Senin, 29 Juni 2015

IKHLAS DALAM BERAMAL

IKHLAS DALAM BERAMAL
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Pengertian Ikhlas
Ikhlas merupakan ruh dari setiap amalan, karena niat ikhlas ini yang akan menentukan diterima atau tidaknya suatu amal ibadah kita dihadapan Allah Subhanahu wata’ala. Maksudnya, Salah satu syarat diterimanya amal adalah amal tersebut dilakukan ikhlas semata-semata mengharap ridho Allah Subhanahu wata’ala.
Fadho’il bin Iyadh berkata,
إنَّ العملَ إذا كان خالصاً ، ولم يكن صواباً ، لم يقبل ، وإذا كان صواباً ، ولم يكن خالصاً ، لم يقبل حتّى يكونَ خالصاً صواباً ، قال : والخالصُ إذا كان لله - عز وجل - ، والصَّوابُ إذا كان على السُّنَّة .
“Sesungguhnya suatu perbuatan apabila dilaksanakan dengan ikhlas tapi tidak benar maka tidak diterima, apabila benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai menjadi ikhlas dan benar. Dia berkata, yang ikhlas adalah apabila karena Allah ta’ala, yang benar adalah apabila sesuai sunnah”. (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Abu Muhammad Sahl bin Abdullah At-Tastari berkata,
نَظَرَ الْأَكْيَاسُ فِي تَفْسِيرِ الْإِخْلَاصِ فَلَمْ يَجِدُوا غَيْرَ هَذَا أَنْ تَكُونَ حَرَكَاتُهُ وَسُكُونُهُ فِي سِرِّهِ وعلانيته لله تعالى وحده لا يمازجه شئ لَا نَفْسٌ وَلَا هَوًى وَلَا دُنْيَا:
“Orang-orang bijak telah menganalisa tafsiran ikhlas. Ternyata mereka tidak menemukan hal lain, yaitu bahwa gerak-gerik dan diamnya dalam batin maupun dzahirnya hanya karena Allah semata, tidak boleh dicampuri apapun, baik nafsu,keinginan maupun dunia”
[Dikutip oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab 1/55]
Dari dua pendapat ulama di atas dapat disimpulkan bahwa ikhlas itu adalah melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi perintah Allah dan rasulNya, dan dalam rangka mencari ridho Allah Subhanahu wata’ala.
Dalil-Dalil Tentang Pentingnya Ikhlas Dalam Beramal
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al-Bayinah ayat 5 :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi berkata :
وَفِي هَذَا دَلِيل عَلَى وُجُوب النِّيَّة فِي الْعِبَادَات فَإِنَّ الْإِخْلَاص مِنْ عَمَل الْقَلْب وَهُوَ الَّذِي يُرَاد بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى لَا غَيْره
Pada ayat ini terdapat dalil kewajiban untuk berniat dalam melaksanakan suatu ibadah, karena keikhlasan itu hanya ada di dalam hati, yaitu yang dilaksanakan dengan maksud hanya untuk mencari keridhaan Allah, bukan karena maksud lainnya. (Tafsir Al-Qurthubi 20/616).
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 110 :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya” (QS. Al-Kahfi/18:110)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan,
وَهَذَانِ رُكْنَا الْعَمَل الْمُتَقَبَّل لَا بُدّ أَنْ يَكُون خَالِصًا لِلَّهِ صَوَابًا عَلَى شَرِيعَة رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Dua hal ini merupakan rukun diterimanya amalan, yaitu amalan itu harus murni untuk Allâh, benar sesuai syari’at Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[Tafsir surat al-Kahfi]
Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad'i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907])
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Jami’ul ulum wal Ahkam mengatakan :
وبه صدَّر البخاريُّ كتابَه " الصَّحيح " ، وأقامه مقامَ الخُطبةِ له ، إشارةً منه إلى أنَّ كلَّ عملٍ لا يُرادُ به وجهُ الله فهو باطلٌ ، لا ثمرةَ له في الدُّنيا ولا في الآخرة
“Bukhari mengawali kitab Sahihnya [Sahih Bukhari] dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah [pembuka] untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 13)
Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan
وَاسْتُدِلَّ بِهَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز الْإِقْدَام عَلَى الْعَمَل قَبْل مَعْرِفَة الْحُكْم ؛ لِأَنَّ فِيهِ أَنَّ الْعَمَل يَكُون مُنْتَفِيًا إِذَا خَلَا عَنْ النِّيَّة ، وَلَا يَصِحّ نِيَّة فِعْل الشَّيْء إِلَّا بَعْد مَعْرِفَة الْحُكْم
Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan tidak bolehnya melakukan suatu amalan sebelum mengetahui hukumnya. Sebab di dalamnya ditegaskan bahwa amalan tidak akan dinilai jika tidak disertai niat [yang benar]. Sementara niat [yang benar] untuk melakukan sesuatu tidak akan benar kecuali setelah mengetahui hukumnya (Fath al-Bari [1/22]).
Ibnu as-Sam’ani rahimahullah mengatakan, “Hadits tersebut memberikan faedah bahwa amal-amal non ibadat tidak akan bisa membuahkan pahala kecuali apabila pelakunya meniatkan hal itu dalam rangka mendekatkan diri [kepada Allah]. Seperti contohnya; makan -bisa mendatangkan pahala- apabila diniatkan untuk memperkuat tubuh dalam melaksanakan ketaatan.” (Sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fath al-Bari [1/17]. Lihat penjelasan serupa dalam al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah, hal. 129, ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 39-40)
Ciri-ciri Perbuatan Ikhlas
Dzu An-Nun berkata’
ثَلَاثَةٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْإِخْلَاصِ اسْتِوَاءُ الْمَدْحِ وَالذَّمِّ مِنْ الْعَامَّةِ وَنِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْأَعْمَالِ فِي الْأَعْمَالِ وَاقْتِضَاءُ ثَوَابِ الْعَمَلِ فِي الْآخِرَةِ
“Ada tiga perkara yang menjadi tanda-tanda keikhlasan, yaitu : pujian dan cacian dari kaum awam sama, lupa melihat amal dalam beramal, dan mengharap pahala amal di akhirat”
[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab 1/55-57]
Pendapat Para Ulama Tentang Pentingnya Ikhlas Dalam Beramal
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab mengutip perkataan-perkataan para ulama lainnya, sebagai berikut :
As-Sarri berkata,
لَا تَعْمَلْ لِلنَّاسِ شَيْئًا وَلَا تَتْرُكْ لَهُمْ شَيْئًا وَلَا تُعْطِ لَهُمْ وَلَا تَكْشِفْ لَهُمْ شَيْئًا
“Jangan pernah engkau beramal karena manusia, jangan pernah engkau tinggalkan sesuatu karena mereka, jangan pernah engkau berikan sesuatu karena mereka, dan jangan pernah engkau bukakan sesuatu karena mereka”
Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan,
رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ
“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Ibnu Qoyyim irahimahullah berkata,
العمل بغير اخلاص ولا اِقْتِدَاء كالمسافر يَمْلَاءُ جَرَّابَهُ رَمَلًا يُثْقِلُهُ ولا يُنْفِعُهُ
”Beramal tanpa keikhlasan dan ittiba’ (meneladani Nabi), ibarat musafir yang mengisi kantongnya dengan pepasiran. Hanya memberatkannya dan tidak bermanfaat baginya.” (al-Fawa’id, Ibnul Qoyyim (691-751 H), hal. 55).
Pendapat Para Ulama Tentang Beratnya Ikhlas Dalam Beramal
Para Ulama mengakui bahwa masalah ikhlas dalam beramal adalah merupakan masalah yang sangat berat dan sangat sulit menjaganya.
Ats-Tsauri, ia berkata,
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي إنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
“Aku tidak pernah mengatasi sesuatupun yang lebih sulit bagiku selain niat, karena ia terus berubah-ubah dalam diriku” [Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab 1/57]
Yusuf bin Husain ar-Rozi rahimahullah berkata,
أعزّ شيءٍ في الدُّنيا الإخلاصُ ، وكم اجتهد في إسقاطِ الرِّياءِ عَنْ قلبي ، وكأنَّه ينبُتُ فيه على لون آخر
“Perkara yang paling mulia di dunia adalah ikhlas, berapa kali aku bersungguh-sungguh dalam menggugurkan riya’ dari hatiku, akan tetapi seakan-akanriya’ itu tumbuh kembali dengan warna yang berbeda. (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 2)
Mutharrif bin Abdullah rahimahullah mengatakan,
صلاحُ القلب بصلاحِ العملِ ، وصلاحُ العملِ بصلاحِ النيَّةِ
“Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19).
Do’a Agar Ikhlas Dalam Beramal
Menyadari betapa beratnya menjaga keikhlasan tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering berdo’a dengan do’a sebagai berikut :
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no.3522, imam Ahmad IV/302, Al-Hakim I/525).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sering berdo’a dengan do’a sebagai berikut :
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.” (HR. Muslim no. 265, Ahmad no. 6569)
Umar bin Khattab, sering berdo’a dengan dengan do’a sebagai berikut :
اللهم اجعل عملي كلها صالحا، واجعله لوجهك خالصا، و لا تجعل لأحد فيه شيئا
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun.” (Kanzul ‘Amal)
Kesimpulan
1. Salah satu syarat diterimanya Amal adalah Ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala.
2. Ikhlas hanya bisa terwujud jika dalam beramal mengikuti perintah Allah dan petunjuk Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam.
Wallahu a’lam.

Sabtu, 30 Agustus 2014

SHALAT IED DI LAPANGAN



SHALAT IED DI LAPANGAN
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده  اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Renungan
Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun"(HR. Ibnu Majah  no. 209)
Imam Al-Bukhari berkata :
افضل المسلمين رجل احيا سنة من سنن الرسول صلى الله عليه و سلم قد اميتت فاصبروا يا اصحاب السنن رحمكم الله فإنكم اقل الناس
Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wasallam yang sudah ditinggalkan manusia (jarang diamalkan). Bersabarlah wahai para penyeru sunnah rohimakumullah. Karena sesungguhkan kalian berjumlah sedikit.
[Al-Jami’u li akhlakir rowi]

Keutamaan Shalat Ied di Lapangan
Para ulama bersepakat (ijma’) bahwa shalat Ied, baik iedul Fitri maupun Iedul Adha, boleh dikerjakan di masjid dan boleh juga dikerjakan di tanah lapang. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat Ied di lapangan lebih utama daripada shalat ied di masjid, berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :
Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةَ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وُيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ
"Dulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar di hari raya idul fitri dan idul adha menuju lapangan. Maka sesuatu yang paling pertama kali beliau mulai adalah shalat ied, kemudian beliau berbalik dan berdiri menghadap manusia, sedangkan manusia duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau pun memberikan nasihat dan wasiat kepada mereka, serta memberikan perintah kepada mereka. Jika beliau ingin mengirim suatu utusan, maka beliau putuskan (tetapkan), atau jika beliau memerintahkan sesuatu, maka beliau akan memerintahkannya. Lalu beliau pun pulang". (HR. Al-Bukhariy no 913; Muslim no. 889)

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata,
وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى اِسْتِحْبَابِ الْخُرُوجِ إِلَى الصَّحْرَاءِ لِصَلَاةِ الْعِيدِ وَأَنَّ ذَلِكَ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي الْمَسْجِدِ ، لِمُوَاظَبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ مَعَ فَضْلِ مَسْجِدِهِ
 "Hadits ini dijadikan dalil untuk menunjukkan dianjurkannya keluar menuju padang luas (lapangan) untuk mengerjakan shalat ied, dan bahwasanya hal itu lebih utama dibandingkan shalat ied di masjid, karena kontunyunya nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- atas hal itu, padahal masjid beliau memiliki keutamaan.[Lihat Fathul Bari (2/450)]
Selanjutanya Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata :
وَقَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ : بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِي الْعِيدَيْنِ إِلَى الْمُصَلَّى بِالْمَدِينَةِ ، وَكَذَا مَنْ بَعْدَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرِ مَطَرٍ وَنَحْوِهِ ، وَكَذَلِكَ عَامَّةُ أَهْلِ الْبُلْدَانِ إِلَّا أَهْلَ مَكَّةَ . ثُمَّ أَشَارَ إِلَى أَنَّ سَبَبَ ذَلِكَ سَعَةُ الْمَسْجِدِ وَضِيقُ أَطْرَافِ مَكَّةَ
Imam Syafi’I berkata dalam kitab Al-Umm, "Telah sampai berita kepada kami bahwa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu keluar di dua hari raya menuju lapangan yang terdapat di kota Madinah. Demikian pula generasi setelahnya, dan seluruh penduduk negeri, kecuali penduduk Mekah, sebabnya adalah masjid di Mekah luas (Masjidil Haram) , sedang tanahnya sempit.
[Fathul Baari, penjelasan hadits no. 903; Nailul Authar,  hadits no. 1281; Lihat Al-Umm (1/389)]

Sedangkan dalam kitab Al-Muhadzdzab, Imam Syafi’i berkata :
فَإِنْ كَانَ المسجد واسعا فصلى في الصحراء فلا بأس وان كان ضيقا فصلى فيه ولم يخرج إلى الصحراء كرهت لانه إذا ترك المسجد وصلي في الصحراء لم يكن عليهم ضرر وإذا ترك الصحراء وصلي في المسجد الضيق تأذوا بالزحام وربما فات بعضهم الصلاة
“Jika masjid yang ada luas kemudian penduduk yang ada shalat di tanah lapang, hukumnya tidak apa-apa. Namun jika masjidnya sempit dan salat ied tetap dialksanakan di situ (di masjid), aku tidak menyukai hal itu, sebab jika masjid ditinggalkan kemudian shalat ied dilaksanakan di padang luas, itu tidaklah berbahaya bagi mereka, sementara jika tanah lapang ditinggalkan kemudian shalat ied dilaksanakan di masjid yang sempit, tentu para jamaah bisa terganggu karena berdesakkan, bisa jadi ada sebagian ketinggalan shalat ied, karena itulah hukumnya makruh”
[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, 5/6]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam (1/751) berkata :
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى شَرْعِيَّةِ الْخُرُوجِ إلَى الْمُصَلَّى ، وَالْمُتَبَادَرُ مِنْهُ الْخُرُوجُ إلَى مَوْضِعٍ غَيْرِ مَسْجِدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَهُوَ كَذَلِكَ فَإِنَّ مُصَلَّاهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَلٌّ مَعْرُوفٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ بَابِ مَسْجِدِهِ أَلْفُ ذِرَاعٍ قَالَهُ عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ فِي أَخْبَارِ الْمَدِينَة
Hadits ini menunjukkan disyariatkannya keluar ke tempat shalat. Yang tergambar dari hadits ini adalah keluar ke tempat selain masjid beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena tempat shalat beliau adalah tempat yang sudah dikenal, yaitu antara tempat itu dengan pintu masjid sekitar seribu hasta sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Syabah di dalam kitab akhbar AlMadinah.
[Subulussalam (1/751)]


Dari Ibnu umar -radhiyallahu ‘anhuma- dia berkata berkata,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْدُوْ إِلَى الْمُصَلَّى فِيْ يَوْمِ الْعِيْدِ وَالْعَنَزَةُ تُحْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَإِذَا بَلَغَ الْمُصَلَّى نُصِبَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَذَلِكَ أَنَّ الْمُصَلَّى كَانَ فَضَاءً لَيْسَ فِيْهِ شَيْءٌ يُسْتَتَرُ بِهِ
"Rasulullah-Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar pagi-pagi menuju lapangan di hari ied, sedangkan tombak kecil di depan beliu. Jika telah tiba di lapangan, maka tombak kecil itu ditancapkan di depan beliau. Lalu beliau pun shalat menghadap tombak tersebut. Demikianlah, karena lapangan itu adalah padang, di dalamnya tak ada sesuatu yang bisa dijadikan "sutroh" (pembatas di depan imam)" (HR.Bukhariy no. 930; Ibnu Majah 1304)

Dari Abdur Rahman bin Abis berkata,
سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قِيْلَ لَهُ أَشَهِدْتَ الْعِيْدَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ نَعَمْ وَلَوْلَا مَكَانِيْ مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ حَتَّى أَتَى الْعَلَمَ الَّذِيْ عِنْدَ دَارِ كَثِيْرِ بْنِ الصَّلْتِ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ يَهْوِيْنَ بِأَيْدَيْهِنَّ يَقْذِفْنَهُ فِيْ ثَوْبِ بِلَالٍ ثُمَّ انْطَلَقَ هُوَ وَبِلَالٌ إِلَى بَيْتِهِ
"Aku pernah mendengarkan Ibnu Abbas sedang ditanya, apakah engkau pernah menghadiri shalat ied bersama Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ? Ibnu Abbas menjawab, ya pernah. Andaikan aku tidak kecil, maka aku tidak akan menyaksikannya, sampai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatangi tanda (yang terdapat di lapangan), di dekat rumah Katsir Ibnu Ash-Shalt. Kemudian beliau shalat dan berkhutbah serta mendatangi para wanita sedang beliau bersama Bilal. Maka nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menasihati mereka, mengingatkan, dan memerintahkan mereka untuk bersedaqah. Lalu aku pun melihat mereka mengulurkan (sedeqah) dengan tangan mereka sambil melemparkannya ke baju Bilal. Kemudian nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan Bilal berangkat menuju ke rumahnya". (HR. Bukhariy no. 934).
Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata, "Ibnu Sa’ad berkata, "Rumah Katsir bin Ash-Sholt merupakan kiblat bagi lapangan di dua hari raya. Rumah itu menurun ke perut lembah Bathhan, suatu lembah di tengah kota Madinah". Selesai ucapan Ibnu Sa’ad".
[Fathul Bari (2/449)]

Dari Abu Hurairah RA,
أَنَّهُمْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَصَلَّى بِهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ
“ketika turun hujan di suatu hari Ied, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan shalat ied bersama mereka di masjid” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah). Dalam kitab At-Talkhis dikatakan : Hadits ini dho’if.
Asy-syaukaniy-rahimahullah- berkata dalam Nailul Authar (3/359),
الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الْخُروجِ إِلَى الْجَبَّانَةِ وَفِعْلَ الصَّلاةِ عِنْدَ عُرُوضِ عُذْرِ الْمَطَرِ غَيْر مَكْرُوهٍ
Hadits ini menunjukkan bahwa tidak berangkat ke lapangan dan melaksanakan shalat ied di masjid karena udzur hukumnya tidak makruh.
[Bustanul Ahyar Mukhtashar Nailul Authar, hadits no. 1660)

Ibnu Hazm Azh-Zhohiriy-rahimahullah- berkata :
وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَبْرُزُ إلَى الْمُصَلَّى لِصَلاَةِ الْعِيدَيْنِ , فَهَذَا أَفْضَلُ , وَغَيْرُهُ يُجْزِئُ , لاِنَّهُ فِعْلٌ لاَ أَمْرٌ وَبِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيقُ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi keluar ke tanah lapang untuk shalat dua hari raya, inilah yang lebih utama, tapi yang lainnya (tidak di lapangan) juga boleh, karena hal itu adalah perbuatan, bukan perintah. Wabillahittaufiq.
[Al-Muhalla 13/241]

Ibnu Qudamah -rahimahullah- berkata dalam Al-Mughniy (2/229),
السنة أن يصلي العيد في المصلى - أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يخرج إلى المصلى ويدع مسجده وكذلك الخلفاء بعده - ولأن هذا إجماع المسلمين فإن الناس في كل عصر ومصر يخرجون إلى المصلى فيصلون العيد في المصلى مع سعة المسجد وضيقه وكان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي في المصلى مع شرف مسجده
"Sunnahnya seorang shalat ied di lapangan. Kami (Ibnu Qudamah) memiliki dalil bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu keluar menuju lapangan, dan meninggalkan masjidnya, demikian pula para khulafaurrasyidin setelahnya. Ini juga merupakan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, karena manusia pada setiap zaman dan tempat, mereka keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat ied di dalamnya, padahal masjid luas dan sempit. Dulu nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- laksanakan shalat ied di lapangan, padahal masjidnya mulia,
[Al-Mughni, 2/229]

Fatawa Darul Ifta Al-Mishriyah :
وأن صلاة العيد فى المسجد أفضل عند الشافعية وفى الخلاء أفضل فى المذاهب الثلاثة على التفصيل السابق والله أعلم
Bahwa shalat Ied di masjid lebih utama menurut ulama syafi’iyah, dan (shalat Ied) di lapangan lebih utama menurut tiga ulama madzhab lainnya. Wallahu a’lam.

Kesimpulan
-Para ulama bersepakat (ijma’) bahwa shalat Ied boleh dikerjakan di masjid atau di tanah lapang.
-Mayoritas ulama berpendapat, shalat Ied di tanah lapang lebih utama daripada shalat Ied di masjid.

Wallahu a’lam.

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...