Abu Bakar dan Ali memandikan Fatimah. Tidak ada pengingkaran dari para sahabat terhadap yang dilakukan oleh Ali dan ‘Asma, sehingga dianggap sebagai ijma’, demikian menurut jumhur.
[Nailul Author 2, hal. 158].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Para Fuqaha sependapat atas bolehnya wanita memandikan suaminya. Aisyah berkata,
“Jika aku menghadapi sesuatu urusan, tidaklah aku abaikan! Tidaklah orang yang memandikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali para istrinya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim yang menyatakan kesahihannya).
Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang boleh tidaknya suami memandikan istrinya. Jumhur membolehkannya. Golongan Hanafi berpendapat bahwa tidak boleh suami memandikan istrinya. Seandainya tidak ada orang kecuali suami, hendaklah ia menayamumkannya.
[Fiqih Sunnah 2, hal. 141].

Zaidudin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
الرجل أولى بغسل الرجل، والمرأة أولى بغسل المرأة، وله غسل حليلة، ولزوجة لا أمة غسل زوجها، ولو نكحت غيره، بلا مس، بل بلف خرقة على يد. فإن خالف صح الغسل.
Laki-laki lebih tepat memandikan laki-laki, begitupun sebaliknya mayat wanita dimandikan oleh wanita. Suami boleh memandikan mayat istrinya, dan istri yang tidak termasuk amat (hamba perempuan) boleh memandikan mayat suaminya –walaupun ia telah menikah lagi dengan laki-laki lain- tanpa menyentuh kulit, melainkan mengggunakan kaos tangan. Kalau menyalahi yang demikian itu, sah memandikannya, sebab yang demikian itu sunat.
[Fathul Mu’in 1, hal. 487]

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
Para ulama sepakat bahwa istri boleh memandikan mayat suaminya, tetapi mereka berbeda pendapat tentang suami yang memandikan mayat istrinya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa suami boleh memandikan istrinya.
Abu Hanifah berpendapat bahwa suami tidak boleh memandikan istrinya.
Sebab perbedaan tersebut bersumber dari kematian yang disamakan dengan talak.
Ulama yang menganggap kematian sebagai talak berpendapat bahwa suami tidak boleh melihat aurat istrinya yang mati.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 509].

Kesimpulan :
1. Mayoritas ulama berpendapat bolehnya istri memandikan mayat suaminya.
2. Mayoritas ulama berpendapat bolehnya suami memandikan mayat istrinya.

Sumber rujukan :
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syifa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005 Affiliate Program ”Get Money from your Website”

Senin, 01 Maret 2010

MENJENGUK ORANG SAKIT

MENJENGUK ORANG SAKIT
Oleh : Masnun Tholab
masnuntholab.blogspot.com

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Menjenguk orang sakit tidak hanya menguntungkan bagi orang yang sakit, melainkan juga bagi orang yang menjenguknya. Allah Subhanahu wata’la melalui RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan begitu banyak keutamaan bagi orang-orang yang menjenguk orang sakit.
عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ‏:‏ ‏(‏أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وآله وسلم قال‏:‏ حَقُّ الْمُسْلِمِ على الْمُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلَامِ, وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ, وَإتَّبَاعُ الْجَنَائِزِ, وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ, وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ‏)‏‏.‏متفق عليه‏.‏
Hak (kewajiban) seorang muslim terhadap sesamanya ada lima perkara, yaitu: menjawab salam, menengok yang sakit, mengiringi mayat kepemakaman, menghadiri undangan, dan berdo’a bagi yang bersin. [HR Bukhari & Muslim]
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Author berkata :
Ucapan beliau (Hak seorang muslim), yakni tidak layak ditinggalkan, maka pelaksanaannya bisa berhukum wajib atau sunnah muakkad, yaitu sangat ditekankan sehingga menyerupai wajib yang tidak layak diringgalkan. Ibnu Bathal mengatakan, “Yang dimaksud dengan hak di sini adalah kemuliaan dan persahabatan,”
Ucapan beliau (menengok yang sakit) menunjukkan disyariatkannya menjenguk orang sakit, dan ini telah disyariatkan berdasarkan ijma’. Al-Bukhari menegaskan bahwa itu wajib, ia mencantumkan judul “bab wajibnya menjenguk orang sakit”. Jumhur mengatakan sunnah, dan kadang menjadi wajib pada hak sebagian orang.
وعن ثَوْبَانَ قال‏:‏ ‏(‏قال رسولُ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وآله وسلم إنَّ الْمُسْلِمَ إذَا عَادَ أخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزِلُ فِي مَخْرَفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ‏)‏‏.‏
رواه أحمد ومسلم والترمذي‏.
‏ Diriwayatkan dari Tsauban Rhadiallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang muslim lainnya, maka ia berada di dalam kebun surge hingga ia kembali (dari menjenguk)” (HR Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi).
وعن عَلِيِّ رضي اللَّه عنه قال‏:‏ ‏(‏سَمِعْتُ رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول‏:‏ إذَا عَادَ الْمُسْلِمُ أخَاهُ مَشَى في خِرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ, فَإذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ فَإنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ, وإنْ كانَ مَسَاءً صلى عليه سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ‏)‏‏.‏ رواه أحمد وابن ماجه‏.‏ وللترمذي وأبي داود نحوه‏.‏
Diriwayatkan dari Ali Rhadiallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya maka seakan-akan ia berjalan di kebun syurga hingga ia duduk. Apabila ia duduk, ia akan dilimpahi rakhmat. Apababila ia datang pada pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat baginya hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat baginya hingga pagi hari” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Abu Dawud seperti itu).
وعن أنَسٍ قال‏:‏ ‏(‏كان النبيّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم لَا يَعُوْدُ مَرِيْضًا إلَّا بَعْدَ ثَلَاثٍ‏)‏‏.‏ رواه ابن ماجه‏.‏
Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya tidak menjenguk orang sakit kecuali setelah tiga hari,” (HR. Ibnu Majah)
[Nailul Author 2, hal. 149-150].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka akan terdengarlah seruan dari langit, ‘Baik sekali perbuatanmu! Baik sekali kunjunganmu! Engkau telah menyediakan satu tempat tinggal di dalam surge” (HR. Ibnu Majah)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Orang itu bertanya, ‘Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di sisinya?’ ‘Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan.’ Orang itu menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati hal itu di sisiKu?’ ‘Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.’ Orang itu bertanya, ‘Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?’Allah menjawab, ‘Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?” (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Tsauban Rhadiallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang muslim lainnya, maka ia berada di dalam kebun surge hingga ia kembali (dari menjenguk)” (HR Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jika engkau menemui si sakit, kobarkanlah harapan agar ia panjang umur. Hal seperti itu tidak dapat menolak takdir, tetapi akan menenteramkan jiwa si sakit! Dan shalawat dan salam dari Allah akan terlimpah atasnya,”
Disunahkan untuk memendekkan waktu berkunjung dan menjarangkan waktu ziarah agar tidak menyusahkan si sakit, kecuali jika ia menghendaki sebaliknya.
[Fiqih Sunnah 2, hal. 105]

Do’a untuk Orang Sakit
Imam Nawawi dalam kitab Riyadus Salikhin menulis dalam bab Ucapan Yang Dapat Digunakan Untuk Mendoakan Orang Sakit
sebagai berikut :
عن عائشةَ رضي الله عنها، أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذَا اشْتَكَي الْأِنْسَاُن الشَّيْءٍ مِّنْهُ، أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْحٌ، قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم بِأُصْبُعِهِ هَكَذَا، وَوَضَعَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الرَّاوِي سَبَّابَتَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ رَفَعَهَا وقال‏:‏ ‏"‏بِسْمِ اللهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَي بِهِ سَقِيْمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏
898. Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahawasanya Nabi s.a.w. itu apabila ada seseorang yang mengeluh kerana ada sesuatu yang dirasa sakit pada dirinya atau ada luka, kecil atau besar, maka Nabi s.a.w. berdoa dengan menggunakan jari tangannya sedemikian. Sufyan bin 'Uyainah yang meriwayatkan Hadis ini menunjukkan cara menggunakan jari itu, yakni telunjuknya diletakkan di bumi lalu diangkat dan di waktu meletakkan itu mengucapkan - yang ertinya:
''Dengan menyebut nama Allah, ini adalah tanah bumi kita, di-campur dengan ludah sebahagian dari kita, dengannya dapat di-Sembuhkan orang sakit di antara kita, dengan izin Tuhan kita."

وعنها أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم كان يَعُوْدَ بَعْضَ أَهْلِهِ يَمْسَحُ بِيَدِهِ الْيُمْنَي ويقول‏:‏ ‏"‏اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَاسَ، وَاشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَّا يُغَادِرُ سَقَماً” ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏
899. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahawasanya Nabi s.a.w. pada suatu waktu meninjau setengah dari keluarganya yang sakit. Beliau s.a.w. mengusap dengan tangannya yang kanan dan mengucapkan - yang ertinya: "Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah kesukaran - yakni penyakit - ini. Sembuhkanlah, Engkau sajalah yang dapat menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan daripadaMu, yakni kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan penyakit." (Muttafaq 'alaih)

وعن أنَسٍ، رضي الله عنه أنه قال لِثَابِتٍ رحمه اللهُ‏:‏ ألَا أرْقِيْكَ بِرُقْيَةِ رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏؟‏ قال‏:‏ بَلَى، قال‏:‏ ‏"‏اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ ، مُذْ هِبَ الْبَاسِ، اَشْفِ أنت الشَّافِي، لَا شَافِي إلَّا أنْتَ، شِفَاءً لَّا يُغَادِرُ سَقَماً” ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏
900. Dari Anas r.a. bahawasanya ia berkata kepada Tsabit rahima-hullah: "Sukakah engkau saya beri ucapan mantera-mantera dengan mantera-mantera yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w.?" la menjawab: "Baiklah." Anas mengucapkan - yang ertinya: "Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, yang dapat melenyapkan kesukaran -penyakit. Sembuhkanlah, Engkau sajalah yang dapat menyembuhkan. Tiada yang kuasa menyembuhkan kecuali Engkau, suatu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." (Riwayat Bukhari)

وعن سَعْدِ بْنِ أبِي وَقَاصِ، رضي الله عنه قال‏:‏ عادَنِي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ ‏"‏ اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْداً، ‏"‏ اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْداً ، ‏"‏ اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْداً "‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
901. Dari Sa'ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: "Saya ditinjau oleh Rasulullah s.a.w. - waktu ia menderita sakit - lalu beliau s.a.w. mengucapkan - yang ertinya: "Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad, ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad, ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad." (Riwayat Muslim)

وعن أبِي عبد الله عُثْمَانَ بْنِ أبِي الْعَاصِ رضي الله عنه أنَّهُ شَكَي إلي رسولِ الله صلى الله عليه وسلم وجَعاً يَجِدُهُ في جَسَدِهِ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏"‏ضَعْ يَدَكَ عَلَي الَّذِي تَأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ وقُلْ‏:‏ بسمِ اللهِ -ثلاثاً- وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ‏:‏ أعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أجِدُ وأُحَاذِرُ” ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
902. Dari Abu Abdillah iaitu Usman bin Abul 'Ash r.a. bahawasanya ia mengadu kepada Rasulullah s.a.w. kerana adanya suatu penyakit yang diderita dalam tubuhnya, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda padanya: "Letakkanlah tanganmu pada tempat yang engkau rasa sakit dari tubuhmu itu, kemudian ucapkanlah "Bismillah" tiga kali, lalu ucapkanlah pula sebanyak tujuh kali-yang ertinya: "Saya mohon perlindungan dengan kemuliaan Allah dan kekuasaanNya dari keburukannya sesuatu yang saya peroleh dan saya takutkan." (Riwayat Muslim)

وعنِ ابْنِ عَبّاَسٍ، رضي الله عنهما، عنِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم ، قال‏:‏ ‏"‏مَنْ عَادَ مَرِيْضاً لَمْ يَحْضُرُ أجَلُهُ، فقال عِنْدَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ‏:‏ أسْألُ اللهَ الْعَظِيْمِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أنْ يَشْفِيَكَ‏:‏ إلَّا عَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ المْرْضِ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه أبو داود والترمذي وقال‏:‏ حديث حسن، وقال الحاكم‏:‏ حديث صحيح علي شرط البخاري‏)‏‏)‏‏.‏
903. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Barangsiapa yang meninjau orang sakit yang belum waktunya untuk didatangi oleh ajal kematiannya, lalu orang yang meninjau tadi mengucapkan untuk yang sakit itu sebanyak tujuh kali, iaitu ucapan - yang ertinya: "Saya mohon kepada Allah yang Maha Agung, yang menguasai 'arasy yang agung, semoga Allah menyembuhkan penyakitmu, melainkan Allah akan menyembuhkan orang tadi dari penyakit yang dideritainya."
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan. Imam Hakim berkata bahawa Hadis ini adalah shahih menurut syaratnya Imam Bukhari.
وعنه أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم ، دَخَلَ عليَ أعَرَأبِي يَعُوْدُهُ وكانَ إِذَا دَخَلَ عَلَي مَنْ يَعُوْدُهُ قال‏:‏ ‏"‏لَا بَأْسَ، طَهُوْرٌ إنْ شَاءَ اللهُ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏
904. Dari Ibnu Abbas r.a. pula bahawasanya Nabi s.a.w. masuk ke tempat A'rab- penghuni pedalaman negeri Arab - untuk meninjaunya-kerana sakit-dan Nabi s.a.w. itu apabila masuk ke tempat orang sakit untuk meninjaunya, maka beliau mengucapkan - yang ertinya: Tidak ada halangan apa-apa. Ini sebagai pencuci dosa-dosamu Insya Allah." (Riwayat Bukhari)

وعن أبي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِي رضي الله عنه أنَّ جِبْرِيْلَ أتَي النَّبِيَّ،صلى الله عليه وسلم ، فقال‏:‏ يَا مُحَمّدًَ اَشْتَكَيْتَ‏؟‏ قال‏:‏ ‏"‏نَعَمْ‏"‏ قال‏:‏ بِسْمِ اللهِ أرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهِ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أرْقِيْكَ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
905. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahawasanya Jibril mendatangi Nabi s.a.w. lalu berkata: "Hai Muhammad, adakah anda sakit?" Beliau s.a.w. menjawab: "Ya." Jibril lalu mengucapkan - yang ertinya: "Dengan nama Allah, saya memberikan mantera-mantera padamu, dari segala macam bahaya yang menyakitkan dirimu, juga dari semua hati dan mata yang mendengki. Allah akan menyembuhkan penyakitmu. Dengan nama Allah, saya memberikan mantera-mantera padamu." (Riwayat Muslim)
وعن أبي سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِي وأبِي هُرَيْرَةَ، رضي الله عنهما، أنَّهُمَا شَهِدَا عَلَي رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، أنَّهُ قال‏:‏ ‏"‏مَنْ قال‏:‏ لا إله إلا اللهُ والله اكبرُ، صدَّقَهُ رَبُّهُ، فقال‏:‏ لا إله إلا أنا وأنا أكبرُ‏.‏ وإذا قال‏:‏ لا إله إلا الله وحده لا شريك له، قال‏:‏ يقول‏:‏ لا إله إلا أنا وَحْدِي لا شريك لِي‏.‏ وإذا قال‏:‏ لا إله إلا اللهُ له الْمُلْكُ وله الحمدُ، قال‏:‏ لا إله إلا أنا لِيَ الْمُلْكُ ولِيَ الحمدُ‏.‏ وإذا قال‏:‏ لا إله إلا الله ولا حول ولا قوة إلا بالله، قال‏:‏ لا إله إلا أنا ولا حول ولا قوة إلا بِي‏"‏ وكان يقول‏:‏ ‏"‏مَنْ قَالَهَا فِي مَرَضِهِ ثُمَّ مَاتَ لَمْ تَطْعَمْهُ النَّارُ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه الترمذي وقال‏:‏ حديث حسن‏)‏‏)‏
906. Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma bahawasanya keduanya itu menyaksikan Rasulullah s.a.w. bahawa beliau bersabda:
"Barangsiapa yang mengucapkan - yang ertinya: "Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah adalah Maha Besar," maka ucapannya itu akan dibenarkan oleh Tuhannya dan Tuhan berfirman: "Tiada tuhan selain Aku dan Aku adalah Maha Besar." Kemudian jikalau orang itu mengucapkan - yang ertinya: "Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutuNya," maka Tuhan berfirman: "Tiada Tuhan melainkan Aku yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiKu." Seterusnya apabila orang itu mengucapkan - yang ertinya: "Tiada Tuhan melainkan Allah, bagiNya adalah segenap kerajaan dan baginya pula segala puji-pujian," maka Allah berfirman: "Tiada Tuhan melainkan Aku, bagiKu segenap kerajaan dan bagiKu pula segala puji-pujian." Dan jikalau orang itu mengucapkan - yang ertinya: "Tiada Tuhan melainkan Allah dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah," maka Allah berfirman: "Tiada Tuhan melainkan Aku dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolonganKu."
Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengucapkan semua di atas itu di waktu sakitnya lalu ia meninggal dunia, maka ia tidak akan dapat dimakan oleh api neraka." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
[Riyadus Salikhin 2, hal. ]

Meminta Doa Orang Yang Sakit
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :

وعن عُمَرَ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذَا دَخَلَتْ عَلَى مَرِيْضٍ فَمَرَهُ فَلْيَدَعَ لَكَ. فَإِنَّ دَعَاءَ الْمَلَائِكَةُ
Dari Umar r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika engkau datang menjenguk si sakit, suruhah ia berdo’a untukmu, karena doanya seperti doa malaikat, yakni besar kemungkinan dikabulkan Allah” (HR.Ibnu Majah).
Pengarang Az-Zawa’id berkata, “Sanadnya sahih dan perawinya dapat dipercaya, tetapi hadits ini munqathi, artinya terputus,”
[Fiqih Sunnah 2, hal. 105]

Kesimpulan
1. Allah Subhanahu wata’la melalui RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan begitu banyak keutamaan bagi orang-orang yang menjenguk orang sakit.
2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mensyariatkan untuk mendo’akan orang yang sakit ketika kita menjenguknya.
3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan contoh-contoh do’a yang dibaca ketika menjenguk orang sakit.
4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mensyariatkan agar meminta do’a kepada orang yang sedang sakit.


Sumber Rujukan :
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
- Imam Nasa’I, Sunan An-Nasa’I (E-book)
- Abu Daud, Sunan Abu Daud (E-book)
- Imam Nawawi, Riyadus Salihin, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syufa, Semarang, 1994.

Minggu, 28 Februari 2010

MEMBACA YAA SIIN UNTUK MAYAT

MEMBACA YAA SIIN UNTUK MAYAT
Oleh : Masnun Tholab
Masnuntholab.blogspot.com

Di masyarakat ada kebiasaan membaca surat Yaa Siin untuk orang yang sedang sakaratul maut, ada pula yang membacanya setelah orang tersebut meninggal dunia, serta ada pula yang tidak membaca surat Yaa Siin baik pada orang yang sedang sakaratul maut maupun pada orang yang sudah meninggal dunia.
Uraian di bawah ini mudah-mudahan bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan kebiasaan tersebut.

وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ .
Dari Ma’qil bin Yasar r.a., katanya: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacakanlah Yasin untuk orang-orang yang mati diantara kalian” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan disohihkan oleh Ibnu Hibban)
Ibnul Qathan dalam kitab At-Talkhis berkata : “Abu Bakar Ibnul Arobi menukil dari Ad-Daruqutni, bahwa ia berkata, “Hadits ini dho’if sanadnya dan majhul matannya. Tidak ada satupun hadits yang shahih dalam bab ini”.
[Bulughul Maram, hal. 222].
Menurut Imam As-Suyuti dalam kitab Al-Jami’us Saghir hadits tersebut Hasan. Sedangkan menurut Syekh Muhammad Nasirudin Al-Albani hadits tersebut dho’if.
[Al-Jami’us Saghir 1, hal. 365].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
قال ابن حبان: أراد به من حضرته المنية لا أن الميت يقرأ عليه يس"
وأعله ابن القطان بالاضطراب والوقف، وبجهالة حال أبي عثمان وأبيه، ونقل عن الدارقطني أنه قال: هذا حديث مضطرب الإسناد مجهول المتن ولا يصح، وقال أحمد في مسنده: حدثنا أبو المغيرة: حدثنا صفوان قال: كانت المشيخة يقولون: إذا قرئت يس عند الميت خفف عنه بها.
Ibnu Hibban berkata : “Yang dimaksud dengan mautaakum di sini adalah orang yang sedang sakaratul maut, bukan orang yang telah menjadi mayat (sudah meninggal) dibacakan Yaa Siin”.
Tetapi hadits tersebut dinilai cacat oleh Ibnu Qathan karena termasuk hadits muththarib dan mauquf, karena tidak diketahui identitas Abu Utsman dan bapaknya itu.
Ad-Daruquthni meriwayatkan bahwa ia pernah berkata, “Hadits ini muththarib sanadnya, tidak dikenal dan tidak shahih”.
Ahmad mengatakan dalam Musnadnya, bahwa Shafwan pernah menceritakan kepada kami, ia mengatakan bahwa guru-gurunya pernah berkata, “Apabila surat Yaa Siin dibacakan pada orang yang telah mati, maka ia akan diringankan siksaan dan deritanya” (HR. Ahmad 4/109).
[Subulussalam 1, hal. 814]

وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: يس قلب القرأن, لابقرءوهارجل يريد الله والدرالأخرة إلا غفرله واقْرَؤُوها عَلَى مَوْتَاكُمْ.
Dari Ma’qil bin Yasar r.a., katanya: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yaa Siin adalah jantung Al-Quran dan tidak seorangpun yang membacanya dengan mengharapkan keridhaan Allah akan pahala akhirat, kecuali dia akan diampuni-Nya. Dan bacakanlah ia untuk orang-orang yang mati diantara kalian” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Hakim, dan disohihkan oleh Ibnu Hibban)
Sayyid Sabiq berkata dalam kita Fiqih Sunnah :
قال ابن حبان: أراد به من حضرته المنية لا أن الميت يقرأ عليه
ويويد هذا المعنى مارواه أحمد في مسنده عن صفوان قال: كانت المشيخة يقولون : إذا قرئت يس عند الميت خفف عنه بها واسنده صاحب مسند الفردوس الى ابى الدرداء وابى ذر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "ما من ميت يموت فتقرأ عند ه يس إلا هون الله عليه"
Ibnu Hibban berkata, “Mawta maksudnya adalah orang yang telah mendekati ajalnya. Jadi, maksudnya bukan dibacakan kepada mayat. Makna ini dikuatkan oleh keterangan yang diriwayatkan oleh Shafwan oleh Ahmad pada musnadnya yang mengatakan, ‘para orang tua terkemuka mengatakan, “Jika dibacakan Yaa Siin pada saat seseorang hendak meninggal, maka ia akan memperoleh keridhaan karenanya”. Sedangkan pengarang Musnad Al-Firdaus meneruskan sumbernya pada Abud Darda dan Abu dzar bahwa menurut mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Setiap orang yang hendak meninggal dengan dibacakan Yaa Siin di sisinya, ia akan diberi keringanan oleh Allah”
[Fiqih Sunnah 2, hal. 121]

Kesimpulan :
1. Ulama berbeda pendapat tentang derajat hadits mengenai Surat YaaSiin; ada yang berpendapat shahih, ada yang berpendapat Hasan, dan ada yang berpendapat dho’if.
2. Ulama berbeda pendapat tentang membaca surat Yaa Siin pada mayat; ada yang berpendapat dibaca sebelum meninggal, ada yang berpendapat setelah meninggal dunia.
Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam As-Suyuti, Al-Jami’us Shaghir, Bina Ilmu, Surabaya, 1993
- Imam Nasa’I, Sunan An-Nasa’I (E-book)
- Abu Daud, Sunan Abu Daud (E-book)
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Ash-Shan’ani, Subulussalam, Darus Sunnah, Jakarta, 2007.

Rabu, 24 Februari 2010

ZIARAH KUBUR

ZIARAH KUBUR
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Hadits-hadits tentang ziarah kubur
Hadits 1
Dari Buraidah Ibnu al-Hushoib al-Islamy Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا  
"Dulu aku melarang kamu sekalian menziarahi kuburan, sekarang ziarahilah ia." Riwayat Muslim No. 977. Tirmidzi (No. 1054). menambahkan: "Karena ia mengingatkan akan akhirat."

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam mengatakan :
 وحديث بريدة جمع فيه بين ذكر أنه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم كان نهى أولاً عن زيارتها ثم أذن فيها أخرى. وفي قوله: "فزوروها" أمر الرجال بالزيارة وهو أمر ندب اتفاقاً، ويتأكد في حق الوالدين لآثار في ذلك.
Hadits ini menghimpun dua macam kalimat yaitu yang pertama mengingatkan kita bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang ziarah kubur kemudian beliau mengizinkannya kembali. Perintahnya “Ziarahilah kubur” merupakan perintah kepada orang laki-laki, dan perintah itu hanya menunjukkan hokum sunnah, lebih-lebih menziarahi kubur orang tua. Ini sudah disepakati para ulama. [Subulussalam 1, hal.878]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan :
Larangan pada permulaan itu adalah karena masih dekatnya mereka dengan zaman jahiliyah. Dan dalam suasana ketika mereka masih belum dapat menjauhi sepenuhnya ucapan-ucapan kotor dan keji. Maka tatkala mereka menganut Islam dan merasa tenteram dengannya, serta mengetahui aturan-aturannya, diizinkanlah mereka oleh syara’ untuk berziarah. [Fiqih Sunnah 2, hal. 205].

Hadits 2
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, berkata :
زَارَ النَّبِيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى, وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فقال‏:‏ اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أنْ أسْتَغْفِرَ لَها فَلَمْ يُؤْذِنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ في أنْ أزُوْرَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي, فَزُوْرُوا الْقُبُوْرَ, فَإنَّها تُذَكِّرُ الْمَوْتَ
"Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berziarah ke kuburan ibunya. Beliau menangis se-hingga membuat orang-orang yang bersamanya menangis pula. Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Aku meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun buat ibuku tetapi Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya dan Dia mengizinkanku. Maka berziarah kuburlah, karena ia mengingatkan mati." (HR. Muslim. Mukhtashar Shahih Muslim, no. 495).
Imam al-Qurthubi dalam at-Tadzkirah, 1/28 berkata, "Para ula-ma berkata, 'Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dari-pada ziarah kubur, lebih-lebih jika hati tersebut membatu."

Hadits 3
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu,
أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ   أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melaknat wanita yang menziarahi kuburan. (HR.  Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
Al-Qurtubi mengatakan :
اللعن المذكور في الحديث إنما هو للمكثرات من الزيارة لما تقتضيه الصيغة من المبالغة ولعل السبب ما يفضي إليه ذلك من تضييع حق الزوج والتبرج وما ينشأ من الصياح ونحو ذلك وقد يقال إذا أمن جميع ذلك فلا مانع من الإذن لهن لأن تذكر الموت يحتاج إليه الرجال والنساء انتهى
“Laknat yang disebutkan dalam hadits itu adalah untuk para wanita yang sering berziarah, hal itu tampak dari redaksinya yang menggunakan sighah mubalaghah (kata yang mengandung arti sering).
Sebab pelarangannya mungkin karena bila wanita sering ziarah kubur akan mengantarkannya untuk menyia-nyiakan hak suami dan keluar dengan tabarruj. Di samping juga akan muncul teriakan-teriakan/suara keras dari si wanita di sisi kubur dan semisalnya. Dan dinyatakan bahwa bila aman dari terjadinya semua itu maka tidak ada larangan memberi izin kepada mereka untuk datang ziarah ke kubur, karena mengingat kematian dibutuhkan bagi laki-laki dan juga bagi wanita.” [Nailul Author 2 , hal. 248; lihat Fiqih Sunnah 2, hal. 209]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam mengatakan :
وقد قال بعض أهل العلم: إن هذا كان قبل أن يرخص النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم في زيارة القبور فلما رخص دخل في رخصته الرجال والنساء. وقال بعضهم: إنما كره زيارة القبور للنساء لقلة صبرهنّ وكثرة جزعهن
Sebagian Ulama berkata, “Bahwa hadits ini ada sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan ziarah kubur. Setelah beliau membolehkannya maka termasuk laki-laki dan perempuan”. Sebagian Ulama berkata, “Hanya makruh ziarah kubur itu bagi orang-orang perempuan karena mereka kurang sabar dan banyak keluh kesahnya”. [Subulussalam 1, hal.878]

Hadits 4
Dari Ibnu Abi Mulaikah,
‏أن عائشة أقْبَلَتْ ذَاتَ يَوْمَ مِنَ الْمَقَابِرِ فَقُلْتُ لَها‏:‏ يا أمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أيْنَ أقْبَلْتِ قَالَتْ‏:‏ مِنْ قَبْرِ أخِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقُلْتُ لَها‏:‏ ألَيْسَ كان نَهَى رسولُ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ قَالَتْ ‏:‏ نعم كان نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ ثم أمَرَ بِزِيَارَتِها
bahwasanya dia pernah melihat Aisyah menziarahi kuburan saudara laki-lakinya, Abdurrahman.”Aisyah ditanya,’Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  telah melarang hal ini.’Dia menjawab,’Ya, dahulu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarangnya kemudian memerintahkan untuk menziarahinya.” (HR. Baihaqi)

Hadits 5
Dari Buraidah , ia berkata berkata:
كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يُعَلِّمُهُمْ إذَا خَرَجُوْا إلى الْمَقَابِرِ أنْ يقولَ قَائِلُهُمْ : اَلسَّلَامُ عليكم أهلَ الدِّيَارِ من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ نَسْألُ اللَّهَ لنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajari mereka bila keluar ke kuburan agar mengucapkan, “Semoga sejahtera terlimpah atasmu wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin, insya Allah kami akan menyusulmu, kami mohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kamu sekalian”.(HR. Muslim).

Pendapat Para Ulama Tentang Ziarah Kubur
Asy-Syaukani berkata :
وقد ذهب إلى كراهة الزيارة للنساء جماعة من أهل العلم وتمسكوا بأحاديث الباب واختلفوا في الكراهة هل هي كراهة تحريم أو تنزيه .
وذهب الأكثر إلى الجواز إذا أمنت الفتنة واستدلوا بأدلة منها دخولهن تحت الإذن العام بالزيارة ويجاب عنه بأن الإذن العام مخصص بهذا النهي الخاص المستفاد من اللعن
“Segolongan ahli ilmu berpendapat makruhnya kaum wanita berziarah kubur, namun mereka berbeda pendapat, apakah makruhnya ini mendekati haram atau tidak.
Mayoritas berpendapat bahwa wanita boleh berziarah kubur bila terjaga dari terjadinya fitnah, mereka berdalih dengan sejumlah dalil, diantaranya bahwa wanita juga termasuk dalam izin umum untuk berziarah, namun alasan ini dibantah, bahwa keumuman izin tersebut dikhususkan oleh larangan ini yang menyatakan terlaknat,”

Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
(زيارة قبور لرجل) لا لانثى، فتكره لها. نعم، يسن لها زيارة قبر النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال بعضهم: وكذا سائر الانبياء، والعلماء، والاولياء.
Ziarah kubur disunnatkan bagi kaum laki-laki tetapi tidak disunnatkan bagi wanita, melainkan makruh. Betul demikian, tetapi wanita disunatkan ziarah ke makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ulama mengatakan, “Wanita disunnatkan pula berziarah ke makam nabi-nabi lainnya, para ulama dan para wali,” [Fathul Mu’in 1, hal.  ].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan :
رخص مالك وبعض الأحناف وروأبة أحمد وأكثر العلماء فى زيارة النساء للقبور
Malik, sebagian golongan Hanafi, suatu berita dari Ahmad, dan kebanyakan ulama memberi keringan bagi wanita untuk berziarah ke kubur. [Fiqih Sunnah 2, hal. 207].

Ibnul Qayim dalam kitab Zadul Maad berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bila menziarahi kubur, maksudnya adalah untuk mendoakan penghuninya, memohon rahmat dan ampunan bagi mereka. Sementara orang-orang musyrik justru meminta doa dari mayit, memohon pertolongan dan bantuan. Hal ini bertentangan dengan petunjuk beliau, yang justru menyatakan belas kasihan kepada mayit dan memohonkan ampunan serta kebaikan baginya”. [Zadul Maad 1, hal. 207].

Kesimpulan
  1. Para ulama sepakat (ijma’) bahwa ziarah kubur disunnahkan bagi laki-laki.
  2. Para ulama berbeda pendapat tentang wanita yang berziarah kubur. Sebagian ulama berpendapat dibolehkan ziarah kubur asal tidak terlalu sering, sebagian ulama berpendapat makruh.
Wallahu a’lam.


FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...