Rabu, 09 April 2014

AURAT WANITA



AURAT WANITA
Oleh :MasnunTholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده  اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Pendahuluan
Dari Imran bin Hushain , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku melihat surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah fuqara. Aku pun melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 3241 dan Muslim no. 2738)
Salah satu yang menyebabkan wanita masuk neraka adalah cara mereka berpakaian yang tidak sesuai dengan tuntunan syari’at.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
 An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.
Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Haditsdiatasmenunjukkanbetapabesarresikobagikaumwanita yang tidakmenutupauratnya.Hal itujugamenunjukkanbetapapentingnyamasalahmenutupauratbagiwanita.

Dalil-dalil Tentang Aurat Wanita
Allah Subhanahuwata’ala berfirman :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)nya ke dadanya”. (QS. An-Nur :31)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 59).

Aisyah ra telah menceritakan, bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallampun berpaling seraya berkata;
يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
“Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.”[HR. Abu Dawud 4101. Abu Dawudberkata, “Inihaditsmursal”]

Pendapat Para UlamaTentang Aurat Wanita
1.     Imam Asy Syafi’i rahimahullah dalam Al Ummberkata,
وَكُلُّ الْمَرْأَةِ عَوْرَةٌ إلاَّ كَفَّيْهَا وَوَجْهَهَا
“Dan setiap wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya.”
[Al-Umm, MaktabahSyamilah 1/89]

2.    Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ mengatakan,
“Pendapat yang masyhur di madzhab kami (Syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak wanita. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Imam Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”
[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, MaktabahSyamilah 3/169]

3.    Ibnul Mundzir dalam Al Awsathberkata :
“Wajib bagi wanita menutup seluruh badannya dalam shalat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya”.[Al-Ausath, MaktabahSyamilah 5/75]
4.    Abu Ishaq al-Syairazidalamkitaal-Muhazzab mengatakan :
Adapun wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya merupakan aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”. Ibnu ‘Abbas berkata (mengomentari ayat ini), ‘yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangannya’. Dasar lainnya adalah karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita ketika ihram memakai sarung tangan dan cadar. Seandainya wajah dan telapak tangan merupakan aurat, Rasulullah tidak akan mengharamkan menutupnya. Alasan lainnya adalah karena adanya keperluan yang menuntut seorang wanita untuk menampakkan wajah dalam jual beli, dan menampakkan telapak tangan ketika memberi dan menerima sesuatu. Maka, tidak dijadikan wajah dan telapak tangan sebagai aurat.
[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Maktabah Syamilah 3/167]

 3.    Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Tuhfah al-Muhtaj, berkata :
Aurat wanita merdeka, meskipun dia itu belum mumayyiz dan aurat khuntsa merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangan, zhahirnya dan bathinnya sehingga dua persendiannya, berdasarkan firman Allah : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”, yaitu kecuali wajah dan dua telapak tangan. Alasan lain adalah karena ada keperluan membukanya. Hanya haram menilik wajah dan kedua telapak tangan seperti halnya yang lebih dari aurat hamba sahaya wanita, karena yang demikian itu berpotensi menimbulkan fitnah.
[Tuhfah al-Muhtaj, MaktabahSyamilah 7/115]

5.    Asy Syarwani dalam Hawasyi Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj mengatakan :
Wanita memiliki tiga jenis aurat: (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki.
[Hawasyi Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, MaktabahSyamilah 2/112]

6.    Syaikh Taqiyuddin al-Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:
Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat, kecuali jika di masjid yang kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab.
[Kifaayatul Akhyaar, MaktabahSyamilah 1/138]

7.    Abu Al-Hasan Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi Al-Kubro fi FiqhiMadzhab Al-Imam Syafi’Iberkata:

“Adapun wanita merdeka, seluruh tubuhnya merupakan aurat di dalam shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya hingga persendian terakhir pergelangan tangan.”
[Al-Hawi Al-Kubro fi FiqhiMadzhab Al-Imam Syafi’I, MaktabahSyamilah 24/41]

8.    Syaikh Sulaiman Al JamaldalamkitabHasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj berkata:
“Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan”
[Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, MaktabahSyamilah4/15]


9.    Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:
“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan”
[Fathul Qaarib, MaktabahSyamilah 1/84]

10.  Ibnu Qaasim Al Abadi dalam kitab Tuhfatul Muhtaaj berkata:
“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah”
[Tuhfatul Muhtaaj, MaktabahSyamilah 10/478]

11.  Al Qurthubi dalamTafsir Al Qurthubiberkata:
“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya”
[Tafsir Al Qurthubi, MaktabahSyamilah 12/229]

Kesimpulan :
Berdasarkan dalil-dalil dan keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.     Aurat wanita merdeka dalam shalat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
2.    Aurat wanita merdeka di luar shalat jika bersama laki-laki ajnabi (bukan mahramnya) ada dua pendapat. Pendapatpertama, seluruh tubuh tanpa kecuali, yaitu termasuk wajah dan telapak tangan. Pendapatkedua, seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (sepertiauratdalamshalat)
3.    Untuk menghindari pandangan laki-laki ajnabi (bukan mahram) wanita dianjurkan menutup seluruh tubuhnya, termasuk wajah dan telapak tangan.


Wallahua’lam.





















AURAT WANITA
Oleh :MasnunTholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده  اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Pendahuluan
RasulullahShallallahu ‘alaihiwasallampernahmengunjungineraka. Ternyatasebagianbesarpenghuninerakaadalahkaumwanita.
Dari Imran bin Hushain , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku melihat surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah fuqara. Aku pun melihat neraka dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. al-Bukhari no. 3241 dan Muslim no. 2738)
Salah satu yang menyebabkanwanitamasuknerakaadalahbagaimanacaramerekaberpakaian.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.
Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Haditsdiatasmenunjukkanbetapabesarresikobagikaumwanita yang tidakmenutupauratnya.Hal itujugamenunjukkanbetapapentingnyamasalahmenutupauratbagiwanita.

Dalil-dalilTentangAuratWanita
Allah Subhanahuwata’ala berfirman :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)nya ke dadanya”. (QS. An-Nur :31)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 59).

Aisyah ra telah menceritakan, bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah saw. pun berpaling seraya berkata;
يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
“Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.”[HR. Muslim]

Pendapat Para UlamaTentangAuratWanita
12.  Imam Asy Syafi’i rahimahullah dalam Al Umm (1/109) berkata,
وَكُلُّ الْمَرْأَةِ عَوْرَةٌ إلاَّ كَفَّيْهَا وَوَجْهَهَا
“Dan setiap wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya.”
[Al-Umm, MaktabahSyamilah 1/89]

13.  Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ (3/169) mengatakan,
أَنَّ الْمَشْهُورَ مِنْ مَذْهَبِنَا أَنَّ عَوْرَةَ الرَّجُلِ مَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ وَكَذَلِكَ الْأَمَةُ وَعَوْرَةَ الْحُرَّةِ جَمِيعُ بَدَنِهَا إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَبِهَذَا كُلِّهِ قَالَ مَالِكٌ وَطَائِفَةٌ وَهِيَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ
“Pendapat yang masyhur di madzhab kami (Syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak wanita. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Imam Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”
[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, MaktabahSyamilah 3/169]

14.  Ibnul Mundzir menyandarkan pendapat ini kepada Imam Asy Syafi’i dalam Al Awsath (5/70), beliau katakan dalam kitab yang sama (5/75),
على المرأة أن تخمر في الصلاة جميع بدنها سوى وجهها وكفيها
“Wajib bagi wanita menutup seluruh badannya dalam shalat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya”.
[Al-Ausath, MaktabahSyamilah 5/75]


15.  Abu Ishaq al-Syairazidalamkitaal-Muhazzab mengatakan :
وَأَمَّا الْحُرَّةُ فَجَمِيعُ بَدَنِهَا عَوْرَةٌ إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى (وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ منها) قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا وَلِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " نَهَى الْمَرْأَةَ الْحَرَامَ عَنْ لُبْسِ الْقُفَّازَيْنِ وَالنِّقَابِ " وَلَوْ كَانَ الْوَجْهُ وَالْكَفُّ عَوْرَةً لَمَا حَرَّمَ سَتْرَهُمَا وَلِأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إلَى إبْرَازِ الْوَجْهِ لِلْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَإِلَى إبراز الكلف لِلْأَخْذِ وَالْعَطَاءِ فَلَمْ يَجْعَلْ ذَلِكَ عَوْرَة
Artinya: Adapun wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya merupakan aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”. Ibnu ‘Abbas berkata (mengomentari ayat ini), ‘yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangannya’. Dasar lainnya adalah karena Nabi SAW melarang wanita ketika ihram memakai sarung tangan dan cadar. Seandainya wajah dan telapak tangan merupakan aurat, Rasulullah tidak akan mengharamkan menutupnya. Alasan lainnya adalah karena adanya keperluan yang menuntut seorang wanita untuk menampakkan wajah dalam jual beli, dan menampakkan telapak tangan ketika memberi dan menerima sesuatu. Maka, tidak dijadikan wajah dan telapak tangan sebagai aurat.
[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, MaktabahSyamilah 3/167]

3.    Ibnu Hajar al-Haitamydalam Tuhfah al-Muhtaj, berkata :
(وَ) عَوْرَةُ (الْحُرَّةِ) وَلَوْ غَيْرَ مُمَيِّزَةٍ وَالْخُنْثَى الْحُرِّ (مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ) ظَهْرُهُمَا وَبَطْنُهُمَا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا أَيْ إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَلِلْحَاجَةِ لِكَشْفِهِمَا وَإِنَّمَا حَرُمَ نَظَرُهُمَا كَالزَّائِدِ عَلَى عَوْرَةِ الْأَمَةِ لِأَنَّ ذَلِكَ مَظِنَّةٌ لِلْفِتْنَةِ
Artinya : Aurat wanita merdeka, meskipun dia itu belum mumayyiz dan aurat khuntsa merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangan, zhahirnya dan bathinnya sehingga dua persendiannya, berdasarkan firman Allah : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”, yaitu kecuali wajah dan dua telapak tangan. Alasan lain adalah karena ada keperluan membukanya. Hanya haram menilik wajah dan kedua telapak tangan seperti halnya yang lebih dari aurat hamba sahaya wanita, karena yang demikian itu berpotensi menimbulkan fitnah.
[Tuhfah al-Muhtaj, MaktabahSyamilah 7/115]

16.  Asy Syarwanidalam Hawasyi Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtajmengatakan :
أَنَّ لَهَا ثَلَاثَ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاةِ وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجَانِبِ إلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَعَوْرَةٌ فِي الْخَلْوَةِ وَعِنْدَ الْمَحَارِمِ كَعَوْرَةِ الرَّجُلِ
Artinya : Wanita memiliki tiga jenis aurat: (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki.
[Hawasyi Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, MaktabahSyamilah2/112]

17.  Syaikh Taqiyuddin al-Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:
وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّي فِي ثَوْبٍ فِيهِ صُورَة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب
Artinya :Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat, kecuali jika di masjid yang kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab.
[Kifaayatul Akhyaar, MaktabahSyamilah1/138]

18.  Al-BakriDimyatidalam I’anah al-Thalibin disebutkan :
قال في فتح الجواد: ولا ينافيه، أي ما حكاه الإمام من اتفاق المسلمين على المنع، ما نقله القاضي عياض عن العلماء أنه لا يجب على المرأة ستر وجهها في طريقها، وإنما ذلك سنة، وعلى الرجال غض البصر لأن منعهن من ذلك ليس لوجوب الستر عليهن، بل لأن فيه مصلحة عامة بسد باب الفتنة. نعم، الوجه وجوبه عليها إذا علمت نظر أجنبي إليها أخذا من قولهم يلزمها ستر وجهها عن الذمية، ولأن في بقاء كشفه إعانة على الحرام.اه.
Artinya : Pengarang Fath al-Jawad mengatakan, “Apa yang diceritakan oleh al-Imam bahwa sepakat kaum muslimin atas terlarang (terlarang wanita keluar dengan terbuka wajah) tidak berlawanan dengan yang dikutip oleh Qadhi ‘Iyadh dari ulama bahwa tidak wajib atas wanita menutup wajahnya pada jalan, yang demikian itu hanya sunnah dan hanyasanya atas laki-laki wajib memicing pandangannya, karena terlarang wanita yang demikian itu bukan karena wajib menutup wajah atas mereka, tetapi karena di situ ada maslahah yang umum dengan menutup pintu fitnah. Namun menurut pendapat yang kuat wajib menutupnya atas wanita apabila diketahuinya ada pandangan laki-laki ajnabi kepadanya, karena memahami dari perkataan ulama “wanita wajib menutup wajahnya dari kafir zimmi” dan juga karena membiarkan terbuka wajah membantu atas sesuatu yang haram.
[I’anah al-Thalibin, MaktabahSyamilah3/258]


19.  Syamsudin Ar-Romli dalam kitab Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj berkata :
( وَ ) عَوْرَةُ ( الْحُرَّةِ ) ( مَا سِوَى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ ) فِيهَا ظَهْرًا وَبَطْنًا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةُ : هُوَ الْوَجْهُ وَالْكَفَّانِ وَلِأَنَّهُمَا لَوْ كَانَا عَوْرَةً فِي الْعِبَادَاتِ لَمَا وَجَبَ كَشْفُهُمَا فِي الْإِحْرَام
Artinya: “Dan aurat wanita merdeka adalah selain wajah dan dua telapak tangan, depan dan belakangnya, hingga tulang pergelangan tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: {Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya} [an-Nuur ayat 31]. Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah (ridhwanullahi ‘alaihim) mengomentari ayat ini, ‘yaitu wajah dan dua telapak tangan’. Alasan lainnya adalah seandainya wajah dan dua telapak tangan merupakan aurat dalam ibadah, maka Rasulullah tak akan mewajibkan dibukanya keduanya ketika ihram.”
[Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj,MaktabahSyamilah4/424]

20. Abu Al-Hasan Al-Mawardidalam kitab Al-Hawi Al-Kubro fi FiqhiMadzhab Al-Imam Syafi’Iberkata:

فَالْمَرْأَةُ كُلُّهَا عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاةِ إِلَّا وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا إِلَى آخِرِ مَفْصِلِ الْكُوع
Artinya: “Adapun wanita merdeka, seluruh tubuhnya merupakan aurat di dalam shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya hingga persendian terakhir pergelangan tangan.”
[Al-Hawi Al-Kubro fi FiqhiMadzhab Al-Imam Syafi’I, MaktabahSyamilah24/41]

21.  Syaikh Sulaiman Al JamaldalamkitabHasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhajberkata:
وَأَمَّا عَوْرَتُهَا عِنْدَ النِّسَاءِ الْمُسْلِمَاتِ مُطْلَقًا وَعِنْدَ الرِّجَالِ الْمَحَارِمِ فَمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ ، وَأَمَّا عِنْدَ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ فَجَمِيعُ الْبَدَنِ
“Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan”
[Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, MaktabahSyamilah4/15]

22. Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:
وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها
“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan”
[Fathul Qaarib, MaktabahSyamilah1/84]

23. Ibnu Qaasim Al Abadidalam kitabTuhfatul Muhtaajberkata:
فَيَجِبُ مَا سَتَرَ مِنْ الْأُنْثَى وَلَوْ رَقِيقَةً مَا عَدَا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ وَوُجُوبُ سَتْرِهِمَا فِي الْحَيَاةِ لَيْسَ لِكَوْنِهِمَا عَوْرَةً بَلْ لِخَوْفِ الْفِتْنَةِ غَالِبًا
“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah”
[Tuhfatul Muhtaaj, MaktabahSyamilah 10/478]

24. Al Qurthubi berkata:
وَقَدْ قَالَ ابْنُ خُوَيْزِ مَنْدَادَ مِنْ عُلَمَائِنَا : إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا كَانَتْ جَمِيلَةً ، وَخِيفَ مِنْ وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا الْفِتْنَةُ ، فَعَلَيْهَا سَتْرُ ذَلِكَ ، وَإِنْ كَانَتْ عَجُوزًا أَوْ مُقَبَّحَةً جَازَ أَنْ تَكْشِفَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا
“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya”
[Tafsir Al Qurthubi, MaktabahSyamilah 12/229]

Kesimpulan :
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapatdisimpulkan sebagai berikut :
1.    Aurat wanita merdeka dalam shalat dalam artian wajib ditutupinya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
2.    Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian haram memandangnya oleh laki-laki ajnabi (bukan mahramnya) adalah seluruh tubuh tanpa kecuali, yaitu termasuk wajah dan telapak tangan.
3.    Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian wajib menutupinya sama dengan aurat dalam shalat, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
4.    wajib menutup wajah dan telapak tangan di dalam dan diluar shalat atas wanita apabila diketahuinya ada pandangan laki-laki ajnabi kepadanya,
















SHALAT BERJAMAAH BAGI WANITA



SHALAT BERJAMAAH BAGI WANITA
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Shalat berjamaah di masjid sangat dianjurkan bagi kaum laki-laki, namun tidak dianjurkan bagi kaum wanita. Uraian berikut ini membahas tentang shalat jamaah bagi wanita dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

Hadits-hadits Tentang Shalatnya Wanita
Dari Ummu Salamah, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
خَيْرٌ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوْتِهِنَّ
”Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) dari rumahnya” (HR. Ahmad, no. 26002, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Targhib, no. 341)

Dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau  bersabda,
إذا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوْا لَهُنَّ
“Bila istri-istri kalian meminta izin kepada kalian di malam hari untuk pergi ke masjid, maka berilah mereka izin” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah).

Dalam lafadz lain :
لَا تَمْنَعُوا النِّسَاءَ أنْ يَخْرُجْنَ إِلَى الْمَسَاجِدِ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Jangan kalian melarang para wanita untuk pergi ke masjid, walaupun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Berkata Imam Asy Syaukani rahimahullah ketika menjelaskan lafadz “Rumah-rumah mereka lebih utama bagi mereka“, maksudnya adalah “Shalat-shalat mereka (wanita) di rumahnya itu lebih utama bagi mereka dibandingkan dengan shalatnya di masjid. Jika mereka mengetahui yang demikian (pastilah mereka tidak meminta untuk keluar masjid). Akan tetapi kerana mereka tidak mengetahuinya, maka mereka (shahabiyah) meminta izin untuk keluar ke masjid dengan berkeyakinan bahwa pahalanya lebih banyak daripada shalat di rumahnya”(Lihat Nailul Authar 3:131).

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
لَا تَمْنَعُوْا إمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلْيَخْرُجْنَ تَفِلَاتٍ
“Janganlah kamu melarang wanita-wanita itu datang ke masjid-masjid Allah. Jika mereka hendak ke masjid hendaklah mereka itu keluar tanpa memakai wangi-wangian” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
أَيُّماَ امْرَأَةٌ أَصَابَتْ بُخُوْرًا، فَلاَ تَشْهَدْ مَعَناَ الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ
“Perempuan manapun yang memakai minyak wangi-wangian, maka jaganlah ia ikut mengerjakan shalat isya’ bersama kami” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i dengan sanad yang hasan)



Dari Yahya bin Sa’id, dari Umrah, dari Aisyah, ia berkata,
لَوْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ. كَمَا مُنَعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ. قَالَ فَقُلْتُ لِعَمْرَةَ: أَنِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ مُنِعْنَ الْمَسْجِدَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ.
Seandainya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melihat apa yang diperbuat wanita saat ini, tentu beliau melarang mereka pergi ke mesjid, seperti dilarangnya wanita Bani Israel. Yahya berkata: Aku bertanya kepada Amrah: Apakah wanita Bani Israel dilarang pergi ke mesjid (tempat ibadah mereka)? Ia menjawab: Ya. (Muttafaq ‘alaih)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Sabda beliau (Dan hendaklah mereka itu keluar tanpa memakai wangi-wangian) Termasuk dalam katagori ath-thib adalah semua yang semakna dengannya, yaitu yang bisa membangkitkan syahwat, seperti : pakaian indah, mengenakan perhiasan, bersolek; karena aromanya, perhiasannya, bentuknya dan penampilannya yang menampakkan keindahannya adalah fitnah bagi wanita, dan fitnah bagi laki-laki terhadapnya.
[Nailul Authar 1, hal. 721]

Sayyid Sabiq berkata :
Sebenarnya kaum wanita diperbolehkan datang ke masjid untuk mengikuti shalat jamaah, dengan syarat harus menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya syahwat ataupun fitnah, baik karena perhiasan maupun karena harum-haruman yang digunakan.
والافضل لهن الصلاة في بيوتهن لما رواه احمد والطبرانى عن ام حميد الساعدية انها جاءت الى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فقالت : يا رَسُوْلَ اللهِ إنى اَحَبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : قَدْ عَلِمْتُ , وَصَلَاتِكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صلَاتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ , وصَلَاتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ
Kaum wanita lebih utama mengerjakan shalat di rumah saja. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani dari Ummu Humaid as-Sa’diyah,
Ia datang menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata, “Ya Rasulullah, aku suka sekali mengerjakan shalat bersamamu” Beliaupun menjawab, “Aku tahu hal itu, tetapi shalatmu di rumahmu adalah lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Adapun shalatmu di masjid kaummu adalah lebih baik daripada shalatmu di masjid umum”
(HR.   Ahmad, no. 26550, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, no. 1689, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Targhib, no. 340; Fiqih Sunnah 1, hal. 337-338]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Pendapat  Para  Ulama  Tentang  Shalatnya  Wanita
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Shalat jama’ah bagi wanita itu lebih baik di rumahnya daripada mendatangi masjid. … Dan shalat wanita di rumahnya itu lebih menutupi dirinya dan lebih afdhol” (Al Majmu’, 4: 198).

Syekh Abdul Azim Abadi rahimahullah berkata,
"Alasan mengapa shalat mereka (para wanita) di rumah lebih utama karena disana aman dari fitnah. Hal itu dikuatkan setelah itu dengan terjadinya prilaku berdandan dan berhias di kalangan wanita."
(Aunul Ma'bud, 2/193)

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
Bagi kaum wanita, berjamaah tidak merupakan sunnah muakkad, tidak seperti laki-laki.. Kaum laki-laki makruh meninggalkan berjamaah, sedangkan bagi kaum wanita tidaklah makruh.
[Fathul Mu’in 1, hal. 359].
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Rumah-rumah mereka lebih utama bagi mereka. Hadits ini memberikan pengertian bahwa shalat wanita di rumahnya lebioh utama. Jika mereka (para wanita) berkata : “Aku ingin shalat di masjid agar mendapat dapat berjama’ah”. Maka akan aku katakan : “Sesungguhnya shalatmu di rumahmu itu lebih utama dan lebih baik. Hal itu dikarenakan seorang wanita akan terjauh dari ikhtilath bersama laki-laki lain, sehingga akan dapat menjauhkannya dari fitnah” [Majmu’ah Duruus Fatawa 2/274].
Ibnu Hazm rahimahullah berkata (Al-Muhalla, 3/125):
“Tidak diwajibkan bagi kaum wanita untuk menghadiri shalat maktubah (shalat fardhu) secara berjamaah. Hal ini merupakan perkara yang tidak diperselisihkan (di kalangan ulama).”
Beliau juga berkata: “Adapun kaum wanita, hadirnya mereka dalam shalat berjamaah tidak wajib.
Dan terdapatkan atsar yang shahih bahwa para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di kamar-kamar mereka dan tidak keluar ke masjid.” (Al-Muhalla, 4/196)

Ibnu Qudamah rahimahullah juga mengisyaratkan tidak wajibnya shalat jamaah bagi wanita dan beliau menekankan bahwa shalatnya wanita di rumahnya lebih baik dan lebih utama. (Al-Mughni, 2/18)
 
Imam Nawawi dalam syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sholat kaum wanita dirumahnya meskipun sendirian itu lebih baik daripada sholat mereka dimasjid meskipun berjamaah.
Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat berikut:
“Dari Ummu Humaid istri Abu Humaid as-Sa’idi ia datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Hai Rasulullah, aku senang sholat bersamamu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tahu bahwa engkau senang sholat bersamaku tetapi shalatmu di ruang khusus dirumahmu lebih utama daripada shalatmu di kamarmu. Dan shalatmu di kamarmu lebih utama daripada shalatmu diruang terbuka di rumahmu.dan shalatmu di rumahmu lebih utama daripada shalatmu di masjid kaummu dan shalatmu di masjid kaummu lebih utama daripada shalatmu di masiidku.” (HR. Ahmad No 26550, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya; dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin AI-AIbani di dalam Jilbab Mar’ah Muslimah, hal. I55)
 
Kesimpulan
Mayorita Ulama berpendapat :
1.     Shalatnya Wanita  di rumahnya, meskipun sendirian, lebih utama daaripada shalat si masjid, meskipun berjamaah.
2.    Wanita tidak dilarang shalat berjamaah di masjid asalkan tidak memakai pakaian indah, mengenakan perhiasan, dan bersolek.
 
Wallahu a’lam.




فيض القدير
36قال ابن جرير : وإذا شرع الآذن لها فيما يندب شهوده كجماعة ففيما هو فرض كأداة شهادة وتعلم ديني أو مندوب مؤكد كشهود جنازة أحد أبويها أولى قال الراغب والآذن يعبر به عن العلم لأنه مبدأ كثير من العلم فتناول الآذن في الشيء إعلام بإجازته والرخصة فيه لكن بين الآذن والعلم فرق فإن الآذن أخص ولا يكاد يستعمل إلا فيما فيه مشتبه ضامه أمر أم ل
4087( خير مساجد النساء قعر بيوتهن ) فالصلاة لهن فيها أفضل منها في المسجد حتى المكتوبة وذلك لطلب زيادة الستر في حقهن

فتح البارى
731قال النووي: إنما حث على النافلة في البيت لكونه أخفى وأبعد من الرياء، وليتبرك البيت بذلك فتنزل فيه الرحمة

عون المعبود
567وقال النووي إن النهي محمول على التنزيه ( وبيوتهن خير لهن ) أي صلاتهن في بيوتهن خير لهن من صلاتهن في المساجد لو علمن ذلك لكنهن لم يعلمن فيسئلن الخروج إلى المساجد ويعتقدن أن أجرهن في المساجد أكثر
 ووجه كون صلاتهن في البيوت أفضل الأمن من الفتنة ويتأكد ذلك بعد وجود ما أحدث النساء من التبرج والزينة ومن ثم قالت عائشة ما قالت
قال النووي إنما حث على النافلة في البيت لكونه أخفى وأبعد من الرياء وأصون من محيطات الأعمال وليتبرك البيت بذلك وتنزل فيه الرحمة والملائكة وينفر منه الشيطان كما جاء في الحديث
[ 1044 ] ( قال صلاة المرء في بيته أفضل ) لأنه أبعد من الرياء
 والحديث يدل على استحباب فعل صلاة التطوع في البيوت وأن فعلها فيها أفضل من فعلها في المساجد ولو كانت المساجد فاضلة كالمسجد الحرام ومسجده صلى الله عليه و سلم ومسجد بيت المقدس
 وقد ورد التصريح بذلك في هذا
الحديث فإن فيه صلاة المرء في بيته أفضل من صلاته في مسجدي هذا إلا المكتوبة قال العراقي وإسناده صحيح
 فعلى هذا لو صلى نافلة في مسجد المدينة كانت بألف صلاة على القول بدخول النوافل في عموم الحديث وإذا صلاها في بيته كانت أفضل من ألف صلاة وهذا حكم المسجد الحرام وبيت المقدس
 وقد استثنى أصحاب الشافعي من عموم أحاديث الباب عدة من النوافل فقالوا فعلها في غير البيت أفضل وهي ما تشرع فيها الجماعة كالعيدين والكسوف والاستسقاء وتحية المسجد وركعتي الطواف وركعتي الإحرام
 قاله الشوكاني ( إلا المكتوبة ) قال العراقي هو في حق الرجال دون النساء فصلاتهن في البيوت أفضل وإن أذن لهن في حضور بعض الجماعات
 وقد قال صلى الله عليه و سلم في الحديث الصحيح إذا استأذنكم نساؤكم بالليل إلى المسجد فأذنوا لهن وبيوتهن خير لهن والمراد بالمكتوبة الواجبات بأصل الشرع والصلوات الخمس دون المنذورة
 قال النووي إنما حث على النافلة في البيت لكونه أخفى وأبعد من الرياء وأصون من محيطات الأعمال وليتبرك البيت بذلك وتنزل فيه الرحمة والملائكة وينفر منه الشيطان كما جاء في الحديث
 قال المنذري وأخرجه الترمذي والنسائي بمثله وقال الترمذي حديث حسن




Wanita Mengimami Kaum Laki-laki
Imam Syafi’i berkata :
وإذا صلت المرأة برجال ونساء وصبيان ذكور فصلاة النساء مجزئة وصلاة الرجال والصبيان الذكور غير مجزئة لأن الله عز وجل جعل الرجال قوامين على النساء وقصرهن عن أن يكن أولياء وغير ذلك ولا يجوز أن تكون امرأة إمام رجل في صلاة بحال أبدا
Apabila seorang wanita menjadi imam kaum laki-laki, kaum wanita, dan sekelompok anak laki-laki, maka shalat kaum wanita itu sah namun shalat kaum laki-laki dan sekelompok anak laki-laki menjadi tidak sah, karena Allah Subhanahu wata’ala telah menjadikan kaum laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum wanita, maka tidak boleh bagi seorang wanita menjadi imam bagi laki-laki dalam keadaan bagaimanapun.

وهكذا لو كان ممن صلى مع المرأة خنثى مشكل لم تجزه صلاته معها ولو صلى معها خنثى مشكل ولم يقض صلاته حتى بان أنه امرأة أحببت له أن يعيد الصلاة وحسبت أنه لا تجزئه صلاته لأنه لم يكن حين صلى معها ممن يجوز له أن يأتم بها
Begitu juga apabila ada diantara mereka wanita khuntsa musykil (banci yang sulit diketahui ataukah lebih menyerupai laki-laki atau wanita), maka ia tidak boleh shalat bersama wanita itu. Apabila ia banci shalat bersama wanita dan ia tidak mengganti shalatnya hingga diketahui dengan jelas bahwa banci itu lebih menyerupai wanita, maka saya menyukai agar ia mengulangi shalatnya.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 232].

Ibnu Rusy dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
وإنما اتفق الجمهور على منعها أن تؤم الرجال، لأنه لو كان جائزا لنقل ذلك عن الصدر الأول، ولأنه أيضا لما كانت سنتهن في الصلاة التأخير عن الرجال علم أنه ليس يجوز لهن التقدم عليهم، لقوله عليه الصلاة والسلام
"أَخِّرُوْهُنَّ حَيْثُ أَخْرَهُنَّ اللهُ"
ولذلك أجاز بعضهم إمامتها النساء إذ كن متساويات في المرتبة في الصلاة، مع أنه أيضا نقل ذلك عن بعض الصدر الأول
Jumhur fuqaha sepakat melarang wanita menjadi imam bagi kaum lelaki. Sebab, jika wanita menjadi imam bagi kaum lelaki, sudah terkenal sejak awal Islam, lebih-lebih ajaran shalat bagi wanita terjadi setelah kaum lelaki. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa wanita tidak boleh mendahului kaum laki-laki. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam,
”Akhirkanlah mereka (wanita) lantaran Allah telah mengakhirkan mereka” (HR. Ahmad).
Berdasarkan pemikiran di atas, sebagian fuqaha membolehkan kaum wanita menjadi imam atas kaum wanita, karena persamaan derajat di dalam shalat. Lebih-lebih kenyataan seperti itu sudah banyak diriwayatkan sejak permulaan Islam.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 324-235].

Wanita Menjadi Imam Bagi Wanita
Sayyid Sabiq berkata :
فقد كانت عائشة رضي الله عنها تؤم النساء وتقف معهن فى الصف, وكانت أم سلمة تفعله, وجعل رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لأم ورقة مؤذنا لها وأمرها أن تؤم أهل دار هافى الفرائض
Aisyah RA sering menjadi imam bagi kaum wanita dan berdiri bersama mereka dalam satu barisan shaf. Demikian pula halnya Ummu Salamah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bahkan mengangkat seorang muadzin yang bernama Ummu Waraqah dan beliau memerintahkannya supaya menjadi imam bagi keluarganya pada saat mengerjakan shalat-shalat fardhu.
[Fiqih Sunnah 1, hal. 350].

Imam Syafi’i berkata :
عن عمار الدهنى عن امرأة من قومه يقال لها حجيرة أن أم سلمة أمتهن فقامت وسطا
Diriwayatkan dari Ammar Ad-Duhani dari seorang wanita yang berasal dari kaumnya, yang bernama Hajirah, bahwasanya Ummu Salamah mengimami kaum wanita dan ia berdiri di tengah-tengah mereka. (HR. Abu Daud No. 315).
Imam Syafi’i berkata :
عن عائشة أنه صلت بنسوة العصر فقامت في وسطهن
Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ia mengerjakan shalat dengan kaum wanita pada shalat Ashar, dan ia berdiri di tengah-tengah mereka.
Imam Syafi’i berkata :
إن من السنة أن تصلى المرأة بالنساء تقوم في وسطهن
Adalah sunah apabila seorang wanita shalat bersama kaum wanita, ia berdiri di tengah-tengah mereka.
وتؤم المرأة النساء في المكتوبة وغيرها وآمرها أن تقوم في وسط الصف وإن كان معها نساء كثير أمرت أن يقوم الصف الثاني خلف صفها
وتخفض صوتها بالتكبير والذكر الذي يجهر به في الصلاة من القرآن وغيره
Wanita dapat mengimami sesama wanita pada shalat fardhu dan lainnya. Saya menyuruh agar dia berdiri di tengah shaf.
Apabila bersama wanita itu terdapat banyak wanita, maka saya menyuruhnya untuk berdiri pada shaf kedua yang ada di belakangnya; ia merendahkan suaranya ketika takbir dan dzikir, baik membaca Al-Quran dan yang lainnya.
فإن قامت المرأة أمام النساء فصلاتها وصلاة من خلفها مجزئة عنهن
Apabila wanita itu berdiri di depan shaf dengan mengerjakan shalat sebagai imam bagi kaum wanita, maka shalat mereka yang ada di belakangnya telah memadai.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 233].

Lelaki Menjadi Imam Bagi Wanita
Sayyid Sabiq berkata :
روي أبو يعلى والطبرانى فى الأوسط بسند حسن أن أبى بن كعب جاء الى النبى صلى الله عليه وسلم فقال : يا رَسُوْلَ اللهِ عملت الليلة عملا. قال : ما هو؟ قال : نسوة معى فى الدار, قلن إنك تقرأ فصل بنا؟ فصليت ثمانيا والوتر. فسكت النبى صلى الله عليه وسلم قال : فرأينا سكوته رضا
Abu Ya’la dan Thabrani meriwayatkan dalam kitab Al-Ausath dengan sanad hasan,
“Ubai bin Kaab pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan berkata, ‘Ya Rasulullah, semalam aku mengerjakan sesuatu amal’. Nabi Shallallahu alaihi wassalam bertanya, ‘Amal apakah itu?’ Ubai berkata, ‘Di rumah ada beberapa orang wanita. Mereka mengatakan, “Anda dapat membaca Al-Quran dengan baik, sedangkan kami tidak. Karena itu shalatlah sebagai imam bagi kami” Akhirnya akupun mengerjakan shalat dekapan rekaat lalu berwitir’. Ketika mendengar serita tersebut, Nabi Shallallahu alaihi wassalam diam saja. Diamnya itu kami anggap sebagai tanda ridha dan pengakuannya’”
[Fiqih Sunnah 1, hal. 350].

Posisi Makmum Wanita
Hadits-hadits dalam kitab Al-Muntaqa :
Dari Abdurrahman bin Ghanam, dari Abu Malik Al-Asy’ari, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam:
‏‏عن رسولِ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم أنه كان يُسَوِّي بَيْنَ الْأرْبَعِ رَكَعَاتٍ في الْقِرَاءَةِ  وَيَجْعَلُ الرَّكْعَةَ الْأُوْلَى هِيَ أَطْوَلُهُنَّ لَكَيْ يَثُوْبَ النَّاسُ وَيَجْعَلُ الرِّجَالَ قُدَّامَ الْغِلْمَانِ وَالْغِلْمَانَ خَلْفَهُمْ وَالنِّسَاءَ خَلْفَ الْغِلْمَانِ
Bahwasanya beliau menyeimbangkan bacaan dan berdiri di keempat rekaatnya, yang mana rekaat pertama merupakan rekaat yang paling panjang, agar orang-orang sempat mendapatkannya. Beliau mengedepankan kaum laki-laki (dewasa) daripada anak-anak, sementara anak-anak di belakang mereka, dan kaum wanita di belakang anak-anak. (HR. Ahmad)

Dari Anas, ia menuturkan,
‏‏صَلَّيْتُ أَنَا وَالْيَتِيْمُ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم وَأُمِّيْ خَلْفَنَا أُمُّ سُلَيْمٍ
”Aku dan seorang anak yatim yang tinggal di rumah kami mengerjakan shalat di belakang Nabi Shallallahu alaihi wassalam, sementara ibuku, yakni Ummu Sulaim, di belakang kami (HR. Bukhari).

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا خَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
”Sebaik-baiknya shaf laki-laki ialah yang pertama dan seburuk-buruknya ialah shaf yang terakhir, sedang sebaik-baiknya shaf lwanita ialah yang terakhir dan seburuk-buruknya ialah shaf yang pertama” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏ويجعل الرجال قدام الغلمان‏)‏ الخ فيه تقديم صفوف الرجال على الغلمان والغلمان على النساء
Ucapan perawi : (Beliau mengedepankan kaum laki-laki (dewasa) daripada anak-anak) menunjukkan bahwa shaf kaum laki-laki dewasa paling depan, lalu shaf anak-anak, kemudian shaf kaum wanita.
[Nailul Authar 1, hal. 785]

Kesimpulan
1.     Wanita tidak dilarang shalat berjamaah di masjid, tetapi lebih baik shalat di rumahnya.
2.    Wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki.
3.    Laki-laki boleh menjadi imam bagi wanita.
4.    Posisi Wanita yang menjadi imam bagi wanita adalah di tengah-tengah shaf
5.    Jika  wanita menjadi makmum, maka posisinya adalah dibelakang shaf anak laki-laki.
6.    Shaf yang paling baik bagi wanita adalah yang paling belakang.

Wallahu a’lam

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Syekh Muhammad Abid As-Sindi, Musnad Syafi’i , Sinar Baru Algesindo, 2006.

*Slawi, Februari 2011


FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...