Rabu, 16 Maret 2011

KIRIM PAHALA UNTUK MAYAT
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Masalah Mengirimkan Pahala Kepada Orang Yang Telah Meninggal diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat bahwa pahala amal itu sampai kepada orang yang sudah meninggal, ada yang berpendapat tidak sampai.
Di bawah ini adalah dalil-dalil baik berupa ayat suci Al-Quran maupun hadits yang digunakan oleh para ulama untuk memperkuat pendapatnya masing-masing.
Namun sebelum itu penulis mengingatkan akan hal-hal berikut :
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan agar tidak berbohong atas nama beliau, dan juga mengingatkan agar tidak menafsirkan al-Quran (dan hadits) dengan pendapatnya sendiri.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :
- " اِتَّقُوا الْحَدِيْثَ عَنِّي اِلَّا مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأُ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَ فِي القرآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأُ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ". هذا حديث حسن.
“Jagalah hadits dariku kecuali yang telah aku ajarkan. Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka. Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya dari neraka”
[HR. At-Tirmidzi, Bab Tentang Orang Yang Menafsirkan Al-Quran dengan Pendapatnya Sendiri, no. 2591]
[lihat Tafsir Al-Qurthubi 1, hal. 75]

Diriwayatkan dari Jundab, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
" وَمَنْ قَالَ فِي القرآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ". هذا حديث غريب
“Siapa yang berbicara mengenai Al-Quran dengan pendapatnya sendiri kemudian benar, dia tetap dianggap salah”
[HR. At-Tirmidzi, Bab Tentang Orang Yang Menafsirkan Al-Quran dengan Pendapatnya Sendiri, no. 2592]
[lihat Tafsir Al-Qurthubi 1, hal. 76]

Dalil 1
Firman Allah dalam surat An-Najm ayat 39 :
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Imam As-Suyuti dan Imam Al-Mahali dalam kitab Tafsir Jalalain dalam menafsirkan surat An-Najm ayat 39 sebagai berikut :
{ وأن } أي أنه { ليس للإنسان إلا ما سعى } من خير فليس له من سعي غيره الخير شيء
“Dan bahwasanya) bahwasanya perkara yang sesungguhnya itu ialah (seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya) yaitu memperoleh kebaikan dari usahanya yang baik, maka dia tidak akan memperoleh kebaikan sedikit pun dari apa yang diusahakan oleh orang lain”.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menafsirkan surat An-Najm ayat 39 sebagai berikut :
أي كما لا يحمل عليه وزر غيره, كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه,
ومن هذه الاَية الكريمة استنبط الشافعي رحمه الله ومن اتبعه, أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى, لأنه ليس من عملهم
ولا كسبهم ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء, ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم, ولو كان خيراً لسبقونا إليه, وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والاَراء,
Yakni, sebagaimana tidak dibebankan padanya dosa orang lain, demikian pula ia tidak mendapatkan ganjaran kecuali dari apa yang dia usahakan sendiri.
Dari ayat ini, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan yang mengikuti beliau mengambil kesimpulan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit. Karena dia bukan dari amalan mayit dan usahanya.
Oleh karenanya, Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam tidak menganjurkan dan memotivasi umatnya untuk itu. Tidak pula membimbing ke arah tersebut, baik dengan nash (teks) yang jelas atau dengan isyarat. Tidak pula dinukilkan hal itu dari seorang pun dari kalangan shahabat. Seandainya memang baik, tentu mereka akan mendahului kita dalam hal itu. Sedangkan dalam perkara ibadah, kita harus membatasinya pada nash (ayat dan hadits), tidak boleh diberlakukan padanya berbagai macam analogi (qiyas) dan pendapat akal.
فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما ومنصوص من الشارع عليهما
وأما الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: من ولد صالح يدعو له, أو صدقة جارية من بعده, أو علم ينتفع به» فهذه الثلاثة في الحقيقة هي من سعيه وكده وعمله
Adapun shodaqoh dan doa, hal ini telah disepakati bahwa bisa sampai. Dan telah disebutkan (bolehnya) oleh yang menetapkan syariat.
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, ia berkata, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Bila anak Adam meninggal maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal, anak sholih yang mendoakannya, shodaqoh jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.”
Tiga perkara ini pada hakikatnya adalah bagian dari usahanya, jerih payah dan amalnya

Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi berkata :
Firman Allah Subhanahu wata’ala, وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa ayat ini dinasakh dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka” (QS. Ath-Thuur 52 : 21) Maka, seorang anak kecil akan dapat menambah berat timbangan ayahnya pada hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala juga memberikan izin kepada para orang tua untuk memberikan pertolongan kepada para anak dan memberikan izin kepada para anak untuk memberikan pertolongan kepada para orangtua. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wata’ala,
آبآؤكم وأبناؤكم لا تدرون أيهم أقرب لكم نفعا
“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu” (QS. An-Nisaa 4 : 11).
Sebagian besar ahli takwil mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat muhkamah (hukumnya telah ditetapkan). Tidak ada seorangpun yang mendapatkan manfaat dari amal seseorang. Mereka juga sepakat bahwa seseorang tidak boleh shalat untuk orang lain.
Rabi’ bin Anas berkata, وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى , yakni orang kafir. Sedangkan orang beriman, maka dia memperoleh apa yang telah diusahakannya dan apa yang telah diusahakan orang lain untuknya.
Selanjutnya Qurthubi berkata :
Banyak hadits menunjukkan pernyataan ini dan sampainya pahala amal shaleh dari orang lain kepada orang yang beriman. Banyak dalil-dalil yang menunjukkan akan hal ini yang telah dipaparkan yang dapat diambil oleh orang yang merenungkannya, bahkan dalam hal sedekah, tidak ada perbedaan pendapat.
[Tafsir Al-Qurthubi 17, hal. 427-728].

Imam Syafi’i dalam kitab Tafsir Imam Syafi’i berkata :
Aku berkata kepada orang yang berdebat denganku, kita sama-sama tahu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan seorang perempuan untuk melakukan haji atas nama bapaknya, juga memerintahkan seorang laki-laki agar melakukan haji atas nama bapaknya. Jadi kita sama. Kita juga sependapat bahwa seseorang tidak bisa berpuasa atas nama orang lain. Tidak juga shalat atas nama orang lain.
[Tafsir Imam Syafi’i 3, hal. 441].

Dalil 2
عن عبدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو‏:‏ ‏(‏أنَّ العاصَ بْنَ وَائِلٍ نَذَرَ في الْجَاهِلِيَّةِ أنْ يَنْحَرَ مِائَةَ بَدَنَةٍ وأنْ هِشَامَ بْنَ الْعَاصِ نَحَرَ حِصَّتَهُ خَمْسِيْنَ وأن عَمْرًا سأل النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم عن ذلك فقال‏:‏ أمَّا أبُوْكَ فَلَوْ أَقَرَّ بِالتَّوْحِيْدِ فَصُمْتَ وَتَصَدَّقْتَ عَنْهُ نَفَعَهُ ذَلِكَ‏)‏‏.‏
Dari Abdullah bin Amr, bahwasanya Al’Ash bin Wail pernah bernadzar semasa jahiliyah untuk menyembelih seratus ekor unta, dan Hisyam bin Al’Ash telah menyembelihkan separohnya, yaitu lima puluh, lalu Umar bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, maka beliaupun bersabda, “Seandainya ayahmu mengakui tauhid, lalu engkau berpunya dan bershadawah atas namanya, maka itu akan bermanfaat baginya,” (HR. Ahmad).

Dalil 3
وعن أبي هريرة‏:‏ ‏(‏أنَّ رَجُلًا قال لِلنَّبِيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ إنَّ أبي مَاتَ وَلَمْ يُوْصِ أَفَيَنْفَعُهُ أنْ أتَصَدَّقَ عَنْهُ قال‏:‏ نعم‏)‏‏.‏
Dari Abu hurairah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya ayahuku telah meninggal tapi tidak berwasiat. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku bershadaqah atas namanya?” Beliau menjawab, “YA” (HR. Ahmad, Muslim, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)

Dalil 4
وعن عائشة‏:‏ ‏(‏ أنَّ رَجُلًا قال لِلنَّبِيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ إنَّ أمّي اِفْتَلَتَتْ نَفْسُهَا وَأرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قال‏:‏ نعم‏)‏‏.‏
Dari Aisyah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan aku lihat seandainya ia sempat berbicara tentu akan bersadaqah. Apakah ia bisa mendapat pahala bila aku bershadaqah atas namanya?” Beliau menjawab, “YA” (Mtafaq ‘Alaih)

Dalil 5
وعن ابنِ عباسٍ‏:‏ ‏(‏ أنَّ رَجُلًا قال لِرسولِ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ إن أمي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قال‏:‏ نعم قال‏:‏ فإنَّ لي مَخْرَفًا فأنا أشْهِدُكَ أنّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا ‏)‏‏.‏
Dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku bershadaqah atas namanya?” Beliau menjawab, “YA” Laki-laki itu berkata lagi, “Sesungguhnya aku mempunyai sebuah kolam, kini aku bersaksi padamu bahwa aku telah menyadaqahkannya atas namanya,”(HR. Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Daud dan An-Nasa’i)

Dalil 6
وعنِ الحسنِ عن سعدِ بْنِ عُبَادَةَ:‏ ‏(‏أنَّ أمِّهِ مَاتَتْ فقال‏:‏ يا رسولَ اللَّهِ إن أمّي مَاتَتْ فَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قال‏:‏ نعم قُلْتُ‏:‏ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ قال‏:‏ سَقْيُ الْمَاءِ .قال الْحَسَنِ‏:‏ فَتِلْكَ سِقَايَةُ آلِ سَعْدِ بِالْمَدِيْنَةِ‏)‏‏.‏
Dari Al-Hasan, dari Sa’ad bin Ubadah, bahwa ibunya meninggal, lalu Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal. Bolehkah aku bershadaqah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya”, Sa’ad bertanya lagi, “Shadaqah apa yang lebih utama?” Beliau menjawab, “member air minum” Al Hasan mengatakan, “Itulah pemberian air minum keluarga Sa’ad di Madinah” (HR. Ahmad dan Nasa’i).
Asy-Syaukani berkata dalam kitab Nailul Author :
وأحاديث الباب تدل على أن الصدقة من الولد تلحق الوالدين بعد موتهما بدون وصية منهما ويصل إليهما ثوابها فيخصص بهذه والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي أنه يصل كذا ذكره النووي في الأذكار‏.‏
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa shadaqah yang dilakukan atas nama orang tuanya yang telah meninggal akan sampai pahalanya kepada mereka walaupun mereka tidak mewasiatkannya. Pendapat yang masyhur dari Asy-Syafi’i dan segolongan sahabatnya, bahwa pahala membaca AlQuran tidak sampai kepada mayat. Namun Ahmad dan segolongan sahabatnya berpendapat sampai. An-Nawawi telah mengemukakan di dalam Al-Adzkar.
[Nailul Author 2, hal. 228]
‏
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
وفى المغنى لابن قدمه : قال احمد بن حنبل : للميت يصل إليه كل شيء من الخير , للنصوص الواردة فيه, ولان المسلمين يجتمعون فى كل مصر ويفرءون , و يهدون لموتاهم من غير نكير , فكان إجتماعا
Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berkata, “Ahmad bin Hambal berkata, ‘Apapun macam kebajikan akan sampai kepada mayat, berdasarkan keterangan-keterangan yang diterima mengenai itu, juga karena kaum muslimin biasa berkumpul di setiap negeri dan membaca al-Quran lalu menghadiahkannya kepada orang-orang yang telah meninggal dunia diantara mereka, dan tak seorangpun yang menentangnya, hingga menjadi ijma’,’”
Selanjutnya Sayyid Sabiq berkata :
والقائلون بوصول ثواب القراءة الى الميت , يشترطون أن لايأخذ القارئ على قراءته أجرا. فأن أخذ القارئ أجرا على قراءته حرم على المعطى والأخذ ولا ثواب له على قراءته.
لمارواه احمد والطبرانى والبيهقى عن عبد الرحمن بن شبل : أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ اقرءوا القران, واعلموا... ولا تجفوا عنه ولا تغلوا فيه , ولا تأكلوا به ولا تستكثروابه.
Kemudian orang-orang yang mengatakan sampainya pahala membaca al-Quran itu kepada mayat, mensyaratkan agar si pembaca tidak menerima upah atas bacaannya itu. Jika diterimanya, haramlah hukumnya, baik bagi si pemberi maupun si penerima, sedangkan bacaannya itu hampa tidak beroleh pahala apa-apa.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, dan Baihaqi dan Abdurrahman bin Syibal, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bacalah al-Quran dan amalkanlah, jangan terlalu jarang membacanya, dan jangan pula berlebih-lebihan, jangan mencari makan dengannya dan jangan pula mencari kekayaan”.
Sayyid Sabiq berkata :
قال ابن القيم : والعبادات قسمان : مالية وبدنية , وثد نبه الشارع بوصول ثواب الصدقة على وصول سائر العبادات المالية , و نبه بوصول ثواب الصوم على وصول سائر العبادات البدنية وأخبر بوصول ثواب الحج المركب من المالية و البدنية , فالأنواع الثلاثة ثابتة بالنص والاعتبار.
قال ابن عقيل : إذا فعل طاعة من صلاة وصيام وقراءة قران وأهداها , بأن جعل ثوابها للميت المسلم , فإنه يصل إليه ذلك وينفعه بشرط أن تتقدم نية الهد ية على الطاعة وتقارنها, ورجع هذا ابن القيم
Ibnul Qayim berkata, “Ibadah itu dua macam, yaitu ibadah maliyah dan ibadah badaniyah. Dengan sampainya pahala sedekah, syara’ mengisyaratkan sampainya pada seluruh ibadah yang menyangkut harta. Dengan sampainya pahala puasa, disyaratkan pula sampainya seluruh ibadah badaniyah. Kemudian disyaratkan pula sampainya pahala ibadah haji, suatu gabungan dari ibadah maliyah dan ibadah badaniyah. Maka ketiga macam ibadah itu, teranglah sampainya, baik dengan keterangan nash, maupun dengan jelas perbandingan,”
Ibnu Ukail berkata, “Jika seseorang melakukan amal kebajikan seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Quran lalu dihadiahkan, artinya pahalanya diperuntukkan bagi mayat muslim, maka pahala itu didahului oleh niat yang segera disertai dengan perbuatan”
Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Qayim.
[Fiqih Sunnah, hal. 212].

Dalam kitab Fiqih Empat Madzhab dinyatakan : Empat imam mazhab sepakat bahwa memohon ampun, mendo'akan, bersedekah, berhaji dan memerdekakan hamba sahaya dapat membawa manfaat bagi mayat serta akan sampai pahala kepadanya. Menurut mazhab ahlus sunnah, siapapun dapat menjadikan pahala amalnya untuk orang lain. Sedangkan yang mashur dalam mazhab Syafi'i : Hal itu tidak akan sampai kepada mayat.
[Fiqih Empat Mazhab, hal. 123.]

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
(وتنفع ميتا) من وارث وغيره (صدقة) عنه، ومنها وقف لمصحف وغيره، وبناء مسجد، وحفر بئر، وغرس شجر منه في حياته أو من غيره عنه بعد موته (ودعاء) له إجماعا. وصح في الخبر أن الله تعالى يرفع درجة العبد في الجنة باستغفار ولده له وقوله
Dapat bermanfaat buat orang mati sedekah yang dilakukan oleh ahli waris si mayat atau oleh orang lain sebagai ganti darinya (atas nama mayat). Antara lain melalui wakaf berupa mushaf al-Qur’an dan lain-lainnya, membangun masjid, membuat sumur, menanam pohon sewaktu mayat masih hidup, atau penanaman dilakukan oleh orang lain atas nama dia sesudah dia meninggal dunia.
Bermanfaat pula do’a yang dipanjatkan buat mayat, menurut kesepakatan ulama. Di dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengangkat derajat seorang hamba di surga berkat permohonan ampun dari anaknya buat dia.
Selanjutnya Zainudin berkata :
أما القراءة فقد قال النووي في شرح مسلم: المشهور من مذهب الشافعي أنه لا يصل ثوابها إلى الميت
Mengenai pahala membaca Al-Quran, Imam Nawawi di dalam kitab Syarah Sahih Muslim-nya mengatakan bahwa menurut pendapat yang terkenal dalam madzhab Syafi’i, pahala bacaan Al-Qur’an tidak dapat sampai kepada mayat.
[Fathul Mu’in 2, hal. 1109]

Dr. Musthafa Dib Al-Bugha, dkk dalam Syarah Riyadhush Shalihin berpendapat :
Disyariatkan bersedekah untuk mayat, dan manfaat sedekah itu sampai kepadanya. Hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah ta’ala “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm : 39). Karena ayat ini berkenaan dengan orang-orang kafir, dan kata Insan dalam ayat ini adalah kata umum namun dimaksudkan untuk kalangan khusus, yaitu untuk orang kafir.
[Syarah Riyadhush Shalihin 2, hal. 163].


Kesimpulan :
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang mengirimkan pahala amal kepada orang yang sudah meninggal adalah sebagai berikut :
1. Para ulama sepakat (Ijma’) bahwa do’a yang dipanjatkan akan sampai kepada orang yang sudah meninggal.
2. Mayoritas ‘ulama berpendapat bahwa amal orang yang hidup yang berupa maliyah (harta), seperti sedekah, pahalanya bisa dihadiahkan (sampai) kepada mayat.
3. Para ulama berbeda pendapat tentang sampainya pahala amal badaniyah orang yang hidup kepada orang yang sudah meninggal. Ada yang berpendapat sampai, dan ada yang berpendapat tidak sampai.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung, 2003
-Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’I, Jakarta, 2003.
-Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Asma, Jakarta, 2009.
-Syaikh Ahmad bin Musthafa al-Farran, Tafsir Imam Syafi’i, Almahira, Yakarta, 2007.
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syifa, Semarang, 1994.
-Syekh Muhammad bin Abdurrakhman Ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Madzhab, Hasyimi Press, Bandung, 2004
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Dr. Musthafa Dib Al-Bugha, dkk, Syarah Riyadhush Shalihin, Gema Insani, Jakarta, 2010.


*Slawi, Maret 2011

BERTURUT-TURUT (TERTIB) DALAM WUDHU

BERTURUT-TURUT (TERTIB) DALAM WUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اختلفوا في وجود ترتيب أفعال الوضوء على نسق الآية. فقال قوم: هو سنة، وهو الذي حكاه المتأخرون من أصحاب مالك عن المذهب، وبه قال أبو حنيفة والثوري وداود. وقال قوم: هو فريضة، وبه قال الشافعي وأحمد وأبو عبيد،
وسبب اختلافهم شيئان: أحدهما الاشتراك الذي في واو العطف، وذلك أنه قد يعطف بها الأشياء المترتبة بعضها على بعض، وقد يعطف بها غير المرتبة، وذلك ظاهر من استقراء كلام العرب، ولذلك انقسم النحويون فيها قسمين، فقال نحاة البصرة: ليس تقتضي نسقا ولا ترتيبا، وإنما تقتضي الجمع فقط، وقال الكوفيون: بل تقتضي النسق والترتيب؛
والسبب الثاني اختلافهم في أفعاله عليه الصلاة والسلام، هل هي محمولة على الوجوب أو على الندب؟ فمن حملها على الوجوب قال بوجوب الترتيب، لأنه لم يرو عنه عليه الصلاة والسلام أنه توضأ قط إلا مرتبا، ومن حملها على الندب قال إن الترتيب سنة،
Para ulama berbeda pendapat tentang urutan (tertib) perbuatan yang harus dilakukan dalam wudhu sesuai dengan urutan dalam ayat. Segolongan ulama mutaakhirin dari pengikut Malik, Abu Hanifah, Tsauri, dan Dawud berpendapat bahwa tertib perbuatan dalam ayat itu berkonotasi sunnat. Sedangkan menurut Syafi’i’ Ahmad, dan Abu Ubaid, tertib perbuatan itu berkonotasi wajib.
Dua hal yang menjadi sebab perbedaan pendapat di atas; Pertama, kata penghubung ‘wawu athaf’ yang berarti ‘dan’ itu mengandung fungsi ganda. Yakni dapat difungsikan sebagai penghubung antara satu perbuatan dengan perbuatan lain secara tertib dan bisa juga secara tidak tertib. Fungsi tersebut sudah sering digunakan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, para ahli nahwu terbagi menjadi dua aliran. Aliran Basrah mengatakan bahwa penghubung ‘wawu athaf’ itu tidak menunjukkan arti berurutan (tertib), tapi hanya menunjukkan ‘adanya perbuatan’ itu. Sedang menurut aliran Kufah, penghubung itu menunjukkan arti ‘berurutan’ (tertib).
Kedua, perselisihan para ulama dalam menafsirkan perbuatan Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam. Apakah perbuatan Nabi dalam wudhu itu menunjukkan arti wajib atau sunnat?
Ulama yang berpendapat bahwa perbuatan Nabi tersebut menunjukkan hukum wajib, maka urut (tertib) itu wajib, karena Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam selalu melaksanakan wudhu secara tertib. Ulama yang berpendapat bahwa perbuatan Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam tersebut menunjukkan sunnat, maka tertib dalam wudhu itu hukumnya sunnat.
[Bidayatul Mujtahid 1/13 (1/ 23].


عن خالد بن مَعْدَانَ عن بعضِ أزواجِ النبيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ‏(‏أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم رأى رجلًا يصلي في ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرَ الدِّرْهَمَ لَمْ يُصِبْهَا الماءُ فَأَمَرَهُ رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم أن يُعِيْدَ الوضوءَ‏)‏‏.‏
رواه أحمد وأبو داود وزاد والصلاةَ قال الأَثْرَمُ‏:‏ قُلْتُ لأحمدَ هذا إسْنَادُهُ جَيِّدٌ قال جَيِّدٌ‏.‏
Dari Khalid bin Ma’dan dan dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki sedang shalat padahal di atas tapak kakinya ada kulit yang mengkilat selebar dirham yang tidak kena air (wudhu), maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar ia mengulangi wudhu” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan Abu Dawud menambah dengan perkataan “Dan mengulangi shalat” Al-Atsram berkata, “Aku bertanya pada Imam Ahmad, adakah sanad hadits ini baik? Ia menjawab : ‘Baik)

وعن عُمَرِ بن الخطابِ‏:‏ ‏(‏أنَّ رجلًا توضأَ فترك مَوْضِعَ ظُفْرٍ على قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم فقال‏:‏ ارجعْ فأحْسِنْ وضوءك قال‏:‏ فرجع فتوضأَ ثم صلَّى‏)‏‏.‏
رواه أحمد ومسلم ولم يذكر فتوضأ‏.‏
Dari Umar bin Khattab, bahwa seorang laki-laki wudhu tetapi ia tidak menyiram tempat kuku atas kakinya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, maka ia bersabda, “Ulangilah dan perbaikilah wudhumu”. Umar berkata, “Lalu ia mengulangi wudhu lalu shalat” (HR. Ahmad, dan Muslim tidak menyebut, ‘lalu ia wudhu’)

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديث الأول يدل على وجوب إعادة الوضوء من أوله على من ترك من غسل أعضائه مثل ذلك المقدار‏.‏
والحديث الثاني لا يدل على وجوب الإعادة لأنه أمره فيه بالإحسان لا بالإعادة والإحسان يحصل بمجرد إسباغ غسل ذلك العضو‏.‏
Hadits pertama menunjukkan wajib mengulangi wudhu dari permulaannya bagi orang yang tidak mencuci sebagian anggotanya sebesar ukuran yang terdapat di dalam hadits itu. Hadits kedua menunjukkan tidak wajib mengulangi karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memperbaiki cukup dengan menyempurnakan anggota yang tidak tercuci itu saja.
فالحديث الأول يدل على مذهب من قال بوجوب الموالاة لأن الأمر بالإعادة للوضوء كاملًا للإخلال بها بترك اللمعة وهو الأوزاعي ومالك وأحمد بن حنبل والشافعي في قول له‏.‏
والحديث الثاني وحديث أنس السابق يدلان على مذهب من قال بعدم الوجوب وهم العترة وأبو حنيفة والشافعي في قول له
Hadits pertama menjadi dalil bagi orang yang berpendapat atas wajibnya berturut-turut, karena perintah mengulangi wudhu dengan sempurna itu disebabkan oleh meninggalkan kulit yang mengkilat (tidak tercuci). Demikian menurut Al-Auza’I, Malik, Ahmad, Ibnu Hanbal, dan menurut salah satu pendapat Al-Syafi’i.
Hadits kedua dan hadits Anas menjadi dalil bagi orang yang berpendapat tidak wajibnya ‘berturut-turut’. Mereka yang berpendapat demikian adalah Al-Atrah, Abu Hanifah, dan menurut Syafi’i di dalam salah satu pendapatnya.
[Nailul Authar 1/144 (1/386)]

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
قال الله عز وجل فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤسكم وأرجلكم إلى الكعبين
قال وتوضأ رسول الله صلى الله عليه وسلم كما أمره الله عز وجل وبدأ بما بدأ الله تعالى به قال فأشبه والله تعالى أعلم أن يكون على المتوضيء في الوضوء شيئان أن يبدأ بما بدأ الله ثم رسوله عليه الصلاة والسلام به منه ويأتي على إكمال ما أمر به فمن بدأ بيده قبل وجهه أو رأسه قبل يديه أو رجليه قبل رأسه كان عليه عندى أن يعيد حتى يغسل كلا في موضعه بعد الذي قبله وقبل الذي بعده لا يجزيه عندي غير ذلك وإن صلى أعاد الصلاة بعد أن يعيد الوضوء ومسح الرأس وغيره في هذا سواء
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “…. apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,…” (QS. Al-Ma’idah 5 : 6)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu sebagaimana yang diperintahkan kepadanya, dan memulai dengan apa yang dimulai (diperintahkan) oleh Allah Subhanahu wata’ala. Dengan demikian –wallahu a’lam- orang yang berwudhu hendaklah memperhatikan dua perkara; yaitu memulai dengan apa yang dumulai (diperintahkan) oleh Allah Subhanahu wata’ala, kemudian yang dimulai oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hendaknya menyempurnakan apa yang diperintahkan kepadanya. Barangsiapa memulai dengan tangannya sebelum muka, atau kepalanya sebelum dua tangannya, atau dua kakinya sebelum kepalanya, maka menurut saya hendaklah ia mengulang wudhunya sehingga ia membasuh sesuai urutan. Wudhunya tidak sah –menurut saya- kecuali bila dikerjakan sesuai urutannya. Lalu apabila ia telah melaksanakan shalat, maka hendaklah ia mengulangi shalatnya setelah berwudhu terlebih dahulu sesuai dengan urutan.
[Al-Umm 1/35 (Ringkasan Kitab Al-Umm 1/43)]

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الفرض السادس الترتيب فلو تركه عمدا لم يصح وضوؤه لكن يعتد بالوجه وما غسله
بعده على الترتيب ولو تركه ناسيا فقولان المشهور الجديد لا يجزئه ولو غسل أربعة أنفس أعضاءه دفعة باذنه لم يحصل إلا الوجه على الصحيح وعلى الثاني يحصل الجميع
Syarat wajib wudhu yang keenam adalah Tertib (berurutan). Apabila dia meninggalkannya dengan sengaja, maka wudhunya tidak sah. Akan tetapi membasuh wajah dan lainnya setelah wajah secara berurutan dianggap sah. Apabila meninggalkannya karena lupa, maka dal hal ini terdapat dua pendapat Imam Syafi’i; Pertama, menurut pendapat yang masyhur dan baru tidak sah. Apabila ada empat orang yang membasuhkan anggota wudhunya secara bersamaan dengan seizinnya, maka tidak dianggap kecuali membasuh wajah saja, menurut pendapat yang sahih. Kedua, semua sah dan dianggap.
[Raudhatuth Thalibin 1/41 (1/204)].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
فلم ينقل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه توضأ إلا مرتبا, والوضوء عبادة ومدار الأمر فى العبادات على الإتباع, فليس لأ حد أن يخالف المأثور فى كيفية وضوئه رسول الله صلى الله عليه وسلم خصوصا ماكان مطردا منها
Tidak ada sebuah haditspun yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam berwudhu tanpa berurutan dan tanpa tertib. Wudhu merupakan suatu ibadah, sedangkan prinsip utama ibadah itu ialah meneladani atau mengikuti jejak langkah sunnah Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam. Oleh karenanya, tidak boleh menyalahi sunnah yang sahih yang berhubung tata cara wudhu Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam, terutama tata cara yang sudah menjadi suatu ketetapan.
[Fiqih Sunnah1/ (1/52)[.

Kesimpulam
Mayoritas ulama berpendapat bahwa berurutan (tertib) dalam membasuh anggota wudhu ketika berwudhu hukumnya wajib.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.


*Slawi, Maret 2011

MEMULAI MEMBASUH ANGGOTA WUDHU DARI BAGIAN KANAN

MEMULAI MEMBASUH ANGGOTA WUDHU DARI BAGIAN KANAN
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Para ulama sepakat bahwa ketika berwudhu disunnahkan memulai membasuh anggota wudhu sebelah kanan sebelum membasuh anggota wudhu yang sebelah kiri.

عن عائشة رضي اللَّه عنها قالت‏:‏ ‏(‏كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يُحِبُّ التَّيَامُنَ في تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطَهُوْرِهِ وفي شَأْنِهِ كُلِّهِ‏‏
Dari Aisyah, ia berkata, “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai mendahulukan yang kanan dalam memakai sandalnya, berjalan, bersuci dan dalam segala urusannya” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syaukani berkata :
وفي الحديث دلالة على مشروعية الابتداء باليمين في لبس النعال وفي ترجيل الشعر أي تسريحه وفي الطهور فيبدأ بيده اليمنى قبل اليسرى وبرجله اليمنى قبل اليسرى وبالجانب الأيمن من سائر البدن في الغسل قبل الأيسر‏.‏
قال النووي‏:‏ قاعدة الشرع المستمرة استحباب البداءة باليمين في كل ما كان من باب التكريم والتزيين وما كان بضدها استحب فيه التياسر قال‏:‏ وأجمع العلماء على أن تقديم اليمين في الوضوء سنة من خالفها فإنه الفضل وتم وضوءه‏.‏
Didalam hadits ini menjadi dalil diperintahkannya memulai dengan sebelah kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, dan dalam bersuci, maka ia memulai dengan tangannya yang kanan sebelum yag kiri, dan kakinya yang kanan sebelum yang kiri, dan dari sebelah kanan dari semua anggota badan dibasuh sebelum yang sebelah kiri.
Imam Nawawi berkata : Menurut kaidah syar’i yang berlanjut, bahwa memulai dari sebelah kanan untuk segala perbuatan yang mulia dan berhias sangat dianjurkan, sedangkan perbuatan selain itu dianjurkan memulainya dengan yang sebelah kiri.
Lebih lanjut para ulama menyatakan, bahwa memulai sebelah kanan dalam berwudhu adalah sunnat, sedangkan yang menyalahinya tidaklah menerima keutamaan berwudhu meski wudhunya sempurna.
[Nailul Authar 1/139 (1/337)]

وعن أبي هريرة رضي اللَّه عنه‏:‏ ‏(‏أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ إذا لَبِسْتُمْ وإذا توضأْتُمْ فَابْدَؤُوْا بِأَيَامِنِكُمْ‏)‏‏
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kamu berpakaian dan apabila kamu berwudhu, maka mulailah dengan anggota-anggota kananmu” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديث يدل على وجوب الابتداء باليد اليمنى والرجل اليمنى في الوضوء وقد ذهب إليه من ذكرنا في الحديث الذي قبل هذا ولكنه كما دل على وجوب التيامن في الوضوء يدل على وجوبه في اللبس وهم لا يقولون به
قال الحافظ‏:‏ وفيه انقطاع وهذه الطرق يقوي بعضها بعضًا
Hadits ini menunjukkan atas wajibnya mulai dari tangan kanan dan kaki kanan ketika berwudhu, hal itu juga telah dibahas dalam hadits sebelum ini. Para ulama mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan tentang mendahulukan anggota badan yang kanan dalam berwudhu, tetapi kewajiban itu tidak berlaku bagi orang yang berpakaian.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, hadits ini ‘munqati’, sanad hadits itu sebagian kuat dan sebagian lainnya lemah.
[Nailul Authar 1/140 (1/337); lihat Fiqih Sunnah 1, hal. 56]

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
وذكر الله عز وجل اليدين والرجلين معا فأحب أن يبدأ باليمنى قبل اليسرى وإن بدأ باليسرى قبل اليمنى فقد أساء ولا إعادة عليه
Allah Azza wajalla menyebutkan kedua tangan dan kaki secara bersamaan, maka saya lebih menyukai seseorang memulai dari sebelah kanan sebelum yang kiri. Namun apabila ia memulai dari sebelah kiri sebelum yang kanan, maka ia telah berbuat sesuatu yang tidak baik, namun ia tidak harus mengulanginya.
[Al-Umm 1/35 (Ringkasan Kitab Al-Umm 1/43)]

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الثامنة تقديم اليمين على اليسار في يديه ورجليه وأما الأذنان والخدان فيطهران دفعة
فان كان أقطع قدم اليمين
Sunnah wudhu yang ke delapan adalah Mendahulukan yang kanan dari yang kiri, baik pada tangan maupun pada kaki. Adapun pada kedua pipi dan kedua telinga, maka disucikan dalam satu kali sekaligus (secara bersamaan). Apabila terputus, maka didahulukan yang kanan.
[Raudhatuth Thalibin 1/39 (1/203)].

Kesimpulam
Mayoritas ulama berpendapat disunnahkan memulai dengan membasuh anggota wudhu bagian yang sebelah kanan ketika berwudhu, kecuali pada kedua pipi dan kedua telinga yang dibasuh secara bersamaan.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.

*Slawi, Maret 2011

Selasa, 15 Maret 2011

BERDO’A DENGAN SUARA LEMBUT

BERDO’A DENGAN SUARA LEMBUT
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com


Pendahuluan
Berdo'a adalah merupakan ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambaNya. Allah subhanahuwata’ala berjanji akan mengabulkan hambaNya yang berdo'a kepadaNya.
QS. Al-Mu’min/Ghafir 40 : 60
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".

Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :
ان الدعاء هوالعبادة ثم قرأ : ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Sesungguhnya do’a itu ibadah, kemudian beliau membaca : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku perkenankan bagimu” (HR. Ashabul Sunan dan Al-Hakim).
[Ihya Ulumiddin 2, hal. 395]


Berdo’a Dengan Suara Lembut
Dalil 1
QS. Al-A’raf (7) ayat 55 :
ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.



Dalil 2
QS. Al-A’raf (7) ayat 205 :
واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والآصال ولا تكن من الغافلين
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Dalil 3
QS. Maryam 19 : 3
إذ نادى ربه نداء خفيا
yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

Dalil 4
QS. Al-Israa 17 : 110
قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"

Dalil 5
عن أبي موسى الأشعري قال رفع الناس أصواتهم بالدعاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب»
Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar dan Maha Dekat.” (HR. Al-Bukhari 4/2076)
[lihat Tafsir Al-Qurthubi 7, hal. 532]

Dalil 6
Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ياأيها الناس إن الذي تدعون ليس باصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم و بين اعناق ركابكم
Hai manusia, sesungguhnya zat yang kamu berdoa (kepadaNya) tidaklah tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kamu berdo’a (kepadaNya) itu diantara kamu dan antara tengkuk-tengkuk kendaraanmu”. (Mutafaq ‘Alaih)
[Ihya Ulumiddin 2, hal. 401]

Pendapat Para ’Ulama Tentang Adab Berdo’a
1. Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan :
أرشد تبارك وتعالى عباده إلى دعائه الذي هو صلاحهم في دنياهم وأخراهم فقال {ادعوا ربكم تضرعاً وخفية} قيل معناه تذللاً واستكانه, وخفية كقوله {واذكر ربك في نفسك} الاَية
وفي الصحيحين عن أبي موسى الأشعري قال رفع الناس أصواتهم بالدعاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب» الحديث, وقال ابن جريج عن عطاء الخراساني عن ابن عباس في قوله {تضرعاً وخفية} قال السر
وقال ابن جرير تضرعاً تذللاً واستكانة لطاعته وخفية يقول بخشوع قلوبكم وصحة اليقين بوحدانيته وربوبيته فيما بينكم وبينه لا جهراً مراءاة وقال عبد الله بن المبارك بن فضالة عن الحسن قال: إن كان الرجل لقد جمع القرآن وما يشعر به الناس وإن كان الرجل لقد فقه الفقه الكثير وما يشعر به الناس وإن كان الرجل ليصلي الصلاة الطويلة في بيته وعنده الزوار وما يشعرون به ولقد أدركنا أقوماً ما كان على الأرض من عمل يقدرون أن يعملوه في السر فيكون علانية أبداً ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء وما يسمع لهم صوت إن كان إلا همساً بينهم وبين ربهم وذلك أن الله تعالى يقول {ادعوا ربكم تضرعاً وخفية} وذلك أن الله ذكر عبداً صالحاً رضي فعله فقال {إذ نادى ربه نداء خفياً} وقال ابن جريج يكره رفع الصوت والنداء والصياح في الدعاء ويؤمر بالتضرع والاستكانه. ثم روي عن عطاء الخراساني عن ابن عباس في قوله {إنه لا يحب المعتدين} في الدعاء ولا في غيره.
Allah subhanahuwata’ala memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya agar mereka berdoa memohon kepadaNya untuk kebaikan urusan dunia dan akhirat mereka. Untuk itu Allah subhanahuwata’ala berfirman :
ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Menurut satu pendapat, makna yang dimaksud ialah mengucapkan do’a dengan perasaan yang rendah diri, penuh harap dan dengan suara yang lemah lembut. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firmanNya :
واذكر ربك في نفسك
Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu… (QS. Al-A’raf 7 : 205)

Didalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari yang menceritakan bahwa suara orang-orang terdengar keras saat mengucapkan do’anya. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب
Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar dan Maha Dekat.
Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurasani dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firmanNya : “Dengan berendah diri dan suara yang lembut”
Yang dimaksud dengan khiifah adalah suara yang pelan.
Ibnu Jarir mengatakan, makna tadarru’ ialah berendah diri dan tenang dalam ketaatan kepadaNya. Yang dimaksud dengan khiifah ialah dengan hati yang khusyuk, penuh keyakinan terhadap Keesaan dan KekuasaanNya terhadap semua yang ada antara kalian dan Dia, bukan dengan suara yang keras untuk pamer.
Abdullah Ibnul Mubarrak meriwayatkan dari Mubarak Ibnul Fudalah, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar hafal Al-Qur’an seluruhnya, tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Dahulu ada orang yang benar-benar banyak menguasai ilmu fiqih tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar gemar melakukan shalat yang panjang-panjang di dalam rumahnya, sedangkan di rumahnya banyak pengunjung yang bertamu tetapi mereka tidak mengetahuinya.Sesungguhnya kita sekarang menjumpai banyak orang yang tiada suatu amalpun di muka bumi ini mereka mampu mengerjakannya secara sembunyi, tetapi mereka mengerjakannya secara terang-terangan. Padahal sesungguhnya kaum muslim di masa lalu selalu berupaya dengan keras dalam do’anya tanpa terdengar suaranya selain hanya bisikan antara mereka dan Tuhannya.Demikian itu karena Allah telah telah berfirman dalam kitabNya :
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. (QS. Al-A’raf 7 : 55)
Dan firman Allah Subhanahu wata’ala ketika menceritakan seorang hamba yang saleh yang Dia ridhoi perbuatannya, yaitu :
Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam 19 : 3)
Ibnu Juraij mengatakan bahwa makruh mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdo’a; hal yang diperintahkan ialah melakukannya dengan penuh rasa rendah diri dan hati yang khusyuk. Kemudian Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurasani dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firmanNya :
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf 7 : 55)
Yakni dalam berdo’a dan dalam hal yang lainnya.
[Tafsir Ibnu Katsir 8, hal. 359].


2. Imam Al-Qurthubi
Imam Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan :
قوله تعالى: "ادعوا ربكم" هذا أمر بالدعاء وتعبد به. ثم قرن جل وعز بالأمر صفات تحسن معه، وهي الخشوع والاستكانة والتضرع. ومعنى "خفية" أي سرا في النفس ليبعد عن الرياء؛ وبذلك أثنى على نبيه زكريا عليه السلام إذ قال مخبرا عنه: "إذ نادى ربه نداء خفيا" [مريم: 3].
ونحوه قول النبي صلى الله عليه وسلم: (خير الذكر الخفي وخير الرزق ما يكفي). والشريعة مقررة أن السر فيما لم يعترض من أعمال البر أعظم أجرا من الجهر. قال الحسن بن أبي الحسن: لقد أدركنا أقواما ما كان على الأرض عمل يقدرون على أن يكون سرا فيكون جهرا أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء فلا يسمع لهم صوت، إن هو إلا الهمس بينهم وبين ربهم. وذلك أن الله تعالى يقول: "ادعوا ربكم تضرعا وخفية". وذكر عبدا صالحا رضي فعله فقال: "إذ نادى ربه نداء خفيا" [مريم: 3].
وقد استدل أصحاب أبي حنيفة بهذا على أن إخفاء "آمين" أولى من الجهر بها؛ لأنه دعاء. وقد مضى القول فيه في "الفاتحة".
وروى مسلم عن أبي موسى قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في سفر - وفي رواية في غزاة - فجعل الناس يجهرون بالتكبير - وفي رواية فجعل رجل كلما علا ثنية قال: لا إله إلا الله - فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أيها الناس أربعوا على أنفسكم إنكم لستم تدعون أصم ولا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم). الحديث.
Firman Allah, “Berdoalah kepada Tuhanmu” adalah perintah untuk berdo’a dan menyembah-Nya. Kemudian Allah menyandingkan perintah ini dengan sifat-sifat yang membuat do’a tersebut menjadi lebih baik. Seperti bersikap khusyu’, bersuara lembut, dan memohon dengan bersimpuh dihadapanNya. Maka lafadz “Wakhufyah” adalah bersuara pelan di dalam hati untuk menghindari perasaan riya. Oleh karena itu Allah memuji Nabi Zakaria di dalam firmanNya,
إذ نادى ربه نداء خفيا
Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam 19 : 3)
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
خير الذكر الخفي وخير الرزق ما يكفي
“Sebaik-baik dzikir adalah dengan suara yang lembut, sedangkan sebaik-baik rezeki adalah yang mencukupi” (Hadits ini disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’us Saghir no. 4009 dari riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi).
Syariat telah menetapkan bahwa berbuat sesuatu yang baik dengan sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya daripada melakukannya secara terang-terangan. Makna seperti ini telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah.

Al Hasan bin Abu Al Hasan berkata, “Kami mengetahui ada beberapa kaum di muka bumi ini yang mampu nelakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi akan tetapi mereka selalu melakukannya secara terang-terangan. Kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam berdo’a, namun tidak terdengar suara mereka. Doa yang mereka panjatkan hanya berupa bisikan antara mereka dengan Tuhan mereka” (Lihat Tafsir Al Hasan Al Bashri 1/380).
Hal itu karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” Begitu pula Allah menyebutkan seorang hamba yang shalih karena Dia ridha atas perbuatan hamba tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (QS. Maryam 19 : 3)
Para pengikut Abu Hanifah berdalil dengan ayat ini bahwa mengucapkan aamiin dengan suara lembut lebih utama daripada diucapkan dengan suara keras. Karena lafadz tersebut termasuk do’a. Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan dalam surah Al-Fatihah.
Muslim meriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan –dalam riwayat lain disebutkan, dalam sebuah peperangan- , lalu orang-orang mengeraskan suara takbir—dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada seseorang setiap kali mengeraskan suaranya saat mengucapkan, Laa ilaaha illallaah—, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Wahai manusia, lembutlah terhadap diri kalian sendiri. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdo’a kepada dzat yang tuli dan ghaib. Kalian sedang berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan dekat, Dia selalu bersama kalian” (HR. Al Bukhari).
[Tafsir Al-Qurtubhi 7, hal. 530-532]

3. Ibnu Jarir Ath-Thabari
Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Kitab Tafsir Ath-Thabari menjelaskan :
يقول تعالى ذكره: ادعوا أيها الناس ربكم وحده, فأخلصوا له الدعاء دون ما تدعون من دونه من الاَلهة والأصنام. تَضَرّعا يقول: تذللاً واستكانة لطاعته. وَخُفْيَةً يقول: بخشوع قلوبكم وصحة اليقين منكم بوحدانيته فيما بينكم وبينه, لا جهارا مراءاة, وقلوبكم غير موقنة بوحدانيته وربوبيته, فعل أهل النفاق والخداع لله ولرسوله. كما:
1ـ حدثني المثنى, قال: حدثنا سويد بن نصر, قال: أخبرنا ابن المبارك, عن المبارك فضالة, عن الحسن, قال: إن كان الرجل لقد جمع القرآن وما يشعر جاره, وإن كان الرجل لقد فقه الفقه الكثير وما يشعر به الناس, وإن كان الرجل ليصلي الصلاة الطويلة في بيته وعنده الزوّار وما يشعرون به. ولقد أدركنا أقواما ما كان على الأرض من عمل يقدرون على أن يعملوه في السرّ فيكون علانية أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء وما يسمع لهم صوت إن كان إلاّ همسا بينهم وبين ربهم وذلك أن الله يقول: ادْعُوا رَبّكُمُ تَضَرّعا وَخُفْيَةً وذلك أن الله ذكر عبدا صالحا, فرضي فعله فقال: إذْ نادَى رَبّهُ نِدَاءً خَفِيّا.
2ـ حدثنا ابن حميد, قال: حدثنا جرير, عن عاصم الأحول, عن أبي عثمان النهدي, عن أبي موسى, قال: كان النبيّ صلى الله عليه وسلم في غزاة, فأشرفوا على واد يكبرون ويهللون ويرفعون أصواتهم, فقال: «أيّها النّاسُ ارْبَعُوا على أنْفُسِكُمْ, إنّكُمْ لا تَدْعُونَ أصَمّ وَلا غائِبا إنّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعا قَرِيبا مَعَكُمْ».
3ـ حدثنا القاسم, قال: حدثنا الحسين, قال: ثني حجاج, عن ابن جريج, عن عطاء الخراساني, عن ابن عباس, قوله: ادْعُوا رَبّكُمْ تَضَرّعا وَخْفْيَةً قال: السرّ.

Allah berfirman : Wahai manusia, berdo’alah hanya kepada Tuhanmu. Bersikap ikhlaslah dalam berdoa kepadaNya tanpa berdo’a kepada yang lain seperti kepada tuhan-tuhan lain dan berhala-berhala.
Firman Allah “Berserah diri” maknanya adalah merendahkan diri dan bersikap tenang dalam menaatiNya.

Firman Allah “Dan suara yang lembut” maknanya adalah, dengan hatimu yang khusyu dan keyakinan yang benar darimu akan keesaanNya diantara dirimu denganNya. Bukan dengan suara yang terlalu keras dan hati yang tidak yakin akan keesaanNya dan pemeliharaanNya. Seperti tipuan yang dilakukan oleh orang-orang mubafik kepada Allah dan RasulNya.
Riwayat-riwayat yang menjelaskan hal tersebut adalah :
1) Al-Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata : Suwaid bin Nashr menceritakab kepada kami, ia berkata : Ibnu Al-Mubarak memberitakan kepada kami dari Al-Mubarak bin Fadhalah, dari Al-Hasan, ia berkata, ”Jika seseorang telah mengkaji Al-Qur’an secara keseluruhan, maka tetangganya tidak merasakannya. Jika seseorang itu memahami banyak pemahaman, maka orang lain tidak merasakannya. Jika seseorang melaksanakan shalat yang lama di rumahnya, lalu ada tamu yang berkunjung kepadanya, maka para tamu itu tidak merasakannya. Kami telah bertemu dengan beberapa orang di atas bumi ini, sebenarnya mereka mampu melakukan suatu amal secara rahasia, akan tetapi selamanya ia justru melakukannya secara terang-terangan. Pada zaman dahulu kaum muslim berdo’a bersungguh-sungguh, akan tetapi orang di sekeliling mereka tidak mendengarnya melainkan hanya seperti pembicaraan antara ia dengan Tuhannya, karena Allah berfirman : ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut” Sebab Allah menyebutkan tentang seorang hambaNya yang shalih dan Dia menyukai perbuatan hambaNya itu, ”yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (QS. Maryam 19 : 3) (Ibnu Al-Mubarak dalam Az-Zuhd 1/49 dan As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mansur 3/476.

2) Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata : Jarir menceritakan kepada kami dari Ashim Al-Ahwal, dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Abu Musa, ia berkata : Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam berada dalam suatu peperangan, mereka berada di suatu lembah, mereka bertakbir dan mengucapkan kalimat ’Laa ilaaha illallaah’ dengan mengangkat suara tinggi. Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Wahai manusia, konsistenlah terhadap urusan kamu. Sesungguhnya kamu bukan menyeru kepada Tuhan yang tuli dan yang gaib, akan tetapi kamu menyeru kepada Dia Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Dia bersama kamu” (Al-Bukhari dalam Al-Maghazi no. 4205; Muslim dalam Adz-Dzikr wa ad-Du’a no. 44).

3) Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata : Al-Husein menceritakan kepada kami, ia berkata : Hajjaj menceritakan kepadaku dari Ibnu Juraij, dari Atha Al-Khurasani, dari Ibnu Abbas, tentang ayat, ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut”. Ia berkata, ”Maknanya adalah, dengan rahasia” (Al-Baghawi dalam Ma’alim At-Tanzil 2/482.)

4. Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahali
Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahali dalam kitab Tafsir Jalalain menjelaskan :
{ ادعوا ربكم تضرعا } حال تذللا { وخفية } سرا { إنه لا يحب المعتدين } في الدعاء بالتشدق ورفع الصوت
(Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri) menjadi hal, yakni merendahkan diri
(dan dengan suara yang lembut) secara berbisik-bisik
(Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas) di dalam berdoa. Seperti banyak berbicara dengan suara yang keras.

5. Imam Syafi’i
Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
وأي إمام ذكر الله بما وصفت جهرا أو سرا أو بغيره فحسن وأختار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر فإن الله عزو وجل يقول ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها
Saya memilih untuk berdzikir kepada Allah setelah selesai shalat dengan merendahkan suara bagi imam dan makmum, kecuali apabila ia adalah seorang imam yang wajib diambil pelajaran darinya, maka ia harus mengeraskan bacaan dzikirnya hingga ia mengira bahwa orang-orang telah mengerti dan mendapat pelajaran darinya. Kemudian ia membaca perlahan-lahan, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala berfirman,
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya” (QS. Ali-Imran 17 : 110).
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 197].

6. Imam Ghazali
Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan tata kesopanan berdo’a :
خفض الصوت بين المخافتة والجهر لما روي أن أبا موسى الأشعري قال‏:‏ قدمنا مع رسول الله فلما دنونا من المدينة كبر وكبر الناس ورفعوا أصواتهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم ‏"‏
Melunakkan suara antara menyembunyikan dan mengeraskan karena diriwayatkan bahwasanya Abu Musa Al-Asy’ari berkata :
“Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم
‘Wahai manusia, sesungguhnya Dzat Yang kamu berdo’a (kepadaNya) tidaklah tuli dan ghaib. Sesungguhnya Dzat yang berdoa (kepadaNya) itu diantara kamu dan antara tengkuk-tengkuk kendaraanmu,” (Mutafaq Alaih).
[Kitab ihya Ulumiddin 2, hal. 401].

7. Imam Nawawi
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab berkata :
قال الشافعي رحمه الله تعالي في الام بعد ان ذكر حديث ابن عباس السابق في رفع الصوت بالذكر وحديث ابن الزبير السابق وحديث أم سلمة المذكور في الفصل بعد هذا اختار للامام المأموم ان يذكرا الله تعالي بعد السلام من الصلاة ويخفيان الذكر إلا ان يكون إماما يريد أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه فيسر فان الله تعالي يقول (ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها) يعنى والله اعلم الدعاء (ولا تجهر) ترفع (ولا تخافت) حتى لا تسمع نفسك
قال وأحسب أن النبي صلى الله عليه وسلم إنما جهر قليلا يعنى في حديث ابن عباس وحديث ابن الزبير ليتعلم الناس منه لان عامة الروايات التى كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم تهليل ولا تكبير وقد ذكرت أم سلمة " مكثه صلى الله عليه وسلم ولم يذكر جهرا
وأحسبه صلي الله عليه وسلم لم يمكث الا ليذكر سرا "
قال واستحب للمصلى منفردا أو مأموما ان يطيل الذكر بعد الصلاة ويكثر الدعاء رجاء الاجابة بعد المكتوبة هذا نصه في الام
واحتج البيهقي وغيره لتفسيره الاية بحديث عائشة رضى الله تعالى عنها قالت " في قول الله تعالي (ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها) نزلت في الدعاء " رواه البخاري ومسلم
وهكذا قال اصحابنا إن الذكر والدعاء بعد الصلاة يستحب أن يسر بهما إلا أن يكون اماما يريد تعليم الناس فيجهر ليتعلموا فإذا تعلموا وكانوا عالمين أسره
واحتج البيهقي وغيره في الاسرار بحديث أبي موسى الاشعري رضي الله عنه قال " كنا مع النبي صلي الله تعالى عليه وسلم وكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا ارتفعت اصواتنا فقال النبي صل الله تعالي عليه وسلم يا أيها الناس اربعوا علي انفسكم فانكم لا تدعون اصم ولا غائبا إنه معكم سميع قريب " رواه البخاري
Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitab Al-Umm setelah menyebutkan hadits Ibnu Abbas sebelumnya tentang membaca dzikir dengan suara keras, hadits Ibnu Zubair sebelumnya, dan hadits Ummu Salamah pada bab sebelumnya : Aku berpendapat, “Imam dan makmum berdzikir setelah shalat. Imam dan makmum berdzikir dengan suara lirih, kecuali bagi imam yang mengajari dzikir kepada jamaah, ia harus mengeraskan bacaan dzikir, karena Allah Aubhanahu wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya” (QS. Ali-Imran 17 : 110). Artinya, jangan mengeraskan doa dan melirihkannya hingga dirimu sendiri tidak mendengarnya.
Menurutku riwayat Ibnu Az-Zubair tentang bacaan tahlil Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam dan riwayat Ibnu Abbas tentang bacaan takbir Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam setelah salam, dibaca sedikit keras untuk mengajari para sahabat, sebab sebagian besar riwayat yang kami catat –selain riwayat Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair ini—tidak menyebutkan tahlil atau takbir setelah salam, karena riwayat lain hanya menyebutkan, ”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam usai shalat” tanpa ada redaksi ”berdzikir”. Disamping itu, Ummu Salamah RA menyebutkan Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam duduk setelah shalat dan beliau tidak berdzikir dengan suara keras.
Menurut saya, Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam duduk setelah shalat untuk berdzikir dengan suara lirih.
Asy-Syafi’i meneruskan, ”Saya suka orang yang shalat sendirian, atau makmum memperlama dzikir setelah shalat dan memperbanyak doa dengan harapan dikabulkan setelah menunaikan shalat wajib” Demikian pernyataan Asy-Syafi’i dalam Al-Umm.
Al-Baihaqi dan lainnya dalam menafsirkan ayat dengan berhujjah dengan hadits Aisyah RA, tentang firman Allah Subhanahu wata’ala, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (QS. Ali-Imran 17 : 110). Aisyah RA berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan doa” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Seperti itu pula yang dijelaskan oleh sahabat-sahabat kami, bahwa dzikir dan doa setelah shalat dianjurkan untuk diucapkan secara lirih, kecuali bagi imam yang ingin mengajari jamaah. Saat itu, imam membaca dzikir dengan suara keras agar jamaah belajar. Bila jamaah sudah tahu, imam kembali membaca dzikir dengan suara lirih.
Al-Baihaqi dan lainnya berhujjah untuk membaca dzikir dan doa dengan suara lirih dengan hadits dari Abu Musa, dia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika memasuki lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan suara keras, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, sayangilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdo’a kepada dzat yang tuli dan ghaib. Kalian sedang berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan dekat” (HR. Al Bukhari).
[Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab 3/416 (3/ 970-971)]

Kesimpulan
1. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan hambaNya untuk berdo’a kepadaNya dengan suara yang lembut (lirih).
2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya agar ketika berdo’a kepada Allah tidak dengan mengeraskan suaranya, melainkan dengan suara yang lembut (lirih).
3. Mayoritas ulama berpendapat bahwa berdoa lkepada Allah disyari’atkan dengan suara yang lembut (lirih).

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Puataka Imam Syafi’i, 2003.
-Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung, 2003
-Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, Pustaka Azzam, Jakarta, 2008.
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang
-Imam Nawawi, Al-Majmu Syarah Al-Muhadzdzab, Pustaka Azzam, 2010

*Slawi, Maret 2011

MENGUSAP KEPALA DALAM BERWUDHU

MENGUSAP KEPALA DALAM BERWUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اتفق العلماء على أن مسح الرأس من فروض الوضوء، واختلفوا في القدر المجزئ منه.
فذهب مالك إلى أن الواجب مسحه كله، وذهب الشافعي وبعض أصحاب مالك وأبو حنيفة إلى أن مسح بعضه هو الفرض، ومن أصحاب مالك من حد هذا البعض بالثلث، ومنهم من حده بالثلثين، وأما أبو حنيفة فحده بالربع، وحد مع هذا القدر من اليد الذي يكون به المسح،
فقال: إن مسحه بأقل من ثلاثة أصابع لم يجزه. وأما الشافعي فلم يحد في الماسح ولا في الممسوح حدا.
Para ulama telah bersepakat bahwa mengusap kepala merupakan fardhu wudhu. Namun mereka berselisih pendapat tentang kadar bagian kepala yang diusap.
Malik berpendapat bahwa sesungguhnya yang wajib diusap adalah seluruh kepala. Syafi’i, sebagian sahabat Malik, dan Abu Hanifah berpendapat bahwa yang wajib dibasuh adalah sebagian dari kepala. Sebagian pengikut Malik membatasi kata ”sebagian kepala” itu dengan sepertiga. Dan sebagian ulama lain membatasi sampai dua pertiga kepala. Sedangkan Abu Hanifah membatasi seperempat dari kepala, yaitu lebar telapak tangan pada waktu mengusap kepala.
Abu Hanifah berkata bahwa mengusap kepala yang kurang dari lebar tiga jari tidak cukup. Syafi’i membatasi ketentuan kadar yang diusap dengan tangan yang mengusap.

Dari Mughirah, dia berkata,
أن النبي عليه الصلاة والسلام توضأَ فمسح بِنَاصِيَتِهِ وعلى العمامةِ
”Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam ketika berwudhu mengusap rambut depan (pilingan) dan surbannya” (HR. Bukhari, Muslim)
[Bidayatul Mujtahid 1/7 (1/ 15)].

Dalam kitab Nailul Authar hadits-hadits berikut :
Dari Abdullah bin Zaid RA, dia berkata,
أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم مسح رَأْسَهُ بيديه فأقبلَ بهما وأدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثم ذهب بهما إلى قَفَاهُ ثم رَدَّهما إلى الْمَكَاِن الذي بدأ منه‏‏
Bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam mengusap kepalanya, lalu ia menjalankan keduan tangannya ke belakang dan mengembalikannya, yaitu mulai dari muka kepalanya, kemudian menjalankan kedua tangannya ke tengkuknya, lalu mengembalikan kedua tangannya tadi ke tempat dimana ia memulainya. (HR. Jama’ah)
Imam Asy-Syaukani berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏مسح رأسه‏)‏ زاد ابن الصباغ كله‏.‏ وكذا في رواية ابن خزيمة‏.‏
قوله‏:‏ ‏(‏فأقبل بهما وأدبر‏)‏ قد اختلف في كيفية الإقبال والإدبار المذكور في الحديث فقيل يبدأ بمقدم الرأس الذي يلي الوجه ويذهب بهما إلى القفا ثم يردهما إلى المكان الذي بدأ منه وهو مبتدأ الشعر
Perkataan “Mengusap kepalanya” Ibnu Shabah menambahkan dengan kata-kata “seluruhnya”, demikian itulah menurut riwayat Ibnu Khuzaimah. Perkataan : “Lalu ia menjalankan kedua tangannya ke belakang dan mengembalikannya”, terhadap hal itu para ulama berselisih pendapat tentang cara menjalankan tangan ke belakang dan mengembalikannya, sedangkan yang tersebut dalam hadits adalah memulai dari bagian depan di atas wajahnya, kemudian menjalankannya sampai ke kuduknya kemudian mengembalikannya ke tempat semula, yaitu tempat mulai tumbuhnya rambut bagian depan kepala.
والحديث يدل على مشروعية مسح جميع الرأس وهو مستحب باتفاق العلماء قاله النووي وعلل ذلك بأنه طريق إلى استيعاب الرأس ووصول الماء إلى جميع شعره‏.‏
Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya mengusap seluruh kepala, dimana hukumnya sunnah> Demikianlah pernyataan Imam Al-Nawawi, sebagai penjelasan terhadap makna yang tersirat di dalam kata-kata kepala dan makna menyampaikan air ke seluruh rambutnya.
[Nailul Authar 1/126 (1/ 342)]

Dari Al-Rubayyi’ binti Mu’awwidz,
أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم توضأَ عندها ومسح برأسه فمسح الرأسَ كلَّه من فوقِ الشَّعَرِ كلَّ ناحِيَةٍ لِمُنْصَبِّ الشَّعَرِ لا يُحَرِّكُ الشعر عن هَيْئَتِهِ‏.‏ رواه أحمد وأبو داود وفي لفظ‏:‏ ‏(‏مسح برأسه مرتين بدأ بِمُؤَخِّرِهِ ثم بِمُقَدَّمِهِ وبأذنيه كِلْتَيْهِمَا ظُهُوْرِهِمَا وَبُطُوْنِهِمَا‏)‏ رواه أبو داود والترمذي وقال‏:‏ حديث حسن‏.‏
Bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam wudhu di tempatnya dan mengusap kepalanya, yaitu mengusap seluruh kepalanya dari atas rambut, tiap-tiap bagian tempat tumbuhnya rambut dengan tidak menggerak-gerakkan rambut dari keadaannya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Dan dalam satu lafadz dikatakan , “Ia mengusap kepalanya dua kali, yaitu ia memulai dari belakangnya kemudian ke mukanya dan dua telinganya keduanya, luar dan dalamnya. (HR. Abu Daud dan Al-Tirmidzi, dan Al-Tirmidzi mengatakan hadits hasan).

Imam Asy-Syaukani berkata :
قال ابن سيد الناس في شرح الترمذي‏:‏ وهذه الرواية محمولة على الرواية بالمعنى عند من يسمى الفعل بما ينتهي إليه كأنه حمل قوله‏:‏ ما أقبل وما أدبر على الابتداء بمؤخر الرأس فأداها بمعناها عنده وإن لم يكن كذلك‏.‏ قال‏:‏ ذكر معناه ابن العربي ويمكن أن يكون النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم فعل هذا لبيان الجواز مرة وكانت مواظبته على البداءة بمقدم الرأس وما كان أكثر مواظبة عليه كان أفضل
Ibnu Sayyid An-Nas berkata di dalam kitab Syarh Al-Tirmidzi, bahwa riwayat ini mengandung makna riwayat yang mengatakan bahwa pekerjaan sesuatu itu harus lengkap seluruhnya, yakni menjalankan tangan ke belakang kepala dan mengembalikannya ke depan. Kemudian ia menambahkan lagi bahwa Ibnu Al-‘Arabi juga menyebutkan demikian rupa, yakni bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan hal itu untuk menunjukkan bahwa mengusap sekali saja dibolehkan, sedangkan mengusap mulai bagian depan adalah yang baik, dan mengusap secara baik dan rajin adalah yang lebih utama.
[Nailul Authar 1/128 (1/ 347)].

Dari Anas, ia berkata,
رأيتُ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يتوضأُ وعليه عِمَامَةٌ قِطْرِيَةٌ فأدْخَلَ يَدَهُ تحت العِمَامَةِ فمسح مُقَدَّمَ رَأْسِهِ ولم يَنْقُضِ العمامةَ‏‏
“Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam wudhu padahal ia memakai sorban Qithriyah, lalu ia memasukkan tangannya dari bawah sorbannya, lalu mengusap muka kepalanya dan tidak melepaskan sorbannya itu” (HR. Abu Daud)

Imam Asy-Syaukani berkata :
وأورده المصنف ههنا للاستدلال به على الاكتفاء بمسح بعض الرأس
Menurut Mushannif bahwa hadits itu sebagai dalil atas cukupnya mengusap kepala sebagian saja.
[Nailul Authar 1/128 (1/ 348)].

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الفرض الرابع مسح الرأس والواجب منه ما ينطلق عليه الاسم ولو بعض شعره أو قدره من البشرة وفي وجه شاذ يشترط ثلاث شعرات
ولو غسل رأسه بدل مسحه أو ألقى عليه قطرة ولم تسل عليه أو وضع يده التي عليها الماء على رأسه ولم يمرها أجزأه على الصحيح
قلت ولا تتعين اليد للمسح بل يجوز بأصبع أو خشبة أو خرقة أو غيرها ويجزئه مسح غيره له والمرأة كالرجل في المسح ولو كان له رأسان أجزأه مسح أحدهما وقيل يجب مسح جزء من كل رأس. والله أعلم
Syarat wajib wudhu yang keempat adalah : Mengusap rambut. Adapun batasan yang wajib adalah pada apa yang disebut rambut, sekalipun pada sebagiannya, atau sekedarnya dari kulit kepala. Menurut satu pendapat pengikut madzhab Syafi’I yang aneh, disyaratkan mengusap tiga rambut.
Apabila dia membasuh kepalanya sebagai ganti dari menyapunya dengan air, atau meneteskan air ke atasnya tanpa mengalir, atau meletakkan tangannya yang basah dengan air di atasnya dan tidak menyapukannya, maka ini sah menurut pendapat yang shahih.
Saya katakana, “Menyapu kepala dengan air tidak mesti dengan tangan, melainkan diperbolehkan dengan jari atau kayu, atau serbet atau lainnya, dan diperbolehkan disapukan oleh orang lain. Wanita sama dengan laki-laki dalam hokum menyapu kepala. Seandainya dia memiliki dua kepala, maka sah apabila menyapu salah satunya. Ada yang mengatakan wajib menyapu bagian dari kedua kepala tersebut. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/38 (1/200)].

Ketika menjelaskan tentang sunnah-sunnah wudhu, Imam Nawawi berkata :
العاشرة استيعاب الرأس بالمسح .والسنة في كيفيته أن يضع يديه على مقدم رأسه ويلصق سبابته بالأخرى وإبهاميه على صدغيه ثم يذهب بهما إلى قفاه ثم يردهما إلى المبتدأ فالذهاب والرد مسحة واحدة
وهذا الاستحباب لمن له شعر ينقلب بالذهاب والرد ويصله البلل أما من لا شعر له أو له شعر لا ينقلب لقصره أو طوله فيقتصر على الذهاب فلو رد لم يحسب ثانية ولو لم يرد نزع ما على رأسه من عمامة أو غيرها مسح ما يجب من الرأس.
ويسن تتميم المسح على العمامة والأفضل أن لا يقتصر على أقل من الناصية ولا يكفي الاقتصار على العمامة قطعا


Sunnah wudhu yang ke sepuluh adalah meratakan air ketika menyapu kepala. Adapun cara yang disunnahkan adalah dia meletakkan kedua tangannya di bagian depan kepalanya dengan menempelkan jari telunjuk kanan dan kiri, dan kedua ibu jarinya menempel pada kedua pelipisnya, lalu menyapunya ke bagian belakang kepalanya, kemudian disapu kembali ke depan. Jadi menyapu ke belakang dan mengembalikannya ke depan dianggap sekali.
Sunnah ini bagi yang memiliki rambut tebal hingga perlu dikedepankan hingga basah. Sedangkan orang yang tidak berambut atau rambutnya tidak bisa dibalik karena pendek, atau karena terlalu panjang, maka cukup disapu ke belakang saja. Kalau dia mengusapnya lagi kedepan, maka ini tidak dianggap yang kedua kali. Apabila dia tidak menyapunya ke depan, dia harus melepaskan sorban atau lainnya yang ada di atas kepalanya, dan dia menyapu yang wajib saja.
Disunnahkan menyempurnakan menyapu air di atas sorban. Yang diutamakan ialah tidak kurang dari menyapu bagian jambul (bagian depan kepala), dan tidak cukup pada sorban saja.
[Raudhatuth Thalibin 1/48 (1/216)].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
قال الله تعالى وامسحوا برؤسكم وكان معقولا في الآية أن من مسح من رأسه شيئا فقد مسح برأسه ولم تحتمل الآية إلا هذا وهو أظهر معانيها أو مسح الرأس كله ودلت السنة على أن ليس على المرء مسح الرأس كله وإذا دلت السنة على ذلك معنى الآية
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ”dan sapulah kepalamu....” (QS. Al-Maidah 5 : 6)
Adalah masuk akal bahwa pada ayat ini dijelaskan tentang barangsiapa telah menyapu sedikit dari kepalanya, maka sesungguhnya ia dianggap telah menyapu kepala. Ayat ini juga tidak memiliki kemungkinan arti lain selain yang telah disebutkan, yang mana hal itu merupakan makna terkuat. Makna yang tidak dianggap kuat adalah menyapu kepala seluruhnya.
إذا مسح الرجل بأي رأسه شاء إن كان لا شعر عليه وبأي شعر رأسه شاء بأصبع واحدة أو بعض أصبع أو بطن كفه أو أمر من يمسح به أجزاءه ذلك فكذلك إن مسح نزعتيه أو إحداهما أو بعضهما أجزأه لأنه من رأسه
Apabila seseorang menyapu bagian mana saja yang dikehendaki dari kepalanya, baik ia berambut atau tidak, maka rambut kepalanya itu dapat disapu baik dengan satu jari, sebagian jari, dengan telapak tangan bawah atau bahkan menyuruh orang untuk menyapu kepalanya. Hal itu sudah cukup baginya.
Imam Syafi’i berkata,
عن المغيرة بن شعبة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ ومسح بناصيته وعلى عمامته وخفيه
Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah, Bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam wudhu dan menyapu ubun-ubunnya dan juga di atas surbannya serta di atas khuf (sepatu). (HR. Muslim no. 83)
عن عطاء أن رسول صلى الله عليه وسلم توضأ فحسر العمامة عن رأسه ومسح مقدم رأسه أو قال ناصيته بالماء
Diriwayatkan dari Atha’, ”Bahwa Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam wudhu lalu membuka surban dari kepalanya dan menyapu bagian depan kepalanya” Atau Atha’ berkata, ”Ubun-ubunnya dengan air”. (Tartib Musnad Syafi’i no. 87)

Imam Syafi’i berkata,
أخبرنا مالك عن عمرو بن يحيى المازني عن أبيه أنه قال قلت لعبد الله بن زيد الأنصاري هل تستطيع أن تريني كيف كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتوضأ فقال عبد الله بن زيد نعم ودعا بوضوء فأفرغ على يديه فغسل يديه مرتين مرتين وتمضمض واستنشق ثلاثا ثلاثا ثم غسل وجهه ثلاثا ثم غسل يديه مرتين مرتين إلى المرفقين ثم مسح رأسه بيديه وأقبل بهما وأبدر بدأ بمقدم رأسه ثم ذهب بهما إلى قفاه ثم ردهما إلى الموضع الذي بدأ منه ثم غسل رجليه
Telah menyampaikan kepada kami Malik dari Amru bin Yahya Al-Mazini, dari bapaknya, bahwa ia berkata, ”Aku berkata kepada Abdullah bin Zaid Al-Anshari, ’Dapatkah engkau memperlihatkan kepadaku bagaimana Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam berwudhu?’ Maka Abdullah bin Zaid Al-Anshari menjawab, ”Ya”.
Lalu ia meminta air untuk berwudhu, kemudian dituangkan di atas kedua tangannya. Ia membasuh tangannya dua kali-dua kali, lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya tiga kali. Kemudian ia membasuh mukanya tiga kali, membasuh kedua tangnnya dua kali-dua kali sampai kepada siku, lalu membasuh kepalanya dengan kedua tangannya. lalu ia menjalankan keduan tangannya ke depan lalu ke belakang. Ia memulai dengan bagian depan kepalanya, lalu menjalankan kedua tangannya ke tengkuknya, lalu mengembalikan kedua tangannya tadi ke tempat dimana ia memulainya. Selanjutnya ia membasuh kedua kakinya. (HR. Bukhari 1/58)

Imam Syafi’i berkata :
وأحب لو مسح رأسه ثلاثا وواحدة تجزئه وأحب أن يمسح ظاهر أذنيه وباطنهما بماء غير ماء الرأس ويأخذ بأصبعيه الماء لأذنيه فيدخلهماف فيما ظهر من الفرجة التي تفضي إلى الصماخ ولو ترك مسح الأذنين لم يعد لأنهما لو كانتا من الوجه غسلتا معه أو من الرأس مسحتا معه أو وحدهما أجزأتا منه فإذا لم يكونا هكذا فلم يذكرا في الفرض ولو كانتا من الرأس كفى ما سحهما أن يمسح بالرأس كما يكفى مما يبقى من الرأس
Saya lebih menyukai menyapu kepala tiga kali, namun sekali saja sudah cukup. Saya juga lebih menyukai menyapu bagian luar kedua telinga dan juga bagian dalamnya dengan air, selain dengan air yang digunakan untuk membasuh kepala, yaitu mengambil air untuk kekdua telinga lalu dimasukkan dua jari pada bagian yang tampak dari lubang telinga yang bersambung dengan bagian dalam kepala.
Apabila seseorang meninggalkan (tidak menyapu) dua telinga, maka ia tidak perlu mengulangi. Karena seandainya kedua telinga itu bagian dari muka, niscaya ia dibasuh bersamaan dengan mengusap kepala.
[Al-Umm 1/30; Ringkasan Kitab Al-Umm 1/37-39)].

Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa mengusap kepala dengan air ketika berwudhu hukumnya wajib.
2. Mengusap kepala boleh dilakukan pada seluruh kepala atau pada sebagian kepala. Tetapi yang lebih utama adalah membasuh seluruh kepala.
3. Mengusap kepala boleh dilakukan sekali, boleh pula dilakukan tiga kali.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.


*Slawi, Maret 2011

Senin, 14 Maret 2011

MEMBASUH KAKI DALAM BERWUDHU

MEMBASUH KAKI DALAM BERWUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اتفق العلماء على أن الرجلين من أعضاء الوضوء، واختلفوا في نوع طهارتهما، فقال قوم: طهارتهما الغسل، وهم الجمهور، وقال قوم: فرضهما المسح، وقال قوم: بل طهارتهما تجوز بالنوعين: الغسل والمسح، وإن ذلك راجع إلى اختيار المكلف،
Para Ulama sepakat bahwa kedua kaki adalah anggota wudhu. Tapi mereka berselisih tentang cara menyucikannya.
Menurut Jumhur ulama dengan mencuci (membasuh) kedua kaki. Sebagian ulama dengan mengusap kedua kaki. Sedang ulama yang lain boleh membasuh dan mengusap kedua kaki. Persoalan ini tergantung pada orang yang memilih.
وقد اختلفوا في الكعب ما هو، وذلك لاشتراك اسم الكعب واختلاف أهل اللغة في دلالته، فقيل هما العظمان اللذان عند معقد الشراك وقيل هما العظمان الناتئان في طرف الساق، ولا خلاف فيما أحسب في دخولهما في الغسل عند من يرى أنهما عند معقد الشراك إذا كانا جزءا من القدم، لذلك قال قوم: إنه إذا كان الحد من جنس المحدود دخلت الغاية فيه: أعني الشيء الذي يدل عليه حرف إلى، إذا لم يكن من جنس المحدود لم يدخل فيه مثل قوله تعالى {ثم أتموا الصيام إلى الليل}
Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan mata kaki. Perbedaan pendapat itu terjadi karena ”mata kaki” mempunyai arti ganda, menurut para pakar bahasa. Suatu pendapat menyatakan bahwa mata kaki adalah tempat tali terompah di atas punggung kaki. Pendapat lain mengatakan bahwa dua tulang yang menonjol di ujung betis. Menurut saya (Ibnu Rusyd, pen) jika yang dimaksud dengan mata kaki adalah pendapat yang pertama, kiranya tidak ada perbedaan pendapat bahwa dua mata kaki di atas termasuk yang wajib dibasuh, karena ia termasuk dari kaki. Oleh karena itu, para ulama memberi kriteria, yaitu jika batas yang ditetapkan itu termasuk bagian dari sesuatu yang dibatasi, sehingga ujung batas tersebut tidak termasuk. Seperti firman Allah :
”Maka senpurnakanlah puasa sampai malam....” (QS. Al-Baqarah : 187)
[Bidayatul Mujtahid 1/7 (1/ 21)].

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الفرض الخامس غسل الرجلين مع الكعبين وهما العظمان الناتئان عند مفصل الساق والقدم وحكي وجه أنه الذي فوق مشط القدم قلت هذا الوجه شاذ منكر بل غلط
والله أعلم
Syarat wajib wudhu yang kelima adalah Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, yaitu dua tulang yang menonjol pada pergelangan antara betis dan telapak kaki. Ada pendapat pengikut madzhab Syafi’i yang mengatakan bahwa mata kaki adalah yang terdapat di atas balung kaki. Pendapat ini aneh dan tidak dapat diterima, bahkan keliru. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/39 (1/203)].

Dalam kitab Nailul Authar hadits-hadits berikut :
عن عبد اللَّه بنِ عَمْرٍ قال‏:‏ ‏(‏تَخَلَّفَ عَنَّا رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم في سَفْرَةٍ فأدْرَكَنَا وقد أرْهَقَنَا العَصْرُ فجعلْنَا نتوضأُ ونَمْسَحُ على أرجلنا قال‏:‏ فَنَادَى بِأعْلَى صَوْتِهِ ويْلٌ لِلْأَعْقَابِ من النار مرتين أو ثلاثًا‏)‏‏.‏
Dari Abdillah bin Amr, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam pernah tertinggal dalam suatu bepergian, lalu beliau menyusul kami, sedangkan waktu ashar telah melewati kami, maka kami mulai berwudhu dan mengusap kaki-kaki kami. Abdullah bin Amr berkata, ‘Kemudian Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam memanggil dengan suaranya yang tinggi, ”Celaka bagi tumit-tumit dari neraka” dua kali atau tiga kali’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديث يدل على وجوب غسل الرجلين وإلى ذلك ذهب الجمهور‏.‏ قال النووي‏:‏ اختلف الناس على مذاهب فذهب جميع الفقهاء من أهل الفتوى في الأعصار والأمصار إلى أن الواجب غسل القدمين مع الكعبين ولا يجزئ مسحهما ولا يجب المسح مع الغسل
Hadits-hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh dua kaki. Hal ini merupakan pendapat jumhur. Imam Al-Nawawi berkata : Para ulama berselisih pendapat tentang hal itu, dimana menurut para ulama fiqih dari kalangan ahli fatwa dari beberapa zaman dan tempat berpendapat, bahwa yang wajib adalah membasuh dua telapak kaki bersama dua mata kaki, dan tidak cukup hanya mengusap keduanya. Dan tidak diwajibkan mengusap dan membasuhnya.
[Nailul Authar 1/137 (1/ 369)].

وعن أبي هريرةَ‏:‏ ‏(‏أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم رأى رجلًا لم يَغْسِلْ عَقِبَهُ فقال‏:‏ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ من النار‏)‏‏.
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki yang tidak membasuh tumitnya, lalu beliau bersabda, “Celakalah bagi tumit-tumit dari neraka” (HR. Muslim)
وعن جابر بن عبد اللَّه قال‏:‏ ‏(‏رأى رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قومًا توضئُوا ولم يَمَسَّ أعْقَابُهُمُ الْمَاءُ فقال‏:‏ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ من النار‏)‏‏.‏
Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melihat suatu kaum yang berwudhu, sedang rumit-tumit mereka belum terkena air, lalu beliau bersabda, ‘Celakalah bagi tumit-tumit dari neraka’ (HR. Ahmad)
وعن عبد اللَّه بن الحارث قال‏:‏ ‏(‏سمعت رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول‏:‏ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ وبُطُوْنِ الْأَقْدَامِ من النار‏)‏‏.‏
Dari Abdullah bin Al-Harits, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Celakalah bagi tumit-tumit dan dalamnya telapak-telapak kaki dari neraka’ (HR. Ahmad dan Al-Daruquthni)
وعن جرير بن حَازِمٍ عن قتادةَ عن أنس بن مالك‏:‏ ‏(‏أن رجلًا جاء إلى النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم وقد توضأَ وَتَرَكَ على ظَهْرٍ قَدَمَيْهِ مِثْلَ مَوْضِعِ الظُّفْرِ فقال له رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ اِرْجِعْ فأحْسِنْ وضوءَكَ‏)‏‏.‏ ‏
Dari Jabir bin Hazim dari Qatadah dari Anas bin Malik, bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam sedang ia telah berwudhu dan meninggalkan punggung kakinya sebesar tempat kuku, lalu Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Ulangilah lalu bagusilah wudhumu’ (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Daruquthni)

Imam Asy-Syaukani berkata :
وهذه الأحاديث تدل على وجوب غسل الرجلين وقد تقدم الكلام على ذلك في أول الباب‏.‏
Hadits-hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh dua kaki, dan hal itu telah dibahas di awal bab ini.
[Nailul Authar 1/139 (1/ 375)].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
قال الله تبارك وتعالى وأرجلكم إلى الكعبين
ولم أسمع مخالفا في أن الكعبين اللذين ذكر الله عز وجل في الوضوء الكعبان الناتئان وهما مجمع مفصل الساق والقدم وأن عليهما الغسل كأنه يذهب فيهما إلى اغسلوا أرجلكم حتى تغسلوا الكعبين
Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ”... dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, ” (QS. Al-Ma’idah 5 : 6)
Saya tidak mendengar adanya perbedaan pendapat tentang kedua mata kaki yang disebutkan oleh Allah Azza wa jalla pada wudhu, yaitu bahwa kedua mata kaki yang dimaksud ialah yang menonjol, dan keduanya merupakan tempat bertemunya pergelangan betis dan kaki. Keduanya harus disapu, seolah-olah maknanya menjadi, ”Basuhlah kakimu sehingga membasuh kedua mata kakimu”.
ولا يجزيء المرء إلا غسل ظاهر قدميه وباطنهما وعرقوبيهما وكعبيهما حتى يستوظف كل ما أشرف من الكعبين عن أصل الساق فيبدأ فينصب قدميه ثم يصب عليهما الماء بيمينه أو يصب عليه غيره ويخلل أصابعهما حتى يأتي الماء على ما بين
Tidak cukup bagi seseorang apabila ia tidak membasuh kedua telapak kakinya, baik bagian atas maupun bagian bawah, pinggiran dan kedua mata kakinya, kecuali hingga merata ke setiap bagian yang berdekatan dengan mata kaki dan berhubungan dengan pangkal betis. Lalu ia memulai dengan menegakkan kedua telapak kakinya, kemudian menumpahkan air kepada keduanya dengan tangan kanannya, atau ditumpahkan oleh orang lain. Lalu ia menyela-nyela jari jemari kakinya. Ia tidak boleh meninggalkan hal ini kecuali apabila ia telah mengetahui benar bahwa air itu telah sampai pada semua sela-sela jari jemari kaki.
[Al-Umm 1/31; Ringkasan Kitab Al-Umm 1/39)].

Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa membasuh kedua kaki dengan air ketika berwudhu hukumnya wajib.
2. Batas kaki yang dibasuh adalah sampai kedua mata kaki.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.


*Slawi, Maret 2011

Sabtu, 12 Maret 2011

MEMBASUH DUA TANGAN DALAM BERWUDHU

MEMBASUH DUA TANGAN DALAM BERWUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Fardhu wudhu yang ketiga ialah membasuh kedua tangan hingga kedua siku. Siku ialah sendi yang menghubungkan tangan dengan lengan> Kedua siku tersebut termasuk perkara yang wajib dibasuh karena hal yang demikian senantiasa dilakukan Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam> Sebab tidak ada keterangan lain yang menegaskan bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam pernah meninggalkannya.
[Fiqih Sunnah 1, hal 50].

Dalam kitab Nailul Authar hadits-hadits berikut :
Dari Utsman RA, dia berkata,
هلم أتوضأ لكم وضوء رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم فغسل وجهه ويديه حتى مس أطراف العضدين ثم مسح برأسه ثم أمر بيديه على أذنيه ولحيته ثم غسل رجليه‏‏‏
”Marilah aku tunjukkan pada kamu wudhu Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam” Lalu ia mencuci mukanya dan tangannya sehingga menyentuh ujung-ujung lengannya, kemudian mengussap kepalanya. Kemudian ia menjalankan kedua tangannya itu pada kedua telinga dan jenggotnya, kemudian ia membasuh kedua kakinya. (HR. Al-Daruquthni)
Imam Asy-Syaukani berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏حتى مس أطراف العضدين‏)‏ فيه دليل على وجوب غسل المرفقين وقد قدمنا طرفًا من الكلام عليه في شرح حديث عثمان المتفق عليه
Perkataan “Sehingga menyentuh ujung-ujung lengannya”, hal ini merupakan dalil atas wajibnya membasuh kedua siku-siku dan hal itu telah dibahas pada pembahasan hadits Utsman yang mutawatir.
[Nailul Authar 1/123 (1/ 336)].

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata,
أنه توضأَ فغسل وجهه فأَسْبَغَ الوضوءَ ثم غسل يده اليمنى حتى أَشْرَعَ في العَضُدِ ثم غسل يده اليسرى حتى أشرع في العضد ثم مسح رَأْسَهُ ثم رِجْلَهُ اليمنى حتى أشرع في السَّاقِ ثم غسل رِجْلَهُ اليسرى حتى أشرع في الساق ثم قال هكذا رأيتُ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يتوضأُ وقال‏:‏ قال رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ أَنْتُمُ الْغُرُّ الْمُحَجَّلُوْنَ يومَ القيامةِ من إسْبَاغِ الوضوءِ فمنِ استطاعَ منكم فَلْيُطِلْ غُرَّتَهُ وَتَحْجِيْلَهُ‏
“Bahwa ia pernah berwudhu, lalu ia mencuci mukanya, kemudian ia menyempurnakan wudhunya, lalu ia mencuci tangan kanannya sehingga mengenai lengan, kemudian mencuci tangan kirinya sehingga mengenai lengan, Kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh kami kanannya hingga mencapai betis, kemudian berkata, ‘Demikianlah aku melihat Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam berwudhu, dan ia berkata : Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Kamu orang-orang yang cemerlang muka dan kedua tangan dan kakinya pada hari kiamat, karena menyempurnakan wudhu. Oleh karena itu barangsiapa yang mampu diantara kamu, maka hendaklah memanjangkan kecemerlangan dua tangan, dua kaki dan mukanya’” (HR. Muslim)
Imam Asy-Syaukani berkata :
قال المصنف رحمه اللَّه تعالى‏:‏ ويتوجه منه وجوب غسل المرفقين لأن نص الكتاب يحتمله وهو مجمل فيه وفعله صلى اللَّه عليه وآله وسلم بيان لمجمل الكتاب ومجاوزته للمرفق ليس في محل الإجمال ليجب بذلك انتهى‏.‏
Mushannif rahimahullah berkata : “Salah satu seginya yaitu wajibnya mencuci dua siku-siku, karena nash Al-Quran masih serba mungkin karena kemujmalannya, sedangkan amalan Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam menjadi keterangan atas kemujmalan Al-Quran itu, sedangkan yang melampaui siku-siku tidak termasuk bagian mujmal yang wajib dibasuh.
[Nailul Authar 1/125 (1/ 338)].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اتفق العلماء على أن غسل اليدين والذراعين من فروض الوضوء لقوله تعالى {وأيديكم إلى المرافق} واختلفوا في إدخال المرافق فيها؛ فذهب الجمهور ومالك والشافعي وأبو حنيفة إلى وجوب إدخالها، وذهب بعض أهل الظاهر وبعض متأخري أصحاب مالك والطبري إلى أنه لا يجب إدخالها في الغسل؛
Para ulama sepakat bahwa membasuh tangan sampai kedua siku merupakan salah satu fardhu wudhu, berdasarkan firman Allah ta’ala, ” Dan basuhlah tanganmu sampai ke siku” (QS. Al-Maidah : 6). Para ulama berselisih pendapat dalam hal siku, termasuk bagian dari tangan atau tidak.
Jumhur ulama, Malik, Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa siku termasuk bagian dari tangan yang wajib dibasuh. Sedangkan sebagian ulama Zhahiri dan sebagian pengikut terakhir Malik serta Thabari tidak mewajibkan membasuh siku.
والسبب في اختلافهم في ذلك الاشتراك الذي في حرف إلى، وفي اسم اليد في كلام العرب وذلك أن حرف إلى مرة يدل في كلام العرب على الغاية، ومرة يكون بمعنى مع، واليد أيضا في كلام العرب تطلق على ثلاثة معان على الكف فقط، وعلى الكف والذراع، وعلى الكف والذراع والعضد،
Perselisihan pendapat di kalangan mereka disebabkan karena kata ”ila” kadang berarti sampai (ghayah), kadang berarti beserta atau bersama (ma’a). Kata ”al-yad” dalam bahasa arab juga mengandung tiga arti :
1. Telapak tangan saja.
2. Telapak tangan beserta siku.
3. Telapak tangan, siku dan lengan.
فمن جعل "إلى" بمعنى مع (هنا في نسخة فاس بمعنى من)، أو فهم من اليد مجموع الثلاثة الأعضاء أوجب دخولها في الغسل (فيها هنا زيادة لأن إلى عنده تكون بمعنى من ومبدأ الشيء من الشيء)، ومن فهم من "إلى" الغاية ومن اليد ما دون المرفق ولم يكن الحد عنده داخلا في المحدود لم يدخلهما في الغسل،
Ulama yang berpendapat bahwa ”ila” mempunyai arti beserta (ma’a) atau yang berpendapat bahwa ”al-yad” megandung arti seluruh bagian tangan yang terdiri dari telapak tangan, siku, dan lengan mewajibkan membasuh siku.
Sedang ulama yang berpendapat bahwa ”ila” mempunyai arti sampai (ghayah) dan kata ”al-yad” berarti sesuatu yang di bawah siku bukan bagian dari tangan, tapi hanya pembatas antara lengan atas dan bawah, maka siku tidak wajb dibasuh.
وخرج مسلم في صحيحه عن أبي هريرة أنه غسل يده اليمنى حتى أَشْرَعَ في العَضُدِ ثم اليُسْرَى كذلك، ثم غسل رِجْلَهُ اليمنى حتى أشرع في السَّاقِ، ثم غسل اليسرى كذلك، ثم قال هكذا رأيتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يتوضأُ.
Dalam satu hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA,
”Abu Hurairah membasuh tangan kanannya hingga mencapai lengan, lalu membasuh lengan kirinya seperti itu, kemudian membasuh kami kanannya hingga mencapai betis, kemudian membasuh kaki kirinya seperti itu. Kemudian ia berkata, ”Seperti inilah Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam berwudhu” (HR. Muslim dan Daruquthni)
[Bidayatul Mujtahid 1/7 (1/ 13)].

Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الفرض الثالث غسل اليدين مع المرفقين فإن قطع من فوق المرفق فلا فرض عليه ويستحب غسل باقي العضد لئلا يخلو العضو من طهارة. وإن قطع من تحت المرفق وجب غسل باقي محل الفرض .وإن قطع من مفصل المرفق وجب غسل رأس العظم الباقي على المذهب
Syarat wajib wudhu yang ketiga dalah membasuh kedua tangan hingga kedua siku. Apabila tangannya putus dari atas sikunya, maka tidak wajib membasuhnya, melainkan disunnahkan baginya untuk membasuh sebagian lengan atasnya yang masih tersisa, agar anggota badannya tidak terlepas dari thaharah. Apabila tangannya terputus dari bawah siku, maka wajib membasuh sisa lengannya yang wajib untuk dibasuh. Apabila putus dari pergelangan siku, maka wajib dibasuh kepala tulang yang masih tersisa menurut mazhab Syafi’i.
[Raudhatuth Thalibin 1/38 (1/199)].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
قال الله جل وعز وأيديكم إلى المرافق
فلم أعلم مخالفا في أن المرافق مما يغسل كأنهم ذهبوا إلى أن معناها فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى أن تغسل المرافق
ولا يجزي في غسل اليدين أبدا إلا أن يؤتى على ما بين أطراف الأصابع إلى أن تغسل المرافق ولا يجزي إلا أن يؤتى بالغسل على ظاهر اليدين وباطنها وحروفهما حتى ينقضى غسلهما وإن ترك من هذا شيء وإن قل لم يجز ويبدأ باليمنى من يديه قبل اليسرى
فإن بدأ باليسرى قبل اليمنى كرهت ذلك ولا أرى عليه إعادة وإذا كان المتوضيء
Allah subhanahu wata’ala berfirman, ”Dan basuhlah tanganmu sampai ke siku” (QS. Al-Maidah : 6).
Saya tidak mengetahui bahwa ada perbedaan pendapat tentang membasuh siku, seolah-olah mereka memahami bahwa makna ayat ini adalah, ”Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai kalian membasuh siku”.
Jadi, tidak cukup sekedar membasuh kedua tangan tanpa membasuh diantara tepi jari-jemari hingga sikupun ikut terbasuh, dan hendaknya dimulai dari sebelah kanan lalu pindah ke sebelah kiri. Saya memandang makruh apabila memulai membasuh anggota wudhu yang sebelah kiri, namun ia tidak harus mengulanginya apabila telah melakukannya.
Apabila orang yang berwudhu itu terpotong tangnnya, maka ia cukup membasuh tangan yang masih ada sehingga dapat membasuh kedua sikunya. Namun apabila kedua sikunya terpotong juga, maka terangkat darinya kewajiban membasuh dua tangan.
[Al-Umm 1/29; Ringkasan Kitab Al-Umm 1/36)].

Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa membasuh kedua tangan sampai siku ketika berwudhu hukumnya wajib.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa siku termasuk bagian tengan yang wajib dibasuh.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.


*Slawi, Maret 2011

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...