MEMBASUH MUKA DALAM BERWUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Para ulama sepakat bahwa membasuh muka merupakan fardhu wudhu. Namun mereka berbeda pendapat tentang hukum menyela-nyela jenggot ketika membasuh muka. Ada yang berpendapat sunnah, ada pula yang berpendapat wajib.
Membasuh Muka
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Fardhu wudhu yang kedua adalah membasuh muka. Maksudnya adalah mengalirkan air ke bagian muka karena arti membasuh itu ialah mengalirkan. Batas panjang muka ialah dari puncak kening hingga dagu, sedangkan lebarnya adalah dari pinggir telinga ke pinggir telinga yang sebelahnya lagi.
[Fiqih Sunnah 1, hal 50].
Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الفرض الثاني غسل الوجه ويجب استيعابه بالغسل وحده من مبدأ تسطيح الجبهة إلى منتهى الذقن طولا ومن الأذن إلى الأذن عرضا وتدخل الغايتان في حد الطول ولا تدخلان في العرض فليست النزعتان من الوجه وهما البياضان المكتنفان للناصية أعلى الجبينين ولا موضع الصلع وهو ما انحسر عنه الشعر فوق ابتداء التسطيح
وأما الصدغان وهما في جانبي الأذن يتصلان بالعذارين من فوق فالأصح أنهما ليسا من الوجه
Syarat wajib wudhu yang kedua adalah membasuh wajah. Dalam hal ini wajah yang wajib dibasuh secara merata dan menyeluruh, yang batasannya memanjang dari permulaan atas kening hingga bagian bawah dagu, dan batasan lebarnya dari telinga ke yelinga yang lain. Kedua ujung dahi termasuk batasan panjangnya dan tidak termasuk batasan lebarnya. Kedua belahan yang tidak ditumbuhi rambut di bagian depan kepala tidak termasuk wajah, yaitu yang licin halus di bagian depan kepala dan di atas dahi. Demikian juga dengan tempat botak di kepala. Yaitu membelah rambut kepala di atas dahi. Adapun kedua pelipis, yaitu di sebelah telinga dan menyatu dengan kedua jambang dari atas, maka menurut pendapat yang ashah tidak termasuk wajah.
ولو نزل الشعر فعم الجبهة أو بعضها وجب غسل ما دخل في الحد المذكور وفي وجه ضعيف أنه لا يجب إلا إذا عمها وموضع التحذيف من الرأس لا من الوجه على الأصح
Apabila rambut tebal dan turun ke bagian dahi atau sebagiannya, maka wajib membasuh dalam batasan wajah yang telah disebutkan. Menurut pendapat yang lemah bahwa itu tidak wajib kecuali apabila menyebar di seluruh wajah. Tempat tumbuhnya rambut halus antara jambang dan pelipis tidak di kepala tidak termasuk wajah menurut pendapat yang ashah.
[Raudhatuth Thalibin 1/37 (1/197)].
Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
قال الله تبارك وتعالى فاغسلوا وجوهكم
فكان معقولا أن الوجه ما دون منابت شعر الرأس إلى الأذنين واللحيين والذقن وليس ما جاوز منابت شعر الرأس الأغم من النزعتين من الرأس وكذلك أصلع مقدم الرأس ليست صلعته من الوجه
Allah subhanahu wata’ala berfirman , “Maka basuhlah mukamu…….” (QS. Al-Maidah : 6)
Adalah satu hal yang logis bahwa muka itu tidak menjadi tempat tumbuhnya rambut kepala sampai kepada dua telinga, tulang rahang dan dagu. Bukanlah dinamakan muka apabila melewati tempat tumbuh rambut kepala dan dua tepi dahi itu termasuk bagian dari kepala. Demikian halnya bagian yang botak dari kepala, botak itu bukanlah bagian dari wajah.
وأحب إلي لو غسل النزعتينمع الوجه وإن ترك ذلك لم يكن عليه في تركه شيء فإذا خرجت لحية الرجل فلم تكثر حتى توارى من وجهه شيئا فعليه غسل الوجه كما كان قبل أن تنبت فإذا كثرت حتى تستر موضعها من الوجه فالاحتياط غسلها كلها
ولا أعلمه يجب غسلها كلها وإنما قلت لا أعلم يجب غسلها كلها بقول الأكثر والأعم ممن لقيت وحكى لي عنه من أهل العلم
Saya lebih suka kalau dua tepi dahi itu dibasuh bersama muka. Namun apabila hal itu ditinggalkan, maka tidak ada hukum untuknya (tidak megapa). Apabila janggut yang tumbuh pada diri seseorang tidak lebat dan menutup sedikit mukanya, maka ia harus membasuh mukanya seperti ketika janggut itu belum tumbuh. Namun apabila janggut itu tebal dan megambil tempat pada wajahnya, maka tindakan yang lebih berhati-hati ialah dengan membasuh semuanya.
Saya tidak mengetahui tentang kewajiban membasuhnya, karena hal itu hanya pendapat kebanyakan ulama dan umumnya dari orang-orang yang saya jumpai.
وإذا لم يجب غسله لم يجب تخليله ويمر الماء على ظهر شعر اللحية كما يمره على وجهه وما مسح من ظاهر شعر الرأس لا يجزيه غير ذلك
Saya tidak memandang wajib membasuh bagian bawah tempat tumbuh janggut. Apabila tidak wajib membasuhnya, maka menyela-nyelanya dengan jari jemari pun tidak termasuk hal yang diwajibkan. Hendaknya melewatkan air pada permukaan bulu janggutnya, seperti halnya melewatkan air pada wajahnya, dan menyapukan air pada permukaan rambut kepada adalah benar.
[Al-Umm 1/27; Ringkasan Kitab Al-Umm 1/35)].
Menyela-nyela Jenggot
Dari Utsman,
أن النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم كان يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ
”Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam biasa menyela-nyela jenggotnya” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi mengesahkannya)
Dari Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,
أن النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم كان إذا توضأ َأخذ كَفًًّا من ماء فأدخله تحت حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وقال: هكذا أمرني ربي عز وجل
“Jika Rasulullah berwudhu, beliau ambil segenggam air lalu memasukkannya ke bawah dagunya, dengan air itu belia menyela – nyelai jenggotnya. Beliau lantas bersabda, ‘Begitulah Rabbku memerintahkanku’” (HR. Abu Dawud no. 145 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ al Ghaliil no. 92)
Imam Asy-Syaukani berkata :
والحديثان يدلان على مشروعية تخليل اللحية وقد اختلف الناس في ذلك فذهب إلى وجوب ذلك في الوضوء والغسل العترة والحسن بن صالح وأبو ثور والظاهرية كذا في البحر واستدلوا بما وقع في أحاديث الباب بلفظ: (هكذا أمرني ربي) وذهب مالك والشافعي والثوري والأوزاعي إلى أن تخليل اللحية ليس بواجب في الوضوء
Kedua hadits dalam bab ini menunjukkan diperintahkannya menyela-nyela jenggot. Tetapi perlu diketahui bahwa masalah ini banyak dipertentangkan oleh para ahli. Menurut Al-’Athrah, Hasan bin Al-Shalih, Abu Tsaur dan Ahli Zhahir menyela-nyela jenggot adalah wajib. Hal itu diungkapkan dalam kitab Al-Bahr. Pendapat itu didasarkan atas hadits dalam bab ini yang mencantumkan kalimat, ”Demikianlah Allah memerintahkanku”. Menurut Malik, Syafi’i, Al-Tsauri dan Al-Auza’i menyela-nyela jenggot hukumnya tidak wajib dalam wudhu.
[Nailul Authar 1/121 (1/ 330)].
Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa membasuh muka ketika berwudhu hukumnya wajib.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyela-nyela jenggot ketika membasuh muka hukumnya sunnah.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
*Slawi, Maret 2011
Jumat, 11 Maret 2011
Kamis, 10 Maret 2011
MEMBACA BASMALAH KETIKA MEMULAI BERWUDHU
MEMBACA BASMALAH KETIKA MEMULAI BERWUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam kitab Nailul Authar terdapat hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوءَ لِمَنْ لا يَذْكُرُ اسْمَ اللَّهِ عليه
“Tidak ada shalat bagi yang tidak punya wudhu, dan tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah ketika berwudhu” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dalam hadits serupa yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Said Ibnu Zaid dan Abu Said, Ahmad berkata: Tidak dapat ditetapkan suatu hukum apapun berdasarkan hadits itu.
[lihat Bulughul Maram, Bab Thaharah hadits 55 dan 56]
Imam Asy-Syaukani berkata :
والأحاديث تدل على وجوب التسمية في الوضوء
وقد ذهب إلى الوجوب والفرضية العترة والظاهرية وإسحاق وإحدى الروايتين عن أحمد بن حنبل واختلفوا هل هي فرض مطلقًا أو على الذاكر فالعترة على الذاكر والظاهرية مطلقًا.
Hadits ini menunjukkan atas wajibnya menyebut nama Allah di dalam berwudhu.
Mereka yang mewajibkan membaca nama Allah sebelum berwudhu adalah ulama Ahlil Bait, golongan Zhahiriyah, Ishaq, Al-‘Athrah dan Imam Ibnu Hanbal. Tetapi mereka berselisih pendapat apakah membaca bismillah itu merupakan suatu yang fardhu secara mutlak ataukah hanya untuk orang yang ingat saja.
وذهبت الشافعية والحنفية ومالك وربيعة وهو أحد قولي الهادي إلى أنها سنة.
احتج الأولون بأحاديث الباب واحتج الآخرون بحديث ابن عمر مرفوعًا: (من توضأ وذكر اسم اللَّه عليه كان طهورًا لجميع بدنه ومن توضأ ولم يذكر اسم اللَّه عليه كان طهورًا لأعضاء وضوئه). أخرجه الدارقطني والبيهقي
Sedangkan menurut ulama Syafi’iyah, Hanafiah, Malik dan Rabi’ah mengatakan bahwa hadits ini merupakan salah satu hadits yang memberi petunjuk bahwa perkara itu adalah sunnah. Sedangkan Al-Baihaqi mengatakan hal itu tidak wajib dengan dalil Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah sempurna shalat seseorang diantara kamu sehingga ia menyempurnakan wudhunya sebagaimana yang diperintahkan Allah”. Sedangkan ulama yang berpendapat atas wajibnya membaca bismillah bagi orang yang ingat saja, berdasarkan dalil hadits Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu, dan menyebut nama Allah, maka ia berarti telah menyucikan seluruh badannya, dan barangsiapa berwudhu, dan tidak menyebut nama Allah maka ia berarti telah menyucikan anggota-anggota wudhunya saja” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi)
[Nailul Authar 1/109 (1/ 298-299) ; Subulussalam 1/25 (1/109)].
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Terdapat beberapa hadits dha’if yang memerintahkan agar membaca basmalah menjelang berwudhu, tetapi semua hadits tersebut adalah dha’if. Meskipun demikian, jika seluruh keterangan hadits tersebut digabungkan, maka ia hukumnya adalah sama dengan hadits yang kuat dan boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Didamping itu, membaca basmalah itu sendiri adalah baik dan pada umumnya adalah disyariatkan.
[Fiqih Sunnah 1, hal 54-55].
Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
والثانية أن يقول في ابتداء وضوئه بسم الله فلو نسيها في الابتداء أتى بها متى ذكرها قبل الفراغ كما في الطعام
Sunah wudhu yang kedua adalah membaca basmalah di awal wudhunya. Apabila dia lupa (membaca basmalah) ketika memulai wudhu, hendaknya dia mengucapkan kapan saja ketika ingat sebelum selesai wudhunya, sebagaimana dalam makan.
[Raudhatuth Thalibin 1/43 (1/208)].
Kesimpulam
Mayoritas ulama berpendapat bahwa membaca basmalah ketika memulai berwudhu hukumnya sunnah.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
*Slawi, Maret 2011
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam kitab Nailul Authar terdapat hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوءَ لِمَنْ لا يَذْكُرُ اسْمَ اللَّهِ عليه
“Tidak ada shalat bagi yang tidak punya wudhu, dan tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah ketika berwudhu” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dalam hadits serupa yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Said Ibnu Zaid dan Abu Said, Ahmad berkata: Tidak dapat ditetapkan suatu hukum apapun berdasarkan hadits itu.
[lihat Bulughul Maram, Bab Thaharah hadits 55 dan 56]
Imam Asy-Syaukani berkata :
والأحاديث تدل على وجوب التسمية في الوضوء
وقد ذهب إلى الوجوب والفرضية العترة والظاهرية وإسحاق وإحدى الروايتين عن أحمد بن حنبل واختلفوا هل هي فرض مطلقًا أو على الذاكر فالعترة على الذاكر والظاهرية مطلقًا.
Hadits ini menunjukkan atas wajibnya menyebut nama Allah di dalam berwudhu.
Mereka yang mewajibkan membaca nama Allah sebelum berwudhu adalah ulama Ahlil Bait, golongan Zhahiriyah, Ishaq, Al-‘Athrah dan Imam Ibnu Hanbal. Tetapi mereka berselisih pendapat apakah membaca bismillah itu merupakan suatu yang fardhu secara mutlak ataukah hanya untuk orang yang ingat saja.
وذهبت الشافعية والحنفية ومالك وربيعة وهو أحد قولي الهادي إلى أنها سنة.
احتج الأولون بأحاديث الباب واحتج الآخرون بحديث ابن عمر مرفوعًا: (من توضأ وذكر اسم اللَّه عليه كان طهورًا لجميع بدنه ومن توضأ ولم يذكر اسم اللَّه عليه كان طهورًا لأعضاء وضوئه). أخرجه الدارقطني والبيهقي
Sedangkan menurut ulama Syafi’iyah, Hanafiah, Malik dan Rabi’ah mengatakan bahwa hadits ini merupakan salah satu hadits yang memberi petunjuk bahwa perkara itu adalah sunnah. Sedangkan Al-Baihaqi mengatakan hal itu tidak wajib dengan dalil Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah sempurna shalat seseorang diantara kamu sehingga ia menyempurnakan wudhunya sebagaimana yang diperintahkan Allah”. Sedangkan ulama yang berpendapat atas wajibnya membaca bismillah bagi orang yang ingat saja, berdasarkan dalil hadits Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu, dan menyebut nama Allah, maka ia berarti telah menyucikan seluruh badannya, dan barangsiapa berwudhu, dan tidak menyebut nama Allah maka ia berarti telah menyucikan anggota-anggota wudhunya saja” (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi)
[Nailul Authar 1/109 (1/ 298-299) ; Subulussalam 1/25 (1/109)].
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Terdapat beberapa hadits dha’if yang memerintahkan agar membaca basmalah menjelang berwudhu, tetapi semua hadits tersebut adalah dha’if. Meskipun demikian, jika seluruh keterangan hadits tersebut digabungkan, maka ia hukumnya adalah sama dengan hadits yang kuat dan boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Didamping itu, membaca basmalah itu sendiri adalah baik dan pada umumnya adalah disyariatkan.
[Fiqih Sunnah 1, hal 54-55].
Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
والثانية أن يقول في ابتداء وضوئه بسم الله فلو نسيها في الابتداء أتى بها متى ذكرها قبل الفراغ كما في الطعام
Sunah wudhu yang kedua adalah membaca basmalah di awal wudhunya. Apabila dia lupa (membaca basmalah) ketika memulai wudhu, hendaknya dia mengucapkan kapan saja ketika ingat sebelum selesai wudhunya, sebagaimana dalam makan.
[Raudhatuth Thalibin 1/43 (1/208)].
Kesimpulam
Mayoritas ulama berpendapat bahwa membaca basmalah ketika memulai berwudhu hukumnya sunnah.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
*Slawi, Maret 2011
BERKUMUR DAN MENGHISAP AIR HIDUNG
BERKUMUR DAN MENGHISAP AIR HIDUNG
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam kitab Nailul Authar terdapat hadits-hadits berikut :
Dari Utsman bin Affan RA,
أنه دعا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ على كَفَّيْهِ ثلاث مرّاتٍ فَغَسَلَهُمَا ثم أدخل يَمِيْنَهُ في الإناءِ فَمَضْمَضَ واسْتَنْثَرَ ثم غسلَ وَجْهَهُ ثلاثًا ويَدَيْهِ إلى الْمِرْفَقَيْنِ ثلاث مراتٍ ثم مَسَحَ برأسهِ ثم غسل رِجْلَيْهِ ثلاث مرات إلى الكعبينِ ثم قال: رأيتُ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هذا ثم قال: من توضأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هذا ثم صلى ركعتين لا يُحَدَّثُ فيهما نَفْسَهُ غُفِرَ اللَّه له ما تقدم من ذنبهِ
Bahwa ia meminta air untuk berwudhu, lalu ia menuangkan air pada kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. Muttafaq Alaihi.
Dari Ali RA,
أنه دعا بوضوءِ فَتَمَضْمَضَ وَنْثَرَ بِيَدِهِ الْيُسْرَى ففعل هذا ثلاثًا ثم قال: هذا طَهُوْرُ نبيِّ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم
Bahwa ia meminta air untuk berwudhu, lalu iapun berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, serta mengembuskannya dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali, kemudian ia berkata, ”Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersuci” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Dari Abu Hrairah RA,
أن النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال: إذا توضأَ أحدُكم فليجعلْ في أَنْفِهِ ماءً ثم لْيَسْنَتْثِرْ.
Bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Bila seseorang diantara kalian berwudhu, maka hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian beristintsar” Muttafaq Alaihi.
Dari Hammad bin Salamah, dari Ammar bin Abu Ammar, dari Abu Hrairah RA, ia berkata,
أمر رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم بالْمَضْمَضَةِ والْاِسْتِنْشَاقِ
“Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam memerintahkan berkumur dan beristinsyaq” (HR. Ad-Daruquthni)
Imam Asy-Syaukani berkata :
يمجه قال النووي: وأقلها أن يجعل الماء في فيه ولا يشترط إدارته على المشهور وعند الجمهور وعند جماعة من أصحاب الشافعي وغيرهم أن الإدارة شرط والمعول عليه في مثل هذا الرجوع إلى مفهوم المضمضة لغة وعلى ذلك تنبني معرفة الحق. والذي في القاموس وغيره أن المضمضة تحريك الماء في الفم.
Imam Al-Nawawi berkata : Berkumur minimal memasukkan air ke dalam mulut dan tidak disyaratkan mengocaknya. Seangkan pendapat yang masyhur adalah pendapat jumhur Jama’ah pengikut Al-Syafi’i dan lain-lainnya. Mereka berpendapat bahwa mengocak air merupakan syarat di dalam berkumur. Sedangkan menurut kamus yang disebut berkumur adalah mengocakkan air di dalam mulut.
قال النووي: قال جمهور أهل اللغة والفقهاء والمحدثون: الاستنثار هو إخراج الماء من الأنف بعد الاستنشاق
Imam Al-Nawawi berkata : Jumhur berkata : Menurut para ahli bahasa, ahli fiqih dan ahli hadits, bahwa menurut pendapat mereka yang disebut ”Istintsar” adalah mengeluarkan air dari hidung setelah memasukkannya.
[Nailul Authar 1/112 (1/ 307-308)].
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Menurut sunnah, hendaklah memasukkan air ke hidung (istinsyaq) dengan tangan kanannya, tetapi bila ingin mengeluarkan, maka disambut dengan tangan yang kirinya, hal ini berdasarkan Ali RA,
أنه دعا بوضوء فتمضمض وَنْثَرَ بِيَدِهِ الْيُسْرَى ففعل هذا ثلاثًا ثم قال: هذا طَهُوْرُ نبيِّ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم
Ali meminta air untuk berwudhu, lalu iapun berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, serta mengembuskannya dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali, kemudian ia berkata, ”Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersuci” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung sudah dikatakan memadai, jika air tersebut telah dimasukkan ke mulut dan ke hidung, walau dengan cara bagaimanapun. Akan tetapi, menurut keterangan hadits yang sahih seperti yang telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bahwa beliau melakukan yang demikian itu secara bersambung antara berkumur-kunur dan memasukkan air ke dalam hidung.
[Fiqih Sunnah 1, hal 54-55].
Imam Syafi’i da;am kitab Al-Umm berkata :
وأحب إلي أن يبدأ المتوضىء بعد غسل يديه أن يتمضمض ويستنشق ثلاثا يأخذ بكفه غرفة لفيه وأنفه ويدخل الماء أنفه ويستبلغ بقدر ما يرى أنه يأخذ بخياشيمه ولا يزيد على ذلك ولا يجعله كالسعوط وإن كان صائما رفق بالاستنشاق لئلا يدخل رأسه
وإنما أكدت المضمضة والاستنشاق دون غسل العينين للسنة وأن الفم يتغير وكذلك الأنف
Saya lebih menyukai orang berwudhu yang memulainya dengan berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya tiga kali setelah membasuh kedua tangannya, yaitu dengan cara mengambil air dengan telapak tangannya untuk mulut dan hidungnya, kenudian memasukkan air tersebut ke dalam hidungnya sampai batas yang terlihat bahwa air itu masuk ke bagian dalam hidungnya. Namun apabila ia berpuasa, hendaknya memasukkan air ke dalam hidungnya dengan lembut, agar air itu tidak masuk ke bagian kepalanya.
Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung adalah sunnah, karena dengannya bau mulut dan hidung akan hilang.
[Al-Umm 1/26 , Ringkasan Kitab Al-Umm 1/35]
Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
ثم أصل هذه السنة يحصل بوصول الماء إلى الفم والأنف سواء كان بغرفة أو أكثر وفي الأفضل طريقان الصحيح أن فيه قولين أظهرهما الفصل بين المضمضة والاستنشاق أفضل والثاني الجمع بينهما أفضل
Pelaksanaan sunnah wudhu ini dapat dilakukan dengan masuknya air ke dalam mulut dan hidung, baik dengan sekali ciduk atau lebih. Adapun yang paling utama dilakukan dengan dua cara. Menurut pendapat yang sahih, bahwa dalam hal itu terdapat dua pendapat madzhab Asy-Syafi’i : Pertama, yang paling Azhhar adalah membedakan antara berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung. Kedua, menyatukan antara keduanya.
[Raudhatuth Thalibin 1/44 (1/214)].
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram mengutip hadits dari Laqith Ibnu Shabirah Radliyallaahu 'anhu , ia berkata berkata,
قال رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم أسبغ الوضوء وخلل بين الأصابع وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما. أخرجه الأربعة وصححه ابن خزيمة
ولأبي داود في رواية إذا توضأت فمضمض
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sempurnakanlah dalam berwudlu, usaplah sela-sela jari, dan isaplah air ke dalam hidung dalam-dalam kecuali jika engkau sedang berpuasa." Riwayat Imam Empat dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.
Menurut riwayat Abu Dawud: "Jika engkau berwudlu berkumurlah."
[Bulughul Maram, Bab Thaharah hadits 44]
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
والحديث دليل على المبالغة في الاستنشاق لغير الصائم وإنما لم يكن في حقه المبالغة لئلا ينزل إلى حلقه ما يفطره ودل على ذلك أن المبالغة ليست بواجبة إذ لو كانت واجبة لوجب عليه التحري ولم يجز له تركها
Hadits tersebut menunjukkan perintah untuk bersungguh-sungguh dalam beristisyaq (memasukkan air ke dalam hidung) bagi yang tidak berpuasa, namun tidak dianjurkannya bagi yang sedang berpuasa agar air tidak turun ke tenggorokannya yang dapat merusak puasanya. Hal itu menunjukkan bahwa mubalaghoh (bersungguh-sungguh) tidak wajib, sebab seandainya wajib niscaya tidak diperbolehkan meninggalkannya.
[Subulussalam 1/25 (1/109)].
Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa berkumur dan menghisap air dengan hidung dalam berwudhu hukumnya sunnah.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa berkumur dan menghisap air dengan hidung dalam berwudhu bisa dilakukan secara bersamaan atau berurutan.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
*Slawi, Maret 2011
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam kitab Nailul Authar terdapat hadits-hadits berikut :
Dari Utsman bin Affan RA,
أنه دعا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ على كَفَّيْهِ ثلاث مرّاتٍ فَغَسَلَهُمَا ثم أدخل يَمِيْنَهُ في الإناءِ فَمَضْمَضَ واسْتَنْثَرَ ثم غسلَ وَجْهَهُ ثلاثًا ويَدَيْهِ إلى الْمِرْفَقَيْنِ ثلاث مراتٍ ثم مَسَحَ برأسهِ ثم غسل رِجْلَيْهِ ثلاث مرات إلى الكعبينِ ثم قال: رأيتُ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هذا ثم قال: من توضأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هذا ثم صلى ركعتين لا يُحَدَّثُ فيهما نَفْسَهُ غُفِرَ اللَّه له ما تقدم من ذنبهِ
Bahwa ia meminta air untuk berwudhu, lalu ia menuangkan air pada kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. Muttafaq Alaihi.
Dari Ali RA,
أنه دعا بوضوءِ فَتَمَضْمَضَ وَنْثَرَ بِيَدِهِ الْيُسْرَى ففعل هذا ثلاثًا ثم قال: هذا طَهُوْرُ نبيِّ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم
Bahwa ia meminta air untuk berwudhu, lalu iapun berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, serta mengembuskannya dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali, kemudian ia berkata, ”Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersuci” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Dari Abu Hrairah RA,
أن النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال: إذا توضأَ أحدُكم فليجعلْ في أَنْفِهِ ماءً ثم لْيَسْنَتْثِرْ.
Bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Bila seseorang diantara kalian berwudhu, maka hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian beristintsar” Muttafaq Alaihi.
Dari Hammad bin Salamah, dari Ammar bin Abu Ammar, dari Abu Hrairah RA, ia berkata,
أمر رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم بالْمَضْمَضَةِ والْاِسْتِنْشَاقِ
“Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam memerintahkan berkumur dan beristinsyaq” (HR. Ad-Daruquthni)
Imam Asy-Syaukani berkata :
يمجه قال النووي: وأقلها أن يجعل الماء في فيه ولا يشترط إدارته على المشهور وعند الجمهور وعند جماعة من أصحاب الشافعي وغيرهم أن الإدارة شرط والمعول عليه في مثل هذا الرجوع إلى مفهوم المضمضة لغة وعلى ذلك تنبني معرفة الحق. والذي في القاموس وغيره أن المضمضة تحريك الماء في الفم.
Imam Al-Nawawi berkata : Berkumur minimal memasukkan air ke dalam mulut dan tidak disyaratkan mengocaknya. Seangkan pendapat yang masyhur adalah pendapat jumhur Jama’ah pengikut Al-Syafi’i dan lain-lainnya. Mereka berpendapat bahwa mengocak air merupakan syarat di dalam berkumur. Sedangkan menurut kamus yang disebut berkumur adalah mengocakkan air di dalam mulut.
قال النووي: قال جمهور أهل اللغة والفقهاء والمحدثون: الاستنثار هو إخراج الماء من الأنف بعد الاستنشاق
Imam Al-Nawawi berkata : Jumhur berkata : Menurut para ahli bahasa, ahli fiqih dan ahli hadits, bahwa menurut pendapat mereka yang disebut ”Istintsar” adalah mengeluarkan air dari hidung setelah memasukkannya.
[Nailul Authar 1/112 (1/ 307-308)].
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Menurut sunnah, hendaklah memasukkan air ke hidung (istinsyaq) dengan tangan kanannya, tetapi bila ingin mengeluarkan, maka disambut dengan tangan yang kirinya, hal ini berdasarkan Ali RA,
أنه دعا بوضوء فتمضمض وَنْثَرَ بِيَدِهِ الْيُسْرَى ففعل هذا ثلاثًا ثم قال: هذا طَهُوْرُ نبيِّ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم
Ali meminta air untuk berwudhu, lalu iapun berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, serta mengembuskannya dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali, kemudian ia berkata, ”Beginilah cara Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersuci” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung sudah dikatakan memadai, jika air tersebut telah dimasukkan ke mulut dan ke hidung, walau dengan cara bagaimanapun. Akan tetapi, menurut keterangan hadits yang sahih seperti yang telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bahwa beliau melakukan yang demikian itu secara bersambung antara berkumur-kunur dan memasukkan air ke dalam hidung.
[Fiqih Sunnah 1, hal 54-55].
Imam Syafi’i da;am kitab Al-Umm berkata :
وأحب إلي أن يبدأ المتوضىء بعد غسل يديه أن يتمضمض ويستنشق ثلاثا يأخذ بكفه غرفة لفيه وأنفه ويدخل الماء أنفه ويستبلغ بقدر ما يرى أنه يأخذ بخياشيمه ولا يزيد على ذلك ولا يجعله كالسعوط وإن كان صائما رفق بالاستنشاق لئلا يدخل رأسه
وإنما أكدت المضمضة والاستنشاق دون غسل العينين للسنة وأن الفم يتغير وكذلك الأنف
Saya lebih menyukai orang berwudhu yang memulainya dengan berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya tiga kali setelah membasuh kedua tangannya, yaitu dengan cara mengambil air dengan telapak tangannya untuk mulut dan hidungnya, kenudian memasukkan air tersebut ke dalam hidungnya sampai batas yang terlihat bahwa air itu masuk ke bagian dalam hidungnya. Namun apabila ia berpuasa, hendaknya memasukkan air ke dalam hidungnya dengan lembut, agar air itu tidak masuk ke bagian kepalanya.
Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung adalah sunnah, karena dengannya bau mulut dan hidung akan hilang.
[Al-Umm 1/26 , Ringkasan Kitab Al-Umm 1/35]
Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
ثم أصل هذه السنة يحصل بوصول الماء إلى الفم والأنف سواء كان بغرفة أو أكثر وفي الأفضل طريقان الصحيح أن فيه قولين أظهرهما الفصل بين المضمضة والاستنشاق أفضل والثاني الجمع بينهما أفضل
Pelaksanaan sunnah wudhu ini dapat dilakukan dengan masuknya air ke dalam mulut dan hidung, baik dengan sekali ciduk atau lebih. Adapun yang paling utama dilakukan dengan dua cara. Menurut pendapat yang sahih, bahwa dalam hal itu terdapat dua pendapat madzhab Asy-Syafi’i : Pertama, yang paling Azhhar adalah membedakan antara berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung. Kedua, menyatukan antara keduanya.
[Raudhatuth Thalibin 1/44 (1/214)].
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram mengutip hadits dari Laqith Ibnu Shabirah Radliyallaahu 'anhu , ia berkata berkata,
قال رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم أسبغ الوضوء وخلل بين الأصابع وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما. أخرجه الأربعة وصححه ابن خزيمة
ولأبي داود في رواية إذا توضأت فمضمض
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sempurnakanlah dalam berwudlu, usaplah sela-sela jari, dan isaplah air ke dalam hidung dalam-dalam kecuali jika engkau sedang berpuasa." Riwayat Imam Empat dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.
Menurut riwayat Abu Dawud: "Jika engkau berwudlu berkumurlah."
[Bulughul Maram, Bab Thaharah hadits 44]
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
والحديث دليل على المبالغة في الاستنشاق لغير الصائم وإنما لم يكن في حقه المبالغة لئلا ينزل إلى حلقه ما يفطره ودل على ذلك أن المبالغة ليست بواجبة إذ لو كانت واجبة لوجب عليه التحري ولم يجز له تركها
Hadits tersebut menunjukkan perintah untuk bersungguh-sungguh dalam beristisyaq (memasukkan air ke dalam hidung) bagi yang tidak berpuasa, namun tidak dianjurkannya bagi yang sedang berpuasa agar air tidak turun ke tenggorokannya yang dapat merusak puasanya. Hal itu menunjukkan bahwa mubalaghoh (bersungguh-sungguh) tidak wajib, sebab seandainya wajib niscaya tidak diperbolehkan meninggalkannya.
[Subulussalam 1/25 (1/109)].
Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa berkumur dan menghisap air dengan hidung dalam berwudhu hukumnya sunnah.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa berkumur dan menghisap air dengan hidung dalam berwudhu bisa dilakukan secara bersamaan atau berurutan.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
*Slawi, Maret 2011
Selasa, 08 Maret 2011
MENCUCI TANGAN SEBELUM BERWUDHU
MENCUCI TANGAN SEBELUM BERWUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Salah satu sunnah wudhu adalah mencuci tangan sewaktu hendak memulai wudhu. Hal ini berdasarkan hadits Aus bin Aus Ats-Tsaqafi RA,
رأيت رسولَ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم توضأَ فَاسْتَوْكَفَ ثلاثًا أي غَسَلَ كَفَّيْهِ
”Saya melihat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam berwudhu lalu membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali sebelum itu” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Dari Abu Hurairah RA,
أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال: إذا اسْتَيْقَظَ أحدُكم من نَوْمِهِ فلا يَغْمِسْ يَدَهُ حتى يَغْسِلَهَا ثلاثًا فإنه لا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ
”Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apabila salah seorang diantara kamu bangun dari tidur, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam air sebelum mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu kemanakah tangannya merayap di waktu malam’” (HR. Jamaah, tetapi Al-Bukhari tidak menyebut bilangan tiga kali)
[Fiqih Sunnah 1, hal 342 dam 357].
Imam Asy-Syaukani berkata :
والشافعية والحنفية أنه مسنون ولا يجب لحديث (توضأ كما أمرك اللَّه) ولم يذكر فيه غسل اليدين
Menurut pendapat pengikut mazhab Syafi’i dan Hanafi, bahwasanya membasuh kedua tapak tangan dalam berwudhu adalah sunnah, dan bukan wajib seperti diterangkan dalam hadits,
”Berwudhulah seperti Allah memerintahkan kepadamu”,
Di dalam hadits tersebut disebutkan tentang membasuh kedua tangan.
وحديث الاستيقاظ الغسل فيه لا للوضوء
وعن أبي هريرة: أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال:
إذا اسْتَيْقَظَ أحدُكم من نَوْمِهِ فلا يَغْمِسْ يَدَهُ حتى يَغْسِلَهَا ثلاثًا فإنه لا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ رواه الجماعة إلا أن البخاري لم يذكر العدد وفي لفظ الترمذي وابن ماجه:
(إذا استيقظ أحدكم من الليل)
Sedangkan adanya hadits yang mewajibkan membasuh tangan setelah bangun tidur itu bukan dimaksudkan untuk orang yang mau berwudhu.
Dari Abu Hurairah, dia berkata,
”Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apabila salah seorang diantara kamu bangun dari tidur, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam air sebelum mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu dimana tangannya diletakkan’” (HR. Jamaah, tetapi Al-Bukhari tidak menyebut bilangan tiga kali)
Dan di dalam lafadz At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dikatakan :
”Apabila salah seorang di antara kamu bangun tidur malam”
وعن ابن عمر: أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال: (إذا استيقظ أحدكم من مَنَامِهِ فلا يُدْخِلْ يَدَهُ في الْإِنَاءِ حتى يَغْسِلَهَا ثلاث مراتٍ فإنه لا يدري أين بَاتَتْ يده أو أين طَافَتْ يَدُهُ) رواه الدارقطني وقال: إسناد حسن
Dan dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apabila salah seorang diantara kamu bangun dari tidur, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam bejana, sehingga ia mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu dimana tangannya diletakkan atau dimana tangnnya berkeliling” (Hadits Ad-Daruquthni dan ia berkata : Sanadnya Hasan)
والحديث يدل على المنع من إدخال اليد إلى إناء الوضوء عند الاستيقاظ وقد اختلف في ذلك فالأمر عند الجمهور على الندب وحمله أحمد على الوجوب في نوم الليل
Hadits ini menunjukkan atas larangan memasukkan tangan di dalam bejana untuk wudhu ketika bangun tidur, tetapi persoalan ini masih diperselisihkan. Maka perintah di sini menurut jumhur adalah menunjukkan sunnah, sedangkan menurut Imam Ahmad bahwa mencuci tangan hukumnya wajib.
[Nailul Authar 1/111 (1/ 301-304)].
Imam Syafi’i da;am kitab Al-Umm berkata :
وإذا أدخل يده في الإناء قبل أن يغسلها وهو لا يستيقن أن شيئا من النجاسة ماسها لم يفسد وضوؤه وكذلك إن شك أن يكون ماسها فإن كان اليد قد ماسته نجاسة فأدخلها في وضوئه فإن كان الماء الذي توضأ به أقل من قلتين فسد الماء فأهراقه وغسل منه الإناء وتوضأ بماء غيره لا يجزئه غير ذلك وإن كان الماء قلتين أو أكثر لم يفسد الماء وتوضأ وطهرت يده بدخولها الماء إن كانت نجاسة لا أثر لها ولو كانت نجاسة لها أثر أخرجها وغسلها
Apabila seseorang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum menyucikannya dan tidak meyakini bahwa ada najis yang menyentuh tangannya, maka wudhunya tidak batal. Demikian juga halnya apabila ia ragu bahwa ia menyentuh najis. Apabila tangannya telah menyentuh najis lalu dimasukkan ke dalam air wudhunya, dan jika air wudhu itu kadarnya kurang dari dua kullah, maka air itu dikategorikan sebagai air yang rusak, sehingga ia harus menuang air itu dan mencuci bejananya.
[Al-Umm 1/25 , Ringkasan Kitab Al-Umm 1/35]
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اختلف الفقهاء في غسل اليد قبل إدخالها في إناء الوضوء، فذهب قوم إلى أنه من سنن الوضوء بإطلاق، وإن تيقن طهارة اليد، وهو مشهور مذهب مالك والشافعي.
وقيل إنه مستحب للشاك في طهارة يده؛ وهو أيضا مروي عن مالك. وقيل إن غسل اليد واجب على المنتبه من النوم، وبه قال داود وأصحابه
Para fuqaha berbeda pendapat tentang hokum mencuci tangan sebelum dimasukkan ke dalam tempat air wudhu. Sebagian mereka berpendapat bahwa hal itu mutlak sebagai sunat wudhu, walaupun orang wudhu itu yakin bahwa tangannya telah suci. Inilah pendapat popular dari Mazhab Malik dan Syafi’i.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa mencuci tangan itu dianjurkan (mustahab) bagi orang yang ragu akan kesucian tangannya. Pendapat terakhir juga diriwayatkan dari Malik. Pendapat ini mengatakan bahwa mencuci tangan itu wajib bagi orang yang bangun tidur. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Dawud dan para pengikutnya.
[Bidayatul Mujtahid 1/7 (1/10)].
Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
ولا تزول الكراهة إلا بغسلهما ثلاثا قبل الغمس نص عليه البويطي وصرح به الأصحاب للحديث الصحيح وقال أصحابنا إذا كان الماء في إناء كبير أو صخرة مجوفة بحيث لا يمكن أن يصب منه على يده وليس معه ما يغترف به استعان بغيره أو أخذ الماء بفمه أو طرف ثوب نظيف ونحوه والله أعلم
Mencelupkan tangan ke dalam air masih tetap makruh hukumnya kecuali setelah keduanya dibasuh tiga kali sebelum dicelupkan. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Al-Buwaithi, dan dinyatakan secara terang-terangan oleh para sahabat kami sesuai dengan hadits yang sahih. Para sahabat kami mengatakan, apabila air itu berada di suatu bejana yang besar, atau di lubang yang terdapat di sebuah gurun, yang sulit baginya untuk mengambil air dengan tangannya, dan dia tidak memiliki alat untuk menciduk air, hendaknya ia meminta pertolongan kepada orang lain, atau mengambil air dengan mulutnya, atau ujung bajunya yang bersih dan semacamnya. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/44 (1/210)].
Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa membasuh kedua tangan sebelum berwudhu hukumnya sunnah.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa membasuh kedua tangan sesudah bangun tidur humkumnya sunnah.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
*Slawi, Maret 2011
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Salah satu sunnah wudhu adalah mencuci tangan sewaktu hendak memulai wudhu. Hal ini berdasarkan hadits Aus bin Aus Ats-Tsaqafi RA,
رأيت رسولَ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم توضأَ فَاسْتَوْكَفَ ثلاثًا أي غَسَلَ كَفَّيْهِ
”Saya melihat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam berwudhu lalu membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali sebelum itu” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Dari Abu Hurairah RA,
أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال: إذا اسْتَيْقَظَ أحدُكم من نَوْمِهِ فلا يَغْمِسْ يَدَهُ حتى يَغْسِلَهَا ثلاثًا فإنه لا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ
”Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apabila salah seorang diantara kamu bangun dari tidur, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam air sebelum mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu kemanakah tangannya merayap di waktu malam’” (HR. Jamaah, tetapi Al-Bukhari tidak menyebut bilangan tiga kali)
[Fiqih Sunnah 1, hal 342 dam 357].
Imam Asy-Syaukani berkata :
والشافعية والحنفية أنه مسنون ولا يجب لحديث (توضأ كما أمرك اللَّه) ولم يذكر فيه غسل اليدين
Menurut pendapat pengikut mazhab Syafi’i dan Hanafi, bahwasanya membasuh kedua tapak tangan dalam berwudhu adalah sunnah, dan bukan wajib seperti diterangkan dalam hadits,
”Berwudhulah seperti Allah memerintahkan kepadamu”,
Di dalam hadits tersebut disebutkan tentang membasuh kedua tangan.
وحديث الاستيقاظ الغسل فيه لا للوضوء
وعن أبي هريرة: أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال:
إذا اسْتَيْقَظَ أحدُكم من نَوْمِهِ فلا يَغْمِسْ يَدَهُ حتى يَغْسِلَهَا ثلاثًا فإنه لا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ رواه الجماعة إلا أن البخاري لم يذكر العدد وفي لفظ الترمذي وابن ماجه:
(إذا استيقظ أحدكم من الليل)
Sedangkan adanya hadits yang mewajibkan membasuh tangan setelah bangun tidur itu bukan dimaksudkan untuk orang yang mau berwudhu.
Dari Abu Hurairah, dia berkata,
”Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apabila salah seorang diantara kamu bangun dari tidur, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam air sebelum mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu dimana tangannya diletakkan’” (HR. Jamaah, tetapi Al-Bukhari tidak menyebut bilangan tiga kali)
Dan di dalam lafadz At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dikatakan :
”Apabila salah seorang di antara kamu bangun tidur malam”
وعن ابن عمر: أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال: (إذا استيقظ أحدكم من مَنَامِهِ فلا يُدْخِلْ يَدَهُ في الْإِنَاءِ حتى يَغْسِلَهَا ثلاث مراتٍ فإنه لا يدري أين بَاتَتْ يده أو أين طَافَتْ يَدُهُ) رواه الدارقطني وقال: إسناد حسن
Dan dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apabila salah seorang diantara kamu bangun dari tidur, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam bejana, sehingga ia mencucinya tiga kali, karena dia tidak tahu dimana tangannya diletakkan atau dimana tangnnya berkeliling” (Hadits Ad-Daruquthni dan ia berkata : Sanadnya Hasan)
والحديث يدل على المنع من إدخال اليد إلى إناء الوضوء عند الاستيقاظ وقد اختلف في ذلك فالأمر عند الجمهور على الندب وحمله أحمد على الوجوب في نوم الليل
Hadits ini menunjukkan atas larangan memasukkan tangan di dalam bejana untuk wudhu ketika bangun tidur, tetapi persoalan ini masih diperselisihkan. Maka perintah di sini menurut jumhur adalah menunjukkan sunnah, sedangkan menurut Imam Ahmad bahwa mencuci tangan hukumnya wajib.
[Nailul Authar 1/111 (1/ 301-304)].
Imam Syafi’i da;am kitab Al-Umm berkata :
وإذا أدخل يده في الإناء قبل أن يغسلها وهو لا يستيقن أن شيئا من النجاسة ماسها لم يفسد وضوؤه وكذلك إن شك أن يكون ماسها فإن كان اليد قد ماسته نجاسة فأدخلها في وضوئه فإن كان الماء الذي توضأ به أقل من قلتين فسد الماء فأهراقه وغسل منه الإناء وتوضأ بماء غيره لا يجزئه غير ذلك وإن كان الماء قلتين أو أكثر لم يفسد الماء وتوضأ وطهرت يده بدخولها الماء إن كانت نجاسة لا أثر لها ولو كانت نجاسة لها أثر أخرجها وغسلها
Apabila seseorang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum menyucikannya dan tidak meyakini bahwa ada najis yang menyentuh tangannya, maka wudhunya tidak batal. Demikian juga halnya apabila ia ragu bahwa ia menyentuh najis. Apabila tangannya telah menyentuh najis lalu dimasukkan ke dalam air wudhunya, dan jika air wudhu itu kadarnya kurang dari dua kullah, maka air itu dikategorikan sebagai air yang rusak, sehingga ia harus menuang air itu dan mencuci bejananya.
[Al-Umm 1/25 , Ringkasan Kitab Al-Umm 1/35]
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اختلف الفقهاء في غسل اليد قبل إدخالها في إناء الوضوء، فذهب قوم إلى أنه من سنن الوضوء بإطلاق، وإن تيقن طهارة اليد، وهو مشهور مذهب مالك والشافعي.
وقيل إنه مستحب للشاك في طهارة يده؛ وهو أيضا مروي عن مالك. وقيل إن غسل اليد واجب على المنتبه من النوم، وبه قال داود وأصحابه
Para fuqaha berbeda pendapat tentang hokum mencuci tangan sebelum dimasukkan ke dalam tempat air wudhu. Sebagian mereka berpendapat bahwa hal itu mutlak sebagai sunat wudhu, walaupun orang wudhu itu yakin bahwa tangannya telah suci. Inilah pendapat popular dari Mazhab Malik dan Syafi’i.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa mencuci tangan itu dianjurkan (mustahab) bagi orang yang ragu akan kesucian tangannya. Pendapat terakhir juga diriwayatkan dari Malik. Pendapat ini mengatakan bahwa mencuci tangan itu wajib bagi orang yang bangun tidur. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Dawud dan para pengikutnya.
[Bidayatul Mujtahid 1/7 (1/10)].
Imam Nawawi dakam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
ولا تزول الكراهة إلا بغسلهما ثلاثا قبل الغمس نص عليه البويطي وصرح به الأصحاب للحديث الصحيح وقال أصحابنا إذا كان الماء في إناء كبير أو صخرة مجوفة بحيث لا يمكن أن يصب منه على يده وليس معه ما يغترف به استعان بغيره أو أخذ الماء بفمه أو طرف ثوب نظيف ونحوه والله أعلم
Mencelupkan tangan ke dalam air masih tetap makruh hukumnya kecuali setelah keduanya dibasuh tiga kali sebelum dicelupkan. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Al-Buwaithi, dan dinyatakan secara terang-terangan oleh para sahabat kami sesuai dengan hadits yang sahih. Para sahabat kami mengatakan, apabila air itu berada di suatu bejana yang besar, atau di lubang yang terdapat di sebuah gurun, yang sulit baginya untuk mengambil air dengan tangannya, dan dia tidak memiliki alat untuk menciduk air, hendaknya ia meminta pertolongan kepada orang lain, atau mengambil air dengan mulutnya, atau ujung bajunya yang bersih dan semacamnya. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/44 (1/210)].
Kesimpulam
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa membasuh kedua tangan sebelum berwudhu hukumnya sunnah.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa membasuh kedua tangan sesudah bangun tidur humkumnya sunnah.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
*Slawi, Maret 2011
Sabtu, 05 Maret 2011
NIAT WUDHU
NIAT WUDHU
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang masalah Niat Wudhu. Ada yang berpendapat diwajibkan, ada yang berpendapat tidak diwajibkan. Ulama yang berpendapat bahwa Niat Wudhu itu diwajibkan, berbeda pendapat apakah Niat Wudhu itu dilafalkan atau tidak dilafalkan.
Berikut pendapat para ulama tentang Niat Wudhu beserta dalil masing-masing.
1. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
الفرض الأول : النية, وحقيقتها الإرادة المتوجهة نحوالفعل, ابتغاء رضاالله تعالى وامتثال حكمه, وهي عمل قلبى محض لادخل للسان فيه, والنلفظ بها غير مشروع, ودليل فرضيتها حديث عمر رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم
"إنما الأعمال بالنيات"
Fardhu wudhu yang pertama adalah niat. Maksudnya ialah kemauan yang tertuju untuk melakukan suatu perbuatan demi mengharap keridhaan Allah dan mematuhi pertaurannya. Ia merupakan perbuatan hati semata, yang tidak ada sangkut pautnya dengan lisan. Sementara pengucapan niat secara lisan tidak dianjurkan hukum syara’. Dalil wajib niat adalah hadits Umar RA, Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
”Sah tergantung suatu amal itu tergantung niatnya”
(HR. Bukhari dan Muslim)
[Fiqih Sunnah 1/29 (1/49)].
2. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اختلف علماء الأمصار هل النية شرط في صحة الوضوء أم لا بعد اتفاقهم على اشتراط النية في العبادات لقوله تعالى {وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} ولقوله صلى الله عليه وسلم "إنما الأعمال بالنيات" الحديث المشهور.
Dalam hal ini para ulama Amshar (ulama yang tersebar di kota Baghdad, Damaskus, Hijaz, Cordova, dan lain-lain) berbeda pendapat mengenai niat itu termasuk syarat sah wudhu atau tidak, setelah mereka menentukan bahwa niat adalah syarat untuk melakukan ibadah, seperti tersebut dalam firman Allah Ta’ala :
”Dan kalian tidak diperintahkan apapun kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas kepadaNya karena agama”
(QS. Al-Bayyinah : 5)
Hadits masyhur menyebutkan :
”Sah tergantung suatu amal itu tergantung niatnya”
(HR. Bukhari dan Muslim)
فذهب فريق منهم إلى أنها شرط، وهو مذهب الشافعي ومالك وأحمد وأبي ثور وداود. وذهب فريق آخر إلى أنها ليست بشرط، وهو مذهب أبي حنيفة والثوري. وسبب اختلافهم تردد الوضوء بين أن يكون عبادة محضة: أعني غير معقولة المعنى، وإنما يقصد بها القربة فقط كالصلاة وغيرها، وبين أن يكون عبادة معقولة المعنى كغسل النجاسة،
Mazhab Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Dawud berpendapat bahwa niat itu adalah syarat. Lain dengan mazhab Abu Hanifah dan Tsauri. Mereka berpendapat bahwa niat itu tidak termasuk syarat. Sebab perselidihan mereka berpangkal dari ketidak jelasan keberadaan wudhu sebagai ibadah mahdhah (tidak dirasionalkan) yang hanya bermaksud untuk taqarrub kepada Allah, seperti shalat dan lainnya, dan wudhu sebagai ibadah yang bisa dirasionalkan, seperti menghilangkan najis yang berfungsi sebagai kebersihan.
فإنهم لا يختلفون أن العبادة المحضة مفتقرة إلى النية، والعبادة المفهومة المعنى غير مفتقرة إلى النية، والوضوء فيه شبه من العبادتين، ولذلك وقع الخلاف فيه، وذلك أنه يجمع عبادة ونظافة،
Para ulama sepakat bahwa ibadah mahdhah itu harus disertai dengan niat. Sedang ibadah yang ghaira maghdah (dapat dirasionalkan) itu tidak perlu niat. Dalam hal ini wudhu berada diantara kedua ibadah tersebut. Oleh sebeb itu terjadilah perbedaan pendapat, karena wudhu dapat dikatagorikan mengandung aspek ibadah mahdhah dan kebersihan juga
[Bidayatul Mujtahid 1/7 (1/8)]
3. Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
قال الحافظ: وقد اتفق العلماء على أن النية شرط في المقاصد واختلفوا في الوسائل ومن ثم خالفت الحنفية في اشتراطها للوضوء.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata bahwa para ulama telah sepakat bahwa niat itu merupakan syarat untuk menuju suatu tujuan, tetapi mereka berbeda pendapat tentang sarananya. Para pengikut Imam Hanafi menentang pernyataan itu, khususnya tentang niat di dalam berwudhu.
قال النووي: والنية القصد وهو عزيمة القلب وتعقبه الكرماني بأن عزيمة القلب قدر زائد على أصل القصد.
An-Nawawi berpendapat bahwa kata-kata niyat berarti kemauan, yakni suatu kemauan atau kehendak hati yang didahului oleh ’al-karummi’ yakni kemurahan hati yang menunjukkan bahwa kehendak hati tadi merupakan kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan.
وقال البيضاوي: النية عبارة عن انبعاث القلب نحو ما يراه موافقًا لغرض من جلب نفع أو دفع ضرر حالًا ومآلًا والشرع خصصه بالإرادة المتوجهة نحو الفعل لابتغاء رضاء اللَّه وامتثال حكمه.
Sedangkan Al-Badhawi berkata, bahwa niat itu merupakan jelmaan atas ketulusan hati yang cepat terhadap apa yang dianggapnya ccocok dengan tujuan tertentu yang bisa diambil faedahnya dan dicampakkan kemungkarannya, baik secara materi maupun immateri. Oleh karena itu kemudian syariat mengkhususkan sesuai dengan kemauan yang menuju kepada timbulnya suatu perbuatan demi mencapai keridhaan Allah subhanahu wata’ala sebagai manifestasi ketaatan terhadap segala hokum-Nya.
[Nailul Authar 1/107 (1/292)].
4. Imam Nawawi dalam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الوضوء له فروض وسنن فالفروض ستة الأول النية وهي فرض في طهارات الأحداث ولا تجب في إزالة النجاسة على الصحيح لا يصح وضوء كافر أصلي ولا غسله على الصحيح ويصحان على وجه ويصح الغسل دون الوضوء على وجه فيصلي به إذا أسلم
Niat hukumnya wajib dalam bersuci dari berbagai macam hadats. Akan tetapi menurut pendapat yang sahih tidak wajib dalam membersihkan najis. Wudhu orang kafir tidak sah. Demikian juga dengan mandinya menurut pendapat yang sahih. Akan tetapi keduanya sah menurut satu pendapat. Sah hukumnya mandi tanpa berwudhu menurut satu pendapat menurut pengikut madzhab Syafi’i, dan dia dapat melaksanakan shalat apabila telah masuk islam.
[Raudhatuth Thalibin 1/311 (1/190)].
Dalam terjemah kitab Raudhatuth Thalibin ada penjelasan sebagai berikut :
Niat adalah tujuan dari perbuatan. Tidak ada yang mengetahui niat kecuali Allah, dan ini merupakan syarat dalam melaksanakan semua ibadah. Niat inilah yang membedakan antara ibdah dan pekerjaan biasa. Adapun tempatnya adalah di dalam hati.
Apakah diperbolehkan mengucapkan dan melafadzkan niat dalam melaksanakan ibadah?
5. Syeikh Al-Utsaimin berkata :
Menurut pendapat yang sahih, tidak diucapkan, dan bahwa beribadah kepada Allah dengan mengucapkan niat adalah bid’ah yang dilarang. Adapun dalilnya, bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak mengucapkan niat. Kalau itu disyariatkan niscaya beliau akan menjelaskannya dengan perbuatan dan perkataannya.
Mengucapkan niat adalah bid’ah baik dalam melaksanakan shalat, menunaikan zakat, maupun dalam berpuasa.
Sedangkan dalam melaksanakan ibadah haji tidak pernah Nabi mengatakan, ”Saya berniat melaksanakan ibadah haji, atau saya berniat melaksanakan ibadah atas fulan, melainkan beliau mengucapkan talbiyah dan dari sinilah tampak niat itu. Niat tentunya dilakukan sebelum mengucapkan talbiyah. Tidak ada tuntnan yang mengharuskan mengucapkan niat, karena Allah Subhanahu wata’ala mengetahui hal itu. (Asy-Syarh Al-Munti 1/158-159)
[Raudhatuth Thalibin 1/190].
Kesimpulan :
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Niat merupakan syarat wajib Wudhu.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Niat Wudhu tidak disyariatkan untuk dilafalkan (diucapkan)
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
*Slawi, Maret 2011
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang masalah Niat Wudhu. Ada yang berpendapat diwajibkan, ada yang berpendapat tidak diwajibkan. Ulama yang berpendapat bahwa Niat Wudhu itu diwajibkan, berbeda pendapat apakah Niat Wudhu itu dilafalkan atau tidak dilafalkan.
Berikut pendapat para ulama tentang Niat Wudhu beserta dalil masing-masing.
1. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
الفرض الأول : النية, وحقيقتها الإرادة المتوجهة نحوالفعل, ابتغاء رضاالله تعالى وامتثال حكمه, وهي عمل قلبى محض لادخل للسان فيه, والنلفظ بها غير مشروع, ودليل فرضيتها حديث عمر رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم
"إنما الأعمال بالنيات"
Fardhu wudhu yang pertama adalah niat. Maksudnya ialah kemauan yang tertuju untuk melakukan suatu perbuatan demi mengharap keridhaan Allah dan mematuhi pertaurannya. Ia merupakan perbuatan hati semata, yang tidak ada sangkut pautnya dengan lisan. Sementara pengucapan niat secara lisan tidak dianjurkan hukum syara’. Dalil wajib niat adalah hadits Umar RA, Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
”Sah tergantung suatu amal itu tergantung niatnya”
(HR. Bukhari dan Muslim)
[Fiqih Sunnah 1/29 (1/49)].
2. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اختلف علماء الأمصار هل النية شرط في صحة الوضوء أم لا بعد اتفاقهم على اشتراط النية في العبادات لقوله تعالى {وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} ولقوله صلى الله عليه وسلم "إنما الأعمال بالنيات" الحديث المشهور.
Dalam hal ini para ulama Amshar (ulama yang tersebar di kota Baghdad, Damaskus, Hijaz, Cordova, dan lain-lain) berbeda pendapat mengenai niat itu termasuk syarat sah wudhu atau tidak, setelah mereka menentukan bahwa niat adalah syarat untuk melakukan ibadah, seperti tersebut dalam firman Allah Ta’ala :
”Dan kalian tidak diperintahkan apapun kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas kepadaNya karena agama”
(QS. Al-Bayyinah : 5)
Hadits masyhur menyebutkan :
”Sah tergantung suatu amal itu tergantung niatnya”
(HR. Bukhari dan Muslim)
فذهب فريق منهم إلى أنها شرط، وهو مذهب الشافعي ومالك وأحمد وأبي ثور وداود. وذهب فريق آخر إلى أنها ليست بشرط، وهو مذهب أبي حنيفة والثوري. وسبب اختلافهم تردد الوضوء بين أن يكون عبادة محضة: أعني غير معقولة المعنى، وإنما يقصد بها القربة فقط كالصلاة وغيرها، وبين أن يكون عبادة معقولة المعنى كغسل النجاسة،
Mazhab Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Dawud berpendapat bahwa niat itu adalah syarat. Lain dengan mazhab Abu Hanifah dan Tsauri. Mereka berpendapat bahwa niat itu tidak termasuk syarat. Sebab perselidihan mereka berpangkal dari ketidak jelasan keberadaan wudhu sebagai ibadah mahdhah (tidak dirasionalkan) yang hanya bermaksud untuk taqarrub kepada Allah, seperti shalat dan lainnya, dan wudhu sebagai ibadah yang bisa dirasionalkan, seperti menghilangkan najis yang berfungsi sebagai kebersihan.
فإنهم لا يختلفون أن العبادة المحضة مفتقرة إلى النية، والعبادة المفهومة المعنى غير مفتقرة إلى النية، والوضوء فيه شبه من العبادتين، ولذلك وقع الخلاف فيه، وذلك أنه يجمع عبادة ونظافة،
Para ulama sepakat bahwa ibadah mahdhah itu harus disertai dengan niat. Sedang ibadah yang ghaira maghdah (dapat dirasionalkan) itu tidak perlu niat. Dalam hal ini wudhu berada diantara kedua ibadah tersebut. Oleh sebeb itu terjadilah perbedaan pendapat, karena wudhu dapat dikatagorikan mengandung aspek ibadah mahdhah dan kebersihan juga
[Bidayatul Mujtahid 1/7 (1/8)]
3. Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
قال الحافظ: وقد اتفق العلماء على أن النية شرط في المقاصد واختلفوا في الوسائل ومن ثم خالفت الحنفية في اشتراطها للوضوء.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata bahwa para ulama telah sepakat bahwa niat itu merupakan syarat untuk menuju suatu tujuan, tetapi mereka berbeda pendapat tentang sarananya. Para pengikut Imam Hanafi menentang pernyataan itu, khususnya tentang niat di dalam berwudhu.
قال النووي: والنية القصد وهو عزيمة القلب وتعقبه الكرماني بأن عزيمة القلب قدر زائد على أصل القصد.
An-Nawawi berpendapat bahwa kata-kata niyat berarti kemauan, yakni suatu kemauan atau kehendak hati yang didahului oleh ’al-karummi’ yakni kemurahan hati yang menunjukkan bahwa kehendak hati tadi merupakan kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan.
وقال البيضاوي: النية عبارة عن انبعاث القلب نحو ما يراه موافقًا لغرض من جلب نفع أو دفع ضرر حالًا ومآلًا والشرع خصصه بالإرادة المتوجهة نحو الفعل لابتغاء رضاء اللَّه وامتثال حكمه.
Sedangkan Al-Badhawi berkata, bahwa niat itu merupakan jelmaan atas ketulusan hati yang cepat terhadap apa yang dianggapnya ccocok dengan tujuan tertentu yang bisa diambil faedahnya dan dicampakkan kemungkarannya, baik secara materi maupun immateri. Oleh karena itu kemudian syariat mengkhususkan sesuai dengan kemauan yang menuju kepada timbulnya suatu perbuatan demi mencapai keridhaan Allah subhanahu wata’ala sebagai manifestasi ketaatan terhadap segala hokum-Nya.
[Nailul Authar 1/107 (1/292)].
4. Imam Nawawi dalam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
الوضوء له فروض وسنن فالفروض ستة الأول النية وهي فرض في طهارات الأحداث ولا تجب في إزالة النجاسة على الصحيح لا يصح وضوء كافر أصلي ولا غسله على الصحيح ويصحان على وجه ويصح الغسل دون الوضوء على وجه فيصلي به إذا أسلم
Niat hukumnya wajib dalam bersuci dari berbagai macam hadats. Akan tetapi menurut pendapat yang sahih tidak wajib dalam membersihkan najis. Wudhu orang kafir tidak sah. Demikian juga dengan mandinya menurut pendapat yang sahih. Akan tetapi keduanya sah menurut satu pendapat. Sah hukumnya mandi tanpa berwudhu menurut satu pendapat menurut pengikut madzhab Syafi’i, dan dia dapat melaksanakan shalat apabila telah masuk islam.
[Raudhatuth Thalibin 1/311 (1/190)].
Dalam terjemah kitab Raudhatuth Thalibin ada penjelasan sebagai berikut :
Niat adalah tujuan dari perbuatan. Tidak ada yang mengetahui niat kecuali Allah, dan ini merupakan syarat dalam melaksanakan semua ibadah. Niat inilah yang membedakan antara ibdah dan pekerjaan biasa. Adapun tempatnya adalah di dalam hati.
Apakah diperbolehkan mengucapkan dan melafadzkan niat dalam melaksanakan ibadah?
5. Syeikh Al-Utsaimin berkata :
Menurut pendapat yang sahih, tidak diucapkan, dan bahwa beribadah kepada Allah dengan mengucapkan niat adalah bid’ah yang dilarang. Adapun dalilnya, bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak mengucapkan niat. Kalau itu disyariatkan niscaya beliau akan menjelaskannya dengan perbuatan dan perkataannya.
Mengucapkan niat adalah bid’ah baik dalam melaksanakan shalat, menunaikan zakat, maupun dalam berpuasa.
Sedangkan dalam melaksanakan ibadah haji tidak pernah Nabi mengatakan, ”Saya berniat melaksanakan ibadah haji, atau saya berniat melaksanakan ibadah atas fulan, melainkan beliau mengucapkan talbiyah dan dari sinilah tampak niat itu. Niat tentunya dilakukan sebelum mengucapkan talbiyah. Tidak ada tuntnan yang mengharuskan mengucapkan niat, karena Allah Subhanahu wata’ala mengetahui hal itu. (Asy-Syarh Al-Munti 1/158-159)
[Raudhatuth Thalibin 1/190].
Kesimpulan :
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Niat merupakan syarat wajib Wudhu.
2. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Niat Wudhu tidak disyariatkan untuk dilafalkan (diucapkan)
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
*Slawi, Maret 2011
Rabu, 02 Maret 2011
SHALAT TAHIYATUL MASJID
SHALAT TAHIYATUL MASJID
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Mayoritas ulama berpendapat, disunnahkan untuk shalat Tahiyatul Masjid setiap kali kita memasuki masjid.
Hadits-hadits Tentang shalat Tahiyatul Masjid.
Dari Qatadah, ia berkata,
عن أبي قتادة قال: (قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم: إذا دخل أحدكم المسجدَ فلا يجلس حتى يصلي ركعتين).
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka hendaklah ia tidak langsung duduk sebelum melaksanakan shalat dua rekaat” (HR. Jamaah)
والأثرم في سننه. ولفظه: (أعطوا المساجد حقها قالوا: وما حقها قال: أن تصلوا ركعتين قبل أن تجلسوا).
Al-Atsram juga meriwayatkan di dalam Sunannya. Adapun lafadznya : ”Berikanlah masjid-masjid itu haknya,” Para sahabat bertanya, ”Apa haknya?”. Beliau menjawab, ”Kalian shalat dua rekaat sebelum duduk”
Pendapat para Ulama tentang shalat Tahiyatul Masjid.
1. Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
والحديث يدل على مشروعية التحية في جميع الأوقات وإلى ذلك ذهب جماعة من العلماء منهم الشافعية وكرهها أبو حنيفة والأوزاعي والليث في وقت النهي
Hadits ini menunjukkan dianjurkannya shalat sunnah tahiyyatul masjid di semua waktu. Demikian pendapat segolongan ulama, termasuk diantaranya golongan Syafi’i. Namun Abu Hanifah, Al-Auza’I dan Al-Laits memakruhkannya pada waktu yang terlarang.
[Nailul Author 3/60 (1/665)]
2. Imam Nawawi salam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
ومنه تحية المسجد بركعتين ولو صلى الداخل فريضة أو وردا أو سنة ونوى التحية معها حصلا جميعا وكذا إن لم ينوها ويجوز أن يطرد فيه الخلاف المذكور فيمن نوى غسل الجنابة هل يحصل له الجمعة والعيد إذا لم ينوهما
Diantara shalat sunnah yang tidak disunahkan berjamaah adalah shalat dua rekaat Tahiyatul Masjid. Jika seseorang masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, atau melaksanakan shalau sunnah lainnya dan dia berniat dengan Tahiyatul Masjid sekaligus, maka berhasil penggabungan niatnya. Begitu juga jika dia tidak meniatkan untuk shalat Tahiyatul Masjid.
Dan boleh juga perbedaan ini dihubungkan pada orang yang berniat untuk mandi janabah. Apakah berhasil menggabungkan mandi janabah dengan mandi hari jumat atau hari raya, jika tidak digabungkan niatnya?
ولو صلى الداخل على جنازة أو سجد لتلاوة أو شكر أو صلى ركعة واحدة لم يحصل التحية على الصحيح قلت ومن تكرر دخوله المسجد في الساعة الواحدة مرارا قال المحاملي في كتابه اللباب أرجو أن يجزئه التحية مرة
وقال صاحب التتمة لو تكرر دخوله يستحب التحية كل مرة وهو الأصح
Jika seseorang melakukan shalat jenazah atau sujud tilawah atau sujud syukur atau dia shalat satu rekaat, maka menurut pendapat yang shahih, shalat Tahiyatul Masjidnya tidak berhasil (belum dikerjakan).
Saya katakan, ”Jika seseorang memasuki masjid pada satu waktu itu berulang-ulang, menurut Al-Mahamali dalam kitab Al-Lubab, dia mengatakannya bahwa cukup dengan shalat Tahiyatul Masjid sekali saja. Penulis At-Tatimah berpendapat jika seseorang itu memasuki masjid dengan berulang kali, maka disunnahkan untuk melaksanakan shalat Tahiyatul Masjidnya dengan berulang-ulang pula. Inilah pendapat yang lebih sahih.
قال المحاملي وتكره التحية في حالين أحدهما إذا دخل والإمام في المكتوبة والثاني إذا دخل المسجد الحرام فلا يشتغل بها عن الطواف
Menurut Al-Mahamili, dimakruhkan untuk melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid pada dua keadaan, yaitu :
1. Jika dia masuk masjid dan imam sedang melaksanakan shalat berjamaah.
2. Jika dia masuk Masjidil Haram, maka dia disunnahkan untuk mengerjakan Thawaf.
وذكر الامام أبو الفضل بن عبدان في كتابه المصنف في العبادات أنه لو نسي التحية وجلس فذكر بعد ساعة صلاها وهذا غريب وفي صحيح البخاري و مسلم ما يؤيده في حديث الداخل يوم الجمعة والله أعلم
Imam Al-Fadhal bin Abdan, dalam Al-Mushannaf mengatakan tentang permasalahan ibadah, “Jika seseorang lupa melaksanakan Tahiyatul Masjid dan dia duduk, beberapa saat kemudian dia teringat, maka dia disunnahkan untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid tersebut. Pendapat ini gharib (aneh). Dan pernyataan ini didukung oleh kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang orang yang masuk kedalam masjid pada hari jumat. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/311 (1/675)]
3. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata,
واختلف العلماء من هذا الباب فيمن جاء بالمسجد وقد ركع ركعتي الفجر في بيته، هل يركع عند دخوله المسجد أم لا؟ فقال الشافعي: يركع، وهي رواية أشهب عن مالك؛ وقال أبو حنيفة: لا يركع، وهي رواية ابن القاسم عن مالك.
Terdapat perbedaan pendapat tentang orang yang memasuki masjid sesudah salat subuh di rumah. Menurut Syafi’i tetap disunatkan shalat Tahiyatul Masjid. Ini berdasarkan riwayat Ibnu Syihab dari Malik.
Menurut Abu Hanifah, tidak boleh ada shalat Tahiyatul Masjid. Ini berdasarkan riwayat Ibnul Qasim dari Malik.
وسبب اختلافهم معارضة عموم قوله عليه الصلاة والسلام "إذا جاء أحدكم المسجد فليركع ركعتين" وقوله عليه الصلاة والسلام "لا صلاة بعد الفجر إلا ركعتي الصبح" فههنا عمومان وخصوصان: أحدهما في الزمان، والآخر في الصلاة،
Perbedaan ini disebabkan karena ada dua hadits yang bias dipahami secara umum, bisa pula secara khusus.
Pertama,
“Apabila seseorang memasuki masjid, shalatlah dua rekaat,” (HR. Ibnu Majah dan Malik)
Kedua,
“Tidak ada shalat sunat sesudah fajar kecuali dua rekaat shubuh” (HR. Bukhari dan Nasai).
Hadits pertama waktunya umum tanpa batas, sedangkan shalatnya khusus.
Hadits kedua waktunya khusus, namun shalatnya umum.
وذلك أن حديث الأمر بالصلاة عند دخول المسجد عام في الزمان خاص في الصلاة، والنهي عن الصلاة بعد الفجر إلا ركعتا الصبح خاص في الزمان عام في الصلاة، فمن استثنى خاص الصلاة من عامها رأى الركوع بعد ركعتي الفجر، ومن استثنى خاص الزمان من عامه لم يوجب ذلك
Maka selanjutnya, kalau larangan shalat pada hadits kedua tersebut tidak berlaku apabila seseorang memasuki masjid, maka tetap disunnahkan tahiyatul masjid walaupun telah melakukan shalat shubuh.
Kalau larangan pada hadits kedua itu tanpa pengecualian, maka perintah pada hadits yang pertama tidak berlaku, yakni tidak disunnatkan shalat Tahiyatul Masjid bagi orang yang memasuki masjid di dalam waktu shubuh namun telah melakukan shalat shubuh.
[Bidayatul Mujtahid 1/463)]
4, Zaenudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
ويسن لمن لم يتمكن منها ولو بحدث أن يقول: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم، أربعا.
وتكره لخطيب دخل وقت الخطبة، ولمريد طواف دخل المسجد، لا لمدرس، خلافا لبعضهم
Orang yang tidak sempat mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid walaupun disebabkan hadats, disunatkan membaca, “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaluhur lagi Mahaagung” sebanyak empat kali.
Makruh shalat Tahiyatul Masjid bagi khatib yang memasuki masjid sesudah tiba waktu khutbah dan bagi orang yang bermaksud thawaf ketika memasuki Masjidil Haram. Namun tidak makruh bagi guru yang akan memberikan pelajaran di masjid (sesudah tiba waktu mengajat), berbeda dengan paham sebagian ulama yang memakruhkannya.
[Fathul Mu’in 1/338 (
Kesimpulan
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Shalat Tahiyatul Masjid hukumnya sunnah.
2. Shalat Tahiyatul Masjid bisa dilaksanakan bersamaan dengan shalat sunnah rawatib, dan shalat-shalat sunnah lainnya.
3. Shalat Tahiyatul Masjid dilaksanakan setiap saat, setiap kali memasuki masjid kecuali sehabis shalat Shubuh dan shalat Ashar.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
*Slawi, Maret 2011
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Mayoritas ulama berpendapat, disunnahkan untuk shalat Tahiyatul Masjid setiap kali kita memasuki masjid.
Hadits-hadits Tentang shalat Tahiyatul Masjid.
Dari Qatadah, ia berkata,
عن أبي قتادة قال: (قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم: إذا دخل أحدكم المسجدَ فلا يجلس حتى يصلي ركعتين).
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka hendaklah ia tidak langsung duduk sebelum melaksanakan shalat dua rekaat” (HR. Jamaah)
والأثرم في سننه. ولفظه: (أعطوا المساجد حقها قالوا: وما حقها قال: أن تصلوا ركعتين قبل أن تجلسوا).
Al-Atsram juga meriwayatkan di dalam Sunannya. Adapun lafadznya : ”Berikanlah masjid-masjid itu haknya,” Para sahabat bertanya, ”Apa haknya?”. Beliau menjawab, ”Kalian shalat dua rekaat sebelum duduk”
Pendapat para Ulama tentang shalat Tahiyatul Masjid.
1. Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
والحديث يدل على مشروعية التحية في جميع الأوقات وإلى ذلك ذهب جماعة من العلماء منهم الشافعية وكرهها أبو حنيفة والأوزاعي والليث في وقت النهي
Hadits ini menunjukkan dianjurkannya shalat sunnah tahiyyatul masjid di semua waktu. Demikian pendapat segolongan ulama, termasuk diantaranya golongan Syafi’i. Namun Abu Hanifah, Al-Auza’I dan Al-Laits memakruhkannya pada waktu yang terlarang.
[Nailul Author 3/60 (1/665)]
2. Imam Nawawi salam kitab Raudhatuth Thalibin berkata :
ومنه تحية المسجد بركعتين ولو صلى الداخل فريضة أو وردا أو سنة ونوى التحية معها حصلا جميعا وكذا إن لم ينوها ويجوز أن يطرد فيه الخلاف المذكور فيمن نوى غسل الجنابة هل يحصل له الجمعة والعيد إذا لم ينوهما
Diantara shalat sunnah yang tidak disunahkan berjamaah adalah shalat dua rekaat Tahiyatul Masjid. Jika seseorang masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, atau melaksanakan shalau sunnah lainnya dan dia berniat dengan Tahiyatul Masjid sekaligus, maka berhasil penggabungan niatnya. Begitu juga jika dia tidak meniatkan untuk shalat Tahiyatul Masjid.
Dan boleh juga perbedaan ini dihubungkan pada orang yang berniat untuk mandi janabah. Apakah berhasil menggabungkan mandi janabah dengan mandi hari jumat atau hari raya, jika tidak digabungkan niatnya?
ولو صلى الداخل على جنازة أو سجد لتلاوة أو شكر أو صلى ركعة واحدة لم يحصل التحية على الصحيح قلت ومن تكرر دخوله المسجد في الساعة الواحدة مرارا قال المحاملي في كتابه اللباب أرجو أن يجزئه التحية مرة
وقال صاحب التتمة لو تكرر دخوله يستحب التحية كل مرة وهو الأصح
Jika seseorang melakukan shalat jenazah atau sujud tilawah atau sujud syukur atau dia shalat satu rekaat, maka menurut pendapat yang shahih, shalat Tahiyatul Masjidnya tidak berhasil (belum dikerjakan).
Saya katakan, ”Jika seseorang memasuki masjid pada satu waktu itu berulang-ulang, menurut Al-Mahamali dalam kitab Al-Lubab, dia mengatakannya bahwa cukup dengan shalat Tahiyatul Masjid sekali saja. Penulis At-Tatimah berpendapat jika seseorang itu memasuki masjid dengan berulang kali, maka disunnahkan untuk melaksanakan shalat Tahiyatul Masjidnya dengan berulang-ulang pula. Inilah pendapat yang lebih sahih.
قال المحاملي وتكره التحية في حالين أحدهما إذا دخل والإمام في المكتوبة والثاني إذا دخل المسجد الحرام فلا يشتغل بها عن الطواف
Menurut Al-Mahamili, dimakruhkan untuk melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid pada dua keadaan, yaitu :
1. Jika dia masuk masjid dan imam sedang melaksanakan shalat berjamaah.
2. Jika dia masuk Masjidil Haram, maka dia disunnahkan untuk mengerjakan Thawaf.
وذكر الامام أبو الفضل بن عبدان في كتابه المصنف في العبادات أنه لو نسي التحية وجلس فذكر بعد ساعة صلاها وهذا غريب وفي صحيح البخاري و مسلم ما يؤيده في حديث الداخل يوم الجمعة والله أعلم
Imam Al-Fadhal bin Abdan, dalam Al-Mushannaf mengatakan tentang permasalahan ibadah, “Jika seseorang lupa melaksanakan Tahiyatul Masjid dan dia duduk, beberapa saat kemudian dia teringat, maka dia disunnahkan untuk mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid tersebut. Pendapat ini gharib (aneh). Dan pernyataan ini didukung oleh kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang orang yang masuk kedalam masjid pada hari jumat. Wallahu a’lam.
[Raudhatuth Thalibin 1/311 (1/675)]
3. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata,
واختلف العلماء من هذا الباب فيمن جاء بالمسجد وقد ركع ركعتي الفجر في بيته، هل يركع عند دخوله المسجد أم لا؟ فقال الشافعي: يركع، وهي رواية أشهب عن مالك؛ وقال أبو حنيفة: لا يركع، وهي رواية ابن القاسم عن مالك.
Terdapat perbedaan pendapat tentang orang yang memasuki masjid sesudah salat subuh di rumah. Menurut Syafi’i tetap disunatkan shalat Tahiyatul Masjid. Ini berdasarkan riwayat Ibnu Syihab dari Malik.
Menurut Abu Hanifah, tidak boleh ada shalat Tahiyatul Masjid. Ini berdasarkan riwayat Ibnul Qasim dari Malik.
وسبب اختلافهم معارضة عموم قوله عليه الصلاة والسلام "إذا جاء أحدكم المسجد فليركع ركعتين" وقوله عليه الصلاة والسلام "لا صلاة بعد الفجر إلا ركعتي الصبح" فههنا عمومان وخصوصان: أحدهما في الزمان، والآخر في الصلاة،
Perbedaan ini disebabkan karena ada dua hadits yang bias dipahami secara umum, bisa pula secara khusus.
Pertama,
“Apabila seseorang memasuki masjid, shalatlah dua rekaat,” (HR. Ibnu Majah dan Malik)
Kedua,
“Tidak ada shalat sunat sesudah fajar kecuali dua rekaat shubuh” (HR. Bukhari dan Nasai).
Hadits pertama waktunya umum tanpa batas, sedangkan shalatnya khusus.
Hadits kedua waktunya khusus, namun shalatnya umum.
وذلك أن حديث الأمر بالصلاة عند دخول المسجد عام في الزمان خاص في الصلاة، والنهي عن الصلاة بعد الفجر إلا ركعتا الصبح خاص في الزمان عام في الصلاة، فمن استثنى خاص الصلاة من عامها رأى الركوع بعد ركعتي الفجر، ومن استثنى خاص الزمان من عامه لم يوجب ذلك
Maka selanjutnya, kalau larangan shalat pada hadits kedua tersebut tidak berlaku apabila seseorang memasuki masjid, maka tetap disunnahkan tahiyatul masjid walaupun telah melakukan shalat shubuh.
Kalau larangan pada hadits kedua itu tanpa pengecualian, maka perintah pada hadits yang pertama tidak berlaku, yakni tidak disunnatkan shalat Tahiyatul Masjid bagi orang yang memasuki masjid di dalam waktu shubuh namun telah melakukan shalat shubuh.
[Bidayatul Mujtahid 1/463)]
4, Zaenudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
ويسن لمن لم يتمكن منها ولو بحدث أن يقول: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم، أربعا.
وتكره لخطيب دخل وقت الخطبة، ولمريد طواف دخل المسجد، لا لمدرس، خلافا لبعضهم
Orang yang tidak sempat mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid walaupun disebabkan hadats, disunatkan membaca, “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaluhur lagi Mahaagung” sebanyak empat kali.
Makruh shalat Tahiyatul Masjid bagi khatib yang memasuki masjid sesudah tiba waktu khutbah dan bagi orang yang bermaksud thawaf ketika memasuki Masjidil Haram. Namun tidak makruh bagi guru yang akan memberikan pelajaran di masjid (sesudah tiba waktu mengajat), berbeda dengan paham sebagian ulama yang memakruhkannya.
[Fathul Mu’in 1/338 (
Kesimpulan
1. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Shalat Tahiyatul Masjid hukumnya sunnah.
2. Shalat Tahiyatul Masjid bisa dilaksanakan bersamaan dengan shalat sunnah rawatib, dan shalat-shalat sunnah lainnya.
3. Shalat Tahiyatul Masjid dilaksanakan setiap saat, setiap kali memasuki masjid kecuali sehabis shalat Shubuh dan shalat Ashar.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
*Slawi, Maret 2011
Selasa, 01 Maret 2011
SHALAT ISTIKHARAH
SHALAT ISTIKHARAH
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Pengertian Shalat Istikharah
Istikharah secara bahasa artinya mengharapkan pilihan terhadap suatu perkara. Seperti ungkapan: ‘khaarallahu laka’ (Semoga Allah memilihkan untukmu), maksudnya semoga Allah memberimu apa yang terbaik untukmu. Dan seperti ungkapan: ‘istakhaarallah’, artinya memohon pilihan dari Allah. Adapun kata ikhtiar maksudnya sama dengan ishthifa’ (pilihan). Begitu juga makna kata takhayyur. Sebagaimana juga dalam ungkapan: ‘itkhirillaha yukhri laka’ (Mintalah pilihan kepada Allah, pasti Dia akan memilihkan untukmu). [Lihat Lisanul Arab (4/259), materi Kha-ya ra]
Sedangkan menurut istilah syar’i artinya mengharapkan pilihan. Maksudnya memohon agar dipalingkan perhatiannya kepada apa yang terpilih di sisi Allah dan yang lebih utama, melalui shalat atau doa yang berkaitan dengan istikharah. [Lihat Al Mausu’atul Kuwaitiyah (3/241).]
[fadhlihsan.wordpress.com]
Manfaat
Shalat istikharah sangat penting untuk dilakukan karena pilihan manusia acapkali bersifat subjektif dan terkadang tak terlepas dari dorongan nafsu. Dapat dipahami jika manusia kadang membenci sesuatu yang baik dan sebaliknya mencintai sesuatu yang buruk. Dalam hal ini, al-Qur an mensitirnya dalam surat Al-Baqarah ayat 216:
وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetauhi, sedangkan kamu tidak mengetauhi”.
Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi mengutip perkataan Al-Hasan tentang pengertian ayat ini :
لا تكرهوا الملمات الواقعة، فلرب أمر تكرهه فيه نجاتك، ولرب أم تحبه فيه عطبك، وأنشد
Janganlah kalian membenci penderitaan yang terjadi, sebab berapa banyak perkara yang engkau benci, namun disitulah keselamatanmu. Berapa banyak perkara yang engkau sukai, namun justru disitulah kehancuranmu”
[Tafsir Al-Qurthubi 3, hal. 91].
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لِيَسْتَلْ اَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَتَّى فىِ شَسَعِ نَعْلِهِ
“Hendaklah salah seorang di antara kamu meminta kepada TuhanNya, sampaipun dalam persoalan tali terompahnya”
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan :
وروينا في كتاب ابن السني، عن أنس رضي اللّه عنه قال: قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: "يا أنَسُ، إذَا هَمَمْتَ بِأمْرٍ فاسْتَخِرْ رَبَّكَ فيهِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْظُرْ إلى الَّذي سَبَقَ إلى قَلْبِكَ، فإنَّ الخَيْرَ فِيهِ"
ثم إن الاستخارة مستحبّة في جميع الأمور كما صرَّح به نصُّ هذا الحديث الصحيح، وإذا استخار مضى بعدها لما ينشرحُ له صدره. واللّه أعلم
Diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni, dari Anas RA, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepadanya,
“Hai Anas, jika engkau ingin melakukan sesuatu, maka mintalah pilihan kepada tuhannu tujuh kali, kemudian koreksilah kedalam hatimu, mana yang lebih mantap, karena sesungguhnya kebaikan terdapat di situ”
Perlu diketahu bahwa istikharoh itu dianjurkan dalam segala urusan, sebagaimana dijelaskan oleh nash dan hadits yang sahih itu. Apabila selesai beristikharah, iapun melakukan apa yang melapangkan dadanya.
[Al-Adzkar , hal. 206]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan : “Shalat istikharah ini mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Berapa banyak masalah kecil menjadi sumber masalah besar”
[Fathul Bari 11, 184].
Waktu Pelaksanaan
Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
يسن الاستخارة لمن أراد أمرا من الأمور المباحة, والتبس عليه وجه الخير فيه أن يصلى ركعتين من غير الفريضة ولو كانت من السنن الراتبة أوتحية المسجد فى أى وقت من الليل أو النهار
Seseorang yang menghadapi sesuatu permasalahan yang bersifat mubah sedangkan ia sendiri ragu-ragu untuk melaksanakan perkara yang terbaik, ia disunnahkan mengerjakan shalat sunnah istikharah, tetapi hukumnya tidaklah wajib.
Shalat Istikharah boleh dilakukan ketika mengerjakan shalat sunnah rawatib atau tahiyatul masjid, atau boleh pula dilakukan pada waktu malam atau siang.
[Fikih Sunnah 1, hal. 304].
Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata :
قال العلماء: تستحبّ الاستخارة بالصلاة والدعاء المذكور، وتكون الصلاة ركعتين من النافلة، والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب، وبتحية المسجد وغيرها من النوافل؛
Para ulama berkata : Dianjurkan istikharah dengan shalat dan doa tersebut. Shalat itu berjumlah dua rekaat sebagai shalat nafilah. Yang jelas, ia bisa dilakukan dengan dua rekaat sunnah rawatib atau takhiyatul masjid atau shalat sunnah lainnya.
[Al-Adzkar , hal. 206]
Dalam kitabnya yang lain Raudhatuth Thalibin, Imam Nawawi berkata :
ومنه تحية المسجد بركعتين ولو صلى الداخل فريضة أو وردا أو سنة ونوى التحية معها حصلا جميعا وكذا إن لم ينوها ويجوز أن يطرد
Diantara shalat sunnah yang tidak disunahkan berjamaah adalah shalat dua rekaat Tahiyatul Masjid. Jika seseorang masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, atau melaksanakan shalau sunnah lainnya dan dia berniat dengan Tahiyatul Masjid sekaligus, maka berhasil penggabungan niatnya. Begitu juga jika dia tidak meniatkan untuk shalat Tahiyatul Masjid.
[Raudhatuth Thalibin 1, hal. 675]
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mengutip pendapat Al-Iraqi sebagai berikut :
إن كان همه بالأمر قبل وقوع الشروع في الراتبة ونحوها ثم صلى من غير نية الاستخارة وبدا له بعد الصلاة الإتيان بدعاء الاستخارة فالظاهر حصول ذلك
Jika seseorang berniat mengerjakan shalat rawatib atau semisalnya, lalu dia mengerjakan shalat dengan tidak berniat untuk istikharah, kemudian setelah shalat muncul keinginan untuk memanjatkan do’a istikharah, maka secara lahir hal itu sudah mencukupi.
[Nailul Author 3/66 (2/11)]
Ibnu Hajar Al-Asqalani menolak pendapat tersebut dan mengatakan : “Dapat dikatakan jika dia berniat mengerjakan shalat tersebut dan shalat istikharah secara bersamaan, maka hal tersebut dibolehkan.
[Fathul Bari 11, hall. 185]
Surat Yang Dibaca
Sayyid Sabbiq berpendapat bacaan surah setelah membaca surah Al-Fatihah adalah bebas dari ayat-ayat Al-Quran yang disukainya.
Imam Nawawi berkata :
ويقرأ في الأولى بعد الفاتحة: قل يا أيّها الكافرون، وفي الثانية: قل هو اللّه أحد؛ ولو تعذرت عليه الصلاة استخار بالدعاء.
Dalam rekaat pertama sesudah surah Al-Fatihah, dibaca surat Al-Kafirun. Dalam rekaat kedua membaca surat Al-Ikhlas. Andaikata berhalangan melakukan shalat, maka istikharah dilakukan dengan berdoa.
[Al-Adzkar , hal. 206; Ihya Ulumiddin 1, hal. 680]
Do’a Shalat Istikharah
Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Quran. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunnah (Istikharah) dua rakaat, kemudian bacalah doa ini:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ ... خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini ……. lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku atau di dunia atau akhirat sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.” [HR. Al-Bukhari 7/162]
Imam Nawawi berkata :
ويستحبّ افتتاح الدعاء المذكور وختمه بالحمد للّه والصلاة والتسليم على رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؛
Dianjurkan memulai doa tersebut dan mengakhirinya dengan ucapan Alhamdulillah dan shalawat serta taslim kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.
[Al-Adzkar , hal. 206].
Tindak lanjut
Setelah melakukan shalat istikharah dianjurkan untuk bertanya atau bermusyawarah dengan orang-orang yang kita anggap berilmu. Allah Ta’ala berfirman:
وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين
“… dan bermusyawarahlah kepada mereka (para sahabat) dalam urusan itu (peperangan, perekonomian, politik dan lain-lain). Bila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah…” (Ali Imran, 3: 159)
Imam Al-Qurthubi mengutip perkatan Al-Bukhari sebagai berikut :
وكانت الأئمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم يستشيرون الأمناء من أهل العلم في الأمور المباحة ليأخذوا بأسهلها
Para imam setelah Rasulullah selalu bermusyawarah dengan orang-orang terpercaya dari kalangan ulama tentang perkara-perkara yang dibolehkan, agar mereka dapat mengambil yang paling mudah,”
[Tafsir Al-Qurthubi 4, hal. 627].
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin berkata : Sebagian ulama berkata : “Barangsiapa memberikan 4 hal maka ia tidak terhalang dari 4 hal. Barangsiapa memberikan syukur maka ia tidak terhalang dari tambahan. Barangsiapa memberikan taubat maka ia tidak terhalang dari diterima. Barangsiapa yang memberikan istikharah maka ia tidak terhalang dari yang terpilih. Dan barang siapa yang memberikan musyawarah maka ia tidak terhalang dari kebenaran.
[Ihya Ulumiddin 1, hal. 680].
Kesimpulan
1. Shalat Istikharah adalah shalat sunnah yang dikerjakan untuk memohon petunjuk Allah untuk melakukan sesuatu yang bersifat mubah.
2. Shalat Istikharah bisa dikerjakan bersamaan shalat sunnah rawatib, shalat tahiyatul masjid, dan shalat-shalat sunnah lainnya.
3. Setelah shalat istiharah dianjurkan untuk bermusyawarah dengan orang-orang yang mengerti tentang permasalahan kita.
4. Petunjuk yang didapat dari shalat istikharah adalah kemantapan hati untuk melaksanakan satau tidak melaksanakan sesuatu.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Al-Adzkar, Darul Ihya’ Indonesia, 2008
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang
-Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Yakarta, 2007.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, Pustaka Azzam, 2002
-[fadhlihsan.wordpress.com]
*Slawi, Februari 2011
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Pengertian Shalat Istikharah
Istikharah secara bahasa artinya mengharapkan pilihan terhadap suatu perkara. Seperti ungkapan: ‘khaarallahu laka’ (Semoga Allah memilihkan untukmu), maksudnya semoga Allah memberimu apa yang terbaik untukmu. Dan seperti ungkapan: ‘istakhaarallah’, artinya memohon pilihan dari Allah. Adapun kata ikhtiar maksudnya sama dengan ishthifa’ (pilihan). Begitu juga makna kata takhayyur. Sebagaimana juga dalam ungkapan: ‘itkhirillaha yukhri laka’ (Mintalah pilihan kepada Allah, pasti Dia akan memilihkan untukmu). [Lihat Lisanul Arab (4/259), materi Kha-ya ra]
Sedangkan menurut istilah syar’i artinya mengharapkan pilihan. Maksudnya memohon agar dipalingkan perhatiannya kepada apa yang terpilih di sisi Allah dan yang lebih utama, melalui shalat atau doa yang berkaitan dengan istikharah. [Lihat Al Mausu’atul Kuwaitiyah (3/241).]
[fadhlihsan.wordpress.com]
Manfaat
Shalat istikharah sangat penting untuk dilakukan karena pilihan manusia acapkali bersifat subjektif dan terkadang tak terlepas dari dorongan nafsu. Dapat dipahami jika manusia kadang membenci sesuatu yang baik dan sebaliknya mencintai sesuatu yang buruk. Dalam hal ini, al-Qur an mensitirnya dalam surat Al-Baqarah ayat 216:
وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetauhi, sedangkan kamu tidak mengetauhi”.
Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi mengutip perkataan Al-Hasan tentang pengertian ayat ini :
لا تكرهوا الملمات الواقعة، فلرب أمر تكرهه فيه نجاتك، ولرب أم تحبه فيه عطبك، وأنشد
Janganlah kalian membenci penderitaan yang terjadi, sebab berapa banyak perkara yang engkau benci, namun disitulah keselamatanmu. Berapa banyak perkara yang engkau sukai, namun justru disitulah kehancuranmu”
[Tafsir Al-Qurthubi 3, hal. 91].
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لِيَسْتَلْ اَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَتَّى فىِ شَسَعِ نَعْلِهِ
“Hendaklah salah seorang di antara kamu meminta kepada TuhanNya, sampaipun dalam persoalan tali terompahnya”
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan :
وروينا في كتاب ابن السني، عن أنس رضي اللّه عنه قال: قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: "يا أنَسُ، إذَا هَمَمْتَ بِأمْرٍ فاسْتَخِرْ رَبَّكَ فيهِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ انْظُرْ إلى الَّذي سَبَقَ إلى قَلْبِكَ، فإنَّ الخَيْرَ فِيهِ"
ثم إن الاستخارة مستحبّة في جميع الأمور كما صرَّح به نصُّ هذا الحديث الصحيح، وإذا استخار مضى بعدها لما ينشرحُ له صدره. واللّه أعلم
Diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni, dari Anas RA, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepadanya,
“Hai Anas, jika engkau ingin melakukan sesuatu, maka mintalah pilihan kepada tuhannu tujuh kali, kemudian koreksilah kedalam hatimu, mana yang lebih mantap, karena sesungguhnya kebaikan terdapat di situ”
Perlu diketahu bahwa istikharoh itu dianjurkan dalam segala urusan, sebagaimana dijelaskan oleh nash dan hadits yang sahih itu. Apabila selesai beristikharah, iapun melakukan apa yang melapangkan dadanya.
[Al-Adzkar , hal. 206]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan : “Shalat istikharah ini mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Berapa banyak masalah kecil menjadi sumber masalah besar”
[Fathul Bari 11, 184].
Waktu Pelaksanaan
Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
يسن الاستخارة لمن أراد أمرا من الأمور المباحة, والتبس عليه وجه الخير فيه أن يصلى ركعتين من غير الفريضة ولو كانت من السنن الراتبة أوتحية المسجد فى أى وقت من الليل أو النهار
Seseorang yang menghadapi sesuatu permasalahan yang bersifat mubah sedangkan ia sendiri ragu-ragu untuk melaksanakan perkara yang terbaik, ia disunnahkan mengerjakan shalat sunnah istikharah, tetapi hukumnya tidaklah wajib.
Shalat Istikharah boleh dilakukan ketika mengerjakan shalat sunnah rawatib atau tahiyatul masjid, atau boleh pula dilakukan pada waktu malam atau siang.
[Fikih Sunnah 1, hal. 304].
Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar berkata :
قال العلماء: تستحبّ الاستخارة بالصلاة والدعاء المذكور، وتكون الصلاة ركعتين من النافلة، والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب، وبتحية المسجد وغيرها من النوافل؛
Para ulama berkata : Dianjurkan istikharah dengan shalat dan doa tersebut. Shalat itu berjumlah dua rekaat sebagai shalat nafilah. Yang jelas, ia bisa dilakukan dengan dua rekaat sunnah rawatib atau takhiyatul masjid atau shalat sunnah lainnya.
[Al-Adzkar , hal. 206]
Dalam kitabnya yang lain Raudhatuth Thalibin, Imam Nawawi berkata :
ومنه تحية المسجد بركعتين ولو صلى الداخل فريضة أو وردا أو سنة ونوى التحية معها حصلا جميعا وكذا إن لم ينوها ويجوز أن يطرد
Diantara shalat sunnah yang tidak disunahkan berjamaah adalah shalat dua rekaat Tahiyatul Masjid. Jika seseorang masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, atau melaksanakan shalau sunnah lainnya dan dia berniat dengan Tahiyatul Masjid sekaligus, maka berhasil penggabungan niatnya. Begitu juga jika dia tidak meniatkan untuk shalat Tahiyatul Masjid.
[Raudhatuth Thalibin 1, hal. 675]
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mengutip pendapat Al-Iraqi sebagai berikut :
إن كان همه بالأمر قبل وقوع الشروع في الراتبة ونحوها ثم صلى من غير نية الاستخارة وبدا له بعد الصلاة الإتيان بدعاء الاستخارة فالظاهر حصول ذلك
Jika seseorang berniat mengerjakan shalat rawatib atau semisalnya, lalu dia mengerjakan shalat dengan tidak berniat untuk istikharah, kemudian setelah shalat muncul keinginan untuk memanjatkan do’a istikharah, maka secara lahir hal itu sudah mencukupi.
[Nailul Author 3/66 (2/11)]
Ibnu Hajar Al-Asqalani menolak pendapat tersebut dan mengatakan : “Dapat dikatakan jika dia berniat mengerjakan shalat tersebut dan shalat istikharah secara bersamaan, maka hal tersebut dibolehkan.
[Fathul Bari 11, hall. 185]
Surat Yang Dibaca
Sayyid Sabbiq berpendapat bacaan surah setelah membaca surah Al-Fatihah adalah bebas dari ayat-ayat Al-Quran yang disukainya.
Imam Nawawi berkata :
ويقرأ في الأولى بعد الفاتحة: قل يا أيّها الكافرون، وفي الثانية: قل هو اللّه أحد؛ ولو تعذرت عليه الصلاة استخار بالدعاء.
Dalam rekaat pertama sesudah surah Al-Fatihah, dibaca surat Al-Kafirun. Dalam rekaat kedua membaca surat Al-Ikhlas. Andaikata berhalangan melakukan shalat, maka istikharah dilakukan dengan berdoa.
[Al-Adzkar , hal. 206; Ihya Ulumiddin 1, hal. 680]
Do’a Shalat Istikharah
Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Quran. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunnah (Istikharah) dua rakaat, kemudian bacalah doa ini:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ ... خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini ……. lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku atau di dunia atau akhirat sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.” [HR. Al-Bukhari 7/162]
Imam Nawawi berkata :
ويستحبّ افتتاح الدعاء المذكور وختمه بالحمد للّه والصلاة والتسليم على رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؛
Dianjurkan memulai doa tersebut dan mengakhirinya dengan ucapan Alhamdulillah dan shalawat serta taslim kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.
[Al-Adzkar , hal. 206].
Tindak lanjut
Setelah melakukan shalat istikharah dianjurkan untuk bertanya atau bermusyawarah dengan orang-orang yang kita anggap berilmu. Allah Ta’ala berfirman:
وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين
“… dan bermusyawarahlah kepada mereka (para sahabat) dalam urusan itu (peperangan, perekonomian, politik dan lain-lain). Bila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah…” (Ali Imran, 3: 159)
Imam Al-Qurthubi mengutip perkatan Al-Bukhari sebagai berikut :
وكانت الأئمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم يستشيرون الأمناء من أهل العلم في الأمور المباحة ليأخذوا بأسهلها
Para imam setelah Rasulullah selalu bermusyawarah dengan orang-orang terpercaya dari kalangan ulama tentang perkara-perkara yang dibolehkan, agar mereka dapat mengambil yang paling mudah,”
[Tafsir Al-Qurthubi 4, hal. 627].
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin berkata : Sebagian ulama berkata : “Barangsiapa memberikan 4 hal maka ia tidak terhalang dari 4 hal. Barangsiapa memberikan syukur maka ia tidak terhalang dari tambahan. Barangsiapa memberikan taubat maka ia tidak terhalang dari diterima. Barangsiapa yang memberikan istikharah maka ia tidak terhalang dari yang terpilih. Dan barang siapa yang memberikan musyawarah maka ia tidak terhalang dari kebenaran.
[Ihya Ulumiddin 1, hal. 680].
Kesimpulan
1. Shalat Istikharah adalah shalat sunnah yang dikerjakan untuk memohon petunjuk Allah untuk melakukan sesuatu yang bersifat mubah.
2. Shalat Istikharah bisa dikerjakan bersamaan shalat sunnah rawatib, shalat tahiyatul masjid, dan shalat-shalat sunnah lainnya.
3. Setelah shalat istiharah dianjurkan untuk bermusyawarah dengan orang-orang yang mengerti tentang permasalahan kita.
4. Petunjuk yang didapat dari shalat istikharah adalah kemantapan hati untuk melaksanakan satau tidak melaksanakan sesuatu.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Nawawi Al-Adzkar, Darul Ihya’ Indonesia, 2008
-Imam Nawawi Raudhatuth Thalibin, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang
-Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Yakarta, 2007.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, Pustaka Azzam, 2002
-[fadhlihsan.wordpress.com]
*Slawi, Februari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
FORTUNE TELLER (1)
FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab Allah said : عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...
-
AIR MUSTA’MAL Oleh : Masnun Tholab www.masnuntholab.blogspot.com ان الحمد لله نَحْمَدُهُ ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفس...
-
TAKZIAH Oleh : Masnun Tholab www.masnuntholab.blogspot.com Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam s...
-
LARANGAN MENEMBOK KUBURAN Oleh : Masnun Tholab www.masnuntholab.blogspot.com إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغ...
