Rabu, 09 April 2014

BERDO’A DALAM KHUTBAH


MENGANGKAT KEDUA TANGAN  KETIKA BERDO’A
Oleh :MasnunTholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده  اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Renungan
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907])

Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan
وَاسْتُدِلَّ بِهَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوز الْإِقْدَام عَلَى الْعَمَل قَبْل مَعْرِفَة الْحُكْم ؛ لِأَنَّ فِيهِ أَنَّ الْعَمَل يَكُون مُنْتَفِيًا إِذَا خَلَا عَنْ النِّيَّة ، وَلَا يَصِحّ نِيَّة فِعْل الشَّيْء إِلَّا بَعْد مَعْرِفَة الْحُكْم
Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan tidak bolehnya melakukan suatu amalan sebelum mengetahui hukumnya. Sebab di dalamnya ditegaskan bahwa amalan tidak akan dinilai jika tidak disertai niat [yang benar]. Sementara niat [yang benar] untuk melakukan sesuatu tidak akan benar kecuali setelah mengetahui hukumnya (Fath al-Bari [1/22]).

Hadits-hadits dan Pendapat Ulama Tentang Mengangkat Kedua Tangan Ketika Berdo’a
Dari Anas bin Malik ra, ia berkata;
أَتَى رَجُلٌ أَعْرَابِيٌّ مِنْ أَهْلِ الْبَدْوِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْمَاشِيَةُ هَلَكَ الْعِيَالُ هَلَكَ النَّاسُ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ يَدْعُو وَرَفَعَ النَّاسُ أَيْدِيَهُمْ مَعَهُ يَدْعُونَ
“Datang seorang laki-laki Arab Pedalaman, penduduk Badui, kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Jumat. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, ternak kami telah binasa, begitu pula famili kami dan orang-orang.” Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm mengangkat kedua tangannya, dia berdoa, dan manusia ikut mengangkat kedua tangan mereka bersamanya ikut berdoa.” (HR. Bukhari No. 983, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6242)


Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri Rahimahullah:
قَالُوا هَذَا الرَّفْعُ هَكَذَا وَإِنْ كَانَ فِي دُعَاءِ الِاسْتِسْقَاءِ ، لَكِنَّهُ لَيْسَ مُخْتَصًّا بِهِ ، وَلِذَلِكَ اِسْتَدَلَّ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ الدَّعَوَاتِ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي مُطْلَقِ الدُّعَاءِ .
“Mereka mengatakan bahwa mengangkat tangan yang seperti ini jika terjadi pada doa istisqa saja, tetapi hadits ini tidaklah mengkhususkannya. Oleh karenanya, Imam Bukhari berdalil dengan hadits ini dalam kitab Ad Da’awat atas kebolehan mengangkat kedua tangan secara mutlak (umum) ketika berdoa.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/201-202)

Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ
“Biasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, kecuali ketika istisqa. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat ketiaknya yang putih” (HR. Bukhari no.1031, Muslim no.895)

Hadits-hadits dan Pendapat Ulama Tentang Mengangkat Jari Telunjuk Ketika Berdo’a di atas Mimbar
Dari ‘Umarah bin Ru’aybah, ia berkata
رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ: «قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ
Bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika menjadi khatib) di atas mimbar. ‘Umarah lalu berkata kepadanya: ‘Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu ini, karena aku telah melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika menjadi khatib tidak menambah lebih dari yang seperti ini: (Umarah lalu mengacungkan jari telunjuknya)‘”
(HR. Muslim, 847)
Diriwayatkan dari Thawus, diaberkata,
كان يكره دعاءهم الذي يدعونه يومالجمعة وكان لا يرفع يديه
bahwa beliau membenci mengangkat tangan saat berdoa pada hari Jum'at. Dan beliau sendiri tidak mengangkat kedua tangannya." (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 2/55)
Imam Al-Baihaqi berkata,
من السنة ان لا يرفع يديه في حال الدعاء في الخطبة ويقتصر على ان يشير باصبعه
 "Bagian dari sunnah adalah tidak mengangkat kedua tangan saat berdo'a dalam khutbah. Dan cukup mengisyaratkan dengan jarinya." (Lihat; Al-Sunan al-Kubra: 3/210)

Imam al-Nawawi berkata dalam menjelaskan kandungan hadits di atas,
هذا فيه أن السنة أن لا يرفع اليد في الخطبة وهو قول مالك وأصحابنا وغيرهم
"Di dalamnya terdapat sunnah agar tidak mengangkat tangan saat khutbah, ini adalah pendapat Malik, para sahabat kami dan selain mereka." (Syarh Muslim: 6/162)


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وكان يُشير بأصبعه السَّبَّابَة في خطبته عند ذكر اللّه تعالى ودعائه
 "Adalah beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengisyaratkan dengan jari telunjuknya dalam khutbahnya ketika berdzikir kepada Allah Ta'ala dan ketika berdoa." (Zaadul Ma'ad: 1/428)

Hushain mengkhabarkan kepada kami, ia berkata :
كُنْتُ إلَى جَنْبِ عُمَارَةَ بْنِ رُوَيْبَةَ ، وَبِشْرُ بْنُ مَرْوَانَ يَخْطُبُنَا ، فَلَمَّا دَعَا رَفَعَ يَدَيْهِ ، فَقَالَ عُمَارَةُ : يَعْنِي قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ ، رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَخْطُبُ إذَا دَعَا يَقُولُ هَكَذَا ، فَرَفَعَ السَّبَّابَةَ وَحْدَهَا .
Aku mendengar ‘Umarah bin ruaybah al-tsaqafi dan bisyr bin marwan berkhutbah, lalu mengangkat kedua tangannya ketika berdoa.Umaroh berkata,“Semoga Allah menjelekkan kedua tangan tersebut, sungguh aku telah melihat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah menambah kecuali hanya begini (beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk”. (Sunan tirmidzi no.515)
Dari sahl bin sa’ad r.a ia berkata :
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرٍ وَلَا عَلَى غَيْرِهِ ، وَمَا كَانَ يَدْعُو إلَّا يَضَعُ يَدَهُ حَذْوَ مَنْكِبِهِ وَيُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إشَارَةً . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَقَالَ فِيهِ : لَكِنْ رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ
 “Aku tidak melihat Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuka kedua tangannya ketika berdoa di atas mimbar dan , tidaklah nabi berdoa kecuali beliau meletakkan tangannya sejajar dengan bahunya dan memberikan suatu isyarat dengan jari-jarinya” (HR Ahmad dan Abu dawud) kemudian sahl berkata : akan tetapi aku melihat rasulullah berbuat begini, lalu sahl mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan mengikat jari tengah dengan ibu jarinya.

Imam al-Syaukani berkata :
وَالْحَدِيثَانِ الْمَذْكُورَانِ فِي الْبَابِ يَدُلَّانِ عَلَى كَرَاهَةِ رَفْعِ الْأَيْدِي عَلَى الْمِنْبَرِ حَالَ الدُّعَاءِ وَأَنَّهُ بِدْعَةٌ
Dua hadits yang disebutkan dalam bab ini menunjukkan makruhnya mengangkat kedua tangan saat berdoa di atas mimbar, hal itu bid'ah. (Nailul Authar: 3/283)

Kesimpulan
1.     Mayoritas ulama berpendapat dianjurkan mengangkat kedua tangan ketika berdo’a.
2.    Mayoritas ulama berpendapat dianjurkan mengangkat jari telunjuk ketika (Khotib) berdo’a di atas mimbar.
3.    Mayoritas ulama berpendapat makruh hukumnya mengangkat kedua tangan ketika berdo’a di atas mimbar.

Wallahua’lam.

BACAAN KETIKA RUKU’



BACAAN KETIKA RUKU’
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com


Segala Puji bagi Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Hukum Bacaan Dalam Ruku’
Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar  1/79  berkata :
Ketahuilah bahwa zikir dalam rukuk sunat di sisi kami (Mazhab al-Syafi’e) dan di sisi jumhur ‘ulama’. Jikalau ditinggalkan secara sengaja atau terlupa tidaklah membatalkan solatnya, tidak berdosa dan tidak perlu sujud sahwi. Telah bermazhab al-Imam Ahmad bin Hambal dan sekumpulan (‘ulama’) bahawasanya (zikir ketika rukuk dan sujud itu) wajib. Maka hendaklah bagi orang yang bersolat menjaganya (sentiasa melakukannya) kerana adanya hadith-hadith yang jelas lagi sahih memerintahkan hal itu.
Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar, dan Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam.
[Al-Adzkar  1/79; Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Authar 1/514 ; Subulussalam 1/476 ].

Hadits-hadits Tentang Bacaan dalam ruku’
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda,
إِذَا رَكَعَ أَحَدُكُمْ فَقَالَ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَدْ تَمَّ رُكُوعُهُ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ وَإِذَا سَجَدَ فَقَالَ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَدْ تَمَّ سُجُودُهُ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ
"Jika salah seorang dari kalian rukuk lalu mengucapkan dalam rukuknya; (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung) tiga kali maka rukuknya telah sempurna. Dan itu adalah yang minimal. Kemudian ketika sujud mengucapkan; (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi) tiga kali maka rukuknya telah sempurna. Dan itu adalah yang minimal." Dan telah diriwayatkan dari Abdullah bin Al Mubarak, ia berkata; "Aku lebih suka bagi imam untuk bertasbih lima kali agar orang yang berada di belakangnya sempat membaca tasbih tiga kali. Ishaq bin Ibrahim juga berpendapat seperti ini." (HR. Tirmidzi 242)

Dalam Riwayat Muslim, dengan lafadz sebagai berikut :
...ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ
…..Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)." Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Maha Mendengar Allah akan orang yang memuji-Nya)." Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi)." Lama beliau sujud hampir sama dengan lamanya berdiri……
(HR.  Muslim 1291; Nasa’I 998; 
 
 
Dalam Riwayat Abu Dawud, dengan lafadz sebagai berikut :
فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَكَعَ قَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ ثَلَاثًا وَإِذَا سَجَدَ قَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ ثَلَاثًا
"Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ruku' beliau mengucapkan; "Subhaana rabbiyal 'azhiim wa bihamdihi (Maha suci Rabbku yang Maha Agung dengan pujian-Nya) " sebanyak tiga kali, dan apabila sujud beliau mengucapkan; "Subhaana rabbiyal a'la wa bihamdih (Maha suci Rabbku yang Maha Tinggi dengan segala pujian-Nya) " sebanyak tiga kali." 
Abu Daud mengatakan; "Saya khawatir tambahan ini tidak dari tambahan yang benar-benar terjaga (kebenarannya)." Abu Daud mengatakan; "Penduduk Mesir meriwayatkan dengan periwayatan tunggal mengenai dua isnad hadits ini yaitu hadits Rabi' dan hadits Ahmad bin Yunus.
(HR. Abu Dawud 736)
 
Dari 'Aisyah ia berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca do'a dalam rukuk dan sujudnya dengan bacaan: "SUBHAANAKALLAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII (Maha suci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku) '."
(HR. Bukhari  752; Muslim 746; Abu  Dawud 743)
 
Dari 'Aisyah ia berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dahulu berdoa dalam rukuk dan sujudnya, "Mahasuci, Maha Qudus, Rabb malaikat dan ruh."
(HR. Muslim 487, 1119; Abu Dawud 872; Baihaqi 2664)
 
Dari Ali bin Abu Thalib, dia berkata, 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ أَنْتَ رَبِّي خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي وَمَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Apabila ruku' beliau membaca: " Ya Allah kepadaMu aku ruku' kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berserah diri, kepadaMu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan ototku khusu' karena Allah Tuhan semesta Alam.
(HR. Ahmad 960; Ibnu Hibban 1901; Al-Baihaqi 2397; Al-Umm 1/172)
 
Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i dia berkata;
قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ قَالَ ثُمَّ رَكَعَ بِقَدْرِ قِيَامِهِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ ثُمَّ سَجَدَ بِقَدْرِ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ فِي سُجُودِهِ مِثْلَ ذَلِكَ
"Di suatu malam, aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau kemudian berdiri dan membaca surat Al Baqarah, tidaklah beliau melewati ayat tentang rahmat, pasti beliau berhenti dan memohon kepada-Nya, dan tidaklah melewati ayat tentang adzab, melainkan beliau berhenti dan meminta perlindungan darinya." katanya melanjutkan; "Kemudian beliau ruku' yang lamanya seperti beliau berdiri, dalam ruku'nya beliau mengucapkan: "subahaana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaa`i wal 'azhamati (Maha suci dzat yang memiliki sifat kekuasaan, kerajaan, kebesaran dan keagungan)." Kemudian beliau sujud yang lamanya seperti beliau berdiri, dalam sujudnya beliau mengucapkan seperti itu juga,…………..
(HR. Abu Dawud 739; Tirmidzi 2609; Nasa’I 1039).
 
Pendapat Para Ulama Tentang Bacaan Ruku’
Imam Syafi’I berkata :
Saya lebih menyukai orang yang ruku’ dengan membaca (سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ ) sebanyak tiga kali, dan membaca apa yang saya riwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membacanya pula pada ruku’ dan sujud (Hadits Ali bin Abu Thalib)
[Ringkasan kitab Al-Umm 1/173]

Imam Nawawi berkata :
Sahabat-sahabat kami berkata, “Dianjurkan mengucapkan (سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ ). Diantara yang menyatakan anjuran bacaan ini adalah Al-Qadhi Abu Ath-Thayib, Al-Qadhi Hussain, pemilik Asy-Syamil, Al-Ghazali dan lainnya. Pernyataan Ar-Rafi’I yang menyebutkan bahwa tambahan (وَبِحَمْدِهِ ) syadz, tidaklah benar karena tambahan ini masyhur bagi imam-imam tersebut.
Sahabat-sahabat kami berkata, dianjurkan mengucapkan,
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ أَنْتَ رَبِّي خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي

[Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab 3/797]


Imam Zaenuddin dalam kitab Fathul Mu’in berkata : Lutut dibuka oleh telapak tangan yang dibuka dan merenggangkan jari sambil membaca  (سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِه ) tiga kali, sebab ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Paling sedikit satu kali membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud, sekalipun hanya mengucapkan (سُبْحَانَ الله ) dan paling banyak sebelas kali. Bagi yang munfarid dan Imam mahshur (biasa berjamaah) disunnatkan menambah bacaan do’a,
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ أَنْتَ رَبِّي خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي وَمَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
[Fathul Mu’in 1/193]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata : Ketika ruku’ disunnahkan membaca (سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ ). Adapun Lafadz (وَبِحَمْدِه ) maka itu diriwayatkan dari beberapa sumber, tapi semuanya lemah. Syaukani mengatakan, “Tetapi sumber-sumber ini saling menguatkan satu sama lain”
Orang yang sedang ruku boleh membaca dzikir ini saja, atau menambah dengan do’a berikut :
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ ……. لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
[Fiqih Sunnah 1/226].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata : Diantara do’a-do’a (ketika ruku’) dijelaskan dalam hadits-hadits berikut ini :
Dari 'Aisyah ia berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca do'a dalam rukuk dan sujudnya dengan bacaan: "SUBHAANAKALLAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII (Maha suci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku) '."
(HR. Bukhari  752; Muslim 746; Abu  Dawud 743)
Aisyah RA berkata, “Setelah diturunkan surat An-Nashr, (إذا جاء نصر الله والفتح )
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengerjakan shalat kecuali beliau membaca :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

[Subulussalam 1/477]

Dalam kitab Fathul Baari dijelaskan : Hadits ini merupakan dalil tentang penggabungan antara tasbih, tahmid dan istighfar dalam ruku’ dan sujud.
[Fathul Baari 6/24]

Kesimpulan
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa bacaan dzikir dalam shalat hukumnya sunnah.
2. Para ulama berpendapat boleh memilih salah satu bacaan dzikir yang diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam.







واعلم أن الذكر في الركوع سنة عندنا وعند جماهير العلماء ، فلو تركه عمداً أو سهواً لا تبطل صلاته ، ولا يأثم ولا يسجد للسهو. وذهب الإمام أحمد بن حنبل وجماعة إلى أنه واجب ، فينبغي للمصلي المحافظة عليه للأحاديث الصريحة الصحيحة في الأمر به ،

DO’A MAYAT PEREMPUAN



DO’A MAYAT PEREMPUAN
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده  اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Pendapat Ulama tentang Berdo’a untuk Mayat Perempuan
Para ulama sepakat (ijma’) bahwa mendo’akan jenazah laki-laki dalam shalat jenazah adalah dengan lafadz sebagaimana hadits berikut :
Dari Jubair bin Nufair ia mendengarnya berkata, saya mendengar Auf bin Malik berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menshalatkan jenazah, dan saya hafal do'a yang beliau ucapkan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ . قَالَ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ أَنَا ذَلِكَ الْمَيِّتَ.
Ya
Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya,
muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan
air, es dan embun sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah
rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga
yang lebih baik, gantilah istrinya dengan isri yang lebih baik, hindarkanlah
dari fitnah kubur dan siksa neraka. (HR. Muslim)

Pendapat Para Ulama Tentang Lafadz Do'a Untuk Mayat Perempuan 
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَدْعُو بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ الْوَارِدَةِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ ذَكَرًا أَوْ أُنْثَى وَلَا يُحَوِّلُ الضَّمَائِرَ الْمُذَكَّرَةِ إِلَى صِيغَةِ التَّأْنِيثِ إِذَا كَانَتْ الْمَيِّتُ أُنْثَى لِأَنَّ مَرْجِعَهَا الْمَيِّتُ وَهُوَ يُقَالُ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى اِنْتَهَى .
Yang dhahir adalah berdo’a dengan lafadz-lafadz yang bersumber dari hadits-hadits ini baik untuk mayat laki-laki maupun mayat perempuan, tidak perlu mengubah dhamir-dhamir mudzakkar menjadi dhamir-dhamir perempuan jika mayatnya perempuan, karena hal itu mengacu kepada mayat, dan dia diucapkan untuk mayat laki-laki dan mayat perempuan. SELESAI.
[Nailul Autar 7/143]
Pendapat yang sama juga dinyatakan dalam kitab Aunul Ma’bud dan Tuhfatul Ahwadzi.

Zaenudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani, berkata :
ويُؤَنَّثُ الضمائرُ في الانثى، ويجوز تَذْكِيْرُها بإرادة الميت أو الشَّخْصِ،
Dhamir-dhamir itu harus di-muannats-kan bagi mayat perempuan, namun boleh tetap di-mudzakar-kan dengan maksud kepada mayat yang dishalatkan atau orangnya (dalam hati).
[Fathul Mu’in 2/146]

Al-Bakri Dimyati menjelaskan,
(قوله: ويؤنث الضمائر في الانثى) كأن يقول: اللهم اغفر لها وارحمها إلخ،
(قوله: ويجوز تذكيرها) أي الضمائر في الانثى.
Ucapan beliau, (Dhamir-dhamir itu harus di-muannats-kan bagi mayat perempuan), maksudnya dengan mengucapkan “اللهم اغفر لها وارحمها إلخ “
Ucapan beliau, (namun boleh tetap di-mudzakar-kan), yakni untuk dhamir-dhamir mayat perempuan.
[I’anatuth Thalibin 2/146]

Ibnu Utsaimin dalam kitab Syarah Riyadush Shalihin berkata,
فإن كان كانت امرأة فإنه يقول اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها ..
Apabila mayatnya perempuan maka do’anya : (اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها .. ), “Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia….”
[Syarah Riydush Shalihin Ibnu Utsaimin 1/1063]

Imam Nawawi dalam kitab Rhaudhatuth Thalibin berkata,
Apabila mayatnya perempuan, beliau berdo’a :
اللَّهُمَّ هَذِهِ أَمَتُكَ وبِنْتُ عَبْدَيْكَ
“Ya Allah, ini hamba perempuan-Mu dan anak perempuan dari kedua hamba-Mu”
[Rhaudhatuth tholibin 2/126; Hasyiah Qalyubi 4/375; Fathul Aziz Syarah Al-Wajiz 11/180]

Kesimpulan
Para Ulama berbeda pendapat tentang lafadz do’a untuk jenaxzah perempuan dalam shalat jenazah. Perbedaan tersebut ada tiga macam.
  1. Pendapat pertama, Tetap seperti lafadz aslinya, yaitu : (…..اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ )
  2. Pendapat kedua, berubah dhamirnya, menjadi : (…….اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا )
  3. Pendapat ketiga, dengan lafadz : (اللَّهُمَّ هَذِهِ أَمَتُكَ وبِنْتُ عَبْدَيْكَ)

Wallahu a’lam.

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...