Minggu, 28 Februari 2010

MEMBACA YAA SIIN UNTUK MAYAT

MEMBACA YAA SIIN UNTUK MAYAT
Oleh : Masnun Tholab
Masnuntholab.blogspot.com

Di masyarakat ada kebiasaan membaca surat Yaa Siin untuk orang yang sedang sakaratul maut, ada pula yang membacanya setelah orang tersebut meninggal dunia, serta ada pula yang tidak membaca surat Yaa Siin baik pada orang yang sedang sakaratul maut maupun pada orang yang sudah meninggal dunia.
Uraian di bawah ini mudah-mudahan bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan kebiasaan tersebut.

وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ .
Dari Ma’qil bin Yasar r.a., katanya: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacakanlah Yasin untuk orang-orang yang mati diantara kalian” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan disohihkan oleh Ibnu Hibban)
Ibnul Qathan dalam kitab At-Talkhis berkata : “Abu Bakar Ibnul Arobi menukil dari Ad-Daruqutni, bahwa ia berkata, “Hadits ini dho’if sanadnya dan majhul matannya. Tidak ada satupun hadits yang shahih dalam bab ini”.
[Bulughul Maram, hal. 222].
Menurut Imam As-Suyuti dalam kitab Al-Jami’us Saghir hadits tersebut Hasan. Sedangkan menurut Syekh Muhammad Nasirudin Al-Albani hadits tersebut dho’if.
[Al-Jami’us Saghir 1, hal. 365].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
قال ابن حبان: أراد به من حضرته المنية لا أن الميت يقرأ عليه يس"
وأعله ابن القطان بالاضطراب والوقف، وبجهالة حال أبي عثمان وأبيه، ونقل عن الدارقطني أنه قال: هذا حديث مضطرب الإسناد مجهول المتن ولا يصح، وقال أحمد في مسنده: حدثنا أبو المغيرة: حدثنا صفوان قال: كانت المشيخة يقولون: إذا قرئت يس عند الميت خفف عنه بها.
Ibnu Hibban berkata : “Yang dimaksud dengan mautaakum di sini adalah orang yang sedang sakaratul maut, bukan orang yang telah menjadi mayat (sudah meninggal) dibacakan Yaa Siin”.
Tetapi hadits tersebut dinilai cacat oleh Ibnu Qathan karena termasuk hadits muththarib dan mauquf, karena tidak diketahui identitas Abu Utsman dan bapaknya itu.
Ad-Daruquthni meriwayatkan bahwa ia pernah berkata, “Hadits ini muththarib sanadnya, tidak dikenal dan tidak shahih”.
Ahmad mengatakan dalam Musnadnya, bahwa Shafwan pernah menceritakan kepada kami, ia mengatakan bahwa guru-gurunya pernah berkata, “Apabila surat Yaa Siin dibacakan pada orang yang telah mati, maka ia akan diringankan siksaan dan deritanya” (HR. Ahmad 4/109).
[Subulussalam 1, hal. 814]

وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: يس قلب القرأن, لابقرءوهارجل يريد الله والدرالأخرة إلا غفرله واقْرَؤُوها عَلَى مَوْتَاكُمْ.
Dari Ma’qil bin Yasar r.a., katanya: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yaa Siin adalah jantung Al-Quran dan tidak seorangpun yang membacanya dengan mengharapkan keridhaan Allah akan pahala akhirat, kecuali dia akan diampuni-Nya. Dan bacakanlah ia untuk orang-orang yang mati diantara kalian” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Hakim, dan disohihkan oleh Ibnu Hibban)
Sayyid Sabiq berkata dalam kita Fiqih Sunnah :
قال ابن حبان: أراد به من حضرته المنية لا أن الميت يقرأ عليه
ويويد هذا المعنى مارواه أحمد في مسنده عن صفوان قال: كانت المشيخة يقولون : إذا قرئت يس عند الميت خفف عنه بها واسنده صاحب مسند الفردوس الى ابى الدرداء وابى ذر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "ما من ميت يموت فتقرأ عند ه يس إلا هون الله عليه"
Ibnu Hibban berkata, “Mawta maksudnya adalah orang yang telah mendekati ajalnya. Jadi, maksudnya bukan dibacakan kepada mayat. Makna ini dikuatkan oleh keterangan yang diriwayatkan oleh Shafwan oleh Ahmad pada musnadnya yang mengatakan, ‘para orang tua terkemuka mengatakan, “Jika dibacakan Yaa Siin pada saat seseorang hendak meninggal, maka ia akan memperoleh keridhaan karenanya”. Sedangkan pengarang Musnad Al-Firdaus meneruskan sumbernya pada Abud Darda dan Abu dzar bahwa menurut mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Setiap orang yang hendak meninggal dengan dibacakan Yaa Siin di sisinya, ia akan diberi keringanan oleh Allah”
[Fiqih Sunnah 2, hal. 121]

Kesimpulan :
1. Ulama berbeda pendapat tentang derajat hadits mengenai Surat YaaSiin; ada yang berpendapat shahih, ada yang berpendapat Hasan, dan ada yang berpendapat dho’if.
2. Ulama berbeda pendapat tentang membaca surat Yaa Siin pada mayat; ada yang berpendapat dibaca sebelum meninggal, ada yang berpendapat setelah meninggal dunia.
Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam As-Suyuti, Al-Jami’us Shaghir, Bina Ilmu, Surabaya, 1993
- Imam Nasa’I, Sunan An-Nasa’I (E-book)
- Abu Daud, Sunan Abu Daud (E-book)
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Ash-Shan’ani, Subulussalam, Darus Sunnah, Jakarta, 2007.

Rabu, 24 Februari 2010

ZIARAH KUBUR

ZIARAH KUBUR
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Hadits-hadits tentang ziarah kubur
Hadits 1
Dari Buraidah Ibnu al-Hushoib al-Islamy Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا  
"Dulu aku melarang kamu sekalian menziarahi kuburan, sekarang ziarahilah ia." Riwayat Muslim No. 977. Tirmidzi (No. 1054). menambahkan: "Karena ia mengingatkan akan akhirat."

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam mengatakan :
 وحديث بريدة جمع فيه بين ذكر أنه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم كان نهى أولاً عن زيارتها ثم أذن فيها أخرى. وفي قوله: "فزوروها" أمر الرجال بالزيارة وهو أمر ندب اتفاقاً، ويتأكد في حق الوالدين لآثار في ذلك.
Hadits ini menghimpun dua macam kalimat yaitu yang pertama mengingatkan kita bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang ziarah kubur kemudian beliau mengizinkannya kembali. Perintahnya “Ziarahilah kubur” merupakan perintah kepada orang laki-laki, dan perintah itu hanya menunjukkan hokum sunnah, lebih-lebih menziarahi kubur orang tua. Ini sudah disepakati para ulama. [Subulussalam 1, hal.878]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan :
Larangan pada permulaan itu adalah karena masih dekatnya mereka dengan zaman jahiliyah. Dan dalam suasana ketika mereka masih belum dapat menjauhi sepenuhnya ucapan-ucapan kotor dan keji. Maka tatkala mereka menganut Islam dan merasa tenteram dengannya, serta mengetahui aturan-aturannya, diizinkanlah mereka oleh syara’ untuk berziarah. [Fiqih Sunnah 2, hal. 205].

Hadits 2
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, berkata :
زَارَ النَّبِيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى, وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فقال‏:‏ اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أنْ أسْتَغْفِرَ لَها فَلَمْ يُؤْذِنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ في أنْ أزُوْرَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي, فَزُوْرُوا الْقُبُوْرَ, فَإنَّها تُذَكِّرُ الْمَوْتَ
"Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berziarah ke kuburan ibunya. Beliau menangis se-hingga membuat orang-orang yang bersamanya menangis pula. Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Aku meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun buat ibuku tetapi Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya dan Dia mengizinkanku. Maka berziarah kuburlah, karena ia mengingatkan mati." (HR. Muslim. Mukhtashar Shahih Muslim, no. 495).
Imam al-Qurthubi dalam at-Tadzkirah, 1/28 berkata, "Para ula-ma berkata, 'Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati dari-pada ziarah kubur, lebih-lebih jika hati tersebut membatu."

Hadits 3
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu,
أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ   أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melaknat wanita yang menziarahi kuburan. (HR.  Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).
Al-Qurtubi mengatakan :
اللعن المذكور في الحديث إنما هو للمكثرات من الزيارة لما تقتضيه الصيغة من المبالغة ولعل السبب ما يفضي إليه ذلك من تضييع حق الزوج والتبرج وما ينشأ من الصياح ونحو ذلك وقد يقال إذا أمن جميع ذلك فلا مانع من الإذن لهن لأن تذكر الموت يحتاج إليه الرجال والنساء انتهى
“Laknat yang disebutkan dalam hadits itu adalah untuk para wanita yang sering berziarah, hal itu tampak dari redaksinya yang menggunakan sighah mubalaghah (kata yang mengandung arti sering).
Sebab pelarangannya mungkin karena bila wanita sering ziarah kubur akan mengantarkannya untuk menyia-nyiakan hak suami dan keluar dengan tabarruj. Di samping juga akan muncul teriakan-teriakan/suara keras dari si wanita di sisi kubur dan semisalnya. Dan dinyatakan bahwa bila aman dari terjadinya semua itu maka tidak ada larangan memberi izin kepada mereka untuk datang ziarah ke kubur, karena mengingat kematian dibutuhkan bagi laki-laki dan juga bagi wanita.” [Nailul Author 2 , hal. 248; lihat Fiqih Sunnah 2, hal. 209]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam mengatakan :
وقد قال بعض أهل العلم: إن هذا كان قبل أن يرخص النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم في زيارة القبور فلما رخص دخل في رخصته الرجال والنساء. وقال بعضهم: إنما كره زيارة القبور للنساء لقلة صبرهنّ وكثرة جزعهن
Sebagian Ulama berkata, “Bahwa hadits ini ada sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan ziarah kubur. Setelah beliau membolehkannya maka termasuk laki-laki dan perempuan”. Sebagian Ulama berkata, “Hanya makruh ziarah kubur itu bagi orang-orang perempuan karena mereka kurang sabar dan banyak keluh kesahnya”. [Subulussalam 1, hal.878]

Hadits 4
Dari Ibnu Abi Mulaikah,
‏أن عائشة أقْبَلَتْ ذَاتَ يَوْمَ مِنَ الْمَقَابِرِ فَقُلْتُ لَها‏:‏ يا أمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أيْنَ أقْبَلْتِ قَالَتْ‏:‏ مِنْ قَبْرِ أخِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقُلْتُ لَها‏:‏ ألَيْسَ كان نَهَى رسولُ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ قَالَتْ ‏:‏ نعم كان نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ ثم أمَرَ بِزِيَارَتِها
bahwasanya dia pernah melihat Aisyah menziarahi kuburan saudara laki-lakinya, Abdurrahman.”Aisyah ditanya,’Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  telah melarang hal ini.’Dia menjawab,’Ya, dahulu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarangnya kemudian memerintahkan untuk menziarahinya.” (HR. Baihaqi)

Hadits 5
Dari Buraidah , ia berkata berkata:
كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يُعَلِّمُهُمْ إذَا خَرَجُوْا إلى الْمَقَابِرِ أنْ يقولَ قَائِلُهُمْ : اَلسَّلَامُ عليكم أهلَ الدِّيَارِ من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ نَسْألُ اللَّهَ لنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajari mereka bila keluar ke kuburan agar mengucapkan, “Semoga sejahtera terlimpah atasmu wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin, insya Allah kami akan menyusulmu, kami mohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kamu sekalian”.(HR. Muslim).

Pendapat Para Ulama Tentang Ziarah Kubur
Asy-Syaukani berkata :
وقد ذهب إلى كراهة الزيارة للنساء جماعة من أهل العلم وتمسكوا بأحاديث الباب واختلفوا في الكراهة هل هي كراهة تحريم أو تنزيه .
وذهب الأكثر إلى الجواز إذا أمنت الفتنة واستدلوا بأدلة منها دخولهن تحت الإذن العام بالزيارة ويجاب عنه بأن الإذن العام مخصص بهذا النهي الخاص المستفاد من اللعن
“Segolongan ahli ilmu berpendapat makruhnya kaum wanita berziarah kubur, namun mereka berbeda pendapat, apakah makruhnya ini mendekati haram atau tidak.
Mayoritas berpendapat bahwa wanita boleh berziarah kubur bila terjaga dari terjadinya fitnah, mereka berdalih dengan sejumlah dalil, diantaranya bahwa wanita juga termasuk dalam izin umum untuk berziarah, namun alasan ini dibantah, bahwa keumuman izin tersebut dikhususkan oleh larangan ini yang menyatakan terlaknat,”

Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
(زيارة قبور لرجل) لا لانثى، فتكره لها. نعم، يسن لها زيارة قبر النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال بعضهم: وكذا سائر الانبياء، والعلماء، والاولياء.
Ziarah kubur disunnatkan bagi kaum laki-laki tetapi tidak disunnatkan bagi wanita, melainkan makruh. Betul demikian, tetapi wanita disunatkan ziarah ke makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ulama mengatakan, “Wanita disunnatkan pula berziarah ke makam nabi-nabi lainnya, para ulama dan para wali,” [Fathul Mu’in 1, hal.  ].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan :
رخص مالك وبعض الأحناف وروأبة أحمد وأكثر العلماء فى زيارة النساء للقبور
Malik, sebagian golongan Hanafi, suatu berita dari Ahmad, dan kebanyakan ulama memberi keringan bagi wanita untuk berziarah ke kubur. [Fiqih Sunnah 2, hal. 207].

Ibnul Qayim dalam kitab Zadul Maad berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bila menziarahi kubur, maksudnya adalah untuk mendoakan penghuninya, memohon rahmat dan ampunan bagi mereka. Sementara orang-orang musyrik justru meminta doa dari mayit, memohon pertolongan dan bantuan. Hal ini bertentangan dengan petunjuk beliau, yang justru menyatakan belas kasihan kepada mayit dan memohonkan ampunan serta kebaikan baginya”. [Zadul Maad 1, hal. 207].

Kesimpulan
  1. Para ulama sepakat (ijma’) bahwa ziarah kubur disunnahkan bagi laki-laki.
  2. Para ulama berbeda pendapat tentang wanita yang berziarah kubur. Sebagian ulama berpendapat dibolehkan ziarah kubur asal tidak terlalu sering, sebagian ulama berpendapat makruh.
Wallahu a’lam.


Minggu, 21 Februari 2010

TALKIN (Sebelum Meninggal)

TALKIN
(Sebelum Meninggal)
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Pengertian Talkin
Azzumardi Azra dkk dalam Ensiklopedi Islam menjelaskan : Talkin berasal dari kata laqqana yulaqqinu, yang berarti mendikte, mengajar dan memahamkan secara lisan. Di dalam istilah fiqih, talkin berarti bimbingan mengucap kalimat ikhlas (Laa ilaaha illallaah) atau kalimat syahadat yang diberikan kepada seorang mukmin yang dalam keadaan sakratul maut. Tujuan bimbingan ini ialah mengingatkan orang yang akan meninggal dunia itu pada tauhid, sehingga akhir ucapan yang keluar dari mulutnya adalah kalimat tauhid, yaitu Laa ilaaha illallaah.
[Ensiklopedi Islam 5, hal. 61].

Hadits-hadits Tentang Talkin
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya:
قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم { لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ }
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:"Ajarkanlah kepada orang-orang yang hendak mati di antara engkau semua itu dengan bacaan La ilaha illallah." (Riwayat Muslim no. 916, Tirmidzi no. 982, Abu Daud 3117, An-Nasa’I 1826, Ibnu Majah 1445)
[Riyadus Salikhin 2, hal. 70 ; Bulughul Maram, hal. 222].
Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam menafsirkan kata MAUTAAKUM. Sebagian berpendapat bahwa mautaakum artinya orang yang sudah mati (arti hakiki). Sebagian lagi berpendapat bahwa mautaakum diartikan orang yang belum mati (arti majazi). Pendapat yang kedua didasarkan dengan hadits yang lain :
Dari Mu'az r.a., katanya:
‏(‏سمعت رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول‏:‏ من كان آخر قوله لا إله إلا اللَّه دخل الجنة‏)‏‏.‏
" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang akhir percakapannya Laa ilaaha illallaah, maka ia akan masuk surga”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Hakim dan Hakim mengatakan bahwa ini adalah shahih isnadnya.
[Riyadus Salikhin 2, hal. 70]
Berdasarkan hadits tersebut maka arti yang seharusnya digunakan untuk mautaakum adalah arti majazi yaitu orang yang akan mati. Inilah pendapat mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi'i. [Ensiklopedi Islam 5, hal. 62]

Pendapat Para Ulama Tentang Talkin
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
والمراد "بموتاكم": موتى المسلمين. وأما موتى غيرهم، فيعرض عليهم الإسلام، كما عرضه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم على عمه عند السياق، وعلى الذمي الذي كان يخدمه، فعاده وعرض عليه الإسلام فأسلم
Yang dimaksud dengan mautakum adalah orang-orang muslim yang menjelang kematiannya. Adapun jika ia non Muslim maka ditawarkan kepadanya untuk memeluk agama Islam, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan kepada pamannya dalam keadaan sekarat dan juga kepada seorang zimmi yang menjadi pelayan beliau yang ia kunjungi ketika sakit, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan islam kepadanya sehingga orang tersebut masuk Islam. [Subulussalam 1, hal. 812]

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Author berkata :
‏قال النووي‏:‏ أي من حضره الموت والمراد ذكروه لا إله إلا اللَّه لتكون آخر كلامه كما في الحديث‏:‏ ‏(‏من كان آخر كلامه لا إله إلا اللَّه دخل الجنة‏)‏ والأمر بهذا التلقين أمر ندب وأجمع العلماء على هذا التلقين وكرهوا الإكثار عليه والموالاة لئلا يضجره لضيق حاله وشدة كربه فيكره ذلك بقلبه أو يتكلم بكلام لا يليق قالوا وإذا قاله مرة لا يكرر عليه إلا أن يتكلم بعده بكلام آخر فيعاد التعريض له به ليكون آخر كلامه‏.‏
Imam Nawawi (Ulama madzhab Syafi’i) berkata : “Para ulama telah sepakat tentang talqin ini, dan mereka menganggap makruh membanyakkannya karena hal itu bias mengguncangkan kondisinya yang sedang kesempitan dan beratnya derita sakaratul maut, sehingga dalam kondisi itu mungkin hatinya akan benci mengucapkannya atau malah mengucapkan perkataan yang tidak layak. Mereka juga mengatakan, “Bila disampaikan satu kali, maka tidak perlu diulang kecuali bila ia berbicara dengan perkataan lainnya maka diulang lagi penuntunan itu agar akhir ucapannya Laa ilaaha illallaah.
[Nailul Author 2, hal. 152; Subulussalam 1, hal. 812]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
وجمهورالعلماء على ان المحتضريقتصرفى تلقينه على لفض لا إله إلا اللَّه لظاهر الحديث .ويرى جماعة انه يلقن الشهادتين لأن المقصود تذكر التوحيد وهو يتوقف عليهما
Jumhur ulama berpendapat bahwa yang ditalkinkan kepada orang yang hendak meninggal itu cukup kalimat laa ilaaha illallaah berdasarkan zahir hadits. Tetapi segolongan lagi berpendapat bahwa yang diajarkan itu hendaknya dua kalimat syahadat, karena yang dituju adalah mengingatkan tauhid, sedangkan itu tergantung kepada kedua kalimat tersebut.
[Fiqih Sunnah 2, hal. 120].
Zainudin Al-Malibari Al-Fanani (Ulama madzhab Syafi’i) dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
(ويندب) أن يلقن محتضر - ولو مميزا على الاوجه - الشهادة: أي لا إله إلا الله، فقط - لخبر مسلم: لقنوا موتاكم - أي من حضره الموت - لا إله إلا الله مع الخبر الصحيح: من كان آخر كلامه لا إله إلا الله، دخل الجنة، أي مع الفائزين.
Menurut kaul yang termasyhur, sunat menalkini orang yang sedang sekarat –meskipun anak-anak yang baru mumayyiz- dengan ucapan syahadat, yakni Laa ilaaha illallaah. (Hal ini) berdassarkan hadits Muslim yang menyatakan : “Talkinilah mayat-mayatmu, -maksudnya orang yang sekarat- dengan ucapan : Laa ilaaha illallaah. Juga dinyatakan dalam hadits sahih (riwayat Abu Dawud) : “Barangsiapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallaah., tentu masuk surga” yaitu beserta orang-orang yang berbahagia.
وإلا فكل مسلم - ولو فاسقا - يدخلها، ولو بعد عذاب، وإن طال.
Jika maksud hadits itu bukan begitu, maka seluruh kaum muslim –sekalipun orang fasik- akan masuk surga meskipun sudah disiksa lama.
وقول جمع: يلقن محمد رسول الله أيضا، لان القصد موته على الاسلام، ولا يسمى مسلما إلا بهما مردود بأنه مسلم،
Adapun pendapat banyak ulama yang menyatakan bahwa, perlu juga ditalkini dengan ucapan Muhammadur Rasulullah, karena yang dimaksud adalah agar mati dalam keadaan islam, sedangkan tidak disebut muslim kecuali dengan kedua kalimat syahadat, adalah ditolak, sebab orang itu sendiri sudah muslim.

Ibnu Ruysd (Ulama madzhab Maliki) dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
ويستحب أن يلقن الميت عند الموت شهادة أن لا إله إلا الله، لقوله عليه الصلاة والسلام "لقنوا موتاكم شهادة أن لا إله إلا الله" وقوله "من كان آخر قوله لا إله إلا الله دخل الجنة"
Disunatkan mentalqin orang yang menghadapi kematian dengan ucapan Laa ilaaha illallaah karena ada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Talqinlah (bumbinglah) saudara-saudaramu yang menghadapi kematian dengan ucapan Laa ilaaha illallaah”
Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Barangsiapa yang di akhir hayatnya mengucapkan Laa ilaaha illallaah di masuk surga”
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 502].

Adapun cara-cara menalkin menurut ulama mazhab Syafi'i dan sejumlah ulama lainnya adalah sbb :
1. Dilakukan dengan suara yang lemah lembut
2. Tidak mendesak dan memaksakannya untuk mengucapkan kalimat syahadat.
3. Tidak dalam bentuk menyuruh seperti : "Katakan Laa ilaaha illallaah" tetapi cukup disebut kalimat itu sekedar di dengar oleh si sakit agar ia sadar dan dengan kemauannya sendiri mengucapkannya.
4. Jika yang sakit sudah mengucapkan kalimat syahadat itu sekali, jangan diulangi lagi kecuali jika ia mengucapkan kalimat lain sesudah itu.
5. Orang yang menalkin seyogyanya bukan orang yang mewarisi harta peninggalan si sakit dan bukan pula orang yang dengki padanya.
6. Jika yang ada ahli waris, yang dipilih adalah ahli waris yang paling sayang padanya.
--Ensiklopedi Islam 5, hal. 62.

Kesimpulan :
1. Mayoritas ulama sepakat bahwa mentalkin dilakukan kepada seseorang menjelang ajalnya (sebelum meninggal) agar ucapan terakhirnya Laa ilaaha illallaah.
2. Mayoritas ulama sepakat bahwa mentalkin seseorang menjelang ajalnya (sebelum meninggal) cukup dengan kalimat Laa ilaaha illallaah., tidak perlu ditambah Muhammadur Rasulullah.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Azzumardi Azra, MA, Prof.,Dr., Ensiklopedi Islam, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2002.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Imam As-Suyuti, Al-Jami’us Shaghir, Bina Ilmu, Surabaya, 1993
-Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi (E-book)
-Abu Daud, Sunan Abu Daud (E-book)
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Imam Nawawi, Riyadus Salihin, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syifa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002


TALKIN (Setelah Mayat Dimakamkan)

TALKIN
(Setelah Mayat Dimakamkan)
Oleh : Masnun Tholab

Mayoritas ulama bersepakat dianjurkannya mentalkin seseorang menjelang ajalnya (sebelum meninggal). Namun mereka tidak bersepakat atau berselisih pendapat mengenai mentalkin mayat setelah dimakamkan. Sebagian berpendapat sunnah, sebagian lainnya berpendapat makruh.
Berikut adalah dalil-dalil dan pendapat para ulama mengenai talkin pada mayat setelah dimakamkan.
عَنْ عُثْمَانَ قال‏:‏ ‏(‏كان النَّبِيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم إذا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عليه فقال‏:‏ اِسْتَغْفِرُوا لِأخِيْكم وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيْتَ فإنهُ الْآنَ يُسْئَلُ‏)‏‏.‏ رواه أبو داود‏.‏
Dari Utsman Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila selesai pemakaman mayit, beliau berdiri di atasnya dan bersabda: "Mintalah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan ketetapan hati untuknya sebab ia sekarang sedang di tanya." Riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Hakim.
وعن راشِدِ بْنِ سَعْدٍ وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ وَحَكِيْمِ بْنِ عُمَيْرٍ قالوا‏:‏ ‏(‏إذا سُوَِيَ على الْمَيِّتِ قَبْرُهُ وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ كانوا يَسْتَحِبُّوْنَ أن يُّقَالَ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ قَبْرِهِ يا فلانُ قُلْ لا إله إلا اللَّه أشهد أن لا إله إلا اللَّه ثلاثَ مَرَّاتٍ ,يا فلانُ قل رَبِّيَ اللَّهُ ودِيْنِيَ الْإسلامُ وَنَبِيِّ محمدٌ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ثم يَنْصَرِفُ‏)‏‏.‏ رواه سعيد في سننه‏.‏
Dari Rasyid bin Sa’d, Dlomrah Ibnu Habib dan Hakim bin Humair, mereka mengatakan “Bila tanah di atas kuburan telah rata dan orang-orang telah kembali, hendaknya diucapkan di atas kuburannya: Hai Fulan, katakanlah laa ilaaha illallah tiga kali; hai Fulan, katakanlah Allah Tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku. Kemudian mereka pulang” (Riwayat Said Ibnu Manshur dalam kitab Sunannya)
[lihat Bulughul Maram, hadits no. 583]
Asy-Syaukani berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏إذا فرغ من دفن الميت‏)‏ الخ فيه مشروعية الاستغفار للميت عند الفراغ من دفنه وسؤال التثبيت له لأنه يسئل
Sabda beliau (bila selesai pemakaman mayit ) menunjukkan disyariatkannya memohonkan ampunan untuk si mayat ketika selesai menguburkannya dan memohonkan keteguhan baginya, karena saat itu si mayat sedang ditanyai.
[Nailul Author 2, hal. 222]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
وقال في المنار: إن حديث التلقين هذا حديث لا يشك أهل المعرفة بالحديث في وضعه
Berkata pengarang Al-Manar (Ibnul Qayyim), “Sesungguhnya hadits talkin ini, hadits yang tidak diragukan oleh orang yang mengerti ilmu hadits tentang kepalsuannya”
[Subulussalam 1, hal. 877].


Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
استحب بعض اهل الم والشافعى أن يلقن الميت بعد دفن لما روه سَعِيْدِ بن منصور عن راشِدِ بْنِ سَعْدٍ وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ وَحَكِيْمِ بْنِ عُمَيْرٍ
Dianggap sunnah oleh Syafi’i dan ulama sunnah lainnya untuk menalkinkan mayat, yakni yang telah mukallaf, bukan anak kecil, setelah ia dikuburkan, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Said bin Manshur dari Rasyid bin Saad dan Dhamrah dan Hakim bin Umair. Mereka bertiga adalah tabi’in.
Sayyid Sabiq juga berkata :
وذهبت المالكية فى المشهورعنهم, وبعض الحنابلية, إلى أن ألتلقين مكروه. وقال الأثرم :قات لأحمد : هذا الذى يصنعونه, إذا دفن الميت, يقف الرجل وقول : يا فلابن فلانة . . . قال : ما رأيت إحدا يفعله إلا اهل الشام حين مات أبو المغيرة
Menurut keterangan yang masyhur mengenai pendapat golongan Maliki, begitu juga pendapat sebagian golongan Hambali, bahwa talqin itu hukumnya makruh.
Atsram berkata, “Aku tanyakan kepada Ahmad, ‘Inilah yang mereka perbuat. Bila mayat telah dikuburkan, seorang laki-laki berdiri dan mengatakan, ‘Wahai fulan anak si fulan…” Ujarnya, ‘Tidak seorangpun aku lihat melakukannya kecuali penduduk Syiria, yaitu ketika meninggalnya Abu Mughirah’.
[Fiqih Sunnah 2, hal. 183].

Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad berkata :
Diriwayatkan pula bahwa beliau menaburkan tanah ke kuburan, tepatnya ke bagian kepala mayit, sebanyak tiga kali. Jika penguburan sudah selesai, maka beliau berdiri di atas kuburan bersama para sahabat, memohonkan keteguhan bagi mayit dan memerintahkan agar mereka juga memohonkan hal sama. Beliau tidak duduk untuk membacakan sesuatu di dekat kuburan dan tidak pula mentalkinkan sesuatu seperti yang dikerjakan manusia pada zaman sekarang.
[Zaadul Ma’ad 1, hal. 64].

Zainudin bin Abdurrahman Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
و (تلقين بالغ، ولو شهيدا) كما اقتضاه إطلاقهم - خلافا للزركشي (بعد) تمام (دفن)
Sunat menalkini mayat yang telah balig –sekalipun mati syahid-, sesudah selesai menguburnya sebagaimana tujuan perkataan ulama yang memutlakkan. Berbeda dengan pendapat Imam Zarkasyi (dalam hal menalkini mayat syahid).
فيقعد رجل قبالة وجهه ويقول: يا عبد الله ابن أمة الله: اذكر العهد الذي خرجت عليه من
الدنيا: شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا رسول الله، وأن الجنة حق، وأن النار حق، وأن البعث حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور،
وأنك رضيت بالله ربا، وبالاسلام دينا، وبمحمد (ص) نبيا، وبالقرآن إماما، وبالكعبة قبلة، وبالمؤمنين إخوانا. ربي الله، لا إله إلا هو، عليه توكلت، وهو رب العرش العظيم.
Caranya
Seorang laki-laki (diantara pengantar jenazah) duduk di hadapan (yang sejajar dengan) wajah mayat, lalu berucap, “Wahai hamba Allah bin Amat Allah” (misal : Wahai Zaid bin Fatimah)! Ingatlah kamu akan janji yang telah kamu bawa keluar dari dunia yaitu, kesaksian bahwa tidak ada tuhan (yang wajib disembah) melainkan Allah (Yang Esa), tiada sekutu bagiNya dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah; sesungguuhnya surga itu haq (pasti) adanya; sesungguhnya neraka itu hak; sesungguhnya hidup itu hak; sesungguhnya hidup sesudah mati itu hak; sesungguhnya kiamat itu akan terjadi tidak diragukan lagi; sesungguhnya Allah akan membangkitkan kembali semua mayat dalam alam kubur; sesungguhnya engkau rela bahwa Allah adalah Tuhanmu, Islam agamamu, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam nabimu, Quran pemimpin hidupmu, kiblat tempat menghadapmu, dan semua kaum mukmin saudaramu. Tuhan Allah, tiada tuhan melainkan Dia, kepada-Nya lah aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘arasyi yang agung”

Kesimpulan :
Hukum mentalkin mayat setelah dikuburkan adalah sebagai berikut :
1. Mentalkin mayat setelah dikuburkan hukumnya sunnah. Ini merupakan pendapat Imam Syafi’i, Zainuddin al-Malibari.
2. Mentalkin mayat setelah dikuburkan hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad.
3. Mentalkin mayat setelah dikuburkan tidak disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak perlu dikerjakan. Ini merupakan pendapat Ibnul Qayyim.
Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
- Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi (E-book)
- Abu Daud, Sunan Abu Daud (E-book)
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syufa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995. Affiliate Program ”Get Money from your Website”

Minggu, 06 Desember 2009

SHALAT JUM'AT DI HARI RAYA

SHALAT JUMAT DI HARI RAYA
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com


Pendahuluan
Sering terjadi Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Jumat. Dalam kondisi demikian timbul permasalahan di kalangan umat islam apakah masih perlu untuk menghadiri shalat Jumat bagi orang yang sudah melaksanakan shalat Ied di pagi harinya, atau cukup shalat Ied saja, tidak perlu melaksanakan shalat Jum’at.
Berikut ini akan kami tuliskan perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal tersebut beserta alasan-alasan dan dalil-dalil masing-masing.

Pendapat Ulama Tentang Shalat Jumat pada Hari Raya
Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :
Diriwayatkan dari Abu Ubaid (bekas budak Ibnu Azhar) –
شهدت العيد مع عثمان بن عفان فجاء فصلى ثم انصرف فخطب فقال إنه قي اجتمع لكم في يومكم هذا عيدان فمن أحب من أهل اعلاية أن ينتظر الجمعة فلينتظرها ومن أحب أن يرجع فليرجع فقد أذنت له
“Saya menghadiri Shalat Hari raya bersama Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu, ia mengerjakan shalat lalu berpaling dan berkutbah seraya berkata, “Telah berkumpul atas kalian dua hari raya, maka barangsiapa termasuk dalam golongan orang-orang yang memiliki derajat tinggi, hendaklah ia menunggu Jum’at. Namun barangsiapa hendak kembali, maka kembalilah, karena saya telah memngizinkannya”
Imam Syafi’i berkata :
وإذا كان يوم الفطر يوم الجمعة صلى الإمام العيد حين تحل الصلاة ثم أذن لمن حضره من غير أهل المصر في أن ينصرفوا إن شاءوا إلى أهليهم ولا يعودون إلى الجمعة والاختيار لهم أن يقيموا حتى يجمعوا أو يعودوا بعد انصرافهم إن قدروا حتى يجمعوا وإن لم يفعلوا فلا حرج إن شاء الله تعالى
Apabila Idul Fitri bertepatan dengan hari Jum’at, maka imam boleh melaksanakan shlata Idul Fitri pada waktunya, kemudian mengizinkan orang-orang yang bukan dari penduduk setempat untuk kembali kepada keluarga mereka jika mereka menghendaki, dan melakukan shalat jum’at di tempat pemukimannya masing-masing. Imam memberikan pilihan kepada orang-orang yang menetap untuk menunggu shalat Jum’at, atau kembali lagi setelah pulang. Hal itupun jika mereka sanggup, lalu mereka melaksanakan shalat jum’at. Namun apabila mereka tidak sanggup, maka hal itu tidak mengapa. Insya Allah.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 337]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at, gugurlah kewajiban shalat Jum’at bagi orang yang telah mengerjakan shalat hari raya. Hal ini berdasarkan hadits dari Zaid bin Arqam, ia berkata,
صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمْعَةِ، ثُمَّ قَالَ: "مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ".
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat Hari Raya kemudian memberi kelonggaran dalam mengerjakan shalat Jum’at. Beliau bersasbda, ‘Siapa yang ingin mengerjakan shalat Jum’at maka kerjakanlah’” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Hakim)

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu,
عن رسول اللّه صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قال: "قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ : فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمْعَةِ، وَإِنَّا مُجْمَعُوْنَ"
“Pada harimu ini (Jum’at) telah berkumpul dua hari raya. Karena itu, barangsiapa yang mengerjakan shalat hari raya maka ia sudah mewakili shalat jum’atnya, tapi kami tetap melakukan shalat Jum’at” (HR. Abu Dawud no. 1073)

Sayyid Sabiq berkata : Menurut Mazhab Hambali, orang yang tidak mengerjakan shalat jumat karena sudah mengerjakan shalat hari raya, ia masih berkewajiban mengerjakan shalat zuhur. Tetapi pendapat yang lebih kuat adalah tidak wajib mengerjakan shalat zuhur sama sekali sebab ada riwayat Abu Dawud dari Ibnu Zubair yang menegaskan,
عِيْدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمِ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيْعاً، فَصَلَاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرِ
“Dua hari raya telah berhimpun dalam satu hari, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan keduanya dan mengerjakan shalat dua rekaat pada pagi harinya serta beliau tidak mengerjakan shalat lagi hingga beliau melakukan shalat ashar” (HR. Abu Dawud no. 1072)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 481].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
فقال قوم: يجزئ العيد عن الجمعة وليس عليه في ذلك اليوم إلا العصر فقط، وبه قال عطاء، وروي ذلك عن ابن الزبير وعلي.
Menurut Atha’ cukup shalat hari raya saja, tanpa shalat Jum’at dan zuhur. Ini diriwayatkan dari Ibnu Zubair dan Ali.
Diriwayatkan oleh Malik , dari Utsman :
مَنْ أَحَبَّ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمْعَةَ فَلْيَنْتَظِرْ، ومَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَلْيَرْجِعْ
“Barangsiapa dari penduduk pinggiran Madinah yang ingin menunggu shalat jum’at tunggulah. Dan barangsiapa yang ingin pulang pulanglah” (HR. Malik)

وقال مالك وأبو حنيفة: إذا اجتمع عيد وجمعة فالمكلف مخاطب بهما جميعا، العيد على أنه سنة، والجمعة على أنها فرض، ولا ينوب أحدهما عن الأخر، وهذا هو الأصل إلا أن يثبت في ذلك شرع يجب المصير إليه، ومن تمسك بقول عثمان، فلأنه رأى أن مثل ذلك ليس هو بالرأي وإنما هو توقيف، وليس هو بخارج عن الأصول كل الخروج. وأما إسقاط فرض الظهر والجمعة التي هي بدله لمكان صلاة العيد فخارج عن الأصول جدا، إلا أن يثبت في ذلك شرع يجب المصير إليه.
Menurut Malik dan Abu Hanifah, tidak ada perubahan hukum, tiap mukallaf tetap melaksanakan dua-duanya, karena shalat hari raya itu sunat sedangkan shalat jumat itu wajib, maka tidak bisa salat yang satu menggugurkan yang lain. Masing-masing tetap berjalan sesuai dengan hukum aslinya.
Apabila pendapat Utsman di atas diikuti , maka bukan sebagai dasar ijtihad, melainkan masalah tauqifi yang tidak menyimpang dari hukum aslinya. Sedangkan pendapat yang tidak mewajibkan shalat Jum’at dan Zuhur (pendapat Sayyid Sabiq, pen) benar-benar menyimpang jauh dari hukum asal, kecuali apabila ada nash yang mendasari.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 486].

Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Maad berkata :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan rukhsah (keringanan) kepada orang-orang yang menghadiri shalat Ied untuk mendengarkan khutbah atau pergi tanpa mendengarkannya. Jika ‘Ied jatuh pada hari Jumat, beliau memberikan rukhsah untuk tidak ikut shalat Jum’at.
[Zaadul Maad 1, hal. 49]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulus Salam berkata :
Dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Ied, dan beliau memberikan rukhsah (keringanan) untuk shalat Jum’at kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan untuk shalat maka shalatlah” (HR. Khamsah kecuali Tirmidzi, hadits ini disahihkan oleh Ibnu Khuzaemah)
Hadits ini menjadi dalil bahwa shalat jum’at setelah melaksanakan shalat Ied menjadi rukhsah, boleh dikerjakan boleh ditinggalkan. Ini terkhusus bagi orang yang melaksanakan shalat Ied, tidak bagi orang yang tidak melaksanakannya.
Beliau juga berkata : “Hadits Zaid bin Arqam telah disahihkan oleh Ibnu Khuzaemah, dan tidak ada yang mencela hadits ini selainnya, maka jelas hadits ini bisa menjadi takhsis (penghusus). Hadits ini mengkhususkan dalil umum (tentang wajibnya shalat Jum’at, pen) dengan hadits Ahad.
[Subulus Salam 1, hal. 709]

Kesimpulan :
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendapat para ulama tentang shalat jum’at pada hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha, terbagi menjadi empat kelompok sebagai berikut :
1. Bagi yang sudah melaksanakan shalat Ied, boleh meninggalkan shalat Jum’at dalam kondisi tertentu. (Pendapat Imam Syafi’i).
2. Bagi yang sudah melaksanakan shalat Ied, boleh meninggalkan shalat Jum’at sebagai suatu keringanan, tanpa syarat tertentu. (Pendapat Ibnul Qayim, Imam Ash-Shan’ani).
3. Bagi yang sudah melaksanakan shalat Ied, tidak perlu melakukan shalat Jum’at dan sahalat zuhur (Pendapat Sayyid Sabiq, Atha’, Ibnu Zubair).
4. Bagi yang sudah melaksanakan shalat Ied, tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at. (Pendapat Ibnu Rusyd, Imam Malik dan Abu Hanifah).

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, Pustaka Azzam, 2000.
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Abu Daud, Sunan Abu Daud, mawsoaat_hadeeth_chm_02 (E-book)


***Slawi, Oktober 2009

Rabu, 11 November 2009

BASMALAH DALAM SHALAT JAHR

BASMALAH DALAM SHALAT JAHR
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Pendahuluan
Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Di tengah masyarakat terdapat perbedaan cara imam dalam membaca basmalah dalam shalat jahr (membaca keras). Ada yang membaca basmalah dengan keras, dan ada yang membaca dengan lirih. Hal itu terjadi karena banyaknya hadits-hadits yang membicarakan tentang bacaan basmalah dalam shalat jahr, yang kelihatannya saling bertentangan satu sama lain.

Hadits-hadits tentang bacaan basmalah dalam shalat beserta penjelasannya

عن أنس بن مالك؛ أنه حدثه قال: صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ. فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ، وَلَا فِي آخِرِهَا

Dari Anas bin Malik, dia berkata "Aku biasa shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam., di belakang Abu Bakar, ''Umar dan ''Usman. Mereka hanya memulai bacaan dengan ''Alhamdulillahi rabbil ''alamin'' dan tidak pernah kudengar mereka membaca ''Bismillahirrahmanirrahim'' pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya. " [HR. Muslim no. 399]
[Nailul Authar 1/471; Bulughul Maram/134].

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar menambahkan :
وفي لفظ‏:‏ ‏(‏صليت خلف النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم وخلف أبي بكر وعمر وعثمان فكانوا لا يجهرون ببسم اللَّه الرحمن الرحيم‏)‏ رواه أحمد والنسائي بإسناد على شرط الصحيح‏.‏
ولأحمد ومسلم‏:‏ ‏(‏صليت خلف النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان وكانوا يستفتحون بالحمد للَّه رب العالمين لا يذكرون بسم اللَّه الرحمن الرحيم في أول قراءة ولا في آخرها‏)‏
ولعبد اللَّه بن أحمد في مسند أبيه عن شعبة عن قتادة عن أنس قال‏:‏ ‏(‏صليت خلف رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم وخلف أبي بكر وعمر وعثمان فلم يكونوا يستفتحون القراءة ببسم اللَّه الرحمن الرحيم‏)‏ قال شعبة‏:‏ فقلت لقتادة أنت سمعته من أنس قال‏:‏ نعم نحن سألناه عنه‏.‏
وللنسائي عن منصور بن زاذان عن أنس قال‏:‏ ‏(‏صلى بنا رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم فلم يسمعنا قراءة بسم اللَّه الرحمن الرحيم وصلى بنا أبو بكر وعمر فلم نسمعها منهما‏)‏‏.‏
Dalam lafadz lainnya disebutkan, “Aku shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam., di belakang Abu Bakar, 'Umar dan Usman. Mereka tidak menyaringkan bacaan 'Bismillahirrahmanirrahim'” [HR. Ahmad dan An-Nasa’i dengan sanad yang sesuai dengan syarat hadits sahih]
Dalam riwayat Ahmad dan Muslim, “Aku shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam., di belakang Abu Bakar, 'Umar dan Usman. Mereka membuka shalat dengan ‘Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin’, mereka tidak menyebutkan 'Bismillahirrahmanirrahim' pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya” [HR. Ahmad dan An-Nasa’i dengan sanad yang sesuai dengan syarat hadits sahih]
Dalam riwayat Abdullah bin Ahmad –di dalam kitab musnad ayahnya- disebutkan : Dari Syu’bah dari Qatadah dari Anas, ia berkata, “Aku shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam., di belakang Abu Bakar, 'Umar dan Usman. Mereka tidak membuka bacaan dengan 'Bismillahirrahmanirrahim'” Syu’bah mengatakan, “Aku katakana kepada Qatadah, ‘Apakah engkau mendengarnya dari Anas?’ ia menjawab, ‘Ya. Kami pernah menanykannya tentang itu’
Dalam riwayat An-Nasa’i yang bersumber dari Manshur bin Zadzan dari Anas bin Malik, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah shalat mengimami kami, dan beliau tidak memperdengarkan kepada kami bacaan 'Bismillahirrahmanirrahim', Abu Bakar dan Umar juga telah shalat mengimami kami, dan kami tidak pernah mendengarnya dari mereka (yakni bacaan 'Bismillahirrahmanirrahim')”
[Nailul Authar 2/138-139 (1/471-475)}.

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
والحديث دليل: على أن الثلاثة كانوا لا يسمعون من خلفهم لفظ البسملة عند قراءة الفاتحة جهراً، مع احتمال أنهم يقرءون البسملة سراً، ولا يقرءونها أصلاً، إلا أن قوله: (وفي رواية) أي عن أنس (لأحمد، والنسائي، وابن خزيمة: لا يجْهرون ببسم الله الرحمن الرحيم) يدل بمفهومه أنهم يقرءونها سراً،
والحديث قد استدل به من يقول: إن البسملة لا يجهر بها في الفاتحة، ولا في غيرها، بناء على أن قوله: ولا في اخرها مراد به أول السورة الثانية،
قال ابن عبد البر في الاستذكار: بعد سرده روايات حديث أنس هذه ما لفظه: هذا الاضطراب لا تقوم معه حجة لأحد من الفقهاء الذين يقرؤون بسم الله الرحمن الرحيم، والذين لا يقرؤونها. وقد سئل عن ذلك أنس فقال: كبرت سني ونسيت انتهى، فلا حجة فيه
Hadits ini menjelaskan bahwa ketiga orang tersebut tidak memperdengarkan bacaan basmalah kepada para makmum saat mereka mengerjakan shalat jahriyah. Hal ini mengandung dua kemungkinan; yang pertama mereka membacanya dengan suara lirih, atau kemungkinan kedua mereka tidak membacanya sama sekali. Hanya saja riwayat Anas yang diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah menyebutkan, “Mereka tidak mengeraskan bacaan ‘Bismillahirrahmanirrahiim’”. Hadits ini bisa dipahami bahwa mereka membacanya dengan suara lirih tidak terdengar.
Hadits ini merupakan dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa bacaan basmalah tidak dibaca dengan suara keras baik pada awal basmalah maupun pada ayat setelah absmalah, berdasarkan ungkapan hadits, ‘dan tidak pula diakhirnya’. Yang maksudny adalh bacaan Al-Qur’an setelah bacaan surat Al-Fatihah.
Setelah menuliskan hadits Anas di dalam ‘Al-Istidkar’ Ibnu Abdil Barr mengatakan, ”Karena kondisi hadits ini mudhthadarib (kacau), maka tidak bisa digunakan sebagai dalil oleh kedua belah pihak dari kalangan ulama fiqih. Dan Anas telah ditanya mengenai masalah tersebut, lalu ia menjawab, “Saya sudah tua dan saya telah lupa”
Maka, dengan begitu hadits tersebut tidak bisa digunakan sebagai dalil.
[Subulussalam 1/51 (1/458)].

Dari Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir, ia berkata:
كُنْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ ، فَقَرَأَ : بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ {وَلا الضَّالِّينَ} قَالَ : آمِينَ ، وَقَالَ: النَّاسُ آمِينَ ، وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ: الله أَكْبَرُ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الْجُلُوسِ قَالَ: الله أَكْبَرُ ، وَيَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم
“Aku shalat berada di belakang Abu Hurairah, beliau membaca bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca ummul qur’an sampai pada ayat walaadldlaalliin dan membaca amin, kemudian orang-orang juga mengikutinya membaca amin. Beliau ketika akan sujud membaca; Allahu Akbar dan ketika bangun dari duduk membaca; Allahu Akbar. Setelah salam beliau berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang shalatnya paling menyerupai Rasulullah di antara kalian.” [H.R. Ad-Daruqutni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 14. Menurut Daruqutni hadits ini shahih; H.R. al-Nasa’I, Bab Membaca Fatihah sebelum surat]
[Bulughul Maram/134].

Imam Ash-Shan’ani berkata :
وهو أصح حديث ورد في ذلك، فهو مؤيد للأصل، وهو كون البسملة حكمها: حكم الفاتحة في القراءة: جهراً، وإسراراً؛ إذ هو ظاهر في أنه كان صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم يقرأ بالبسملة؛ لقول أبي هريرة: "إني لأشبهكم صلاة برسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم"
Hadits ini adalah hadits paling shahih yang menjelaskan tentang masalah ini. Hadits ini menguatkan hukum asal basmalah. Bahwa hukumnya ialah seperti hukum surat Al-Fatihah. Dibaca jelas saat Al-Fatihah dibaca jelas, dan dibaca sirr (lirih) saat surat Al-Fatihah dibaca sirr. Karena sudah jelas bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah membacanya, berdasarkan ucapan Abu Hurairah, “Sungguh saya adalah orang yang paling menyerupai cara Shalat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam”
[Subulussalam 1/51 (1/460)]

وعن أبي هُريرة رضي الله عنه قال: قالَ رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: "إذا قرأتُمُ الفاتحة فاقْرَءُوا: بسم الله الرَّحمن الرحيم، فإنها إحْدى اياتها" رواه الدارقطني، وصَوَّبَ وَقْفَهُ.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila kamu membaca al-fatihah maka bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim, karena ia termasuk salah satu dari ayatnya." (HR. Daruquthni 312 yang menggolongkannya hadits mauquf.)
[Bulughul Maram /135]
Imam Ash-Shan’ani berkata :
لا يدل الحديث هذا على الجهر بها، ولا الإسرار، بل يدل على الأمر بمطلق قراءتها
Hadiits ini tidak memerintahkan untuk membaca basmalah dengan suara jelas dan tidak pula dengan suara lirih. Isyarat hadits hanya memerintahkan untuk membacanya, entah bagaimana caranya
[Subulussalam 1/52 (1/461)].

Imam al-Daruquthni juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا قَرَأَ وَهُوَ يَؤُمُّ النَّاسَ اِفْتَتَحَ الصَّلَاةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. (رواه الدارقطني
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membaca (fatihah), sedangkan beliau mengimami para shahabat, memulai shalat dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim.” [H.R. al-Daruquthni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 17].

Ibn Abdullah ibn Mughaffal berkata,
سَمِعَنِيْ أَبِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ أَقُوْلُ " بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ " فَقَالَ لِي: أي بني محدث إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ، قَالَ: وَلَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رسول الله صلى الله عليه وسلم كَانَ أَبْغَضُ إِلَيْهِ الْحَدَثَ فِي الْإِسْلَامِ، يَعْنِي مِنْهُ، وَقَالَ: وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعُ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُوْلُهَا، فَلَا تَقُلْهَا، إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ {اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
“Ayahku memperdengarkan kepadaku ketika aku di dalam sholat membaca “bismilla-hirrokhma-nirrikhi-m”, maka ia berkata kepadaku,”anakku, itu muhdats (hal baru/ bid’ah). Jauhilah olehmu hal-hal yang diada-adakan (bid’ah). Ia berkata, “Aku belum pernah melihat kebencian para sahabat Rasulullah melebihi kebenciannya terhadap hal-hal yang diada-adakan (bid’ah) dalam Islam. Dan aku telah shalat bersama dengan Nabi saw, dan bersama Abu Bakar, dan bersama Umar, dan bersama Usman. Dan belum pernah aku mendengar salah seorang dari mereka membacanya (bismilla-hirrokhma-nirrokhi-m). Oleh karena itu janganlah engkau membacanya. Dan jika engkau shalat bacalah dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”.
Menurut Abu ‘Isa al-Tirmizi, hadis ini berkualitas hasan. (HR. Tirmidzi, hadits no. 244)

Imam Asy-Syaukani berkata :
ـ قال المصنف ـ رحمه اللَّه‏:‏ قوله لا تقلها وقوله لا يقرؤونها أو لا يذكرونها ولا يستفتحون بها أي جهرًا بدليل قوله في رواية تقدمت ولا يجهرون بها
Mushannif berkata : Ucapan perawi ‘janganlah engkau membacanya’ atau ‘mereka tidak membacanya’ atau ‘mereka tidak menyebutkannya’ atau ‘mereka tidak memulai dengannya’ maksudnya adalah tidak menyaringkannya. Dalilnya adalah riwayat yang telah disebutkan tadi, yakni ‘dan mereka tidak menyaringkannya’.
[Nailul Authar 2/139 (1/474)].

Hadis dari Abdullah ibn ‘Abbas
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Abdullah ibn ‘Abbas berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memulai bacaan shalatnya dengan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”. (HR.Tirmidzi, bab “Memulai membaca Al-quran dengan Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin” hadits no. 245; HR. Daruqtni Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 6)

Hadits Dari Abu Hurairah RA :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ بِالْبَسْمَلَةِ
“bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (selalu) mengeraskan suaranya ketika membaca basmalah (dalam shalat)”. (HR Bukhari)
'Ali Nayif Biqa'i dalam tahqiq kitab Idza Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi menjelaskan:
"Ibn Khuzaimah berkata dalam kitab Mushannaf-nya menyatakan, pendapat yang menyatakan sunnah mengeraskan basmalah merupakan pendapat yang benar. Ada hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad yang muttashil (urutan perawi hadfts yang sampai langsung kepada Nabi Muhanzmad Shallallahu ‘alaihi wasallam), tidak diragukan, serta tidak ada keraguan dari para ahli hadfts tentang shahih serta muttashil-nya sanad hadfts ini. Lalu Ibn Khuzaimah berkata, telah jelas dan telah terbukti bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (dalam hadits tersebut) mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat.” (Ma’na Qawl al-Imam al-Muththalibi Izda Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi, hal 161)
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=15107&category_id=&hal=3

Pendapat Para Ulama
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اختلفوا في قراءة بسم الله الرحمن الرحيم في افتتاح القراءة في الصلاة، فمنع ذلك مالك في الصلاة المكتوبة جهرا كانت أو سرا، لا في استفتاح أم القرآن ولا في غيرها من السور، وأجاز ذلك في النافلة. وقال أبو حنيفة والثوري وأحمد يقرؤها مع أم القرآن في كل ركعة سرا، وقال الشافعي: يقرؤها ولا بد في الجهر جهرا وفي السر سرا
Bacaan basmalah sebelum membaca Al-Fatihah dan ayat al-Quran diperselisihkan para fuqaha. Malik berpendapat bahwa bacaan basmalah dalam semua shalat fardu itu dilarang. Larangan itu termasuk pula ketika shalat jahr (suara bacaan keras) atau sirr (bacaan tidak diperdengarkan) untuk surat Al-Fatihah atau ayat-ayat Al-Quran. Namun bacaan basmalah diperkenankan untuk shalat sunat.
Abu Hanifah, Tsauri, dan Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa bacaan basmalah hanya dibaca sirr bersama Al-Fatihah untuk setiap rekaat. Sedang Syafi’i berpendirian bahwa bacaan basmalah itu harus dibaca ketika shalat jahr atau sirr.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 272]

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
أن أنس بن مالك أخبره قال صلى معاوية بالمدينة صلاة فجهر فيها بالقراءة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم لأم القرآن ولم يقرأ بها للسورة التي بعدها حتى قضى تلك القراءة ولم يكبر حين يهوى حتى قضى تلك الصلاة فلما سلم ناداه من سمع ذلك من المهاجرين من كل مكان يا معاوية أسرقت الصلاة أم نسيت فلما صلى بعد ذلك قرأ بسم الله الرحمن الرحيم للسورة التي بعد أم القرآن وكبر حين يهوى ساجدا
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata : Muawiyah pernah melaksanakan shalat di Madinah lalu ia men-jahr-kan bacaan dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk ummul Qur’an, dan tidak membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah setelah surah Al-Fatihah sampai menyelesaikan bacaan itu.
Ia tidak bertakbir ketika membungkuk hingga selesai. Tatkala memberi salam ia diseru oleh orang yang mendengarnya-dari orang-orang Muhajirin- dari segala tempat, “Hai Muawiyah, apakah anda mencuri shalat atau lupa?” Sesudah itu ia membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah sesudah Ummul Qur’an, dan ia bertakbir ketika membungkuk untuk sujud.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 166]

Al-Qurtubhi berkata :
هذا قول حسن، وعليه تتفق الآثار عن أنس ولا تتضاد ويخرج به من الخلاف في قراءة البسملة. وقد روي عن سعيد بن جبير قال: هذا محمد يذكر رحمان اليمامة - يعنون مسيلمة - فأمر أن يخافت ببسم الله الرحمن الرحيم، ونزل: "ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها" [الإسراء:110].
Pendapat ini (membaca basmalah dengan samar bersama dengan surah al-Fatihah) adalah pendapat yang baik dan sesuai dengan atsar yang diriwayatkan dari Anas, serta tidak bertentangan dengannya. Pendapat inipun dapat mengeluarkan orang-orang dari silang pendapat seputar hokum membaca basmalah. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Jubair, dia berkata, “Dahulu orang musyrik selalu mendatangi masjid. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim, maka mereka berkata, ‘Muhammad ini sedang menyebutkan Rahman Al-Yamamah’ Maksud mereka adalah Musailamah. Oleh karena itulah beliau diperintahkan untuk menyamarkan bacaan bismillahirrahmaanirrahiim, lalu turunlah ayat : “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah kamu merendahkannya” (QS. Al-Israa : 110).
[Tafsir Al-Qurtubhi 1, hal. 249]

Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir berkata :
فهذه مآخذ الأئمة رحمهم الله في هذه المسألة وهي قريبة لأنهم أجمعوا على صحة من جهر بالبسملة ومن أسر ولله الحمد والمنة
Demikianlah dasar-dasar pengambilan pendapat para imam mengenai masalah ini, dan tidak terjadi perbedaan pendapat, karena mereka telah sepakat bahwa shalat bagi orang yang men-jahr-kan atau yang men-sirr-kan basmalah adalah sah. Segala Puji bagi Allah.
[Tafsir Ibnu Katsir 1, hal. 20]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
وقد جمع ابن القيم بين المذهب الأول والثاني فقال : كان النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يجهر "بسم الله الرحمن الرحيم" تارة, ويخفيها أكثر مما يحهر بها, ولا ريب أنه لم يحهر بها دائما في كل يوم وليلة خمس مرات أبدا, حصرا وسفرا, ويحفى ذلك على خلفائه الراشدين وعلى جمهور أصحابه وأهل بلده فى الأعصار الفاضلة
Ibnul Qayyim telah memberikan komentar :”Kadang-kadang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim dengan suara keras, tetapi beliau sering membacanya dengan suara perlahan. Merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwa beliau tidak selamanya membaca basmalah dengan suara keras, yakni sebanyak lima kali pada tiap siang dan malam, pada waktu bermukim maupun ketika bermusyafir. Hal inilah yang tidak disadari oleh para Khulafaur Rasyidin, sebagian besar sahabatnya, tabi’in dan tabi’it tabi’in”
[Fiqih Sunnah 1, hal. 191; Nailul Authar 1, hal. 474].

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
(مع بسملة) أي مع قراءة البسملة فإنها آية منها، لانه (ص) قرأها ثم الفاتحة وعدها آية منها. وكذا من كل سورة غير براءة
Membaca Fatihah itu disertai basmalah, sebab basmalah itu termasuk ayat Fatihah. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membaca basmalah sebagai ayat dari Fatihah. Begitu juga semua surat selain surat Bara’ah.
[Fat-hul Mu’in 1/48 (1/167)]

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab setelah menguraikan secara panjang lebar tentang pendapat-pendapat para ulama tentang mengeraskan dan melirihkan bacaan ‘basmalah’ dalam shalat jahr, maka dia menyimpulkan bahwa yang lebih utama adalah mengeraskan membaca ‘basmalah’ dalam shalat jahr.
[Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab 3/641-669].

Imam Asy-Syaukani setelah menguraikan panjang lebar tentang pendapat-pendapat para ulama tentang mengeraskan dan melirihkan bacaan ‘basmalah’ dalam shalat jahr, maka dia menyimpulkan sebagai berikut :
وأكثر ما في المقام الاختلاف في مستحب أو مسنون فليس شيء من الجهر وتركه يقدح في الصلاة ببطلان بالإجماع
Yang banyak mengandung perbedaan pendapat adalah mengenai statusnya mustahab (dianjurkan) atau sunnah. Jadi, menyaringkan atau tidak menyaringkan bacaan ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’ tidak menodai shalat dengan membatalkannya. Demikian menurut ijma’
[Nailul Authar 2/138-139 (1/471-475)}.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan bacaan) basmalah? Beliau menjawab: “Pendapat yang lebih kuat adalah mengeraskan bacaan basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya memang dikeraskan kadang-kadang sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeraskannya (HR. Nasa’i di dalam Al Iftitah Bab Qiro’atu bismillahirrahmaanirrahiim (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: Aku pernah shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan bismillahirrahmanirrahiim (HR. Muslim dalam kitab Shalat Bab Hujjatu man Qoola la yajharu bil basmalah (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 316-317)
http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html

Wallahu a’lam

Kesimpulan
1. Para ulama berbeda pendapat tentang keutamaan mengeraskan atau melirihkan bacaan ‘basmalah’ dalam shalat jahr. Sebagian berpendapat yang lebih utama mengeraskan bacaan ‘basmalah’, sebagian lainnya berpendapat yang lebih utama adalah melirihkannya.
2. Para Ulama sepakat bahwa orang yang mengeraskan atau melirihkan bacaan ‘basmalah’ dalam shalat jahr, kedua-duanya shalatnya sah.

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta, 2006.
-Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Imam Nawawi, Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab, Pustaka Azzam, 2010
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Imam Ad-Daruqutni, Sunan Ad-Daruqutni, mawsoaat_hadeeth_chm_02 (E-book)
-Imam Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, mawsoaat_hadeeth_chm_02 (E-book)
-Imam Nasa’i, Sunan An-Nasa’i, mawsoaat_hadeeth_chm_02 (E-book)
-http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=15107&category_id=&hal=3
-http://muslim.or.id/al-quran/faedah-seputar-basmalah.html

Slawi, April 2011

Rabu, 04 November 2009

MEMBACA FATIHAH DALAM SHALAT BERJAMA’AH-1

MEMBACA FATIHAH DALAM SHALAT BERJAMA’AH
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan umat islam apakah dalam shalat berjamaah, makmum harus membaca Al-Fatihah atau tidak. Sebagian ulama berpendapat makmum wajib membaca surat Al-Fatihah, sebagian lagi berpendapat tidak wajib.

Hadits-hadits Tentang Perintah Membaca Al-Fatihah
Dari Ubadah bin Shamit, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak (sah) shalat bagi seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." (HR.Bukhari, Azan/714; Tirmidzi 247)

Dari Abu Hurairah RA :
أن رسول اللّه صلى الله عليه وسلم انصرف مِنْ صَلَاةٍ جَهَرَ فِيْهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ "هَلْ قَرَأَ مَعِيْ أَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفاً"؟ فَقَالَ رَجُلٌ: نَعَمْ يارسول اللّه، قال: "إِنِّي أَقُوْلَ مَا لِيْ أُنَازِعُ الْقُرْآنَ"؟ قال: فَانْتَهَى النَّاسَ عَنِ الْقِرَاءَةِ مَعَ رسول اللّه صلى الله عليه وسلم فِيْمَا جَهَرَ فِيْهِ النبي صلى الله عليه وسلم بالْقِرَاءَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ حِيْنَ سَمِعُوْا ذَلِكَ مِنْ رسول اللّه صلى الله عليه وسلم
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesudah mendirikan sholat yang beliau keraskan bacaanya dalam sholat itu, beliau bertanya: "Apakah ada seseorang diantara kamu yang membaca bersamaku tadi?" Maka seorang laki-laki menjawab, "Ya ada, wahai Rasulullah." Kemudian beliau berkata, "Sungguh aku katakan: Mengapakah (bacaan)ku ditentang dengan Al-Qur-an (juga)." Berkata Abu Hurairah, kemudian berhentilah orang-orang dari membaca bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada sholat-sholat yang Rasulullah keraskan bacaannya, ketika mereka sudah mendengar (larangan) yang demikian itu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR. Abu Dawud 826, Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan).

Dari Ubadah bin Shamit :
صَلَّى بِنَا رسول الله صَلَاةَ الْغَدَاةِ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قال: إِنِّي لِأَرَاكُمْ تَقْرَءُوْنَ وَرَاءَ الْإِمَامِ، قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: فَلَا تَفْعَلُوْا إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ
 “Kami pernah melakukan sholat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada sholat Shubuh. Beliau merasa berat untuk membaca (Alqur’an/Al-Fatihah). Setelah berpaling (selesai sholat), beliau saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku melihat kaum sekalian (mengetahuimu), (apakah) kamu membaca dibelakang imam kalian?’.Kami menjawab; ‘Ya’. Beliau saw. bersabda; ’Jangan kalian lakukan kecuali dengan (membaca) Ummu Al-Kitab (Al-Fatihah), karena tidak ada sholat (yang sah) bagi orang yang tidak membacanya’”.  (HR.Imam Ahmad , Abu Dawud , Imam Tirmidzi )


Dari Jabir, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  :
مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامً فَقَرَاءَةُ الْإِمَامَ لَهُ قَرَاءَ ةٌ
"Siapa mengikuti imam (dalam shalat), maka bacaan imam adalah bacaan baginya." (HR. Ibnu Majah)
Catatan : Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam mengatakan : Hadits tersebut adalah hadits mursal (terputus), sehingga ia tidak bisa digunakan sebagi dalil. [Subulussalam 1, hal. 455]
Hadits yang menurut Ahmad Shahih :
وَإِذَا قَرَأَالْإِمَامُ فَأَنْصِتُوا
 “Kalau (imam) membaca, maka kalian hendaknya diam”. (HR. Ahmad).

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
Di dalam menjamak beberapa hadits di atas, kalangan fuqaha saling berbeda. Terdapat fuqaha yang mengecualikan bacaan al-Fatihah dari seluruh bacaan dalam shalat ketika imam membaca dengan jahr (keras). Dasarnya adalah hadits Ubadah bin Shamit di atas. Di lain pihak, ada fuqaha  yang berpendirian bahwa yang dikecualikan adalah bacaan makmum ketika imam membaca dengan keras, karena adanya larangan yang tersebut di dalam hadits Abu Hurairah di atas. Larangan di dalam hadits tersebut diperjelas oleh ayat :
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf 6 : 204)
Mereka berpendapat perintah dalam ayat tersebut hanya berlaku dalam shalat.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 349]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam mengatakan :
Secara zhahir, hadits tersebut (Hadits Ubadah bin Shamit ) menjelaskan bahwa surat tersebut dibaca baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah. Baik untuk orang yang mengerjakan shalat sendirian maupun sebagai makmum. Karena zhahir hadits ini menjelaskan hokum untuk orang yang mengerjakan shalat sendirian. Sedangkan seorang makmum tiodak diragukan bahwa ia termsuk dalam hokum ini.
Penjelasan di atas diperkuat oleh hadits Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban,
“Apakah kalian membaca sesuatu di belakang imam kalian?” Kami menjawab; ‘Ya’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ’Jangan kalian lakukan kecuali dengan (membaca) Ummu Al-Kitab (Al-Fatihah), karena tidak ada sholat (yang sah) bagi orang yang tidak membacanya’”.
Hadits ini dengan jelas menyebutkan wajibnya membaca surat Al-Fatihah bagi makmum. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim bahwa perintah tersebut bersifat umum, mencakup shalat jahriyah maupun shalat sirriyah dalam setiap rekaat.
[Subulussalam 1/50 (1/454)]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Pada asalnya shalat itu tidak sah kecuali dengan membaca surah Al-Fatihah pada setiap rekaat shalat fardhu maupun shalat sunnah sebagaimana telah dikemukakan pada pembahasan fardhu-fardhu shalat. Akan tetapi kewajiban membaca bagi makmum digugurkan ketika mengerjakan shalat-shalat yang mesti dikeraskan suaranya dan ia wajib diam dan mendengarkan abcaan imam. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :
“Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-A’raf 6 : 204)
Juga karena sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
إِذَ ا كَبَّرَ الْإِمَامُ فَكَبِّرُوْا وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا ".
"Apabila imam bertakbir, bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil memperhatikan bacaan imam itu)…"(HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud no. 603 & 604).
[Fiqih Sunnah 1/223-224]
Syaikh Imam Al-Qurtubhi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi berkata :
Saat berada di Irak, Asy-Syafi’i pernah berkata tentang seorang makmum, “Makmum harus membaca Al-Fatihah jika imam tidak mengeraskan bacaannya. Tapi dia tidak wajib membacanya jika imam mengeraskan bacaannya”. Pendapat ini persis seperti pendapat yang masyhur dalam madzhab Malik. Sementara di Mesir, Asy-Syafi’i berkata, “Untuk shalat dimana imam mengeraskan bacaannya, maka dalam hal ini ada dua pendapat : Pertama, makmum harus membaca Al-Fatihah. Kedua, akan dianggap cukup baginya jika dia tidak membaca surah Al-Fatihah dan hanya mengandalkan bacaan imam. [Tafsir Al-Qurthubi 1, hal. 304]

Imam Nawawi dalam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
وإذا قلنا يقرأ المأموم في الجهرية فلا يجهر بحيث يغلب جهره بل يسر بحيث يسمع نفسه لو كان سميعا فإن هذا أدنى القراءة  ويستحب للامام على هذا القول أن يسكت بعد الفاتحة قدر قراءة المأموم لها
Jika kita katakan, “Makmum harus membaca Al-Fatihah dalam shalat yang dibaca dengan suara keras, dan hendaklah dia tidak mengangkat suara melebihi suara imam, akan tetapi hendaklah dia membacanya dengan sirr (pelan) sehingga hanya didengar oleh dirinya sendiri jika dia dapat mendengar. Inilah standar minimal surah Al-Fatihah. Berdasarkan pendapat ini, maka seorang imam dianjurkan untuk diam setelah membaca Al-Fatihah yang lamanya sekitar selesainya makmum membaca Al-Fatihah” [Raudhatuth Thalibin 1/221 (1/513)].

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fat-hul Mu’in berkata :
يسن للامام أن يسكت في الجهرية بقدر قراءة المأموم الفاتحة - إن علم أنه يقرؤها في سكتة - كما هو ظاهر، وأن يشتغل في هذه السكتة بدعاء أو قراءة، وهي أولى
Pada shalat jahriyah imam disunatkan berdiam sebentar (jangan cepat-cepat membaca surat), seukuran makmum membaca Fatihah. Bila ia mengetahui makmum membaca Fatihah ketika ia diam itu, hendaknya ia menyibukkan diri dengan membaca do’a atau membaca Quran. Hal itu lebih utama.
[Fat-hul Mu’in 1/80 (1/181)]

Abu Bakar Ibnu Arabi mengatakan dalam kitab Fiqih Sunnah :
Jika ada orang yang bertanya, sebenarnya makmum dibolehkan membaca Al-Quran, yaitu sewaktu imam itu berhenti sejenak. Jawabnya adalah berhenti bukanlah suatu keharusan bagi imam. Lantas bagaimanakah caranya melakukan atau memaksakan sesuatu yang fardhu ke dalam perkara yang tidak fardhu, apalagi pada waktu mengerjakan shalat yang harus menyarungkan suara bacaan? Sebenarnya, kita sebagai makmum mempunyai kesempatan untuk membaca ayat Al-Quran dengan cara lain, yaitu membacanya dalam hati, seperti merenung dan memikirkan maknanya.
[Fiqih Sunnah 1/223-224]

Kesimpulan :
1.     Mayoritas ulama berpendapat bahwa Al-Fatihah wajib dibaca pada setiap rekaat shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah.
2.    Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca Al-Fatihah bagi makmum yang shalat di belakang imam. Sebagian berpendapat makmum tetap wajib membaca Al-Fatihah, sebagian berpendapat makmum tidak wajib membaca Al-Fatihah, karena membaca Al-Fatihah sudah dilakukan oleh imam.
Wallahu a’lam.


FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...