Minggu, 22 Juli 2018

YANG DIWAJIBKAN SHALAT JUM’AT


YANG DIWAJIBKAN SHALAT JUM’AT
Oleh : Masnun Tholab

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Yang Diwajibkan Shalat Jum’at
Dari Abdullah bin Amr, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
الْجُمُعَةُ عَلَى مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ
Shalat jum’at wajib atas orang yang mendengar seruan adzan (HR. Abu Dawud)

وَالدَّارَقُطْنِيّ وَقَالَ فِيهِ: «إنَّمَا الْجُمُعَةُ عَلَى مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ» .
Diriwayatkan juga oleh Ad-Daruquthni, dia berkata : “Sesungguhnya diwajibkan shalat jum’at atas orang yang mendengar adzan”

Asy-Syaukani berkata :
وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى أَنَّ الْجُمُعَةَ لَا تَجِبُ إلَّا عَلَى مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ، حَكَى ذَلِكَ التِّرْمِذِيُّ عَنْهُمْ، وَحَكَاهُ ابْنُ الْعَرَبِيِّ عَنْ مَالِكٍ، وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَاوِي الْحَدِيثِ. وَحَدِيثُ الْبَابِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ الْمَقَال الْمُتَقَدِّم فَيَشْهَد لِصِحَّتِهِ قَوْله تَعَالَى: {إذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ} . الْآيَة. إِلِى أَنْ قَالَ: وَقَدْ حَكَى الْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ عَنْ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ أَنَّهُمْ يُوجِبُونَ الْجُمُعَة عَلَى أَهْل الْمِصْر وَإِنْ لَمْ يَسْمَعُوا النِّدَاء
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat jum’at tidak wajib kecuali atas orang yang mendengar adzan. Demikian pendapat Asy-Syafi’i, Ishaq dan At-Tirmidzi yang menuturkan pendapat dari mereka, juga yang diceritakan oleh Ibnu Al-Arabi dari Malik, serta Abdullah bin  Amr yang meriwayatkan hadits ini. Hadits tersebut meskipun diperbincangkan oleh para ahli hadits, namun kesahihannya diperkuat oleh firman Allah Ta’ala,, “Apabila diseru untuk menunaikan shalat  pada hari jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah,” (QS. Al-Jumu’ah : 9).
Al-Iraqi mengemukakan di dalam Syarah At-Tirmidzi dari Syafi’i, Malik dan Ahmad bin Hanbal, bahwa mereka mewajibkan Jum’at atas setiap penduduk kota walaupun tidak mendengar suara adzan.  [Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar, 2/25].

Thariq bin Syihab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِ أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ
“Jum’atan adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, selain atas empat (golongan): budak sahaya, wanita, anak kecil, atau orang yang sakit.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan no. 1067. An-Nawawi rahimahullah menyatakannya sahih dalam al-Majmu’ 4/349)
قَالَ: وَطَارِقُ بْنُ شِهَابٍ قَدْ رَأَى النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - وَلَمْ يَسْمَع مِنْهُ شَيْئًا.
Abu Dawud mengatakan : Thariq bin Syihab memang pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ia tidak pernah mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
[Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar, 2/24].

Ancaman Bagi Yang Meninggalkan Shalat Jum’at
Dari Abu Hurairah beliau berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
 أَلَا هَلْ عَسَى أَحَدُكُمْ أَنْ يَتَّخِذَ الصُّبَّةَ مِنْ الْغَنَمِ عَلَى رَأْسِ مِيلٍ أَوْ مِيلَيْنِ فَيَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ الْكَلَأُ فَيَرْتَفِعُ وتَجِيءُ الْجُمُعَةُ فَلا يَشْهَدُهَا، وَتَجِيءُ الْجُمُعَةُ فَلَا يَشْهَدُهَا، حَتَّى يَطْبَعَ عَلَى قَلْبِهِ.
 “Ada seseorang yang membawa sekumpulan kambing sejauh jarak 1 atau 2 mil tidak mendapatkan padang gembalaan sehingga naik ke atas lagi kemudian datang waktu sholat Jumat dia tidak mendatanginya, datang Jumat berikutnya ia tidak mendatanginya, datang Jumat berikutnya ia tidak mendatanginya, sampai hatinya menjadi tertutup”. (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)
Asy-Syaukani berkata :
وَالْحَدِيثُ فِيهِ الْحَث عَلَى حُضُورِ الْجُمُعَةِ وَالتَّوَعُّدُ عَلَى التَّشَاغُلِ عَنْهَا بِالْمَالِ. وَفِيهِ أَنَّهَا لَا تَسْقُط عَمَّنْ كَانَ خَارِجًا عَنْ بَلَد إقَامَتهَا وَإِنَّ طَلَبَ الْكَلَأ وَنَحْوه لَا يَكُون عُذْرَا فِي تَرْكهَا
Hadits ini mengandung anjuran untuk menghadiri shalat jum’at dan ancaman bagi yang meninggalkannya karena alasan sibuk mengurusi kekayaan. Hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban melaksanakan shalat jum’at tidak gugur dari orang  yang berada di wilayah tempat tinggalnya, diluar walaupun  ia sedang mencari rumput atau lainnya, karena hal itu tidak termasuk udzur yang membolehkannya meninggalkan shalat jum’at. [Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar, 2/26].

Abu Hurairoh dan Ibnu Umar bahwa keduanya pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diatas mimbar bersabda,
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ
”Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatan meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
وَهَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أَعْظَمِ الزَّوَاجِرِ عَنْ تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالتَّسَاهُلِ فِيهَا، وَفِيهِ إخْبَارٌ بِأَنَّ تَرْكَهَا مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْخِذْلَانِ بِالْكُلِّيَّةِ، وَالْإِجْمَاعُ قَائِمٌ عَلَى وُجُوبِهَا عَلَى الْإِطْلَاقِ
Hadits ini merupakan ancaman yang paling besar dari meninggalkan shalat jum’at dan menggampangkannya. Di dalamnya ada khabar bahwa meninggalkannya merupakan sebab yang paling besar bagi kehinaan. Kita telah mengetahui barangsiapa yang menggampangkan shalat jum’at dalam satu minggu sampai minggu berikutnya sampai kemudian ia diharamkan untuk menghadiri shalat jum’at, karena kehinaan yang menyeluruh. Dan ijma’ telah ditetapkan tentang wajibnya shalat jum’at. [Subulussalam, 1/690].

Hukum Shalat Jum’at Bagi Musafir
Dari Umar bin Khattab RA,
أَنَّهُ أَبْصَرَ رَجُلًا عَلَيْهِ هَيْئَةُ السَّفَرِ فَسَمِعَهُ يَقُولُ: لَوْلَا أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ جُمُعَةٍ لَخَرَجْتُ، فَقَالَ عُمَرُ: اُخْرُجْ فَإِنَّ الْجُمُعَةَ لَا تَحْبِسُ عَنْ سَفَرٍ.
Bahwa ia melihat seseorang yang akan melakukan perjalanan, kemudian beliau mendengar ucapannya, “Seandainya hari ini bukan hari jum’at, niscaya aku akan bepergian’. Maka Umar berkata, “Silahkan engkau pergi, sesungguhnya shalat jum’at tidak menghalangimu dari bepergian”. (HR. Syafi’i dalam musnadnya)

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ
Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir.” (HR. Ad Daruquthni, namun sanadnya dho’if)
Dari Jabir radliyallah 'anhu, dia berkata,
"Ketika sampai di perut lembah pada hari 'Arafah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam singgah lalu menyampaikan khutbah kepada orang-orang. Setelah beliau selesai berkhutbah, Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah. Selanjutnya beliau menunaikan shalat Dhuhur. Setelah itu, Bilal mengumandangkan Iqamah lalu beliau menunaikan shalat 'Ashar." (HR. Muslim no. 1218)

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
وَالْمُسَافِرُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ حُضُورُهَا، وَهُوَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرَادَ بِهِ مُبَاشِرُ السَّفَرِ، وَأَمَّا النَّازِلُ فَيَجِبُ عَلَيْهِ وَلَوْ نَزَلَ بِمِقْدَارِ الصَّلَاةِ، وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنْ الْآلِ وَغَيْرِهِمْ، وَقِيلَ: لَا تَجِبُ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ دَاخِلٌ فِي لَفْظِ الْمُسَافِرِ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنْ الْآلِ أَيْضًا، وَهُوَ الْأَقْرَبُ؛ لِأَنَّ أَحْكَامَ السَّفَرِ بَاقِيَةٌ لَهُ مِنْ الْقَصْرِ وَنَحْوِهِ وَلِذَا لَمْ يُنْقَلْ أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّى الْجُمُعَةَ بِعَرَفَاتٍ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ؛ لِأَنَّهُ كَانَ مُسَافِرًا وَكَذَلِكَ الْعِيدُ تَسْقُطُ صَلَاتُهُ عَنْ الْمُسَافِرِ وَلِذَا لَمْ يُرْوَ أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّى صَلَاةَ الْعِيدِ فِي حَجَّتِهِ تِلْكَ، وَقَدْ وَهَمَ ابْنُ حَزْمٍ فَقَالَ: إنَّهُ صَلَّاهَا فِي حَجَّتِهِ وَغَلَّطَهُ الْعُلَمَاءُ.
Tidak wajib bagi musafir untuk menghadiri shalat jum’at. Ini dapat dipahami bahwa yang dimaksud adalah orang yang betul-betul melakukan perjalanan. Adapun orang yang berhenti dalam perjalanan maka wajib baginya shalat jum’at walaupun ia hanya berhenti dalam ukuran satu shalat. Pendapat ini telah didukung oleh sekelompok ulama dari Ahlul Bait dan selain mereka. Dikatakan juga tidak wajib atasnya karena ia masih termasuk dalam lafadz musafir, dan pendapat ini didukung oleh ulama Ahlul Bait dan selain mereka. Dan ini yang paling mendekati kebenaran, karena hukum-hukum perjalanan masih tetap baginya seperti mengqashar shalat dan semisalnya, karenanya tidak dinukil bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat jum’at di Arafah pada haji wada’, karena beliau sedang musafir, demikian juga shalat ied digugurkan atas orang yang musafir. Karena tidak diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Ied ketika menunaikan haji. Telah keliru Ibnu Hazm ketika ia berkata, “Sesungguhnya beliau shalat Ied ketika berhaji”. Dan para ulama menegurnya dengan keras.
[Subulussalam, 1/724].

Sayyid Sabiq berkata :
فإن أكثر أهل العلم يرون أنه لا جمعة عليه: لان النبي صلى الله عليه وسلم كان يسافر فلا يصلي الجمعة فصلى الظهر والعصر جمع تقديم ولم يصل جمعته، وكذلك فعل الخلفاء وغيرهم
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa musafir tidak wajib mengerjakan shalat jum’at, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dalam perjalanan tidak mengerjakan shalat jum’at. Begitu juga pada saat beliau memgerjakan haji wada’ di Arafah yang jatuh pada hari jum’at, beliau hanya mengerjakan shalat dzuhur dan ashar secara jamak takdim dan tidak melakukan shalat jum’at. Demikian pula para khalifah setelah kewafatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
[Sayyid Sabiq, 1/461].

Wallahu a’lam.


KEUTAMAAN MANDI PADA HARI JUM’AT


KEUTAMAAN MANDI PADA HARI JUM’AT
Oleh : Masnun Tholab

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Hadits-hadits Tentang Keutamaan Mandi Pada Hari Jum’at
Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
غُسْلُ اَلْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
"Mandi Jum'at adalah wajib bagi setiap yang telah bermimpi (baligh)." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al -Tirmidzi)

Dalam Shahih Muslim disebutkan, "ketika Umar bin Khathab radliyallah 'anhu berkhutbah di hari Jum'at, tiba-tiba Utsman bin 'Affan masuk. Maka Umar memotong khutbahnya untuk menegurnya seraya berkata, "kenapa orang-orang terlambat setelah seruan dikumandangkan?" Utsman menjawab, "Ketika aku mendengar seruan Adzan, aku tidak dapat berbuat lebih daripada sekedar wudlu' dan kemudian berangkat." Maka Umar berkata, "hanya berwudlu? Bukankah kalian pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ
"Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at hendaklah dia mandi." (HR. Muslim)

Dalam riwayat Bukhari, Umar berkata, "tidaklah kalian pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَاحَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ
"Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at, hendaklah ia mandi."

Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ
"Wajib bagi setiap muslim untuk mandi pada satu hari dari setiap tujuh hari, pada mandi itu dia mengguyur kepala dan badannya." (HR. Bukhari)

Dalam lafadz al-Nasai dari Jabir yang dia sandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
عَلَى كُلِّ رَجُلٍ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ غُسْلُ يَوْمٍ وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ
"Kewajiban bagi setiap muslim, pada setiap tujuh hari untuk mandi pada satu hari, yaitu pada hari Jum'at." (HR. Al Nasai dan dinilai shahih oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al-Nasai (1/44) dan dalam Irwa' al Ghalil (1/173)).

Dari Abu Ayyub Al-Anshori ra berkata ,
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ، وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ، ثُمَّ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَسْجِدَ فَيَرْكَعَ إِنْ بَدَا لَهُ، وَلَمْ يُؤْذِ أَحَدًا، ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يُصَلِّيَ، كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى "
Saya mendengar rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : Siapa yang mandi pada hari Jum’at, mengenakan wangi-wangian jika dia memilikinya, memakai sebagian pakaian terbaiknya kemudian keluar dari rumah dan tiba di masjid, lalu dia sholat dua rakaat dan tidak mengganggu orang lain, kemudian mendengarkan khatib sampai sholat bersama imam, maka hal itu menjadi kafarat (penebus dosa) anatara satu jum’at dengan jum’at yang lainnya. (HR. Ahmad, no. 23571)
Dari Abu Hurairah ra bahwa rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ، ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
Siapa yangmandi junub pada hari jum’at, kemudian beramngkat (ke masjid), maka dia mendapat pahala seperti yang bersedekah dengan seekor unta, yang berangkat pada sat kedua seperti bersedekah dengan seekor sapi, yang ketiga seperti bersedekah dengan seekor kambing, yang ke empat seperti bersedekah dengan seekor ayam, dan yang ke lima seperti bersedekah dengan sebutir telur. Apabila imam (khatib) keluar menyampaikan khutbahnya, maka para malaikat mendengarkan. (HR Muslim, no. 850)

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata :

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang datang untuk shalat Jum’at hendaklah ia mandi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 215]

Dari Abu Hurairah ra,
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: حَقٌّ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ، يَغْسِلُ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ
Dari nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : Adalah hak Allah swt (dan kewajiban) atas manusia, untuk mandi setiap 7 hari, membasuh kepala dan (seluruh) jasadnya. (HR Muslim, no. 849)
Dari Abu Said al-khudri,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَسِوَاكٌ، وَيَمَسُّ مِنَ الطِّيبِ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ
bahwa rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : Mandi hari jum’at diperintahkan bagi setiap yang sudah bermimpi (akil baligh), bersiwak dan menggunakan minyak wangi jika dia memilikinya.   (HR Muslim, no. 846)

Dari Samurah bin Jundab radliyallah 'anhu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ, وَمَنْ اِغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ
"Barangsiapa yang berwudlu', maka dia telah mengikuti sunnah dan itu yang terbaik. Barangsiapa yang mandi , maka yang demikian itu lebih afdhal." (HR. Abu Dawud no. 354, al-Tirmidzi no. 497, al-Nasai no. 1379, Ibnu Majah no. 1091, Ahmad, no. 22. Imam al-Tirmidzi menghasankannya)

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada para sahabat yang keluar bekerja pada hari Jum'at sehingga mereka terkena debu dan menimbulkan bau tidak sedap;
لَوْ اغْتَسَلْتُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
"Alangkah baiknya kalian mandi pada hari Jum'at." (HR. Muslim dari 'Aisyah radliyallah 'anha) dalam riwayat lain, "kalau saja kalian membersihkan diri kalian untuk hari kalian ini."

Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
"Barangsiapa berwudlu', lalu memperbagus (menyempurnakan) wudlunya, kemudian mendatangi shalat Jum'at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum'at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum'atnya." (HR. Muslim no. 857)

Pendapat Para Ulama Tentang Hukum Mandi Pada Hari Jum’at
Imam al Nawawi rahimahullah, dalam Syarh Shahih Muslim, berkata :
وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي غُسْلِ الْجُمُعَةِ فَحُكِيَ وُجُوبُهُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنَ السَّلَفِ حَكَوْهُ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ وَبِهِ قَالَ أَهْلُ الظَّاهِرِ وحكاه بن الْمُنْذِرِ عَنْ مَالِكٍ وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَمَالِكٍ وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ وَفُقَهَاءِ الْأَمْصَارِ إِلَى أَنَّهُ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ لَيْسَ بِوَاجِبٍ قَالَ الْقَاضِي وَهُوَ الْمَعْرُوفُ مِنْ مَذْهَبِ مَالِكٍ وَأَصْحَابِهِ
Para Ulama berbeda pendapat tentang hukum mandi jum’at. Sebagian kaum salafush-shalih meriwayatkan ahwa hukumnya wajib, yang mereka meriwayatkan dari sebagian sahabat. Madzhab Zhahiri sependapat dengan hal itu. Ibnul Mundzir juga meriwayatkannya dari Malik> Al-Khattabi juga meriwayatkannya dari Hasan Al-Bashri dan Malik. Jumhur ulama dari kalangan salaf, khalaf dan  ulama fiqih diberbagai penjuru negeri sependapat bahwa hukumnya sunnah mustahabbah dan tidak wajib. Al-Qadhi berkata, “Hal ini adalah pendapat yang populer dari madzhab Malik dan shabat-sahabatnya” [Syarah Shahih Muslim, 4/593].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اخْتَلَفُوا فِي طُهْرِ الْجُمُعَةِ ; فَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى أَنَّهُ سُنَّةٌ، وَذَهَبَ أَهْلُ الظَّاهِرِ إِلَى أَنَّهُ فَرْضٌ وَلَا خِلَافَ فِيمَا أَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ شَرْطًا فِي صِحَّةِ الصَّلَاةِ
Perihal mandi shalat jum’at, para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa mandi itu hukumnya sunnah, sedangkan menurut kelompok Zhahiriyah, hukum mandi adalah wajib. Dan menurut saya (Ibnu Rusyd), mandi bukan persyaratan sahnya shalat. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat. [Bidayatul Mujtahid, 1/369].

Syaikh Abu Malik Kamal bin al Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnah, berkata, "diwajibkan mandi bagi siapa yang mendatangi shalat Jum'at, yaitu orang-orang yang diperintahkan untuk menunaikan shalat Jum'at, menurut pendapat ulama yang paling shahih, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan dalam Perkara-perkara yang mewajibkan mandi." (Shahih Fiqih Sunnah, II/305)

Imam Ibnu 'Abdil Barr berkata, "Para ulama telah bersepakat bahwa mandi hari Jum'at bukan suatu yang wajib, kecuali satu kelompok dari penganut paham al-Dzahiriyah. Mereka mewajibkan dan bersikap keras dalam hal itu. Sedangkan di kalangan ulama dan fuqaha' terdapat dua pendapat: salah satunya menyebut sunnah dan yang lainnya mustahab. Bahwasanya perintah mandi Jum'at itu karena suatu alasan sehingga ketika alasan itu sudah ditangani, gugurlah perintah tersebut. Sesungguhnya pemakaian wangi-wangian sudah cukup memadai." (al-Tamhiid: XIV/151-152)


Wallahu a’lam.


SHALAT JUMAT DI HARI RAYA
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Hadits-hadits Tentang Shalat Ied Pada Hari Jum’at
Dari Zaid bin Arqam, ia berkata,
صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمْعَةِ، ثُمَّ قَالَ: "مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ".
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat Hari Raya kemudian memberi kelonggaran dalam mengerjakan shalat Jum’at. Beliau bersasbda, ‘Siapa yang ingin mengerjakan shalat Jum’at maka kerjakanlah’” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Hakim)

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu,
عن رسول اللّه صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قال: "قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ : فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمْعَةِ، وَإِنَّا مُجْمَعُوْنَ"
“Pada harimu ini (Jum’at) telah berkumpul dua hari raya. Karena itu, barangsiapa yang mengerjakan shalat hari raya maka ia sudah mewakili shalat jum’atnya, tapi kami tetap melakukan shalat Jum’at” (HR. Abu Dawud no. 1073)

Diriwayatkan dari Abu Ubaid (bekas budak Ibnu Azhar), dia berkata,
 شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
Aku pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.” (HR. Bukhari).

Dari Ibnu Zubair, dia berkata,
عِيْدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمِ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيْعاً، فَصَلَاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرِ
“Dua hari raya telah berhimpun dalam satu hari, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan keduanya dan mengerjakan shalat dua rekaat pada pagi harinya serta beliau tidak mengerjakan shalat lagi hingga beliau melakukan shalat ashar” (HR. Abu Dawud no. 1072)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 481].

Pendapat Ulama Tentang Shalat Jumat pada Hari Raya
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
وَالْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ صَلَاةَ الْجُمُعَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ تَصِيرُ رُخْصَةً يَجُوزُ فِعْلُهَا وَتَرْكُهَا، وَهُوَ خَاصٌّ بِمَنْ صَلَّى الْعِيدَ دُونَ مَنْ لَمْ يُصَلِّهَا، وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ الْهَادِي وَجَمَاعَةٌ إلَّا فِي حَقِّ الْإِمَامِ وَثَلَاثَةٌ مَعَهُ
Hadits ini menjadi dalil bahwa shalat jum’at setelah melaksanakan shalat Ied menjadi rukhsah, boleh dikerjakan boleh ditinggalkan. Ini terkhusus bagi orang yang melaksanakan shalat Ied, tidak bagi orang yang tidak melaksanakannya. Pendapat ini didukung oleh Al-Hadi dan sekelompok ulama, kecuali pada hak imam shalat dan tiga orang yang bersamanya.
[Subulus Salam 1, hal. 709]

Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ صَلَّى الْإِمَامُ الْعِيدَ حِينَ تَحِلُّ الصَّلَاةُ ثُمَّ أَذِنَ لِمَنْ حَضَرَهُ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الْمِصْرِ فِي أَنْ يَنْصَرِفُوا إنْ شَاءُوا إلَى أَهْلِيهِمْ، وَلَا يَعُودُونَ إلَى الْجُمُعَةِ وَالِاخْتِيَارُ لَهُمْ أَنْ يُقِيمُوا حَتَّى يَجْمَعُوا أَوْ يَعُودُوا بَعْدَ انْصِرَافِهِمْ إنْ قَدَرُوا حَتَّى يَجْمَعُوا وَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا حَرَجَ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
Apabila Idul Fitri bertepatan dengan hari Jum’at, maka imam boleh melaksanakan shlata Idul Fitri pada waktunya, kemudian mengizinkan orang-orang yang bukan dari penduduk setempat untuk kembali kepada keluarga mereka jika mereka menghendaki, dan melakukan shalat jum’at di tempat pemukimannya masing-masing. Imam memberikan pilihan kepada orang-orang yang menetap untuk menunggu shalat Jum’at, atau kembali lagi setelah pulang. Hal itupun jika mereka sanggup, lalu mereka melaksanakan shalat jum’at. Namun apabila mereka tidak sanggup, maka hal itu tidak mengapa. Insya Allah. [Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 337]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at, gugurlah kewajiban shalat Jum’at bagi orang yang telah mengerjakan shalat hari raya.
Sayyid Sabiq berkata : Menurut Mazhab Hambali, orang yang tidak mengerjakan shalat jumat karena sudah mengerjakan shalat hari raya, ia masih berkewajiban mengerjakan shalat zuhur. Tetapi pendapat yang lebih kuat adalah tidak wajib mengerjakan shalat zuhur sama sekali sebab ada riwayat Abu Dawud dari Ibnu Zubair yang menegaskan,
عِيْدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمِ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيْعاً، فَصَلَاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرِ
“Dua hari raya telah berhimpun dalam satu hari, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan keduanya dan mengerjakan shalat dua rekaat pada pagi harinya serta beliau tidak mengerjakan shalat lagi hingga beliau melakukan shalat ashar” (HR. Abu Dawud no. 1072)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 481].
  
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
فقال قوم: يجزئ العيد عن الجمعة وليس عليه في ذلك اليوم إلا العصر فقط، وبه قال عطاء، وروي ذلك عن ابن الزبير وعلي.
Segolongan ulama berkata : cukup shalat hari raya saja, tanpa shalat Jum’at dan tidak ada shalat pada hari itu selain shalat ashar. Ini adalah pendapat Attha’ dan ini juga diriwayatkan dari Ibnu Zubair dan Ali.
وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ: إِذَا اجْتَمَعَ عِيدٌ وَجُمُعَةٌ فَالْمُكَلَّفُ مُخَاطِبٌ بِهِمَا جَمِيعًا: الْعِيدُ عَلَى أَنَّهُ سُنَّةٌ، وَالْجُمُعَةُ عَلَى أَنَّهَا فَرْضٌ، وَلَا يَنُوبُ أَحَدُهُمَا عَنِ الْآخَرِ، وَهَذَا هُوَ الْأَصْلُ إِلَّا أَنْ يَثْبُتَ فِي ذَلِكَ شَرْعٌ يَجِبُ الْمَصِيرُ إِلَيْهِ.
Menurut Malik dan Abu Hanifah, jika hari jum’at bersamaan dengan hari ied, tiap mukallaf tetap melaksanakan dua-duanya, karena shalat hari raya itu sunat sedangkan shalat jumat itu wajib, maka tidak bisa salat yang satu menggugurkan yang lain. Masing-masing tetap berjalan sesuai dengan hukum aslinya. [Bidayatul Mujtahid 1, hal. 486].

Imam As-Saukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
قال الموفق في المغني: وَإِنِ اتَّفَقَ عِيدٌ فِي يَوْمِ جُمْعَةٍ سَقَطَ حُضُورِ الْجُمُعَةِ عَمَّنْ صَلَّى الْعِيدِ إِلا الإِمَامُ فَإِنَّهَا لا تَسْقُطُ عَنْهُ إِلا أَنْ لا يَجْتَمِعَ لَهُ مَنْ يُصَلِّي بِهِ الْجُمُعَةِ
Ibnu Qudamah berkata dalam kitab Al-Mughni : Jika hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka gugurlah kewajiban menghadiri shalat jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ied, kecuali imam, tidak gugur darinya, terkecuali jika tidak ada jamaa’ah yang datang untuk mengikuti shalat jum’at bersamanya. [Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar 2/77]

Kesimpulan
Para Ulama berbeda pendapat tentang hukum melaksanakan shalat jum’at jika hari jum’at bertepatan dengan hari raya ied. Perbedaan pendapat tersebut dapat diperinci sebagai berikut :
1) Wajib melaksanakan sholat Jum’at bagi penduduk desa/kota/negeri dan tidak wajib atas penduduk pedalaman.
2) Jika telah sholat ied maka tidak wajib sholat dhuhur maupun jum’ah, baik atas penduduk desa/kota maupun penduduk pedalaman.  Yang wajib hanyalah sholat ashar saja.  
3). Kewajiban jum’at gugur atas penduduk desa/kota maupun pedalaman, dan mereka wajib melaksanakan sholat dhuhur.
4). Wajib sholat jum’at, baik atas penduduk desa/kota maupun pedalaman. 

Wallahu a’lam.

MENEMPATI TEMPAT DUDUK ORANG LAIN


MENEMPATI TEMPAT DUDUK ORANG LAIN
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Hukum Menempati Tempat Duduk Orang Lain
Dari Jabir,
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا يُقِيمُنَّ أحدكم أخاه يوم الجمعة ثم يخالف إلى مقعده فيقعد فيه، ولكن يقول : أفْسَحُوا.
dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Janganlah salah seorang di antara kalian membuat berdiri saudaranya pada hari Jum’at, kemudian ia menggantikannya duduk di tempat duduknya. Namun hendaknya ia mengatakan : ‘Bergeserlah…”. [HR.  Muslim no. 2177 dan Ahmad (3/295)]

Dari Ibnu Umar,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ فَيَجْلِسَ فِيهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وتَوسَّعوا".
"bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Janganlah seseorang menyuruh berdiri orang lain dari majelisnya, lalu ia duduk menggantikannya, tetapi lapangkanlah dan luaskanlah tempat duduk kalian". (HR. Bukhari 6269 dan Imam Muslim 2177)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu 

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَجْلِسٍ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ، فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ.
bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jikalau seorang di antara kalian berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia kembali ke situ, maka ia memang lebih berhak untuk menempati tempat duduknya tadi.” [HR. Muslim, no. 2179]

Imam Asy-Syaujani dalam kitab Nailul Authar berkata :
فَمَنْ سَبَقَ إلَى مَوْضِع مُبَاح سَوَاءٌ كَانَ مَسْجِدًا أَوْ غَيْره فِي يَوْم جُمُعَة أَوْ غَيْرهَا لِصَلَاةٍ أَوْ لِغَيْرِهَا مِنْ الطَّاعَات فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ، وَيَحْرُم عَلَى غَيْره إقَامَته مِنْهُ وَالْقُعُود فِيهِ، إلَّا أَنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ: الْمَوْضِع الَّذِي قَدْ سَبَقَ لِغَيْرِهِ فِيهِ حَقّ، كَأَنْ يَقْعُدَ رَجُلٌ فِي مَوْضِعٍ ثُمَّ يَقُومُ مِنْهُ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ مِنْ الْحَاجَاتِ ثُمَّ يَعُودُ إلَيْهِ، فَإِنَّهُ أَحَقّ بِهِ مِمَّنْ قَعَدَ فِيهِ بَعَدَ قِيَامه
Telah dikemukakan bahwa orang yang lebih dulu menempati suatu tempat yang dibolehkan, baik itu di masjid atau lainnya, baik pada hari jum’at atau hari lainnya, baik untuk melakukan shalat maupun ketaatan lainnya, maka ia lebih berhak terhadap tempat tersebut, dan diharamkan bagi yang lainnya untuk mendirikannya (menyuruh dia berdiri) lalu ia sendiri mendudukinya.
Larangan memberdirikan orang lain ini dikecualikan bagi orang yang lebih berhak, misalnya, seseorang telah menduduki suatu tempat, lalu ia mempunyai suatu keperluan, lalu ia berdiri untuk memenuhi keperluannya, lalu ia kembali ke tempat semula, namun ketika kembali ia mendapati ada orang lain menduduki tempatnya, maka ia boleh mendirikan orang tersebut kemudian ia mendudukinya, karena ia adalah orang yang lebih berhak terhadap tempat tersebut daripada orang yang menduduki setelahnya. [Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar, 1/43].


Hukum Melangkahi Pundak Para Jamaah Di Hari Jum’at

Dari Abdullah bin Busr, dia berkata;
جَاءَ رَجُلٌ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ

"Pernah datang seseorang dengan melangkahi pundak orang-orang pada hari jum'at, sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tengah berkhutbah, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Duduklah, kamu benar-benar telah mengganggu (orang lain)." (HR. Abu Dawud No. 943)


Dari Arqam bin Abu Al-Arqam Al-Makhzumi,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ:...  الَّذِي يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاس يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَيُفَرِّقُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ بَعْدَ خُرُوجِ الْإِمَامِ، كَالْجَارِّ قُصْبَهُ فِي النَّار
Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Orang yang melangkahi bahu orang-orang pada hari jum’at, dan memisahkan antara dua orang setelah keluarnya imam (yakni imam di atas mimbar) adalah laksana orang yang memanggang lambungnya di dalam api” (HR. Ahmad).

Imam Asy-Syaujani dalam kitab Nailul Authar berkata :
وَأَحَادِيثُ الْبَابِ تَدُلّ عَلَى كَرَاهَة التَّخَطِّي يَوْمَ الْجُمُعَة، وَظَاهِر التَّقْيِيد بِيَوْمِ الْجُمُعَة أَنَّ الْكَرَاهَة مُخْتَصَّة بِهِ. وَيُحْتَمَل أَنْ يَكُون التَّقْيِيد خَرَجَ مَخْرَج الْغَالِبِ لِاخْتِصَاصِ الْجُمُعَة بِكَثْرَةِ النَّاس، بِخِلَافِ سَائِر الصَّلَوَات فَلَا يَخْتَصّ ذَلِكَ بِالْجُمُعَةِ، بَلْ يَكُون حُكْم سَائِر الصَّلَوَات حُكْمهَا، وَيُؤَيِّدُ ذَلِكَ التَّعْلِيل بِالْأَذِيَّةِ، وَظَاهِر هَذَا التَّعْلِيل أَنَّ ذَلِكَ يَجْرِي فِي مَجَالِس الْعِلْم وَغَيْرهَا. قَالَ الْعِرَاقِيُّ: وَقَدْ اُسْتُثْنِيَ مِنْ التَّحْرِيم أَوْ الْكَرَاهَة الْإِمَام أَوْ مَنْ كَانَ بَيْن يَدَيْهِ فُرْجَة لَا يَصِل إلَيْهَا إلَّا بِالتَّخَطِّي.
Hadita-hadits di atas menunjukkan makruhnya melangkahi jama’ah pada hari jum’at, dan pembatasannya dengan hari jum’at menunjukkan makruhnya itu khusus pada hari jum’at. Kemungkinannya bahwa pembatasan dengan hari jum’at ini karena biasanya pada hari jum’at banyak orang yang duduk menanti pelaksanaannya, berbeda dengan shalat-shalat lainnya. Jadi ini tidak mengindikasikan penghususan pada pelaksanaan shsalat jum’at, tapi berlaku juga pada shalat-shalat lainnya. Larangan ini karena perbuatan tersebut bias mengganggu orang lain, yaitu gangguan pada majelis ilmu dan lainnya. Al-Iraqi mengatakan, “Dalam hal ini imam dikecualikan, atau orang yang memang benar-benar tidak mendapatkan tempat yang bias digunakan untuk shalat kecuali dengan cara melangkahi pundak orang lain”
[Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar, 1/43].

Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan,
وقال مالك : إنما يكره التخطي إذا خرج الإمام ، وقعد على المنبر ، فمن تخطى حينئذ فهو الذي جاء فيه الحديث، فأما قبل ذلك فلا بأس به إذا كانت بين يديه فُرَجٌ، وليترفق في ذلك
Malik mengatakan, dimakruhkan melangkahi pundak jamaah, hanya ketika imam sudah naik mimbar. Siapa yang melangkahi pundak jamaah setelah imam naik mimbar, maka dia terkena larangan dalam hadis. Sementara orang yang melangkahi pundak sebelum imam naik mimbar, diperbolehkan, jika di depannya ada celah. Dan hendaknya masing-masing saling toleran. (al-Mudawwanah, 1/159).

Memeluk Lutut Ketika Mendengarkan Khutbah
Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy, ia berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dia berkata;
شَهِدْتُ مَعَ مُعَاوِيَةَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَجَمَّعَ بِنَا فَنَظَرْتُ فَإِذَا جُلُّ مَنْ فِي الْمَسْجِدِ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُمْ مُحْتَبِينَ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ قَالَ أَبُو دَاوُد كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَحْتَبِي وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَشُرَيْحٌ وَصَعْصَعَةُ بْنُ صُوحَانَ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ وَمَكْحُولٌ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ وَنُعَيْمُ بْنُ سَلَامَةَ قَالَ لَا بَأْسَ بِهَا قَالَ أَبُو دَاوُد وَلَمْ يَبْلُغْنِي أَنَّ أَحَدًا كَرِهَهَا إِلَّا عُبَادَةَ بْنَ نُسَيٍّ
 “Aku bersama Muawiyah menyaksikan penaklukan Baitul Maqdis, lalu dia melaksanakan shalat jum’at bersamanya, maka aku melihat kebanyakan jama’ah yang ada di masjid adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku melihat mereka duduk bertekuk lutut ketika imam sedang berkhutbah.” Abu Daud berkata; ” Ibnu Umar juga duduk bertekuk lutut sementara imam sedang berkhutbah, begitu juga Anas bin Malik, Syuraih, Sha’sha’ah bin Shuhan, Sa’id bin Musayyab, Ibrahim An Nakha’i, Makhul, Isma’il bin Muhammad bin Sa’d dan Nu’aim bin Salamah, katanya; “Tidak mengapa duduk seperti itu.” Abu Daud berkata; “Belum sampai kepadaku, bahwa ada seseorang yang membencinya kecuali ‘Ubadah bin Nusai.”(HR. Abi Daud no. 937)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin membawakan hadits di atas dengan menyatakan dalam judul bab,
كَرَاهَةُ الاِحْتِبَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ لِأَنَّهُ يَجْلِبُ النَّوْم فَيَفُوْت اِسْتِمَاع الخُطْبَة وَيَخَافُ اِنْتِقَاض الوُضُوْء
“Dimakruhkan memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhutbah karena dapat menyebabkan tertidur sehingga terluput dari mendengarkan khutbah dan khawatir pula seperti itu dapat membatalkan wudhu.”
Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khattabi yang menyatakan sebab dilarang duduk ihtiba’,
نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ
“Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592).

Imam Asy-Syaukani berkata :
قال الخطبي نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ
Al-Khattabi berkata, “Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” [Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul Authar, 2/43]
Wallahu a’lam.

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...