Rabu, 09 April 2014

SHALAT SUNNAH SESUDAH WUDHU



SHALAT SUNNAH SESUDAH WUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com


ان الحمد لله نَحْمَدُهُ ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالن من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Renungan
Imam Syafi’I berkata :
إذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا قَوْلِي
"Apabila kalian mendapatkan di kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadikanlah sunnah Rasulullah sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkanlah apa yang aku katakan." (An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ 1/63; lihat Al-Harawi di kitab Dzammu Al-Kalam 3/47/1,)

Hadits-hadits tentang Shalat Sesudah Wudhu
Dari Uqbah bin Amir, dia berkata,
أنّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال: "مَا مِنْ أحَدٍ يَتَوَضّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِلُ بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إلاّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنّةُ"
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang yang berwudhu dan mengerjakan wudhunya dengan baik dan mengerjakan shalat dua rekaat dengan ikhlas dan tenang karena Allah, niscaya wajib baginya surge” (HR. Abu Dawud no. 169; Ahmad no 17352; Ibnu Hibban no. 1050).

Dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu, dia berkata,
رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ : « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, lalu mengerjakan shalat dua rekaat dengan khusyu, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu’” (HR. Bukhari no. 164; Muslim no. 226)
Dari Abu Darda, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
 (( مَنْ توضَّأ فأحسنَ الوضوءَ ، ثمَّ قام فصلَّى ركعتين أو أربعاً يُحسِنُ فيهما الركوعَ والخشوعَ ، ثمَّ استغفرَ الله غُفِرَ له ))
 ‘Barangsiapa yang berwudhu dan menyempurnakannya dengan baik, kemudian berdiri mengerjakan shalat dua atau empat rekaat, baik yang fardhu maupun yang sunnah, dan shalatnya dikerjakan dengan sempurna pada waktu ruku dan sujudnya, setelah itu ia memohon ampun kepada Allah, maka pasti Allah mengampuninya’”(HR. Ahmad no 450; lihat Fiqih Sunnah 1/307)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bilal ketika sholat Fajar,
"يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ" .
 “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan pahalanya sejak engkau memeluk Islam! Sesungguhnya aku mendengarkan bunyi kedua sandalmu di depanku di dalam surga”. Bilal menjawab, “Aku tidaklah mengerjakan suatu amal yang paling aku harapkan pahalanya, selain dari pada setiap kali bersuci, baik di waktu malam atau siang, aku selalu mengerjakan sholat semampu saya.”  (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no.1098, 1149; Muslim, no. 6274, 9670; Ahmad no. 9670; Ibnu Khuzaimah no. 1208; Ibnu Hibban no. 7085).

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Hadits ini mempunyai banyak faidah, diantaranya adalah bolehnya berijtihd dalam menetapkan ibadah, anjuran melaksanakan shalat setelah wudhu, dan bertanyanya sang guru kepada muridnya mengenai amalannya sehingga bisa menambahkan motivasi untuk muridnya.
[Bustanul Ahyar Mukhtashar Nailul Authar 2/666]

Mengerjakan Beberapa Shalat Sunnah Secara Bersamaan
Dalam kitab Raudhatuth Thalibin, Imam Nawawi berkata : Jika seseorang masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, atau melaksanakan shalau sunnah lainnya dan dia berniat dengan Tahiyatul Masjid sekaligus, maka berhasil penggabungan niatnya. Begitu juga jika dia tidak meniatkan untuk shalat Tahiyatul Masjid.  
[Raudhatuth Thalibin 1/311 (1/675)]

Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah  berkata :
Shalat Istikharah boleh dilakukan ketika mengerjakan shalat sunnah rawatib atau tahiyatul masjid, atau boleh pula dilakukan pada waktu malam atau siang.
[Fikih Sunnah 1, hal. 304].
Kesimpulan
1.     Mayoritas ulama berpendapat, disunnahkah shalat minimal 2 rekaat setelah wudhu.
2.    Mayoritas ulama berpendapat, shalat sunnah sesudah wudhu bias dilakukan bersamaan dengan shalat-shalat sunnah lainnya.

Wallahu a’lam


SHALAT TAHIYATUL MASJID-1



SHALAT TAHIYATUL MASJID
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Mayoritas ulama berpendapat, disunnahkan untuk shalat Tahiyatul Masjid setiap kali kita memasuki masjid.

Hadits-hadits Tentang shalat Tahiyatul Masjid.
Dari Qatadah, ia berkata,
عن أبي قتادة قال‏:‏ ‏(‏قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتىَّ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ‏)‏‏.‏
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka hendaklah ia tidak langsung duduk sebelum melaksanakan shalat dua rekaat” (HR. Jamaah)
وَالْأثْرَمُ فِي سُنَنِهِ‏.‏ وَلَفْظُهُ‏:‏ ‏(‏أَعْطُوا الْمَسَاجِدَ حَقَّهَا قالوا‏:‏ وَمَا حَقَّهَا قال‏:‏ أَنْ تُصَلُّوْا رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجْلِسُوْا‏)‏‏.‏
Al-Atsram juga meriwayatkan di dalam Sunannya. Adapun lafadznya : ”Berikanlah masjid-masjid itu haknya,” Para sahabat bertanya, ”Apa haknya?”. Beliau menjawab, ”Kalian shalat dua rekaat sebelum duduk”

Pendapat para Ulama tentang shalat Tahiyatul Masjid.
1. Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Hadits ini menunjukkan dianjurkannya shalat sunnah tahiyyatul masjid di semua waktu. Demikian pendapat segolongan ulama, termasuk diantaranya golongan Syafi’i. Namun Abu Hanifah, Al-Auza’I dan Al-Laits memakruhkannya pada waktu yang terlarang.
[Nailul Author 3/60 (1/665)]

2. Imam Nawawi salam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
Diantara shalat sunnah yang tidak disunahkan berjamaah adalah shalat dua rekaat Tahiyatul Masjid. Jika seseorang masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, atau melaksanakan shalau sunnah lainnya dan dia berniat dengan Tahiyatul Masjid sekaligus, maka berhasil penggabungan niatnya. Begitu juga jika dia tidak meniatkan untuk shalat Tahiyatul Masjid.
Dan boleh juga perbedaan ini dihubungkan pada orang yang berniat untuk mandi janabah. Apakah berhasil menggabungkan mandi janabah dengan mandi hari jumat atau hari raya, jika tidak digabungkan niatnya?
Jika seseorang melakukan shalat jenazah atau sujud tilawah atau sujud syukur atau dia shalat satu rekaat, maka menurut pendapat yang shahih, shalat Tahiyatul Masjidnya tidak berhasil (belum dikerjakan).
Saya katakan, ”Jika seseorang memasuki masjid pada satu waktu itu berulang-ulang, menurut Al-Mahamali dalam kitab Al-Lubab, dia mengatakannya bahwa cukup dengan shalat Tahiyatul Masjid sekali saja. Penulis At-Tatimah berpendapat jika seseorang itu memasuki masjid dengan berulang kali, maka disunnahkan untuk melaksanakan shalat Tahiyatul Masjidnya dengan berulang-ulang pula. Inilah pendapat yang lebih sahih.

Menurut Al-Mahamili, dimakruhkan untuk melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid pada dua keadaan, yaitu :
  1. Jika dia masuk masjid dan imam sedang melaksanakan shalat berjamaah.
  2. Jika dia masuk Masjidil Haram, maka dia disunnahkan untuk mengerjakan Thawaf.
Imam Al-Fadhal bin Abdan, dalam Al-Mushannaf mengatakan tentang permasalahan ibadah, “Jika seseorang lupa melaksanakan Tahiyatul Masjid dan dia duduk, beberapa saat kemudian dia teringat, maka dia disunnahkan untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid tersebut. Pendapat ini gharib (aneh). Dan pernyataan ini didukung oleh kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang orang yang masuk kedalam masjid pada hari jumat. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/311 (1/675)]

3. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata,
Terdapat perbedaan pendapat tentang orang yang memasuki masjid sesudah salat subuh di rumah. Menurut Syafi’i tetap disunatkan shalat Tahiyatul Masjid. Ini berdasarkan riwayat Ibnu Syihab dari Malik.
Menurut Abu Hanifah, tidak boleh ada shalat Tahiyatul Masjid. Ini berdasarkan riwayat Ibnul Qasim dari Malik.
Perbedaan ini disebabkan karena ada dua hadits yang bisa dipahami secara umum, bisa pula secara khusus.
Pertama,
“Apabila seseorang memasuki masjid, shalatlah dua rekaat,” (HR. Ibnu Majah dan Malik)
Kedua,
“Tidak ada shalat sunat sesudah fajar kecuali dua rekaat shubuh” (HR. Bukhari dan Nasai).
Hadits pertama waktunya umum tanpa batas, sedangkan shalatnya khusus.
Hadits kedua waktunya khusus, namun shalatnya umum.
Maka selanjutnya, kalau larangan shalat pada hadits kedua tersebut tidak berlaku apabila seseorang memasuki masjid, maka tetap disunnahkan tahiyatul masjid walaupun telah melakukan shalat shubuh.
Kalau larangan pada hadits kedua itu tanpa pengecualian, maka perintah pada hadits yang pertama tidak berlaku, yakni tidak disunnatkan shalat Tahiyatul Masjid bagi orang yang memasuki masjid di dalam waktu shubuh namun telah melakukan shalat shubuh.
[Bidayatul Mujtahid 1/463)]

4, Zaenudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
Orang yang tidak sempat mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid walaupun disebabkan hadats, disunatkan membaca, “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaluhur lagi Mahaagung” sebanyak empat kali.
Makruh shalat Tahiyatul Masjid bagi khatib yang memasuki masjid sesudah tiba waktu khutbah dan bagi orang yang bermaksud thawaf ketika memasuki Masjidil Haram. Namun tidak makruh bagi guru yang akan memberikan pelajaran di masjid (sesudah tiba waktu mengajat), berbeda dengan paham sebagian ulama yang memakruhkannya.
[Fathul Mu’in 1/338 (

Menggabungkan Niat Shalat Tahiyatul Masjid Dengan Shalat Sunnah Lainnya
Imam Nawawi salam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
Diantara shalat sunnah yang tidak disunahkan berjamaah adalah shalat dua rekaat Tahiyatul Masjid. Jika seseorang masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, atau melaksanakan shalau sunnah lainnya dan dia berniat dengan Tahiyatul Masjid sekaligus, maka berhasil penggabungan niatnya. Begitu juga jika dia tidak meniatkan untuk shalat Tahiyatul Masjid.
Dan boleh juga perbedaan ini dihubungkan pada orang yang berniat untuk mandi janabah. Apakah berhasil menggabungkan mandi janabah dengan mandi hari jumat atau hari raya, jika tidak digabungkan niatnya?


Catatan Tambahan :
Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata tentang shalat Istikharah :
Para ulama berkata : Dianjurkan istikharah dengan shalat dan doa tersebut. Shalat itu berjumlah dua rekaat sebagai shalat nafilah. Yang jelas, ia bisa dilakukan dengan dua rekaat sunnah rawatib atau takhiyatul masjid atau shalat sunnah lainnya.
[Al-Adzkar , hal. 206]

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan tentang shalat Istikharah : “Dapat dikatakan jika dia berniat mengerjakan shalat (sunnah) tersebut dan shalat istikharah secara bersamaan, maka hal tersebut dibolehkan”.

[Fathul Bari 11, hall. 185]


Kesimpulan
1.     Mayoritas ulama berpendapat bahwa Shalat Tahiyatul Masjid hukumnya sunnah.
2.    Shalat Tahiyatul Masjid bisa dilaksanakan bersamaan dengan shalat sunnah rawatib, dan shalat-shalat sunnah lainnya.
3.    Shalat Tahiyatul Masjid dilaksanakan setiap saat, setiap kali memasuki masjid kecuali sehabis shalat Shubuh dan shalat Ashar (Pendapat ini masih dipertentangkan para ulama)

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006

*Slawi, Maret 2011



















Selasa, 17 Januari 2012

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN

LARANGAN MENEMBOK KUBURAN
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Pendahuluan
Sebagai Muslim, kita tentu mencintai Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam. Dan salah satu bukti kecintaan kita kepada beliau adalah dengan mematuhi perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
فَأِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْئٍ فَاجْتَنِبُوْهُ وَاِذَا اَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْ تُوْا مِنْهُ مَاسْتَطَعْتُمْ
…maka jika aku mencegah kamu dari sesuatu, tinggalkanlah perkara itu dan jika aku perintahkan sesuatu kerjakanlah sekuat tenagamu. (Buchory-Muslim)
–Riyadush Salikhin 1, hal. 168
Ketaatan kita kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam adalah merupakan bukti ketaatn kita kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firmanNya :

مَنْ يُطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أرْسَلْنَاكَ عليهم حَفِيْظًا
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. An-Nisa 4 : 80)
Ketaatan kita kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam juga merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, senagaimana firmanNya :

قُلْ إنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ واللهُ غفورٌ رحيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali Imron 3 : 31)

Banyak diantara kita umat islam yang mengaku mencintai dan mentaati Allah dan RasulNya, namun meninggalkan perintah Allah dan RasulNya, dan sebaliknya justru melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Salah satu perbuatan yang masih banyak dilakukan oleh umat islam adalah menembok kuburan orang yang sudah meninggal., baik dia itu orang yang berilmu atau orang awam, dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Dalil-Dalil Larangan Menembok Kuburan
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mengutip hadits-hadits berikut :
1. Dari Sufyan At-Ramar,
أنَّهُ رَأى قَبْرَ النبيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم مُسَنَّمًا‏
Bahwasanya ia melihat kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam digundukkan. (HR. Al-Bukhari)‏

2. Dari Al-Qasim, ia berkata,
دخلتُ على عائشةَ فقلتُ‏:‏ يا أمَّهْ بِاللَّهِ اكْشِفِيْ لي عن قبرِ النبيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم وصاحِبَيْهِ فَكَشَفَتْ له عن ثلاثةِ قبورٍ لا مُشْرِفَةٍ ولا لَاطِئَةٍ مَبْطُوْحَةٍ بِبَطْحَاءِ الْعَرْصَةِ الْحَمْرَاءِ‏
“Aku masuk ke tempat Aisyah, lalu aku katakana, ‘Wahai Ibu, demi Allah, bukakanlah untukku kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kedua sahabatnya’ Lalu Aisyahpun membukakan untukku ketiga kuburan yang tidak ditinggikan dan tidak pula diratakan, sementara diatasnya ada batu-batu kerikil merah’” (HR. Abu Darda)

3. Dari Abu Hayyaj Al-Asadi, dari Ali, ia mengatakan,
أبْعَثُكَ على ما بعثني عليه رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم لا تَدَعْ تِمْثَالًا إلَّا طَمَسْتَهُ ولا قبرًا مُشَرَّفًا إلا سَوَّيْتَهُ‏
“Aku mengutusmu pada apa yang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mengutusku padanya : Janganlah engkau membiarkan berhala kecuali engkau menghancurkannya dan tidak pula kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).

4. Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya,
أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم رَشَّ على قبرِ ابْنِهِ إبراهيمَ ووضَعَ عليه حَصْبَاءَ
Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyirami kuburan anaknya, Ibrahim, dan meletakkan batu di atasnya,” (HR. Asy-Syafi’i)

5. Dari Anas,
أن النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم أعْلَمَ قَبْرَ عُثْمَانِ بْنِ مَظْعُوْنٍ بِصَخْرَةٍ‏
Bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memberi tanda kuburan Utsman bin Mazh’un dengan batu besar” (HR. Ibnu Majah).

6. Dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,
نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللّهُ عليهِ وآلهِ وسلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ, وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ, وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ



”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasa’i dan Abu Dawud)
Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dan disahihkannya, redaksinya,
نَهَى أن تُجَصَّصَ الْقُبُوْرُ وأن يُكْتَبُ عليها وأن يُبْنَى عليها وأن تُوْطَأَ
”Beliau melarang menembok kuburan, menuliskan tulisan padanya, membuatkan bangunan padanya, dan menginjaknya,”


Dalam lafadz An-Nasa’i :
نَهَى أن يُبْنَى على القبرِ أو يُزَادَ عليه أو يُجَصَّصَ أو يُكْتَبُ عليه‏
”Beliau melarang membuat bangunan pada kuburan atau menambahnya (meninggikan) atau menemboknya atau menuliskan tulisan padanya”

Pendapat Para Ulama Tentang Menembok Kuburan
1. Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :
وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى , وَلاَ يُجَصَّصَ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ , وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا , وَلَمْ أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً
قَالَ الشَّافِعِيُّ : وَقَدْ رَأَيْت مِنْ الْوُلاَةِ مَنْ يَهْدِمَ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذَلِكَ فَإِنْ كَانَتْ الْقُبُورُ فِي الْأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى فِي حَيَاتِهِمْ أَوْ وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لَمْ يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى مِنْهَا
Saya menyukai bahwa tidak dibangun kuburan dan tidak dikapurkan. Karena yang demikian itu menyerupai hiasan dan kebanggaan. Dan tidaklah kematian itu tempat salah satu dari keduanya (perhiasan dan kebanggaan). Saya tidak melihat kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar itu dikapurkan.”
Imam Syafi’i juga berkata, “Dan saya melihat para penguasa di Mekah menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan dan saya tidak melihat ada ahli fiqih yang menyalahkan hal itu. Seandainya kuburan-kuburan itu ada di di dalam tanah milik orang yang mati tersebut ketika hidupnya atau ahli warisnya setelahnya, maka tidak dirobohkan yang dibangun darinya”.
[Al-Umm, Maktabah Syamilah, Ringkasan Kitab Al Umm 1/384]

2. Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Syarah Sahih Muslim berkata :
قال أصحابنا تجصيص القبر مكروه والقعود عليه حرام وكذا الاستناد إليه والاتكاء عليه وأما البناء عليه فان كان في ملك البانى فمكروه وان كان في مقبرة مسبلة فحرام نص عليه الشافعي والأصحاب
Sahabat-sahabat kami berkata, melepa kuburan itu makruh dan duduk di atasnya haram, demikian juga bersandar dan menguinjaknya. Adapun membangun di atasnya, apabila pada tanah milik orang yang membangun, maka makruh, dan apabila di tanah pemakaman umum, maka haram. Hal ini dinyatakan oleh Asy-Syafi’i dan para sahabatnya.
[Syarah Sahih Muslim, Maktabah Syamilah].

3. Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i dalam kitab Bulughul Maram juga mengutip hadits dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,
نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللّهُ عليهِ وآلهِ وسلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ, وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ, وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim)
[Bulughul Maraam hal. 239, lihat Riyadus Shalihin 2, hal. 566]



4. Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي.
Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya tiga perbuatan yang disebutkan dalam hadits itu, karena keharaman itulah pada dasarnya yang terkandung dalam kalimat larangan itu.
[subulussalam 1, hal. 870].

5. Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Asy-Syafi’i dalam kitab fathul Mu’in berkata :
وكره بناء له أي للقبر، أو عليه لصحة النهي عنه بلا حاجة، كخوف نبش، أو حفر سبع أو هدم سيل. ومحل كراهة البناء، إذا كان بملكه، فإن كان بناء نفس القبر بغير حاجة مما مر، أو نحو قبة عليه بمسبلة، وهي ما اعتاد أهل البلد الدفن فيها، عرف أصلها ومسبلها أم لا، أو موقوفة، حرم، وهدم وجوبا، لانه يتأبد بعد انمحاق الميت، ففيه تضييق على المسلمين بما لا غرض فيه
Makruh membangun tembok dalam liang kubur atau di atasnya tanpa keperluan atau darurat, umpamanya khwatir ada yang membongkar, atau (khawatir) digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir. Karena yang demikian itu berdasarkan larangan hadits shahih.
Hal ini makruh dilakukan bilamana bangunan tersebut berada di tanah milik sendiri. Namun, kalau bangunan oitu sendiri tidak dalam keadaan darurat seperti yang sudah diungkapkan tadi (khawatir ada yang membongkar, digali binatang buas, atau ambrol terbawa arus banjir); atau membangun sejenis kubah (misalnya pagar dan sebagainya) di atas tanah kuburan tanah musabbalah, yaitu tanah yang biasa disediakan untuk mengubur mayat oleh penduduk setempat, baik diketahui asal mula penyediaannya maupun tidak, atau memang tanah wakaf, maka yang demikian itu hukumnya haram dan wajib dirobohkan, sebab bangunan tersebut akan tetap berdiri, sekalipun mayatnya sudah punah. Dengan demikian berarti mempersempit kepentingan kaum muslim lainnya yang dalam hal ini menurut syara’ tidak perlu.
[Fathul Mu’in 1, hal. 498].

6. Al-Bakri Dimyati Asy-Syafi’i dalam kitab I’anatuth Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) menjelaskan :
(قوله: وكره بناء له) أي في باطن الارض.
(قوله: أو عليه) أي وكره بناء على القبر، أي فوقه. والمراد: في حريمه أو خارجه. ولا فرق فيه بين قبة أو بيت، أو مسجد، أو غير ذلك.
(قوله: لصحة النهي عنه) أي عن البناء. وهو ما رواه مسلم، قال: نهى رسول الله (ص) أن يجصص القبر وأن يبنى عليه. زاد وأن يقعد عليه الترمذي: وأن يكتب عليه، وأن يوطأ عليه. وقال: حديث حسن صحيح.
(Ucapannya Makruh membangun tembok) yakni di dalam tanah.
(Ucapannya : Atau di atasnya) yakni makruh membangun di atas kuburan, yakni di atasnya.
Yang dimaksud adalah di dalamnya atau di luarnya, dan tidak ada bedanya antara kubah, rumah, masjid, atau yang lainnya.

(Ucapannya : Karena sahnya larangan tentang hal tersebut), yakni tentang membangunnya. Dan larangan tentang hal itu diriwayatkan oleh Muslim, dimana dia berkata, ”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, dan membuat bangunan di atasnya” Tirmidzi menambahkan, ”duduk di atasnya, dan menulis di atasnya, dan menginjak-injak di atasnya”
Dia berkata : Hadits ini hasan shahih.
(I’anatuth Thalibin, Maktabah Syamilah)

7. Abu Yahya Zakaria bin Muhammad Al Anshary Asy Syafi’i dalam kitab Syarh Al Bahjatul Wardiyah, Al berkata :
قَالَ الرَّافِعِيُّ : وَسَوَاءٌ فِي الْبِنَاءِ الْقُبَّةُ ، وَالْبَيْتُ وَغَيْرُهُمَا ، بَلْ إنْ كَانَتْ مَقْبَرَةً مُسَبَّلَةً حَرُمَ ذَلِكَ وَيُهْدَمُ الْبِنَاءُ وَتُكْرَهُ الْكِتَابَةُ عَلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَكْتُوبُ فِي لَوْحٍ عِنْدَ رَأْسِهِ ، كَمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ بَعْضِ النَّاسِ أَمْ فِي غَيْرِهِ وَفِي كَرَاهَةِ كِتَابَةِ اسْمِ الْمَيِّتِ نَظَرٌ ،
Sama saja baik bangunan itu berupa kubah, rumah, dan selain keduanya, seandainya ada di tempat pemakaman umum, maka diharamkan dan bangunannya harus dirobohkan. Dimakruhkan menulis di atasnya, baik yang ditulis itu pada papan di kepalanya sebagaimana yang biasa dilakukan sebagian orang, atau selain papan. Dan tentang makruhnya menulis nama mayat perlu dikaji ulang.
[Syarh Al Bahjatul Wardiyah, Maktabah Syamilah].

8. Ays Syaikh Al Imam Zakaria ibnu Muhammad ibnu Zakaria al Anshari Asy-Syafi’i dalam kitab Asnal Mathalib (Syarah Ar-Raudhah), berkata :
وَسَوَاءٌ فِي الْبِنَاءِ الْقُبَّةُ أَمْ غَيْرُهَا وَسَوَاءٌ فِي الْمَكْتُوبِ اسْمُ صَاحِبِهِ أَمْ غَيْرُهُ فِي لَوْحٍ عِنْدَ رَأْسِهِ أَمْ فِي غَيْرِهِ قَالَهُ فِي الْمَجْمُوعِ وَكَمَا يُكْرَهُ الْبِنَاءُ عَلَيْهِ يُكْرَهُ بِنَاؤُهُ فَفِي رِوَايَةٍ صَحِيحَةٍ نَهَى أَنْ يُبْنَى الْقَبْرُ ( بَلْ يُهْدَمَ ) الْبِنَاءُ الَّذِي بُنِيَ ( فِي ) الْمَقْبَرَةِ ( الْمُسَبَّلَةِ ) بِخِلَافِ مَا إذَا بُنِيَ فِي مِلْكِهِ .
Sama saja baik bangunan itu berupa kubah atau selainnya, sama saja menulis nama si mayit atau selainnya pada papan di kepalanya atau pada selainnya, tentang hal ini dikatakan di dalam Al-Majmu’, sebagaimana dimakruhkan di atasnya, maka dimakruhkan pula membangunnya. Dalam riwayat yang shahih Rasulullah melarang kuburan dibangun. Bahkan harus dirobohkan bangunan yang dibangun di pemakaman umum, berbeda apabila dibangun di tanah miliknya sendiri.
[Asnal Mathalib, Maktabah Syamilah]
Catatan : Asnal Mathalib adalah kitab Syarah Ar-Raudhah (Raudhatuth Thalibin) karya Imam Nawawi Asy-Syafi’i. Sedangkan Raudhatuth Thalibin adalah kitab Ringkasan kitab Al-Aziz karya Imam Rafi. Al-Aziz merupakan syarah kitab Al-Wajiz karya Imam Ghazali.

9. Abu Al-Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (Syarah Jami’ut Tirmidzi) berkata :
واختلف الفقهاء الحنفية في تطيين القبور قال سراج أحمد السرهندي في شرح الترمذي وفي البرجندي وينبغي أن لا يجصص القبر وأما تطيينه ففي الفتاوي المنصورية لا بأس به خلافا لما يقوله الكرخي إنه مكروه
وفي المضمرات المختار أنه لا يكره انتهى
Para Fuqaha Hanafiah berbeda pendapat tentang melumuri kuburan dengan tanah liat. Siraj Ahmad Syarhandi dalam Syarah Tirmidzi dan dalam Al-Burjandi berkata : Seyogyanya kuburan tidak dilepa. Adapun melumurinya dengan tanah liat dalam fatwa Al-Manshuriyah tidak apa-apa, berbeda dengan apa yang dikatakan Al-Karhi bahwasanya hal itu makruh. Dan dalam Al-Mudmaroti pendapat yang dipilih, ia tidak makruh.
[Tuhfatul Ahwadzi, Maktabah Syamilah].

10. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
عن جابر قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر وأن يقعد عليه وأن يبني عليه. رواه أحمد ومسلم والنسائي وأبو داود والترمذي وصححه.
ولفظه: " نهى أن تجصص القبور، وأن يكتب عليها وأن يبني عليها وأن توطأ (1) " وفي لفظ النسائي: " أن يبني على القبر أو يزاد عليه أو يجصص أو يكتب عليه ".
والتجصيص معناه الطلاء بالجص، وهو الجير المعروف.
وقد حمل الجمهور النهي على الكراهة، وحمله ابن حزم على التحريم، وقيل: الحكمة في ذلك إن القبر للبلى لا للبقاء، وإن تجصيصه من زينة الدنيا، ولا حاجة للميت إليها.
Dari Djabir Rhadiallaahu ‘anhu, dimana dia berkata,
”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya” (HR. Muslim)
Tirmidzi menyatakan kesahihan hadits tersebut dengan kata-kata berikut, ”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur, membuat tulisan, membuat bangunan di atas kubur, menambahnya, menginjaknya”
Dalam lafadz An-Nasa’i :
”Beliau melarang membuat bangunan pada kuburan atau menambahnya (meninggikan) atau menemboknya atau menuliskan tulisan padanya”
Maksud menembok adalah melebur dengan adukan semen.
Jumhur mengartikan larangan itu sebagai makruh, sedangkan ibnu Hazm memandangnya haram. Adapun hikmah larangan itu adalah karena kubur itu hanya untuk sementara, bukan untuk selama-lamanya. Dan menembok itu termasuk perhiasan dunia yang tidak ada manfaatnya bagi mayat. Begitulah kata sebagian ulama.
[Fiqih Sunnah 2. hal. ].

11. Ibnul Qayyim Al-Hanbali dalam kitab Zaadul Ma’ad berkata :
ولم يكن من هديه صلى الله عليه و سلم تعلية القبور ولا بناؤها بآجر ولا بحجر ولبن ولا تشيدها ولا تطيينها ولا بناء القباب عليها فكل هذا بدعة مكروهة مخالفة لهديه صلى الله عليه و سلم وقد بعث علي بن أبي طالب رضي الله عنه إلى اليمن ألا يدع تمثالا إلا طمسه ولا قبرا مشرفا إلا سواه فسنته صلى الله عليه و سلم تسوية هذه القبور المشرفة كلها ونهى أن يجصص القبر وأن يبنى عليه وأن يكتب عليه
وكانت قبور أصحابه لا مشرفة
Bukan termasuk tuntunan Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam meninggikan urugan kuburan apalagi mendirikan bangunan di atasnya, baik dengan batu maupun dengan batu bata. Semua itu termasuk bid’ah yang dimakruhkan dan bertentangan dengan pertunjuk beliau. Ali bin Abu Thalib pernah diutus ke Yaman dn diperintahkan untuk menghancurkan semua berhala dan semua kuburan yang melebihi permukaan tanah harus diratakan. Beliau melarang pendirian bangunan di atas kuburan dan juga menulisinya serta memagarinya. Kuburan para sahabat tidak ada yang menonjol ke atas.
[Zaadul Ma’ad 1, hal. 64].

12. Imam Asy-Syaukani dalam kitab nailul Authar berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏أن يجصص القبر‏)‏ في رواية لمسلم‏:‏ ‏(‏عن تقصيص القبور‏)‏ والتقصيص بالقاف وصادين مهملتين هو التجصيص‏.‏ والقصة بفتح القاف وتشديد الصاد المهملة هي الجص وفيه تحريم تجصيص القبور‏.‏
Ucapan perawi Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang menembok kubur dalam riwayat Muslim : melarang penambahan pada kuburan ini menunjukkan haramnya menembok kuburan.
قوله‏:‏ ‏(‏وأن يبنى عليه‏)‏ فيه دليل على تحريم البناء على القبر وقد قال الشافعي‏:‏ رأيت الأئمة بمكة يأمرون بهدم ما يبنى ‏
Ucapan perawi dan membuat bangunan di atasnya ini menunjukkan haramnya membuat bangunan di atas kuburan. Asy-Syafi’i berkata, ”Aku telah melihat para pemimpin di Mekkah memerintahkan untuk menghancurkan bangunan di atas kuburan”
قوله‏:‏ ‏(‏وأن يكتب عليها‏)‏ فيه تحريم الكتابة على القبور
Ucapan perawi dan menuliskan tulisan padanya ini menunjukkan haramnya menuliskan tulisan di atasnya.
قوله‏:‏ ‏(‏ولا قبرًا مشرفًا إلا سويته‏)‏ فيه أن السنة أن القبر لا يرفع رفعًا كثيرًا من غير فرق بين من كان فاضلًا ومن كان غير فاضل‏.‏ والظاهر أن رفع القبور زيادة على القدر المأذون فيه محرم وقد صرح بذلك أصحاب أحمد وجماعة من أصحاب الشافعي ومالك
ومن رفع القبور الداخل تحت الحديث دخولًا أوليًا القبب والمشاهد المعمورة على القبور وأيضًا هو من اتخاذ القبور مساجد وقد لعن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم فاعل ذلك كما سيأتي وكم قد سرى عن تشييد أبنية القبور وتحسينها من مفاسد يبكي لها الإسلام منها اعتقاد الجهلة لها كاعتقاد الكفار للأصنام وعظم ذلك فظنوا أنها قادرة على جلب النفع ودفع الضرر فجعلوها مقصدًا لطلب قضاء الحوائج وملجأ لنجاح المطالب وسألوا منها ما يسأله العباد من ربهم وشدوا إليها الرحال وتمسحوا بها واستغاثوا وبالجملة إنهم لم يدعوا شيئًا مما كانت الجاهلية تفعله بالأصنام إلا فعلوه فإنا للَّه وإنا إليه راجعون
Ucapan perawi dan tidak pada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya, ini mengisyaratkan,bahwa sunnahnya kuburan itu tidak terlalu ditinggikan, baik yang dikubur itu orang yang dimuliakan ataupun bukan. Konteksnya adalah meninggikan kuburan melebihi batas yang dibolehkan adalah haram. Hal ini telah dinyatakan oleh para sahabat Ahmad dan segolongan sahabat Asy-Syafi’i dan Malik.
Diantara bentuk meninggikan kuburan yang tercakup oleh hadits tersebut adalah memasang kubah atau simbol-simbol kemakmuran di atas kuburan, juga menjadikan kuburan sebagai masjid. Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam telah melarang pelakunya. Berapa banyak kuburan yang dibangun dan diperindah sehingga menjadi sumber kerusakan yang layak ditangisi oleh umat islam, diantaranya adalah keyakinan kaum yang jahil terhadap kuburan-kuburan tersebut seperti keyakinan orang-orang kafir terhadap berhala. Mereka mengagungkannya dan mengira bahwa kuburan-kuburan itu mempunyai kemampuan untuk mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat, sehingga mereka menjadikannya sebagai bahan untuk mencapai tujuan dan jalan menyelamatkan diri. Mereka meminta dari kuburan-kuburan itu hal-hal yang biasa dimohonkan oleh para hamba kepada Tuhan. Mereka mengusahakan perjalanan yang memayahkan untuk menziarahinya, mengusap-usapnya dan memohon pertolongan. Secara umum apa yang mereka seru adalah seperti yang dilakukan oleh kaum jahiliyah dahulu terhadap berhala-berhala. Innaa lillaahi wainna ilaihi rooji’uun.
[Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Authar 2, hal. 217-218].

Kesimpulan
Mayoritas ulama melarang menembok kuburan dan mendirikan bangunan di atasnya.

Wallahu a’lam

Sumber Rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Syeikh Faishal bin Abdul Aziz, Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, Pustaka Azzam, Jakarta, 2000
-Maktabah Syamilah

*Slawi, Januari 2012 Affiliate Program ”Get Money from your Website”

Minggu, 25 Desember 2011

BERKUMPUL DI RUMAH KELUARGA MAYAT

BERKUMPUL DI RUMAH KELUARGA MAYAT
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ من شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا من يهده اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ له وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ له وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Renungan
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab berkata : Imam Syafi’I berkata :
إذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا قَوْلِي
"Apabila kalian mendapatkan di kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadikanlah sunnah Rasulullah sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkanlah apa yang aku katakan." (An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ 1/63; lihat Al-Harawi di kitab Dzammu Al-Kalam 3/47/1,)

Pendahuluan
Di kalangan sebagian mayarakat Islam terdapat kebiasaan berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayat setelah kematian si mayat, selama 7 malam berturut-turut. Biasanya kegiatan tersebut diisi dengan membaca surat Yaasiin dan berdzikir dengan suara keras secara berjamaah yang kemudian pahalanya dikirimkan kepada si mayit. Tentu saja disitu ada hidangan berupa makanan dan minuman. Bahkan pada malam-malam tertentu, ahli mayit menyiapkan oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang.
Uraian di bawah ini dibatasi hanya pada ’kegiatan berkumpul dan makan-makan’ di rumah keluarga mayit.
Apakah kegiatan tersebut disyariatkan dalam Islam?

Pendapat Para Ulama
Di bawah ini penulis kutipkan pendapat beberapa ulama yang sebagian besar bermadzhab Syafi’i disertai dalil-dalil yang mereka gunakan untuk memperkuat pendapat mereka tersebut.

1. Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm berkata :
وأحب لجيران الميت أو ذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما يشبعهم فإن ذلك سنة وذكر كريم وهو من فعل أهل الخير قبلنا وبعدنا لأنه لما جاء نعي جعفر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اجعلوا لآل جعفر طعاما فإن قد جاءهم أمر يشغلهم
Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat menyenangkan mereka, hal itu sunah dan merupakan sebutan yang mulia, dan merupakan pekerjaan orang-orang yang menyenangi kebaikan, karena tatkala datang berita wafatnya Ja’far, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan” (Musnad Imam Syafi’i No. 602; Al-Umm 1/397 ; lihat Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 387]

2. Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
قال المصنف رحمه الله * { ويستحب لا قرباء الميت وجيرانه ان يصلحوا لاهل الميت طعاما لما روى أنه لما قتل جعفر ابن ابى طالب رضي الله عنه قال النبي صلى الله عليه وسلم " اصنعوا لآل جعفر طعاما فانه قد جاء هم أمر يشغلهم عنه " }
* { الشرح } …واتفقت نصوص الشافعي في الام والمختصر والاصحاب على أنه يستحب لا قرباء الميت وجيرانه ان يعملوا طعاما لاهل الميت ويكون بحيث يشبعهم في يومهم وليلتهم قال الشافعي في المختصر واحب لقرابة الميت وجيرانه ان يعملوا لاهل الميت في يومهم وليلتهم طعاما يشبعهم فانه سنة وفعل أهل الخير
قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال " كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعِ إلى أهلِ الْمَيِّتِ وصُنَّعَةُ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ من النِّيَاحَةِ "
Pengarang (Asy-Syirazi) berkata :
Disunnahkan bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit berdasarkan riwayat bahwasanya Ketika berita kematian Ja'far datang sewaktu ia terbunuh, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far karena telah datang sesuatu yang menyusahkan mereka.”
Penjelasan (Oleh Imam Nawawi) :
Dan disepakati oleh Nash-nash Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Muhtashar dan para pengikutnya bahwasanya disunnahkan bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit dan bisa mengenyangkan mereka selama sehari semalam. Imam Syafi’i berkata dalam Al-Muhtashar : Dan saya menyukai bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit dan bisa mengenyangkan mereka selama sehari semalam karena itu sunnah dan merupakan perbuatan ahli kebaikan.
“Penulis kitab Asy-Syamil mengatakan, ‘Adapun menyiapkan makanan bagi keluarga yang berduka dan mengumpulkan orang-orang kepadanya, itu tidak pernah diriwayatkan sama sekali’”
Dia menambahkan, ‘Hal ini bid’ah dan tidak dianjurkan, sebagaimana yang telah dipaparkan’.
Demikianlah perkataan Pengarang kitab Asy-Syamil berdasarkan hadits dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”
Catatan : Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (Imam Nawawi) adalah kitab syarah Al-Muhadzdzab (Asy-Syirazi), yang terkenal dengan sebutan Kitab Madzhab Syafi’i. (pen.)
Sementara dalam kitab Raudhatuth Thalibin beliau berkata :
قلت قال صاحب الشامل وأما إصلاح أهل الميت طعاما وجمعهم الناس عليه فلم ينقل فيه شىء قال وهو بدعة غير مستحبة وهو كما قال
ولو اجتمع نساء ينحن لم يجز أن يتخذ لهن طعاما فإنه إعانة على معصية
Saya katakan, “Penulis kitab Asy-Syamil mengatakan, ‘Adapun menyiapkan makanan bagi keluarga yang berduka dan mengumpulkan orang-orang kepadanya, itu tidak pernah diriwayatkan sama sekali’”
Dia menambahkan, ‘Hal ini bid’ah dan tidak dianjurkan, sebagaimana yang telah dipaparkan’.
Jika para perempuan berkumpul untuk membuat makanan, maka mereka dilarang untuk mengambil makanan tersebut karena itu membantu untuk berbuat maksiat.
[Raudhatuth Thalibin 1/139 (1/950].

3. Al-Bakri Dimyati Asy-Syafi’i Dalam Kitab I’anatut Thalibin menguraikan :
ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه، لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة، ويستحب لجيران أهل الميت - ولو أجانب - ومعارفهم - وإن لم يكونوا جيرانا - وأقاربه الاباعد - وإن كانوا بغير بلد الميت - أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل. ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.
Dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk duduk-duduk berta’ziyah, dan membuat makanan supaya orang-orang berkumpul kesitu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”. Dan disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit – walau tetangga jauh – dan kenalan mereka, meskipun bukan tetangga, dan kerabatnya yang jauh, meskipun tidak di negeri si mayit, membuatkan makanan untuk keluarganya yang bisa mencukupi mereka sehari semalam. Dan haram membari makan kepada wanita yang meratap, karena hal tersebut membantu perbuatan maksiat. [I’anatut Thalibin 2/145]
Catatan : I’anatuth Thalibin (Al-Bakri Dimyati) adalah kitab Syarah Fathul Mu’in (Imam Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani), yang dikaji dan dipelajari dalam pondok-pondok pesantren Ahlussunnah waljama’ah. (pen.)

4. Imam Zaenudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani Asy-Syafi’i dalam kitab Irsyadul ‘Ibad menjelaskan :
ويكره لهم الجلوس لها وصنع طعام يجمعون الناس عليه لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي قال: كنا نعدّ الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة. ويستحب لجيران أهل الميت ولو أجانب ومعارفهم، وإن لم يكونوا جيراناً وأقاربه الأباعد، وإن كانوا بغير بلد الميت أن يصنعوا لأهله طعاماً يكفيهم يوماً وليلة. وأن يلحوا عليهم في الأكل، ويحرم صنعه للنائحة، لأنه إعانة على معصية
Dan dimakruhkan untuk duduk-dudk dan membuat makanan dengan mengumpulkan orang-orang untuk mendatanginya, karena Ahmad meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah bin Bajali,
“Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,”
Dan disunnahkan bagi para tetangga keluarga mayit, meskipun bukan dari pihak keluarganya dan para kenalan, meskipun bukan tatangga dan kerabat jauh, meskipun mereka berada di negeri lain, memberi makanan kepada keluarga mayit yang mencukupi untuk sehari semalam, dan mendorong mereka supaya makan. Dan haram membuatkan makanan untuk perempuan yang meratap karena hal itu membantu melakukan perbuatan maksiat. [Irsyadul ’Ibad ila Sabilir Rashad, Maktabah Syamilah]
5. Syeikh Zakaria Al-Anshary Asy-Syafi’i dalam kitab Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah menjelaskan :
وَأَمَّا تَهْيِئَةُ أَهْلِهِ طَعَامًا لِلنَّاسِ فَبِدْعَةٌ مَذْمُومَةٌ ذَكَرَهُ فِي الرَّوْضَةِ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ وَيُسْتَدَلُّ لَهُ بِقَوْلِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعَهُمْ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ
Adapun yang dilaksanakan keluarga mayit menyiapkan makanan bagi orang-orang adalah bid’ah yang tercela, sebagaimana disebutkan dalam Arruoudhoh. Dikatakan dalam Al-Majmu’ yang menjadi dasar adalah ucapan Jarir bin Abdullah bin Bajali,
“Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,” Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad sahih, dan dalam riwayat Ibnu Majah tidak terdapat kata ‘ba’da dafnihi’
[Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah, Maktabah Syamilah]

6. Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam menjelaskan :
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram mengutip hadits dari Abdullah Ibnu Ja'far Radliyallaahu 'anhu, dimana dia berkata:
لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ -حِينَ قُتِلَ- قَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم "اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا, فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ" أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ, إِلَّا النَّسَائِيّ َ
“Ketika berita kematian Ja'far datang sewaktu ia terbunuh, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far karena telah datang sesuatu yang menyusahkan mereka.’” (HR. Imam Lima kecuali Nasa'i). [Bulughul Maram, hal. ]

فيه دليل على شرعية إيناس أهل الميت بصنع الطعام لهم لما هم فيه من الشغل بالموت، ولكنه أخرج أحمد من حديث جرير بن عبد الله البجلي: "كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام بعد دفنه من النياحة". فيحمل حديث جرير على أن المراد صنعة أهل الميت الطعام لمن يدفن منهم ويحضر لديهم كما هو عرف بعض أهل الجهات، وأما الإحسان إليهم بحمل الطعام لهم فلا بأس به وهو الذي أفاده حديث جعفر.

Hadits ini dalil yang menunjukkan bahwa keharusan mengasihani dan menghibur keluarga yang ditimpa musibah kematian dengan memasakkan makanan baginya, karena mereka sibuk mengurusi kematian itu. Tetapi Ahmad meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah bin Bajali,
“Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)
Hadits dari Jarir bin Abdullah itu ditafsirkan bahwa maksudnya adalah pembuatan makanan oleh keluarga yang mati diberikan kepada mereka yang menguburkannya bersama mereka dan dihidangkan di hadapan mereka, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh sebagian orang yang tidak mengerti.
[Subulusssalam 1, hal. 889].
Catatan :
Subulussalam (Imam Ash-Shan’ani) adalah kitab Syarah Bulughul Maram disusun oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani.
7. Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak Asy-Syafi’i dalam kitab Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Authar menjelaskan :
قَوْلُهُ : ( كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ ) إلَى آخِرِهِ . يَعْنِي أَنَّهُمْ كَانُوا يَعُدُّونَ الِاجْتِمَاعَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ بَعْدَ دَفْنِهِ ، وَأَكْلَ الطَّعَامِ عَنْدَهُمْ نَوْعًا مِنْ النِّيَاحَةِ لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ التَّثْقِيلِ عَلَيْهِمْ وَشَغْلِهِمْ مَعَ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ شُغْلَةِ الْخَاطِرِ بِمَوْتِ الْمَيِّتِ وَمَا فِيهِ مِنْ مُخَالِفَةِ السُّنَّةِ ؛ لِأَنَّهُمْ مَأْمُورُونَ بِأَنْ يَصْنَعُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا فَخَالَفُوا ذَلِكَ وَكَلَّفُوهُمْ صَنْعَةَ الطَّعَامِ لِغَيْرِهِمْ .

Ucapan Jarir (kita (semua sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanam mayit itu, masuk bilangan "meratap") maksudnya bahwa mereka menganggap berkumpul di rumah keluarga si mayat setelah dikuburkannya dan menyantap makanan di tempat mereka adalah termasuk meratapi mayat, karena hal itu membebani dan menyibukkan keluarga si mayat, padahal mereka telah dirundung musibah kematian, disamping itu, hal ini menyelisihi sunnah, karena yang diperintahkan kepada mereka adalah membuatkan makanan untuk keluarga si mayat, sehingga bila mereka melakukan itu, berarti menyelisihi perintah tersebut dan membebani keluarga tersebut untuk membuatkan makanan bagi orang lain.
[Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Author 2, hal. 232-233]
Catatan :
Bustanul Ahyar Nuhtashar Nailul Authar (Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak) adalah merupakan kitab Ringkasan Nailul Authar (Imam Asy-Syaukani). Sedangkan Nailul Authar merupakan kitab Syarah Al-Muntaqa (Imam Al-Haraani).

8. Ibnul Qayyim Al-Jauziah Al-Hambali dalam kitab Zaadul Ma’ad berkata :
وكان من هديه صلى الله عليه و سلم تعزية أهل الميت ولم يكن من هديه أن يجتمع للعزاء ويقرأ له القرآن لا عند قبره ولا غيره وكل هذا بدعة حادثة مكروهة
وكان من هديه صلى الله عليه و سلم أن أهل الميت لا يتكلفون الطعام للناس بل أمر أن يصنع الناس لهم طعاما يرسلونه إليهم وهذا من أعظم مكارم الأخلاق والشيم والحمل عن أهل الميت فإنهم في شغل بمصابهم عن إطعام الناس
Tuntunan beliau (Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam) adalah menghibur (ta’ziyah) keluarga mayat. Bukan termasuk tuntunan beliau mengumpulkan manusia lalu dibacakan Al-Quran baik di sisi kuburan maupun di tempat lain. Semua ini merupakan bid’ah yang dibenci. Yang disunahkan ialah menciptakan suasana tenang, pasrah dan ridha terhadap qadha’ Allah. Tuntunan beliau adalah tidak membebani keluarga mayit untuk menghidangkan makanan. Tapi beliau justru menyuruh manusia agar mengirimkannya kepada keluarga mayit. Ini merupakan ahlak yang mulia dan dalam rangka meringankan beban penderitaan keluarga yang ditinggalkan mayit.
[Zaadul Ma’ad 1, hal. 65]

9. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqhussunnah berkata :
وما يفعله بعض الناس اليوم من الإجتماع للتعزية, وإقامه السرادقات, وفرش البسط, وصرف الأموال الطائلة من أجل المباهاة والمفاخرة من الأمور المحدثة والبدع المنكرة التى يجب على المسلمين اجتنابها, ويحرم عليهم فعلها, لاسيما وأنه يقع فيها كثير مما يخالف هدى الكتاب ويناقض تعاليم السنة, ويسير وفق عادات الجاهلية, كالتغنى باقران وعدم التزام اداب التلاوة, وترك الإنصات والتساغل عنه بشرب الدخان وغيره. ولم يقف الأمر عند هذا الحد, بل تجاوزه عند كثير من دون الأهواء فلم يكتفوا بالأيام الأول, بل جعلوا يوم الأربعين يوم تجدد لهذه المنكرات وإعادة لهذه البدع. و جعلوا ذكرى أولى بمناسبه مرور عام على الوفاة وذكرى ثانية, وهكذا مما لا يتفق مع عقل ولا نقل
Oleh karena itu, apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang di masa kini, yaitu bertakziyah sambil duduk berkumpul, mendirikan tenda, membentangkan amparan, serta menghamburkan uang yang tidak sedikit, termasuk bid’ah yang dibuat-buat, dan bid’ah yang mungkar yang wajib dihindarkan oleh kaum muslimin dan terlarang mengerjakannya. Apalagi banyak pula terjadi hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan menyalahi sunnah. Justru sebaliknya, ia sejalan dengan adat istiadat jahiliyah, misalnya menyanyikan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa mengindahkan norma dan tata tertib qira’at, tanpa menyimak dan berdiam diri, sebaliknya asyik bersenda gurau dan merokok. Dan tidak hanya sampai di sini, tetapi orang-orang hartawan melangkah lebih jauh lagi. Mereka tidak puas dengan hari-hari pertama, tetapi mereka peringati pada hari keempat puluh untuk membangkitkan kemungkaran-kemungkaran dan mengulangi bid’ah ini. Tidak saja mereka peringati genap satu tahun masa wafatnya, tetapi juga genap dua tahun dan seterusnya, suatu hal yang tidak sesuai dengan pikiran sehat dan tuntunan Al-Quran dan sunnah Nabi. [Fiqih Sunnah 2, hal. 203-204].

Kesimpulan
1. Mayoritas ulama menganjurkan bagi yang bertakziah untuk memberi makanan kepada keluarga yang tertimpa musibah.
2. Mayoritas ulama berpendapat tidak boleh berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga yang tertimpa musibah.
Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak, Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Authar, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Nawawi, Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Imam Nawawi Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab , Maktabah Syamilah.
-Imam Zaenudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani, Irsyadul ‘Ibad, Maktabah Syamilah.
-Syeikh Zakaria Al-Anshary, Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah, Maktabah Syamilah.
-Al-Bakri Dimyati, I’anatut Thalibin (E-Book)
-Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, Pustaka Azzam, Jakarta, 2000
*Slawi, Desember 2011

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...