Minggu, 06 Februari 2011

SHALAT BERJAMAAH BAGI WANITA

SHALAT BERJAMAAH BAGI WANITA
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Shalat berjamaah di masjid sangat dianjurkan bagi kaum laki-laki, namun tidak dianjurkan bagi kaum wanita. Uraian berikut ini membahas tentang shalat jamaah bagi wanita dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

Kehadiran Wanita untuk Shalat Berjamaah di Masjid
Hadits-hadits dalam kitab Al-Muntaqa :
Dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda,
إذا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوْا لَهُنَّ
“Bila istri-istri kalian meminta izin kepada kalian di malam hari untuk pergi ke masjid, maka berilah mereka izin” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah).

Dalam lafadz lain :
لَا تَمْنَعُوا النِّسَاءَ أنْ يَخْرُجْنَ إِلَى الْمَسَاجِدِ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Jangan kalian melarang para wanita untuk pergi ke masjid, walaupun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
لَا تَمْنَعُوْا إمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلْيَخْرُجْنَ تَفِلَاتٍ
“Janganlah kamu melarang wanita-wanita itu datang ke masjid-masjid Allah. Jika mereka hendak ke masjid hendaklah mereka itu keluar tanpa memakai wangi-wangian” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
أَيُّماَ امْرَأَةٌ أَصَابَتْ بُخُوْرًا، فَلاَ تَشْهَدْ مَعَناَ الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ
“Perempuan manapun yang memakai minyak wangi-wangian, maka jaganlah ia ikut mengerjakan shalat isya’ bersama kami” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i dengan sanad yang hasan)

Dari Ummu Salamah, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
خَيْرٌ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوْتِهِنَّ
”Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) dari rumahnya” (HR. Ahmad)

Dari Yahya bin Sa’id, dari Umrah, dari Aisyah, ia berkata,
لَوْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ. كَمَا مُنَعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ. قَالَ فَقُلْتُ لِعَمْرَةَ: أَنِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ مُنِعْنَ الْمَسْجِدَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ.
Seandainya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melihat apa yang diperbuat wanita saat ini, tentu beliau melarang mereka pergi ke mesjid, seperti dilarangnya wanita Bani Israel. Yahya berkata: Aku bertanya kepada Amrah: Apakah wanita Bani Israel dilarang pergi ke mesjid (tempat ibadah mereka)? Ia menjawab: Ya. (Muttafaq ‘alaih)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
Sabda beliau (Bila istri-istri kalian meminta izin kepada kalian di malam hari untuk pergi ke masjid, maka berilah mereka izin)
Dikhususkannya penyebutan malam hari, karena biasanya tertutup dengan kegelapan. Sedangkan lebih utamanya kaum wanita shalat di rumah adalah karena lebih terjaga dari fitnah.
Sabda beliau (Dan hendaklah mereka itu keluar tanpa memakai wangi-wangian) Termasuk dalam katagori ath-thib adalah semua yang semakna dengannya, yaitu yang bisa membangkitkan syahwat, seperti : pakaian indah, mengenakan perhiasan, bersolek; karena aromanya, perhiasannya, bentuknya dan penampilannya yang menampakkan keindahannya adalah fitnah bagi wanita, dan fitnah bagi laki-laki terhadapnya.
[Nailul Authar 1, hal. 721]

Syekh Muhammad Abid As-Sindi dalam kitab Musnad Syafi’i berkata :
Al-Imaa-a, bentuk jamak dari amatun. Makna asalnya adalah hamba wanita, tetapi makna yang dimaksud dalam hadits ini ialah wanita. Janganlah kalian mencegah kaum wanita pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah.
[Musnad Syafi’i 1, hal. 224].

Sayyid Sabiq berkata :
يجوز للنساء الخروج إلى المسجد وشهود بشرط أن يتجنين مايشير الشهوة ويجعو إلى الفتنة من الزينة والطيب
Sebenarnya kaum wanita diperbolehkan datang ke masjid untuk mengikuti shalat jamaah, dengan syarat harus menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya syahwat ataupun fitnah, baik karena perhiasan maupun karena harum-haruman yang digunakan.

والافضل لهن الصلاة في بيوتهن لما رواه احمد والطبرانى عن ام حميد الساعدية انها جاءت الى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فقالت : يا رَسُوْلَ اللهِ إنى اَحَبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : قَدْ عَلِمْتُ , وَصَلَاتِكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صلَاتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ , وصَلَاتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ
Kaum wanita lebih utama mengerjakan shalat di rumah saja. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani dari Ummu Humaid as-Sa’diyah,
Ia datang menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata, “Ya Rasulullah, aku suka sekali mengerjakan shalat bersamamu” Beliaupun menjawab, “Aku tahu hal itu, tetapi shalatmu di rumahmu adalah lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Adapun shalatmu di masjid kaummu adalah lebih baik daripada shalatmu di masjid umum”
[Fiqih Sunnah 1, hal. 337-338]

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
ولا يتأكد الندب للنساء تأكده للرجال، فلذلك يكره تركها لهم، لا لهن.
Bagi kaum wanita, berjamaah tidak merupakan sunnah muakkad, tidak seperti laki-laki.. Kaum laki-laki makruh meninggalkan berjamaah, sedangkan bagi kaum wanita tidaklah makruh.
[Fathul Mu’in 1, hal. 359].

Wanita Mengimami Kaum Laki-laki
Imam Syafi’i berkata :
وإذا صلت المرأة برجال ونساء وصبيان ذكور فصلاة النساء مجزئة وصلاة الرجال والصبيان الذكور غير مجزئة لأن الله عز وجل جعل الرجال قوامين على النساء وقصرهن عن أن يكن أولياء وغير ذلك ولا يجوز أن تكون امرأة إمام رجل في صلاة بحال أبدا
Apabila seorang wanita menjadi imam kaum laki-laki, kaum wanita, dan sekelompok anak laki-laki, maka shalat kaum wanita itu sah namun shalat kaum laki-laki dan sekelompok anak laki-laki menjadi tidak sah, karena Allah Subhanahu wata’ala telah menjadikan kaum laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum wanita, maka tidak boleh bagi seorang wanita menjadi imam bagi laki-laki dalam keadaan bagaimanapun.

وهكذا لو كان ممن صلى مع المرأة خنثى مشكل لم تجزه صلاته معها ولو صلى معها خنثى مشكل ولم يقض صلاته حتى بان أنه امرأة أحببت له أن يعيد الصلاة وحسبت أنه لا تجزئه صلاته لأنه لم يكن حين صلى معها ممن يجوز له أن يأتم بها
Begitu juga apabila ada diantara mereka wanita khuntsa musykil (banci yang sulit diketahui ataukah lebih menyerupai laki-laki atau wanita), maka ia tidak boleh shalat bersama wanita itu. Apabila ia banci shalat bersama wanita dan ia tidak mengganti shalatnya hingga diketahui dengan jelas bahwa banci itu lebih menyerupai wanita, maka saya menyukai agar ia mengulangi shalatnya.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 232].

Ibnu Rusy dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
وإنما اتفق الجمهور على منعها أن تؤم الرجال، لأنه لو كان جائزا لنقل ذلك عن الصدر الأول، ولأنه أيضا لما كانت سنتهن في الصلاة التأخير عن الرجال علم أنه ليس يجوز لهن التقدم عليهم، لقوله عليه الصلاة والسلام
"أَخِّرُوْهُنَّ حَيْثُ أَخْرَهُنَّ اللهُ"
ولذلك أجاز بعضهم إمامتها النساء إذ كن متساويات في المرتبة في الصلاة، مع أنه أيضا نقل ذلك عن بعض الصدر الأول
Jumhur fuqaha sepakat melarang wanita menjadi imam bagi kaum lelaki. Sebab, jika wanita menjadi imam bagi kaum lelaki, sudah terkenal sejak awal Islam, lebih-lebih ajaran shalat bagi wanita terjadi setelah kaum lelaki. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa wanita tidak boleh mendahului kaum laki-laki. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam,
”Akhirkanlah mereka (wanita) lantaran Allah telah mengakhirkan mereka” (HR. Ahmad).
Berdasarkan pemikiran di atas, sebagian fuqaha membolehkan kaum wanita menjadi imam atas kaum wanita, karena persamaan derajat di dalam shalat. Lebih-lebih kenyataan seperti itu sudah banyak diriwayatkan sejak permulaan Islam.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 324-235].

Wanita Menjadi Imam Bagi Wanita
Sayyid Sabiq berkata :
فقد كانت عائشة رضي الله عنها تؤم النساء وتقف معهن فى الصف, وكانت أم سلمة تفعله, وجعل رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لأم ورقة مؤذنا لها وأمرها أن تؤم أهل دار هافى الفرائض
Aisyah RA sering menjadi imam bagi kaum wanita dan berdiri bersama mereka dalam satu barisan shaf. Demikian pula halnya Ummu Salamah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bahkan mengangkat seorang muadzin yang bernama Ummu Waraqah dan beliau memerintahkannya supaya menjadi imam bagi keluarganya pada saat mengerjakan shalat-shalat fardhu.
[Fiqih Sunnah 1, hal. 350].

Imam Syafi’i berkata :
عن عمار الدهنى عن امرأة من قومه يقال لها حجيرة أن أم سلمة أمتهن فقامت وسطا
Diriwayatkan dari Ammar Ad-Duhani dari seorang wanita yang berasal dari kaumnya, yang bernama Hajirah, bahwasanya Ummu Salamah mengimami kaum wanita dan ia berdiri di tengah-tengah mereka. (HR. Abu Daud No. 315).
Imam Syafi’i berkata :
عن عائشة أنه صلت بنسوة العصر فقامت في وسطهن
Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ia mengerjakan shalat dengan kaum wanita pada shalat Ashar, dan ia berdiri di tengah-tengah mereka.
Imam Syafi’i berkata :
إن من السنة أن تصلى المرأة بالنساء تقوم في وسطهن
Adalah sunah apabila seorang wanita shalat bersama kaum wanita, ia berdiri di tengah-tengah mereka.
وتؤم المرأة النساء في المكتوبة وغيرها وآمرها أن تقوم في وسط الصف وإن كان معها نساء كثير أمرت أن يقوم الصف الثاني خلف صفها
وتخفض صوتها بالتكبير والذكر الذي يجهر به في الصلاة من القرآن وغيره
Wanita dapat mengimami sesama wanita pada shalat fardhu dan lainnya. Saya menyuruh agar dia berdiri di tengah shaf.
Apabila bersama wanita itu terdapat banyak wanita, maka saya menyuruhnya untuk berdiri pada shaf kedua yang ada di belakangnya; ia merendahkan suaranya ketika takbir dan dzikir, baik membaca Al-Quran dan yang lainnya.
فإن قامت المرأة أمام النساء فصلاتها وصلاة من خلفها مجزئة عنهن
Apabila wanita itu berdiri di depan shaf dengan mengerjakan shalat sebagai imam bagi kaum wanita, maka shalat mereka yang ada di belakangnya telah memadai.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 233].

Lelaki Menjadi Imam Bagi Wanita
Sayyid Sabiq berkata :
روي أبو يعلى والطبرانى فى الأوسط بسند حسن أن أبى بن كعب جاء الى النبى صلى الله عليه وسلم فقال : يا رَسُوْلَ اللهِ عملت الليلة عملا. قال : ما هو؟ قال : نسوة معى فى الدار, قلن إنك تقرأ فصل بنا؟ فصليت ثمانيا والوتر. فسكت النبى صلى الله عليه وسلم قال : فرأينا سكوته رضا
Abu Ya’la dan Thabrani meriwayatkan dalam kitab Al-Ausath dengan sanad hasan,
“Ubai bin Kaab pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan berkata, ‘Ya Rasulullah, semalam aku mengerjakan sesuatu amal’. Nabi Shallallahu alaihi wassalam bertanya, ‘Amal apakah itu?’ Ubai berkata, ‘Di rumah ada beberapa orang wanita. Mereka mengatakan, “Anda dapat membaca Al-Quran dengan baik, sedangkan kami tidak. Karena itu shalatlah sebagai imam bagi kami” Akhirnya akupun mengerjakan shalat dekapan rekaat lalu berwitir’. Ketika mendengar serita tersebut, Nabi Shallallahu alaihi wassalam diam saja. Diamnya itu kami anggap sebagai tanda ridha dan pengakuannya’”
[Fiqih Sunnah 1, hal. 350].

Posisi Makmum Wanita
Hadits-hadits dalam kitab Al-Muntaqa :
Dari Abdurrahman bin Ghanam, dari Abu Malik Al-Asy’ari, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam:
‏‏عن رسولِ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم أنه كان يُسَوِّي بَيْنَ الْأرْبَعِ رَكَعَاتٍ في الْقِرَاءَةِ وَيَجْعَلُ الرَّكْعَةَ الْأُوْلَى هِيَ أَطْوَلُهُنَّ لَكَيْ يَثُوْبَ النَّاسُ وَيَجْعَلُ الرِّجَالَ قُدَّامَ الْغِلْمَانِ وَالْغِلْمَانَ خَلْفَهُمْ وَالنِّسَاءَ خَلْفَ الْغِلْمَانِ
Bahwasanya beliau menyeimbangkan bacaan dan berdiri di keempat rekaatnya, yang mana rekaat pertama merupakan rekaat yang paling panjang, agar orang-orang sempat mendapatkannya. Beliau mengedepankan kaum laki-laki (dewasa) daripada anak-anak, sementara anak-anak di belakang mereka, dan kaum wanita di belakang anak-anak. (HR. Ahmad)

Dari Anas, ia menuturkan,
‏‏صَلَّيْتُ أَنَا وَالْيَتِيْمُ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم وَأُمِّيْ خَلْفَنَا أُمُّ سُلَيْمٍ
”Aku dan seorang anak yatim yang tinggal di rumah kami mengerjakan shalat di belakang Nabi Shallallahu alaihi wassalam, sementara ibuku, yakni Ummu Sulaim, di belakang kami (HR. Bukhari).

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا خَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
”Sebaik-baiknya shaf laki-laki ialah yang pertama dan seburuk-buruknya ialah shaf yang terakhir, sedang sebaik-baiknya shaf lwanita ialah yang terakhir dan seburuk-buruknya ialah shaf yang pertama” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari)

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏ويجعل الرجال قدام الغلمان‏)‏ الخ فيه تقديم صفوف الرجال على الغلمان والغلمان على النساء
Ucapan perawi : (Beliau mengedepankan kaum laki-laki (dewasa) daripada anak-anak) menunjukkan bahwa shaf kaum laki-laki dewasa paling depan, lalu shaf anak-anak, kemudian shaf kaum wanita.
[Nailul Authar 1, hal. 785]

Kesimpulan
1. Wanita tidak dilarang shalat berjamaah di masjid, tetapi lebih baik shalat di rumahnya.
2. Wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki.
3. Laki-laki boleh menjadi imam bagi wanita.
4. Posisi Wanita yang menjadi imam bagi wanita adalah di tengah-tengah shaf
5. Jika wanita menjadi makmum, maka posisinya adalah dibelakang shaf anak laki-laki.
6. Shaf yang paling baik bagi wanita adalah yang paling belakang.

Wallahu a’lam

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Syekh Muhammad Abid As-Sindi, Musnad Syafi’i , Sinar Baru Algesindo, 2006.

*Slawi, Februari 2011

MENGULANG SHALAT BERJAMAAH

MENGULANG SHALAT BERJAMAAH
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ’alaihi wasallam.
Shalat jamaah adalah ibadah yang sangat utama. Karena begitu besar keutamaan shalat jamaah, maka bagi orang yang mendapati shalat jamaah di masjid dianjurkan untuk mengikuti shalat jamaah meskipun dia sudah melakukan shalat sebelumnya.

Hadits-hadits dalam kitab Al-Muntaqa :
Dari Abu Sa’id,
أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّى رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم بأَِصْحَابِهِ فقال رسولُ اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم‏:‏ مَنْ يَتَصَدَّقُ على ذَا فَيُصَلِّي مَعَهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَصَلَّى مَعَهُ
bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam sudah selesai shalat, maka beliaupun bersabda, ”Siapa yang mau bershadaqah untuk orang ini, menemaninya shalat?” Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian ia shalat bersamanya. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

وفي رواية لأحمد‏:‏ ‏(‏صلى رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم بأَِصْحَابِهِ الظُّهْرَ فَدَخَلَ رَجُلٌ‏)‏ وَذَكَرَهُ
Dalam riwayat Ahmad yang lain : Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam telah selesai shalat dhuhur bersama para sahabatnya, lalu seorang laki-laki masuk” Kemudian dikemukakan hadits tadi.

Imam Asy-Syaukani mengatakan :
والحديث يدل على مشروعية الدخول مع من دخل في الصلاة منفردًا وإن كان الداخل معه قد صلى في جماعة
Hadits ini menunjukkan disyariatkannya untuk menyertai shalat orang yang shalat sendirian, walaupun ia sendiri telah mengerjakan shalat berjamaah.
[Nailul Authar 1, hal. 743].

Dari Mihjan bin Al-Adra’, ia menuturkan,
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى اللَّه عليه وسلم وهو في المسجدِ فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّى يعني ولم أُصَلِّ فقال لي‏:‏ أَلَا صَلَّيْتَ قُلْتُ‏:‏ يا رسول اللَّه إني قد صليت في الرَّحْلِ ثُمَّ أُتَيْتُكَ قال‏:‏ فإذا جِئْتَ فَصَلِّ معهم واجْعَلْهَا نَافِلَةً
”Aku menemui Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam, saat itu beliau sedang di masjid, lalu tibalah waktu pelaksanaan shalat, maka beliaupun shalat, tapi aku tidak ikut shalat. Beliau berkata kepadaku, ’Mengapa engkau tidak ikut shalat?’ Aku jawab, ’Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sudah shalat di rumah, lalu aku datang kepadamu,’ Beliau bersabda, ’Bilau engkau datang, maka shalatlah bersama mereka, dan jadikanlah itu sebagai shalat sunnah’” (HR. Jamaah).

Dari Sulaiman, mantan budak Maimunah, ia menuturkan,
‏‏ أَتَيْتُ على ابنِ عُمَرَ وهو بِالْبِلَاطِ وَالْقَوْمُ يُصَلُّوْنَ في المسجد فَقُلْتُ‏:‏ ما يَمْنَعُكَ أنْ تُصَلِّيَ مع الناسِ قال‏:‏ إني سمعتُ رسولَ اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم يقول‏:‏ لا تُصَلُّوْا صَلَاةً في يومٍ مَرَّتَيْنِ‏
”Aku menemui Ibnu Umar, ia sedang di lantai sementara orang-orang sedang shalat di masjid. Maka aku berkata, ’Apa yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang?’ Ia menjawab, ’Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Janganlah kalian melakukan satu shalat dua kali dalam satu hari’” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i)

Imam Asy-Syaukani mengatakan :
وحديث محجن وما قبله من الأحاديث التي أشار إليها المصنف تدل على مشروعية الدخول في صلاة الجماعة لمن كان قد صلى تلك الصلاة ولكن ذلك مقيد بالجماعات التي تقام في المساجد
Hadits Mihjan menunjukkan disyariatkannya mengikuti shalat jamaah bagi yang telah melaksanakan shalat tersebut, namun ini terikat dengan jamaah yang dilaksanakan di masjid.
قوله‏:‏ ‏(‏لا تصلوا صلاة في يوم مرتين‏)‏ وقد تمسك بهذا الحديث القائلون أن من صلى في جماعة ثم أدرك جماعة لا يصلي معهم كيف كانت لأن الإعادة لتحصيل فضيلة الجماعة وقد حصلت له وهو مروي عن الصيدلاني والغزالي وصاحب المرشد‏.‏ قال في الاستذكار
Sabda belia (Janganlah kalian melakukan satu shalat dua kali dalam satu hari) hadits ini dijadikan dalil oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang telah mengerjakan suatu shalat bersama jamaah, kemudian ia mendapati lagi jamaah lain yang sedang mengerjakan shalat tersebut, maka ia tidak perlu lagi shalat bersama jamaah kedua, bagaimanapun kondisinya. Karena keutamaan berjamaah telah diperolehnya. Demikian pendapat yang diriwayatkan dari Ash-Shaidalani, Al-Ghazali dan penulis Al-Mursyid.

اتفق أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه على أن معنى قوله صلى اللَّه عليه وسلم‏:‏ ‏(‏لا تصلوا صلاة في يوم مرتين‏)‏ أن ذلك أن يصلي الرجل صلاة مكتوبة عليه ثم يقوم بعد الفراغ منها فيعيدها على جهة الفرض أيضًا وأما من صلى الثانية مع الجماعة على أنها نافلة إقتداء بالنبي صلى اللَّه عليه وسلم في أمره بذلك فليس ذلك من إعادة الصلاة في يوم مرتين لأن الأولى فريضة والثانية نافلة فلا إعادة حينئذ‏
Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahawiyah telah sepakat, bahwa makna sabda Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam (Janganlah kalian melakukan satu shalat dua kali dalam satu hari) adalah, seseorang telah melaksanakan suatu shalat fardhu, setelah selesai, ia mengulanginya lagi juga sebagai shalat fardhu. Adapun orang yang meniatkan shalat keduanya bersama jamaah sebagai shalat sunnah, sesuai dengan tuntunan dan perintah Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam, maka ini tidak termasuk mengulangi suatu shalat dua kali dalam hari yang sama. Karena shalat pertama diniatkan sebbagai shalat fardhu, sedangkan yang kedua kalinya diniatkan sebagai shalat sunnah, sehingga dengan begitu tidak terjadi pengulangan.
[Nailul Authar 1, hal. 747; lihat Fiqih Sunnah 1, hal. 352-353].

Syekh Muhammad Abid As-Sindi dalam kitab Musnad Syafi’i menjelaskan hadits dari Dari Mihjan bin Al-Adra’ :
Mengulangi shalat seperti yang disebutkan dalam hadits ini hukumnya sunnat, pelakunya beroleh pahala. Hal ini lebih baik baginya dari pada ia berbeda dengan jamaah yang sedang shalat dan hanya duduk saja, sedangkan mereka mengerjakan shalat.
[Musnad Syafi’i 1, hal. 226]

Dari Ibnu Umar RA, dia berkata :
مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ و اَلصُّبْحَ ثُمَّ اَدْرَكَهُمَا مَعَ اْلِامَامِ فَلَا يُعِدْ لَهُمَا
"Barangsiapa telah shalat Maghrib dan shalat shubuh, kemudian menjumpai keduanya bersama imam, maka janganlah ia mengulangi keduanya".
Syekh Muhammad Abid As-Sindi berkata :
Larangan mengulangi shalat Maghrib dan shalat Shubuh dengan berjamaah ini, karena seandainya seseorang mengulanginya niscaya shalat tersebut jatuhnya sunnat baginya, sedangkan tiga rekaat tidak boleh dijadikan shalat sunnat. Seandainya ia mengulangi shalat Shubuh, niscaya ia melakukan shalat sunnat sesudah fajar, sedangkan tidak ada shalat sunnat sesudahnya selain dari dua rekaat sebelumnya.
[Musnad Syafi’i 1, hal. 226].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
روي عن أنس أنه صلى مع أبى موسى الصبح فى المربد ثم انتهيا إلى المسجد الجامع فأقيمت الصلاة فصليا مع المغيرة بن شعبة
Diriwayatkan bahwa Anas mengerjakan shalat subuh bersama Abu Musa di tempat penjemuran kurma lalu keduanya datang ke masjid, sedangkan pada saat itu shalat hendak didirikan. Keduanya lalu mengerjakan shalat sekali lagi dengan Mughirah bin Syu’bah.
[Fiqih Sunnah 1, hal. 353]

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram mengutip hadits dari Yazid Ibnu al-Aswad
أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلَاةَ اَلصُّبْحِ, فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا, فَدَعَا بِهِمَا, فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا, فَقَالَ لَهُمَا: "مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا?" قَالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: "فَلَا تَفْعَلَا, إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمْ, ثُمَّ أَدْرَكْتُمْ اَلْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ, فَصَلِّيَا مَعَهُ, فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ" } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان
bahwa dia pernah sholat Shubuh bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah usai sholat beliau bertemu dengan dua orang laki-laki yang tidak ikut sholat. Beliau memanggil kedua orang itu, lalu keduanya dihadapkan dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya pada mereka: "Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut sholat bersama kami?" Mereka menjawab: Kami telah sholat di rumah kami. Beliau bersabda: "Jangan berbuat demikian, bila kamu berdua telah sholat di rumahmu kemudian kamu melihat imam belum sholat, maka sholatlah kamu berdua bersamanya karena hal itu menjadi sunat bagimu." Riwayat Imam Tiga dan Ahmad dengan lafadz menurut riwayat Ahmad. Hadits shahih menuru Ibnu Hibban dan Tirmidzi.
Imam Ash-Shan’ani berkata :
وهذا الحديث وقع في مسجد الخيف، في حُجَّة الوداع. فدل على مشروعية الصلاة مع الإمام إذا وجده يصلي أو سيصلي بعد أن كان قد صلى جماعة أو فرادى، والأولى هي الفريضة والأخرى نافلة كما صرح به الحديث.
وظاهره أنه لا يحتاج إلى رفض الأول. وذهب إلى هذا زيد بن علي والمؤيد وجماعة من الآل وهو قول الشافعي
Hadits ini terjadi di masjid Al-Khiif pada waktu haji wada’, yang menunjukkan tentang diosyariatkannya seseorang shalat bersama imam jika mendapatinya sedang shalat atau akan shalat, setelah orang itu selesai melaksanakan shalat baik secara berjamaah atau sendirian. Maka shalat yang telah dilakukan –pertama- dihitung shalat fardhu baginya, sedang shalat yang dilakukan kedua kalinya –bersama dengan imam- dianggap sunnah sebagaimana yang dijelaskan hadits ini. Dzahirnya hadits ini, bahwa tidak perlu menolak shalat pertama –yakni shalat pertama dianggap sebagai shalat fardhu-. Pendapat ini didukung oleh Zaid bin Ali, Al-Muayyid Billah, dan sekelompok ulama ahlul bait. Ini juga merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i.
[Subulusssalam 1, hal. 624]

Imam Syafi’i berkata :
عن جابر‏:‏ ‏‏أن معاذ كان يصلي مع النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم عشاء الآخرة ثم يرجع إلى قومه فيصلي بهم تلك الصلاة هي له تطوع ولهم مكتوبة العشاء‏
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Mu’adz bin Jabal mengerjakan shalat Isya bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu ia kembali kepada kaumnya dan mengerjakan shalat isya bersama mereka, dan shalat Isya itu adalah sunah baginya.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 245].

Imam Asy-Syaukani mengatakan :
ـ واعلم ـ أنه قد استدل بالرواية المتفق عليها وتلك الزيادة المصرحة بأن صلاته بقومه كانت له تطوعًا على جواز إقتداء المفترض بالمتنفل وأجيب عن ذلك بأجوبة‏
Ketahuilah, bahwa hadits Jabir dan riwayat tambahan yang menjelaskannya menunjukkan, bahwa shalatnya Muadz itu ketika mengimami kaumnya adalah shalat sunnah, sehingga hal ini menunjukkan bolehnya orang yang shalat fardhu bermakmum kepada orang yang shalat sunnah.
[Nailul Authar 1, hal. 765].

Syekh Muhammad Abid As-Sindi berkata :
Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa orang yang salat fardhu boleh bermakmum kepada orang yang shalat sunnat. Hal ini dipakai oleh Imam Syafi’i, sedangkan Abu Hanifah dan Imam Malik tidak memakainya.
[Musnad Syafi’i 1, hal. 230].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
فإن الذي دخل المسجد وقد صلى لا يخلو من أحد وجهين: إما أن يكون صلى منفردا، وإما أن يكون صلى في جماعة. فإن كان صلى منفردا فقال قوم: يعيد معهم كل الصلوات إلا المغرب فقط، وممن قال بهذا القول مالك وأصحابه.
Seseorang yang memasuki masjid, padahal ia sudah menjalankan shalat wajib, mungkin termasuk salah satu dari dua kemungkinan : sudah menjalankan shalat sendirian atau sudah menjalankan shalat jamaah. Jika ia sudah menjalankan shalat sendirian, ia harus mengulangi shalat dengan jamaah, kecuali shalat maghrib. Demikian pendirian sebagian fuqaha, diantaranya Malik dan sekelompok Malikiyah.

وقال أبو حنيفة: يعيد الصلوات كلها إلا المغرب والعصر. وقال الأوزاعي: إلا المغرب والصبح. وقال أبو ثور: إلا العصر والفجر. وقال الشافعي: يعيد الصلوات كلها
Sedang Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpendapat menguilangi shalatnya (dengan berjamaah) kecuali shalat Maghrib dan Ashar. Sedang Auza’i mengecualikan shalat Maghrib dan Shubuh, sedang Abu Syam mengecualikan shalat Ashar dan Shubuh. Adapun Syafi’i tidak mengecualikan shalat apapun.
وإنما اتفقوا على إيجاب إعادة الصلاة عليه بالجملة لحديث بشر بن محمد عن أبيه "أنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال له حِيْنَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَلَمْ يُصَلِّ مَعَهُ: مَالَكَ لَمْ تُصَلِّ مَعَ النَّاسِ: ألَسْتَ بِرَجُلٍ مُسْلِمٍ؟ فقال بَلَى يا رسولَ الله، وَلَكِنِّي صَلَّيْتُ فِي أهْلِيْ، فقال عليه الصلاة والسلام: إذا جِئْتَ فَصَلِّ مَعَ النَّاِس وَإنْ كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ"
Konsensus dalam mengharuskan dan mengulangi shalat secara umum, berdasarkan pada hadits Bisyr bin Muhammad dari ayahnya :
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Bisyr bin Muhammad ketika ia memasuki masjid dan tidak ikut shalat jamaah bersama beliau, “Ada halangan apa Anda tidak ikut kami shalat jamaah? Tidakkah kamu seorang muslim?” Lalu jawabnya, ”Benar, saya Muslim wahai Rasulullah. Tetapi aku sudah menjalankan shalat di rumahku” Jawab Nabi selanjutnya, ”Apabila kamu datang (ke Masjid), maka kerjakanlah shalat bersama orang-orang, meskipun kamu sudah shalat” (HR. Nasa’i dan Malik)
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 318-319].

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, Pustaka Azzam, Jakarta, 2006.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.
-Syekh Muhammad Abid As-Sindi, Musnad Syafi’i , Sinar Baru Algesindo, 2006.

*Slawi, Februari 2011

Senin, 31 Januari 2011

DUDUK DI KUBURAN DAN BERJALAN DI PEKUBURAN

DUDUK DI KUBURAN DAN BERJALAN DI PEKUBURAN
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hokum duduk di atas kuburan dan berjalan di perkuburan. Sebagian ada yang mengharamkannya, ada pula yang sekedar menganggapnya makruh, namun ada pula yang membolehkannya.
Di bawah ini penulis tuliskan beberapa hadits dan pendapat para ulama tentang masalah tersebut.

Hadits 1
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قال‏:‏ ‏(‏خَرَجْنَا مع رسولِ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وآله وسلم في جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إلى الْقَبْرِ وَلَمْ يُلْحَدْ بَعْدُ فَجَلَسَ رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَجَلَسْنَا مَعَهُ‏)‏‏.‏ رواه أبو داود‏.‏
Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia menuturkan, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallallaahu ‘alaihi wasallam untuk mengurusi jenazah seorang laki-laki Anshor. Ketika kami sampai di kuburan, liang lahad belum dibuatkan, lalu Rasulullah Shallallallaahu ‘alaihi wasallam duduk menghadap kearah kiblat, dan kamipun duduk bersama beliau” (HR. Abu Dawud).

Hadits 2
وعن أبي هريرة قال‏:‏ ‏(‏قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ لِأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ على جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إلى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ على قَبْرٍ‏)‏‏.‏ رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي‏.‏
Dari Abu hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Duduknya seorang diantara kalian di atas bara api sehingga membakar pakaiannya yang menembus hingga kulitnya adalah lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan,” (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi)
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Author berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏لأن يجلس أحدكم‏)‏ الخ فيه دليل على أنه لا يجوز الجلوس على القبر وقد تقدم النهي عن ذلك
Sabda beliau Duduknya seorang diantara kalian menunjukkan tidak bolehnya duduk di atas kuburan.
[Nailul Author 2, hal. 221]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
والقول بالحرمة مذهب ابن حزم , لما ورد فيه من الوعيد , قال : وهو قول جماعة من السلف , منهم أبو هريرة
Pendapat yang mengharamkannya adalah mazhab Ibnu hazm, karena pada hadits ini terdapat ancaman. Katanya, itu juga merupakan pendapat segolongan ulama salaf yang termasuk di dalamnya Abu hurairah.
Selanjutnya beliau berkata :
ومذهب الجمهور : أن ذلك مكروه قال النووى : عبارة الشافعى فى الأم, وجمهور الأصحاب فى الطرق كلها : أنه يكره الجلوس , وأرادوابه كراهة التنزيه , كما هو مشهور فى استعمال الفقهاء , وصرح به كثير منهم
Sedangkan menurut jumhur hukumnya hanya makruh. Nawawi berkata’ “Melihat gelagat ucapan Syafi’I dalam al-Umm, begitu juga golongan terbesar dari kawan-kawan sealiran, dimakruhkan duduk di atas kubur, maksud larangan itu adalah makruh, sebagaimana biasanya terdapat dalam pengertian fuqaha, bahkan banyak diantara mereka yang menyatakannya dengan tegas”.
وذهب ابن عمر من الحابة وابو حنيفة ومالك إلى جوازالقعود على القبر , قال فى الموطأ : إنما نهى عن القعود على القبر فيما نرى "نظن" للذهب يقصد لقضاء حاجة الإنسان من البول أو الغائط. وذكر فى ذلك حديثا ضعيفا
Sebaliknya, Ibnu Umar dari segolongan sahabat, Abu hanifah dan Malik menyatakan boleh duduk di kubur. Katanya dalam Al-Muwatha’, “Menurut pendapat kami, larangan duduk di atas kubur itu adalah bagi orang yang bermaksud hendak buang air besar atau kecil. Keterangan ini adalah berdasarkan hadits dho’if”
[Fiqih Sunnah 2, hal. 190].

Ibnu Rusyd (Ulama mazhab Maliki) dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
واحتج من أجاز القعود على القبر بما روي عن زيد بن ثابت أنه قال "إنما نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الجلوس على القبور لحدث أو غائط أو بول" قالوا: ويؤيد ذلك ما روي عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من جلس على قبر يبول أو يتغوط فكأنما جلس على جمرة نار" وإلى هذا ذهب مالك وأبو حنيفة والشافعي.
Ulama yang memperbolehkan duduk di atas kubur berpedoman pada pendapat dari Zaid bin Tsabit, dia berkata :
“Duduk di atas kubur yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah untuk membuang hadats, berak atau kencing”. Hadits ini diperkuat oleh hadits dari Abu Hurairah.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa duduk di atas kubur lalu kencing atau berak, seolah dia duduk di atas api neraka,”
Hadits inilah yang dianut oleh Malik, Abu hanifah, dan Syafi’i.
[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 548]

Hadits 3
وعن عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ قال‏:‏ ‏(‏رَآنِي رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم مُتَّكِئًا على قَبْرٍ فقال‏:‏ لَا تُؤْذِ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ أَوْ لَا تُؤْذِهِ‏)‏‏.‏ رواه أحمد‏.‏
Dari ‘Amr bin Hazm, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat aku sedang duduk bersandar di atas kubur, maka beliau bersabda, “Janganlah engkau menyakiti penghuni kubur ini” Atau beliau mengatakan, “Janganlah engkau menyakitinya” (HR. Ahmad)

Hadits 4
وعن بَشِيْرِ بْنِ الْخَصَّاصِيَّةِ‏:‏ ‏(‏أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم رَأَى رَجُلًا يَمْشِيْ في نَعْلَيْنِ بَيْنَ الْقُبُوْرِ فقال‏:‏ يَا صَاحِبَ السَّبْتِيَّتَيْنِ أَلْقِهِمَا‏)‏‏.‏ رواه الخمسةُ إلا الترمذي‏.‏
Dari ‘Basyir bin Al Khashashiyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki berjalan di antara kuburan-kuburan dengan mengenakan sandal, maka beliau bersabda, “Wahai pemilik sandal kulit, tanggalkan sandalmu” (HR. Imam Yang Lima kecuali At-Tirmidzi)
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Author berkata :
قوله‏:‏ ‏(‏السبتيتين‏)‏ قد تقدم تفسير ذلك
Sabda beliau Wahai pemilik sandal kulit, menunjukkan tidak boleh berjalan di antara kuburan-kuburan dengan mengenakan sandal.
[Nailul Author 2, hal. 221]

Hadits 5
وَلِمُسْلِمٍ عَنْهُ: نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ, وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ, وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menyemen kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya. (HR. Muslim 970)
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab subulussalam mengatakan :
الحديث دليل على تحريم الثلاثة المذكورة لأنه الأصل في النهي.
Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya tiga perbuatan yang disebutkan dalam hadits itu, karena keharaman itulah yang terkandung dalam kalimat larangan itu.
Selanjutnya beliau berkata :
وقد وردت الأحاديث في النهي عن البناء على القبور والكتب عليها والتسريج وأن يزاد فيها وأن توطأ
Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentang larangan membangun di atas kuburan, larangan memberi tulisan pada batu nisan dan memperindah kuburan, larangan menambah atau melebihkan dari sejengkal dan menginjak di atasnya.
[Subulussalam 1, hal. 870].

Zainudin Al-Malibari Al-Fanani (Ulama mazhab Syafi’i) dalam kitab fathul Mu’in berkata :
(و) كره (وطئ عليه) أي على قبر مسلم، ولو مهدرا قبل بلاء (إلا لضرورة)، كأن لم يصل لقبر ميته بدونه، وكذا ما يريد زيارته ولو غير قريب.
Makruh menginjak kuburan orang muslim, sekalipun kuburan orang yang mati dalam keadaan hina atau tercela (umpamanya meninggalkan salat atau pezina) sebelum mayatnya punah, kecuali karena darurat, umpamanya tidak dapat mengunur mayat ahlinya tanpa menginjak (kuburan tersebut). Keadaan darurat ini berlaku pula bagi yang bermaksud ziarah, sekalipun bukan ziarah ke kuburan kerabatnya (maka hukumnya tidak makruh).
وجزم شرح مسلم - كآخرين - بحرمة القعود عليه والوطئ، لخبر فيه يرده أن المراد بالجلوس عليه جلوسه لقضاء الحاجة، كما بينته رواية أخرى.
Adapun penetapan Syarah Muslim sama dengan yang lain-lainnya, yaitu haram hukumnya duduk di atas kuburan dan menginjaknya, berdasarkan hadits yang menolak keterangan di atas (ikhtilaf). Sesungguhnya yang dimaksud dengan “duduk di atas kuburan” ialah duduk untuk buang air besar atau kecil, sebagaimana yang dijelaskan oleh riwayat lainnya.
[Fathul Mu’in 1, hal. 499-500].

Imam asy-Syafi'i berkata dalam kitab al-'Umm :
وأكره وطء القبر والجلوس والاتكاء عليه إلا أن لا يجد الرجل السبيل إلى قبر ميته إلا بأن يطأه فذلك موضع ضرورة فأرجو حينئذ أن يسعه إن شاء الله تعالى
"Aku menganggap makruh hukumnya menginjak kubur, duduk atau bersandar di atasnya, kecuali bila seseorang tidak menemukan jalan lain ke kubur yang ditujunya melainkan dengan menginjaknya. Kondisi tersebut adalah darurat, aku harap ia mendapat keluasaan (dispensasi), insya Allah."
وقال بعض أصحابنا لا بأس بالجلوس عليه وإنما نهى عن الجلوس عليه للتغوظ
قال الشافعي: وليس هذا عندنا كما قال وإن كان نهى عنه للمذهب فقد نهى عنه وقد نهى عنه مطلقا لغير المذهب
Sebagian rekan kami mengatakan, "Tidak mengapa duduk di atas kubur, sebab yang dilarang adalah duduk untuk buang hajat. Namun menurut pendapat kami tidak seperti itu. Sekiranya yang dilarang adalah duduk untuk buang hajat maka sesungguhnya Rasulullah telah melarangnya. Dan Rasulullah telah melarang duduk di atas kubur secara mutlak selain untuk buang hajat
Imam asy-Syafi'i berkata :
أخبرنا إبراهيم بن محمد عن أبيه عن جده قال تبعت جنازة مع أبي هريرة فلما كان دون القبور جلس أبو هريرة ثم قال لأن أجلس على جمرة فتحرق ردائي ثم قميصي ثم إزاري ثم تفضي إلى جلدي أحب إلى من أن أجلس على قبر امريء مسلم
Ibrahim bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, “Saya mengikuti jenazah bersama Abu Hurairah. Sebelum sampai di pemakaman Abu Hurairah duduk kemudian mengatakan, “Duduk di atas bara api yang dapat menghanguskan selendang, kemeja, sarung atau kulit saya lebih aku sukai daripada duduk di atas kuburan seorang muslim”
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 385].

Ibnu Hazm berkata dalam kitab al-Muhallaa (V/136), "Sebagian orang membolehkan duduk di atas kubur, mereka membawakan larangan tersebut bagi yang duduk untuk buang hajat.
Perkataan ini bathil, dilihat dari beberapa sisi:
Pertama: Takwil ini tidak didukung dalil dan cenderung memalingkan perkataan Rasulullah dari makna sebenarnya. Dan ini sangat keliru sekali.
Kedua: Lafazh hadits sama sekali tidak mendukung takwil tersebut! Rasulullah saw bersabda: 'Lebih baik salah seorang dari kamu duduk di atas kubur.'
Oleh karena itu, setiap orang yang punya naluri sehat pasti tahu bahwa duduk untuk buang hajat tidak seperti itu bentuknya. Kami tidak pernah mendengar seorang pun duduk dengan pakaiannya untuk buang hajat kecuali orang yang kurang beres akalnya.
Ketiga: Para perawi hadits tidak menyebutkan bentuk duduk yang dimaksud. Dan kami tidak pernah tahu secara bahasa kata jalasa fulan bemakna si fulan buang hajat. Jadi jelaslah kerusakan takwil ini, walillaahil hamd." www. alislamu.com

Kesimpulan
Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama tentang hokum duduk di atas pekuburan dan berjalan di pekuburan adalah sebagai berikut :
1. Mayoritas ulama melarang duduk dan berjalan di atas kuburan. Sebagian berpendapat haram dan sebagian berpendapat makruh.
2. Sebagian kecil ulama membolehkan duduk dan berjalan di atas kuburan. Yang dilarang adalah duduk sambil membuang hajat.

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
- Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi (E-book)
- Abu Daud, Sunan Abu Daud (E-book)
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syufa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002
- Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
- www. alislamu.com

*Slawi, Januari 2011

Sabtu, 22 Januari 2011

HARAMNYA MEMAKAI SUTRA BAGI LAKI-LAKI

HARAMNYA MEMAKAI SUTRA
BAGI LAKI-LAKI
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Pendahuluan
Yusuf Qardhawi dalam kitab Halal dan Haram dalam Islam mengatakan :
DASAR pertama yang ditetapkan Islam, ialah: bahwa asal sesuatu yang dicipta Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali karena ada nas yang sah dan tegas dari syari' (yang berwenang membuat hukum itu sendiri, yaitu Allah dan Rasul) yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nas yang sah --misalnya karena ada sebagian Hadis lemah-- atau tidak ada nas yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana asalnya, yaitu mubah.
Ulama-ulama Islam mendasarkan ketetapannya, bahwa segala sesuatu asalnya mubah, seperti tersebut di atas, dengan dalil ayat-ayat al-Quran yang antara lain:
QS. Al-Baqarah : 29
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأرْضِ جَمِيْعًا
"Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya."
QS. al-Jatsiyah: 13
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأرْضِ جَمِيْعًا مِنْهُ
"(Allah) telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya daripadaNya."
Dengan demikian arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit sekali; dan arena halal malah justeru sangat luas.

Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
"Apa saja yang Allah halalkan dalam kitabNya, maka dia adalah halal, dan apa saja yang Ia haramkan, maka dia itu adalah haram; sedang apa yang Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (ma'fu). Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun." Kemudian Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tidak lupa. (Riwayat Hakim dan Bazzar)
[Halal dan Haram dalam Islam, hal. 2]
Asal semua pakaian adalah dihalalkan, kecuali kalau ada dalil atau nash yang mengharamkannya. Kain Sutera adalah jenis pakaian yang diharamkan untuk dipakai oleh kaum Laki-laki, karena ada beberapa hadits yang mengharamkannya.

Hadits-hadits tentang Larangan bagi laki-laki memakai kain Sutera
Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: "Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
لَا تَلْبَسثُوا الْحَرِيْرَ فَإِنَّ مِنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبِسَهُ فِي الْآخِرَةِ
"Janganlah engkau semua mengenakan pakaian sutera, kerana sesungguhnya orang mengenakannya di dunia ini, maka ia tidak akan mengenakannya di akhirat."
(HR. Bukhari 10/243, Muslim No. 2069)

Dari Umar bin al-Khaththab r.a. pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا يَلْبِسُ الْحَرِيْرَ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ
وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِي مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ
"Hanyasanya yang mengenakan pakaian sutera ialah orang yang tidak mempunyai bahagian untuknya." (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan: "Orang yang tidak mempunyai bahagian untuknya - dalam hal kenikmatan - di akhirat."

Dari Anas r.a., katanya: Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَبِسَ الْحَرِيْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبِسَهُ فِي الْآخِرَةِ
"Barangsiapa yang mengenakan pakaian sutera di dunia, maka ia tidak akan mengenakannya di akhirat nanti." (HR. Bukhari 10/242, Muslim No. 2073)

Dari Ali r.a., katanya:
"Saya melihat Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam mengambil sutera lalu meletakkannya di tangan kanannya,
juga mengambil emas lalu meletakkannya di tangan kirinya, kemudian beliau Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya dua macam benda ini diharamkan atas kaum lelaki dari ummatku." (HR. Abu Dawud No. 4057, hasan)

Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. bahawasanya Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda:
"Diharamkanlah mengenakan pakaian sutera dan emas atas kaum lelaki dari ummatku dan dihalalkan untuk kaum wanitanya."
(HR. Tirmidzi No. 1720, sahih)

Dari Hudzaifah r.a., katanya:
"Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam melarang kita semua minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak, juga makan daripadanya dan melarang pula mengenakan pakaian sutera tipis dan tebal ataupun duduk di atasnya." (HR. Bukhari 10/246)
[Riyadus Shalikhin 2, hal. 14-15].

Pendapat Para Ulama Tentang Pakaian Sutera
Hadits-hadits di atas secara tegas menunjukkan diharamkannya kain sutera bagi kaum laki-laki. Permasalahannya adalah sutera yang bagaimanakah dimaksudkan oleh hadits-hadits di atas? Apakah hanya sutera murni, ataukah semua kain yang bercampur dengan sutera? Hal inilah yang diperselisihkan oleh para ulama.
Dalam Kitab Syarah Riyadhus Shalihin (Penjelasan kitab Riyadhus Shalihin), Musthafa Dib Al-Bugha menjelaskan :
Keharaman sutera yang dimaksud dalam nash-nash hadits adalah sutra alam yang dikenal. Sedangkan sutra buatan tidak tercakup dalam pengharamanm kecuali jika tidak bisa dibedakan dari sutra alam dan orang-orang samar sehingga menduganya berserupa dengan wanita. Jika demikian, maka ia termasuk yang diharamkan.
[Syarah Riyadhus Shalihin 2, hal. 337]

Dalam Kitab Al-Umm terdapat dialog antara Ar-Rabi’ dan Imam Syafi’i tentang hukum memakai Al-Khizzi (Kain yang Ditenun dari Sutera dan Bulu)
Ar-Rabi’ berkata : Aku bertanya kepada Imam Syafi’i sehubungan dengan orang yang memakai Al-Khizzi.
Imam Syafi’i berkata : Tidak mengapa, kecuali bila seseorang meninggalkannya demi mendapatkan yang lebih ekonomis darinya. Adapun sekedar memakai Al-Khizzi, maka tidak mengapa.
Imam Syafi’i berkata : Malik telah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari bapaknya, dari Aisyah bahwa ia memakaikan kepada Abdullah bin Az-Zubair sehelai Al-Khizzi yang biasa ia pakai.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 3, hal. 398]

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata : Adapun sutera yang bercampur dengan bahan lain maka menurut madzhab Syafi’i, apabila sebagian besarnya (lebih dari separo) dari sutera, maka pakaian itu diharamkan, sedangkan apabila sutra itu separuhnya atau kurang dari itu, maka pakaian itu tidak diharamkan.
An-Nawawi berkata bahwa sutera yang dicampur dengan bahan lainnya, maka tidak diharamkan kecuali sutera lebih banyak dari lainnya.
[Fiqih Sunnah 4, hal. 398-399]

Yusuf Qardhawi dalam kitab Halal dan Haram dalam Islam mengatakan bahwa yang diharamkan itu adalah sutera murni, yang tidak bercampur dengan bahan lain.

Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath (10/294) berkata : ”Jumhur ulama berpendapat tentang bolehannya memakai sutera apabila campurannya lebih banyak daripada sutera tersebut.
Telah berkata Ibnu Daqiqil-’Ied : ”Hal ini merupakan qiyas dari makna asal, akan tetapi tidak dilazimkan untuk pembolehan untuk setiap jenis campuran. Hanya saja, pembolehan tersebut adalah sutera yang kadarnya seukuran maksimal empat jari apabila disendirikan dari pakaian itu. Adalah haram bagi siapa saja (yaitu laki-laki) yang memakai sutera murni dan sutera bercampur (tidak murni), dan diperbolehkan apabila campuran sutera dari seluruh pakaian itu jika disisihkan hanya seukuran empat jari saja”
abul-jauzaa.blogspot.com

Wallahu a’lam.

Sumber Rujukan :
-Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam, Pustaka Online Media ISNET
- Imam Nawawi, Riyadus Salihin, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syufa, Semarang, 1994.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
abul-jauzaa.blogspot.com

*Slawi, Januari 2011.

Senin, 01 November 2010

GERAKAN YANG MEMBATALKAN SHALAT

GERAKAN YANG MEMBATALKAN SHALAT
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com


Disunnahkan bagi seorang mukmin untuk mendirikan shalat dan khusyu’ dan melaksanakannya dengan sepenuh jiwa dan raganya, baik itu shalat fardhu ataupun shalat sunnah.. Di samping itu ia harus thuma’ninah (tenang dan tidak terburu-buru), yang mana hal ini merupakan rukun dan kewajiban terpenting dalam shalat.
Agar shalat kita khusyu’ dan tumaninah, maka kita harus menghindari melakukan gerakan-gerakan yang membatalkan shalat.

Gerakan Yang Membatalkan Shalat
Menurut Zainudin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in gerakan yang membatalkan shalat adalah :
(وبفعل كثير) يقينا من غير جنس أفعالها إن صدر ممن علم تحريمه أو جهله ولم يعذر حال كونه (ولاء) عرفا في غير شدة الخوف ونفل السفر، بخلاف القليل كخطوتين وإن اتسعتا حيث لا وثبة، والضربتين
Banyak melakukan pekerjaan menurut adat, misalnya melangkah, menepuk nyamuk, atau menggaruk di tempat yang berlainan sebanyak tiga kali secara berturut-turut. Kecuali pekerjaan yang sedikit, misalnya : dua kali melangkah walaupun langkahnya jauh sekira tidak termasuk melompat, atau dua kali memukul. (Begitu juga melepaskan sepatu, membetulkan pakaian, membuang bangkai nyamuk atau lainnya. Sebagaimana Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam ketika pernah melepaskan sepatu dan menaruhnya di sebelah kirinya. Beliau pernah menyuruh membunuh kala atau ular, menolak orang yang lewat di depan orang shalat, dan mengizinkan untuk meratakan kerikil pada tempat shalat).
[Fathul Mu’in 1, hal. 280].

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata :
Para Ulama berselisih pendapat mengenai ukuran sedikit banyaknya gerakan yang dapat membatalkan shalat.
Imam Nawawi berkata : ”Adapun pendapat yang sahih dan masyhur ialah mengembalikan soal ini kepada kebiasaan yang lazim. Jadi yang biasa dianggap gerakan sedikit oleh orang banyak, seperti memberi isyarat ketika menjawab salam, menanggalkan sandal, melepaskan sorban atau meletakkannya, juga mengenakan pakaian yang ringan atau melepasnya, begitu pula mengambil benda kecil atau meletakkannya, menolak orang yang hendak lewat di depan atau menggosok lendir di baju dan lain-lainnya, semua itu tidaklah membatalkan. Akan tetapi kalau menurut anggapan orang pekerjaan itu dikatagorikan gerak yang banyak, seperti banyak melangkah dan berturut-turut atau melakukan perbuatan yang sambung menyambung, hal itu membatalkan”.
[Fiqih Sunnah 1, hal.411].

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
Apabila seseorang shalat saat keadaan sangat menakutkan, diatas kendaraan kemudian turun, maka saya lebih menyukai agar ia mengulangi shalatnya. Apabila ia tidak memalingkan wajahnya, maka ia tidak perlu mengulanginya lagi, karena turun adalah pekerjaan yang tidak terlalu berat. Namun apabila wajahnya telah berpaling dari arah kiblat hingga berbalik, maka ia harus mengulangi shalatnya, karena ia tidak lagi menghadap kiblat.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 311].

Gerakan Yang Tidak Membatalkan Shalat
Menurut Sayyid Sabiq gerakan-gerakan yang tidak membatalkan shalat adalah sebagai berikut :
1. Membunuh ular, kalajengking, kumbang, serta binatang-binatang lainnya yang berbahaya, meskipun memerlukan banyak gerakan.
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
اُقْتُلُوا الْأَسْوِدَيْنِ فِى الصَّلَاةِ : اَلْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ
”Boleh membunuh dua jenis binatang di dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking” (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan. Hadits ini hasan lagi sahih)

2. Berjalan karena ada keperluan
Dari Aisyah RA, berkata,
كان رسول اللّه صَلَّى اللّهُ عليهِ وآلهِ وسلَّمَ يُصَلِّى فىِ الْبَيْتِ وَالْبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ فَجِنْتُ فَاسْتَفْتَحْتُ فَعَشَى فَفَتَحَ لِي ثُمَّ رَجَعَ اِلَى مُصَلَّاهُ وَوَصَفَتْ اَنَّ الْبَابَ فِى الْقِبْلَةِ
”Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam sedang mengerjakan shalat di rumah, sedangkan pintu dalam keadaan terkunci. Kebetulan aku datang dan meminta supaya pintu dibukakan. Beliaupun berjalan membuka pintu lalu kembali ke tempat shalatnya”. Selanjutnya Aisyah menceritakan bahwa pintu itu berada di sebelah arah kiblat. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, dan Tirmidzi yang menganggapnya sebagai hadits hasan)
Yang dimaksud dengan ”pintu berada di sebelah arah kiblat” ialah ketika Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam pergi ke pintu atau pada saat kembali ke tempat semula, beliau tidak sampai berpaling dari kiblat.

3. Menggendong dan Memikul Anak Kecil Ketika Shalat
Abu Qatadah berkata,
”Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam pernah mengerjakan shalat, sedangkan Umamah putri Zainab (putri Nabi) ada di pundaknya. Jika Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam ruku’ beliau meletakkan anak itu dan jika berdiri dari sujud, beliau mengembalikan dan meletakkannya kembali ke atas pundaknya. Ibnu Juraij mengatakan bahwa itu shalat shubuh” (HR. Ahmad, Nasa’i)
[Fiqih Sunnah 1, hal 392-394].


Syaikh Ibnu Baz dalam Kitab Ad-Da’wah menjelaskan : Di antara dalil yang menunjukkan bahwa gerakan-gerakan yang sedikit tidak membatalkan shalat, juga gerakan-gerakan yang terpisah-pisah dan tidak berkesinambungan tidak membatalkan shalat, adalah sebagaimana yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa suatu hari beliau membukakan pintu masuk ‘Aisyah, padahal saat itu beliau sedang shalat. (Abu Dawud, kitab Ash-Shalah 922, At-Turmudzi, kitab Ash-Shalah 601, An-Nasa’i, kitab As-Sahw 2/11)
Diriwayatkan juga dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari beliau shalat bersama orang-orang dengan memangku Umamah bintu Zainab, apabila beliau sujud, beliau menurunkannya, dan saat beliau berdiri, beliau memangkunya lagi. (Al-Bukhari, kitab Al-Adab 5996, Muslim kitab Al-Masajid 543)
Wallahu waliyut taifiq.
Sumber:
Kitab Ad-Da’wah, hal 86-87, Syaikh Ibnu Baz. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, Hal. 191-193, penerbit Darul Haq.

Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005

*Slawi, Nopember 2010

Selasa, 28 September 2010

SEDEKAH
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Pengertian Sedekah
Menurut Ensiklopedi Islam sedekah adalah suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu atau jumlah tertentu; suatu pemberian yang dilakukan seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah Subhanahu wata’ala dan pahala semata.
[Ensiklopedi Islam 4, hal. 259]

Menurut Sayyid Sabiq sedekah tidak terbatas hanya pada satu jenis tertentu amal kebajikan. Prinsipnya adalah bahwa setiap kebajikan berarti sedekah.
[Fiqih Sunnah 1, hal. 14].

Dalil-Dalil Tentang Sedekah
QS. Al-Baqarah 2 : 261
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةً واللهِ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءَ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir berkata : Yang dimaksud dengan ‘jalan Allah’ menurut Sa’id Ibnu Jubair ialah dalam rangka ta’at kepada Allah Subhanahu wata’ala.
[Tafsir Ibnu Katsir 3, hal. 74].

QS. Ali Imran 3 : 92
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيْمٌ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Jalaludin Al-Mahalli dan Jalaludin As-Suyuti dalam Kitab Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘apa yang kamu cintai’ adalah berupa harta benda.
[Tafsir Jalalain 1, hal. 244].

Macam-macam Sedekah dan Dalilnya
a. Sedekah Suami Kepada Istri dan Anak-anaknya
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رقبة وَ دِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنَ وَ دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرَا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
"Sebuah dinar yang engkau belanjakan untuk perjuangan fisabilillah, sebuah dinar yang engkau belanjakan untuk seseorang hamba sahaya - lalu dapat segera merdeka, sebuah dinar yang engkau sedekahkan kepada seseorang miskin dan sebuah dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka yang terbesar pahalanya ialah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu itu." (Riwayat Muslim)
Dari Mas'ud al-Badri r.a. dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam., sabdanya: "Jikalau seseorang lelaki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan niat mengharapkan keredhaan Allah, maka apa yang dinafkahkan itu adalah sebagai sedekah baginya - yakni mendapat kan pahala seperti orang yang bersedekah." (Muttafaq 'alaih)
[Riyadus Shalihin 1, hal. 282].

b. Sedekah Istri Kepada Suami dan Anak-anaknya
Dari Ummu Salamah radhiallahu 'anha, katanya:
قُلْتُ يَا رسولَ اللهِ هَلْ لِي أَجْرٌ فِي بَنِيْ أَبِيْ سَلَمَةَ أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْهِمْ وَلَسْتُ بِتَارِكَتِهِمْ هَكَذَا وَهَكَذَا إِنَّمَا هُمْ بَنِيَّ فَقَالَ نَعَمْ لَكِ أَجْرُ مَا أَنْفَقْتِ عَلَيْهِمْ
"Saya bertanya: "Ya Rasulullah, adakah saya dapat memperolehi pahala jikalau saya menafkahi anak-anak Abu Salamah dan saya tidak membiarkan mereka berpisah begini begitu - yakni bercerai berai ke sana ke mari untuk mencari nafkahnya sendiri-sendiri, sebab hanyasanya mereka itu anak-anak saya juga - kerana Abu Salamah adalah suaminya Ummu Salamah." Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. menjawab: "Ya, engkau memperolehi pahala dari apa yang engkau nafkahkan kepada anak-anak itu." (HR. Al-Bukhari no. 1467 dan Muslim no. 2317)
[Riyadus Shalihin 1, hal. 282].
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Zainab, istri Ibnu Mas'ud, bertanya: Wahai Rasulullah, baginda telah memerintahkan untuk bersedekah hari ini, dan aku mempunyai perhiasan padaku yang hendak saya sedekahkan, namun Ibnu Mas'ud menganggap bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak untuk aku beri sedekah. Lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ibnu Mas'ud memang benar, suamimu dan anakmu adalah orang yang lebih berhak untuk engkau beri sedekah." Riwayat Bukhari.
[Bulughul Maram, hal. 262]

c. Sedekah Suami Kepada Istrinya
Dari Abu Zar pula,
أنَّ نَاسًا قَالُوْا يَا رسولَ اللهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بالْأَجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ بِهِ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً ونَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا يَا رسولَ اللهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
Bahawasanya orang-orang sama berkata: "Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya raya sama pergi dengan membawa pahala yang banyak - kerana banyak pula amalannya. Mereka itu bersembahyang sebagaimana kita juga bersembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kita juga berpuasa, tambahan lagi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Bukankah Allah telah menjadikan untukmu semua sesuatu yang dapat engkau semua gunakan sebagai sedekah. Sesungguhnya dalam setiap tasbih adalah merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, memerintahkan kebaikan juga sedekah, melarang kemungkaran itu pun sedekah pula dan bahkan dalam bersetubuhnya seseorang dari engkau semua itu pun sedekah."
Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah apakah seseorang dari kita yang melampiaskan syahwatnya itu juga memperolehi pahala?" Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda:
"Adakah engkau semua mengerti, bagaimana jikalau syahwat itu diletakkannya dalam sesuatu yang haram, adakah orang itu memperolehi dosa? Maka demikian itu pulalah jikalau ia meletakkan syahwatnya itu dalam hal yang dihalalkan, ia pun memperolehi pahala." (Riwayat Muslim)
[Riyadus Salihin 1, hal. 139].



d. Sedekah Kepada Pencuri dan Binatang
Dari Jabir r.a., katanya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أَكَلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةً وَفِي رِوَايَةِ لَهُ فَلَا يَغْرِسُ الْمُسْلِمَ غَرْسًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دابَّةٌ وَلَا طَيْرٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, melainkan apa saja yang dapat dimakan dari hasil tanamannya itu, maka itu adalah sebagai sedekah baginya, dan apa saja yang tercuri daripadanya, itu pun sebagai sedekah baginya. Dan tidak pula dikurangi oleh seseorang lain, melainkan itu pun sebagai sedekah baginya." (Riwayat Muslim) Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan: "Maka tidaklah seseorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia ataupun binatang, ataupun burung, kecuali semuanya itu adalah sebagai sedekah baginya sampai hari kiamat." (HR. Muslim) [Riyadus Salihin 1, hal. 146].

e. Sedekah Seorang Bendahara
Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a.. bahawasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْخَازِنُ الْمُسْلِمُ الْأمِيْنُ الَّذِيْ يُنَفِّذُ مَا أُمِرَ بِهِ فَيُعْطِيْهِ كَامِلًا مُوَفَّرًا طَيِّبَةً بِهِ نَفْسُهُ فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِيْ أُمِرَ لَهُ بِهِ أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ
"Bendahara yang Muslim dan dapat dipercaya yang dapat melangsungkan apa yang diperintahkan padanya, kemudian memberikan harta yang disimpannya dengan lengkap dan cukup, juga memberikannya itu dengan hati yang baik - tidak kesal atau iri hati pada orang yang diberi, selanjutnya menyampaikan harta itu kepada apa yang diperintah padanya, maka dicatatlah ia - bendahara tersebut - sebagai salah seorang dari dua orang yang bersedekah - bendahara dan pemiliknya." (Muttafaq 'alaih)
[Riyadus Salihin 1, hal. 192].

f. Bersedekah dengan Shalat Dhuha
Dari Abu Zar r.a. dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam., sabdanya:
يُصَبِّحْ عَلَى كُلِّ سُلَامِي مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ. وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ. وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ. وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ. وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ. وَنَهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ. وَيَجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى".
"Setiap ruas tulang dari seseorang di antara engkau semua itu harus ada sedekahnya pada saban pagi harinya, maka setiap sekali tasbih adalah sedekah, setiap sekali tahmid adalah sedekah, setiap sekali tahlil adalah sedekah, setiap sekali takbir adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemunkaran adalah sedekah dan yang sedemikian itu dapat dicukupi oleh dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang dart shalat Dhuha." (Riwayat Muslim) [Riyadhus Shalihin 2, hal. 195].

Sumber Rujukan :
-Azyumardi Azra dkk, Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.
-Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta, 2006.
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006.
-Jalaluddin Al-Mahalli /Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung, 2003
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.
-Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
-Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
*23 September 2010

Selasa, 31 Agustus 2010

ZAKAT FITRAH

ZAKAT FITRAH
Oleh : Masnun Tholab
www.masnuntholab.blogspot.com

Hukum Zakat Fitrah
Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahwa Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan disebabkan berakhirnya puasa Ramadhan. Hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik kecil atau dewasa, laki-laki atau wanita, dan budak atau merdeka.
Dari Ibnu Umar Rhadiallaahu ‘anhu,
عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: { فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah dari Ramadhan sebanyak satu sukat korma atau satu sukat tepung kepada hamba dan orang-orang merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan sholat.” (Muttafaq Alaihi)
[lihat Bulughul Maram, hal. 259]
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
Hadits ini merupakan dalil atas wajibnya zakat fitrah, karena beliau menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “mewajibkan”. Ishaq berkata, “Zakat fitrah hukumnya wajib secara ijma’”
Namun ada pendapat lain dari Dawud dan beberapa pengikut madzhab Asy-Syafi’iyah bahwa zakat fitrah hukumnya sunnah.
[Subulussalam 2, hal. 61].

Syekh Muhammad Abid As-Sindi dalam kitab musnad Syafi’i berkata :
Kaidah atau patokan zakat fitrah menurut madzhab Syafi’i adalah “Setiap orang yang nafkah penghidupannya dijamin oleh seseorang, maka zakat fitrahnya dibebankan kepada orang yang menjaminnya”. Hal yang sama dikatakan pula oleh madzhab Imam Ahmad dan Imam Malik.
Menurut Madzhab Hanafi, zakat fitrah diwajibkan atas setiap orang yang nafkahnya dijamin oleh kita, dan kita mempunyai kekuasaan terhadapnya. Karena itu, anak tidak wajib menzakati orang tuanya, sekalipun si anak wajib menafkahinya, demikian pula terhadap istri.
[Musnad Syafi’i 1, hal. 592].

Hikmah zakat fitrah adalah untuk menyucikan orang yang puasa dari perbuatan dan perkataan kosong dan keji, serta untuk memberi makan orang-orang miskin.

Banyaknya Zakat Fitrah
Jumlah yang wajib dikeluarkan pada zakat fitrah adalah satu sha’ atau satu sukat gandum, beras Belanda, kurma, anggur, keju, beras biasa, atau yang lainnya yang dianggap sebagai bahan makanan pokok.
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Author berkata : Disebutkan di dalam kitab Al-Ikhtiyarat bahwa zakat fitrah boleh ditunaikan dengan jenis makanan pokok negerinya seperti beras dan sebagainya. Hal ini bisa dianggap sebagai kiasan terhadap jenis-jenis makanan tadi.
[Nailul Authar 2, hal. 335].

Abu Hanifah membolehkan zakat dengan memberikan uang yang sebanding. Ia juga berkata, “Apabila yang diberikan orang yang berzakat itu berupa gandum, maka cukup setengah sha”.
Abu Sa’id Al-Khudri berkata,
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih berada di tengah kami, kami mengeluarkan zakat fitrah itu untuk setiap anak kecil, orang dewasa, merdeka ataupun budak adalah satu sha’ makanan, satu sha’ keju,, satu sha’ beras Belanda, satu sha’ kurma, atau satu sha’ anggur.
Kami selalu mengeluarkan sebanyak itu hingga datang Mu’awiyah untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Maka ia memberikan amanat kepada oranng banyak dari atas mimbar, diantaranya bahwa menurut apa yang disaksikannya, dua mud gandum dari Syam itu sama dengan setengah sha’ kurma. Orang-orangpun memegang ucapannya itu”.
“Adapun sha’” , kata Abu Sa’id, “tetap akan mengeluarkan sebanyak semula, selama aku diberi usia,” (HR. Jama’ah).
Waktu Wajibnya
Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahwa para fuqaha telah sepakat bahwa zakat fitrah adalah wajib pada akhir Ramadhan, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai batas waktu wajib itu. Menurut Tsauri, Ahmad, Ishak, dan Syafi’i dalam Al-Jadid serta menurut satu riwayat dari Malik, waktu wajibnya adalah ketika terbenamnya matahari pada malam lebaran, karena saat itulah waktu berbuka (selesainya) puasa Ramadhan. Akan tetapi menurut Abu Hanifah, Laits, Syafi’i dan menurut satu riwayat dari Malik, waktu wajibnya adalah ketika terbit fajar pada hari Lebaran.
Akibat pertikaian ini adalah menyangkut bayi yang lahir sebelum fajar hari lebaran dan yang sesudah terbenam matahari, apakah wajib dikeluarkan fitrah atau tidak. Menurut golongan pertama (yang mewajibkan fitrah setelah matahari terbenam), hukumnya tidak wajib karena ia dilahirkan setelah waktu diwajibkan, sedangkan menurut golongan kedua, hukumnya adalah wajib karena lahirnya sebelum waktu diwajibkan.

Membayar Zakat Fitrah di Awal Ramadhan
Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahwa menurut jumhur fuqaha, boleh memajukan pembayaran zakat fitrah sebelum hari raya sekitar satu atau dua hari.
Ibnu Umar Rhadiallaahu ‘anhu berkata, “Kami diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai zakat fitrah agar dibayarkan sebelum orang-orang keluar pergi shalat”.
Nafi’ berkata, “Biasanya, Ibnu Umar membayarnya satu atau dua hari di awal Ramadhan. Dan terjadi pertikaian bila seseorang membayar lebih maju daripada itu. Maka menurut Abu Hanifah, boleh dimajukan sampai sebelum bulan puasa. Syafi’I berkata bahwa boleh memajukannya hingga awal bulan. Dan menurut Malik, begitupun menurut yang lebih terkenal dari madzhab Ahmad, yaitu boleh dimajukan sekitar satu atau dua hari. (lihat Musnad Syafi’i 1, hal. 598].
Para Imam sependapat bahwa zakat fitrah tidaklah gugur dengan mengundurkannya dari waktu wajib, melainkan menjadi utang yang menjadi tanggung jawabnya hingga lunas dibayar walau hingga ahir usia. Mereka juga sepakat bahwa tidak boleh menagguhkannya lebih dari hari lebaran, kecuali Ibnu Sirin dan Nakha’i yang berpendapat boleh ditangguhkan dari hari lebaran. Ahmad berkata, “Harapanku bahwa itu tidak menjadi apa,”.
Ibnu Abbas Rhadiallaahu ‘anhu berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ اَلْفِطْرِ; طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اَللَّغْوِ, وَالرَّفَثِ, وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ, فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ, وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ اَلصَّدَقَاتِ.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang puasa dari perbuatan dan perkataan kosong dan keji, serta untuk memberi makan orang-orang miskin Siapa yang membayarnya sebelum shalat, maka itu menjadi zakat, namun siapa yang membayarnya sesudah salat, maka itu menjadi sedekah diantara bermacam-macam jenis sedekah” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah , dan Hakim menyatakan shahih).
[Fiqih Sunnah 2, hal. 1-3]

Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah
Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam berkata :
Sabda beliau ‘untuk memberi makan kepada orang-orang miskin’ menunjukkan bahwa zakat fitrah hanya dikhususkan untuk mereka saja, inilah pendapat orang dari Al-Aal. Sedangkan ulama yang lainnya berpendapat bahwa zakat fitrah seperti zakat yang lainnya, ia dibagikan kepada delapan golongan tersebut.
[Subulussalam 2, hal. 65].

Sayyid Sabbiq dalam kitab Fiqih Sunnah mengatakan bahwa pihak yang berhak menerima zakat fitrah itu sama halnya dengan yang boleh menerima zakat, artinya fitrah itu hendaklah dibagikan kepada delapan golongan yang tersebut di dalam ayat,
ِإنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنَ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْ بُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِي سَبِيْلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ فَرِيْضَةً مِنَ اللهِ واللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah 9 : 60).
Berdasarkan ayat di atas, yang berhak menerima zakat fitrah adalah :
1. Fakir
2. Miskin
3. Amil (Panitia Zakat)
4. Muallaf (golongan yang baru masuk islam, atau orang islam yang lemah imannya).
5. Budak
6. Gharim (Orang yang berhutang)
7. Fi Sabilillah (Orang yang berjihad di medan perang).
8. Musafir (Orang yang melakukan perjalanan bukan untuk maksiat).

Fakir miskin merupakan golongan yang lebih utama menerimanya berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas Rhadiallaahu ‘anhu, dia berkata,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang puasa dari perbuatan dan perkataan kosong dan keji, serta untuk memberi makan orang-orang miskin”.
Juga berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Rhadiallaahu ‘anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah, sabda beliau, ‘Penuhilah kebutuhan mereka pada hari ini!’”
[Fiqih Sunnah 2, hal. 4]

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
Seorang petugas zakat hendaklah memulai perhitungan zakatnya dengan mencatat orang-orang yang berhak menerima zakat kemudian mengelompokkan nereka berdasarkan kelompok masing-masing, kemudian setiap asnaf (golongan kelompok) dihitung berdasarkan jumlah kelompok tersebut. Lalu mulailah ia mencatat nama-nama orang fakir dan orang miskin, dimulai dari orang yang fakir.
Lalu setelah orang-orang fakir tersebut tercatat semua, barulah sisanya dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang miskin sampai orang-orang yang berada dalam batas terendah dari orang kaya (orang yang masih dianggap miskin).
Setelah itu dilanjutkan dengan nama-nama gharim (orang yang terlilit utang), bahkan jumlah utang masing-masing.
Kemudian dilanjutkan dengan mencatat nama-nama ibnu sabil (musafir), berikut jumlah harta (uang) yang diperlukan untuk biaya (transportasi) ke negeri yang dituju.
Kemudian nama-nama budak yang akan yang akan memerdekakan dirinya, berikut biaya yang diperlukan untuk membebaskan dirinya.
Kemudian nama-nama orang yang akan berangkat perang, (jihad fi sabilillah) berikut biaya yang diperlukan untuk membiayai perang tersebut.
Kemudian nama-nama muallaf dan nama-nama amil berikut bagian mereka masing-masing sesuai dengan pekerjaannya, dimana dengan pekerjaan tersebut orang-orang yang berhak menerima zakat bisa diketahui dengan wadah-wadah tertentu yang dikhususkan untuk masing-masing asnaf berikut jumlah yang terdapat dalam wadah tersebut.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 503-504].

Pengertian Fi Sabilillah
Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :
Sabilillah adalah orang yang akan berangkat perang, (jihad fi sabilillah) berikut biaya yang diperlukan untuk membiayai perang tersebut.
[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 504].

Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berkata :
Sabilillah yaitu orang yang mengerjakan jihad (perang) karena Allah (bukan karena gaji dan sebagainya), walaupun ia orang kaya. Orang tersebut berhak diberi biaya untuk pakaian dan keluarganya, ongkos pergi dan pulang, serta biaya peralatan perang.
[Fathul Mu’in 1, hal. 587].

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid berkata :
Menurut Malik dan Abu Hanifah, untuk peperangan membela agama Allah dan pertahanan.
Menurut ulama lain (Imam Ahmad) untuk orang-orang yang berhaji dan umroh,
Menurut Syafi’i untuk orang-orang yang bertempur membela agama Allah yang ada di dekat lokasi pengeluaran zakat.
Sayyid Sabiq berkata :
Fi Sabilillah ialah jalan orang yang menyampaikan kepada keridhaan Allah, baik berupa ilmu maupun amal. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan itu ialah berperang dan bagian fi sabilillah itu diberikan kepada tentara sukarelawan yang tidak mendapatkan gaji dari pemerintah. Orang-orang inilah yang yang berhak menerima zakat, baik mereka yang miskin atau kaya.
[Fiqih Sunnah 1, hal. 573]

Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir mengutip hadits dari Sa’id Al-Khudri dimana Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,
لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيِّ إِلَّا لِخَمْسَةٍ: اَلْعَامِلُ عَلَيْهَا أَوْ رَجُلٍ اَشْتَرَاهَا بِمَالِهِ, أَوْ غَارِمٍ, أَوْ غَازِ فِي سَبِيْلِ اللهِ, أَوْ مِسْكِيْنٍ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ مِنْهَا فَأَهْدَى لِغَنِيٍّ
Zakat tidak dihalalkan bagi orang kaya, kecuali bila ia salah seorang dari lima ini, “Amil zakat, pembeli zakat dengan hartanya, piutang, mujahid di jalan Allah atau zakat yang didapatnya sebagai hadiah dari orang miskin. (HR. Abu Daud)
[Tafsir Ibnu Katsir 10, hal ]

Imam Al-Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi berkata :
Fi Sabilillah maksudnya adalah para prajurit Islam yang berperang di jalan Allah dan para penjaga tapal batas daerah Islam. Mereka diberikan segala yang dibutuhkan untuk berperang beserta peralatannya, tanpa memandang latar belakang mereka, orang kaya atau miskin, semuanya diberikan. Inilah pendapat mayoritas ulama. Ini juga pendapat yang dipegang oleh madzhab Maliki.
[Tafsir Al-Qurthubi 8, hal. 451].

Jalaludin As-Suyuti dan Jalaludin Al-Mahali dalam Tafsir Jalalain menjelaskan :
Sabilillah adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah, tetapi tanpa ada yang membayarnya, sekalipun mereka adalah orang-orang yang berkecukupan.
[Tafsir Jalalain 1, hal. 744].

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bulughul Maram berkata :
Fi Sabilillah orang yang berperang, yaitu orang-orang yang tidak tercatat dalam buku orang-orang yang diberi gaji. Mereka diberi bagian meskipun mereka orang-orang kaya, sebagai bantuan bagi orang yang berperang itu.
[Ihya Ulumiddin 2, hal. 51].

Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam kitab Fiqhuz Zakah, menyebutkan bahwa asnaf fi sabilillah, termasukdi antaranya adalah:
Membangun pusat-pusat dakwah (al-Markaz Al-Islami) yang menunjang program dakwah Islam, Menerbitkan tulisan tentang Islam, serta mengajarkan agama Islam kepada para pemeluknya, biaya pendidikan sekolah Islam, biaya pendidikan seorang calon kader dakwah/ da`i yang akan berjuang di jalan Allah melalui ilmunya.
(http://blogcahyo.blogspot.com)

Wallahu a’lam.

Sumber rujukan :
-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006
-Imam Asy-Syaukani, Nailul Author, As-Syifa, Semarang, 1994.
-Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.
-Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari al-Fanani , Fat-hul Mu’in, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006
-Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung, 2003
-Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’I, Jakarta, 2003.
-Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
-Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
-Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus salam, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006
-Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta, 2002
-Syekh Muhammad Abid As-Sindi, Musnad Syafi’i, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 2006.
-Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang, 1990.
*Ramadhan 1431 H.

FORTUNE TELLER (1)

  FORTUNE TELLER By : Masnun Tholab   Allah said :     عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِ...