Minggu, 13 Februari 2011

YANG BERHAK MENJADI IMAM

YANG BERHAK MENJADI IMAM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang paling utama menjadi imam. Sebagian berpendapat, yang paling utama menjadi imam adalah orang yang paling pintar, sebagian berpendapat yang paling fasih dalam membaca Al-Quran.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
الأحق بالإمامة الأقرأ الكتاب الله, فإن استووا فى القراءة فلأعلم بالسنة, قإن استووا فلأقدم هجرة, قإن استووا فالأكبرسنا
عن أبي سعيد قال‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ‏‏.‏ رواه أحمد ومسلم والنسائي
Orang yang paling berhak menjadi imam ialah orang yang paling pandai dalam membaca Kitab Al-Quran. Jika diantara mereka memiliki keahlian yang sama, utamakanlah orang yang lebih pakar dalam hadits Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam. Jika mereka memiliki keahlian yang sama, dahulukanlah orang yang pertama berhijrah. Akan tetapi jika mereka memiliki keutamaan yang sama, dahulukanlah orang yang lebih tua usianya.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id RA, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
”Jika terdapat satu kelompok yang berjumlah tiga orang, hendaklah salah seorang tampil menjadi imam. Adapun yang lebih berhak menjadi imam itu ialah orang yang ahli dalam bacaan Al-Quran” (HR. Ahmad, Muslim 672 dan Nasa’i).

وَعَنْ أبن مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: "يَؤُمُّ القْوَمْ أَقْرَؤهُمْ لِكِتابِ الله تعالى، فإنْ كَانُوا في الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بالسّنّةِ، فَإنْ كَانُوا في السُنّةِ سَواءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فإنْ كَانُوا في الهجرة سَوَاءً فأَقْدَمُهُمْ سِلْماً ــــ وَفي روَاية سِنّاً ــــ ولا يَؤُمّنّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ في سُلْطَانِهِ، ولا يَقْعُدُ في بَيْتِهِ عَلى تَكْرمَتِهِ إلّا بإذْنِهِ"

Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca al-Qur'an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang Sunnah di antara mereka. Jika dalam Sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka." Dalam suatu riwayat: "Yang paling tua." "Dan Janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seidzinnya." (HR Muslim, no. 1709)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 347; lihat Bukughul Maram hadits no. ]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
الحديث دليل على تقديم الأقرأ على الأفقه وهومذهب أبي حنيفة وأحمد.
وذهب الهادوية إلى أنه يقدم الأفقه على الأقرأ لأن الذي يحتاج إليه من القراءة مضبوط، والذي يحتاج إليه من الفقه غير مضبوط، وقد تعرض له في الصلاة أمور لا يقدر على مراعاتها إلا كامل الفقه، قالوا: ولهذا قدم صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم أبا بكر على غيره مع قوله: "أقرؤكم أبيّ"، قالوا: والحديث خرج على ما كان عليه حال الصحابة من أن الأقرأ هو الأفقه
Hadits ini merupakan dalil untuk mendahulukan ahli qiraah atas orang yang faqih. Ini adalah madzhabnya Abu Hanifah dan Ahmad. Al-Hadawiyah berpendapat sesungguhnya orang yang faqih didahulukan dari ahli qiraah karena yang dibutuhkan dari membaca adalah memahami. Sedangkan orang yang faqih tidak lagi diragukan pemahamannya. Sebab terkadang terjadi dalam shalat perkara-perkara yang tidak mampu dikektahui kecuali oleh orang yang sempurna fikihnya. Mereka berkata, “Karena inilah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendahulukan Abu Bakar sebagai imam atas yang lainnya, padahal beliau pernah bersabda, ’Orang yang paling baik qiraahnya diantara kalian adalah Ubay,’” Mereka berkata, ”Hadits ini keluar pada masa shahabat karena orang yang paling bacaannya mereka pasti faqih”
[Subulussalam 1, hal. 103/642].

Imam Asy-Syaukani berkata tentang hadits Ibnu Mas'ud di atas :
قوله‏:‏ ‏(‏ولا يؤمنَّ الرجل الرجل في سلطانه‏)‏ قال النووي‏:‏ معناه أن صاحب البيت والمجلس وإمام المسجد أحق من غيره‏.‏
وظاهره أن السلطان مقدم على غيره وإن كان أكثر منه قرآنًا وفقهًا وورعًا وفضلًا فيكون كالمخصص لما قبله
Sabda beliau (Dan Janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya ) An-Nawawi mengatakan, “Pengertiannya,bahwa tuan rumah, pimpinan majelis atau imam masjid lebih berhak menjadi imam daripada lainnya”.
Konotasinya, bahwa kekuasaan itu lebih didahulukan daripada yang lainnya, walaupun yang lainnya itu lebih banyak mengerti tentang Kitabullah, lebih wara’ dan lebih utama daripadanya, sehingga menjadi keutamaan tersendiri sebagaimana hal yang disebutkan sebelumnya.
[Nailul Authar 1, hal. 755].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
اختلفوا فيمن أولى بالإمامة، فقال مالك: يؤم القوم أفقههم لا أقرؤهم، وبه قال الشافعي، وقال أبو حنيفة والثوري وأحمد: يؤم القوم أقرؤهم. والسبب في هذا الاختلاف اختلافهم في مفهوم قوله عليه الصلاة والسلام "يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواء، فأقدمهم إسلاما، ولا يؤم الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه"
Perihal orang yang lebih utama menjadi imam, para fuqaha saling berbeda pendapat. Menurut Malik, yang paling berhak adalah orang yang afqah (yang paling pintar), bukan orang yang paling fasih bacaannya. Pendapat ini juga diikuti oleh Syafi’i. Menurut Abu Hanifah, Tsauri, dan Ahmad, yang berhak menjadi imam adalah orang yang bacaannya paling fasih.
Yang menjadi sebab perbedaan pendapat di antara mereka karena pengertian hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sebagai berikut :
"Yang mengimami kaum adalah orang yang paling pandai membaca al-Qur'an di antara mereka. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling banyak mengetahui tentang Sunnah di antara mereka. Jika dalam Sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka." Dalam suatu riwayat: "Yang paling tua." "Dan Janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seidzinnya." (HR. Bukhari dan Abu Dawud, Muslim no. 1709)
وهو حديث متفق على صحته لكن اختلف العلماء في مفهومه، فمنهم من حمله على ظاهره وهو أبو حنيفة. ومنهم من فهم من الأقرأ ههنا الأفقه. لأنه زعم أن الحاجة إلى الفقه في الإمامة أمس من الحاجة إلى القراءة، وأيضا فإن الأقرأ من الصحابة كان هو الأفقه ضرورة، وذلك بخلاف ما عليه الناس اليوم.
Kesahihan hadits di atas sudah disepakati. Namun, pengertiannya masih diperdebatkan, seperti Abu Hanifah mengambil makna lahiriah. Ada fuqaha yang memahami pengertian aqra’ sebagai afqah. Alasan mereka bahwa keperluan terhadap afqah lebih diutamakan untuk menjadi imam dibanding aqra’. Padahal para sahabat yang memiliki kepandaian membaca sudah tentu lebih dalam pengetahuannya (afqah). Ini tentu berbeda dengan keadaan masyarakat dewasa ini.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 103/321].

Dari Malik bin Al Huwairits, ia menuturkan,
‏أتيت النبي صلى اللَّه عليه وسلم أنا وصاحب لي فلما أردنا الإقفال من عنده قال لنا‏:‏ إذا حضرت الصلاة فأذنا وأقيما وليؤمكما أكبركما
"Aku menemui Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam , yaitu aku bersama seorang temanku. Ketika kami hendak beranjak darinya beliau berkata kepada kami, ‘Bila tiba waktu shalat adzanlah dan iqamahlah kalian berdua, dan hendaklah orang yanglebih tua di antara kamu mengimami kamu sekalian". (HR. Jamaah).

Dari Malik bin Al Huwairits, ia menuturkan,
سمعت النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم يقول‏:‏ من زار قومًا فلا يؤمهم وليؤمهم رجل منهم‏
“Aku mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa mengunjungi suatu kaum, maka janganlah ia mengimami mereka, namun hendaklah yang mengimami mereka adalah seseorang dari antara mereka sendiri’” (HR. Imam yang lima, kecuali Ibnu Majah).

Imam Asy-Syaukani berkata :
فيه أن المزور أحق بالإمامة من الزائر وإن كان أعلم أو اقرأ من المزور
Ini menunjukkan bahwa tuan rumah lebih berhak menjadi imam daripada tamunya walaupun lebih berilmu dan lebih pandai dalam hal Kitabullah daripadanya.
[Nailul Authar 1, hal. 755].

Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
ثلاثة على كثبان المسك يوم القيامة عبد أدى حق اللَّه وحق مواليه ورجل أمَّ قومًا وهم به راضون ورجل ينادي بالصلوات الخمس في كل ليلة
“Tiga golongan yang akan berada di dalam taman kesturi pada hari kiamat. Hamba sahaya yang melaksanakan hak Allah dan hak tuannya, laki-laki yang mengimami suatu kaum yang ridha terhadapnya, dan laki-laki yang menyerukan shalat lima waktu setiap hari” (HR. At-Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
لا يحل لرجل يؤمن باللَّه واليوم الآخر أن يؤم قومًا إلا بإذنهم ولا يخص نفسه بدعوة دونهم فإن فعل فقد خانهم‏
“Tidaklah halal bagi seorang laki-laki yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengimami suatu kaum kecuali dengan seizin mereka, dan tidak boleh ia mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa menyertakan mereka (di dalam doanya), jika ia melakukan itu berarti ia telah menghianati mereka” (HR. Abu Daud)
[Nailul Authar 1, hal. 754].

Kesimpulan :
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan :
1. Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang paling utama menjadi imam. Sebagian berpendapat, yang paling utama menjadi imam adalah orang yang paling pintar, sebagian berpendapat yang paling fasih bacaannya.
2. Tuan rumah lebih berhak menjadi imam daripada tamunya, meskipun tamunya lebih fasih membaca Al-Quran dan lebih pintar.

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Ebook.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Ebook.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006

*Slawi, Februari 2011

Sabtu, 12 Februari 2011

SHALAT BERJAMAAH DENGAN SATU ORANG MAKMUM

SHALAT BERJAMAAH DENGAN SATU ORANG MAKMUM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Shalat berjamaah dapat dilakukan jika ada seorang makmum dan seorang imam meskipun salah seorang diantaranya itu anak kecil atau wanita.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata:
‏بِتٌّ عند خَالَتِيْ ميمونةَ فقام النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم يصلِّي من الليلِ فقمتُ أُصَلِّيْ معه فقمت عن يسارهِ فأخذَ بِرَأْسِيْ وَأَقَامَنِيْ عن يَّمِيْنِهِ
Saya pernah bermalam di kediaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam suatu malam, waktu itu beliau di rumah Maimunah radliyallahu anha. Beliau bangun dan waktu itu telah habis dua pertiga atau setengah malam, kemudian beliau pergi ke tempat yang ada padanya air, aku ikut berwudlu bersamanya, kemudian beliau berdiri dan aku berdiri di sebelah kirinya maka beliau pindahkan aku ke sebelah kanannya. (HR. Bukhari 726, Muslim 763).
[Fiqih Sunnah 1, hal 342; lihat Bulughul Maram, hadits no. 441].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam menjelaskan hadits dari Ibnu Abbas di atas :
دل على صحة صلاة المتنفل بالمتنفل، وعلى أن موقف الواحد مع الإمام عن يمينه، بدليل الإدارة، إذ لو كان اليسار موقفاً له لما أداره في الصلاة. وإلى هذا ذهب الجماهير
Hadits ini menunjukkan sahnya orang yang shalat sunnah di belakang orang yang shalat sunnah, dan tempat berdiri makmum yang hanya satu berada di samping kanan imam. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menarik Ibnu Abbas ke sebelah kanannya. Jika posisinya yang benar di sebelah kiri imam, tentu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak menariknya dari sebelah kiri ke sebelah kanannya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
[Subulussalam 1, hal. 650].

Selanjutnya Sayyid Sabiq berkata :
Apabila makmum itu sendirian, ia disunahkan berdiri  di sebelah kanan imam, sedangkan kalau ia terdiri atas dua orang atau lebih, disunahkan berdiri di belakangnya.
Hal ini berdasarkan hadits Jabir,
قام رَسُولُ اَللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ليصلِّي فَجِئْتُ فقمتُ على يسارهِ فأخذَ بيدى فأدارني حتى أَقَامَنِيْ عن يَّمِيْنِهِ ثم جاء جابر بن صخر فقام عن يسارهِ رَسُولُ اَللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم فأخذ بأيدينا جميعا فذفعنا حتى أَقَامَنَا خلفهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri disebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia menempatkan aku sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya”. [Shahih Riwayat Muslim & Abu Dawud]
Jika seorang wanita shalat jamaah, hendaklah ia berdiri sendirian di belakang kaum lelaki dan tudak boleh sebaris dengan mereka. Akan tetapi jika wanita tersebut tetap melakukannya, shalatnya tetap sah. Demikian pendapat jumhur ulama.
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata:
صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ, وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat, lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya sedang Ummu Salamah berdiri di belakang kami. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.
[Fiqih Sunnah 1, hal 357].

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ اِسْتَيْقَظَ من الليلِ وَأَيْقَظَ أهلهُ فَصَلَّيَا ركعتينِ جميعًا كُتِبَا من الذَّاكِرِيْنَ اللَّهَ كثيرًا والذَّاكِرَاتِ‏
Barangsiapa bangun di malam hari lalu membangunkan istrinya, kemudian mereka berdua shalat berjamaah, maka mereka berdua dicatat termasuk orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah” (HR. Abu Daud).

Imam Asy-Syaukani berkata :
Hadits ini mempunyai banyak faedah, diantaranya sebagaimana yang dicantumkan oleh penulis judulnya, bahwa jamaah itu bisa terlaksana oleh dua orang walaupun salah satunya anak kecil. Bagi orang yang menganggap tidak sahnya berjamaah hanya dengan seorang anak kecil, sama ssekali tidak ada dalilnya; Sahnya shalat sunnah yang dilaksanakan secara berjamaah; Posisi makmum yang sendirian di sebelah kanan imam; Bolehnya bermakmum kepada orang yang sebelumnya tidak berniat menjadi imam. Al-Bukhaeipun mencantumkan hadits itu dengan judul ini.
Sabda beliau (Barangsiapa bangun di malam hari lalu membangunkan istrinya…) menunjukkan disyariatkannya suami membangunkan istrinya untuk shalat malam. Hadits ini juga sebagai dalil sahnya berjamaah yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Demikian menurut pendapat para ahli fiqih. Adapun orang yang menganggap tidak sah, maka tidak ada dalil padanya.
[Nailul Authar 1, hal. 733].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
وسنة الواحد عند الجمهور أن يقف عن يمين الإمام لحديث ابن عباس حين بات عند ميمونة. وقال قوم: بل عن يساره، ولا خلاف في أن المرأة الواحدة تصلي خلف الإمام، وأنها إن كانت مع الرجل صلى الرجل إلى جانب الإمام والمرأة خلفه
Untuk makmum yang hanya seorang disunatkan di sebelah kanan agak ke belakang. Ini menurut jumhur fuqaha. Alasannya adalah hadits Ibnu Abbas, tatkala ia menginap di rumah Maimunah. Tetapi menurut sebagian fuqaha disunatkan berdiri di sebelah kiri agak ke belakang.
Tentang wanita yang menjadi makmum sendirian, ia berdiri di belakang imam laki-laki. Masalah ini sudah tidak diperdebatkan lagi. Apabila seseorang wanita berjamaah dengan seorang laki-laki, maka makmum laki-laki-laki tadi berdiri di sebelah kanan imam dan seorang wanita berdiri di belakang makmum laki-laki.
[Bidayatul Mujtahid 1, ha. 334].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
وإذا أم رجل رجلا واحدا أقام الإمام المأموم عن يمينه وإذا أم خنثى مشكلا أو امرأة قام كل واحد منهما خلفه لا بحذائه وإذا أم رجل رجلا فوقف المأموم عن يسار الإمام أو خلفه كرهت ذلك لهما ولا إعادة على واحد منهما وأجزأت صلاته
Apabila seorang laki-laki mengimami seorang laki-laki, maka imam itu hendaknya memerintahkan makmum berdiri pada sisi kanannya.
Apabila seorang laki-laki mengimami seorang banci atau seorang wanita, maka masing-masing dari keduanya berdiri di belakang imam dan tidak sejajar dengan imam.
Aoabila seorang laki-laki mengimami seorang laki-laki, lalu makmum itu berdiri di sebelah kiri imam atau di belakangnya, maka saya memandangnya makruh. Namun apabila ia melakukannya, maka ia tidak harus mengulangi dan shalatnya telah memadai.
[Al-Umm 1, 248, Rongkasan Kitab Al-Umm 1, hal.241]

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani berkata dalam kitab Fathul Mu’in :
(وندب وقوف ذكر) ولو صبيا لم يحضر غيره، (عن يمين الامام) وإلا سن له تحويله - للاتباع - (متأخر) عنه (قليلا)، بأن تتأخر أصابعه عن عقب إمامه. وخرج بالذكر الانثى، فتقف خلفه، مع مزيد تأخر
Makmum laki-laki disunatkan berdiri di sebelah kanan imam, walaupun makmum itu anak-anak, kalaupun tidak terdapat makmum orang dewasa. Kalau tidak demikian disunatkan kepada imam (meskipun sedang salat) mengalihkan makmum kea rah kanannya, karena ittiba’ kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dank e belakang sedikit dengan cara jari kaki makmum mundur sedikit dari tumit imamnya. Kecuali bagi wanita, ia mesti berdiri di belakang imam dengan sedikit mundur (walaupun sendirian).
(فإن جاء) ذكر (آخر، أحرم عن يساره)، ويتأخر قليلا، (ثم) بعد إحرامه (تأخرا) عنه ندبا، في قيام أو ركوع، حتى يصيرا صفا وراءه
Apabila datang laki-laki yang lainnya, bertakbiratul ihramlah ia di sebelah kiri imam dan mundur sedikit, kemudian setelah takbiratul ihram itu kedua-duanya sunat mundur ke belakang, di kala imam berdiri atau rukuk, sehingga membentuk barisan di belakang imam. Sebagaimana hadits dari Jabir.
 (و) وقوف (رجلين) جاءا معا (أو رجال) قصدوا الاقتداء بمصل (خلفه) صفا
Kebalikan dari cara itu ialah : Jika makmum yang di sebelah kanan imam itu mundur sebelum makmum yang kedua takbiratul ihram, atau kedua-duanya tidak mundur, atau mundur bukan di kala imam berdiri atau rukuk, hukumnya makruh dan dapat menghilangkan pahala berjamaah. Kecuali kalau imam yang maju, maka hukumnya diperbolehkan.
[Fathul Mu’in 1, hal. 382-384].

Kesimpulan :
1.     Shalat jama’ah dianggap sah meskipun hanya terdiri dari satu orang imam dan satu orang makmum, meskipun makmumnya seorang anak kecil atau seorang wanita.
2.    Mayoritas ulama berpendapat posisi makmum seorang laki-laki adalah di sebelah kanan imam, sebagian ulama berpendapat lurus dengan imam, sebagian lagi berpendapat agak ke belakang.
3.     Mayoritas ulama berpendapat posisi makmum wanita adalah di belakang imam.


Wallahu a’lam.

MAKMUM WAJIB MENGIKUTI IMAM

MAKMUM WAJIB MENGIKUTI IMAM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
تجب متابعة الإمام وتحرم مسابقته لحديث أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ انَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم قال : إِنَّمَا جُعِلَ اَلْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ,فَلَا تُحَلِّفُوْا عَلَيْهِ, فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا, وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ, وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا, وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ, وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اَللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, فَقُولُوا: اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ اَلْحَمْدُ, وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا, وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ, وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا, وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعِينَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَهَذَا لَفْظُه
Makmum wajib mengikuti imam dan haram mendahuluinya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah, dimana Rasulullah Shollallahu'alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka janganlah kalian menyelisihinya. Maka apabila ia telah bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan bertakbir sebelum ia bertakbir. Apabila ia telah ruku', maka ruku'lah kalian dan jangan ruku' sebelum ia ruku'. Apabila ia mengucapkan (sami'allaahu liman hamidah) maka ucapkanlah (allaahumma rabbanaa lakal hamdu). Apabila ia telah sujud, sujudlah kalian dan jangan sujud sebelum ia sujud. Apabila ia sholat berdiri maka sholatlah kalian dengan berdiri dan apabila ia sholat dengan duduk maka sholatlah kalian semua dengan duduk." ((HR. Abu Dawud. 603,604; Bukhari 722, 734; Muslim 414)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 165/341; lihat Bulughul Maram hadits no. 430].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam menjelaskan :
والحديث دل على أن شرعية الإمامة ليقتدى بالإمام، ومن شأن التابع والمأموم أن لا يتقدم متبوعه، ولا يساويه، ولا يتقدم عليه في موقفه، بل يراقب أحواله ويأتي على أثرها بنحو فعله، ومقتضى ذلك أن لا يخالفه في شيء من الأحوال، وقد فصل الحديث ذلك بقوله فإذا كبر إلى آخره.
Hadits ini sebagai dalil disyariatkannya imamah dan perintah untuk mengikuti imam. Diantara atau aturan bagi taabi’ (orang yang mengikuti) dan makmum adalah tidak mendahului orang yang diikutinya, tidak juga menyamainya, serta tidak berdiri lebih depan darinya. Akan tetapi makmum harus memperhatikan perbuatan imam dan mengikuti gerakannya. Hal ini dimaksudkan agar makmum tidak menyelisihi sedikitpun dari perbuatan dan gerakan imam, sebagaimana telah diulas secara rinci dalam ssabdanya, “jika ia bertakbir…..”.
ويقاس ما لم يذكر من أحواله كالتسليم على ما ذكر فمن خالفه في شيء مما ذكر فقد أثم ولا تفسد صلاته بذلك، إلا أنه إن خالف في تكبيرة الإحرام بتقديمها على تكبيرة الإمام فإنها لا تنعقد معه صلاته لأنه لم يجعله إماماً إذ الدخول بها بعده وهي عنوان الاقتداء به واتخاذه إماماً
Gerakan yang lainnya –seperti salam- diqiyaskan dengan hal-hal yang telah disebutkan. Barangsiapa yang menyelisihi imam sedikitpun dari yang telah disebutkan maka ia telah berdosa. Akan tetapi shalatnya tidak rusak dengan hal tersebut, kecuali jika ia menyelisihi dalam takbiratul ihram dengan mendahului imam, maka ia tidak terhitung shalat bersama imam. Karena ia tidak menjadikannya sebagai imam. Jika ia masuk –mengerjakan- shalat setelah masuknya imam dalam shalat, itu adalah pertanda bahwa ia mengikuti imam dan menjadikannya sebagai imam.
واستدل على عدم فساد الصلاة بمخالفته لإمامه لأنه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم توعد من سابق الإمام في ركوعه أو سجوده بأن الله يجعل رأسه رأس حمار ولم يأمره بإعادة صلاته ولا قال فإنه لا صلاة له
Tidak rusaknya shalat orang yang menyelisihi imam dilandaskan pada hadits, bahwa Rasulullah Shollallahu'alaihi wa Sallam mengancam orang yang mendahului imam dalam ruku’ dan sujudnya. Allah akan merubah kepalanya dengan kepala keledai, akan tetapi Allah tidak memerintahkan untuk mengulangi shalatnya. Dan Rasulullah tidak mengucapkan “Sesungguhnya tidak ada shalat bagimu”.
[Subulussalam 1, hal. 98/626].

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏إنما جعل الإمام ليؤتم به‏)‏ والمراد بالحصر هنا حصر الفائدة في الإقتداء بالإمام والإتباع له ومن شأن التابع أن لا يتقدم على المتبوع ومقتضى ذلك أن لا يخالفه في شيء من الأحوال التي فصلها الحديث ولا في غيرها قياسًا عليها ولكن ذلك مخصوص بالأفعال الظاهرة لا الباطنة وهي ما لا يطلع عليه المأموم كالنية فلا يضر الاختلاف فيها فلا يصح الاستدلال به
Sabda beliau (Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka janganlah kalian menyelisihinya. Maka apabila ia telah bertakbir, bertakbirlah kalian.....) penyebutan secara rinci di sini mengindikasikan keharusan mengikuti dan meniru imam. Sudah semestinya, yang mengikuti tidak mendahului yang diikutinya, sehingga konsekwensinya tidak menyelesihinya dalam hal-hal yang dijelaskan oleh hadits ini, tidak juga dalam hal lainnya bila dikiaskan dengan ini. Namun hal ini sebatas perbuatan yang lahir, bukan yang batin. Karena perbuatan batin tidak dapat diketahui oleh makmum, seperti : niat imam. Jika ada perbedaan dengan imam, maka hal ini tidak apa-apa, karena niat bukan perbuatan lahir.
[Nailul Authar 1, hal. 731].

Dari Abu Hurairah, dimana Rasulullah Shollallahu'alaihi wa Sallam bersabda,
أَماَ يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِماَمِ أَنْ يَحُوْلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ
“Apakah salah seorang diantara kalian tidak takut, apabila mengangkat kepalanya sebelum imam, maka Allah akan merubah bentuknya menjadi bentuk keledai”(HR. Jamaah)

Dari Anas, ia berkata
Rasulullah Shollallahu'alaihi wa Sallam bersabda,
إِنِّي إِماَمُكُمْ. فَلاَ تَسْبِقُوْنِي بِالرُّكُوْعِ وَلاَ بِالسُّجُوْدِ. وَلاَ بِالْقِياَمِ وَلاَ بِاْلاِنْصِرَافِ
“Aku adalah imam kalian maka janganlah kalian mendahuluiku pada waktu ruku’ , sujud, berdiri dan juga pada waktu mengakhiri shalat” (HR. Ahmad dan Muslim).

Hadits di atas lengkapnya sebagai berikut :
Dari Anas RA ,
صَلَّى بِناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ. فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ أَقْبَلَ عَلَيْناَ بِوَجْهِهِ، فَقاَلَ “أَيُّهاَ النَّاسُ! إِنِّي إِماَمُكُمْ. فَلاَ تَسْبِقُوْنِي بِالرُّكُوْعِ وَلاَ بِالسُّجُوْدِ. وَلاَ بِالْقِياَمِ وَلاَ بِاْلاِنْصِرَافِ. فَإِنِّي أَرَاكُمْ أَماَمِي وَمَنْ خَلْفِي” ثُمَّ قَالَ “وَالَّذِي نَفْسِ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَوْ رَأَيْتُمْ مَا رَأَيْتُ لَضَحَكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَّيْتُمْ كَثِيْرًا” قَالُوْا: وَماَ رَأَيْتَ ياَ رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ “رَأَيْتُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ”.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sholat mengimami kami suatu hari. Setelah selesai sholat beliau menghadap kami dengan wajah beliau. Kemudian beliau berkata: “Hai orang banyak, Aku adalah imam kalian maka janganlah kalian mendahuluiku pada waktu ruku’ , sujud, berdiri dan juga pada waktu mengakhiri shalat. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian yang didepanku dan yang di belakangku. Kemudian beliau bersabda: “Demi Dzat yang Muhammad berada di bawah kekuasaanNya, Jika kalian melihat apa yang aku lihat, maka sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Mereka berkata :”Apa yang Engkau lihat ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Aku melihat surga dan neraka.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Dari Anas, ia berkata
Rasulullah Shollallahu'alaihi wa Sallam bersabda,
إِنَّمَا جُعِلَ اَلْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ ولا تَرْفَعُوْا حَتَّى يَرْفَعْ
"Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Karena itu Janganlah ruku' sebelum ia ruku', dan janganlah kalian mengangkat kepala sebelum ia mengangkat kepala” (HR. Bukhari)

Imam Asy-Syaukani berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏أَماَ يَخْشَى( وظاهر الحديث يقتضي تحريم الرفع قبل الإمام لكونه توعد عليه بالمسخ وهو أشد العقوبات وبذلك جزم النووي في شرح المهذب ومع القول بالتحريم فالجمهور على أن فاعله يأثم وتجزئه صلاته
Sabda beliau (Apakah salah seorang diantara kalian tidak takut...)
konteksnya hadits ini mengangkat kepala sebelum imam, demikian yang tersirat dari ancaman tersebut yang merupakan ancaman yang sangat berat. Namun jumhur berpendapat, bahwa makmum yang melakukannya berdosa, shalatnya tetap sah.
[Nailul Authar 1, hal. 731].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatull Mujtahid berkata :
وأجمع العلماء على أنه يجب على المأموم أن يتبع الإمام في جميع أقواله وأفعاله إلا في قوله: سمع الله لمن حمده، وفي جلوسه إذا صلى جالسا لمرض عند من أجاز إمامة الجالس
Ulama sepakat bahwa makmum harus mengikuti imam, baik perkataan maupun perbuatan, kecuali kalimat yang diucapkan imam sami’allahu liman hamidah, imam yang shalat duduk lantaran sakit. Ini berlaku bagi fuqaha yang memperbolehkan imam shalat duduk.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 107/338].

Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
فالسنة للمأموم أن يتأخر ابتداء فعله عن ابتداء فعل الامام، ويتقدم على فراغه منه،
Yang disunatkan bagi makmum ialah awal pekerjaannya hendaklah di belakang awal pekerjaan imam (sesudah imam memulai, baru makmum mengikutinya), dan pekerjaan imam lebih dahulu selesai daripada makmum (pendeknya, makmum harus mengikuti imam).
والاكمل من هذا أن يتأخر ابتداء فعل المأموم عن جميع حركة الامام، ولا يشرع حتى يصل الامام لحقيقة المنتقل إليه،
Adapun yang paling sempurna dari yang tersebut tadi ialah hendaklah awal pekerjaan makmum dikerjakan setelah selesai semua gerakan imam. Makmum tidak bergerak (berpindah) sebelum imam sampai pada pekerjaan yang dipindahinya.
فلا يهوي للركوع والسجود حتى يستوي الامام راكعا، أو تصل جبهته إلى المسجد.
Makmum tidak turun untuk rukuk atau sujud, sehingga imam sudah rata rukunya atau sudah meletakkan dahinya pada tempat sujud.
ولو قارنه بالتحرم أو تبين تأخر تحرم الامام لم تنعقد صلاته ولا بأس بإعادته التكبير سرا بنية ثانية إن لم يشعروا،
Apabila makmum menyamai imam saat takbiratul ihram atau takbiratul ihram imam tampak lebih akhir (daripada makmum), maka tidak sah shalat makmum. Tidak apa-apa imam yang mengulangi takbiratul ihramnya secara perlahan-lahan dengan niat kedua kalinya, kalau makmum tidak mengetahuinya.
ولا بالمقارنة في السلام
Bersamaan ketika salam tidak menjadi masalah (tetapi makruh hukumnya).
[Fathul Mu’in 1, hal. 406-407].

Wallahu a’lam.

Kesimpulan :
1. Makmum wajib mengikuti imam dalam gerakan yang nampak (dhahir) dan tidak wajib mengikuti gerakan yang tidak nampak (batin).
2. Disunnahkah bagi makmum untuk mengikuti gerakan imam setelah imam menyempurnakan satu gerakan.

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Ebook.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Ebook.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006

*Slawi, Februari 2011

IMAM BERUBAH MENJADI MAKMUM

IMAM BERUBAH MENJADI MAKMUM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Para Ulama sepakat bahwa seorang imam dalam shalat berjamaah bisa berubah menjadi makmum, jika imam utamanya hadir dalam shalat jamaah tersebut.

Imam Syafi’i berkata :
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ اَلسَّاعَدِيِّ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه ذَهَبَ إِلٰى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ. فَحَانَتِ الصَّلاَةُ. فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلٰى أَبِي بَكْرٍ. فَقَالَ:
أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ فَأُقِيْمَ؟ قاَلَ: نَعَمْ. قَالَ فَصَلَّى أَبُوْ بَكْرٍ. فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالنَّاسُ فِي الصَّلاَةِ. فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ. فَصَفَّقَ النَّاسُ. وَكَانَ أَبُوْ بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِي الصَّلاَةِ فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ اَلتَّصْفِيْقَ اِلْتَفَتَ فَرَأَى رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم. فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ اَمْكَثَ مَكَانَكَ. فَرَفَعَ أَبُوْ بَكْرٍ يَدَيْهِ. فَحَمِدَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلٰى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ ذٰلِكَ. ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُوْ بَكْرٍ حَتَّى اِسْتَوَى فِي الصَّفِّ. وَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى. ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ “ياَ أَباَ بَكْرٍ! مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ” قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: مَا كَانَ ِلاِبْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “مَالِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيْقَ؟ مَنْ ناَبَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ. فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ اِلْتَفَتَ إِلَيْهِ. وَإِنَّمَا التَّصْفِيْحُ لِلنِّسَاءِ
Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pergi kepada Bani Amr bin ’Auf untuk mendamaikan mereka, lalu waktu shalat tiba. Kemudian Muadzin datang kepada Abu Bakar dan berkata, ”Apakah engkau shalat bersama-sama orang banyak?”
Abu Bakar menjawab, ”Ya”
Lalu Abu Bakar mulai mengerjakan shalat, kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam datang, dan orang-orang masih dalam shalat. Lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyela shaf sehingga beliau berdiri dalam shaf (pertama). Kemudian orang-orang bertepuk tangan, namun Abu Bakar tidak juga menoleh. Tatkala banyak orang yang bertepuk tangan, Abu Bakarpun menoleh dan melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengisyaratkan kepada Abu Bakar agar tetap di tempatnya. Abu Bakar kemudian mengangkat tangannya, lalu ia memuji Allah sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepadanya. Kemudian ia mundur dan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam maju ke depan, lalu beliau mengerjakan shalat dengan orang banyak. Tatkala telah selesai, beliau berkata,
”Wahai Abu Bakar, apakah yang menghalangimu untuk tetap di tempatmu ketika aku menyuruhmu?” Abu Bakar menjawab, ”Tidaklah pantas bagi Ibnu Abu Qahafiah mengerjakan shalat di hadapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam” Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkata, ”Mengapa aku melihat kalian memperbanyak bertepuk tangan? Bagi siapa saja yang terjadi kesalahan dalam shalatnya, maka hendaklah ia bertasbih (membaca subhanallah). Karena apabila ia telah bertasbih, maka ia akan diperhatikan, dan bertepuk tangan itu hanya untuk kaum wanita” (HR. Bukhari No. 83).

Dari Aisyah, ia menuturkan,
‏‏مَرِضَ رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم فقال‏:‏ مروا أبا بكرٍ يصلي بالناس فخرج أبو بكرٍ يصلي فَوَجَدَ النبيُّ صلى اللَّه عليه وسلم في نفسهِ خِفَّةً فخرج يهادَيْ بين رجلينِ فَأَرَادَ أَبُوْ بكرٍ أن يَتَأَخَّرَ فَأَوْمَأَ إلَيْهِ النبيُّ صلى اللَّه عليه وسلم أن مَكَاَنَكَ ثم أَتَيَا بهِ حتى جلس إلى جَنْبِهِ عن يَسَارِ أبي بكرٍ وكان أبو بكرٍ يصلي قَائِمًا وكان رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يصلي قَاعِدًا يَقْتَدِي أبو بكر بصلاة رسولِ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم والناس بصلاة أبي بكر
”Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sakit, beliau berkata, ”Suruhlah Abu Bakar agar shalat mengimami orang-orang. Maka Abu Bakarpun keluar melaksanakan shalat (mengimami orang-orang). Lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam merasa agak baikan, maka beliaupun keluar dipapah oleh dua laki-laki. Maka Abu Bakar hendak mundur, namun NabiShallallaahu 'alaihi wa Sallam mengisyaratkan agar ia tetap di tempatnya. Kemudian kedua laki-laki itu memapah beliau hingga duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Saat itu Abu Bakar shalat sambil berdiri, sedangkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam shalat sambil duduk. Abu Bakar mengikuti shalatnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam , sementara orang-orang mengikuti shalatnya Abu Bakar” (HR. Bukhari 713, Muslim 418).
[Lihat Bulughul Maram, hadits no. 434.]

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
والحديث يدل على ما بوب له المصنف من جواز انتقال الإمام مأمومًا إذا استخلف فحضر مستخلفه وادعى ابن عبد البر أن ذلك من خصائص النبي صلى اللَّه عليه وسلم وادعى الإجماع على عدم جواز ذلك لغيره ونوقض أن الخلاف
Hadits ini menunjukkan bolehnya imam berubah menjadi makmum bila ia sebagai imam pengganti, lalu orang yang telah menunjuknya datang. Ibnu Abdil Barr menyatakan bahwa hal ini merupakan kekhususan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, iapun menyatakan adanya ijma’. Namun menurut kami, bahwa dalam masalah ini masih ada perbedaan pendapat.

Selanjutnya Asy-Syaukani berkata :
Beberapa faidah yang dapat disimpulkan dari hadits di atas diantaranya : Berjalan dari satu shaf ke shaf berikutnya tidak membatalkan; Memuji Allah karena terjadinya suatu kejadian yang disyukuri dan mengingatkan imam dengan bacaan tasbih hukumnya boleh; Menunjuk pengganti untuk mengimami shalat hukumnya boleh, caranya dengan menunjuk berdasarkan keutamaan.
Faidah lainnya : Bolehnya melakukan sebagian shalat sebagai imam dan sebagian lainnya sebagai makmum; Bolehnya mengangkat kedua tangan di dalam shalat ketika berdoa memuji Allah; Bolehnya menoleh bila diperlukan; Bolehnya memberi isyarat kepada orang yang shalat; Bolehnya bertahmid dan bersyukur karena kenikmatan agama; Bolehnya orang yang kurang utama mengimami yang lebih utama; Bolehnya melakukan sedikit gerakan di dalam shalat bila diperluka.
[Nailul Authar 1, hal. 742].

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam menjelaskan hadits dari Aisyah di atas :
هكذا في رواية البخاري في "باب الرجل يأتم بالإمام" تعيين مكان جلوسه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم وأنه عن يسار أبي بكر، وهذا هو مقام الإمام. ووقع في البخاري في "باب حد المريض أن يشهد الجماعة" بلفظ "جلس إلى جنبه" ولم يعين فيه محل جلوسه، لكن قال المصنف: إنه عين المحل في رواية بإسناد حسين "أنه عن يساره" قلت: حيث قد ثبت في الصحيح في بعض رواياته فهي تبين ما أجمل في أخرى، وبه يتضح أنه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم كان إماماً
Demikian yang terdapat dalam riwayat Al-Bukhari pada bab ’Seseorang mengikuti imamnya’. Di dini dijelaskan tempat duduknya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yaitu disamping kiri Abu Bakar dan inilah tempat imam, dan terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dalam bab ’Batasan orang yang sakit untuk menghadiri jamaah’ dengan lafadz, ”Beliau duduk di sisi Abu Bakar”, tidak dijelaskan tempat duduknya. Akan tetapi pengarang (Ibnu Hajar) berkata, ”Sesungguhnya telah dipastikan tempat duduk beliau di dalam riwayat dengan sanad yang hasan yaitu beliau duduk di samping kiri Abu Bakar” Aku berkata, ”Bahkan di dalam beberapa riwayat telah sampai kepada derajat yang shahih yaitu penentuan riwayat-riwayat yang saling membaguskan yang lainnya. Dengan demikian jelaslah bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menjadi imam.
[Subulussalam 1, hal. 635].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
يجوز الإمام أن ينتقل مأموما إذا استحلف فحضر الإمام الراتب, لحديث الشيخين عن سهل بن سعد
Seorang imam diperbolehkan berpindah niat menjadi makmum apabila kedudukannya sebagai wakil imam tetap. Misalnya, ketika seorang wakil imam (imam pengganti) tengaj mengimami, tiba-tiba imam tetap datang, iapun boleh mundur dan mempersilahkan imam tetap untuk mengimami. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahal bin Said.
[Fiqih Sunnah 1, hal. 343].

Wallahu a’lam

Sumber Rujukan :
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Ebook.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Ebook.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006

*Slawi, Februari 2011

Rabu, 09 Februari 2011

MUNFARID BERUBAH MENJADI IMAM

MUNFARID BERUBAH MENJADI IMAM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Para ulama sepakat bahwa seseorang yang shalat sendirian bisa berubah status menjadi imam jika ada makmum yang mengikutinya, baik makmumnya seorang atau beberapa orang.

Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm :
وإذا افتتح الرجل الصلاة لنفسه لا ينوي أن يؤم أحدا فجاءت جماعة أو واحد فصلوا بصلاته فصلاته مجزئه عنهم وهو لهم إمام ولا فرق بينه وبين الرجل ينوي أن يصلى لهم ولو لم يجز هذا لرجل لم يجز أن ينوى إمامة رجل أو نفر قليل بأعيانهم لا ينوي إمامة غيرهم ويأتى قوم كثيرون فيصلون معهم ولكن كل هذا جائز إن شاء الله تعالى
Apabila seseorang memulai shalat untuk dirinya sendiri dimana ia tidak berniat mengimami orang lain, lalu datang suatu rombongan atau seseorang yang kemudian bermakmum pada orang tadi, maka shalat orang itu memadai (dianggap sah) bagi mereka, dan dia menjadi imam bagi mereka, tidak ada perbedaan antara dia dan seseorang yang sejak awal telah berniat untuk menjadi imam. Apabila hal ini tidak dianggap sah (mencukipi), maka tentu tidak sah pula shalat seseorang yang berniat menjadi imam bagi satu orang atau beberapa orang, lalu datang rombongan lain dan shalat bermakmum pada orang itu. Bahkan, semua itu dianggap sah, insya Allah.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 225].

Hadits-hadits dalam kitab Al-Muntaqa :
Dari Anas, dia menuturkan,
‏‏كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يصلي في رمضان فَجِئْتُ فَقُمْتُ خَلْفَهُ وقام رجلٌ فقام إلى جَنْبِيْ ثم جاء آخَرُ حتى كُنَّا رَهْطًا فلما أَحَسَّ رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم أَنَّا خَلْفَهُ تَجَوَّزَ في صلاتهِ ثم قام فدخل مَنْزِلَهُ فصلَّى صلاة لم يُصَلَّهَا عندنا فلما أَصْبَحْنَا قلنا‏:‏ يا رسولَ اللَّه أَفَطِنْتَ بِنَا اللَّيْلَةَ قال‏:‏ نعم فذلك الذي حَمَلَنِي على الذى صَنَعْتُ
"Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, shalat di bulan Ramadhan, kemudian aku datang dan aku berdiri di sampingnya, kemudian datang yang lain, kemudian yang lain lagi, sehingga waktu itu kami menjadi kelompok (berjumlah lebih kurang 10 orang). Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa bahwasanya kami berada di belakangnya, beliau meringkas shalatnya, kemudian masuk rumahnya. Ketika beliau masuk rumahnya, beliau mengerjakan shalat yang tidak dikerjakannya bersama kami. Ketika kami masuk waktu pagi, kami bertanya : Ya Rasulullah ! Apakah engkau tidak mengetahui kami tadi malam?. Beliau menjawab: "Ya, justru itulah yang mendorongku untuk melakukan apa yang aku perbuat".
[Diriwayatkan oleh Ahmad III : 199, 212 dan 291, juga Ibnu Nashr halaman 89, keduanya dengan sanad yang SHAHIH. Demikian juga Thabrani meriwayatkan hadits ini dalam Al-Aushath dan Al-Jam'u III : 173]

Dari Busr bin Sa’id dari Zaid bin Tsabit :
أنَّ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم اِتَّخَذَ حُجْرَةً قال‏:‏ حَسِبْتُ أنه قال مِنْ حَصِيْرٍ في رمضانَ فصلَّى فيها لَيَالِيَ فصلَّى بصلاتهِ ناسٌ مِنْ أصحابهِ فلما عَلِمَ بِهِمْ جعل يَقْعُدُ فخرج إليهم فقال‏:‏ قد عَرَفْتُ الذي رأيتُ من صَنِيْعِكُمْ فصلوا أيها الناسُ في بيوتكم فإنَّ أفضلَ الصلاةِ صلاةُ الْمَرْءِ في بيتهِ إِلَّا الْمَكْتُوْبَةَ
Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membuat suatu kamar –Ia mengatakan, ’Aku kira ia mengatakan, ’dari tikar’” – pada malam Ramadhan, lalu beliau shalat di dalamnya selama beberapa malam, maka beberapa orang sahabatnya mengikuti shalat beliau. Ketika beliaun tahu mereka mengikutinya, beliau duduk, kemudian keluar menemui mereka, lalu bersabda, ”Aku mengerti apa yang telah aku lihat dari perbuatan kalian. Eahai manusia, shalatlah di rumah kalian. Karena sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang di rumahnya kecuali shalat fardhu’” (HR. Al-Bukhari).

Dari Aisyah :
‏‏أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كان يصلي في حجرته وجدار الحجرة قصير فرأى الناس شخص رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم فقام ناس يصلون بصلاته فأصبحوا فتحدثوا فقام رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يصلي الليلة الثانية فقام ناس يصلون بصلاته
Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di dalam kamarnya, sementara dinding kamar beliau pendek. Maka orang-orang bisa melihat beliau. Keesokan harinya mereka sama membicarakan hal itu, kemudian pada malam keduanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun shalat, lalu orang-orang pun mengikuti shalat beliau” (HR. Bukhari)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
والأحاديث المذكورة تدل على ما بوب له المصنف رحمه اللَّه من جواز انتقال المنفرد إمامًا في النوافل وكذلك في غيرها لعدم الفارق‏.‏ وقد قدمنا الخلاف في ذلك في باب انعقاد الجماعة باثنين‏.‏ وقد استدل البخاري في صحيحه بحديث عائشة المذكور على جواز أن يكون بين الإمام وبين القوم المؤتمين به حائط أو سترة
Hadits-hadits di atas menunjukkan bolehnya orang yang shalat sendirian berubah niat menjadi imam dalam shalat sunnah. Demikian juga dalam shalat lainnya, karena tidak adanya yang membedakan.
Sementara itu, Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya berdalih dengan hadits Aisyah mengenai bolehnya ada dinding atau pembatas antara imam dan para makmumnya.
[Nailul Authar 1, hal. 738].

Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
فإن لم ينو، ولو لعدم علمه بالمقتدين، حصل لهم الفضل دونه، وإن نواه في الاثناء، حصل له الفضل من حينئذ، أما في الجمعة فتلزمه مع التحرم
Apabila seseorang tidak berniat menjadi imam, karena ia tidak mengetahui ada orang yang bermakmum kepadanya, maka makmum mendapat pahala, namun imam tidak mendapat pahala (sebab tidak berniat). Apabila seseorang berniat menjadi imam pada pertengahan shalatnya, ia mendapat pahala sejak niatnya itu. Adapun berniat menjadi imam pada shalat jum’at, wajib beserta takbiratul ihram.
[Fathul Mu’in 1, hal. 382].

Catatan : Pada uraian di atas tidak ada keterangan bahwa orang yang mau bermakmum pada orang yang shalat sendirian (munfarid) menepuk punggungnya terlebih dahulu.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Imam Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, Ebook.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006

*Slawi, Februari 2011

Selasa, 08 Februari 2011

MAKMUM MEMISAHKAN DIRI DARI IMAM

MAKMUM MEMISAHKAN DIRI DARI IMAM
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam.
Shalat jamaah adalah ibadah yang sangat utama. Karena begitu besar keutamaan shalat jamaah, maka bagi orang yang mendapati shalat jamaah di masjid dianjurkan untuk mengikuti shalat jamaah meskipun dia sudah melakukan shalat sebelumnya. Meskipun demikian seorang Imam shalat jama’ah harus bijaksana untuk tidak memanjangkan bacaan shalatnya, karena diantara makmumnya mungkin ada yang mempunyai kebutuhan yang sangat mendesak.
Makmum boleh memisahkan diri dari shalat imam, jika shalat imam terlalu panjang dan makmum mempunyai keperluan yang sangat mendesak.

Sayyid Sabiq berkata :
يجوز لمن دخل الصلاة مَعَ اْلامَامِ ان يخرج منها بنية المفارقة ويتمها وحده إذا أطال اْلامَامِ الصلاة. ويلحق بهذه الصورة حدوث مرض او خوف ضياع مال أو تلفه أو فوات رفقة أو حصول غلبة نوم, ونحو ذلك. لما روه الجماعة عن جابر قال :
كان معاذُ يصلِّى مَعَ رسولِ اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم صلاة ُالعشاءِ ثم يرجعُ إلى قومه فَيَؤُمُّهُمْ, فَأَخَّرَ النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم العشاءَ فصلَّى معهُ ثم رجع إلى قومه فقرأ سورةَ البقرةِ فَتَأَخَّرَ رجلٌ فصلَّى وَحْدَهُ فقيل له : نَافَقْتَ يَافٌلَانُ, قال : ما نَافَقْتُ, ولكنَّ لَاَتِيَنَّ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم فَأُخْبِرُهُ, فأتى النبيَّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم فَذَكَرَلَهُ ذلك فقال : "أَفَتَانٌ أَنْتَ يا معاذُ... أَفَتَانٌ أَنْتَ يا معاذُ...إقرأْ سورةَ كذا وكذا"
Seorang yang semula bermakmum kepada seorang imam, ia boleh memisakan diri dari imam tersebut dengan niat berpisah lalu hendaklah ia menyempurnakan sendiri rukun-rukun shalat yang masih tertinggal. Misalnya, apabila imam terlampau panjang membaca ayat dalam shalatnya, ia boleh bertindak demikian. Dalam hal ini termasuk pula seorang makmum yang tiba-tiba merasa sakit, takut hilang atau rusaknya sesuatu yang dimiliki, takut tertinggal dari rombongan, terasa mengantuk atau sebab-sebab lain yang mendesak. Ini berdasarkan hadits dari Jabir.
Jabir bin Abdullah al-Anshari berkata, "Mu'adz bin Jabal pernah shalat isya bersama Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam. Setelah itu dia pulang dan mengimami kaumnya shalat itu. Pada suatu malam Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam mengundurkan shalat isya, tetapi Muadz tetap mengerjakan shalat bersama Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam. Setelah itu Muadz kembali pulang kepada kaumnya lalu mengerjakan shalat bersama mereka dengan membaca surah al-Baqarah. Tiba-tiba ada seorang yang mundur dan mengerjakan shalat sendirian. Setelah orang-orang selesai mengerjakan shalat, ada diantara mereka yang berkata kepada yang memisahkan diri tadi, ’Hai Fulan, Sesungguhnya engkau ini orang munafik.' Orang itu berkata, ’Bukan, aku bukan munafik! Hal ini akan aku laporkan kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam’. Benarlah iapun menghadap Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam. Ahirnya Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ’Apakah engkau tukang fitnah hai Muadz? Apakah engkau tukang fitnah hai Muadz? Baca saja surat ini atau itu’” (HR. Jama’ah)
[Fiqih Sunnah 1, hal. 351; lihat Musnad Syafi’i 1, hal. 226]

Dari Anas bin Malik, ia menuturkan,
كان معاذُ بنُ جبلٍ يَؤُمُّ قومهُ فدخل حرامٌ وهو يريدُ أن يَسْقِيَ نَخْلَهُ فدخل المسجدَ لِيُصَلِّيَ مع القومِ فلما رأى معاذًا طَوَّلَ تَجَوَّزَ في صلاته وَلَحِقَ بِنَخْلِهِ يَسْقِيْهِ فلما قضى معاذُ الصلاةَ قيل له ذلك قال‏:‏ إنه لَمُنَافِقٌ أَيَعْجَلُ عن الصلاةِ من أَجْلِ سَقْيِ نَخْلَهُ قال‏:‏ فَجَاءَ حرامٌ إلى النبيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم ومعاذٌ عِنْدَهُ فقال‏:‏ يا نبي اللَّه إني أَرَدْتُ أن أَسْقِيَ نَخْلًا لي فَدَخَلْتُ الْمسجدَ لِأُصَلِّيَ مع القومِ فلما طَوَّلَ تَجَوَّزَ في صلاتي وَلَحِقْتُ بِنَخْلِيْ أَسْقِيْهِ فَزَعَمَ أَنِّي مُنَافِقٌ فَأَقْبَلَ النبيُّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم على معاذٍ فقال‏:‏ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ؟ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ؟ لا تُطَوَّلْ بِهِمْ اقرأ بسبح اسم ربك الأعلى والشمس وضحاها وَنَحْوِهِمَا‏
“Adalah Muadz ibn jabal mengimami kaumnya, dimana si Haram yang bermaksud hendak menyiram pohon kurmanya, lebih dahulu masuk masjid bersama-sama kaumnya. Setelah ia melihat Mu’adz memanjangkan bacaannya, maka iapun mempercepat shalatnya dan mendatangi pohon kurmanya untuk menyiramnya. Setelah Mu’adz selesai mengerjakan shalatnya, halnya si Haram itu disampaikan kepadanya. Maka Mu’adzpun berkata bahwa ia seorang munafik “Adakah ia mempercepat shalat hanya karena akan menyiram pohon kurmanya?”.
Anas melanjutkan, “Maka si Harampun menghadap Nabi saw dan ketika itu Muadzpun berada di dekat Nabi. Maka Haram berkata, “Wahai Nabi Allah, aku bermaksud hendak menyiram pohon kurmaku, maka aku masuk masjid untuk shalat berjamaah. Setelah kujumpai Mu’adz yang menjadi imam memanjangkan bacaan Qur’annya, aku lalu mempercepat shalatku dan setelah selesai aku menengok pohon kurmaku untuk menyiramnya. Tiba-tiba Muadz itu menuduh aku seorang munafik. Maka Nabi lalu memandang kepada Muadz seraya sabdanya, “Adakah engkau menjadi tukang fitnah? Adakah engkau menjadi tukang fitnah? Janganlah kamu perpanjang membaca surat Qur’an di waktu menjadi imam orang banyak. Bacalah surat “Sabbihisma rabbikal a’la-“ dan “Wasy syamsi Wadhuha-ha-“ atau surat yang sesamanya.
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal dalam kitab Musnadnya, bab Baqiy Musnad al-Muksirin, no. 11799 dengan sanad hadis berkualitas sahih.

Dari Buraidah Al-Aslami :
‏‏أن معاذ بن جبل صلى بأصحابه العشاء فقرأ فيها اقتربت الساعة فقام رجل من قبل أن يفرغ فصلى وذهب فقال له معاذ قولًا شديدًا فأتى النبي صلى اللَّه عليه وسلم فاعتذر إليه وقال‏:‏ إني كنت أعمل في نخل وخفت على الماء فقال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يعني لمعاذ‏:‏ صلِ بالشمس وضحاها ونحوها من السور‏
Bahwasanya Muadz bin Jabbal mengimami shalat Isya bagi para sahabatnya, lalu ia membaca iqtarabatis sana’ah (Surah Al-Qomar), kemudian seorang laki-laki keluar sebelum selesai lalu shalat (sendiri) kemudian pergi. (Mengetahui hal ini) Muadz mengatakan perkataan yang kasar mengenainya. Lalu laki-laki itu menemui Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam dan menyampaikan alas an kepada beliau, ia mengatakan, “Sesungguhnya aku bekerja di kebun kurma, dan aku khawatir terhadap airnya” Maka Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam berkata (kepada Muadz) : ‘Shalatlah dengan membaca Wasy syamsi Wadhuha-ha dan surah-surah yang setara dengan itu’” (HR. Ahmad dengan sanad sahih).

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Di dalam Al-Fath, Al-Hafidz Ibnu hajar menilai kuatnya hadits Buraidah, namun ia mengatakan, “Ini riwayat yang janggal”. Untuk memadukannya adalah dengan memperkirakan bahwa peristiwanya tidak hanya sekali, atau jika tidak mungkin disimpulkan dari kedua hadits itu, maka dengan menilai bahwa hadits yang terdapat di dalam Ash-Shahihain lebih kuat.
[Nailul Authar 1, hal. 736].

Wallahu a’lam

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Syekh Muhammad Abid As-Sindi, Musnad Syafi’i , Sinar Baru Algesindo, 2006.

*Slawi, Februari 2011

IMAM MERINGANKAN SHALAT

IMAM MERINGANKAN SHALAT
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam.
Shalat jamaah adalah ibadah yang sangat utama. Karena begitu besar keutamaan shalat jamaah, maka bagi orang yang mendapati shalat jamaah di masjid dianjurkan untuk mengikuti shalat jamaah meskipun dia sudah melakukan shalat sebelumnya. Meskipun demikian seorang Imam shalat jama’ah harus bijaksana untuk tidak memanjangkan bacaan shalatnya, karena diantara makmumnya mungkin ada yang mempunyai kebutuhan yang sangat mendesak.

Hadits-hadits dalam kitab Al-Muntaqa :
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda
إذَا صَلَّى أحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيْهِمُ الضَّعِيْفَ وَالسَّقِيْمَ وَالْكَبِيْرَ فإذا صلى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ‏
,“Jika salah seorang diantara kalian mengimami orang-orang, maka hendaklah ia meringankan (shalat) karena diantara mereka terdapat orang yang lemah, orang yang sakit dan orang yang sudah lanjut usia. Tapi jika ia shalat sendirian maka ia boleh memanjangkan sekehendaknya” (HR, Jamaah kecuali Ibnu Majah).

Dari Anas, dia berkata,
كان النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم يُؤْخِرُ الصَّلَاةَ وَيُكَمِّلُهَا‏.‏ وفي رواية‏:‏ ‏‏مَا صَلَّيْتُ خَلْفَ إِمَامٍ قَطٌّ أَخَفَّ صَلَاةً وَلَا أَتَمَّ صَلَاةً مِنَ النبي صلى اللَّه عليه وسلم‏
Bahwasanya Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam mempersingkat (memperingan) shalat dan menyempurnakannya”
Dalam riwayat lain, “Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam yang shalatnya lebih ringan dan lebih sempurna daripada shalatnya Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam” (Muttafaq ‘alaih).

Dari Anas, Dari Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabdal
عَنِ النبيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ إني لَأَدْخُلُ في الصلاةِ وأنا أُرِيْدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ في صلاتي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ‏
”Sungguh aku memasuki shalat dan ingin menyempurnakannya, kemudian aku mendengar tangisan bayi, maka aku percepat karena aku mengetahui perasaan ibunya yang sangat pilu karena tangisannya,” (HR. Jama’ah kecuali Abu Daud dan An-Nasa’i)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
وأحاديث الباب تدل على مشروعية التخفيف للأئمة وترك التطويل للعلل المذكورة من الضعف والسقم والكبر والحاجة واشتغال خاطر أم الصبي ببكائه ويلحق بها ما كان فيه معناها‏.‏
قال أبو عمر ابن عبد البر‏:‏ التخفيف لكل إمام أمر مجمع عليه مندوب عند العلماء إليه إلا أن ذلك إنما هو أقل الكمال‏.‏ وأما الحذف والنقصان فلا لأن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قد نهى عن نقر الغراب ورأى رجلًا يصلي فلم يتم ركوعه فقال له‏:‏ ارجع فصل فإنك لم تصل وقال‏:‏ لا ينظر اللَّه إلى من لا يقيم صلبه في ركوعه وسجوده

Hadits-hadits di atas menunjukkan disyariatkannya meringankan shalat bagi imam dan tidak memperpanjangnya karena alasan-alasan tersebut, yaitu adanya orang yang lemah, orang yang sakit, orang yang sudah lanjut usia, orang yang mempunyai keperluan mendesak, gangguan konsentrasi seorang ibu karena tangisan anaknya dan hal-hal lain yang semakna.
Abu Umar bin Abdil Barr mengatakan : Meringankan shalat bagi setiap imam adalah perkara yang telah disepakati, dan hukumnya sunnah menurut para ulama. Hanya saja dalam hal ini, batasannya adalah batas minimal kesempurnaan. Adapun menghilangkan atau mengurangi, maka tidak termasuk katagori meringankan, karena Raulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam melarang shalat seperti mematuknya burung gagak, yaitu ketika beliau melihat seorang laki-laki yang shalat dengan tidak menyempurnakan rukunya, beliau berkata kepadanya, ”Kembalilah dan shalat lagi, karena sesungguhnya engkau belum shalat”. Beliau juga telah bersabda, ”Allah tidak akan memandang kepada orang yang tidak meluruskan tulang punggungnya di dalam ruku dan sujudnya”
[Nailul Authar 1, hal. 728].

Dari Jabir radhiyallahu 'anhuma, dia berkata:
صَلىَّ مُعَاذٌ بِأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ: أَتُرِيْدُ أَنْ تَكُونَ يَا مُعَاذُ فَتَّانًا؟ إِذَا أَمَّمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَ سَبِحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَ اقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ وَ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
“Mu’adz mengimami shalat Isya bagi para sahabatnya, lalu dia memanjangkan (shalat) hingga memberatkan mereka. Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‘Apakah engkau ingin menjadi orang yang menimbulkan fitnah, wahai Mu’adz? Apabila engkau mengimami orang-orang, bacalah Wasy-syamsi wa dhuhaha, atau Sabbihisma rabbikal a’la, atau Iqra` bismi rabbika, atau Wal-laili idza yaghsya’.” (HR. Muslim 465, Bukhari 705)
[Bulughul Maram, hadits 269]

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
والحديث دليل على صحة صلاة المفترض خلف المتنفل فإن معاذاً كان يصلي فريضة العشاء معه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم ثم يذهب إلى أصحابه فيصليها بهم نفلاً. وقد أخرج عبد الرزاق والشافعي والطحاوي من حديث جابر بسند صحيح وفيه "هي له تطوع"
والحديث أفاد أنه يخفف الإمام في قراءته وصلاته وقد عين صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم مقدار القراءة ويأتي حديث "إذا أمّ أحدكم الناس فليخفف
Hadits ini menjadi dalil sahnya shalat fardhu di belakang orang yang shalat sunnah. Sesungguhnya Muadz shalat Isya bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian setelah selesai ia pergi menjumpai sahabat-sahabatnya dan dhalat –fardhu- bersama mereka, sedang shalat yang ia lakukan dianggap sunnah, karena ia telah shalat fardhu bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Abdurrazaq, Asy-Syafi’i dan Ath-Thahawi mengeluarkan hadits jabir dengan sanad yang sahih dengan lafadz, “Dan shalat itu menjadi sunnah baginya”
Hadits ini memberikan faedah bahwa seorang imam harus meringankan bacaannya dalam shalatnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menentukan ukuran bacaan.
[Subulussalam 1, hal. 634; lihat Musnad Syafi’i 1, hal. 230].

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ اَلنَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ, فَإِنَّ فِيهِمْ اَلصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا اَلْحَاجَةِ, فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ
"Apabila seorang di antara kamu mengimami orang-orang maka hendaknya ia memperpendek sholatnya, karena sesungguhnya di antara mereka ada yang kecil, besar, lemah, dan yang mempunyai keperluan. Bila is sholat sendiri, maka ia boleh sholat sekehendaknya." Muttafaq Alaihi.
[Bulughul Maram, hadits 271]

Imam Ash-Shan’ani berkata :
وفيه دليل على جواز تطويل المنفرد للصلاة في جميع أركانها ولو خشي خروج الوقت، وصححه بعض الشافعية، ولكنه معارض بحديث أبي قتادة "إنما التفريط أن تؤخر الصلاة حتى يدخل وقت الأخرى"
Hadits ini menunjukkan dibolehkannya orang yang shalat sendiri memanjangkan shalat di setiap rukunnya, walaupun ia khawatir akan keluar dari waktunya. Pendapat ini didukung oleh sebagian Asy-Syafi’iyah, tetapi ini bertentangan dengan hadits Abu Qatadah, “Sesungguhnya termasuk sikap yang berlebihan adalah mengahirkan shalat sampai masuk waktu shalat yang lain” (HR. Muslim 681).
[Subulussalam 1, hal. 638].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
قال أبو عمر بن عبد البر : التحفيف لكل إمام أمر مجمع عليه مندوت عند العلماء إليه إلا أن ذلك إنما هو أقل الكمال . وأما الحذ ف والنقصان فلا, فإن رسول الله صلى اللَّه عليه وآله وسلم قد نهى عن نقر الغراب. ورأى رجلا يصلى فلم يتم ركوعه فقال له : "إرجع فصل فإنك لم تصل" وقال : "لا ينظر الله إلى من لا يقيم صلبه فى ركوعه وسجوده". ثم قال : لا أعلم خلافا بين أهل العلم فى استحباب التحفيف لكل من أم قوما على ماشرطنا من الإتمام, فقد روي عمر أنه قال : لا تبغضوا الله إلى عباده, يطول أحدكم فى صلاته حتى يشق على من خلفه
Umar bin Abdul Bar mengatakan, ”Meringankan shalat bagi seorang imam merupakan persoalan yang telah disepakati para ulama, bahkan disunnahkan, tetapi dengan syarat bahwa imam tidak mengurangi atau membuang kesempurnaan yang minimal dalam shalat. Jika imam sampai mengurangi kesempurnaan minimal shalat, perkara semacam ini tidak boleh dilakukan sebab Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam melarang mengerjakan shalat seperti seekor burung gagak terhadap makanannya. Hal ini pernah terjadi ketika beliau melihat seseorang mengerjakan shalat dengan ruku yang tidak sempurna. Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Ulangilah shalatmu itu! Sebab dengan cara seperti itu, sebenarnya engkau belum shalat,” Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda lagi, ”Allah tidak akan peduli terhadap shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang rusuknya pada saat ruku’ atau sujud”.
Aku belum pernah mendengar pendapat yang menegaskan bahwa ada seorang ulama yang memperselisihkan masalah hukum sunnah meringankan shalat bagi seorang imam, tetapi dengan syarat kesempurnaan minimal pelaksanaan shalat tetap dijaga dan dipelihara”
Diriwayatkan pula dari Umar, ”Janganlah kamu melakukan perbuatan yang menyebabkan Allah benci terhadap hambaNya, yaitu dengan memanjangkan shalat sehingga terasa berat bagi para makmum di belakang”
[Fiqih Sunnah 1, hal. 340].

Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
وكره له تطويل، وإن قصد لحوق آخرين. ولو رأى مصل نحو حريق خفف، وهل يلزم أم لا ؟ وجهان، والذي يتجه أنه يلزمه لانقاذ حيوان محترم، ويجوز له لانقاذ نحو مال كذلك،
Imam dimakruhkan melamakan shalatnya, walaupun dengan maksud agar jamaah yang lain dapat menyamainya. Apabila seseorang yang shalat melihat kebakaran, maka ringkaskanlah shalatnya. Apakah meringankan itu wajib atau tidak? Hukumnya ada dua jalan. Adapun yang berlaku adalah wajib meringankannya untuk menyelamatkan hewan yang dimuliakan (oleh syara’). Boleh juga meringankan shalat untuk menyelamatkan harta benda (menjaga kerusakan).
ومن رأى حيوانا محترما يقصده ظالم أو يغرق لزمه تخليصه وتأخير صلاة، أو إبطالها إن كان فيها، أو مالا جاز له ذلك. وكره له تركه. وكره ابتداء نفل بعد شروع المقيم في الاقامة، ولو بغير إذن الامام، فإن كان فيه أتمه، إن لم يخش بإتمامه فوت جماعة، وإلا قطعه ندبا ودخل فيها، ما لم يرج جماعة أخرى
Barangsiapa yang melihat hewan yang dimuliakan akan disakiti atau diambil oleh orang zalim (pencuri dan sebagainya), atau tenggelam, maka wajib menyelamatkannya dan mengakhiri shalat atau membatalkan shalatnya, kalau ia sedang shalat. Atau melihat harta (yang akan dirusak atau dicuri dan sebagainya) maka orang itu boleh menyelamatkannya dengan cara yang tersebut tadi, dan makruh bagi yang melihat kejadian itu bila tidak berusaha menyelamatkannya.
[Fathul Mu’in 1, hal/ 372].

Wallahu a’lam

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Syekh Muhammad Abid As-Sindi, Musnad Syafi’i , Sinar Baru Algesindo, 2006.

*Slawi, Februari 2011

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...